Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,  membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari 🙂

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s