sekolah dasar gemala ananda

Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,┬á membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari ­čÖé

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Advertisements

Wawantawa dengan Mang Bonju

Posted on

DSCF7859Awalnya kami berencana ke Bandung Sabtu pagi dua hari lalu. Namun kemudian mendadak ada kabar datang dan membuat seketika kami membatalkan niat yang sedianya sudah di rencanakan seminggu sebelumnya. Syahdan hari Sabtu itu kami sekedar jalan-jalan saja diseputaran Depok dan Bekasi sembari malamnya mencari bahan baku keperluan catering.

Group whatsapp pun ramai berbunyi, persisnya di HP mantan pacar. Ibu-ibu sedang galau rupanya karena ada tugas kewirausahaan di sekolah yang harus dibuat buku dan dikumpulkan tepat hari Rabu, yang artinya 3 hari tersisa (plus 1 hari yang masih libur). Tugas ini mengharuskan siswa/i kelas 3 mewawancarai tokoh pelaku bisnis yang tidak dikenal (bukan saudara dekat; om, tante atau keluarga), atau bahkan teman dekat ayah dan ibu yang saban hari ketemu. Wawancara ini dilakukan secara berkelompok; satu kelompok berisi dua ekor … eh salah dua orang maksudnya (beda ya dengan masa sekolah kita dulu yang sekelompoknya bisa 5 sampai 7 orang hehe…)

Mengingat lusa sudah hari senin, yang artinya kembali pada rutinitas maka saya berpikir akan lebih baik melakukan wawancara itu di hari libur saja (1 hari tersisa ya besok, hari minggu). Disamping waktu yang leluasa untuk mengantar ke lokasi, ada info dari ibunda teman sekelompok si kakak yang menyarankan di hari libur juga, mengingat di hari biasa dia juga bekerja dan ada ketidak cocokan waktu luang antara anaknya dengan anakku karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang berbeda (kegiatan ekskul ini tersedia di hari senin sd kamis mulai pukul 14.40 sd 15.45). Maka hari minggu adalah pilihan yang pas.

DSCF7852Lalu kemudian yang menjadi masalah siapa nara sumber yang cocok dan bersedia meluangkan waktunya besok?? Semula saya memilih kawan saya yang berdomisili di petukangan. Pertama saya sudah tahu persis rutinitasnya, kedua dia juga partner saya dalam beberapa kali kesempatan menyelesaikan pekerjaan. So, nggak mungkin lah menolak. Secara kriteria juga cukup mumpuni; memiliki gerai JNE, freelancer photographer dan lini bisnis multimedia lainnya. Hanya masalahnya, si kakak sudah sering bertemu dengan dia yang artinya sudah kenal dekat, sehingga dikhawatirkan tidak ada informasi baru yang bisa digali lebih dalam. Lantas siapa lagi yang bisa ya ????

Seketika saya teringat kawan karib saya semasa SMU dahulu di Bandung. Kami pernah satu kelas, bahkan satu bangku selama beberapa semester. Secara tidak sengaja lima tahun lalu kami kembali bertemu di Facebook dan tak berapa lama kemudian kopdar di kantornya pas jam istirahat. Pertemuan itu sekedar melepas kangen saja; ketawa ketiwi dan menanyakan kabar masing-masing, mulai dari siapa yang jadi istri (ooh bukan yang pas SMA itu dulu ya ternyata hahaa…), berapa anak dan aktivitas masing-masing. Pertemuan singkat itu diakhiri dengan beberapa ide bisnis, kebetulan secara latar belakang kawan saya itu juga tengah berbisnis disamping bekerja pada salah satu BUMN Minyak terbesar di negeri ini. Sementara saya apalagi, pasca keluar dari pekerjaan dua tahun sebelumnya, nyaris malas mencari pekerjaan lagi. Ujung-ujungnya berbisnis…. dengan modal dengkul dan skill pas-pasan hahha… (tapi tenang lah masih bisa dipoles… pan manusia otodidak .. ngeless nih).

IMG_20151126_211913_scaled.jpgNamun entah apa sebab, pertemuan itu seolah menjadi pertemuan pertama dan terakhir. Nyaris kami tidak pernah bertukar sapa kembali, tenggelam dalam rutinitas masing-masing, hingga kemudian kawan saya itu booming dengan bisnis kulinernya; cireng salju dengan nama Mang Bonju. Produksinya sudah ribuan pieces tiap harinya, omzetnya jangan ditanya lah … bikin ngillerrrr… so, tugas kakak di kelas 3 ini mengingatkan saya akan sosok sahabat saya ini. Dengan mantaps saya kontak beliau dan gayung pun bersambut, kami bersepakat bertemu di kantornya di kawasan BSD Tangsel.

Penasaran bagaimana petikan wawancara anak kelas 3 SD dengan narsumnya, dan bagaimana sahabat saya itu memulai bisnis dan perlahan booming, tunggu saja lanjutan kisah ini besok di stasiun yang sama ya hihi…

 

Lomba Tari di TMII; Kaka, teman dan Sekolah

Posted on

kolase hasil jepretan sendiri
kolase hasil jepretan sendiri

Hari Sabtu kemarin, kaka ikut lomba menari. Jadwal pagi yang biasanya masih tertutup selimut, kala itu ia harus bergegas menuju tempat rias; Mang Ujang demikian kami biasa memanggilnya, juru rias kampung yang laris manis disewa saat hajatan, acara kartinian atau hari-hari besar lainnya. Tepat Pukul 5 pagi, Ujang dengan sigap melakukan touch-up. Kuas menari kesana kemari, bulu-bulunya menebarkan warna. Mulai dari alis, hidung, pipi dan ditutup dengan bibir. Seluruhnya purna berubah warna. Cantik ??? ahh.. mungkin bukan. Aku tak terlalu suka anak kecil berlaku dandanan dewasa, tapi harus kuakui cukup lucu juga apalagi dua buah gigi bagian depan baru saja tanggal. Maka seperti gawang saja jika ia tertawa hihihi….

DSCF3418

Tuh terlihat kan giginya yang ompongs ??? Tidak kurang dari waktu 30 menit sesuai kontrak, Kaka sudah siap sedia lengkap dengan sanggul dan kostum tariannya. Tanpa basa-basi, sang ibu merogoh kantong dan mengeluarkan 3 lembar uang sepuluh ribuan, lagi-lagi sesuai kontrak dan perjanjian tadi malam. Tuntas sudah juru rias ini menyelesaikan tugasnya, haknya pun sudah terpenuhi. Kami pun senang dan melenggang menuju rumah memanaskan mobil. Sebelum lanjut, tentu anda bertanya ‘masih musim ya riasan 3 rebu?’ Ooh jangan salah kawan, Ujang tidak mematok harga tinggi pada jasa yang diberikannya, bukan karena skillnya yang masih ecek-ecek, tapi justru karena altruismenya yang tinggi. Sifat ini rasanya yang sudah mulai luntur dikalangan kebanyakan dari kita ­čśŽ

Bagian Mang Ujang saya akan menuliskannya lain kali. Singkat kata, Ujang yang kemayu itu adalah tulang punggung bagi adik-adiknya, ibunya yang renta dan anak semata wayangnya.

Dalam Perjalanan

Selama perjalanan, Kakak terlihat serba salah. Maklum saja jarak antara rumah kami dengan sekolah tidak kurang dari 40 menit perjalanan, maka dia yang biasanya tidur nyaman di baris kedua jok mobil, kini mematung resah karena takut karya besar Mang Ujang hancur; rambut menjadi lepek, riasan yang luntur karena lendir tidur dan baju yang acak-acakan. Maka pagi itu ia mematung besi, mendongak kesana kemari melalui jendela menghindari tidur. Dan tuntas juga akhirnya, pukul 7 lewat 30 kami tiba di sekolah. Guru pembimbing tari yang juga rekan sang ibu, telah menunggu dari 5 menit yang lalu. Deru mesin kendaraan tidak terlalu menggema pagi itu, maklum saja ini hari sabtu. Bagi sebagian orang sabtu adalah hari bersantai, bangun siang dan melakukan aktifitas suka-suka; tidak mandi, juga tidak gosok gigi apalagi ganti baju. Wal hal sabtu atau minggu adalah kemerdekaan hakiki; lepas dari belenggu penjajahan ekonomi, merdeka dari rutinitas aktifitas bertahan hidup. Maka sah-sah saja dua hari itu disebut hari suka-suka kita hehe… walau ada dalam sebuah buku weekend juga dikatakan dengan masturbasi, mengganti hasil kerja dalam 5 hari dengan 2 hari kenikmatan semu. Bahkan menghabiskan sumber daya hanya di dua hari itu dengan berfoya-foya dan menikmati hidup. Buku Yudhi Lathief klo ndak salah, chapter berapa saya lupa, intinya tentang masturbasi kebudayaan.

Tiba di Istana Anak TMII

Tidak banyak penumpang kali ini, hanya aku, sang ibu, kaka, dua guru pendamping tari beserta salah satu adik kelas kakak yang juga anak dari rekan atau guru pendamping itu. Biasanya hari-hari mobil ini rutin menjemput 3 siswa lainnya, ya mumpung ada kesempatan hehe…. ada demand ya ada supply. Saling menguntungkan lah, minimal menambah uang bensin.

Tepat pukul 8.30 kami tiba sesuai rencana. Pagi itu jalan cukup lengang. Rute yang kami lewati adalah fatmawati, joss tol dan keluar rambutan lalu TMII. Beberapa orang tua telah hadir bersama sang putri di TKP. Menurut nomor undian, kelompok tari Kakak berada di nomor urut 10. So,… mesti siap-siap kalau nggak mau kelewat. Dan ada beberapa momen yang sempat saya abadikan di saat-saat penantian nomor urut kami dipanggil menuju panggung, berikut adalah momen tersebut :

 kegiatan

Saat Tampil

Bagi sebagian orang, perlombaan adalah ajang memompa diri. Mengukur sejauh mana batas kemampuan. Muaranya ada pada peringkat, label, stratifikasi. Namun identifikasi dengan mengaitkan peringkat sebagai nilai dari kemampuan belum tentu menggambarkan diri sebagai personal yang utuh; yang lengkap dengan multiple bakat, kompleksitas pemikiran dan seterusnya. Alih-alih meningkatkan batas kemampuan minimal, justru kadang sebaliknya; stereotipe, bias dan menempatkan pada satu sisi penilaian yang jauh dari sempurna dan lengkap. Oleh sebab itu, pemikiran yang tidak menekankan pada peringkat (dari bentuk kompetisi apapun) bisa dimafhumi sebagai bagian dari proses pembentukan dan perkembangan kepribadian secara utuh. Apalagi ketika hal ini ditujukan terhadap anak-anak, yang tentu masih terbuka jendela peluangnya untuk senantiasa berkembang dengan berbagai keahlian. Seperti tabula rasa; warna-warni, dengan berbagai gambar dan bentuk kreasi.

Lomba kemarin mungkin bisa dimaknai sebagai bagian dari ekspresi anak-anak. Tidak ada beban target, semuanya mengalir begitu saja. Kekayaan pengalaman tentu jauh lebih berharga dibandingkan peringkat yang hirarkis. Apalagi seni, sebagai bagian dari wujud kebudayaan manusia (jadi inget mata kuliah antrop saya hehe..) adalah buah akal dan budi manusia. Seni juga mampu memperhalus emosi sekaligus mengasah pikiran menjadi lebih┬áarif. Maka mendekatkan anak-anak pada kesenian tentu menjadi salah satu upaya dalam konteks memanusiakan manusia seperti jargon dalam dunia pendidikan itu loh xixi…. Iya gitu … iya lah

So, melihat kaka senang dengan bermain, menari dan tampil di depan umum tentu sudah cukup. Setidaknya bentuk aktualisasi dalam bingkai yang masih sederhana sudah ia lalui. Akan bentuk penghargaan berupa peringkat dari perlombaan itu, hanyalah bonus. Yaa.. anggap saja demikian. Bonus dari apa yang sudah dilakukannya kemarin.

Depok, 17 Nop’14

Sang Relawan

Posted on

kolam renang yang terletak didalam area citos sport center cilandak jaksel
kolam renang yang terletak didalam area citos sport center cilandak jaksel

Istilah relawan erat dengan kegiatan bakti sosial. Setidaknya itu yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata itu. Namun relawan yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah itu, sedikit bermakna sama; ketersediaan dan sukarela, namun sederhana saja, relawan pengantar kegiatan berenang di sekolah anakku. Yups… salah satu butir yang jadi misi sekolah ini adalah jalinan kemitraan antara Orang tua murid dengan sekolah. Bahwa pendidikan dan pengajaran itu bukan semata tanggung jawab sekolah, dan tidak berhenti sampai disana. Namun bagaimana proses pendidikan dan pengajaran itu diselaraskan antara lingkungan keluarga, lingkungan sosialnya dan lingkungan sekolah.

Beberapa butir itu sempat mendarat dengan lugas dan disampaikan sang Empunya sekolah, setidaknya ketika kegiatan mengunjungi gedung Balai Kota dan bertemu Ahok beberapa bulan lalu. Pada kegiatan itu saya menjadi relawan juga, konsultan graphis dan penyusun buku karya anak-anak yang kemudian diserahkan kepada Plt Gubernur DKI Jaya. Lebih dari dua kali pertemuan seingatku, sang Empunya sekolah menjabarkan apa saja yang menjadi misi sekolah, dan ini harus ditangkap untuk kemudian dibukukan. Kegiatan ini sudah paripurna, berjalan sukses dan diliput beberapa media lokal (online khususnya).

Konsep relawan (volunteer) baru bagi saya, setidaknya bagi orang yang bersekolah Negeri dari SD sampe perguruan tinggi dan belum beruntung melanjutkan ke luar negeri ­čśŽ seperti saya. Maka ketika hal ini muncul sebagai salah satu partisipasi aktif dari para orang tua, maka beberapa orang tua murid ada yang menyambutnya dengan antusias dan meluangkan waktu, namun ada juga yang sebatas mensupport dibelakang layar saja karena mungkin ketiadaan waktu, bekerja, kesibukan dan lain sebagainya. Di satu sisi keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah tentu positif. Disamping menjalin tali kemitraan, juga orang tua akan lebih mampu mengenali perkembangan sang anak selama bersekolah. Tidak ada yang ditutupi, semua dibuka dan orang tua bisa melihat. Dengan demikian timbul┬ákepercayaan. Namun disisi lain tentu hal ini juga mensyaratkan persamaan cara pandang antara orang tua dengan sekolah. Sebab bisa saja ada satu atau dua orang tua yang cenderung berpikiran berbeda, bahwa bukan tempatnya lagi orang tua melibatkan diri terlalu dalam di sekolah. Mendidik formal dilimpahkan dan menjadi wewenang sekolah. Keluarga tentu menjadi hal yang berbeda, itu masuk kedalam wilayah private. Maka sulitnya sinkronisasi waktu menjadi tanda orang tua jenis ini; tidak terlibat dalam kegiatan sekolah, baik itu sebagai relawan atau bahkan mungkin pada saat Diskusi Tengah Semester sekalipun. Bisa saja ……

Nah, hari jumat ini kebetulan jadwal kesekian kelas anakku berenang. Lokasinya tidak jauh dari sekolah, yups tempatnya di kolam renang cilandak Citos. Dan untuk yang ketika kalinya pula saya mengantarkan anak-anak ini kembali ke sekolah setelah berenang, alias relawan mobil jemputan hehe….. simple sih, tapi tentu buat anakku ini berarti. Entah apa alasannya tapi dia sendiri yang menulis jadwal kesediaanku menghantar, dan ketika kuiyakan senangnya bukan kepalang hihi… mungkin dia senang aja kali ya ada ayahnya di kolam renang dan teman-temannya tau itu ayahnya yang menghantar ke sekolah.

Istilah relawan juga akhir-akhir ini ramai, setidaknya dalam pilpres kemarin disebut-sebut ada relawan jokowi-jk, baik itu di dunia maya maupun di darat yang sekedar membagikan kaos, menyelenggarakan diskusi, konser musik dan seterusnya. Karena konsepnya itu ketersediaan dan sukarela maka tentu para relawan ini tidak bisa menuntut balas jasa, baik itu upah maupun kedudukan. Lantas apa akibatnya jika para relawan ini kecewa karena ternyata yang dibantu itu ingkar pada janjinya?? Ya ini juga bukan transaksi jual beli dimana konsumen bisa menuntut karena ada UU perlindungan konsumen. Sebatas sukarela saja bukan dulunya, maka jika kecewa dengan Jokowi-Jk ya sudah telan saja dan tunggu 5 tahun yang akan datang untuk memberi hukuman. Lantas selama 5 tahun itu apa??? Ya lakukan saja aktivitas seperti biasa, melakukan yang terbaik, belajar dari kesalahan dan sejenisnya. Semoga saja apa yang dijanjikan dalam kampanye bisa dipegang teguh oleh mereka dan dilaksanakan dengan benar ketika menjabat kelak.

SEMOGA!!

Ahok; mulai dari gagasan besar kota metropolis hingga babi (senarai singkat pertemuan anak gemala dengan Plt gubernur) – part1

Posted on

photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe...
photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe…

Tepat hari Kamis lalu saya menjadi pendamping anak-anak kelas 1, tempat dimana anak sulungku bersekolah. Kegiatan ini adalah kegiatan penutup di tahun ajaran ini. Kegiatan yang mungkin bisa dinilai berbeda dan cukup menarik, apalagi untuk anak kelas 1; mengunjungi balai kota dan bertemu dengan Plt Gubernur Jakarta Bapak Basuki Tjahya Purnama atau yang lebih akrab disapa dengan Ahok. Menurut Kepala Sekolahnya, seperti yang juga beliau utarakan di sessi pembuka pertemuan itu, kegiatan ini masuk kedalam tema pembelajaran ‘jakartaku’ dimana anak belajar mengenai daerahnya; untuk peka sekaligus peduli akan kota yang ditinggalinya. Bentuknya adalah dengan mengumpulkan karya-karya terbaik perwakilan dari kelas 1 Merapi dan Semeru dalam bentuk tulisan dan gambar mengenai permasalahan jakarta, disertai dengan tindakan pencegahan beserta solusi, tentunya khas anak-anak kelas 1 SD. Maka bisa dibayangkan betapa menariknya hal itu, bagaimana anak-anak bersuara tentang kotanya, permasalahannya hingga hal-hal lainnya yang bisa saja kita – selaku orang dewasa – dianggap sepele namun justru menjadi perhatian anak-anak, dan uniknya hal ini disampaikan secara langsung kepada pemimpin kota jakarta yang kita cintai, Gubernur DKI Jaya.

Jika saja Jokowi tidak nyapres, maka kemungkinan besar yang menerima rombongan SD Gemala Ananda ini adalah beliau. Namun belum tentu juga suasana secair kemarin. Ada sisi yang memang berbeda dari dua karakter pemimpin Jakarta ini. Jokowi yang khas dengan adat jawanya; kalem, lungguh dan sejenisnya dan Ahok yang cenderung ‘melaju kencang’ ceplas ceplos dan apa adanya. Dalam salah satu kesempatan di acara Mata najwa bahkan keduanya mengakui bahwa Jokowi cenderung menjadi rem bagi Ahok. Maka pertemuan yang diselenggarakan Kamis kemarin itu bisa jadi berbeda jika Jokowi yang menerimanya. Bukan dari sisi kualitas pertemuan tentunya, namun dari sisi gaya, terlebih gaya dalam penyampaian dan memperlakukan anak-anak. Maka Ahok berhasil dalam hal itu, membuat suasana santai dan bisa diterima anak-anak.

Kami sebagai orang tua, tentu menyambut baik kegiatan sekolah ini. Apalagi tidak semua orang tua dapat mendampingi dan hadir pada pertemuan itu. Hanya orang tua yang diundang secara khusus yang bisa mendampingi. Dan saya satu diantara sekian ortu yang beruntung itu. Walau mungkin juga karena keterlibatan saya sebelumnya dalam membukukan karya anak-anak itu menjadi sebuah buku yang menarik untuk kemudian disampaikan kepada Bapak Gubernur. Benar, sebulan sebelumnya ibu guru, khususnya guru kelas Merapi kelas anakku, meminta kesediaan orang tua untuk menjadi relawan ahli, atau konsultan graphis sekaligus tata letak/layouter buku dari karya anak-anak yang menurut rencana saat itu akan dibukukan dan disampaikan langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Gayung bersambut, di minggu itu saya memiliki waktu yang masih luang untuk membuatnya. Maka ajakan itu tidak lama untuk kemudian saya iyakan saja hehe….

Walau dalam perjalannya memiliki hambatan, namun proses demi proses yang dilalui membuahkan hasil yang baik (mengenai cerita dibalik pembuatan buku itu, akan saya ceritakan/tulis dalam judul yang lain … kalau sempat itu juga hihi…). Buktinya wujud fisik dari buku itu dinilai cukup estetik dan layak untuk disampaikan secara langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Alhamdulillah, orang tua yang lain juga menyukai hasil desain saya itu dan kabarnya lebih dari 40 orang tua juga turut memesannya kepada Sekolah (noted saya tidak mengambil royalti apapun dari hasil penjualan buku itu ya.. walaupun bisa aja meminta hehe….).

Back to meeting, acara itu berjalan cukup meriah, santai dan memberikan dampak yang positif, tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga guru dan audiens lain yang hadir disana (mungkin juga Ahok sendiri, setidaknya dia sempat berkelakar bahwa harus bersekolah lagi di Gemala haha…..). Sementara dampak bagi guru yang paling penting adalah ‘narsisme’ menemukan muaranya, yups apalagi kalau bukan poto-poto dan kemudian dipasang di media sosial; path, fb, twitter dan bb …… hehe… Sementara buat anak-anak, atau khususnya anakku sendiri, ┬ádia dihapal namanya oleh Ahok ‘Farras awas kamu jatuh’… atau ketika dia berkata “yah si farras ngantuk tuh’ ….. hadeuh tuh anak sepanjang pertemuan duduknya paling nggak deh, kadang tumpang kaki, kadang bersila, kadang sedikit diangkat … padahal di atas kursi loh… emang gak bisa diem.

Ini yang serius ya ….. Dampak yang paling signifikan bagi anak-anak tentu baru terlihat kemudian. Namun setidaknya dari proses ini mampu memberikan wadah atau tempat bagi mereka untuk berkreasi, menempa kepercayaan diri, sedikit membuka wawasan politik (tentang hirarki kepemimpinan setidaknya) dan itu tadi peka dan peduli akan kota yang ditinggalinya. Bagi sekolah feedback nya lebih luar biasa, disamping pencapaian pada tema pembelajaran, namun juga sekaligus menaikan citra atau pamor sekolah dimata khalayak.┬áTidak hanya bagi para orang tua yang menyekolahkan anaknya disini, tapi juga masyarakat umum lainnya. Sebab tidak kurang dua media online turut mempublikasikannya; grup kompas khususnya seperti tribun dan portal kompas lainnya (terakhir saya juga mendengar liputan 6 SCTV dan NET TV). Sementara bagi pemprov sendiri tentu ini adalah jawaban dari proses keterbukaan dan demokrasi yang diagungkan itu. Sudah bukan jamannya lagi pimpinan/pemerintah menutup diri dan menjauhkan diri dari rakyatnya. Namun sebaliknya, membuka pintu seluas-luasnya terhadap aspirasi apapun yang berasal dari rakyat. Protokoler its oke, setidaknya ini untuk menghormati lembaga pemerintahan dan keamanannya, tapi esensinya adalah mengembalikan porsi, posisi dan fungsi birokrasi kepada khittahnya; sebagai abdi dari masyarakat. Dan proses ini lamat laun sudah dimulai saat ini. Good process… i think.

Lalu apa saja yang disampaikan anak-anak dan Ahok saat pertemuan itu? Lengkapnya bisa dilihat langsung pada rekaman video yang diunggah pemprov DKI sehari pasca pertemuan. Ini berita bagus juga. Sepak terjang Ahok (juga Jokowi tentunya) bisa disaksikan masyarakat umum melalui live report tim dokumentasinya. Bahkan di blog Ahok sendiri, secara rutin beliau selalu menyiarkan kegiatan dinas pemprov, termasuk kegiatan rapat dan hal lainnya yang bikin heboh itu; seperti marah-marah saat rapat dengan kepala dinas dan pejabat eselon lainnya hingga hal-hal kecil atau besar lainnya. Mungkin ini imbas dari kemajuan teknologi yang kemudian dimanfaatkan secara baik dan benar oleh kedua pemimpin jakarta itu. Dalam mata kuliah Birokrasi Indonesia yang saya ikuti dikampus, ini yang mungkin dinamakan sebagai reinventing government dan e-government itu.

Lalu kenapa ada babi??? Ah itu sebenarnya hanya untuk judul saja agar bombastis hehe… Tapi jangan antipati dulu kawan. Di sessi awal Ahok memang sempat membicarakan tentang gagasan besar kota metropolis Jakarta kedepan. Mulai dari pembangunan terpadu sarana transportasi publik (MRT dll), mekanisme atau regulasi pemakaian kendaraan pribadi hingga Babi sebagai satu dari sekian jenis binatang yang strukturnya paling menyerupai manusia. Persisnya saya lupa memang kenapa Ahok menyinggung babi dalam pertemuan itu. Namun menurutnya Babi adalah binatang yang paling sering dijadikan bahan penelitian medis. Banyak sudah obat, vaksin dan lain sebagainya yang melibatkan babi sebagai objek penelitiannya. Karena itu tadi, strukturnya yang paling hampir mirip dengan manusia, disamping tikus. Dan ini bukan sekedar isapan jempol, banyak sumber memang mengatakan demikian. Terlepas dari pandangan agama kita tentang haramnya babi, namun dari sisi manfaat binatang yang satu ini jelas memiliki andil bagi peradaban manusia. Lalu kemudian timbul pertanyaan, apakah mungkin Nabi telah salah memberikan label haram bagi binatang yang satu ini??? Emm.. pertanyaan yang kontroversial tentunya. Namun memang kepercayaan, khususnya agama bersifat taken begitu saja bukan? Hanya sedikit saja ruang yang bisa dipertanyakan. Selebihnya adalah tabu; sami’na wa atona, kami taat dan patuh. Sifat ini membuat agama menjadi tidak elastis, bahkan bagi sebagian orang tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Sementara dalam teori sosial perubahan itu sendiri adalah keniscayaan. Postulat sederhana memang merumuskan bahwa semestinya bukan agama yang menyesuaikan dengan jaman, tapi sebaliknya jaman lah yang harus menyesuaikan dengan agama. Ini ibarat ayam dan telor, muter-muter nggak berujung. Dua-duanya bisa benar, tapi juga bisa salah. Sebab secara konteks agama lahir jauh ribuan tahun lalu yang bisa saja secara aplikatif sudah usang. Jika dihadapkan dengan situasi kekinian dalam kerangka postulat itu maka agama menjadi tumpul, tidak mampu menjawab jaman. Hingga kemudian ada pendapat bahwa pengertian universalitas agama itu terletak pada esensi, bukan pada simbol dan tataran aplikatifnya, sebab konteksnya jauh berbeda. Tapi yaa.. sudahlah membicrakan hal ini tidak akan ada ujungnya, bisa jadi malah melahirkan debat kusir hingga melahirkan pedang dan parang .. maap yah … (apalagi yang gemar memakai sor*** itu, belum apa-apa sudah serang, bakar, habisi… you know lah siapa).

Last but not least, tulisan ini akan menyambung di bagian kedua hehe… sebelum lupa berikut adalah poto bersama Ahok dan beberapa halaman dari buku yang saya buat itu : cekidot

desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)
desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)

 

susunan tim penyusun buku
susunan tim penyusun buku

 

ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
sampul belakang buku
sampul belakang buku

*bersambung