moviefreak

TE3N ; Satu Lagi Drama Misteri & Thriller India

Posted on

Poster-film-Te3n-200x290

Hanya ada 3 atao 4 film India bergenre misteri dan thriller yang memikat, dan salah duanya dibintangi oleh Vidya Ballan (atau setidaknya dia bermain disitu walau bukan sebagai pemain utama). Jika dibandingkan dengan Kareena Kapoor atau Aishwarya Rai, Vidya tentu kalah kelas. Sebut saja perawakan (langsing, tinggi badan dll) hingga wajah yang mungkin satu atau dua kelas dibawah mereka (ini menurut saya loh). Yang pertama film itu berjudul Kahaani, rilis mungkin sekitar tiga tahun lalu. Dan yang kedua adalah tergolong film baru yang rilis di bulan Juli 2016 berjudul Te3n. Tapi walo demikian, saya lebih tertarik kepada Tante Vidya dibanding dua nama terakhir yang disebut diatas J

Entah bagaimana membacanya secara betul, ‘teen’ atau pengucapan lain dalam bahasa India. Selain tante Vidya, film ini juga dibintangi oleh actor kawakan nan legendaries Amitabh Bachan. Jadi inget salah satu adegan Slumdog Millionare ya berkaitan opa Bachan ini, ketika si tokoh utama nyemplung ke kolam pembuangan hajat yang itu hahaha….

Te3n berdurasi panjang tidak lebih dari 2 jam, minim tarian, nyanyian dan adegan-adegan lebay khas India lainnya. Musik score juga terdengar simple dan sederhana, hanya di beberapa adegan saja diselingi backsound music (soundtrack) yang menyentuh. Film dibuka dengan bagian dimana sang tokoh utama (Opa Bachan) berada di dalam mobil dengan kepala di tutup kantong plastic. Sementara itu di kejauhan sang inspektur polisi yang diperankan oleh Nawajuddin Siddiqui nampak kebingungan sembari membawa mobil secara perlahan. Inilah adegan pembuka yang kemudian dapat kembali kita saksikan di penghujung film. Dan adegan ini bisa dibilang merupakan kunci yang nantinya akan dijelaskan di penghujung film.

Saya suka dengan karakter yang diperankan oleh Opa Bachan dalam film ini; lelaki paruh baya yang pendemdam, putus asa, dan tidak bisa move on dari rasa bersalah atas kematian cucu putri semata wayangnya. Sementara Marthin, yang diperankan oleh Nawajuddin Siddiqui tidak berbeda jauh dengan Opa Bachan, hanya saja ia memiliki pelarian yang tepat dalam ekstase sipiritual. Dari awal Marthin memang sudah diceritakan pensiun dini sebagai polisi dan mengasingkan diri menjadi pendeta gereja. Namun demikian, peran Marthin sangatlah penting, mengingat ia adalah satu-satunya petugas yang menangani kasus penculikan cucunya Opa Bachan yang kemudian berakhir dengan kematian. Pun ia juga yang kemudian menjadi sosok penting, yang membuka tabir kasus penculikan serupa yang terjadi 8 tahun kemudian ketika posisinya sudah digantikan oleh polisi wanita keras yang diperankan oleh Tante Vidya.

Bisa dikatakan, tante Vidya bukanlah pemeran utama dalam film ini. Bahkan dalam konklusi penculikan yang terjadi 8 tahun setelah kematian cucu Opa Bachan, ia terlihat begitu gegabah dan salah mengambil kesimpulan. Namun demikian, peran Tante Vidya menjadi penegas akan apa yang diinginkan oleh Opa Bachan, karena tanpa kehadiran Polisi mustahil dendam Opa dapat terbalaskan. Pada bagian ini, anda akan disuguhkan twist yang sebelumnya tidak anda perkirakan. Jujur saya baru bisa menebak arah film ini pada 1/3 bagian akhir film. Ohh…. Rupanya begitu, oh ternyata si anu ya ….!!!

Lobang cerita film ini hanya berada pada sosok Tante Vidya. Benar, kali ini Ia sudah kelihatan berisi dan tidak selangsing dulu .. halah … hehehe…. Peace ah man …. Udah ah daripada ngelantur mending kita sudahi saja sampai disini.

**2 judul lain film India yang bagus juga menurut saya adalah Talaash

Hanya Manusia Yang Mampu Membunuh; Hantu Tidak!!

Posted on Updated on

crmYups, itu sedikitnya kesimpulan yang bisa diutarakan dari film terbaru guilermo del toro ‘Crimson Peak’. Bukan soal cerita hantu biasa yang biasanya menakut-nakuti lalu membunuh. Justru sebaliknya, mereka membantu dengan bisikan-bisikan yang pada awalnya tidak manusia mengerti, memberikan kode tanda bahaya.

Semestinya memang kita lebih takut pada manusia yang bisa berbuat apa saja; menutupi diri dengan topeng keanggunan dan kebaikan, berbohong bahkan tak segan menghabisi sesama demi kekuasaan, harta dan nafsu belaka.

Selamat Menonton 🙂

 

Dino Yang Baik

Posted on Updated on

dino yang baikJangan terkecoh dengan judulnya .. yups ini sama dengan film God Dinosour yang itu hehe.. konon ini adalah film pertama dengan dwibahasa. Artinya Dino Yang Baik adalah God Dinosour yang sudah di alih suarakan kedalam Bahasa Indonesia.

Yups weekend kemarin kiddos pada ngajakin nonton ini film, setelah sebelumnya mereka terbuai oleh iklan yang rajin tayang di TV terutama si Abah yang kini sudah masuk usia TK. Yo wess lah mumpung libur juga, akhirnya jadi deh kita nonton yang jam 12 siang. Tapi sayangnya kita sampai di Studio 21 Cibinong City Mall (CCM) jam 12.30, artinya film sudah diputar 30 menit yang lalu. Hadeuh… kiddos langsung pundung… Ini gegara lahan parkir di CCM yang kecil dan sempit hingga tak mampu menampung pengunjung yang biasanya membludak di hari libur. Bayangkan, kita datang jam 11.45 … setelah itu muter-muter kesana kemari hanya untuk mencari tempat parkir yang kosong. Dan ini bukan kejadian pertama kali, sebelum-sebelumnya juga begitu. Entah kenapa dengan Mall ini, apa salah desain sebelumnya atau memang tidak menyangka sebelumnya akan antusiasme warga yang bakal datang kesana. Hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu 🙂

Untuk menghindari pundung yang bisa memuncak ke para kiddos, maka alternatif kedua adalah pindah lokasi. Kebetulan ada yang dekat, Platinum Cineplex Cibinong Square… walo memang sih secara kekinian ini mall sudah berumur dan kalah pamor dengan CCM. Tapi demi menyelamatkan biduk kiddos yang mulai pundung, ndak apalah. Kebetulan jam tayang disana dimulai jam 13.00 .. so, pas kan.

Selepas membeli tiket dan free jagung berondong .. hehe.. ada yang tau kan jagung berondong itu apa… yups popcorn lah kerennya mah. Dengan dua rasa keju dan vanilla, kami memilih setengah2 diantara keduanya. Tak lama kemudian pintu teater 2 dibuka, dimulai dengan announcement dari speaker yang terdengar sember dan tidak enak didengar itu .. hehe.. jika dibandingkan dengan suara Ibu Maria Untung yang dulu suka ada di XXI rasanya bagai langit dan bumi ini suara. Tapi ya sudahlah.. apa arti suara yang penting bisa nonton rame-rame.

Dan taraa… begitu kami masuk ke dalam studio tampilan screennya redup, nyaris ndak berwarna. Padahal sekarang kan jamannya tampilan HD yang warnanya begitu menyala dan terang, tapi ini kok beda ya. Dan tak berapa lama kemudian film pun ditayangkan, lampu dimatikan. Sementara layar tak berubah signifikan, tetap gelap dan kurang berwarna. Tata Audio pun hanya terdengar kencang di bagian depan, sementara kanan dan kiri juga belakang nyaris tidak terdengar. Wal hal nonton kemarin terasa hambar dan kurang puassssssss …. Tapi ya klo Kiddos sih seneng-senang aja, yang penting mereka mah bisa bareng2 dengan Bapak Ibuknya di hari libur hehe..

So, kesimpulan pertama nggak lagi deh nonton di Platinum, mending XXI saja hehe…

Tentang Film

dino yang baik2Jujur saja di tengah film saya sempat tertidur, klo tidak dibangunkan dengan suara ribut si Abah yang minta popcorn lagi mungkin saya bisa tidur sampe film usai. Walo tidak kering-kering amat, film ini cukup menghibur dan memberi pesan yang baik. Tapi tetap saja jika dibandingkan dengan inside out kalah kelas. Ini sudut pandang saya sih, orang lain tentu bisa berbeda. Si kaka pun demikian, buktinya kemarin di Dino Yang Baik ia sampai menangis, terutama saat Arlo membuat lingkaran keluarga ketika ia berhadapan dengan Spot… sedih katanya hehe…

Secara umum yang bisa ditangkap dari film ini adalah perjuangan menjadi dewasa (kisah Arlo yang dimulai saat ia kehilangan Ayah dan terdampar). Lalu persahabatannya dengan sang musuh diawal film (Spot atau manusia yang dalam film ini lebih rendah kebudayaannya dibandingkan Dino) dan Perpisahan… pilihan untuk terus bersama atau merelakan sahabat terbaiknya menyatu kembali dengan keluarganya.

Overall film yang sangat menghibur dan mudah dicerna oleh anak-anak. Beda dengan Inside Out yang tidak habis-habisnya si Kakak bertanya ini itu hingga saya kehabisan kata untuk memberi penjelasan 🙂

 

 

Visions (2015) ; Bukan resensi atau review

Posted on

Rutinitas yang begitu saja setiap hari ditambah dengan waktu UAS yang tinggal beberapa hari lagi, membuat pikiran sedikit limbung atau bahkan stress. Hadeuuh… konsentrasi juga sedikit terganggu nih, dari 9 buku bahan ajar yang semestinya tuntas dibaca dan dikerjakan latihannya hanya baru 5 buku yang selesai. Pfuuhh sungguh tantangannya sangat berbeda dengan masa single dulu saat mengambil kuliah di Sistem Manajemen Informasi STMIK dan Ilmu Kesejahteraan Sosial Unpad (yang tidak selesai itu)…. rasanya setiap tugas lumat habis dikerjakan dalam waktu singkat. Tak jarang hasilnya fantastis menembus angka 4. Sekarang …. hehe jangan tanya, mau angka 3 saja mesti pontang panting gak keruan. Dipaksain baca saja setengah buku dalam semalam .. mata belerrr sebeler-belernya… ngantukkkkssss.

Visions (2015)

MV5BOTM4OTY3NTcwMV5BMl5BanBnXkFtZTgwMDY5MjE1NjE@._V1_SY317_CR0,0,214,317_AL_Meski bukan termasuk kategori film dengan bugdet tinggi, yang juga ditopang dengan bintang-bintang papan atas Hollywood, toh film ini termasuk satu dari sekian judul film yang ngebet didownload. Cast utamanya hanya Isla Fisher yang mungkin agak familiar, sisanya terasa asing seperti aktor Gillian Jacobs yang berperan sebagai suami.

Genre yang diambil termasuk dalam kategori Horror – Thriller … wow pas nih hehe. Semula saya menduga film ini horor biasa dengan jualan utamanya hantu. Setidaknya anggapan itu benar adanya sampai sepertiga film. Namun memasuki penghujung, anggapan itu nyata keliru. Sebab apa yang dialami sang tokoh utama ‘Evelyn’ tak lain dan tak bukan adalah firasat, atau istilah kerennya adalah Premonition… Jadi apa yang ia alami selama ini bukanlah hantu sebagaimana biasa. Penglihatan itu merupakan kejadian-kejadian yang justru akan terjadi dan tertuju pada satu malam di rumah yang baru mereka tempati.

Premisnya sedikit menarik bukan??? Walau agak sedikit janggal, terlebih ketika Eve diperlihatkan gambar-gambar masa lalu pembuat rumahnya, yang hasilnya adalah gambar ia beserta suaminya. Rupanya teror dan kejadian aneh juga menerpa beberapa keluarga yang menempati rumah itu. Dan itu bukanlah hantu, melainkan peristiwa yang justru terjadi di masa depan, ketika Eve dan suaminya menempati rumah itu.

Closing

Tulisan ini bukan resensi ataupun review film Vision seperti yang lumrah ada di blog-blog lainnya. Ini hanya sekedar curhatan saya saja ditengah kebosanan yang luar biasa saya alami. Dan well sedikit menahan waktu dengan leisure, menonton film… bisa menjadi hiburan tersendiri. Dan siapa tau kedepan lebih baik lagi, terutama saat berhadapan dengan rutinitas yang begitu lagi dan masa Tugas Akhir Program juga UAS yang tinggal menghitung hari.

Semoga []

Salam

Malam Minggu Yang Berwarna

Posted on

imagesBaiklah apa yang saya lakukan hari sabtu atau malam minggu kali ini? Ndak banyak, hanya istirahat saja di rumah; tidur, sedikit membereskan mobil, menonton film dan siaran langsung java jazz festival lewat channel Mix, nonton berita, dan ngerjain tugas kuliah di tengah malamnya. Yups, hari ini memang hari yang saya canangkan sebagai zero activity yang berat-berat. Entahlah setelah badan rada ambruk sebelumnya, yang kepikiran lantas adalah ingin istirahat dan menikmati waktu di rumah. Just enjoy aja sih 🙂

1. Dua Film yang berkesan

Selepas menuntaskan deadline satu editan sebelumnya (shubuh jam 3), The Imitation Games langsung digeber. And you know what, ciamik. Benedict sungguh apik bermain sebagai Alan Turing disana. Selepas film itu, di malam harinya (malam minggu) Still Alice menjadi menu pilihan menonton film. Dan saya begitu menikmati ceritanya, karakternya dan jalin kelindan antar tokoh-tokoh didalamnya, mulai dari ibu, ayah dan anak-anaknya. Julianne Moore nyaris sempurna dalam film ini, wajar kalau kemudian diganjar sebagai aktris terbaik di ajang Oscar beberapa waktu lalu

2. Informasi baru dari tayangan TV Satelit

Yup disela-sela menunggu perform Tulus di acara Java Jazz festival 2015, yang live juga melalui MIX channel 4 di BigTV, ada features menarik tentang Jam tangan wooden/kayu asal Indonesia. Yah sebenarnya tanpa sengaja juga mijit Bloomberg channel, ternyata banyak tontonan menarik seputar bisnis dan wirausaha kreatif yah di channel ini. Dan kebetulan di sore itu lagi mengangkat Jam Kayu asli Indonesia dengan merk dagang Matoa (matoa adalah sejenis kayu asal papua yang kokoh). Adalah pria kelahiran tahun 1986 bernama Lucky Dana Aria, yang memulai bisnis ini di tahun 2012, tepatnya di Bandung. Wow… masih muda bukan?? Amazing banget ya.. dalam usia semuda itu sudah mampu membuat karya yang produktif, menarik dan berciri Indonesia. Terus terang saja baru malam ini saya tahu bahwa ada jam bermerk Matoa dan terbuat dari kayu hehe…. (dikira Matoa itu hanya nama Kompleks perumahan mewah di Depok)

3. Rumah dan Anak-anak

Yah ini sudah daily lah ya… anak-anak ya begitu itu, nggak mau diem.. ada-ada aja tingkahnya, ga bisa mati gaya barang semenit. Coba aja cek, sampe-sampe ban sepeda aja dijadiin mainan hihi… diputer-puter dan dibikin drama. Dan Fafa keduanya tertawa terbahak-bahak, tau tuh dimainin kayak apa???!!! Oya adek Fathir ulang tahun hari ini, tepat 7 Maret kan ya. Salam hangat dan peluk dariku ya Fafa 02

4. Tugas Kuliah

Nah ini yang agak telat. Berhubung dari pagi sampe siang laptop seringnya dipake anak-anak nonton animasi, maka kesempatan untuk berselancar wifi dan mengerjakan tutorial online baru bisa dikerjakan selepas mereka tidur. And you know what guys, anak-anak tuh nggak ada tidurnya, dari pagi on aja… bingung saya. Tapi akhirnya telap juga mereka, si Adek tidur di kursi membelakangi TV dengan tanpa celdam dan diapers, saking lelahnya kali yah setelah seharian maen ama kakaknya. Sementara Fafa 01 menyerah setelah disuruh mengerjakan PR jam 7 malam.

Well baru tengah malam ini nih bisa cek tutorial dan berdiskusi tanya jawab dengan para peserta kuliah yang lain. Yah tugas terakhir memang harus diupload sebelum tanggal 8 hari minggu besok, so… masih ada waktu khan??

5. Rencana di hari Minggu besok

Sebenarnya back to daily acitivity again inimah judulnya, nyiapin bahan baku buat catering, belanjang kebutuhan RT di giant tole dan satu lagi mungkin menghadiri undangan pernikahan di Bintaro. Oya sampe lupa, ada rencana juga tiup lilin Fafa02 di Depok dengan neneknya, sementara perayaan di sekolahnya sepertinya ditangguhkan tidak jadi Senin besok. Nunggu ibunya libur saja senin minggu depan.

***

Itulah malam minggu warna-warni ku kali ini. Cukup berkesan juga, apalagi bisa menikmati tidur siang yang akhir-akhir ini sudah jarang bisa kudapatkan dengan enak hehe…

Gagal Nonton (Lagi)

Posted on

imagesSetelah sekian judul film saya download dan berhasil selamat dari kerusakan laptop, namun nyaris tak ada satupun yang tunai ditonton. Setelah American Sniper-nya Clint Eastwood yang dibintangi Bradley Cooper dan The Theory Of Everything tuntas di tonton minggu lalu, selepasnya hanya gagal lagi dan gagal lagi. Pertama adalah karena tak kuat dan mengantuk, padahal baru berjalan 10 menit. Korbannya padahal film-film bagus seperti ; The Imitation Games, Mockingjay Part1 (Hunger Games) dan terakhir adalah The Judge yang dibintangi Robert Downey Jr. Kedua adalah karena tugas ngamong anak-anak ke waterpark pas libur 2 hari lalu (Imlek). Selebihnya hanya film-film cadangan saja, seperti Horrible Bosses 2, lalu ada film Korea tapi saya lupa judulnya dan beberapa film Spanyol. Untuk film cadangan ini memang statusnya cadangan saja alias nomor dua; klo ditonton syukur, nggak juga ga bakalan nyesel hehe.. biasanya ini ditonton kalau nggak ada kerjaan, nggak ada tugas kuliah, nggak ada anak2 juga di rumah, nggak lagi ngantuk dan nggak-nggak lagi lainnya.

Oya satu lagi, the interstellar juga menjadi korban loh… untungnya film ini sudah saya lihat di bioskop tahun lalu jadi ya statusnya hanya untuk menambal penasaran saja. Maklum lah film besutan Cristopher Nolan ini cukup berat, jadi ada beberapa yang masih bolong dan harus ditutup dengan menontonnya berulang ... ngeless ini mah padahal karena nggak ngerti aja tentang teori fisika, astronomi, dimensi waktu dll.. dll … yah beginilah nasib anak IPS bukan IPA haha…

Dari perhelatan Oscar yang dihelat hari minggu lalu, dan ditayangkan HBO ‘Birdman’ ternyata terpilih sebagai film terbaik, sementara aktor pemeran Stephen Hawking terpilih sebagai aktor terbaik dalam film The Theory of Everything. Oleh sebab itu saya harus mendownload ulang hari ini Birdman, karena filenya hilang gara-gara ga bisa masuk windows… biasa masalah missing *mgr nya itu loh.. untungnya saya pernah menulis cara-cara menjadi dokter laptop, tanpa harus keluar uang dan ke tempat service. So, dalam hitungan menit laptop kembali sehat seperti sedia kala dengan panduan yang pernah kutulis setahun lalu ini. Waw… lumayan juga tuh laptop setahun baru rusak atau missing sistemnya. Dan bisa saja nanti malam saya nonton Birdman, apalagi kualitasnya sudah BRRIP beda dengan yang saya download 2 minggu lalu yang masih screener/DVDSCR.. so pastinya lebih enak nontonnya di layar flat.

Oya saya masih belum tahu cara munculin teks subtitle di layar LED (file matroska *MKV), ini tergantung dari merk apa software didalamnya ya? mesti browsing dulu nih 🙂

Depok, 24 Februari 2015

 

Film dan Candu

Posted on

imagesMenonton film menjadi hiburan tersendiri bagi para penikmatnya. Bahkan pada tingkat tertentu menjadi candu. Dampak dari sebuah film amat sangat tergantung pada filter, persepsi dan tingkat pemahaman seseorang. Tidak bisa dihakimi pada satu sisi, membuat film kaya akan interpretasi. Namun tentu universalitasnya tidak lantas membuat film cocok dinikmati oleh semua kalangan, khususnya dari sisi usia karena menyangkut pemahaman, filter dan persepsi itu tadi. Oleh sebab itu pula film yang tersaji dalam layar memiliki panduan bagi pemirsanya; dari mulai rating hingga parental guidance. Semua ini tentu dilakukan untuk meminimalisir dampak yang kurang baik dari film itu sendiri, terlebih bagi anak-anak. Maka wajar saja ketika jam-jam tertentu diberlakukan screening terhadap tayangan tertentu, seperti pada jam-jam yang melibatkan anak-anak. Namun anehnya di dunia pertelevisian kita justru tayangan yang hadir pada jam-jam anak itu adalah berita gossip dengan segala tetek bengeknya yang kerapkali tidak penting. Di pagi buta sekalipun, tayangan ini sudah tersaji di depan kaca.

Bagi saya film adalah kenikmatan tersendiri. Hiburan tentu saja, namun dibalik itu kadang terselip informasi, filosopi, sejarah dan lain sebagainya. Menikmatinya menjadi keharusan saat ini, setidaknya di masa senggang tak bertuan seperti akhir-akhir ini 😦 Entahlah kadang memang sesuatu yang kosong itu tidak baik. Rumah saja jika dibiarkan yang kosong, konon sesuatu yang tidak baik akan menjadi penghuninya. Begitu pun dengan diri kita, haus akan isi. Jika dulu buku sempat mengisi, maka mungkin kini film yang menjadi penghuni. Yups bisa saja ….

semoga saja tidak membawa sesuatu yang tidak baik’

Depok, 20 Jan-15

Tayangan Favorit Televisi

Posted on

FOX CRIMEDari sekian tayangan yang reguler ada di televisi, bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memikat. Sinetron tentu saya bukanlah ibu-ibu, jadi buang jauh itu. Kuis atau drama korea dan india, juga tidaklah menjadi perhatian. Lalu apa?? Hanya tiga; berita, tayangan olahraga dan film serial. Untuk urusan berita, Metro dan TV One jagonya. Sementara untuk olahraga, saya lebih tertarik menyaksikan tayangan lokal. Lalu untuk serial hanya satu tayangan yang biasanya menjadi favorit, Fox Crime dengan film-film seperti ; Law & Order, The Following dan Perception.

Kendala utama menonton acara-acara itu biasanya adalah waktu. Dan kedua dan utama adalah anak-anak, hehe.. kadang saya suka rebutan dan bertengkar dengan mereka. Apalagi kalau bukan disney junior dan disney chanel anak-anak yang waktunya berbarengan dengan tayangnya film favorite ataupun siaran langsung Bola. Kalau sudah begini ya sudah, ngedumel dan pundung. Mengalah untuk anak-anak 😦

Untuk tayangan film-film lepas saya biasanya tertarik dengan berbagai genre. Yang paling top tentu saja genre yang berbalut misteri dan thriller. Tapi komedi, drama, scifi dan animasi juga saya suka. Sebagai sebuah hiburan, tayangan televisi hanyalah satu dari sekian alternatif sumber hiburan itu. Sumber-sumber yang lain tentu masih bertebaran dengan berbagai bentuknya. Alternatif memilih televisi tentu harus dilandasi kesadaran; baik dan buruknya. Karena tidak semua yang tersaji disana baik bagi jiwa dan pikiran kita. Maka sudah barang tentu selektif dalam memilih program tayangan menjadi kunci. Apalagi jika dikaitkan dengan anak-anak, karena apa yang dilihat maka itulah yang ditirunya. So, jadikan televisi sebagai salah satu saja dari sekian banyak alternatif sumber; baik itu hiburan, informasi dan sekaligus pendidikan. Barengi dengan sumber dan kegiatan lainnya yang positif dan membuka wawasan.

Hello Ghost ; Nonton Lagi ….

Posted on

posterCerita dimulai dengan adegan sang pemuda yang merasa depresi. Dia merasa tak seorang pun peduli padanya. Tidak ada yang menemani, tidak ada keluarga yang mengasihinya, dan tidak ada seorang pun yang mencintainya.

Dalam kondisi depresi itulah dia menenggak puluhan butir pil yang menyebabkannya ditemukan dalam kondisi “antara hidup dan mati”. Dalam kehidupan nyata mungkin inilah yang dinamakan mati suri.
Ketika tersadar, dia sudah di rumah sakit. Di situlah adegan unik dan lucu terjadi. Dia bertemu empat hantu yang berbeda karakter. Hantu pertama, seorang lelaki dewasa berperawakan gemuk dan selalu tampil perlente dengan setelan jas dan dasi. Hantu kedua seorang lelaki tua yang suka menggoda perawat perempuan di rumah sakit itu. Hantu ketiga seorang perempuan dewasa yang terpergok sedang menangis di dalam lemari psikiater. Sementara hantu terakhir seorang bocah yang dikesankan nakal dan tengil.

Panik menghadapi kenyataan dia bisa melihat hantu, sang pemuda mendatangi “orang pintar”. Menurut sang dukun, pemuda itu mampu melihat hantu karena dia sempat mati dan hidup lagi. Pada saat kembali ke dunia, dia membawa serta beberapa hantu bersamanya. Itu sebabnya dia bisa melihat hantu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Akhirnya sang pemuda pasrah menerima kehadiran empat hantu yang selalu membuntuti kemanapun dia pergi. Ketika pemuda itu bertanya mengapa keempat hantu itu memperlihatkan diri kepadanya, para hantu mengatakan mereka ingin meminjam raga sang pemuda untuk menyelesaikan persoalan yang belum selesai ketika mereka masih hidup dulu.

Tidak berdaya melawan, pemua itu lalu pasrah “meminjamkan” tubuhnya kepada keempat hantu tersebut. Syaratnya, jika persoalan para hantu itu sudah selesai, mereka harus pergi dan tidak lagi mengganggu kehidupan sang pemuda.

Sejak saat itu, di mata tetangga dan kekasihnya, tingkah laku pemuda tersebut berubah aneh. Bahkan kekasihnya mencurigai sang pemuda memiliki lima kepribadian. Pada saat tertentu dia menjadi seorang pemuda, kali lain berubah menjadi orang dewasa, dan pada waktu lain bertingkah laku seperti orang tua, anak-anak, bahkan perempuan.
Sulit bagi pemuda itu untuk menjelaskan bahwa badannya sedang dipinjam oleh para hantu. Sebab ketika di rumah sakit, dia sudah “divonis” gila ketika mengatakan ada “orang-orang” yang selalu membuntutinya. Maka jalan yang paling aman adalah menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keberadaan para hantu itu.

Adegan berikutnya semakin menarik. Dengan meminjam badan pemuda itu, masing-masing hantu mulai berusaha menyelesaikan persoalan mereka. Hantu pria dewasa mengatakan dia ingin mengambil kembali taksi miliknya yang saat ini disimpan di sebuah tempat penyimpanan mobil-mobil bekas, yang dijaga oleh seorang laki-laki pemarah.
Sementara hantu pria tua, ingin mengambil kembali sebuah kamera di kantor polisi yang “disimpan diam-diam” oleh kepala polisi di laci meja kerjanya. Sementara hantu perempuan yang selalu menangis, mengatakan cuma ingin agar dia bisa makan bersama dengan orang-orang yang dia cintai. Lalu apa keinginan hantu cilik? Dia ingin menonton film animasi tentang robot.

Maka, dengan segala upaya, sang pemuda mulai menjalankan misi guna memenuhi keinginan keempat hantu itu. Bergantian para hantu itu menggunakan raga sang pemuda. Akibatnya, tingkah laku sang pemuda menjadi aneh di mata tetangga dan kekasihnya.

Singkat cerita, semua keinginan keempat hantu itu akhirnya terpenuhi. Maka, sesuai perjanjian, sang pemuda meminta para hantu itu segera pergi dan tidak lagi mengganggu kehidupannya. Setelah itu sang pemuda merasa kembali menjadi dirinya sendiri. Kembali hidup “normal” tanpa diganggu para hantu yang selama ini selalu mengekor kemanapun dia pergi.

Pada satu siang, sang pemuda bertandang ke rumah sakit tempat sang kekasih bekerja untuk makan siang bersama. Dengan ceria dia memperlihatkan bekal yang dibawanya dari rumah. Bekal itu berisi Kimbap buatannya. Tanpa sadar, keterampilan memasak Kimbap diperolehnya saat hantu perempuan meminjam raganya.
“Kimbap buatanmu enak sekali. Tetapi biasanya orang tidak memakai daun peterseli kalau membuat Kimbap,” ujar sang kekasih saat mencicipi makanan buatan sang pemuda.

“Kata ibuku daun peterseli lebih baik ketimbang bayam,” ujar sang pemuda spontan. Usai mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba wajah sang pemuda berubah. Untuk sesaat dia terkesiap. “Peterseli baik untuk kamu ketimbang bayam.” Ucapan ibunya kembali terngiang-ngiang. Tiba-tiba raut muka ibunya muncul begitu jelas. Raut wajah yang selama ini tidak mampu diingatnya. Kini raut wajah, dengan pakaian bergaris-garis itu begitu nyata. Begitu jelas.  Sang pemuda terhenyak. Makanan di mulutnya tak sanggup ditelannya. Wajah itu, wajah itu, wajah hantu perempuan yang selalu membuntutinya!

Dengan mulut masih penuh makanan pemuda itu lalu berdiri dan berlari menuju rumahnya. Teriakan sang kekasih yang memanggil namanya tidak dia hiraukan. Dia terus berlari. Nafasnya kembang kempis. Antara menahan tangis dan mengatur nafas. Sementara air mata mengalir deras dari kedua matanya.

Pada saat berlari itulah satu demi satu kenangan masa kecilnya tersibak. Masa lalu yang selama ini gelap gulita. Itu sebabnya dia tidak mampu menjawab pertanyaan sang kekasih, “Siapa sebenarnya kamu ini?”
Dia juga tidak mampu menjelaskan asal-usul dan sejarah keluarganya. Selama ini dia hanya merasa hidup sebatangkara. Tanpa keluarga dan tanpa kasih sayang orangtua. Juga tanpa sanak saudara. Dia juga tidak tahu siapa dia sebenarnya. Semuanya serba gelap.  “Ingatan bisa hilang karena seseorang mengalami benturan keras,” ujar sang kekasih yang perawat, suatu ketika.

Kata-kata sang kekasih kini mendapat makna. Sembari berlari, kenangan-demi kenangan masa lalu menyeruak dalam ingatannya. Kini dia mulai ingat. Hari itu ayahnya pulang membawa taksi berwarna kuning cerah. Wajahnya ceria. “Ayo, kita piknik ke pantai,” teriak ayahnya.
Seluruh keluarga tampak bahagia. Ibunya, kakak laki-lakinya, dan kakeknya bersuka cita. Bahkan sang kakek meminjam kamera tetangganya dan berjanji akan mengembalikannya. “Aku akan mengembalikannya sebelum kamu mati,” ujarnya sembari tertawa.

Satu per satu kenangan itu semakin jelas. Sembari terus berlari, ingatan sang pemuda kembali ke peristiwa demi peristiwa yang terjadi sekian tahun lalu, ketika dia kanak-kanak. Dalam perjalanan menuju pantai, taksi yang disupiri sang ayah diseruduk sebuah truk dari belakang. Mobil terguling berkali-kali ke jurang yang terjal. Dalam kecelakaan itu semua tewas. Hanya dia yang selamat.

Sejak saat itu dia tidak ingat apa-apa. Benturan keras akibat kecelakaan itu membuat dia kehilangan memori akan kejadian yang merenggut seluruh orang-orang yang dia cintai.

Hantu pria dewasa yang selalu berpakain perlente, sang supir taksi, mulai diingat sebagai ayah yang menyayanginya sewaktu kecil. Hantu pria tua itu kakeknya. Sedangkan hantu anak kecil tidak lain kakak kandungnya. Sementara hantu wanita yang selalu menangis adalah ibu yang begitu mencintainya.

Sejak tragedi itu sang pemuda hidup sebatangkara tanpa mengenal dan mengingat siapa orangtuanya. Tak mengenal siapa keluarganya. Dia tumbuh dalam kesepian dan tanpa kasih sayang keluarga. Semua itu membuatnya depresi. “Setiap Hari Anak, orang-orang yang berbeda datang dan pergi. Tetapi tak seorang pun yang mengingatku, memanggil namaku,” keluhnya, mengenang nasibnya sebagai anak yatim piatu. Perasaan terbuang itulah yang membuatnya berusaha mengakhiri hidupnya dengan menelan puluhan butir pil, yang membuatnya mati suri sebelum bertemu empat hantu.

Semua kenangan tentang ayah, ibu, kakak, dan kakeknya tiba-tiba muncul begitu saja. Semua gara-gara Kimbap yang siang itu dimakannya bersama sang kekasih. Makanan itu seakan menjadi pintu masuk untuk menjawab pertanyaan “Siapa sebenarnya aku ini?”.

Dia baru menyadari, ternyata keinginan hantu-hantu itu untuk menyelesaikan “persoalan” yang masih mengganjal dalam hidup mereka, semua bermuara dan berkaitan dengan dirinya.  Sang kakek waktu itu ingin memotret cucu kecilnya. Sang ayah pernah berjanji akan mengajari sang pemuda berenang di laut. Sang ibu pernah ingin ditemani ke pasar jika dia sudah dewasa. Sementara sang kakak pernah berjanji akan mengajak sang adik menonton film animasi robot. Janji itu dia ucapkan setelah mereka gagal nonton film karena waktu itu uang sang kakak dirampas anak-anak bengal.

“Adikku, ingatkah kamu dulu waktu masih hidup aku pernah berjanji akan mengajakmu nonton film animasi?” Ujar sang hantu kecil, di ujung film. “Aku meninggalkan itu untukmu,” sambung hantu kecil sembari menunjuk boneka robot di atas meja di sudut kamar sang pemuda. Tetapi, apa lacur, dia baru saja mengusir semua hantu itu dan meminta mereka tidak “mengganggunya” lagi.

Sesampai di rumah, sang pemuda berteriak memanggil-manggil para hantu yang selama ini dianggap sudah merusak hidupnya. “Jangan tinggalkan aku lagi,” ujarnya sembari terisak. “Jangan pergi”. Pada adegan ini, air mata saya yang sejak pertengahan film sudah mulai membasahi pipi, tumpah ruah tak terbendung. Dada rasanya sesak. Saya larut dalam perasaan sang pemuda:  hidup kesepian, ketakutan, tanpa kasih sayang orangtua, dan perasaan tidak dicintai.

Saya membayangkan berapa banyak anak-anak yang nasibnya seperti pemuda itu. Anak-anak yang oleh berbagai sebab tumbuh tanpa kasih sayang orangtua dan keluarga. Anak-anak yang merindukan belai kasih dan rasa aman namun tidak mendapatkannya

*ps : nunggu remake versi hollywoodnya kayak gimandra yak ???

 

Homefront; Aksi Khas Statham

Posted on Updated on

homefront-212x300Kali ini James Franco menjadi penjahat. Cukup keren juga sih, sangar dan cocok dengan bewok dan kumisnya yang kumal. Yups…. sebuah film bergenre drama action/family hadir di penghujung tahun lalu, dengan memasang bintang utama Jason Statham. Beberapa bintang terkenal turut bermain disini, seperti Winona Ryder dan Kate Bosworth (pemeran Lois Lane versi Sperman Returns nya Bryan Singer yang gagal itu) dan satu lagi bintang cilik Izabella Vidovic, yang berperan sebagai anak Statham (Broker).

Phil Broker adalah mantan agen DEA/Polisi Narkoba yang mencoba menjauh dari hiruk pikuk dunia polisi (pekerjaannya yang lama), menuju Kota terpencil bersama anaknya. Sebagai orang baru di kota itu, keluarga Broker tentu harus beradaptasi dengan suasana dan budaya orang-orang ditempat barunya itu. Masalah pertama muncul ketika sang anak diganggu oleh teman-teman di kelasnya. Bukannya ciut dan diam, sang anak malah kemudian melawan dan berhasil membuat salah seorang anak bermasalah di sekolahnya cedera. Hingga kemudian kejadian ini mempertemukan keluarga Broker dan keluarga Klum. Hingga berseteru dan kemudian menguak identitas lama Statham sebagai mantan Agen Polisi Narkoba.

Tensi yang coba dibangun film ini dibuat perlahan menaik. Walau di awal sudah disuguhkan adegan gun shoot antara polisi dengan gang motor, namun setelah itu potret Broker dengan kehidupannya yang baru menjadi titik awal film ini berjalan;  bagaimana si anak bersekolah dan bagaimana Broker dengan pekerjaan dan hidupnya yang baru. Jika dalam kebanyakan film lainnya, Statham selalu dikisahkan sebagai seorang jagoan penyendiri maka kali ini ia adalah seorang Ayah dari putri cantik bernama Maddy Broker. Walau terlihat canggung dan sedikit aneh, namun chemistry keduanya cukup berhasil dibangun sebagai Ayah-Anak yang saling peduli dan menyayangi.

Semula saya menduga bahwa tokoh antagonis yang diperankan James Franco akan bersekutu untuk melawan Penjahat Utamanya yang berada di dalam penjara, Danny T Turrie. Turrie adalah Big Boss gang motor, yang di jebloskan oleh Broker ke penjara setelah sekian tahun ia menyamar dan masuk kedalam gang tersebut. Pada saat penggerebekan berlangsung, Turrie bersama anaknya berhasil lolos untuk sementara. Dalam pengejaran selanjutnya Turrie berhasil ditangkap, namun Jojo, anaknya ditembak dan mati. Mungkin karena alasan ini jua lah, Broker memilih mundur dari DEA dan menyepi, untuk melindungi anaknya dari dendam Turrie.

Beberapa adegan aksi khas Statham cukup diperlihatkan dalam film ini. Gun shoot, aksi bela diri dan sedikit kejar-kejaran menjadi sajian yang menghibur. Ditambah lagi dengan cast yang cukup matang dari beberapa pemainnya menjadikan film ini cukup untuk dimasukkan kedalam list tontonan anda. Jika dibandingkan dengan film Statham terdahulu seperti mechanic, parker dan redemption maka saya lebih menyukai Homefront ini. Ada dramanya, aksi dan sedikit thrillernya, walau minim twist namun cukup lah 🙂