DIARY

Mulai dari karakter, hingga kuasa

Posted on

img-20170224-wa0004Baiklah, malam ini saya agak kesulitan untuk tidur. Jam sudah menunjukkan Pukul 23.30 lewat, yang artinya sudah hampir tengah malam. Mata rasanya belum mau mengantuk juga hehe… Padahal seharian tadi menemani Pak Kabag saya dari kantor ke Bandung, tepatnya ke savoy. Ya sudahlah lebih baik saya melakukan sesuatu bukan, buka blog sekedar curat coret dan mengerjakan sejumlah invoice yang belum tuntas saya selesaikan dan ditagihkan kepada para klien catering di sekolah.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya hari ini. Pertama, karakter seseorang itu berbeda. Dan itu sudah pasti. Namun demikian saya melihat ada beberapa kecenderungan yang membuat seseorang itu bisa cocok dengan kita. Yang jelas kesan pertama itu belum tentu mencerminkan yang sesungguhnya, terkadang memerlukan waktu berproses. Maka biarkan itu berjalan secara alamiah, sembari kita membuka diri untuk menerima perkawanan yang baru. Kedua, berhubungan dengan tugas dan pekerjaan. Pada ragam pekerjaan tertentu, skill – kecakapan pada keahlian tertentu (tekhnis) ternyata bukanlah faktor dominan seseorang mendapatkan tempat dan prestasi. Terkadang dengan skill yang pas-pasan saja seseorang mampu berada pada kelompok pekerjaan tertentu dan berhasil. Artinya skill yang dimiliki cukup rata-rata saja, tidak terlalu dalam (ahli) dan juga tiadalah terlalu dangkal (tak punya kemampuan apa-apa). Cukup berada pada tingkat rata-rata saja bisa berhasil, dengan catatan ia memiliki kecakapan emosional dan sosial yang cukup; Kepercayaan diri, halus bahasa, ramah dan mampu merangkai kata sehingga menyenangkan orang lain.

Ketiga, adalah yang berhubungan dengan kuasa. Kecenderungan abbuse ketika kuasa yang memuncak dan tidak berbatas memang lebih terbuka untuk diselewengkan. Namun kuasa juga memiliki kepingan lainnya, yang berada pada sisi yang berlawanan; dapat digunakan untuk tujuan positif, semisal membuka kesempatan kepada orang lain untuk terlibat dengan kegiatan kita yang bersifat saling menguntungkan, dan atau memberikan jalan kepada sanak, kerabat dan kenalan untuk bekerja pada instansi kita. Sisi positif ini tentu memiliki nilai, dan berguna bagi kehidupan orang lain. Tiada salahnya bukan ????

Keempat, …. rasanya cukup itu saja dulu. Untuk tulisan yang sekedar coretan, ketiga bagian itu saja rasanya sudah terlalu panjang. Maka kita sudahi sampai disini saja hehe..

Salam, Bandung tengah malam

Bekerja sendiri, atau Bekerja

Posted on

Berhubungan dengan orang, dalam pengertian bersosialisasi membutuhkan seni tersendiri; seni berbicara, mengolah tubuh, mimik, hingga gesture. Konon bahasa non verbal lebih jujur berbicara dari bahasa verbal, yang manipulatif dan sarat pencitraan. Kemampuan mengolah tubuh, gesture, mimik dan pengolahan kata hanya mungkin didapat dari proses latihan, praktek.

Bagi mereka yang memang terbiasa individualis, bekerja sama dalam tim kadang terasa berat. Bukan pada aspek pencapaian kinerja (dalam dunia pekerjaan), namun lebih kepada blending, menyatukan cara bergaul, cara berpikir, kedalam pola interaksi dinamik. Bagi yang tidak terbiasa berada dalam satu lingkungan dengan beberapa orang lain dalam kurun waktu yang lama, menyatu dan menjadi ‘mereka’ tidaklah mudah. Disitu ada kebiasaan, ada ego, ada kepentingan yang berbaur bingung menjadi satu. Apalagi bagi mereka yang harus keluar dari zona nyaman ‘serba sendiri’ lalu masuk kedalam lingkungan baru dunia pekerjaan, yang formalis, dan struktural. Tentu ini membutuhkan proses belajar yang tidak sebentar.

Terus terang saja, ini saya alami sendiri… Saat ini. Ada rasa tidak nyaman memang, tapi sebagai makhluk sosial tentu kita harus mau belajar dan masuk kedalam lingkungan sosial yang baru. Keluar dari zona aman, mutlak diperlukan. Ini perlu perjuangan, tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Penerimaan sosial adalah hal yang harus didapatkan kemudian, lalu menyatu dan bersama-sama menunaikan tugas yang menjadi bidang pekerjaannya. 

Menyatu dalam dunia pekerjaan mungkin berbeda menyatu dalam penhertian berkuliah, dan atau berada dalam satu organisasi non profit/sosial. Ada penugasan, ada senioritas, ada etika atasan, ada solidaritas dan ada kecakapan pribadi yang harus ditunjukkan sebagai bentuk tanggung jawab. Bukan saatnya belajar lagi mencoba seperti masa berkuliah dahulu, sebab saat ini semua sudah selesai. Apa yanh dimiliki sebagai bentuk skill maka itulah yang diberikan.

Semoga saja dalam waktu yang tidak terlalu lama, proses penyatuan itu berhasil dan membuahkan hal positif, untuk saya pribadi tentunya.

Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,  membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari 🙂

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Guna-guna Cloud Drive (storage)

Posted on Updated on

imagesBeberapa hari terakhir ini saya rajin memposting tugas-tugas kuliah saya disini. Bukan apa-apa sih, sebagai pekerja lepas yang saban harinya nomaden, aktivitas mobile sangat lekat sehari-hari – dalam pengertian mesti kesana kesini tanpa ajeg di satu tempat. Disamping laptop yang wajib dibawa dibagasi mobil, tak kalah penting adalah media storage yang juga bisa dibawa kemana-mana. Dan ini beresiko jika hilang, tertinggal atau rusak. Sehingga banyak data yang pada akhirnya saya simpan di cloud drive semisal google drive dan juga di blog. Walau tak sering-sering amat updating data dan nulis lewat blog, tapi percayalah dalam satu bulan pasti ada satu hingga dua kesempatan menyimpannya disana. Pernah satu kali dulu hardisk eksternal tertinggal entah dimana, sementara jam 1 siang hasil revisi pengerjaan semalam harus dikirimkan ke klien. Kebayang gimana repotnya harus mencari data itu, sementara jarak dengan rumah juga terbilang jauh (belum lagi saya pelupa sehingga tidak yakin juga HD itu tertinggal disana, bisa jadi di warnet setelah sebelumnya mendownload file kiriman tugas kuliah).

Nah solusi sederhana adalah menyimpannya di colud yang kemudian bisa ditarik kapan saja dan dimana saja. Termasuk tugas-tugas paper kuliah saya, kapanpun saya sempat dan ingin membaca sebagai bekal persiapan UAS nantinya, bisa diakses lewat handphone atau tinggal ke warnet terdekat. khaannn gampang mas bro !!! hehe..

Manfaat kedua adalah siapa tahu tulisan dalam paper itu berguna juga untuk orang lain. Maklum saja sebagai pencari sumber relevan dalam penulisan tugas, saya pun rajin menyambangi blog-blog lain yang setidaknya dapat dijadikan sumber rujukan dalam menulis. Tentu saja tidak asal copy paste dan serampangan mengambil rujukan, namun memilih dan membandingkannya dengan sumber lain yang terserak di dunia maya. Maka jadilah tugas itu sebagai satu kesatuan utuh dari hasil rujukan (pemikiran orang lain tentunya), ditambah analisis saya pribadi dan kesimpulan dari setiap masalah yang diangkat. Nah … tulisan jadi ini nantinya bisa menjadi rujukan orang lain juga bukan sebagai sumber rujukan tugasnya… seperti beberapa tulisan essei saya sebelumnya yang pernah dimuat di surat kabar dan cerpen di majalah online yang pada akhirnya juga banyak disebut-sebut di jadikan rujukan penulisan hehe… (seperti essei Tanggung Jawab dalam Pendidikan dan Cerpen Antok itu)

Nah jadi tidak ada salahnya di guna-guna bukan ????

Cinere, April 2016

 

Wawantawa Dengan Mang Bonju (bag2)

Posted on Updated on

farrasIde pada dasarnya tidak ada yang genuine original. Ia lahir dan tumbuh sebagai penyempurna, penambah nilai hingga pelengkap dari sederetan ide yang telah ada sebelumnya. Keberanian mengambil keputusan, perhitungan yang matang akan segala resiko dan sekaligus kejernihan melihat peluang, pada akhirnya  yang menentukan keberhasilan, disamping tentunya keberuntungan. Khusus yang terakhir jika mengingat prinsip law of attraction, keberuntungan tentu enggan datang begitu saja tanpa perjuangan dan usaha keras yang dilakukan terus menerus. Pada prinsipnya sama seperti apa yang diutarakan walikota Bandung beberapa waktu lalu saat ditanya apakah ia akan maju dalam pilgub DKI, secara diplomatis beliau menjawab ‘semua akan indah pada waktunya’ hehe…

brownies-amandaProses pertumbuhan bisnis kuliner jika dilakukan secara benar bisa meledak dengan cepat. Jadi teringat beberapa tahun lalu ketika Amanda Brownies masih diproduksi secara sederhana di sebuah warung kecil di pinggiran jalan Margahayu. Saat itu tentu tidak akan ada yang menyangka ide brownies kukus bisa melejit dengan cepat di bawah nama Amanda (kependekan dari Anak Mantu Dagang). Masih lekat juga bagaimana paman saya (adiknya Bapak) yang bekerja sebagai pemasar disana merasakan sulitnya masa-masa awal bisnis itu dibangun, namun dengan semangat kerja keras, kejernihan melihat peluang dan sedikit keberuntungan Amanda menjelma menjadi raksassa produsen oleh-oleh khas Bandung menyaingi Kartika Sari dan usaha sejenisnya yang telah ada lebih dulu.

Pun demikian dengan cireng salju (aci digoreng) yang pertumbuhannya terus merangkak naik – sebagaimana diamini oleh salah satu pendirinya Najib Wahab – beberapa hari lalu saat anak saya mewawancarai beliau untuk penunaian tugas kewirausahaannya di sekolah. Sebagai salah satu pendiri – disamping dua sosok penting lainnya sebagai ahli pemasar dan penguatan branding serta finance dan human resources – keberadaan cireng ini bukanlah yang pertama di jakarta, sebelumnya sudah ada produk serupa yang booming terlebih dahulu. Namun demikian, peluang panganan atau kuliner memang cukuplah besar, tidak bisa dimonopoli hanya oleh segelintir orang atau sekelompok saja. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, inovasi dan kepercayaan diri akan produk yang diusung, maka hasilnya luar biasa. Walau masih dalam proses pertumbuhan, namun melihat dari progress yang ada, usaha kawan saya ini secara optimis diakuinya akan semakin besar dan menjangkau luas.

Ada beberapa point penting dari isi wawancara anak saya beserta kelompoknya kemarin. Mungkin lain kali saya akan tulis sebagai sambungan bagian kedua ini hehe….. sekarang saya mau bikin proposal buku tahunan sekolah dulu dan menyelesaikan beberapa ribu eksemplar cetakan yang sudah didesain seminggu ini. Maklum dah deadline 🙂

Karang Tengah, 23 Maret 2016

Pintar Mengatur Jadwal

Posted on

555dd9090423bd5b6c8b4567Karena setiap hari bisa dipastikan pulang hampir jam 8 atau 9 malam sampai di rumah, maka mau nggak mau harus disiasati penggunaan waktu di siang hari. Agak mustahil rasanya setelah bertempur di luar selama siang hari lantas masih juga harus menyelesaikan beberapa hal yang tertunda di malam hari. Belum lagi kehadiran asisten rumah tangga yang menempati kamar belakang yang juga menyatu dengan ruang kerja sederhana saya berupa satu buah meja, seperangkat komputer, satu set audio dan sebuah meja belajar tempat menaruh buku-buku yang kini sudah tidak seberapa banyak jumlahnya itu. Maka giliran malam adalah giliran sang asisten beristirahat, kurang manusiawi rasanya jika ia harus kembali menahan kantuk karena kehadiran saya. Maklumlah rumah yang kami tempati tidak terlampau besar sehingga harus diatur sedemikian rupa penempatannya. Belum lagi kini hadir si adek yang baru berusia 3 bulan, sehingga jelas banyak barang lainnya yang turut hadir mulai dari car seat, bouncer belum baju-baju dan seterusnya. Hah… kadang makin sempit aja nih rumah, apalagi klo si abang ngajak main… maka berantakanlah rumah hehe… ada rencana sih menambah satu ruangan di depan garasi mobil yang masih bisa diperluas, ya mudah-mudahan ada rejekinya. Amiin

Back to topic tentang pengaturan waktu. Kadang memang kita terlena oleh waktu yang berdurasi 24 jam itu, rasa2nya begitu luas dan panjang. Namun prakteknya kadang serasa belum cukup, apalagi jika banyak waktu yang kemudian kita buang secara percuma dengan tertidur, mengobrol nggak jelas, melamun dan seterusnya. Alih-alih mampu menyelesaikan semua tugas, malah kemudian melahirkan masalah baru berupa perasaan bersalah karena tidak melakukan secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu belajar adalah kunci mengatur waktu secara benar. Tidak ada batas sampai kapan selesai, karena proses belajar berlangsung sepanjang hayat. Apalagi kehidupan yang berjalan begitu dinamis; setiap hari ada saja masalah baru yang harus diselesaikan dengan cara dan tingkat berpikir yang berbeda ketika masalah itu lahir dulu, belum lagi pengharapan yang begitu tinggi akan pencapaian karir, kesuksesan, ketercukupan finansial hingga aktualisasi diri yang juga harus dipenuhi. Oleh sebab itu proses belajar akan terus berlangsung selama kita hidup dan baru berakhir ketika kita dikafani. Dalam hal mengatur kegiatan pun demikian, tanpa proses belajar kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar dan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.

Minggu ini saya ingin belajar bagaimana mengatur kegiatan saya secara efektif. Mulai dari rutinitas pagi, siang, sore hingga malam di rumah. Ada beberapa target yang mesti diselesaikan, bukan perkara mudah juga karena membutuhkan tingkat perhatian dan konsentrasi yang berbeda. Sebut saja target mendapatkan hasil maksimal IPK, maka konsekuensinya saya harus menyelesaikan sekian tutorial online yang tersedia, pengerjaan tugas dan paper tepat waktu hingga bimbingan Tugas Akhir yang juga harus saya penuhi. Belum cukup sampai disitu, tuntutan kebutuhan rumah tangga juga tidak bisa dibiarkan, maka target lainnya adalah bagaimana mengatur pola kegiatan setiap hari sehingga pekerjaan juga tuntas sebagaimana hal itu diharapkan. Mulai dari pengerjaan editing untuk salah satu wedding organizer di jakarta, belanja bahan baku untuk catering di rumah, pengecekan administrasi mingguan catering sekolah dan seterusnya. Sekian jumlah target yang mesti dituntaskan itu, tentu tidak lantas membuat quality time dengan keluarga dan anak-anak menjadi terbengkalai. Dan untuk yang terakhir ini saya masih kebingungan, sebab terkadang ada saja kesalahan yang dilakukan; mulai dari tingkat emosi yang tidak stabil ketika bercengkrama dengan anak-anak di rumah (pada malam hari biasanya), pikiran yang terbelah (kadang saya tidak fokus mendengarkan mereka bercerita) hingga memutuskan tertidur lebih dulu sementara si abang asik mengajak main dan bercerita ini itu. Kalau sudah demikian, biasanya tugas menemani sampai jam 12 malam diserahkan pada sang ibu, walau saya tahu juga bahwa si Ibu lelah dan mengantuk karena seharian bekerja di luar.

Itulah dinamika hidup yang harus dijalani, dihadapi dan diselesaikan. Tulisan ini juga dibuat sebagai pemanasan sebelum saya mengerjakan 3 buah tugas paper lagi di semester ini. Kadang mood menulis tidak datang dengan baik, mesti di rangsang, dan salah satu bentuk rangsangan itu adalah dengan menulis, setidaknya menulis curhat di buku harian dan blog hehe… mudah-mudahan saja 3 tugas itu selesai hari ini sebelum saya harus menjemput anak-anak di sekolah jam 2 nanti. Dan besok adalah waktunya mengerjakan deadline proshow video salah satu WO langganan saya. Besoknya lagi adalah tenggat terakhir merangkum 5 buah buku penunjang materi Tugas Akhir, minimal 3 Bab awal. Pffuuhh… cuma tersisa hari minggu nih, sebelum kembali bertempur di hari senin. Semoga saja saya bisa belajar dengan baik untuk menyelesaikan semua tugas dan target itu. Amiin

-Cinere, Warnet ThePatch-

Ternyata Tidak Sehoror itu

Posted on

horror-wallpapers-poze-horor-desktopKadang apa yang ditakuti jauh lebih horor dalam pikiran tinimbang ketika dilakukan. Dalam arti ketakutan yang dibumbui dengan prasangka dan imajinasi ternyata tidak selebay itu ketika dihadapi dan dilakukan. Alih-alih memunculkan kembali ketakutan yang kedua, justru malah memunculkan hal baru berupa pengalaman. Dan ini berlaku dalam hal apapun, bidang apapun dan dalam keadaan apapun. Ketakutan yang dihindari bahkan hingga lari justru malah semakin menjadi bola liar, imajinasi yang terbang melayang dan menimbulkan syak wasangka. Hanya memang terkadang ketika menghadapinya dibutuhkan keberanian yang tinggi atau bahkan nekad, terlepas dari apapun hasilnya yang terpenting ketika kita tahu dan melakukan serta menghadapinya langsung akan terasa jelas dan terang benderang apa yang ditakuti itu. Dan itulah yang dimaksud pengalaman baru.

Pengalaman baru akan menuntun kemudian kepada cara dan tindakan baru dalam menghadapi apapun. Karena sejurus cara dan tindakan sebelumnya dirasa kurang tepat hingga perlu diperbaiki dan diperbaharui. Hal ini berbeda tentunya jika kita cenderung diam bahkan lari ketika menghadapi ketakutan itu; yang muncul kemudian justru ketakutan yang berulang dan semakin dalam sehingga menusuk dan merusak citra diri/self image kita dari dalam. Ini bahaya !!!

Medio September

H-1 sebelum hari jadi

IPK 3.75

Posted on Updated on

Mengerjakan tugas kuliah di akhir minggu atau pas weekend memang banyak riantangannya, mulai dari rumah yang berantakan, anak-anak yang mainin laptop hingga godaan menonton film hehe…. dan satu lagi yang tidak kalah sengitnya menggoga yaitu tidur dan berleha-leha menikmati weekend .. waduh …  Wal hal dari 7 tugas yang semestinya sudah selesai di upload, hanya baru satu selesai, itupun dengan kualitas minimal.

Jadi inget 7 tahun lalu ketika kuliah reguler dan tiap hari kekelas, rasa-rasanya ndak ada bosan ngerjain paper malahan papernya ini lahir dengan kualitas maksimal alias beda sendiri. Maka wajar saja jika tiap paper diganjar nilai mendekati sempurna. Tak pelak lagi IP/IPK pun melambung tinggi mendekati angka 3.75 … wew fantastis.. sebuah pencapaian yang sampai saat ini semakin sulit terulangi lagi.

Masalah utama bagi mereka yang kembali berkuliah dengan nyambi bekerja dan melakukan aktivitas lainnya adalah sulitnya membagi konsentrasi dengan tingkat fokus dan cara berpikir yang sama. Porsinya kadang menuntut satu lebih besar ketimbang lainnya, sehingga harus dikorbankan salah satu. Yups .. ini tantangan memang, sejauh mana kita mampu berpikir dan bertindak dalam satu waktu sekaligus, dengan hasil yang sama baiiknya. Tidak mudah memang, namun harus diupayakan dengan merunut kegiatan berdasarkan skala prioritas dan tidak membuah waktu secara percuma.

Bagaimana menurut anda kawans ???

Hidup, keberuntungan, jalan dan usaha

Posted on Updated on

Memulai bisnis bukan dari keahlian atau minat memang susah. Bingung mesti memulai dari mana dan arahnya mau kemana. Kapan mesti dimulai, kepada siapa ditawarkan dan bagaimana merawatnya agar sustain dan berjalan lama. Tapi tiada kesulitan yang tidak diberi jalan keluar, selama kita berusaha dan mencari, kesempatan itu akan datang; setidaknya jika kembali gagal kita mendapatkan pengalaman hehe….

Sebenarnya letak jalan buntu bisa disebabkan oleh sikap minder. Ya karena itu tadi, memulai bukan dari keahlian dan juga minat. Maka diri serasa nol, ndak tahu apa-apa. Gamang berbuat hingga terkesan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Nah apakah saudara sekalian pernah mengalami demikian??? Saya pernah.. atau bahkan sekarang tengah mengalami. Padahal dua jenis usaha ini sudah saya coba lakukan selama lebih dari 1 tahun. Semestinya sudah banyak hal yang saya dapatkan bukan?? Let say …. ya katanlah pengalaman trial dan error selama hal ini berjalan, masa tidak ada! …. Ah terkadang memang kita tidak mampu menyadarinya, padahal setiap hari berkutat dengan masalah yang sama dan dituntut menyelesaikannya dengan baik.. Tapi hanya sedikit yang kemudian menempel di kepala sebagai ilmu; untuk terus memperbaiki dan membuka jalan yang lebih lebar kemasa depan. Terus terang saya ingin seperti itu, tapi masih adakah energi untuk terus ‘on’ … ndak gampang loyo bahkan impoten ; mati di tengah jalan.

Pencapaian… mungkin ini juga salah satu indikator pengukurannya. Setelah sekian lama berjalan sejauh mana pencapaiannya ; baik yang bersifat pribadi maupun dari segi bisnis yang dijalankan. Dari sisi pribadi bisa berupa pencapaian income yang menanjak naik, diri bertumbuh dengan ilmu baru dan rasa minder yang sudah mulai terkikis (harusnya bisa habis). Dari sisi bisnis pencapaiannya bisa berupa sejauh mana pasarnya terbuka, sudah berapa pelanggan yang ada saat ini, dan mampukah usaha ini bertahan setidaknya untuk 2 sampai dengan 3 tahun yang akan datang.

Meminimalisir resiko adalah kejelian yang kadang tidak lahir begitu saja. Ia mesti ditempa, mungkin bagi saya meminimalisir ini sama dengan berhati-hati ketika melangkah. Tapi juga hal ini kadang menjadi boomerang, karena terlalu berhitung akhirnya lambat mengambil keputusan… tuh khan jadi bingung. Okey.. mungkin lebih baik bagi saya meneruskan apa yang sudah dimulai. Biarkahlah berjalan lambat, sembari mencari alternatif lain sebagai bentuk cadangan atau plan B ketika rencana A mandek. Meneruskan kuliah mungkin bisa menjadi salah satunya, dan targetnya tahun depan mesti lulus… malu sama umur mas hehe…..

So, benar kata pepatah ‘the power of kepepet’ memang kadang tidak terduga, bisa lahir gitu aja. Apalagi bagi orang yang masih bingung menentukan arah hidupnya saat ini. Maka disaat kepepet itulah, kesempatan datang menghampiri walau tidak sesuai dengan minat dan keahlian. Kata orang ‘biar saja.. asalkan bisa hidup’ …… atau nasihat bijak primum vivere deinde philosophari … tul… betul. Hiduplah dulu baru kemudian berfilsafat, bukan sebaliknya kawan ???!!!!

Menjelang Jumatan yang kemungkinan mengantuk

26 Dept 2014

IA

Posted on

Image Ia pergi sendirian malam itu. Menyusuri trotoar di tengah temaram kota. Langit yang gelap seakan membawa pesan untuk segera berdiam diri saja dirumah, menikmati aroma selimut di dalam kasur dengan aneka bantal empuk disamping kanan kirinya. Tapi tak berlaku hari itu, juga mungkin hari-hari lainnya. Desakan untuk segera melunasi janjinya pada sang bunda membuat langkahnya tegap menatap temaram kota malam itu. Tak dihiraukan angin yang menusuk di sela-sela kulitnya yang lembut, atau deru mesin kendaraan yang galak dan berteriak bersahutan di kejauhan. Lalu lalang orang di sekeliling pun tak ia indahkan, sama seperti bintang-bintang di langit yang tuli akan tugasnya mempercantik langit di malam hari. Mereka tunduk pada titah lalim kegelapan berupa mendung pertanda akan turun hujan. Langit di malam itu memang pekat, petir kerlap mengkilat menunjukan kuasa. Ramai kemudian manusia tergesa-gesa menuju peraduan, takut akan apa yang terjadi kemudian. Mungkin hujan besar disertai angin, atau badai dan air bah sekalipun kan tumpah ruah di jalanan. Bunyi klakson terdengar kemudian, langkah pejalan kaki semakin cepat. Seperti berlari. Bukan langkah kecil kaki miliknya tentunya, namun langkah kaki dewasa yang telah paham pahit manis kehidupan. Hingga kemudian terdengarlah rintik hujan, perlahan tetesannya mulai membasahi rambutnya yang kotor oleh debu. Baju nya pun perlahan dingin, pertanda basah mulai merasuki kulitnya. Kain penutup tubuh itu lenyap sudah tak berasa, hanya air dan air yang kini menyelimuti kulitnya.

Bingung, tak tahu harus kemana. Rumah dimana rumahnya, ia mendongak kekanan dan kekiri. Sambil berjalan pelan ia susuri deret pertokoan itu dengan lunglai. Lampu-lampu neon yang sebelumnya menjelma laiknya matahari telah purna menjalankan tugas. Pintu-pintu pun kini tertutup rapat, tak ada lagi yang terbuka pun demikian jendela yang biasanya menjadi tempat pelipur udara yang gemar bergantian rupa dan bau itu. Makin lama ia berjalan makin tak terasa langkah kakinya menginjak tanah. Entahlah sudah berapa langkah kakinya itu berjalan, ribuan, mungkin saja jika ia bias menghitung dengan benar. Sudah lah, ia hanya tahu ketika malam berganti terang maka itulah pertanda hari baru tiba. Tanpa bilangan angka pun ia mampu melewati pergantian hari itu hingga saat ini.

Malang petualangannya harus terhenti malam itu. Di tengah semangat menepati janjinya pada sang bunda, genangan air yang meninggi membuat jalanan malam itu Nampak lenyap menjadi satu. Menyatu menjadi daratan lembut yang menyimpan marabahaya. Hingga kemudian langkah kakinya tersungkur masuk kedalam parit yang tak diketahuinya. Tubuhnya lalu lenyap terjerembab, terjebak dalam pusaran air yang semakin besar. Hingga menyeretnya kedalam arus ombak yang semakin terjal untuk dilawan. Tubuhnya tak kuat lama menahan gempuran sang ombak. Nafasnya tercekat, tak ada sisa di rongga parunya untuk udara. Air mengaliri setiap ruang yang tersisa. Matanya perlahan terpejam, tak ada ronta yang terlalu sakit ia tunjukkan. Kepasrahan membuatnya terdiam dan rela kembali ke pangkuan-Nya. Hingga kemudian terlihat sejenak sosok itu. Sosok lelaki tegap yang dicarinya selama ini, untuk dibawanya pada sang bunda.  Ayah pulanglah, adik dan bunda menunggumu di rumah []