Hujan Bulan Juni

Posted on

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
― Sapardi Djoko Damono ―

hujan_bulan_juni

Pertama kali membaca kalimat puisi diatas adalah saat duduk di kelas 2 SMU, kira-kira belasan tahun lalu. Salah satu senior saya yang sudah berkuliah di ITB memang gemar membaca buku dan menulis. Jejak tulisannya itu kadang saya bisa baca melalui layar komputer yang saat itu boleh dipergunakan oleh siapapun. Terus terang saja, senior yang satu ini menjadi idola saat itu, kaum hawa pastinya. Tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya panutan baik karena sikap, pribadi dan pemikirannya … dan ini lelaki… salah satunya saya hehe…

Beberapa bulan kemudian, salah satu puisi yang ditulisnya di komputer itu saya ketahui buah tangan penyair ternama Indonesia, Sapardi Djoko Darmono dan judul puisinya adalah ‘Aku Ingin’. Penelusuran lanjutan kemudian mengenalkan puisi-puisi terkenal lainnya, yaitu ‘Hujan Bulan Juni’ berikut petikannya :

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Pada puisi Aku Ingin, pertama kali diterbitkan pada tahun 1963 di koran Suara Pembaruan (atau salah satu surat kabar yang ada di Jogja – menurut penuturan sang pencipta). Puisi kedua berjudul Hujan Bulan Juni, dibuat pada tahun 1989 yang artinya sudah berpuluh tahun lalu puisi ini dibuat dan tak lekang oleh waktu. Sampai saat ini masih banyak yang mengutip atau bahkan menjadikannya alat untuk merayu gebetannya hehe…

Terlebih ketika dua puisi indah ini kemudian dibuat lagunya (dan dinyanyikan) oleh duo pasangan Ari Reda yang begitu mendayu dan enak didengar itu. Maka semakin populerlah bait puisi tersebut (yang penasaran sila dilihat lewat yusup eh salah youtube maksudnya). Dan setelah di tahun 2015 lalu, sang empunya puisi menulis Novel dengan judul yang sama ‘Hujan Bulan Juni’ maka di bulan Agustus ini, akan tayang versi Layar Lebar dan novel tersebut. Sepertinya alur cerita akan setia pada novelnya, dengan pengembangan dan dramatisasi khas sebuah film. Tidak sabar memang untuk segera menyaksikan versi live nya. Oya film ini diproduseri (eksekutif) oleh Tina Talisa dan dibintangi oleh Adipati Dolken (Sarwono) dan xxxx anaknya oce kaligis itu loh (sebagai Pinkan).

Saat tayang nanti di bioskop, akan terasa cocok mengajak mantan pacar …. eits bukan mantan yang pas SMU dulu ya tapi mantan pacar yang kini jadi ibunya anak-anak lah pastinya, si yayang tercinta hehe…

Advertisements

Puasa dan siklus pencernaan

Posted on Updated on

Setiap kali datang bulan Ramadhan, maka rutinitas dan pola makan kita berubah. Biasa sarapan pagi pukul 06-07an kini di waktu shubuh. Pun demikian makan siang yang berganti waktu setelah berbuka. Menahan aktivitas makan dari shubuh hingga maghrib sebenarnya bukan masalah. Namun yang menjadi masalah adalah akibat dari perubahan pola makan ini terhadap proses pencernaan dan jadwal rutin ke kamar mandi. Ini yang masalah. Tak jarang harus menunggu puluhan menit agar si ‘kuning’ keluar, itupun dengan susah payah. Terkadang tidak keluar sama sekali sampai dua atau tiga hari. 
Ini sungguh tak enak kawan, membawa barang yang seharusnya dibuang setiap hari dalam perut kita. Rasanya begah dan kembung gak keruan. Hadeuuuhhhh

Kali ini Badan Musyawarah

Posted on Updated on

Setelah minggu lalu mendampingi Badan Kehormatan ke kota Malang dalam rangka Kunjungan Kerja. Hari ini giliran tugas lagi mendampingi Badan Musyawarah ke kota Solo atau Surakarta. Penerbangan dijadwalkan take off jam 2 nanti. So masih ada waktu sekitar 1 jam menunggu di sini. 

Jika Badan Kehormatan hanya beranggotakan 5 orang, maka tidak demikian dengan Banmus. Anggota Banmus adalah perwakilan dari tiap fraksi di Dewan, sehingga hampir bisa dipastikan jumlahnya mencapai setengah dari total jumlah anggota DPRD (untuk Bogor totalnya 50 orang dgn 7 fraksi).

Bisa dikatakan setiap keputusan yang menyangkut penjadwalan kegiatan baik itu komisi, pansus dll dilakukan melalui Banmus. Pun demikian dengan laporan hasil kegiatan, pembahasan komisi, pansus dan seterusnya. Pimpinan DPRD bertugas sekaligus sebagai pimpinan Banmus (pimpiman tiap rapat). 

Keanggotaan Banmus ditentukan oleh masing-masing fraksi sesuai dengan perolehan kursi. Statusnya tidak permanen, alias dimungkinkan untuk dilakukan rolling atau pergantian keanggotaan yang merupakan hasil keputusan intern fraksi. Terkadang perubahan penempatan keanggotaan Banmus dipertukarkan dengan AKD lainnya, seperti BKD dan BPPD.

-bersambung-

Mendampingi Kunker Badan Kehormatan DPRD

Posted on

Setelah beberapa kali mendapat tugas mendampingi AKD (Alat Kelengkapan DPRD) minus Komisi, Pansus dan BPPD saat Kunjungan Kerja, baik itu antar kota, dan antar Propinsi. Kali ini penugasan selanjutnya adalah mendampingi Badan Kehormatan dibawah Ketua baru periode sisa masa jabatan kedua 2017-2019. Tujuan kota yang dikunjungi adalah DPRD kota Malang Propinsi Jawa Timur. Rute yang diambil melalui jalur udara, yang tentu saja lebih efisien dari sisi waktu (kurang lebih 1,5 jam perjalanan). Menurut rencana kami tiba di lokasi sekira tengah hari Pukul 12.00 siang.


Dari beberapa Daerah yang sudah dikunjungi beberapa waktu lalu, permasalahan BKD secara umum berada pada tataran etis dan penegakan sanksi. Fungsi dan tugas pokok BKD di tiap daerah, rata-rata mirip (karena payung hukumnya sama secara nasional). Perbedaan hanya ada pada tataran tekhnis dan aktualisasi yang dinamis sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah.

Sebagai salah satu Alat Kelengkapan DPRD, BKD pada dasarnya memiliki kewenangan strategis dalam hal penegakan disiplin dan kode etik anggota Dewan. Jadwal kegiatannya disusun tiap bulan dan menyesuaikan dengan kegiatan Dewan pada umumnya setiap bulan berjalan. Laporan dan jadwal kegiatan BKD kemudian dilaporkan dalam Rapat Badan Musyawarah yang umumnya dilakukan di awal bulan berjalan.

Jumlah anggota BKD secara umum merupakan wakil dari masing-masing fraksi. Jumlahnya tidak lebih dari 5 sd 8 orang di tiap DPRD. Pemilihan keanggotaan dan pimpinan BKD merupakan hasil konsensus dan kesepakatan anggota Dewan yang terbagi kedalam dua masa periode jabatan, yaitu 2.5 tahun. Dengan demikian, amat sangat dimungkinkan terjadi pergantian susunan keanggotaan dan rotasi pimpinan selama dua periode masa jabatan. 

Permasalahan BKD Secara Umum

Menurut beberapa laporan yang saya ikuti selama mendampingi anggota BKD ke beberapa daerah, letak permasalahan umumnya berada pada mekanisme penegakan disiplin dan sanksi pada anggota Dewan yang melanggar; mulai dari pelanggaran ringan sampai pelanggaran berat. Seperti yang terjadi di salah satu kota dimana salah satu anggota DPRD nya terlibat dan terbukti menjadi makelar proyek dan pidana penipuan. Karena kasusnya sudah tercium media, maka penegakan dilakukan dengan cara pemberhentian keanggotaan Dewan yang bersangkutan. Namun dalam kasus lain, dimana media tidak terlibat dan kasusnya tertutup tidak jarang masalah diselesaikan dalam lingkup intern dan sedapat mungkin menjaga kerahasiaannya di hadapan publik.

Tidak jarang posisi BKD berada pada posisi inferior, karena menyagkut kepentingan partai dan nama baik DPRD. Sehingga pelanggaran yang dilakukan anggota menguap begitu saja dan tidak mendapatkan sanksi. Tutup mata pun dilakukan, sejurus rapat hanya menjadi rutinitas penggugur kewajiban saja. Fungsi dan tugas pokok BKD dengan demikian hilang, sekedar pelengkap AKD semata. 

-catatan kecil bagian 1 dalam perjalanan menuju bandara Soeta-

Pendamping

Posted on

Ini cerita lainnya dari seorang pendamping. Selain mengurus dan melayani masalah administratif, seorang pendamping juga harus tau tata krama; kapan bicara dan kapan mengeluarkan bunyi. Bukan berarti pendamping berada dalam posisi bawah dan mereka diatas seperti laiknya tuan tanah dan centengnya, namun masing-masing sesuai dengan fungsi dan tupoksinya sendiri. Administrasi tentu yang utama; fasilitasi kegiatan selama kunjungan kerja adalah yang utama, menjadwalkan, pengkondisian tempat didaerah, jalin komunikasi dengan daerah tujuan, kesiapan hotel, makanan dan lain sebagainya.

Tindak lanjut dari hasil kunjungan kerja juga tidak boleh dibuat asal dan copy paste. Karena tiap daerah adalah unik; masalah dan solusi yang berbeda dari satu daerah dengan lainnya. Oleh sebab itu kesekretariatan juga wajib menguasai minimal tahu dasar dari masalah yang sedang dikaji dan studi bandingkan. Sehingga dalam penyusunan laporan kunjungan atau bahkan rekomendasi (bila ada) sesuai konteks dan tidak keluar dari kerangka pikir Anggota Dewan yang didampingi. Skill mutlak diperlukan, khususnya penguasaan tata bahasa sekaligus keilmuan dalam bidang politik, kebijakan dan pemerintahan. 

Bagi saya tugas mendampingi itu lebih utama adalah jeli menangkap paradigma dan kerangka berpikir para anggota yang didampingi. Interpretasi dan subjektifitas tentu bermain, namun hal ini bisa diminimalisir dengan format baku pelaporan kegiatan, supervisi kasubag (senior) dan rambu keilmuan yang bersifat universal. 

Cara bersikap yang baik itu penting, melayani juga penting, namun penguasaan materi dan gaya bahasa juga tidak kalah pentingnya, setidaknya bagi saya yang berkutat di seputar itu.

– ditulis dalam perjalanan pulang tol km55 –

Kunjungan kerja DPRD

Posted on

Mencermati cara kerja anggota dewan ada beberapa hal yang bisa dijadikan catatan. Pertama sebagai mitra kerja di daerah (sesuai dengan UU Otonomi Daerah) maka perannya sejajar sebagai perangkat kerja daerah, tidak berhadap2an dalam artian bertindak oposan. Beberapa fungsi utamanya sebagai pengawas pemda, budgeting/anggaran dilakukan dan melekat didalamnya. Baik buruknya pemda adalah cerminan harmonisasi kerja keduanya.

Mengenai kunjungan kerja yang biasanya rutin dilakukan baik itu dalam tingkat pansus, komisi maupun Alat Kelengkapan DPRD lainnya semisal Badan Kehormatan, Badan Musyawarah dan BPPD bisa dikatakan sebagiannya perlu dan bisa juga tidak. Dikatakan perlu karena dalam pembahasan didalam terkadang input diperlukan. Kajiannya memang bisa dilakukan dengan berbagai cara; riset akademik melalui kepustakaan (non kunker ke luar kota/pulau/luar negeri), mengontrak tenaga/staff ahli di bidang yang sedang di bahas (hukum, ekonomi, bahasa dst) dan seperti yang disebut diawal dengan sowan mengunjungi daerah lain. 

Tidak semua produk pembahasan dewan menjadi perda. Dan tidak semua raperda yang kemudian ditetapkan menjadi perda juga dipraktekan oleh pemda. Beberapa diantaranya kadang tersimpan dimenara gading, sebagiannya lagi adalah pengulangan dari perda sebelumnya yang ditambahi dengan kalimat perubahan atau penyempurnaan.

Setelah beberapa kali mengikuti sidang, paripurna dan kunjungan kerja; saya semakin mengerti cara kerja pemda mengelola daerahnya pun dengan fungsi dewan sebagai mitra kerja dan pengawasannya. Banyak catatan yang sebenarnya ingin kutulis, tapi memang harus berhati hati memilih mana yang bisa dibagikan sebagai sekedar catatan pribadi dan mana yang tidak laik dikonsumsi umum.

-bersambung-

Mulai dari karakter, hingga kuasa

Posted on

img-20170224-wa0004Baiklah, malam ini saya agak kesulitan untuk tidur. Jam sudah menunjukkan Pukul 23.30 lewat, yang artinya sudah hampir tengah malam. Mata rasanya belum mau mengantuk juga hehe… Padahal seharian tadi menemani Pak Kabag saya dari kantor ke Bandung, tepatnya ke savoy. Ya sudahlah lebih baik saya melakukan sesuatu bukan, buka blog sekedar curat coret dan mengerjakan sejumlah invoice yang belum tuntas saya selesaikan dan ditagihkan kepada para klien catering di sekolah.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya hari ini. Pertama, karakter seseorang itu berbeda. Dan itu sudah pasti. Namun demikian saya melihat ada beberapa kecenderungan yang membuat seseorang itu bisa cocok dengan kita. Yang jelas kesan pertama itu belum tentu mencerminkan yang sesungguhnya, terkadang memerlukan waktu berproses. Maka biarkan itu berjalan secara alamiah, sembari kita membuka diri untuk menerima perkawanan yang baru. Kedua, berhubungan dengan tugas dan pekerjaan. Pada ragam pekerjaan tertentu, skill – kecakapan pada keahlian tertentu (tekhnis) ternyata bukanlah faktor dominan seseorang mendapatkan tempat dan prestasi. Terkadang dengan skill yang pas-pasan saja seseorang mampu berada pada kelompok pekerjaan tertentu dan berhasil. Artinya skill yang dimiliki cukup rata-rata saja, tidak terlalu dalam (ahli) dan juga tiadalah terlalu dangkal (tak punya kemampuan apa-apa). Cukup berada pada tingkat rata-rata saja bisa berhasil, dengan catatan ia memiliki kecakapan emosional dan sosial yang cukup; Kepercayaan diri, halus bahasa, ramah dan mampu merangkai kata sehingga menyenangkan orang lain.

Ketiga, adalah yang berhubungan dengan kuasa. Kecenderungan abbuse ketika kuasa yang memuncak dan tidak berbatas memang lebih terbuka untuk diselewengkan. Namun kuasa juga memiliki kepingan lainnya, yang berada pada sisi yang berlawanan; dapat digunakan untuk tujuan positif, semisal membuka kesempatan kepada orang lain untuk terlibat dengan kegiatan kita yang bersifat saling menguntungkan, dan atau memberikan jalan kepada sanak, kerabat dan kenalan untuk bekerja pada instansi kita. Sisi positif ini tentu memiliki nilai, dan berguna bagi kehidupan orang lain. Tiada salahnya bukan ????

Keempat, …. rasanya cukup itu saja dulu. Untuk tulisan yang sekedar coretan, ketiga bagian itu saja rasanya sudah terlalu panjang. Maka kita sudahi sampai disini saja hehe..

Salam, Bandung tengah malam

Penggiringan Pemilih Untuk Mencoblos Paslon Tertentu

Posted on Updated on

imagesBaiklah KTP saya beserta keluarga memang bukan DKI lagi, jadi bisa dibilang tak memiliki kaitan langsung dengan Pilkada yang lagi hangat akhir-akhir ini. Namun demikian, ibu mertua yang masih tercatat sebagai pemilih di daerah Jakarta Selatan merasa terpanggil untuk datang ke TPS dan mencoblos hari Rabu kemarin walau secara domisili beliau sekarang lebih banyak berada di Bandung.

Dan dengan sukarela tentunya saya mengantar beliau kemarin menuju lokasi TPS. Perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam lebih dari tempat kediamanku di Bogor. Di perjalanan kami mengobrol, tentu di tengah riuh rendah para bocah yang memaksa untuk ikut ramai-ramai di dalam mobil. Kesimpulan dari obrolan itu adalah adanya pemaksaan dari ketua RT tempat beliau tinggal dulu untuk memilih paslon nomor 3. Sejurus alasan dikeluarkan oleh RT tersebut. Khususnya terkait dengan paslon Nomor 2; mulai dari China, non muslim, PKI hingga tuduhan lain yang memang sudah ramai menyeruak di media sosial beberapa bulan belakangan ini.

Saya tidak spesifik bertanya pada Ibu mertua tentang pilihan politiknya. Bagi saya memilih paslon manapun itu adalah hak politknya sebagai warga negara. Sebelum ia memutuskan datang bahkan dari Bandung kemarin, tentu ia sudah memiliki pilihannya sendiri. Saya cenderung menghindari debat soal Pilkada ini, apalagi dengan orang-orang terdekat semacam teman, tetangga, rekan kantor hingga keluarga terdekat. Entahlah soal urusan ini, sudah banyak buktinya yang justru memperkeruh suasana persahabatan hingga pertalian keluarga yang justru menurut saya lebih penting daripada pilihan politik. Terkecuali anda timses salah satu paslon yang memang bekerja secara profesional untuk itu, maka posisi anda harus jelas memihak siapa  dan mati-matian mempertahankan posisi itu.

Saat masuk ke ruang pencoblosan, Ibu mertuaku ditemani si Kaka, anak sulungku. Soal siapa yang dicoblos lagi-lagi aku rasa tak berkepentingan untuk tahu. Hanya ketika kami berjumpa dengan beberapa pengurus RT dan RW disana saya mencoba mengingatkan mereka untuk tidak perlu memobilisasi warga mencoblos paslon tertentu (dalam hal ini paslon nomor 3). Apalagi dengan nada ancaman bahwa siapa-siapa yang mencoblos bukan pasangan 3, maka akan ditandai. Saya pikir tidak bijak pengurus warga berbuat demikian. Dalam hal ini ia memainkan kuasanya sebagai pengurus warga untuk menekan mereka mengikuti keinginannya. Entah masuk kedalam kategori pelanggaran atau bukan, yang jelas praktek serupa semestinya tidak terjadi untuk putaran kedua nanti. Biarkan warga bebas memilih dan menentukan kehendaknya. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan stop Hoax dan berita-berita tendensius yang menyerang SARA, ujaran kebencian dan sejenisnya. Semestinya pesta demokrasi ini membuat kita semakin dewasa, terlebih saat berlangsung secara bebas dan langsung seperti sistem yang dijalankan saat ini.

-curhat di pojok ruangan, karena rapat hari ini ditunda-

CERMIN 7; GODBLESS DENGAN RASA BARU

Posted on Updated on

Dimalam yang hening ini, aku renungi
perjalanan diriku didunia ini
dari tiada aku dicipta, oleh sang maha pencipta manusia

di ruang kenanganku terbayang lagi
orang-orang yang pernah kutemui
dalam kehidupan yang nisbi, mereka kini diam dan mati

*kurenungi waktu yang berlari tiada henti
  bawa aku ke batas yang pasti sampai raga tak berjiwa lagi

cover-cd
*bukan gambar pribadi, tapi diambil dari kiriman salah seorang fans di GBCI

Demikian petikan lirik dari salah satu lagu anyar God bless dalam album Cermin 7 yang baru saja launching dan diedarkan melalui mekanisme preorder lewat komunitas fans club nya.

Di pertengahan tahun 2016 lalu, kabar God bless akan membuat album baru memang santer terdengar. Setidaknya melalui pantauan media daring facebook tempat berkumpulnya para fans setia God bless di seluruh Indonesia. Melalui jenderal God bless Community Indonesia (GBCI), Asriat Ginting laporan pandangan mata kerapkali ditulis melalui wall  baik itu seputar kegiatan show maupun persiapan sekaligus perkembangan album barunya. Bagi para fans berita album baru tersebut tentu sangat menggembirakan. Setidaknya berselang dari tahun 2006 lalu, atau kurang lebih sekitar 11 tahun lalu Godbless tidak atau belum mengeluarkan album lagi. Beruntung penampilan mereka kerapkali masih dapat kita saksikan baik itu melalui youtube dan media sejenis lainnya, maupun siaran langsung dari lokasi konser seperti pada acara Ulang Tahun TVRI pada Agustus 2015 lalu dan teranyar adalah saat mereka menggelar konser sekaligus launching album barunya di acara Golden Memories Indosiar awal tahun 2017 lalu. Maka kerinduan akan lagu-lagu lawas mereka sedikitnya terobati.

Konsep Album

Sampai dengan pertengahan tahun 2016 lalu sebenarnya konsep album baru God bless masih menjadi tanya-tanya bagi para penggemarnya. Satu sumber menyebutkan format full akustik yang dipilih, dengan lebih banyak menyertakan lagu-lagu lawas mereka yang populer dan di recycle dengan arransemen baru. Namun sumber lainnya menyebutkan, album baru tersebut juga memuat beberapa lagu baru yang memang dibuat dan dipersiapkan oleh para punggawa God bless di akhir tahun 2015 atau awal 2016 lalu. Ian Antono bahkan melalui salah satu wawancaranya menyebutkan bahwa materi lagu-lagu dalam album barunya nanti sudah ada, tinggal dimatangkan saja.

Di tengah ragamnya sumber informasi itu, kabar persiapan album baru tetap saja disambut gembira oleh para penggemarnya. Tidak peduli apa konsepnya full akustik, recycle arransemen dari lagu lawas yang sudah populer maupun isinya memuat seluruh lagu baru seperti yang ditampilkan God bless dalam album terakhir mereka bertajuk God bless 36 di tahun 2006 lalu. Terpenting adalah hadirnya album rekaman terkini dari grup kesayangannya itu

Rasa Baru dalam Cermin 7

Sebagaimana sudah diketahui bersama, album baru bertajuk Cermin 7 yang Cd baru saja mendarat di kediamanku sehari kemarin, memuat 3 lagu baru berjudul ; Damai, Kukuh dan Bukan Mimpi Bukan Ilusi … (sayangnya lagu damai ini sudah lebih dulu bocor dua bulan lalu di youtube) ditambah dengan 9 lagu lawas yang diambil dari salah satu album masterpiece mereka di tahun 1980 lalu, yang diarransemen ulang sehingga terdengar lebih fresh dan baru mulai dari Musisi, Selamat Pagi Indonesia, Anak Adam, Balada Sejuta Wajah, Sodom Gomorah, Cermin, Insan Sesat,  dan ditutup dengan Tuan Tanah.

Pertama kali terdengar lagu-lagu dengan arransemen ulang itu tertuju pada vocal Achmad Albar yang kini terasa lebih berat dan rendah. Terus terang di awal terdengar sedikit mengganggu, apalagi bagi mereka yang terbiasa mendengar versi utuh dari album Cermin origin tahun 1980 dimana vocal Achmad Albar terasa begitu prima. Sebut saja di lagu Musisi, Selamat Pagi Indonesia, Cermin dan Tuan Tanah. Namun diluar itu, alunan musik masing-masing personel masih terbilang prima dan garang. Secara umum rasa baru yang ditawarkan di album ini terasa megah dan lebih modern. Jika pada lagu musisi nyaris tiada perubahan berarti baik itu dari versi origin (kecuali tempo) lalu musisi versi 1990 dimana JSOP yang mungkin saja saat itu menggubahnya demikian (menjadi lebih lambat namun lebih kaya dengan permainan keyboard yang bersaut-sautan dengan sayatan gitar dari Eet Syachranie). Di lagu lain terjadi perubahan yang cukup besar, seperti pada arransemen di lagu Insan Sesat, Tuan Tanah dan Sodom Gomorah.

Perubahan pada vocal memang bisa dimafhumi, bagaimanapun juga hal itu menyesuaikan dengan kondisi dan usia diantara mereka. Apalagi pada posisi lead vocal yang memang tidak memungkinkan lagi untuk sama dengan album origin mereka di tahun 1980 lalu, yang mungkin rata-rata usia mereka saat itu berada di kisaran angka 30-40 tahunan. Maka penyesuaian mutlak dilakukan, mulai dengan mengubah nada dasar misalnya menjadi lebih rendah hingga membelokkan nada tinggi menjadi lebih pendek, sehingga saat show nanti sang vocalis tidak terlalu susah melakukannya.

Secara umum hadirnya album ini sangat..sangat mengobati kerinduan penggemarnya. Meraup pasar baru, entahlah. Rasanya memang agak sulit untuk menjangkau selera anak muda jaman sekarang, walau hal itu bukan tidak mungkin juga dilakukan. Setidaknya melalui GBCI terlihat beberapa anggotanya masih ada yang berusia diantara 15 – 20 tahunan. Hal ini memperlihatkan God bless masih mendapat tempat di sebagian kelompok anak-anak muda masa kini.

God bless dan Keberkahan

Usia rupanya tidak menjadi penghalang sebuah grup untuk terus berkarya, eksis dan kreatif. Rintangan dari masalah stamina dan fisik masih bisa disiasati dengan hal-hal lainnya. Buktinya, God bless di usianya yang sudah lebih dari setengah abad para personelnya, masih mampu live dan memainkan lebih dari 10 lagu. Ini adalah keberkahan yang luar biasa, belum lagi masih produktif dalam berkarya menciptakan lagu baru, tentu ini prestasi tersendiri.

**

Tak ada yang lebih patas untuk kuucapkan
Kecuali rasa syukur yang mendalam
Atas segala berkah yang telah kudaparkan

Tak ada yang lebih pantas untuk kulakukan
Kecuali hasrat tulus untuk bertahan
Atas segala kodrat yang telah kuterima

Rock n roll hidupku
Tiada resah hinggapi diriku
Rock n roll darahku
Tiada rintang kalahkan semangatku

Membagi Waktu

Posted on Updated on

index Menyiasati bertumpuknya pekerjaan; baik itu yang bersifat pribadi maupun pekerjaan kantor memang tidak lain selain menyegerakannya, tidak menunda dan membuatnya bertumpuk. Selain itu menyusun prioritas juga tidak kalah pentingnya. Menunda bisa saja dilakukan, tentu dengan menyegerakan tugas lainnya yang harus ditunaikan. Jika menunda dalam pengertian menghentikan seluruh aktivitas, kemudian memilih hiburan dan menghabiskan waktu dengan bersenda gurau tentu akan membuat sekian tugas pekerjaan itu menumpuk nantinya. Oleh sebab itu komitmen pada diri untuk menyegerakannya adalah kunci utama membagi waktu tersebut.

Waktu reguler yang kita miliki berada pada rentang hari senin-jumat, dominasinya terletak pada penuntasan pekerjaan kantor. Sukur-sukur di sela waktu itu, masih tersedia waktu untuk menuntaskan pekerjaan lainnya, bisnis sampingan misalnya …diluar waktu yang harus mendapatkan tempat pula dalam keseharian kita, yaitu keluarga; anak, istri dan suami. Waktu lainnya tersisa di hari weekend – sabtu dan minggu. Dua hari ini mutlak menjadi milik kita, menjadi orang merdeka hehe… Me time bisa berada di rentang waktu ini, atau memilih menghabiskan dengan keluarga juga menjadi hiburan dan sarana merekatkan bounding yang menarik. Aktivitas yang dipilih bisa melakukan travelling bersama-sama, wisata kuliner, wisata edukatif dan lain sebagainya.

Akan halnya saya – orang biasa sebagaimana umumnya, yang juga terikat diantara waktu-waktu diatas, menjalani rutinitas harian sebagaimana gambarannya sudah tertulis pada kalimat pembuka. Walau masih banyak waktu tersisa dan kosong yang sebenarnya masih bisa produktif, namun kadang menunda, malas mencoba, tidak berani mengambil resiko masih menjadi kendala utama. Padahal diantara sekian agenda kegiatan harian yang wajib dilakoni, masih tersisa sekitar 40% waktu yang masih kosong diluar waktu istirahat.

Mari memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Mumpung masih diberi waktu 🙂

– kantor, akhir januari 2017 –