pemilu-langsung

Penggiringan Pemilih Untuk Mencoblos Paslon Tertentu

Posted on Updated on

imagesBaiklah KTP saya beserta keluarga memang bukan DKI lagi, jadi bisa dibilang tak memiliki kaitan langsung dengan Pilkada yang lagi hangat akhir-akhir ini. Namun demikian, ibu mertua yang masih tercatat sebagai pemilih di daerah Jakarta Selatan merasa terpanggil untuk datang ke TPS dan mencoblos hari Rabu kemarin walau secara domisili beliau sekarang lebih banyak berada di Bandung.

Dan dengan sukarela tentunya saya mengantar beliau kemarin menuju lokasi TPS. Perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam lebih dari tempat kediamanku di Bogor. Di perjalanan kami mengobrol, tentu di tengah riuh rendah para bocah yang memaksa untuk ikut ramai-ramai di dalam mobil. Kesimpulan dari obrolan itu adalah adanya pemaksaan dari ketua RT tempat beliau tinggal dulu untuk memilih paslon nomor 3. Sejurus alasan dikeluarkan oleh RT tersebut. Khususnya terkait dengan paslon Nomor 2; mulai dari China, non muslim, PKI hingga tuduhan lain yang memang sudah ramai menyeruak di media sosial beberapa bulan belakangan ini.

Saya tidak spesifik bertanya pada Ibu mertua tentang pilihan politiknya. Bagi saya memilih paslon manapun itu adalah hak politknya sebagai warga negara. Sebelum ia memutuskan datang bahkan dari Bandung kemarin, tentu ia sudah memiliki pilihannya sendiri. Saya cenderung menghindari debat soal Pilkada ini, apalagi dengan orang-orang terdekat semacam teman, tetangga, rekan kantor hingga keluarga terdekat. Entahlah soal urusan ini, sudah banyak buktinya yang justru memperkeruh suasana persahabatan hingga pertalian keluarga yang justru menurut saya lebih penting daripada pilihan politik. Terkecuali anda timses salah satu paslon yang memang bekerja secara profesional untuk itu, maka posisi anda harus jelas memihak siapa  dan mati-matian mempertahankan posisi itu.

Saat masuk ke ruang pencoblosan, Ibu mertuaku ditemani si Kaka, anak sulungku. Soal siapa yang dicoblos lagi-lagi aku rasa tak berkepentingan untuk tahu. Hanya ketika kami berjumpa dengan beberapa pengurus RT dan RW disana saya mencoba mengingatkan mereka untuk tidak perlu memobilisasi warga mencoblos paslon tertentu (dalam hal ini paslon nomor 3). Apalagi dengan nada ancaman bahwa siapa-siapa yang mencoblos bukan pasangan 3, maka akan ditandai. Saya pikir tidak bijak pengurus warga berbuat demikian. Dalam hal ini ia memainkan kuasanya sebagai pengurus warga untuk menekan mereka mengikuti keinginannya. Entah masuk kedalam kategori pelanggaran atau bukan, yang jelas praktek serupa semestinya tidak terjadi untuk putaran kedua nanti. Biarkan warga bebas memilih dan menentukan kehendaknya. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan stop Hoax dan berita-berita tendensius yang menyerang SARA, ujaran kebencian dan sejenisnya. Semestinya pesta demokrasi ini membuat kita semakin dewasa, terlebih saat berlangsung secara bebas dan langsung seperti sistem yang dijalankan saat ini.

-curhat di pojok ruangan, karena rapat hari ini ditunda-