Kau Mengubah Kami

Posted on Updated on

ahok-vs-habib-riziq

Kontestasi Pilkada DKI memang menyedot semua energi, khususnya media sosial. Hampir setiap detik lewat tampilan timeline FB misalnya, beribu berita yang di share lantas di komentari bermacam-macam, berdebat hingga kata-kataan nggak jelas. Hehe, riuh rendah mengassikkan memang.

Oya tanpa sengaja tadi malam saya membuka Hp istri dan iseng membuka time line nya (tentu dengan sepengetahuan dia lah ya). And tebak, ya isinya sama saja soal yang itu-itu juga. Hadeuh, parahnya lagi hampir semua dari pertemanan itu ada di kelompoknya kubu sebrang. Masih beruntung time line saya tidak seragam semua, masih ada beberapa orang yang berpikiran waras dan menulis sesuatu yang baik, mencerahkan sekaligus membuat untuk berpikir ulang, dan melihatnya dari sisi yang lain.

Pertemanan baik itu di dunia nyata maupun maya memang kan membawa kita; kekiri-kanan dan atas – bawah. Walau pada akhirnya kita akan cenderung memilih dan mendekatkan diri pada kelompok yang sesuai atau memiliki kedekatan dengan cara pandang kita. Namun demikian, pengaruh yang disebarkan secara terus menerus akan menggiring pada angin yang berhembus. Bisa saja suatu saat penilaian kita berubah dari kiri ke kanan, atau malah menjadi sintesa yang memadukan keduanya.

Itulah dinamika, berubah, bertumbuh dan beranjak dari satu tahap ke tahap lainnya. Rasanya sebuah kerugian jika kemudian fanatisme, egoisme dan kebencian mengungkungnya dan memenjara diri untuk melakukan ekspolari pada alam yang lebih luas, bahkan melampaui apa yang telah ada. Apalagi sekedar mengikuti angin yang dihembuskan, maka filterisasi menjadi kunci.

Aku, kamu dan kalian yang Berubah

Telah banyak bukti bagaimana perubahan ini juga menghinggapi kawan-kawan saya. Selang 5 sampai 10 tahun tak bertemu kini rasanya mereka menjadi sosok yang berbeda. Ada kawan yang dulu saya kenal sangat terbuka, rajin bergaul dan memiliki visi yang luas kini menjadi terkotak dan sulit menerima perbedaan. Ada juga yang dulu saya kenal biasa saja, tidak berhijab bahkan cenderung abangan, kini menjadi sosok yang keras dan pembela panji quran (itu juga katanya sih hehe). Atau bahkan yang menarik adalah sosok kawan saya yang lain yang dulu sangat soleh, rajin sembahyang, cenderung tidak menerima pendapat diluar kelompoknya malah kini menjadi semakin terbuka dan lebih bijak melihat persoalan. Pun demikian dengan saya pribadi hehe…

Perubahan itu nyata adanya, dan kadang kita hanya bisa tertawa setelah 5 hingga 10 tahun kemudian dan berada pada posisi yang berbeda dengan saat ini, kemudian mengingatnya kebelakang. Beruntung jika pilihannya itu benar, namun jika sebaliknya maka yang lahir kemudian hanya penyesalan tak berujung. Kehati-hatian patut menjadi kunci, memilah dan memilih informasi yang baik patut dikedepankan. Kepala yang dingin dan mau menerima kekeliruan diri adalah hal lainnya. Dan dibalik itu semua, persaudaraan jauh lebih penting. Gaduh dan friksi mungkin bagian dari dinamika sosial. Tapi anarki, merasa benar sendiri, merasa menang sendiri, merasa paling suci, dan sempitnya pandangan diri (pada fanatisme dan kebencian) hanyalah bibit-bibit kehancuran yang akan disesali nantinya. So, hati-hatilah kawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s