pekerjaan

Kali ini Badan Musyawarah

Posted on Updated on

Setelah minggu lalu mendampingi Badan Kehormatan ke kota Malang dalam rangka Kunjungan Kerja. Hari ini giliran tugas lagi mendampingi Badan Musyawarah ke kota Solo atau Surakarta. Penerbangan dijadwalkan take off jam 2 nanti. So masih ada waktu sekitar 1 jam menunggu di sini. 

Jika Badan Kehormatan hanya beranggotakan 5 orang, maka tidak demikian dengan Banmus. Anggota Banmus adalah perwakilan dari tiap fraksi di Dewan, sehingga hampir bisa dipastikan jumlahnya mencapai setengah dari total jumlah anggota DPRD (untuk Bogor totalnya 50 orang dgn 7 fraksi).

Bisa dikatakan setiap keputusan yang menyangkut penjadwalan kegiatan baik itu komisi, pansus dll dilakukan melalui Banmus. Pun demikian dengan laporan hasil kegiatan, pembahasan komisi, pansus dan seterusnya. Pimpinan DPRD bertugas sekaligus sebagai pimpinan Banmus (pimpiman tiap rapat). 

Keanggotaan Banmus ditentukan oleh masing-masing fraksi sesuai dengan perolehan kursi. Statusnya tidak permanen, alias dimungkinkan untuk dilakukan rolling atau pergantian keanggotaan yang merupakan hasil keputusan intern fraksi. Terkadang perubahan penempatan keanggotaan Banmus dipertukarkan dengan AKD lainnya, seperti BKD dan BPPD.

-bersambung-

Advertisements

Kunjungan kerja DPRD

Posted on

Mencermati cara kerja anggota dewan ada beberapa hal yang bisa dijadikan catatan. Pertama sebagai mitra kerja di daerah (sesuai dengan UU Otonomi Daerah) maka perannya sejajar sebagai perangkat kerja daerah, tidak berhadap2an dalam artian bertindak oposan. Beberapa fungsi utamanya sebagai pengawas pemda, budgeting/anggaran dilakukan dan melekat didalamnya. Baik buruknya pemda adalah cerminan harmonisasi kerja keduanya.

Mengenai kunjungan kerja yang biasanya rutin dilakukan baik itu dalam tingkat pansus, komisi maupun Alat Kelengkapan DPRD lainnya semisal Badan Kehormatan, Badan Musyawarah dan BPPD bisa dikatakan sebagiannya perlu dan bisa juga tidak. Dikatakan perlu karena dalam pembahasan didalam terkadang input diperlukan. Kajiannya memang bisa dilakukan dengan berbagai cara; riset akademik melalui kepustakaan (non kunker ke luar kota/pulau/luar negeri), mengontrak tenaga/staff ahli di bidang yang sedang di bahas (hukum, ekonomi, bahasa dst) dan seperti yang disebut diawal dengan sowan mengunjungi daerah lain. 

Tidak semua produk pembahasan dewan menjadi perda. Dan tidak semua raperda yang kemudian ditetapkan menjadi perda juga dipraktekan oleh pemda. Beberapa diantaranya kadang tersimpan dimenara gading, sebagiannya lagi adalah pengulangan dari perda sebelumnya yang ditambahi dengan kalimat perubahan atau penyempurnaan.

Setelah beberapa kali mengikuti sidang, paripurna dan kunjungan kerja; saya semakin mengerti cara kerja pemda mengelola daerahnya pun dengan fungsi dewan sebagai mitra kerja dan pengawasannya. Banyak catatan yang sebenarnya ingin kutulis, tapi memang harus berhati hati memilih mana yang bisa dibagikan sebagai sekedar catatan pribadi dan mana yang tidak laik dikonsumsi umum.

-bersambung-

Bekerja sendiri, atau Bekerja

Posted on

Berhubungan dengan orang, dalam pengertian bersosialisasi membutuhkan seni tersendiri; seni berbicara, mengolah tubuh, mimik, hingga gesture. Konon bahasa non verbal lebih jujur berbicara dari bahasa verbal, yang manipulatif dan sarat pencitraan. Kemampuan mengolah tubuh, gesture, mimik dan pengolahan kata hanya mungkin didapat dari proses latihan, praktek.

Bagi mereka yang memang terbiasa individualis, bekerja sama dalam tim kadang terasa berat. Bukan pada aspek pencapaian kinerja (dalam dunia pekerjaan), namun lebih kepada blending, menyatukan cara bergaul, cara berpikir, kedalam pola interaksi dinamik. Bagi yang tidak terbiasa berada dalam satu lingkungan dengan beberapa orang lain dalam kurun waktu yang lama, menyatu dan menjadi ‘mereka’ tidaklah mudah. Disitu ada kebiasaan, ada ego, ada kepentingan yang berbaur bingung menjadi satu. Apalagi bagi mereka yang harus keluar dari zona nyaman ‘serba sendiri’ lalu masuk kedalam lingkungan baru dunia pekerjaan, yang formalis, dan struktural. Tentu ini membutuhkan proses belajar yang tidak sebentar.

Terus terang saja, ini saya alami sendiri… Saat ini. Ada rasa tidak nyaman memang, tapi sebagai makhluk sosial tentu kita harus mau belajar dan masuk kedalam lingkungan sosial yang baru. Keluar dari zona aman, mutlak diperlukan. Ini perlu perjuangan, tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Penerimaan sosial adalah hal yang harus didapatkan kemudian, lalu menyatu dan bersama-sama menunaikan tugas yang menjadi bidang pekerjaannya. 

Menyatu dalam dunia pekerjaan mungkin berbeda menyatu dalam penhertian berkuliah, dan atau berada dalam satu organisasi non profit/sosial. Ada penugasan, ada senioritas, ada etika atasan, ada solidaritas dan ada kecakapan pribadi yang harus ditunjukkan sebagai bentuk tanggung jawab. Bukan saatnya belajar lagi mencoba seperti masa berkuliah dahulu, sebab saat ini semua sudah selesai. Apa yanh dimiliki sebagai bentuk skill maka itulah yang diberikan.

Semoga saja dalam waktu yang tidak terlalu lama, proses penyatuan itu berhasil dan membuahkan hal positif, untuk saya pribadi tentunya.

Pintar Mengatur Jadwal

Posted on

555dd9090423bd5b6c8b4567Karena setiap hari bisa dipastikan pulang hampir jam 8 atau 9 malam sampai di rumah, maka mau nggak mau harus disiasati penggunaan waktu di siang hari. Agak mustahil rasanya setelah bertempur di luar selama siang hari lantas masih juga harus menyelesaikan beberapa hal yang tertunda di malam hari. Belum lagi kehadiran asisten rumah tangga yang menempati kamar belakang yang juga menyatu dengan ruang kerja sederhana saya berupa satu buah meja, seperangkat komputer, satu set audio dan sebuah meja belajar tempat menaruh buku-buku yang kini sudah tidak seberapa banyak jumlahnya itu. Maka giliran malam adalah giliran sang asisten beristirahat, kurang manusiawi rasanya jika ia harus kembali menahan kantuk karena kehadiran saya. Maklumlah rumah yang kami tempati tidak terlampau besar sehingga harus diatur sedemikian rupa penempatannya. Belum lagi kini hadir si adek yang baru berusia 3 bulan, sehingga jelas banyak barang lainnya yang turut hadir mulai dari car seat, bouncer belum baju-baju dan seterusnya. Hah… kadang makin sempit aja nih rumah, apalagi klo si abang ngajak main… maka berantakanlah rumah hehe… ada rencana sih menambah satu ruangan di depan garasi mobil yang masih bisa diperluas, ya mudah-mudahan ada rejekinya. Amiin

Back to topic tentang pengaturan waktu. Kadang memang kita terlena oleh waktu yang berdurasi 24 jam itu, rasa2nya begitu luas dan panjang. Namun prakteknya kadang serasa belum cukup, apalagi jika banyak waktu yang kemudian kita buang secara percuma dengan tertidur, mengobrol nggak jelas, melamun dan seterusnya. Alih-alih mampu menyelesaikan semua tugas, malah kemudian melahirkan masalah baru berupa perasaan bersalah karena tidak melakukan secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu belajar adalah kunci mengatur waktu secara benar. Tidak ada batas sampai kapan selesai, karena proses belajar berlangsung sepanjang hayat. Apalagi kehidupan yang berjalan begitu dinamis; setiap hari ada saja masalah baru yang harus diselesaikan dengan cara dan tingkat berpikir yang berbeda ketika masalah itu lahir dulu, belum lagi pengharapan yang begitu tinggi akan pencapaian karir, kesuksesan, ketercukupan finansial hingga aktualisasi diri yang juga harus dipenuhi. Oleh sebab itu proses belajar akan terus berlangsung selama kita hidup dan baru berakhir ketika kita dikafani. Dalam hal mengatur kegiatan pun demikian, tanpa proses belajar kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar dan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.

Minggu ini saya ingin belajar bagaimana mengatur kegiatan saya secara efektif. Mulai dari rutinitas pagi, siang, sore hingga malam di rumah. Ada beberapa target yang mesti diselesaikan, bukan perkara mudah juga karena membutuhkan tingkat perhatian dan konsentrasi yang berbeda. Sebut saja target mendapatkan hasil maksimal IPK, maka konsekuensinya saya harus menyelesaikan sekian tutorial online yang tersedia, pengerjaan tugas dan paper tepat waktu hingga bimbingan Tugas Akhir yang juga harus saya penuhi. Belum cukup sampai disitu, tuntutan kebutuhan rumah tangga juga tidak bisa dibiarkan, maka target lainnya adalah bagaimana mengatur pola kegiatan setiap hari sehingga pekerjaan juga tuntas sebagaimana hal itu diharapkan. Mulai dari pengerjaan editing untuk salah satu wedding organizer di jakarta, belanja bahan baku untuk catering di rumah, pengecekan administrasi mingguan catering sekolah dan seterusnya. Sekian jumlah target yang mesti dituntaskan itu, tentu tidak lantas membuat quality time dengan keluarga dan anak-anak menjadi terbengkalai. Dan untuk yang terakhir ini saya masih kebingungan, sebab terkadang ada saja kesalahan yang dilakukan; mulai dari tingkat emosi yang tidak stabil ketika bercengkrama dengan anak-anak di rumah (pada malam hari biasanya), pikiran yang terbelah (kadang saya tidak fokus mendengarkan mereka bercerita) hingga memutuskan tertidur lebih dulu sementara si abang asik mengajak main dan bercerita ini itu. Kalau sudah demikian, biasanya tugas menemani sampai jam 12 malam diserahkan pada sang ibu, walau saya tahu juga bahwa si Ibu lelah dan mengantuk karena seharian bekerja di luar.

Itulah dinamika hidup yang harus dijalani, dihadapi dan diselesaikan. Tulisan ini juga dibuat sebagai pemanasan sebelum saya mengerjakan 3 buah tugas paper lagi di semester ini. Kadang mood menulis tidak datang dengan baik, mesti di rangsang, dan salah satu bentuk rangsangan itu adalah dengan menulis, setidaknya menulis curhat di buku harian dan blog hehe… mudah-mudahan saja 3 tugas itu selesai hari ini sebelum saya harus menjemput anak-anak di sekolah jam 2 nanti. Dan besok adalah waktunya mengerjakan deadline proshow video salah satu WO langganan saya. Besoknya lagi adalah tenggat terakhir merangkum 5 buah buku penunjang materi Tugas Akhir, minimal 3 Bab awal. Pffuuhh… cuma tersisa hari minggu nih, sebelum kembali bertempur di hari senin. Semoga saja saya bisa belajar dengan baik untuk menyelesaikan semua tugas dan target itu. Amiin

-Cinere, Warnet ThePatch-

Manajemen Resiko; Menaikan Harga Jual Apakah Solutif ???

Posted on

Ada kebiasaan rutin tiap pagi ketika di jalan yang kami lakukan, khususnya saya sih… hehe… Apa coba, yups mendengarkan radio. Dari sekian channel yang ada saya memilih Delta FM untuk waktu siar antara jam 6 pagi sampai jam 9 nan. Acaranya cukup menghibur dan berisi konten yang cukup informatif. Biasanya sang pemandu acara “Asri Wellas & Stenny Agustaf” melemparkan satu dua permasalahan yang ringan tapi cukup penting untuk dibahas. Lalu di ujung telp ramai orang menelphone dan menanggapi. Di sessi 2 pagi ini, terlontar satu tema yang unik yaitu tentang ‘Manajemen Resiko’ pada usaha atau toko/butik/bisnis/dagang. Awalnya biasa saja tapi kemudian menjadi penting ketika ‘Manajemen Resiko’ ini tidak dijadikan sebagai satu kesatuan sistem pada usaha yang dijalankan. Sementara resiko dari sebuah usaha adalah keniscayaan; mulai dari pasar yang tidak menentu, fluktuasi bahan baku, bencana alam hingga ‘kenakalan’ anak buah/pegawai.

Pada point ‘kenakalan pegawai’ banyak kasus yang kemudian muncul adalah korupsi kecil-kecilan yang dilakukan, namun berjamaah dan rutin dilakukan tiap bulan. Bagaimanapun juga riak seperti ini tentu akan mengganggu keberlangsungan usaha yang dijalankan, mulai dari merosotnya nilai penjualan (keuntungan) hingga raibnya beberapa barang pada saat dilakukan Stock off name. Jika dibiarkan berlarut tentu membawa masalah besar dikemudian hari, oleh sebab itu ‘Manajemen Resiko’ menjadi penting; bukan hanya sebatas pada upaya penanggulangan ketika hal itu terjadi namun terlebih utama adalah pencegahan sebelum hal itu terjadi. Oleh sebab itu perlu sebuah sistem yang terpola dan terintegrasi secara baik ketika menjalankan sebuah usaha, dan salah satu komponen dalam sistem itu adalah ‘Manajemen Resiko’.

Secara teoritis istilah manajemen resiko ini bukanlah hal baru, di bangku kuliah khususnya dalam mata kuliah manajemen (baik umum, SDM hingga MK manajemen pemerintahan) sudah dipaparkan secara gamblang apa itu manajemen resiko. Mulai dari paparan para ahli hingga beberapa contoh dalam bentuk terapannya. Jadi silahkan saja baca kembali ya buku-buku anda semua yang sudah teronggok rapi itu di rumah hehe… Namun yang pasti, bagi saya manajemen resiko ini ternyata salah satunya adalah berpengaruh pada produksi dan harga jual barang yang ditawarkan. Artinya penghitungan perlu dilakukan secara cermat sebelum usaha dijalankan, dan salah satu komponen ‘manajemen resiko’ seperti tindak penyelewengan bahan baku oleh pegawai, mark up harga hingga kecurangan dalam bentuk jasa yang ditawarkan oleh tim penjualan perlu dihitung juga. Sehingga harga jual yang ada sudah mencakup semua; disamping harga sewa toko, honor pegawai, fluktuasi harga dan keuntungan bersihnya.

Namun demikian, setelah dipikir-pikir jika hal ini dimasukan kedalam tabel perhitungan maka imbasnya adalah kenaikan harga jual, sementara untuk saat ini rasanya tidak mungkin menaikan begitu saja harga jual yang ada. Lalu piye donks … ????

Sambil Merenung dan Membaca Diktat Kuliah Aja

-Pangkalan Jati CInere, Sept’15-

Tekhnik Digital Imaging Pada Photo

Posted on

Menjelang larut malam kemarin, saya kembali nggak bisa tidur. Disamping cuaca yang dingin, badan juga terasa remuk, sakit dimana-mana. Maklum saja, siang harinya abis naik genteng atap rumah benerin yang bocor. Sudah lebih dari sebulan yang lalu memang atap dapur, ruang tamu dan pojok kamar bocor. Si empok yang biasanya beres-beres n jagaian anakku di rumah dah hampir saban hari ngingetin. Tapi yah itu …. belum ada waktu …… halah alasan klasik ini mah, padahal mungkin males aja kali yah hehe…. Wal hal….. tiap ujan dateng, ember dan panci bertaburan di mana-mana. Yah bagiku sih nggak ada masalah, wong tiap hari ada di luar rumah. Tapi yang saban hari di rumah, mungkin ini jadi masalah. Biarlah, waktu berlalu. Dan kemarin siang akhirnya tugas ‘bapak rumah tangga’ ini tunai terlaksana. Lega rasanya.

Tapi yah itu tadi, malemnya badan pada sakit. Karena pas di atas bermacam gaya akrobatik kupraktekan, mulai dari gaya nungging, setengah salto hingga menahan dengan satu kaki. Gara-gara akobatik kungfu ini, malamnya nggak bisa tidur. Detik jam… terasa terdengar… duuh bosan juga lama-lama. Hingga akhirnya ide menyalakan komputer di malam itu lumayan berhasil. Selama hampir dua jam aku memilih untuk mengedit photo ‘Prewedding’ nya Ikbal dan Ayu… hasilnya cukup lumayan lah … ini empat contoh hasil editan ku tadi malam …

A. Pelukan di Jembatan Tekhnik Arsitektur UI (yang melegenda itu loh …)

18564_1256141318715_1033275_ndi bagian ini saya banyak menggunakan tools shadow n highlights. bagian rumput di bawah diganti memakai ilalang tambahan menggunakan tekhnik overlay. Karena saat pemotretan cuaca lagi terik-teriknya, maka detil awan di atas hilang. oleh sebab itu pula di bagian ini saya memakai awan tambahan dengan melakukan kopi paste lalu di masking dengan tekhnik brush. masalah warna sedikit di pekatkan, ditambah dengan black white layer dan di eksekusi dengan filter highpass, agar gambar terkesan lebih tajam…..

B. Senyam-senyum pinggir kali

18564_1256141998732_2508000_nnah disini awalnya saya kepengen munculin detail air dan ilalang sekitarnya. tapi setelah diotak-atik ternyata jelek. sempet bingung juga mau diapain. akhirnya saya memilih untuk memakai nuansa sephia cokelat. warna rumput jelas hilang, demikian pula nuansa disekitarnya. di bagian ini saya tidak memakai banyak layer, hanya bermain di saturasi, lalu masking dan overlay dengan memakai image cokelat dari tempat lain.

untuk wajah, seperti biasa memakai bantuan jhon teffon…. supaya cepat dan mudah he..he..

C. Senyam senyum di depan semut nangkring

18564_1256142798752_6642721_npada saat pemotretan, Ikbal dan Ayu beberapa kali digigit semut merah… yah wajar aja… lagi enak-enaknya nangkring di bawah sinar matahari ehh.. tau-tau dirusak ama yang lagi poto prewedd… mereka marah kali yah hehe…

di poto ini saya juga tidak terlalu banyak memakai toollss aneh-aneh, cuma shadow n highlights, high pass, sedikit patch dan terakhir dieksekusi dengan overlay image bernuansa gelap cokelat

di bagian wajah dan tubuh sengaja dimasking (awalnya) tapi krn dah ngantuk, dibagian akhirnya nggak di masking makanya gradakan)

akhirnya setelah hampir 2 jam ngedit… mataku mulai perlahan menuju 5 watt… pelan-pelan meredup…. hingga bener-bener nggak tahan dan akhirnya kuputuskan saja tuk istirahat malam itu… Ahh… besok lanjut lagi ahhh ….

Trims to Dany Febriyadi buat bantuin moto-moto di lokasi prewedd senin kemarin, baik itu untuk alat kameranya maupun kesediannya bantuin 🙂

*repost dari blog saya yang sudah passed away : http://www.aleichang.multiply.com dan https://www.facebook.com/notes/alike-mulyadi-kertawijaya/cerita-tadi-malam-iiihhh-/277350524812

Gema Festival Ananda

Posted on

Ada agenda rutin yang biasanya diselenggarakan oleh Sekolah tempat si Kakak belajar. Kegiatan itu disebut dengan nama GEMAFEST, Gemala Ananda Festival. Tahun ini katanya diselenggarakan tepatnya di bulan Juni nanti. Lokasi persisnya masih dalam pembahasan panitia. Bisa juga seperti tahun lalu di wisma subud, atau tahun sebelumnya di gedung SLB. Dua-duanya tidak terlalu jauh dari Sekolah, mungkin hanya 5 sd 10 menit perjalanan.

FestivKegiatan ini sepertinya adalah ajang unjuk kreasi tiap kelas, dan eksibisi multi produk untuk umum. Tahun lalu si Kakak turut menyaksikan langsung kemeriahan acaranya, walau bukan sebagai siswa tapi undangan sebagai calon siswa baru di tahun ajaran berikutnya. Saat itu saya juga turut hadir sebagai salah satu penyewa stand yang disediakan panitia. Ya biasa lah, kalau ada ajang seperti itu saya suka buka lapak hehe… kadang buka lapak makanan dan minuman, tapi jika memungkinkan juga membuka studio mini photography.

Tahun ini Kakak sudah bersekolah, tepatnya di Kelas 1-B. Tentu dia akan unjuk kabisa nanti, mungkin menari, drama tari, parodi atau bisa juga lainnya. Tema acara tahun ini memang masih belum final, berharap akan lebih menarik dari tahun sebelumnya. Seminggu lalu undangan dari sekolah memang sampai, ajakan untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan. Ini berlaku untuk semua orang tua tentunya, baik yang bekerja penuh atau yang paruh waktu. Bentuk partisipasinya beragam, mulai terlibat langsung atau sekedar memberikan sokongan berupa materi maupun immateri. Dan saya pun memutuskan untuk terlibat, setidaknya bersedia membantu dalam bidang yang memang saya mampu. Tadi pagi hal ini sudah disampaikan kepada panitia, ya mudah-mudahan saja berjalan lancar pada prakteknya nanti; (free) menyediakan liputan dokumentasi video untuk seluruh kegiatan Festival itu nantinya 🙂

Karakter Orang Dilihat Dari Caranya Membayar Kewajiban Tiap Bulannya

Posted on Updated on

gambar tanda tanya.... tipe orang tuh macam-macam ya???
gambar tanda tanya…. tipe orang tuh macam-macam ya???

AWAL CERITA

Ini adalah cerita dari seorang kawan yang belum lama ini punya usaha yang lumayan di bidang makanan dan minuman. Usaha itu dirintisnya sendiri melalui bantuan suami dan adiknya. Hingga tahun pertama berjalan, ada tawaran untuk masuk sebagai rekanan penyedia makan siang dan sore di salah satu sekolah menengah yang cukup bagus di kawasan Jakarta Utara. Gayung pun bersambut dan terjalinlah kerjasama itu hingga berlanjut ke sekolah kedua dan seterusnya.

Nah cerita yang kemudian dishare sambil minum teh itu adalah tentang watak atau karakter para orang tua dalam membayar jasa cateringnya itu. Menarik juga sih, bagaimana ibu dua anak ini dengan ba..bi..bu bercerita bahwa karakter orang bisa dilihat dari cara mereka membayar tiap bulannya. Ada yang rutin di awal bulan, tengah bulan hingga akhir bulan. Ada juga yang mesti diingatkan (melalui sms, email, chat dsb), ada yang membayar sukarela (atas kesadaran sendiri tentunya) namun ada juga yang ndablek (di sms/email/telp tetep aja nggak mau bayar hehe…). Nah kategori orang yang terakhir ini menurutnya cuma Tuhan yang tahu.

Sebagai penyedia jasa catering, tentunya ibu muda ini harus menyiapkan modal setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan makan siang dan makan sore siswa-siswi di sekolah itu. Makin banyak yang menjadi peserta/member, tentu makin banyak modal yang disiapkan. Ketika awal pembicaraan dengan pihak sekolah, kerjasama itu berlaku setahun (untuk kemudian dievaluasi dan diperbaharui jika laik). Mekanisme pemesanan, pembayaran dan hal lainnya dengan kebutuhan siswa terhadap makan siang, diserahkan sepenuhnya kepada penyedia jasa catering dengan para orang tua. Sekolah hanya menjadi ‘watchdog’ saja, fasilitator dan tidak masuk kedalam tataran tekhnis. Program pun berjalan. Promosi dilakukan sederhana saja melalui pembuatan brosur pemesanan dan email yang kemudian dibagikan berupa daftar menu perbulannya, tentunya setelah melalui screening dari pihak admin sekolah.

Dari feedback yang diterima hampir 50% para orang tua menyetujui untuk melakukan pembayaran di awal, 30% di tengah bulan dan sisanya bersedia membayar di akhir bulan dan atau di bulan baru berikutnya. Respon ini tentu diterima dengan sangat senang oleh kawan saya ini, menurutnya modal yang harus dipersiapkan tidaklah terlalu besar karena sebagian besar orang tua sanggup membayar di muka. Menurut estimasinya, untuk memenuhi kebutuhan siswa di sekolah ybs, tidak kurang dari Rp. 1juta perharinya. Ini mulai dari bahan pokok lauk pauk, nasi, ongkos kurir, koki dan asisten. Maka jika dikalikan satu minggu sudah 5juta. Dikali 1 bulan Rp. 25jt, dan jika dikalikan dengan 3 sekolah yang ia layani maka total modal yang harus ia siapkan adalah sebesar Rp.75juta. Tentu buat kawan saya ini, yang memilih mundur dari tempatnya bekerja di perusahaan farmasi dulu, uang sebesar 75juta itu bukanlah jumlah yang sedikit. Namun dengan kesediaan pembayaran di muka, maka sedikitnya beban itu terangkat dengan sendirinya.

ayoo pilih yang mana :-)
ayoo pilih yang mana 🙂

KETIKA USAHA BERJALAN

Memasuki bulan ke-3 usaha yang dirintisnya ini berkembang cukup bagus, terbukti dengan makin bertambahnya member siswa dan juga sekolah yang mengajaknya untuk menjadi rekanan. Aktivitas ngeblog dan kongkow yang biasanya saban hari ia lakukan dulu sudah mulai berkurang, maklum saja menurutnya soal rasa harus pas. Walau untuk urusan masak ia serahkan pada juru masak, tapi urusan bumbu, komposisi dan pengepakan harus ia sendiri yang pegang. Maka berjalanlah usaha itu hingga memasuki bulan ke-5. Di usia yang hampir memasuki setangah tahun ini, tingkat disiplin para orang tua mulai kendor. Pembayaran yang pada awalnya cukup lancar kini mulai berangsur berubah. Seperti di bulan ke-4 lalu, ia hanya menerima pembayaran kurang dari 50% saja dari total jumlah member yang ada. Sisanya baru masuk di bulan ke-5. Bahkan hingga ia bercerita padaku pagi tadi, sampai bulan ke-9 ini masih ada orang tua yang menunggak selama 3 bulan. Sejurus cara pun dilakukan, mulai dari upaya mengingatkan secara santun dan halus hingga menelepon laiknya debt collector. Sambil menyeruput teh hangat pagi ini, sobatku ini terlihat rasa kesal dan geram yang tidak implisit lagi. Dari gestures, cara bicara hingga cara nyeruputnya sudah berbeda ketika jam 7 tadi kami bertemu. Kini ia terlihat cukup emosi dengan muka sedikit memerah.

‘Lalu apa yang bisa kubantu teh?’ tanyaku. ‘Ahh sudahlah, kamu dengarkan saja ceritaku’ pintanya.

Masih menurutnya, dari pengalaman berusaha itu ternyata watak orang berbeda-beda. Ada yang sadar akan kewajibannya, ada yang seolah tidak peduli, ada yang masa bodoh bahkan ada yang sekedar ingin selamat tanpa mengindahkan kewajibannya dulu. Karena ceritanya itu (curhat tepatnya) cukup panjang, maka kuringkas saja cerita si Teteh tentang wakat atau karater orang itu menjadi begini :

ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow... kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe
ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow… kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe..

a. Yang Membayar Tepat Waktu, sesuai dengan kesadaran sendiri (tanpa perlu diingatkan)

Tipe ini adalah tipe orang yang mandiri, jujur dan penuh integritas. Ia sadar akan hak dan kewajibannya. Bisa dikatakan tipe ini menduduki piramida teratas dari golongan orang yang baik. Dalam arti mereka yang selalu berdisiplin, mendahulukan sesuatu tanpa perlu diperintah dan diingatkan. Dalam dirinya seolah ada timer dan pengingat. Dalam konteks dengan anak, tipe ini termasuk kedalam kategori orang tua yang sayang anak. Takut jika anak-anaknya memakan makanan yang haram; belum dibayar (sama dengan mencuri bukan??). Tipe orang tua seperti ini juga amat sangat concern dengan waktu, sebab baginya waktu bisa dikalahkan. Bisa diatur dengan tata kelola yang baik. Setumpuk aktivitas pekerjaan, urusan rumah bahkan arisan sekalipun bisa di urut dan dibuat skala prioritas sehingga kewajiban-kewajiban bulanan bisa tertunaikan.

b. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu tapi dengan kesadaran sendiri

Tipe yang kedua adalah tipe ‘setia menunggu’. Tipe ini adalah tipe dengan kualitas sedikit di bawah tipe pertama. Kesadarannya untuk memenuhi kewajiban tentu harus diapresiasi positif. Namun kelalaiannya terhadap waktu menjadi nilai minus. Tipe ini masih tergolong kedalam orang dengan kualitas jujur dan integritas yang baik. Hanya saja ia sedikit menyepelekan waktu. Mungkin bisa jadi penyebabnya kurang memiliki perencanaan yang baik terhadap waktu, kesibukan yang menggunung dan aktivitas lainnya. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk orang tua yang sayang anak, dan menunda pekerjaan. Jika bisa nanti kenapa harus sekarang, kira-kira begitu motonya.

c. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu dan harus selalu diingatkan

Adapun tipe ini adalah golongan ketiga dari piramida golongan orang baik. Hanya saja ada masalah dengan ingatan. Bisa kodrati atau kurang konsentrasi pada masalah-masalah tertentu. Tipe ini biasanya sering menunda-nunda. Jika muslim, mungkin saja ia suka sembahyang di akhir waktu. Ia bermasalah pada perencanaan, biasanya orangnya eazy going alias let water flow… ya begitu aja deh. Ikut aja arah angin, baru ketika anginnya kencang ia mulai menyiapkan bekal jaket dan payung. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk dalam kategori orang tua yang sayang anak, hanya ia membutuhkan pendamping saja untuk selalu mengingatkan 🙂

d. Yang katanya bersedia membayar, tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya. Ternyata ada masalah pribadi

Kata tukul tipe ini adalah ‘shy-shy cat’ ….. malu-malu kucing gimana gitu. Mungkin karena malu atau jaga gengsi atau hal lainnya sehingga tidak berterus terang. Namun setelah 3 bulan kemudian, tiba-tiba ia menunaikan kewajibannya sambil bercerita bahwa ia memiliki financial problem di rumah. Entah ada kasus perceraian, keluar dari pekerjaan, pindah rumah dan lain sebagainya. Tipe ini menduduki kelompok ke-4 dari piramida orang baik, hanya saja ketidakterus terangannya membuat orang menjadi ragu. Dalam konteks anak, ia termasuk tipe orang tua yang sayang anak, hanya saja mungkin situasi dan kondisi membuatnya demikian.

e. Yang katanya bersedia membayar, punya uang (cukup kaya), tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya

Aneh tapi nyata, rupanya tipe ini masih dipelihara oleh alam. Dan eksistensinya nyata hehe… Entah apa yang ada di dalam kepala orang bertipe ini, namun yang pasti setelah semua usaha dilakukan; remainder, email, sms, bahkan telp…. jawabannya tampak selalu meyakinkan … tar sok dan tar sok. Padahal dandanannya nyecis, mobil juga baru ganti. Tapi bicara kewajiban, nihil. Mungkin bisa saja ia termasuk orang yang gemar menuntut hak tapi lalai akan kewajiban. Dalam konteks anak, kata si teteh, tipe ini adalah tipe orang tua yang tidak sayang anak. Karena ia membiarkan anaknya memakan makanan yang (maaf) tidak halal. Juga memberikan contoh yang tidak baik, karena seperti berbohong saja ketika ia mengakatan ‘tar sok’. Dalam hirarki piramida orang baik, tipe ini sepertinya tidak laik masuk kedalamnya.

secangkir teh hangat di pagi hari... asseekk
secangkir teh hangat di pagi hari… asseekk

TEH PUN HABIS

Teh yang tadi menemani kami ngobrol pun sudah habis. Pertanda kalau hari beranjak siang. Artinya kami harus menunaikan urusan kami masing-masing. Aku dengan pekerjaanku, dan si teteh dengan usaha cateringnya. Sebelum berpisah aku sempat berbisik ke telinga si teteh…

‘eh Teh, sebenarnya aku juga lagi coba buka usaha catering kayak teteh… mumpung kesempatannya lagi ada teh’ …. kataku. ‘Tapi mudah-mudahan sih orang tua di tempat aku, termasuk kedalam piramida orang baik semua, nggak kayak teteh’ hihihi……

Aku pun bergegas pergi. Dering telp berbunyi, rupanya dari salah satu klien ku. Mungkin ia menanyakan kabar desain profil WO nya yang sedang kukerjakan 3 hari ini. Sementara si Teteh pun sama bergegas menuju mobil avanza nya.

‘Lik… jangan lupa ya keep contact terus’

‘Siap Teh …. ‘ jawabku.

-Karang Tengah, Februari 2014-

Seri Pekerjaan ; Membuat Brosur Yang Menarik

Posted on

Pekerjaan yang biasanya begitu menyita waktu, akhir-akhir ini mulai bisa disiasati dengan cara memilah urutan; yang bisa didahulukan dan atau bisa dikerjakan kemudian. Dahulu semua jenis pekerjaan yang saya miliki selalu masuk ke kategori kedua; bisa dikerjakan kemudian. Wal hal pada saatnya klien meminta diselesaikan, pekerjaan-pekerjaan itu menumpuk dan membuatku kelimpungan. Stress, tentu saja. Apalagi jika permintaan itu harus dipenuhi bersamaan.

Begitulah kita, menunda-nunda sesuatu yang semestinya bisa dikerjakan pada saat penugasan itu diberikan. Namun bukan berarti harus terjatuh ke lubang yang sama dua kali khan??? Belajar mendahulukan kegiatan yang penting, ternyata tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kemauan yang kuat untuk memulai, catatan yang dibuat runut dan penciptaan kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan… adalah 3 hal yang turut mempermudah melakukan sesuatu. Pun demikian dengan aktivitas lainnya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan sekalipun.

Plong rasanya jika semua bisa ditunaikan secara baik, dan sesuai dengan target waktu yang diberikan. Berikut ini adalah dua pekerjaan yang saya lakukan sesuai dengan waktu nya :

Brosur Party Celebration Organizer

 

dan juga yang ini

brosur PCO 2014