aku

Hujan Bulan Juni

Posted on

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
― Sapardi Djoko Damono ―

hujan_bulan_juni

Pertama kali membaca kalimat puisi diatas adalah saat duduk di kelas 2 SMU, kira-kira belasan tahun lalu. Salah satu senior saya yang sudah berkuliah di ITB memang gemar membaca buku dan menulis. Jejak tulisannya itu kadang saya bisa baca melalui layar komputer yang saat itu boleh dipergunakan oleh siapapun. Terus terang saja, senior yang satu ini menjadi idola saat itu, kaum hawa pastinya. Tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya panutan baik karena sikap, pribadi dan pemikirannya … dan ini lelaki… salah satunya saya hehe…

Beberapa bulan kemudian, salah satu puisi yang ditulisnya di komputer itu saya ketahui buah tangan penyair ternama Indonesia, Sapardi Djoko Darmono dan judul puisinya adalah ‘Aku Ingin’. Penelusuran lanjutan kemudian mengenalkan puisi-puisi terkenal lainnya, yaitu ‘Hujan Bulan Juni’ berikut petikannya :

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Pada puisi Aku Ingin, pertama kali diterbitkan pada tahun 1963 di koran Suara Pembaruan (atau salah satu surat kabar yang ada di Jogja – menurut penuturan sang pencipta). Puisi kedua berjudul Hujan Bulan Juni, dibuat pada tahun 1989 yang artinya sudah berpuluh tahun lalu puisi ini dibuat dan tak lekang oleh waktu. Sampai saat ini masih banyak yang mengutip atau bahkan menjadikannya alat untuk merayu gebetannya hehe…

Terlebih ketika dua puisi indah ini kemudian dibuat lagunya (dan dinyanyikan) oleh duo pasangan Ari Reda yang begitu mendayu dan enak didengar itu. Maka semakin populerlah bait puisi tersebut (yang penasaran sila dilihat lewat yusup eh salah youtube maksudnya). Dan setelah di tahun 2015 lalu, sang empunya puisi menulis Novel dengan judul yang sama ‘Hujan Bulan Juni’ maka di bulan Agustus ini, akan tayang versi Layar Lebar dan novel tersebut. Sepertinya alur cerita akan setia pada novelnya, dengan pengembangan dan dramatisasi khas sebuah film. Tidak sabar memang untuk segera menyaksikan versi live nya. Oya film ini diproduseri (eksekutif) oleh Tina Talisa dan dibintangi oleh Adipati Dolken (Sarwono) dan xxxx anaknya oce kaligis itu loh (sebagai Pinkan).

Saat tayang nanti di bioskop, akan terasa cocok mengajak mantan pacar …. eits bukan mantan yang pas SMU dulu ya tapi mantan pacar yang kini jadi ibunya anak-anak lah pastinya, si yayang tercinta hehe…

Penggiringan Pemilih Untuk Mencoblos Paslon Tertentu

Posted on Updated on

imagesBaiklah KTP saya beserta keluarga memang bukan DKI lagi, jadi bisa dibilang tak memiliki kaitan langsung dengan Pilkada yang lagi hangat akhir-akhir ini. Namun demikian, ibu mertua yang masih tercatat sebagai pemilih di daerah Jakarta Selatan merasa terpanggil untuk datang ke TPS dan mencoblos hari Rabu kemarin walau secara domisili beliau sekarang lebih banyak berada di Bandung.

Dan dengan sukarela tentunya saya mengantar beliau kemarin menuju lokasi TPS. Perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam lebih dari tempat kediamanku di Bogor. Di perjalanan kami mengobrol, tentu di tengah riuh rendah para bocah yang memaksa untuk ikut ramai-ramai di dalam mobil. Kesimpulan dari obrolan itu adalah adanya pemaksaan dari ketua RT tempat beliau tinggal dulu untuk memilih paslon nomor 3. Sejurus alasan dikeluarkan oleh RT tersebut. Khususnya terkait dengan paslon Nomor 2; mulai dari China, non muslim, PKI hingga tuduhan lain yang memang sudah ramai menyeruak di media sosial beberapa bulan belakangan ini.

Saya tidak spesifik bertanya pada Ibu mertua tentang pilihan politiknya. Bagi saya memilih paslon manapun itu adalah hak politknya sebagai warga negara. Sebelum ia memutuskan datang bahkan dari Bandung kemarin, tentu ia sudah memiliki pilihannya sendiri. Saya cenderung menghindari debat soal Pilkada ini, apalagi dengan orang-orang terdekat semacam teman, tetangga, rekan kantor hingga keluarga terdekat. Entahlah soal urusan ini, sudah banyak buktinya yang justru memperkeruh suasana persahabatan hingga pertalian keluarga yang justru menurut saya lebih penting daripada pilihan politik. Terkecuali anda timses salah satu paslon yang memang bekerja secara profesional untuk itu, maka posisi anda harus jelas memihak siapa  dan mati-matian mempertahankan posisi itu.

Saat masuk ke ruang pencoblosan, Ibu mertuaku ditemani si Kaka, anak sulungku. Soal siapa yang dicoblos lagi-lagi aku rasa tak berkepentingan untuk tahu. Hanya ketika kami berjumpa dengan beberapa pengurus RT dan RW disana saya mencoba mengingatkan mereka untuk tidak perlu memobilisasi warga mencoblos paslon tertentu (dalam hal ini paslon nomor 3). Apalagi dengan nada ancaman bahwa siapa-siapa yang mencoblos bukan pasangan 3, maka akan ditandai. Saya pikir tidak bijak pengurus warga berbuat demikian. Dalam hal ini ia memainkan kuasanya sebagai pengurus warga untuk menekan mereka mengikuti keinginannya. Entah masuk kedalam kategori pelanggaran atau bukan, yang jelas praktek serupa semestinya tidak terjadi untuk putaran kedua nanti. Biarkan warga bebas memilih dan menentukan kehendaknya. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan stop Hoax dan berita-berita tendensius yang menyerang SARA, ujaran kebencian dan sejenisnya. Semestinya pesta demokrasi ini membuat kita semakin dewasa, terlebih saat berlangsung secara bebas dan langsung seperti sistem yang dijalankan saat ini.

-curhat di pojok ruangan, karena rapat hari ini ditunda-

Berkah Tuhan

Posted on Updated on

Pada awalnya menjadi orang tua, apalagi dengan jumlah tiga orang anak tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi pada akhirnya harus dilewati juga proses itu. Anak adalah berkah Tuhan yang dianugerahkan pada pasangan dewasa seperti kita. Siap tidak siap toh kenyataannya ketika mereka hadir sedikitnya menambal sisi luka yang kosong pada diri kita. Beban, bisa juga. Tapi janganlah menganggap demikian, janji Tuhan tak mungkin ingkar. Dalam bentuknya yang lain kesiapan itu berproses mewujud dalam bentuknya yang semakin sempurna. Terus bertumbuh… Syaratnya adalah menerima keberkahan itu dengan lapang dada, menjalani dan mengisinya dengan belaian kelembutan, kasih sayang dan suri tauladan yang bisa mereka contoh. Baik buruknya mereka adalah jelmaan kita, para orang tua. Rezeki mereka adalah apa yang kemudian Tuhan titipkan pada kemampuan kita.

Semoga kita terus bertumbuh menuju bentuknya yang semakin sempurna, atau setidaknya menjadi lebih baik setiap hari. Untuk mereka, aku dan Tuhan yang menitipkannya 🙂

Detos, 24 des’16

​ATURAN HUKUM DAN DISIPLIN APARATUR SIPIL NEGARA (ASN) DALAM BINGKAI REFORMASI BIROKRASI

Posted on Updated on

ABSTRAK

*Tugas pelengkap akhir program studi Ilmu Pemerintahan

Oleh : Alike Mulyadi K.

Banyak kendala yang dihadapi dalam penataan birokrasi di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan masalah kebiasaan dan tindakan para Aparatur Sipil Negara (ASN). Perilaku dan perbuatan dari ASN tersebut kadang memunculkan permasalahan dalam hal penyelenggaraan pemerintahan, khususnya pelayanan publik sehingga perlu adanya regulasi atau aturan main mengenai bagaimana seorang ASN bertindak, bekerja dan berperilaku. Regulasi tersebut kemudian melahirkan sejenis disiplin yang sarat akan etika dan norma hukum. Bentuk disiplin tersebut tertuang dalam produk hukum pemerintah seperti Peraturan Pemerintah Nomor : 11 Tahun 1952 tentang Hukuman Jabatan, Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1974 tentang Pembatasan Kegiatan Pegawai Negeri Sipil dalam Usaha swasta,  yang terakhir adalah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor : 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Pemerintah ini mencabut Peraturan Pemerintah Nomor : 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Tujuan Pemerintah mengeluarkan Peraturan ini adalah untuk menjamin Tata Tertib dan kelancaran tugas dari Pegawai Negeri Sipil atau ASN itu sendiri, sehingga dalam menjalankan tugasnya dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tujuan akhirnya adalah terciptanya pelayanan publik yang prima dalam bingkai pembangunan Indonesia.

Kata Kunci : Penataan Birokrasi, Aparatur Sipil Negara (ASN), Regulasi, Disiplin Pegawai Negeri, Pelayanan Publik yang Prima 


PENDAHULUAN

Dari sisi etimologi birokrasi berasal dari bahasa Yunani bureau dan kratia yang artinya kurang lebih ; bureau = meja/kantor dan kratia = pemerintah. Dengan demikian secara sederhana bikrokrasi diartikan sebagai bentuk pelayanan yang diberikan pemerintah dari meja ke meja. Pengertian lain birokrasi adalah sebuah istilah kolektif untuk sebuah badan yang di dalamnya terdiri dari pejabat-pejabat ataupun sekumpulan dengan tugas yang pasti dan jelas akan pekerjaannya dan pengaruhnya dapat disaksikan pada seluruh organisasi. 

Berbicara birokrasi maka berbicara Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurut Kamus Hukum ASN atau dahulu dikenal dengan Pegawai Negeri adalah unsur aparatur negara; abdi negara; dan abdi masyarakat yang dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah yang menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan. Adapun rumusan Pegawai Negeri menurut pendapat HR (Hoge Raad), sesuai keputusannya pada tanggal 30 Januari 1911 adalah seseorang yang diangkat oleh penguasa dalam suatu jabatan umum, yang melaksanakan sebagian dari tugas-tugas negara atau alat-alat perlengkapan. Sedangkan di dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu UU Nomor 31 Tahun 1999 pasal 1 ayat (2) pengertian pegawai negeri dirumuskan sebagai berikut; Pegawai Negeri adalah meliputi :

  • Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Kepegawaian
  • Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana;
  • Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah;
  • Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah; atau
  • Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

Dalam Undang-undang No.8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian disebutkan bahwa pegawai negeri adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam sesuatu jabatan negeri atau diserahi tugas negara lainnya yang ditetapkan berdasarkan sesuatu peraturan perundangan dan digaji menurut peraturan perundangan yang berlaku. Adapun yang dimaksud dengan jabatan negeri adalah jabatan dalam bidang eksekutif yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundangan termasuk di dalamnya jabatan dalam Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi dan Kepaniteraan Pengadilan. 

Pasal 1 butir 1 Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian menyebutkan bahwa pengertian Pegawai Negeri adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Jika dilihat dari beberapa pengertian tersebut di atas, masih terlalu luas pengertian mengenai Pegawai Negeri tersebut. Oleh karena itu di dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 pada pasal 2 ayat (1), membagi Pegawai Negeri atas : (1) Pegawai Negeri Sipil; (2) Anggota Tentara Nasional Indonesia; dan (3)  Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Selanjutnya pada ayat (2) pasal ini membagi lagi Pegawai Negeri Sipil menjadi 2 bagian yaitu :

  1. Pegawai Negeri Sipil Pusat ; Yang dimaksud dengan Pegawai Negeri Sipil Pusat menurut penjelasan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah Pegawai Negeri Sipil yang gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan bekerja pada Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Instansi Vertikal di Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota, Kepaniteraan Pengadilan, atau dipekerjakan untuk menyelenggarakan tugas negara lainnya.
  2. Pegawai Negeri Sipil Daerah ; Menurut penjelasan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 yang dimaksud dengan Pegawai Negeri Sipil Daerah adalah Pegawai Negeri Sipil Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota yang gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan bekerja pada Pemerintah Daerah, atau dipekerjakan di luar instansi induknya.


PEMBAHASAN

Permasalahan

Permasalahan birokrasi sebenarnya lebih mengarah pada bagaimana prilaku-pelakunya terlihat di masyarakat. Secara konsep dan fungsi, birokrasi adalah sebuah keniscayaan bagi Negara. Keberadaannya adalah mutlak sebagai alat penyelenggara Negara. Hanya kemudian praktek yang jauh panggang dari api membuat perannya sebagai penyelenggara Negara, khususnya pelayan publik menjadi minor bahkan menjadi sasaran lumpuhnya fungsi Negara.

Beberapa bentuk pelanggaran disiplin para aparatur Negara pun ditemukan dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat, sejurus kemudian ramai dan marak menjadi headline berita di berbagai media cetak maupun online, seperti terutama  masalah pelanggaran terhadap disiplin waktu, disiplin administrasi, Narkoba, Korupsi dan penggelapan lainnya. Satu contoh kasus yang cukup mengemuka adalah ketika seorang Gayus Tambunan – pegawai golongan menengah di dirjen Pajak – mampu bermain dalam proses pajak beberapa perusahaan. 

Permasalahan indisipliner dan pelanggaran yang dilakukan oleh para aparatur Negara tersebut diatas sebenarnya tidak perlu terjadi andaikata hak, kewajiban dan sanksi yang ada dijalankan secara konsisten. Oleh sebab itu kita akan melihat bagaimana aturan itu ada beserta hukum disiplin yang bisa diterapkan.  

Hak dan Kewajiban Aparatur Negara

Kewajiban Aparatur Negara  adalah segala sesuatu yang wajib dikerjakan atau boleh dilakukan oleh setiap ASN berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun kewajiban-kewajiban itu  dapat dirinci sebagai berikut :

Kewajiban yang berhubungan dengan tugas di dalam jabatan : Kewajiban ini terkait dengan tugas pokok dan fungsi unit kerja masing masing ASN

Kewajiban yang berhubungan dengan kedudukan ASN pada umumnya : kewajiban ini terkait dengan ASN sebagai unsur aparatur Negara , abdi Negara dan abdi masyarakat yang dapat dirinci lagi sebagai berikut :

  • Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, negara dan pemerintah (Pasal 4 UU No. 8 Th. 1974).
  • Mentaati segala peraturan perundangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab (Pasal 5 UU No. 8 Th. 1974).
  • Menyimpan rahasia jabatan (Pasal 6 UU No. 8 Th. 1974).
  • Mengangkat sumpah/janji pegawai negeri (Pasal 26 No. 8 Th. 1974).
  • Mengangkat sumpah/janji jabatan negeri (Pasal 27 UU No. 8 Th. 1974).
  • Mentaati kewajiban serta menjauhkan diri dari larangan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 2 dan 3 Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri

Sedangkan hak Pegawai Negeri adalah sesuatu yang diterima oleh Pegawai Negeri sebagai imbalan dari pelaksanaan kewajibannya. Hak ini diperoleh tentunya mengacu pada ketentuan atau persyaratan-persyaratan seperti :

  • Memperoleh gaji yang layak sesuai dengan tanggung jawabnya (Pasal 7 UU No. 8 Th. 1974).
  • Memperoleh cuti (Pasal 8 UU No. 8 Th. 1974).
  • Memperoleh perawatan bagi yang tertimpa sesuatu kecelakaan dalam dan karena menjalankan tugas kewajiban. (Pasal 9 Ayat (1) UU No. 8 Th. 1974).
  • Memperoleh tunjangan bagi yang menderita cacad jasmani atau cacad rohani dalam dan karena menjalankan tugas kewajibannya yang mengakibatkan tidak dapat bekerja lagi dalam jabatan apapun juga (Pasal 9 ayat (2) UU No. 8 Th. 1974).
  • Memperoleh uang duka bagi keluarga pegawai negeri sipil yang meninggal dunia (Pasal 9 ayat (3) UU No. 8 Th. 1974).
  • Memperoleh pensiun bagi yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan (Pasal 10 UU No. 8 Th. 1974).
  • Memperoleh kenaikan pangkat reguler (Pasal 18 UU No. 8 Th. 1974).
  • Menjadi peserta TASPEN menurut Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1963.
  • Menjadi peserta jaminan kesehatan nasional menurut Keputusan Presiden


Aturan Disiplin Aparatur Sipil Negara

Menurut Siti Soetami ada tiga bentuk pertanggung jawaban Pegawai Negeri;

  1. Pertanggung jawaban kepidanaan
  2. Pertanggung jawaban keuangan perdata
  3. Pertanggung jawaban kedisiplinan atau administrative

Aparatur Sipil Negara yang sadar akan tanggung jawabnya adalah mereka yang taat akan kewajiban dan tidak melakukan apa yang dilarang untuk dilakukan. Dengan maksud untuk mendidik dan membina Pegawai Negeri Sipil, bagi mereka yang melakukan pelanggaran atas kewajiban dan larangan akan dikenakan sanksi, berupa hukuman disiplin. Dalam pasal 29 Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian menyebutkan bahwa : “Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pidana, maka untuk menjamin tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas, diadakan Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil”. Dalam penjelasannya disebutkan: “Peraturan Disiplin adalah suatu peraturan yang memuat keharusan, larangan, dan sanksi, apabila keharusan tidak diturut atau larangan itu dilanggar.

Lebih lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil memberikan beberapa definisi antara lain: dalam pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah Kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam Peraturan Perundang-undangan dan/atau Peraturan Kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin ini merupakan pengaturan kewajiban, larangan, dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan dilanggar oleh Pegawai Negeri Sipil. Dalam pasal 1 ayat 3 , pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan atau perbuatan Pegawai Negeri Sipil yang melanggar ketentuan Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. Dan dalam pasal 1 ayat 4, hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil karena melanggar Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Hukuman disiplin dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum, atas hasil penelitian yang saksama terhadap Pegawai Negeri Sipil yang disangka melanggar kewajiban dan larangan yang ditentukan, harus setimpal dengan pelanggaran disiplin sehingga dapat diterima oleh rasa keadilan. Apabila hukuman disiplin dirasakan oleh Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman sebagai tindakan yang tidak adil, maka ia dapat mengajukan keberatan kepada pejabat atasan, dan dalam hal-hal tertentu dapat disampaikan kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian.

Penyalahgunaan wewenang atau detournement de pouvoir merupakan salah satu jenis bentuk pelanggaran yang dilakukan Pegawai Negeri Sipil baik itu di pusat maupun daerah. Dalam kamus hukum R.Subekti, dan Soedarsono Tjitrosoedibio memberikan penjelasan mengenai detournement de pouvoir yaitu apabila suatu badan pemerintahan menggunakan kekuasaannya untuk tujuan lain daripada tujuan untuk mana kekuasaan itu diberikan kepadanya, maka penyalahgunaan ini merupakan suatu detournement de pouvoir. Penyalahgunaan wewenang bisa terjadi jika suatu alat perlengkapan negara menggunakan wewenang yang diberikan padanya untuk menyelenggarakan kepentingan umum yang seharusnya diselenggarakan untuk maksud tertentu.

Hukuman disiplin diberikan tidak lain adalah untuk memperbaiki serta mendidik Pegawai Negeri Sipil itu sendiri, serta untuk melancarkan aktifitas penyelenggaraan tugas-tugas kedinasan secara baik. Hukuman disiplin dapat dibagi menurut tingkat dan jenis, masing-masing sesuai dengan sifat dan berat atau ringannya pelanggaran yang diperbuat, serta akibat yang ditimbulkannya atas pelanggaran yang dibuat oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Di dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor : 53 Tahun 2010 disebutkan bahwa hukuman disiplin terdiri dari :

Tingkatan hukuman disiplin : (1) Hukuman disiplin ringan; (2) Hukuman disiplin sedang; dan (3) Hukuman disiplin berat. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari : (1) Teguran lisan; (2) Teguran tertulis; dan (3) Pernyataan tidak puas secara tertulis. Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari : (1) Penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun; (2) Penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun; dan (3) Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun. Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari : (1) Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun; (2) Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah; (3) Pembebasan dari jabatan (4) Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; dan (5) Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

Tuntutan Reformasi Birokrasi

Esensi reformasi biokrasi sebenarnya adalah perubahan pola piker dan budaya kerja  aparatur negara. Diterbitkannya Peraturan pemerintah No. 53/2010 tentang Disiplin PNS merupakan langkah awal untuk menciptakan aparatur yang profesional. Disiplin harus menjadi nafas bagi setiap aparatur negara dalam menjalankan tugas dan fungsinya, dengan ukuran-ukuran yang jelas sebagai parameter penilaian kinerja. Dengan indikator-indikator yang ditetapkan, maka reward and punishment juga bisa diterapkan secara konsisten. Dalam hal ini, diperlukan pengawasan yang tidak saja dari atasan, tetapi juga dari luar. Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah No. 53 tahun 2010, PNS tidak bisa berkilah lagi, dan disiplin tak bisa ditawar-tawar. ”Pemerintah telah menyiapkan parameter penilaian kinerja aparatur. Jenis sanksi juga sudah diformulasikan sedemikian rupa, yang disesuaikan dengan tingkat kesalahan yang dilakukan. Selain itu, pengawasan terhadap kinerja PNS atau aparatur juga ditingkatkan.  

Perubahan Mindset & Culture Set

Perubahan pola pikir dan peningkatan budaya kerja pada dasarnya merupakan hal pokok lainnya dari reformasi birokrasi. Aparatur negara harus melayani, bukan dilayani. Buruknya wajah birokrasi Indonesia selama ini tak lepas dari proses rekrutmen CPNS, yang sering tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi, tidak transparan, dan tidak mampu menempatkan orang dalam tugas dan tempat yang tepat. 

Reward and Punishment

Perlunya penegakan aturan kepada para aparatur birokrasi yang dilakukan secara simultan dan konsisten, seperti melalui peraturan perundang-undangan dengan menerapkan sanksi hukum secara tegas bagi setiap pelanggaran. Kemudian pada pelaksanaan hukuman juga tidak tebang pilih, misalnya juga berlaku bagi pejabat yang seharusnya memberikan hukuman, tetapi tidak melaksanakannya. 

Disiplin dan Tanggung Jawab

Salah satu cirri birokrasi, sebagaimana disebut pada bagian Landasan Teori di atas, adalah kedisiplinan. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa aparatur Negara dinilai memiliki etos kerja yang rendah dan disiplin yang buruk. Hal ini tercermin misalnya dari prilaku para ASN yang sering membolos di waktu kerja (siang hari) dengan berjalan-jalan ke Mall. Atau absensi yang tidak konsisten diterapkan, dimana waktu kedatangan sering terlambat. Oleh sebab itu penerapan disiplin menjadi kunci melalui sistem baku absensi yang jelas dan disertai dengan konsekuensi yang bias diterima. 

Remunerasi Belum Tentu Menjadi Solusi

Pada salah satu tulisannya, Alfurkon Setiawan, Kepala Pusdatin Kemenpan-RB, menyebutkan bahwa remunerasi yang sesuai bagi pegawai Birokrasi dapat meningkatkan kinerja, disiplin, dan tanggung jawab. Namun dalam kenyataannya, gaji besar tidak menjamin seseorang melakukan praktek nakal yang sudah melembaga di lingkungan ASN, seperti mark-up kegiatan, proses tender yang tertutup, dan kolusi lainnya. Oleh sebab itu perlu dicari akar masalah yang lain agar masalah buruknya kinerja, buruknya disiplin dan tanggung jawab itu dapat diatasi. 

Mutasi bisa menjadi satu dari sekian jalan, dimana kemudian menempatkan orang pada wilayahnya yang pas dan memindahkan yang tidak cocok sesuai dengan penilaian yang sudah dibuat sebelumnya. Disamping itu perubahan budaya ‘euweuh pakeuweuh’ juga harus digalakan, dimana kemudian para aparatur Negara menyadari tanggung jawabnya dengan memisahkan antara pekerjaan dan hubungan pribadi. Sebab salah satu ciri dari birokrasi adalah adanya hubungan impersonal didalamnya. 

Manajemen Asset & Manajemen IT

Salah satu penyebab lambannya pelayanan public adalah bentuknya yang masih dikerjakan secara traditional dan manual. Oleh sebab itu peralihan tata kelola pemerintahan secara modern patut dilakukan secara perlahan. Dimulai dengan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, yang dilakukan melalui pelatihan, penataran dan sekaligus rekrutmen pegawai yang baik. Tanpa itu semua, kehadiran fasilitas secanggih apapun tidak akan berjalan dengan baik. Sebut saja misalnya internet yang kemudian hanya digunakan untuk kegiatan tidak penting; menonton youtube, bermain games dan sederet kegiatan tidak produktif lainnya. Padahal keberadaan IT mestinya mampu dimanfaatkan secara optimal sehingga terciptanya pelayanan publik yang prima, low cost dan cepat. 
PENUTUP

Sebagai kesimpulan dan saran sedikitnya ada dua poin utama yang dapat dijadikan bekal penulisan ini. Pertama adalah bahwa aturan hukum dan disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri pada kenyataannya telah dibuat formulasinya sedemikian rupa, bahkan mengalami beberapa kali perbaikan seperti dalam rumusan Pasal 1 butir 1 Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 mengenai Pokok-pokok Kepegawaian yang kemudian disempurnakan.  Namun kemudian yang menjadi permasalahan adalah penegakan yang masih tebang pilih dan tidak tegas dari para pucuk pimpinan/pemimpin strategis. Oleh sebab itu, ada baiknya evaluasi justru dilakukan bukan pada aturan hukum dan disiplinnya namun lebih kepada penegakan aturan main tersebut. Sebab yang menjadi masalah selama ini bisa jadi adalah ketegasan, keadilan dan keterbukaan dalam proses penegakan aturan disiplin tersebut. Sehingga penataan wajah birokrasi kita ke depan akan lebih maju, terbuka dan professional demi terciptanya pelayanan publik yang prima dan pembangunan Indonesia seutuhnya. 

Point kedua adalah bahwa reformasi birokrasi merupakan keniscayaan perubahan yang dilakukan terhadap komponen-komponen birokrasi itu sendiri seperti kelembagaan, sumber daya manusia aparatur, ketatalaksanaan, akuntabilitas, aparatur, pengawasan dan pelayanan publik. Perubahan  itu dilakukan dengan melaksanakan peran dan fungsi birokrasi secara tepat, cepat  dan konsisten, guna menghasilkan manfaat sesuai diamanatkan oleh Undang-undang. Perubahan kearah yang lebih baik, merupakan cerminan dari seluruh kebutuhan yang  bertitik tolak dari fakta adanya peran birokrasi saat ini yang masih jauh dari harapan. Realitas ini, sesungguhnya menunjukan kesadaran bahwa terdapat kesenjangan antara das sollen dan das sein; apa yang sebenarnya diharapkan, dengan keadaan yang sesungguhnya tentang  peran birokrasi dewasa ini. Namun demikian, dengan melakukan beberapa langkah strategis sebagaimana disampaikan pada bagian akhir pembahasan yakni; Perubahan Mindset & Culture Set, mekanisme Reward and Punishment yang baik, penegakan Disiplin dan Tanggung Jawab, perlunya peninjauan Remunerasi yang berlebihan dan Belum Tentu Menjadi Solusi, serta pembangunan prinsip Manajerial Asset & Manajemen IT yang baik diharapkan perubahan itu akan segera terwujud dan berjalan kea rah yang lebih baik di masa yang akan datang[]
DAFTAR PUSTAKA

Alfurkon Setiawan. (2003). Dampak reformasi bagi PNS. Jakarta: Pusdatin (Online) Diakses 25 Agustus 2015. 

Asep Sumaryana. (2010). Reformasi Pelayanan Publik. Bandung: Jurnal Administrasi Negara FISIP UNPAD. 

_____________. (2014). Buletin Badan Kepegawaian Negara: Informasi yang mencerahkan. Jakarta : BKN RI Edisi XXVII

Daeng S. (2013). Makalah IISIP Jakarta: Konsep Birokrasi. Jakarta: Scribd-Online. Diakses 01 Oktober 2015

Djatmika Sastra Marsono. (1995). Hukum Kepegawaian di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Humas Menpan RB. (2012). Hakekat Birokrasi. Jakarta: Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara RI. Diakses 10 September 2015

Kumpulan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan Peraturan Pemerintah.

Undang-Undang : 43 Tahun 1999 Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor : 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian

Undang-Undang Nomor : 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor : 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor : 32 Tahun 2004.

Peraturan Pemerintah Nomor : 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Ridwan. (2002). Hukum Administrasi Negara. Yogyakarta: UII Press.

Sudarsono. T. (2002). Kamus Hukum. Jakarta: cetakan III Rineka Cipta.

Victor Situmorang. (1994). Tindak Pidana Pegawai Negeri Sipil. Jakarta: Cetakan II Rineka Cipta.

Apa sih yang didapat ???

Posted on

bosan3 Sebenarnya apa sih yang kita dapat dari penggunaan media sosial, atau umumnya kehadiran teknologi informasi ??? Jawaban umum pasti berkaitan dengan dua hal ini; yah ada baik dan ada buruknya juga 🙂 Yups itu jawaban standar emang, walau lagi-lagi standar baik dan buruknya itu bisa saja berbeda antara satu orang dengan lainnya. Semisal ‘hate speech’ yang saat ini lagi marak, bagi pendukung A yang begituan bukan ‘hate speech’ gan, tapi kebenaran.. gitu katanya. Begitu juga sebaliknya, hingga kemudian kubu-kubuan, debat kusir bahkan hingga block dan unfriend hehe… Padahal tak bisa dipungkiri juga, kecenderungan memilih atau berafiliasi pada kelompok tertentu atau tokoh tertentu, hingga jatuh hati dan cenderung buta mata terhadapnya, tentu menghilangkan objektifitas, logika dan seterusnya. Sejurus kemudian melahirkan pandangan buta; serang sana sini terhadap pendapat atau pemikiran yang tidak sekubu dengannya.

Well begitulah dunia medsos akhir-akhir ini. Kadang assik masyuk, terkadang pula ringkih dan riweuh. Tapi ya sudahlah, masih banyak sisi lain sebenarnya yang bisa dimanfaatkan dari kemajuan teknologi informasi. Kehadiran medsos hanyalah satu diantara sekian fungsi lainnya dari IT. Saya sendiri memanfaatkan teknologi informasi ini selain sebagai hiburan (dalam media sosial khususnya), juga sebagai alat yang mempermudah pengembangan usaha yang tengah dirintis, disamping sebagai sumber informasi dan pengetahuan, peluasan jejaring (e-commerce) dan lain sebagainya.

Dari sisi jangkauan, IT tidaklah mengenal batas wilayah. Ini jelas keunggulan teknologi yang satu ini. Dari sisi pengoperasian juga tidaklah terlalu rumit, dalam artian masih bisa dipelajari setidaknya untuk penguasaan dasar-dasarnya. Bahkan panduan atau tutorial apapun bisa didapat melalui penelusuran akan objek masalah yang dituju. Aplikasi juga berserakan dimana-mana, mau yang gratisan atau yang advanced dengan mekanisme berbayar. Semua ada, dan hadir membantu kita. Tergantung tujuannya dipakai untuk apa. Mau berkomunikasi via video bisa, mau sekedar chit chat bisa, mau promosi lagu, karya tulis, desain dll juga bisa (bahkan gratisan semisal di wp ini atau yang lebih menjual lagi semisal http://www.wix.com juga bisa), mau jualan barang juga bisa, ngerjain PR juga bisa (anakku berulangkali berselancar sendiri mencari tugas-tugas penyelesaian PR sekolahnya), mau ngeksis dan kekinian biar kaya orang-orang bisa nampang di medsos (sebut saja FB, IG dan lain sebagainya), mau main game juga bisa, atau bahkan mau nikah lagi juga …???? . Pokoknya banyak deh hehe…

So, bagi yang bosan dan jenuh dengan time line yang berseliweran di medsos seputar masalah yang itu dan itu juga… skip aja deh. Toh masih banyak fungsi lainnya yang bisa dimainkan dan digunakan. Yah setidaknya buat saya sendiri yang mulai bosan 😦

Sory agak ga nyambung dengan judulnya !!

Kau Mengubah Kami

Posted on Updated on

ahok-vs-habib-riziq

Kontestasi Pilkada DKI memang menyedot semua energi, khususnya media sosial. Hampir setiap detik lewat tampilan timeline FB misalnya, beribu berita yang di share lantas di komentari bermacam-macam, berdebat hingga kata-kataan nggak jelas. Hehe, riuh rendah mengassikkan memang.

Oya tanpa sengaja tadi malam saya membuka Hp istri dan iseng membuka time line nya (tentu dengan sepengetahuan dia lah ya). And tebak, ya isinya sama saja soal yang itu-itu juga. Hadeuh, parahnya lagi hampir semua dari pertemanan itu ada di kelompoknya kubu sebrang. Masih beruntung time line saya tidak seragam semua, masih ada beberapa orang yang berpikiran waras dan menulis sesuatu yang baik, mencerahkan sekaligus membuat untuk berpikir ulang, dan melihatnya dari sisi yang lain.

Pertemanan baik itu di dunia nyata maupun maya memang kan membawa kita; kekiri-kanan dan atas – bawah. Walau pada akhirnya kita akan cenderung memilih dan mendekatkan diri pada kelompok yang sesuai atau memiliki kedekatan dengan cara pandang kita. Namun demikian, pengaruh yang disebarkan secara terus menerus akan menggiring pada angin yang berhembus. Bisa saja suatu saat penilaian kita berubah dari kiri ke kanan, atau malah menjadi sintesa yang memadukan keduanya.

Itulah dinamika, berubah, bertumbuh dan beranjak dari satu tahap ke tahap lainnya. Rasanya sebuah kerugian jika kemudian fanatisme, egoisme dan kebencian mengungkungnya dan memenjara diri untuk melakukan ekspolari pada alam yang lebih luas, bahkan melampaui apa yang telah ada. Apalagi sekedar mengikuti angin yang dihembuskan, maka filterisasi menjadi kunci.

Aku, kamu dan kalian yang Berubah

Telah banyak bukti bagaimana perubahan ini juga menghinggapi kawan-kawan saya. Selang 5 sampai 10 tahun tak bertemu kini rasanya mereka menjadi sosok yang berbeda. Ada kawan yang dulu saya kenal sangat terbuka, rajin bergaul dan memiliki visi yang luas kini menjadi terkotak dan sulit menerima perbedaan. Ada juga yang dulu saya kenal biasa saja, tidak berhijab bahkan cenderung abangan, kini menjadi sosok yang keras dan pembela panji quran (itu juga katanya sih hehe). Atau bahkan yang menarik adalah sosok kawan saya yang lain yang dulu sangat soleh, rajin sembahyang, cenderung tidak menerima pendapat diluar kelompoknya malah kini menjadi semakin terbuka dan lebih bijak melihat persoalan. Pun demikian dengan saya pribadi hehe…

Perubahan itu nyata adanya, dan kadang kita hanya bisa tertawa setelah 5 hingga 10 tahun kemudian dan berada pada posisi yang berbeda dengan saat ini, kemudian mengingatnya kebelakang. Beruntung jika pilihannya itu benar, namun jika sebaliknya maka yang lahir kemudian hanya penyesalan tak berujung. Kehati-hatian patut menjadi kunci, memilah dan memilih informasi yang baik patut dikedepankan. Kepala yang dingin dan mau menerima kekeliruan diri adalah hal lainnya. Dan dibalik itu semua, persaudaraan jauh lebih penting. Gaduh dan friksi mungkin bagian dari dinamika sosial. Tapi anarki, merasa benar sendiri, merasa menang sendiri, merasa paling suci, dan sempitnya pandangan diri (pada fanatisme dan kebencian) hanyalah bibit-bibit kehancuran yang akan disesali nantinya. So, hati-hatilah kawan

Seni dan Olah Tubuh

Posted on Updated on

Kata orang ‘seni’ itu mampu melunakkan jiwa. Sesuatu yang keras pada awalnya, kemudian melunak dan elastis ketika disentuh seni atau kesenian. Dengan seni pula jiwa menjadi tenang, dari yang semula riuh rendah karena terjangan rutinitas harian. Thats way saya memilih ini. Walau mungkin sedikit terlambat, tapi lebih baik dimulai saat ini daripada tidak sama sekali.

Maka seminggu lalu gerilya mencari informasi alat musik yang terjangkau dilakukan. Piano klasik tentu bukan jawabannya, disamping alatnya yang terbilang mahal (diatas puluhan bahkan ratusan juta) juga biaya kursus musik dengan jenis alat ini terbilang serupa dan memakan waktu yang lama. Gitar, biola, vocal dan keyboard adalah alternatif pilihan lainnya. Setelah menimang sekian waktu, maka pilihan jatuh ke alat musik keyboard. Disamping harganya yang masih terjangkau kantong, juga waktu les yang dibutuhkan relatif singkat. Setelah browsing sana-sini, pelabuhan terakhir jatuh pada Yamaha PSR E343 …. cukup cocok lah untuk pemula yang baru belajar dan mudah-mudahan awet sampai nanti berlanjut ke Fa nomor 3.

Berikut penampakannya :

Berharap bulan depan, tepat di saat ibunya berulang tahun Fa nomor 1 sudah dapat memulai les keyboardnya di dekat rumah 🙂

Taekwondo

Yang ini adalah satu dari sekian olah tubuh / bela diri yang cukup populer di tanah air. Walau salah satu kakek nya adalah jawara silat, bahkan pernah memiliki padepokan di Bandung…. namun karena cukup sulitnya mencari padepokan pencak silat di Depok dan Bogor (terutama dekat rumah) … maka akhirnya saya berencana memasukkan Fa nomor 2 ke group Taekwondo. Sekira 3 bulan lalu, ketika kami berlibur ke Bandung, Sang kakek sempat mengajari satu dua jurus. Dan Fathir – Fa nomor 2 – terlihat antusias menghapal gerakan satu, dua dan seterusnya apalagi ketika ia dibelikan baju pangsi hitam-hitam lengkap dengan ikat kepala nyunda di atas kepalanya. Sayang memang jarak kami cukup jauh untuk berlatih rutin. Maka dari ketertarikan awal itu, saya ingin meneruskan apa yang sudah dimulai kakeknya di Bandung, untuk dikembangkan di sini, di kediaman kami. Kebetulan di salah satu pendopo Pemkab Bogor, Pemda Cibinong sering terlihat anak-anak berlatih di hari minggu car free day, lengkap dengan seragam putih-putih dan sabuknya. So tiada salahnya ia saya masukkan kesana bulan depan.

Oya berikut adalah gambar Fa nomor 3 ketika berlatih di Bandung

Sementara dua aja dulu kegiatan diluar sekolah untuk mereka. Klo masih ada waktu luang dan kemurahan rezeki lainnya, mungkin nanti akan ada pilihan kegiatan lainnya untuk mereka. Amiin

Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,  membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari 🙂

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Memaknai Kemerdekaan

Posted on Updated on

Baiklah ini pertanyaan yang saya rasa cukup sulit, apalagi bagi anak-anak; sebut saja balita. Pun demikian bagi kita selaku orang dewasa. Tapi ritualnya tentu saja ada tiap tahun dan dirayakan secara semarak tiap tanggal 17 Agustus. Maka ketika menyebut tanggal 17 itu sebagai peristiwa bersejarah, tentu anak-anak keleyengan (bukan situs penyebar berita hoax itu ya yang ini … www. tit .. keleyengan.com), dahi berkerut dan susah menjelaskan apa arti merdeka, terjajah dan sebagainya. Yang terbayang pertama kali tentu saja ketika disebut tanggal 17 itu ya tidak jauh-jauh selain lomba hahaha….

Maka berikut ini adalah gambar-gambar yang sempat saya ambil saat si abang, Fa nomor 2 ikut ambil bagian menyemarakkan kemerdekaan dua hari lalu :

Well, terasa cukup meriah bukan … walo hanya diisi oleh sebagian saja warga penghuni komplek??? Maklum saja di komplek tempat kami tinggal masih saja ada warga yang mengkotak-kotakan diri, ya seperti ini ndak mau turun dan bergabung hanya karena panitianya bukan sohibnya.. atau bahkan malah ada yang merasa OKB sehingga tidak mau tuh gabung dengan warga lainnya…

Ya sudahlah, rupanya kemerdekaan itu membuat mereka terkotak ya. Coba ada musuh bersama, penjajah misalnya, mungkin ceritanya lain hihi… Ya sudahlah yang penting Merdesa… eh Merdeka !@!!@

Guna-guna Cloud Drive (storage)

Posted on Updated on

imagesBeberapa hari terakhir ini saya rajin memposting tugas-tugas kuliah saya disini. Bukan apa-apa sih, sebagai pekerja lepas yang saban harinya nomaden, aktivitas mobile sangat lekat sehari-hari – dalam pengertian mesti kesana kesini tanpa ajeg di satu tempat. Disamping laptop yang wajib dibawa dibagasi mobil, tak kalah penting adalah media storage yang juga bisa dibawa kemana-mana. Dan ini beresiko jika hilang, tertinggal atau rusak. Sehingga banyak data yang pada akhirnya saya simpan di cloud drive semisal google drive dan juga di blog. Walau tak sering-sering amat updating data dan nulis lewat blog, tapi percayalah dalam satu bulan pasti ada satu hingga dua kesempatan menyimpannya disana. Pernah satu kali dulu hardisk eksternal tertinggal entah dimana, sementara jam 1 siang hasil revisi pengerjaan semalam harus dikirimkan ke klien. Kebayang gimana repotnya harus mencari data itu, sementara jarak dengan rumah juga terbilang jauh (belum lagi saya pelupa sehingga tidak yakin juga HD itu tertinggal disana, bisa jadi di warnet setelah sebelumnya mendownload file kiriman tugas kuliah).

Nah solusi sederhana adalah menyimpannya di colud yang kemudian bisa ditarik kapan saja dan dimana saja. Termasuk tugas-tugas paper kuliah saya, kapanpun saya sempat dan ingin membaca sebagai bekal persiapan UAS nantinya, bisa diakses lewat handphone atau tinggal ke warnet terdekat. khaannn gampang mas bro !!! hehe..

Manfaat kedua adalah siapa tahu tulisan dalam paper itu berguna juga untuk orang lain. Maklum saja sebagai pencari sumber relevan dalam penulisan tugas, saya pun rajin menyambangi blog-blog lain yang setidaknya dapat dijadikan sumber rujukan dalam menulis. Tentu saja tidak asal copy paste dan serampangan mengambil rujukan, namun memilih dan membandingkannya dengan sumber lain yang terserak di dunia maya. Maka jadilah tugas itu sebagai satu kesatuan utuh dari hasil rujukan (pemikiran orang lain tentunya), ditambah analisis saya pribadi dan kesimpulan dari setiap masalah yang diangkat. Nah … tulisan jadi ini nantinya bisa menjadi rujukan orang lain juga bukan sebagai sumber rujukan tugasnya… seperti beberapa tulisan essei saya sebelumnya yang pernah dimuat di surat kabar dan cerpen di majalah online yang pada akhirnya juga banyak disebut-sebut di jadikan rujukan penulisan hehe… (seperti essei Tanggung Jawab dalam Pendidikan dan Cerpen Antok itu)

Nah jadi tidak ada salahnya di guna-guna bukan ????

Cinere, April 2016