Uncategorized

Pendamping

Posted on

Ini cerita lainnya dari seorang pendamping. Selain mengurus dan melayani masalah administratif, seorang pendamping juga harus tau tata krama; kapan bicara dan kapan mengeluarkan bunyi. Bukan berarti pendamping berada dalam posisi bawah dan mereka diatas seperti laiknya tuan tanah dan centengnya, namun masing-masing sesuai dengan fungsi dan tupoksinya sendiri. Administrasi tentu yang utama; fasilitasi kegiatan selama kunjungan kerja adalah yang utama, menjadwalkan, pengkondisian tempat didaerah, jalin komunikasi dengan daerah tujuan, kesiapan hotel, makanan dan lain sebagainya.

Tindak lanjut dari hasil kunjungan kerja juga tidak boleh dibuat asal dan copy paste. Karena tiap daerah adalah unik; masalah dan solusi yang berbeda dari satu daerah dengan lainnya. Oleh sebab itu kesekretariatan juga wajib menguasai minimal tahu dasar dari masalah yang sedang dikaji dan studi bandingkan. Sehingga dalam penyusunan laporan kunjungan atau bahkan rekomendasi (bila ada) sesuai konteks dan tidak keluar dari kerangka pikir Anggota Dewan yang didampingi. Skill mutlak diperlukan, khususnya penguasaan tata bahasa sekaligus keilmuan dalam bidang politik, kebijakan dan pemerintahan. 

Bagi saya tugas mendampingi itu lebih utama adalah jeli menangkap paradigma dan kerangka berpikir para anggota yang didampingi. Interpretasi dan subjektifitas tentu bermain, namun hal ini bisa diminimalisir dengan format baku pelaporan kegiatan, supervisi kasubag (senior) dan rambu keilmuan yang bersifat universal. 

Cara bersikap yang baik itu penting, melayani juga penting, namun penguasaan materi dan gaya bahasa juga tidak kalah pentingnya, setidaknya bagi saya yang berkutat di seputar itu.

– ditulis dalam perjalanan pulang tol km55 –

Mulai dari karakter, hingga kuasa

Posted on

img-20170224-wa0004Baiklah, malam ini saya agak kesulitan untuk tidur. Jam sudah menunjukkan Pukul 23.30 lewat, yang artinya sudah hampir tengah malam. Mata rasanya belum mau mengantuk juga hehe… Padahal seharian tadi menemani Pak Kabag saya dari kantor ke Bandung, tepatnya ke savoy. Ya sudahlah lebih baik saya melakukan sesuatu bukan, buka blog sekedar curat coret dan mengerjakan sejumlah invoice yang belum tuntas saya selesaikan dan ditagihkan kepada para klien catering di sekolah.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya hari ini. Pertama, karakter seseorang itu berbeda. Dan itu sudah pasti. Namun demikian saya melihat ada beberapa kecenderungan yang membuat seseorang itu bisa cocok dengan kita. Yang jelas kesan pertama itu belum tentu mencerminkan yang sesungguhnya, terkadang memerlukan waktu berproses. Maka biarkan itu berjalan secara alamiah, sembari kita membuka diri untuk menerima perkawanan yang baru. Kedua, berhubungan dengan tugas dan pekerjaan. Pada ragam pekerjaan tertentu, skill – kecakapan pada keahlian tertentu (tekhnis) ternyata bukanlah faktor dominan seseorang mendapatkan tempat dan prestasi. Terkadang dengan skill yang pas-pasan saja seseorang mampu berada pada kelompok pekerjaan tertentu dan berhasil. Artinya skill yang dimiliki cukup rata-rata saja, tidak terlalu dalam (ahli) dan juga tiadalah terlalu dangkal (tak punya kemampuan apa-apa). Cukup berada pada tingkat rata-rata saja bisa berhasil, dengan catatan ia memiliki kecakapan emosional dan sosial yang cukup; Kepercayaan diri, halus bahasa, ramah dan mampu merangkai kata sehingga menyenangkan orang lain.

Ketiga, adalah yang berhubungan dengan kuasa. Kecenderungan abbuse ketika kuasa yang memuncak dan tidak berbatas memang lebih terbuka untuk diselewengkan. Namun kuasa juga memiliki kepingan lainnya, yang berada pada sisi yang berlawanan; dapat digunakan untuk tujuan positif, semisal membuka kesempatan kepada orang lain untuk terlibat dengan kegiatan kita yang bersifat saling menguntungkan, dan atau memberikan jalan kepada sanak, kerabat dan kenalan untuk bekerja pada instansi kita. Sisi positif ini tentu memiliki nilai, dan berguna bagi kehidupan orang lain. Tiada salahnya bukan ????

Keempat, …. rasanya cukup itu saja dulu. Untuk tulisan yang sekedar coretan, ketiga bagian itu saja rasanya sudah terlalu panjang. Maka kita sudahi sampai disini saja hehe..

Salam, Bandung tengah malam

Kau Mengubah Kami

Posted on Updated on

ahok-vs-habib-riziq

Kontestasi Pilkada DKI memang menyedot semua energi, khususnya media sosial. Hampir setiap detik lewat tampilan timeline FB misalnya, beribu berita yang di share lantas di komentari bermacam-macam, berdebat hingga kata-kataan nggak jelas. Hehe, riuh rendah mengassikkan memang.

Oya tanpa sengaja tadi malam saya membuka Hp istri dan iseng membuka time line nya (tentu dengan sepengetahuan dia lah ya). And tebak, ya isinya sama saja soal yang itu-itu juga. Hadeuh, parahnya lagi hampir semua dari pertemanan itu ada di kelompoknya kubu sebrang. Masih beruntung time line saya tidak seragam semua, masih ada beberapa orang yang berpikiran waras dan menulis sesuatu yang baik, mencerahkan sekaligus membuat untuk berpikir ulang, dan melihatnya dari sisi yang lain.

Pertemanan baik itu di dunia nyata maupun maya memang kan membawa kita; kekiri-kanan dan atas – bawah. Walau pada akhirnya kita akan cenderung memilih dan mendekatkan diri pada kelompok yang sesuai atau memiliki kedekatan dengan cara pandang kita. Namun demikian, pengaruh yang disebarkan secara terus menerus akan menggiring pada angin yang berhembus. Bisa saja suatu saat penilaian kita berubah dari kiri ke kanan, atau malah menjadi sintesa yang memadukan keduanya.

Itulah dinamika, berubah, bertumbuh dan beranjak dari satu tahap ke tahap lainnya. Rasanya sebuah kerugian jika kemudian fanatisme, egoisme dan kebencian mengungkungnya dan memenjara diri untuk melakukan ekspolari pada alam yang lebih luas, bahkan melampaui apa yang telah ada. Apalagi sekedar mengikuti angin yang dihembuskan, maka filterisasi menjadi kunci.

Aku, kamu dan kalian yang Berubah

Telah banyak bukti bagaimana perubahan ini juga menghinggapi kawan-kawan saya. Selang 5 sampai 10 tahun tak bertemu kini rasanya mereka menjadi sosok yang berbeda. Ada kawan yang dulu saya kenal sangat terbuka, rajin bergaul dan memiliki visi yang luas kini menjadi terkotak dan sulit menerima perbedaan. Ada juga yang dulu saya kenal biasa saja, tidak berhijab bahkan cenderung abangan, kini menjadi sosok yang keras dan pembela panji quran (itu juga katanya sih hehe). Atau bahkan yang menarik adalah sosok kawan saya yang lain yang dulu sangat soleh, rajin sembahyang, cenderung tidak menerima pendapat diluar kelompoknya malah kini menjadi semakin terbuka dan lebih bijak melihat persoalan. Pun demikian dengan saya pribadi hehe…

Perubahan itu nyata adanya, dan kadang kita hanya bisa tertawa setelah 5 hingga 10 tahun kemudian dan berada pada posisi yang berbeda dengan saat ini, kemudian mengingatnya kebelakang. Beruntung jika pilihannya itu benar, namun jika sebaliknya maka yang lahir kemudian hanya penyesalan tak berujung. Kehati-hatian patut menjadi kunci, memilah dan memilih informasi yang baik patut dikedepankan. Kepala yang dingin dan mau menerima kekeliruan diri adalah hal lainnya. Dan dibalik itu semua, persaudaraan jauh lebih penting. Gaduh dan friksi mungkin bagian dari dinamika sosial. Tapi anarki, merasa benar sendiri, merasa menang sendiri, merasa paling suci, dan sempitnya pandangan diri (pada fanatisme dan kebencian) hanyalah bibit-bibit kehancuran yang akan disesali nantinya. So, hati-hatilah kawan

Seni dan Olah Tubuh

Posted on Updated on

Kata orang ‘seni’ itu mampu melunakkan jiwa. Sesuatu yang keras pada awalnya, kemudian melunak dan elastis ketika disentuh seni atau kesenian. Dengan seni pula jiwa menjadi tenang, dari yang semula riuh rendah karena terjangan rutinitas harian. Thats way saya memilih ini. Walau mungkin sedikit terlambat, tapi lebih baik dimulai saat ini daripada tidak sama sekali.

Maka seminggu lalu gerilya mencari informasi alat musik yang terjangkau dilakukan. Piano klasik tentu bukan jawabannya, disamping alatnya yang terbilang mahal (diatas puluhan bahkan ratusan juta) juga biaya kursus musik dengan jenis alat ini terbilang serupa dan memakan waktu yang lama. Gitar, biola, vocal dan keyboard adalah alternatif pilihan lainnya. Setelah menimang sekian waktu, maka pilihan jatuh ke alat musik keyboard. Disamping harganya yang masih terjangkau kantong, juga waktu les yang dibutuhkan relatif singkat. Setelah browsing sana-sini, pelabuhan terakhir jatuh pada Yamaha PSR E343 …. cukup cocok lah untuk pemula yang baru belajar dan mudah-mudahan awet sampai nanti berlanjut ke Fa nomor 3.

Berikut penampakannya :

Berharap bulan depan, tepat di saat ibunya berulang tahun Fa nomor 1 sudah dapat memulai les keyboardnya di dekat rumah 🙂

Taekwondo

Yang ini adalah satu dari sekian olah tubuh / bela diri yang cukup populer di tanah air. Walau salah satu kakek nya adalah jawara silat, bahkan pernah memiliki padepokan di Bandung…. namun karena cukup sulitnya mencari padepokan pencak silat di Depok dan Bogor (terutama dekat rumah) … maka akhirnya saya berencana memasukkan Fa nomor 2 ke group Taekwondo. Sekira 3 bulan lalu, ketika kami berlibur ke Bandung, Sang kakek sempat mengajari satu dua jurus. Dan Fathir – Fa nomor 2 – terlihat antusias menghapal gerakan satu, dua dan seterusnya apalagi ketika ia dibelikan baju pangsi hitam-hitam lengkap dengan ikat kepala nyunda di atas kepalanya. Sayang memang jarak kami cukup jauh untuk berlatih rutin. Maka dari ketertarikan awal itu, saya ingin meneruskan apa yang sudah dimulai kakeknya di Bandung, untuk dikembangkan di sini, di kediaman kami. Kebetulan di salah satu pendopo Pemkab Bogor, Pemda Cibinong sering terlihat anak-anak berlatih di hari minggu car free day, lengkap dengan seragam putih-putih dan sabuknya. So tiada salahnya ia saya masukkan kesana bulan depan.

Oya berikut adalah gambar Fa nomor 3 ketika berlatih di Bandung

Sementara dua aja dulu kegiatan diluar sekolah untuk mereka. Klo masih ada waktu luang dan kemurahan rezeki lainnya, mungkin nanti akan ada pilihan kegiatan lainnya untuk mereka. Amiin

Memaknai Kemerdekaan

Posted on Updated on

Baiklah ini pertanyaan yang saya rasa cukup sulit, apalagi bagi anak-anak; sebut saja balita. Pun demikian bagi kita selaku orang dewasa. Tapi ritualnya tentu saja ada tiap tahun dan dirayakan secara semarak tiap tanggal 17 Agustus. Maka ketika menyebut tanggal 17 itu sebagai peristiwa bersejarah, tentu anak-anak keleyengan (bukan situs penyebar berita hoax itu ya yang ini … www. tit .. keleyengan.com), dahi berkerut dan susah menjelaskan apa arti merdeka, terjajah dan sebagainya. Yang terbayang pertama kali tentu saja ketika disebut tanggal 17 itu ya tidak jauh-jauh selain lomba hahaha….

Maka berikut ini adalah gambar-gambar yang sempat saya ambil saat si abang, Fa nomor 2 ikut ambil bagian menyemarakkan kemerdekaan dua hari lalu :

Well, terasa cukup meriah bukan … walo hanya diisi oleh sebagian saja warga penghuni komplek??? Maklum saja di komplek tempat kami tinggal masih saja ada warga yang mengkotak-kotakan diri, ya seperti ini ndak mau turun dan bergabung hanya karena panitianya bukan sohibnya.. atau bahkan malah ada yang merasa OKB sehingga tidak mau tuh gabung dengan warga lainnya…

Ya sudahlah, rupanya kemerdekaan itu membuat mereka terkotak ya. Coba ada musuh bersama, penjajah misalnya, mungkin ceritanya lain hihi… Ya sudahlah yang penting Merdesa… eh Merdeka !@!!@

Momen ultah

Posted on Updated on

Ini adalah momen ultah si abang, anak tengah atau sebut saja ia ‘fa2’. Tepatnya pada tanggal 7 maret lalu. Sudah lewat berapa bulan tuh??? Haha… Maapkeun latepost ya.

Kadang ada momen momen penting yang terlewat begitu …. Tahu tahu udah sekian bulan saja. Tapi moga itu hanya sekedar melewatkan blog ini, bukan dalam pengertian yang sesungguhnya…. Melewatkan masa pertumbuhan mereka. Kita tidak tahu masa yang akan datang seperti apa: kesibukan yang menyita, konsentrasi pada hal lain yang tidak kalah penting, penyakit hingga misteri usia yang tak seorangpun mampu menerka. Yang terpenting adalah kemampuan kita untuk mengingat, peran dan status sebagai orang tua, sekaligus makhluk pribadi-ekonomis-sosial yang juga memiliki dinamika dunianya sendiri.

Nah klo yang ini adalah momen ultahnya ade fay tanggal 12 juni bulan lalu. Tak ada perayaan hingar yang terlalu bingar sebenanrnya. Hanya buka puasa bersama dengan anak2 pegawai kami di rumah yang jumlahnya kini sudah 5 orang. Nasi kuning yang menjadi sajian utamapun kami masak bersama, lengkap dengan takjil berupa es buah, kolak dan ditutup dengan potongan kue ultah. Oya sang nenek turut datang hari itu jauh2 dari bandung… Dan kami sudah lengang dari aktivitas pekerjaan karena menjelang lebaran.

-ALMK-

Menambah Isi

Posted on

Seminggu kemarin nyaris saya tidak menulis, sekedar tulisan sederhana pun tidak.. walah. Buku bacaan pun nyaris terlewat, yang pertama buku lamanya Karen Amstrong dan kedua buku trilogi novelnya Pak Dahlan Iskan. Kedua buku itu dibeli minggu kemarin di Gramed Cinere… dan bisa ditebak bukan karena lagi ada program diskon hehe.. klo nggak mah ya mahal juga apalagi yang Berperang Demi Tuhan diatas 100rb (hampir setebal bukunya Ira M. Lapidus tentang Sejarah Islam yang dulu saya tuntas baca seminggu pas masih muda halah hehe…)

Nah so… apa yang saya lakukan selama seminggu kemarin itu ??? Ya rutinitas yang begitu begitu juga. Harus diubah memang dan harus ada keinginan dari dalam.

Yuk ah menambah pengetahuan lagi

Cinere, Feb 2016

Belajar Lagi Menjadi Orang Tua

Posted on Updated on

DSCF6727Tadinya saya mau melanjutkan diary yang tertunda yaitu lanjutan tulisan perjalanan kami saat berlibur di tahun baru 2016 kemarin. Tapi saat pertama kali membuka blog ini muncul notifikasi beberapa tulisan menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Umumnya tulisan itu dibuat di minggu pertama januari dan muncul di jendela blog saya (tentunya blog yang sudah menjalin pertemanan dengan saya).

Seperti tulisan Pak Dahlan Iskan tentang DR. Ir Suyoto yang bekerja di perusahaan Jepang dan ingin kembali mengabdi di BUMN (dalam negeri), lalu Bambang Trim tentang pentingnya literasi dengan mengutip puisi Taufik Ismail ‘mengapa Indonesia Nol dalam kewajiban membaca buku untuk para siswa/i sekolah’, masalah gagal move on dari blog kapriliyanto yang selalu segar dan lucu hingga tulisan bunda Dina tentang Daud VS Goliath dan pendidikan kewirausahaan bagi anak. Bagi saya tulisan-tulisan itu sangat positif dan menebar inspirasi serta pengetahuan. Namun demikian, ada satu tulisan yang secara pribadi membuat saya tertegun dan merasa bersalah. Tak lain adalah tulisan Bunda Dina tentang ‘mendidik anak agar memiliki sikap yang erat dengan kegiatan wirausaha’. Penekanannya bukan pada wirausaha tapi kepada sikap-sikap anak kita yang ingin kita bentuk secara positif kelak.

Berikut adalah point terpenting dalam tulisan bunda dina tersebut (yang akhir-akhir ini saya lupakan) :

1. Resiliensi (daya tahan).
Cara: biarkan anak mengeluarkan isi hatinya, jangan direndahkan apa yang dirasakannya.

Entah mengapa akhir-akhir ini saya sering cepat meletup secara emosi yang pada akhirnya membuat anak-anak tidak bisa mengeluarkan isi hatinya (sikap saya yang kadang acuh tak acuh ketika mereka bercerita)

2. Inovasi dan kreativitas
Cara: biarkan anak bermain dan berekesplorasi (tapi jangan main game melulu, carikan jenis permainan yang bervariasi)

Kadang untuk membuat anak terdiam dan tidak mengusik kegiatan kita, cara yang termudah adalah berikan caja gadget dan biarkan mereka main games sepuasnya. Cara ini tentu saja salah, tapi apesnya sering saya praktekan akhir-akhir ini.. 😦

3. Kerja keras
Cara: didik anak mandiri dengan memberi mereka tanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaan

Ada kalanya anak memang memerlukan latihan, dimulai misalnya dengan tanggung jawab sederhana mereka dalam menyiapkan barang-barang untuk ke sekolah, merapikan tas, baju dan sepatu ketika pulang ke rumah, membersihkan serak nasi setelah makan dll. Tapi adakalanya (dan ini sering terjadi) saya memilih membersihkan sendiri atau menyuruh mpok (asisten RT) untuk membereskan dengan dalih agar anak-anak tidak lebih membuat berantakan atau muncul kegaduhan baru. Padahal cara ini salah, ujungnya mereka akan manja dan tidak memiliki kemandirian dan tanggung jawab menyelesaikan persoalan

4. Keingintahuan:
Cara: dorong anak untuk memulai hobi baru, ajak ke berbagai tempat yang mungkin bisa menginspirasi (workshop, museum, dll)

Beberpa minggu terakhir di setiap weekend saya malah leyeh-leyeh saja, padahal hanya diwaktu itulah anak-anak memiliki waktu senggang dan bisa bercengkrama 24 jam dengan orang tuanya.

5. Percaya diri.
Cara: dorong mereka memberikan pendapat, beri kesempatan untuk mengambil keptusan sendiri (lalu didampingi, tentu saja; terutama kalau keputusannya beresiko; apapun hasil dari keputusannya, itu akan jadi pengalaman baginya).

Saya sering memotong pembicaraan mereka dan tergesa-gesa langsung pada kesimpulan (bukan mereka yang menyimpulkan tapi saya yang memaksakan sudut pandang saya)

6. Empati
Cara: hormati kepribadian dan pendapat anak, agar dia juga belajar untuk menghormati dan memahami orang lain

Ini betul, harusnya seperti itu. Tapi terkadang lagi-lagi selalu lupa…. kita lebih memilih bahawa ‘pokoknya klo kata ayah/ibu begini kamu harus nurut ya .. bla-bla-bla’

7. Optimisme
Cara: optimisme itu ‘menular’ jadi ortu pun harus jadi pribadi yang optimis, biasakan berpikir positif, dan bacakan kisah-kisah sukses orang lain

Saya juga lupa membelikan mereka buku lagi dan atau menceritakan atau menunjukkan sumber bacaan yang baik tentang kekgigihan dan kesuksesan tokoh-tokoh yang patut dijadikan teladan.

8. Sedekah
Pengusaha yang sukses harus punya visi “kebaikan untuk bersama” (bukan keuntungan sebesar-besarnya untuk diriku). Jadi latih anak untuk berbagi dengan teman, saudara, tetangga, terutama yang kekurangan.

***

Menjadi orang tua itu memang tidak ada sekolahnya. Kegiatan belajarnyapun berlangsung sepanjang masa. Tak pernah berhenti …. mumpung mereka masih dalam kategori anak (yang sebentar lagi menginjak remaja) masih ada waktu tentunya untuk merubah sikap dan memberi teladan yang baik untuk mereka.

Hayu ah belajar lagi hehe…

Tour Jogja Mengesankan

Posted on Updated on

DSCF6742
Aku dan Fa nomor 3 saat hendak menaiki puncak Candi Borobudur di Magelang (yang ngambil photo ini si kaka aka. Fa nomor 1)

Ini adalah perjalanan pertama dan terjauh kami (saya) menggunakan kendaraan (moda transportasi darat dan menyetir sendiri) hehe.. Maklum anak-anak masih kecil, sementara istri juga belum mahir menggunakan kendaraan roda empat. So, tanggung jawab supir menjadi tugasku sendiri. Jika ditanya melelahkan?? Ah.. tidak juga mas bro n sista, assik-assik aja. Sepanjang perjalanan kami cukup menikmati, beristirahat pula beberapa kali untuk sekedar makan, menghirup udara segar, menenangkan gejolak di kursi belakang yang mulai memanas (Fa nomor 1 yang berebut mainan dengan Fa nomor 2), memberi makan si bungsi Fa nomor 3 yang mulai kelaperan atau sekedar memenuhi panggilan alam; kebelet hehe.. untuk urusan yang terakhir ini klo dijumlahkan kayaknya lebih dari 20 ribu selama perjalanan kami dari masuk pintu tol Jagorawi dan sampai di Jogja (wah yang punya toilet umum di musim liburan gini marema nih, panen duit pipiw… )

Perjalanan dimulai Pukul 04.00 menjelang shubuh. Tadinya kami berencana berangkat hari minggu pagi, namun karena badan yang terlalu capek setelah mengerjakan 5 editan pekerjaan sekaligus selama satu minggu. Maka saya memutuskan beristirahat dulu di hari Minggu itu dan memulai perjalanan di hari Senin pagi… biar lebih fresh badannya. Karena segala macam perlengkapan sudah dipacking dan dipersiapkan dua hari sebelumnya, maka di pagi itu kami tidak terlalu repot mengurusi ini dan itu. Apalagi mba yang biasa membantu di rumah juga pulang kampung, atau tepatnya diberhentikan karena kelalaiannya terhadap waktu (intinya sih dia lagi mabok cinta dan lupa akan tugasnya.. makanya pulang aja deh biar dikawinin dulu ama ema bapaknya !!!)

Selama perjalanan di dalam tol jagorawi-cikampek-purbaleunyi, tidak mengalami kendala berarti. Jalur ini memang jalur umum yang sering kami lewati jika hendak ke Bandung. Anak-anak juga nyaman tertidur di posnya masing-masing; Fa nomor 1 di paling ujung dengan bantal, selimut dan dua boneka pinky pai nya, Fa nomor 2 di kursi paling tengah dengan gagah mengangkang tanpa selimut dan bantal (dasar ya anak cowok mah beda hehe…) dan Fa nomor 3 ada di sebelah kemudi, tertidur pulas diatas kasur portable yang tak lain adalah perut ibunya sendiri yang penuh dengan lemak wkwkwkkkkk…

Pukul 07.00 kami sampai di rest area dekat pintu tol Cileunyi. Trio Fa terbangun dengan sendiri saat kendaraan berhenti. Oya saya memutuskan mengambil rute Selatan tidak Utara karena ingin santai saja berkendara. Rute selatan memiliki kesan tersendiri; jalurnya berbukit, penuh pemandangan alam dan banyak tempat berhenti yang bisa disinggahi. Sementara jalur utara walau jalannya lebar dan luas, rasanya saya tidak terlalu familiar dengan daerah itu. Belum lagi saat cuaca panas dan debu dari truk dan bis besar. Oleh sebab itu jalur selatan rasanya pas untuk keluarga kecil kami; dengan tiga anak kecil lengkap dengan tetek bengeknya.

Kondisi Selama di Perjalanan (20 Jam perjalanan sampai Jogja)

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, ada baiknya anda melihat apa yang terjadi didalam mobil jika membawa anak kecil dengan perjalanan jauh berjam-jam 🙂

Fafafa
Sedikit chaos di tengah perjalanan yang bikin assik dan mengesankan tour kemarin hehe…

(bersambung)

 

 

 

 

 

Dino Yang Baik

Posted on Updated on

dino yang baikJangan terkecoh dengan judulnya .. yups ini sama dengan film God Dinosour yang itu hehe.. konon ini adalah film pertama dengan dwibahasa. Artinya Dino Yang Baik adalah God Dinosour yang sudah di alih suarakan kedalam Bahasa Indonesia.

Yups weekend kemarin kiddos pada ngajakin nonton ini film, setelah sebelumnya mereka terbuai oleh iklan yang rajin tayang di TV terutama si Abah yang kini sudah masuk usia TK. Yo wess lah mumpung libur juga, akhirnya jadi deh kita nonton yang jam 12 siang. Tapi sayangnya kita sampai di Studio 21 Cibinong City Mall (CCM) jam 12.30, artinya film sudah diputar 30 menit yang lalu. Hadeuh… kiddos langsung pundung… Ini gegara lahan parkir di CCM yang kecil dan sempit hingga tak mampu menampung pengunjung yang biasanya membludak di hari libur. Bayangkan, kita datang jam 11.45 … setelah itu muter-muter kesana kemari hanya untuk mencari tempat parkir yang kosong. Dan ini bukan kejadian pertama kali, sebelum-sebelumnya juga begitu. Entah kenapa dengan Mall ini, apa salah desain sebelumnya atau memang tidak menyangka sebelumnya akan antusiasme warga yang bakal datang kesana. Hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu 🙂

Untuk menghindari pundung yang bisa memuncak ke para kiddos, maka alternatif kedua adalah pindah lokasi. Kebetulan ada yang dekat, Platinum Cineplex Cibinong Square… walo memang sih secara kekinian ini mall sudah berumur dan kalah pamor dengan CCM. Tapi demi menyelamatkan biduk kiddos yang mulai pundung, ndak apalah. Kebetulan jam tayang disana dimulai jam 13.00 .. so, pas kan.

Selepas membeli tiket dan free jagung berondong .. hehe.. ada yang tau kan jagung berondong itu apa… yups popcorn lah kerennya mah. Dengan dua rasa keju dan vanilla, kami memilih setengah2 diantara keduanya. Tak lama kemudian pintu teater 2 dibuka, dimulai dengan announcement dari speaker yang terdengar sember dan tidak enak didengar itu .. hehe.. jika dibandingkan dengan suara Ibu Maria Untung yang dulu suka ada di XXI rasanya bagai langit dan bumi ini suara. Tapi ya sudahlah.. apa arti suara yang penting bisa nonton rame-rame.

Dan taraa… begitu kami masuk ke dalam studio tampilan screennya redup, nyaris ndak berwarna. Padahal sekarang kan jamannya tampilan HD yang warnanya begitu menyala dan terang, tapi ini kok beda ya. Dan tak berapa lama kemudian film pun ditayangkan, lampu dimatikan. Sementara layar tak berubah signifikan, tetap gelap dan kurang berwarna. Tata Audio pun hanya terdengar kencang di bagian depan, sementara kanan dan kiri juga belakang nyaris tidak terdengar. Wal hal nonton kemarin terasa hambar dan kurang puassssssss …. Tapi ya klo Kiddos sih seneng-senang aja, yang penting mereka mah bisa bareng2 dengan Bapak Ibuknya di hari libur hehe..

So, kesimpulan pertama nggak lagi deh nonton di Platinum, mending XXI saja hehe…

Tentang Film

dino yang baik2Jujur saja di tengah film saya sempat tertidur, klo tidak dibangunkan dengan suara ribut si Abah yang minta popcorn lagi mungkin saya bisa tidur sampe film usai. Walo tidak kering-kering amat, film ini cukup menghibur dan memberi pesan yang baik. Tapi tetap saja jika dibandingkan dengan inside out kalah kelas. Ini sudut pandang saya sih, orang lain tentu bisa berbeda. Si kaka pun demikian, buktinya kemarin di Dino Yang Baik ia sampai menangis, terutama saat Arlo membuat lingkaran keluarga ketika ia berhadapan dengan Spot… sedih katanya hehe…

Secara umum yang bisa ditangkap dari film ini adalah perjuangan menjadi dewasa (kisah Arlo yang dimulai saat ia kehilangan Ayah dan terdampar). Lalu persahabatannya dengan sang musuh diawal film (Spot atau manusia yang dalam film ini lebih rendah kebudayaannya dibandingkan Dino) dan Perpisahan… pilihan untuk terus bersama atau merelakan sahabat terbaiknya menyatu kembali dengan keluarganya.

Overall film yang sangat menghibur dan mudah dicerna oleh anak-anak. Beda dengan Inside Out yang tidak habis-habisnya si Kakak bertanya ini itu hingga saya kehabisan kata untuk memberi penjelasan 🙂