curhat

Kunjungan kerja DPRD

Posted on

Mencermati cara kerja anggota dewan ada beberapa hal yang bisa dijadikan catatan. Pertama sebagai mitra kerja di daerah (sesuai dengan UU Otonomi Daerah) maka perannya sejajar sebagai perangkat kerja daerah, tidak berhadap2an dalam artian bertindak oposan. Beberapa fungsi utamanya sebagai pengawas pemda, budgeting/anggaran dilakukan dan melekat didalamnya. Baik buruknya pemda adalah cerminan harmonisasi kerja keduanya.

Mengenai kunjungan kerja yang biasanya rutin dilakukan baik itu dalam tingkat pansus, komisi maupun Alat Kelengkapan DPRD lainnya semisal Badan Kehormatan, Badan Musyawarah dan BPPD bisa dikatakan sebagiannya perlu dan bisa juga tidak. Dikatakan perlu karena dalam pembahasan didalam terkadang input diperlukan. Kajiannya memang bisa dilakukan dengan berbagai cara; riset akademik melalui kepustakaan (non kunker ke luar kota/pulau/luar negeri), mengontrak tenaga/staff ahli di bidang yang sedang di bahas (hukum, ekonomi, bahasa dst) dan seperti yang disebut diawal dengan sowan mengunjungi daerah lain. 

Tidak semua produk pembahasan dewan menjadi perda. Dan tidak semua raperda yang kemudian ditetapkan menjadi perda juga dipraktekan oleh pemda. Beberapa diantaranya kadang tersimpan dimenara gading, sebagiannya lagi adalah pengulangan dari perda sebelumnya yang ditambahi dengan kalimat perubahan atau penyempurnaan.

Setelah beberapa kali mengikuti sidang, paripurna dan kunjungan kerja; saya semakin mengerti cara kerja pemda mengelola daerahnya pun dengan fungsi dewan sebagai mitra kerja dan pengawasannya. Banyak catatan yang sebenarnya ingin kutulis, tapi memang harus berhati hati memilih mana yang bisa dibagikan sebagai sekedar catatan pribadi dan mana yang tidak laik dikonsumsi umum.

-bersambung-

Membagi Waktu

Posted on Updated on

index Menyiasati bertumpuknya pekerjaan; baik itu yang bersifat pribadi maupun pekerjaan kantor memang tidak lain selain menyegerakannya, tidak menunda dan membuatnya bertumpuk. Selain itu menyusun prioritas juga tidak kalah pentingnya. Menunda bisa saja dilakukan, tentu dengan menyegerakan tugas lainnya yang harus ditunaikan. Jika menunda dalam pengertian menghentikan seluruh aktivitas, kemudian memilih hiburan dan menghabiskan waktu dengan bersenda gurau tentu akan membuat sekian tugas pekerjaan itu menumpuk nantinya. Oleh sebab itu komitmen pada diri untuk menyegerakannya adalah kunci utama membagi waktu tersebut.

Waktu reguler yang kita miliki berada pada rentang hari senin-jumat, dominasinya terletak pada penuntasan pekerjaan kantor. Sukur-sukur di sela waktu itu, masih tersedia waktu untuk menuntaskan pekerjaan lainnya, bisnis sampingan misalnya …diluar waktu yang harus mendapatkan tempat pula dalam keseharian kita, yaitu keluarga; anak, istri dan suami. Waktu lainnya tersisa di hari weekend – sabtu dan minggu. Dua hari ini mutlak menjadi milik kita, menjadi orang merdeka hehe… Me time bisa berada di rentang waktu ini, atau memilih menghabiskan dengan keluarga juga menjadi hiburan dan sarana merekatkan bounding yang menarik. Aktivitas yang dipilih bisa melakukan travelling bersama-sama, wisata kuliner, wisata edukatif dan lain sebagainya.

Akan halnya saya – orang biasa sebagaimana umumnya, yang juga terikat diantara waktu-waktu diatas, menjalani rutinitas harian sebagaimana gambarannya sudah tertulis pada kalimat pembuka. Walau masih banyak waktu tersisa dan kosong yang sebenarnya masih bisa produktif, namun kadang menunda, malas mencoba, tidak berani mengambil resiko masih menjadi kendala utama. Padahal diantara sekian agenda kegiatan harian yang wajib dilakoni, masih tersisa sekitar 40% waktu yang masih kosong diluar waktu istirahat.

Mari memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Mumpung masih diberi waktu ๐Ÿ™‚

– kantor, akhir januari 2017 –

Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,ย  membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari ๐Ÿ™‚

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Guna-guna Cloud Drive (storage)

Posted on Updated on

imagesBeberapa hari terakhir ini saya rajin memposting tugas-tugas kuliah saya disini. Bukan apa-apa sih, sebagai pekerja lepas yang saban harinya nomaden, aktivitas mobile sangat lekat sehari-hari – dalam pengertian mesti kesana kesini tanpa ajeg di satu tempat. Disamping laptop yang wajib dibawa dibagasi mobil, tak kalah penting adalah media storage yang juga bisa dibawa kemana-mana. Dan ini beresiko jika hilang, tertinggal atau rusak. Sehingga banyak data yang pada akhirnya saya simpan di cloud drive semisal google drive dan juga di blog. Walau tak sering-sering amat updating data dan nulis lewat blog, tapi percayalah dalam satu bulan pasti ada satu hingga dua kesempatan menyimpannya disana. Pernah satu kali dulu hardisk eksternal tertinggal entah dimana, sementara jam 1 siang hasil revisi pengerjaan semalam harus dikirimkan ke klien. Kebayang gimana repotnya harus mencari data itu, sementara jarak dengan rumah juga terbilang jauh (belum lagi saya pelupa sehingga tidak yakin juga HD itu tertinggal disana, bisa jadi di warnet setelah sebelumnya mendownload file kiriman tugas kuliah).

Nah solusi sederhana adalah menyimpannya di colud yang kemudian bisa ditarik kapan saja dan dimana saja. Termasuk tugas-tugas paper kuliah saya, kapanpun saya sempat dan ingin membaca sebagai bekal persiapan UAS nantinya, bisa diakses lewat handphone atau tinggal ke warnet terdekat. khaannn gampang mas bro !!! hehe..

Manfaat kedua adalah siapa tahu tulisan dalam paper itu berguna juga untuk orang lain. Maklum saja sebagai pencari sumber relevan dalam penulisan tugas, saya pun rajin menyambangi blog-blog lain yang setidaknya dapat dijadikan sumber rujukan dalam menulis. Tentu saja tidak asal copy paste dan serampangan mengambil rujukan, namun memilih dan membandingkannya dengan sumber lain yang terserak di dunia maya. Maka jadilah tugas itu sebagai satu kesatuan utuh dari hasil rujukan (pemikiran orang lain tentunya), ditambah analisis saya pribadi dan kesimpulan dari setiap masalah yang diangkat. Nah … tulisan jadi ini nantinya bisa menjadi rujukan orang lain juga bukan sebagai sumber rujukan tugasnya… seperti beberapa tulisan essei saya sebelumnya yang pernah dimuat di surat kabar dan cerpen di majalah online yang pada akhirnya juga banyak disebut-sebut di jadikan rujukan penulisan hehe… (seperti essei Tanggung Jawab dalam Pendidikan dan Cerpen Antok itu)

Nah jadi tidak ada salahnya di guna-guna bukan ????

Cinere, April 2016

 

Masalah Kopling di Mobil All New Xenia (juga saudara kembarnya itu)

Posted on Updated on

daihatsu_lainnya_model_2012_for_sale_malang_4660135433898228988Oke, ceritanya begini nih. Beberapa minggu terakhir ini, xenia putih yang biasa kukendarai berasa ndak enak. Selain bunyi ‘dug’ di bagian bawah atau depan, tarikan juga ngeden… tapi klo urusan ngeden rasanya wajar karena dah mau masuk 29.500 km, menurut jadwal di 30.000km nanti mesti masuk bengkel buat service rutin. Tapi ada satu lagi yang bikin nggak nyaman, apa coba??? Suara mesin ‘ngegelitik’ di gigi 2 atau bahkan 1, selain itu juga setelan kopling kok nggak pas ya, berasa agak tinggi dari biasanya. Asumsi pertama saya, kanvas kopling yang udah mulai menipis atau masalah lain yang berhubungan dengan perkoplingan seperti mataharinya. Tapi setelah dipikir lebih jauh masa sih umur pemakaian kopling mobil ini cuma sebentar, belum juga genap dua tahun atau tepatnya baru kami pakai 15 bulan saja sejak dibeli. Rata-rata pemakain kopling itu baru aus menginjak tahun ke-3 atau 4, lah kok ini baru juga 15 bulan sudah ndak enak???

Usut punya usut saya tanya mbah google, dan faktornya memang bisa beragam. Tapi nggak salahnya dicoba satu-persatu. Dan setelah unsur percobaan itu dilakukan, berikut adalah sharing pengalaman saya yang sudah mulai tercerahkan ๐Ÿ™‚

  1. Dalam urusan kopling, tipe mobil All New Xenia (juga saudara kembarnya si Avanza itu) tidak menggunakan sistem hidrolik tapi menggunakan kabel. So.. jadi ketika setelan kopling mulai tinggi bukan berarti ada keausan di kanvas. Tapi hanya masalah settingan saja, jadi tinggal disetel ulang saja sampai pada kondisi yang diinginkan oleh kita sebagai pengendara.
  2. Urusan setel menyetel bisa dilakukan dengan mengatur dua posisi. Pertama adalah dengan ngolong di bawah mobil dan mencari kabel kopling persis di bawah pijakan kopling kaki yang menyambung ke mesin mobil (gambar dibawah). Kedua setelah dilakukan penyetelan dan dirasa pas, tinggal mengatur pijakan ‘free play’ kopling yang ada di bawah kaki pengendara (dalam mobil) dengan menggunakan konci 14 (gambar di bawah)
  3. Cara menyetel kabel kopling di kolong mobil adalah dengan memutarnya ke kanan (searah jarum jam) atau sebaliknya. Jadi cari ujung kabel yang menancap ke sambungan mesin, ada baut plastik yang bisa diputar. Jika anda memutar searah jarum jam maka setelan kopling akan tinggi, sebaliknya jika memutar berlawan arah jarum jam maka setelan kopling lebih rendah ketika diinjak. So, silahkan bereksperimen dan cari posisi yang pas ya sobat.
  4. Setelah setelan pas, biasanya pijakan kopling (yang kita injak di dalam mobil) jadi berasa longgar. Cari baut besi yang menancap di bagian atas pijakan kopling, ambil kunci pas ukuran 14inc lalu putar; ke kanan (untuk mempersempit) atau kekiri untuk melonggarkan. Lagi-lagi ini harus dicari sampai posisi yang pas, coba tekan dengan tangan sampai ada sedikit hentakan berarti itu jarak aman untuk ‘free play’ kopling ketika tidak dimainkan.
  5. Di bagian atas saya menyebutkan mesin yang menggelitik ketika digas, baik di gigi dua atau gigi satu. Dan ternyata setelah dilakukan penyetelan kopling ini, masalah suara menggelitik itu menghilang dengan sendirinya. Artinya bisa jadi suara itu hadir seiring dengan settingan kopling yang tidak pas.
bagian ini yang harus disetel ulang
bagian ini yang harus disetel ulang dengan cara memutar (searah jarum jam atau berlawanan jarum jam)
bagian ini juga mesti di setel setelah melakukan penyetelan kabel kopling di bagian bawah
bagian ini juga mesti di setel setelah melakukan penyetelan kabel kopling di bagian bawah

Pagi ini ketika saya bawa ini mobil nganter anak-anak sekolah lumayan lancar, suara gemeritik nya hilang juga setelan kopling yang udah ga terlalu tinggi. Selebihnya tinggal ke bengkel setelah 30.000km nanti dan komplain bunyi ‘dug’ di bawah yang ga ilang-ilang, padahal masalah yang sama sudah saya keluhkan semenjak service rutin di 10.000km dan 20.000km yang lalu ๐Ÿ˜ฆ

Pabuaran – Lebak Bulus 2015

Pintar Mengatur Jadwal

Posted on

555dd9090423bd5b6c8b4567Karena setiap hari bisa dipastikan pulang hampir jam 8 atau 9 malam sampai di rumah, maka mau nggak mau harus disiasati penggunaan waktu di siang hari. Agak mustahil rasanya setelah bertempur di luar selama siang hari lantas masih juga harus menyelesaikan beberapa hal yang tertunda di malam hari. Belum lagi kehadiran asisten rumah tangga yang menempati kamar belakang yang juga menyatu dengan ruang kerja sederhana saya berupa satu buah meja, seperangkat komputer, satu set audio dan sebuah meja belajar tempat menaruh buku-buku yang kini sudah tidak seberapa banyak jumlahnya itu. Maka giliran malam adalah giliran sang asisten beristirahat, kurang manusiawi rasanya jika ia harus kembali menahan kantuk karena kehadiran saya. Maklumlah rumah yang kami tempati tidak terlampau besar sehingga harus diatur sedemikian rupa penempatannya. Belum lagi kini hadir si adek yang baru berusia 3 bulan, sehingga jelas banyak barang lainnya yang turut hadir mulai dari car seat, bouncer belum baju-baju dan seterusnya. Hah… kadang makin sempit aja nih rumah, apalagi klo si abang ngajak main… maka berantakanlah rumah hehe… ada rencana sih menambah satu ruangan di depan garasi mobil yang masih bisa diperluas, ya mudah-mudahan ada rejekinya. Amiin

Back to topic tentang pengaturan waktu. Kadang memang kita terlena oleh waktu yang berdurasi 24 jam itu, rasa2nya begitu luas dan panjang. Namun prakteknya kadang serasa belum cukup, apalagi jika banyak waktu yang kemudian kita buang secara percuma dengan tertidur, mengobrol nggak jelas, melamun dan seterusnya. Alih-alih mampu menyelesaikan semua tugas, malah kemudian melahirkan masalah baru berupa perasaan bersalah karena tidak melakukan secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu belajar adalah kunci mengatur waktu secara benar. Tidak ada batas sampai kapan selesai, karena proses belajar berlangsung sepanjang hayat. Apalagi kehidupan yang berjalan begitu dinamis; setiap hari ada saja masalah baru yang harus diselesaikan dengan cara dan tingkat berpikir yang berbeda ketika masalah itu lahir dulu, belum lagi pengharapan yang begitu tinggi akan pencapaian karir, kesuksesan, ketercukupan finansial hingga aktualisasi diri yang juga harus dipenuhi. Oleh sebab itu proses belajar akan terus berlangsung selama kita hidup dan baru berakhir ketika kita dikafani. Dalam hal mengatur kegiatan pun demikian, tanpa proses belajar kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar dan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.

Minggu ini saya ingin belajar bagaimana mengatur kegiatan saya secara efektif. Mulai dari rutinitas pagi, siang, sore hingga malam di rumah. Ada beberapa target yang mesti diselesaikan, bukan perkara mudah juga karena membutuhkan tingkat perhatian dan konsentrasi yang berbeda. Sebut saja target mendapatkan hasil maksimal IPK, maka konsekuensinya saya harus menyelesaikan sekian tutorial online yang tersedia, pengerjaan tugas dan paper tepat waktu hingga bimbingan Tugas Akhir yang juga harus saya penuhi. Belum cukup sampai disitu, tuntutan kebutuhan rumah tangga juga tidak bisa dibiarkan, maka target lainnya adalah bagaimana mengatur pola kegiatan setiap hari sehingga pekerjaan juga tuntas sebagaimana hal itu diharapkan. Mulai dari pengerjaan editing untuk salah satu wedding organizer di jakarta, belanja bahan baku untuk catering di rumah, pengecekan administrasi mingguan catering sekolah dan seterusnya. Sekian jumlah target yang mesti dituntaskan itu, tentu tidak lantas membuat quality time dengan keluarga dan anak-anak menjadi terbengkalai. Dan untuk yang terakhir ini saya masih kebingungan, sebab terkadang ada saja kesalahan yang dilakukan; mulai dari tingkat emosi yang tidak stabil ketika bercengkrama dengan anak-anak di rumah (pada malam hari biasanya), pikiran yang terbelah (kadang saya tidak fokus mendengarkan mereka bercerita) hingga memutuskan tertidur lebih dulu sementara si abang asik mengajak main dan bercerita ini itu. Kalau sudah demikian, biasanya tugas menemani sampai jam 12 malam diserahkan pada sang ibu, walau saya tahu juga bahwa si Ibu lelah dan mengantuk karena seharian bekerja di luar.

Itulah dinamika hidup yang harus dijalani, dihadapi dan diselesaikan. Tulisan ini juga dibuat sebagai pemanasan sebelum saya mengerjakan 3 buah tugas paper lagi di semester ini. Kadang mood menulis tidak datang dengan baik, mesti di rangsang, dan salah satu bentuk rangsangan itu adalah dengan menulis, setidaknya menulis curhat di buku harian dan blog hehe… mudah-mudahan saja 3 tugas itu selesai hari ini sebelum saya harus menjemput anak-anak di sekolah jam 2 nanti. Dan besok adalah waktunya mengerjakan deadline proshow video salah satu WO langganan saya. Besoknya lagi adalah tenggat terakhir merangkum 5 buah buku penunjang materi Tugas Akhir, minimal 3 Bab awal. Pffuuhh… cuma tersisa hari minggu nih, sebelum kembali bertempur di hari senin. Semoga saja saya bisa belajar dengan baik untuk menyelesaikan semua tugas dan target itu. Amiin

-Cinere, Warnet ThePatch-

Ternyata Tidak Sehoror itu

Posted on

horror-wallpapers-poze-horor-desktopKadang apa yang ditakuti jauh lebih horor dalam pikiran tinimbang ketika dilakukan. Dalam arti ketakutan yang dibumbui dengan prasangka dan imajinasi ternyata tidak selebay itu ketika dihadapi dan dilakukan. Alih-alih memunculkan kembali ketakutan yang kedua, justru malah memunculkan hal baru berupa pengalaman. Dan ini berlaku dalam hal apapun, bidang apapun dan dalam keadaan apapun. Ketakutan yang dihindari bahkan hingga lari justru malah semakin menjadi bola liar, imajinasi yang terbang melayang dan menimbulkan syak wasangka. Hanya memang terkadang ketika menghadapinya dibutuhkan keberanian yang tinggi atau bahkan nekad, terlepas dari apapun hasilnya yang terpenting ketika kita tahu dan melakukan serta menghadapinya langsung akan terasa jelas dan terang benderang apa yang ditakuti itu. Dan itulah yang dimaksud pengalaman baru.

Pengalaman baru akan menuntun kemudian kepada cara dan tindakan baru dalam menghadapi apapun. Karena sejurus cara dan tindakan sebelumnya dirasa kurang tepat hingga perlu diperbaiki dan diperbaharui. Hal ini berbeda tentunya jika kita cenderung diam bahkan lari ketika menghadapi ketakutan itu; yang muncul kemudian justru ketakutan yang berulang dan semakin dalam sehingga menusuk dan merusak citra diri/self image kita dari dalam. Ini bahaya !!!

Medio September

H-1 sebelum hari jadi

Masih berproses kah ???

Posted on

Sebenarnya bingung mau nulis apa. Serasa tidak ada satupun kata atau kalimat yang bisa keluar. Mungkin ini yang namanya buntu ya, bingung, bercampur rasa bersalah. Ingin kiranya muncul dengan tiba-tiba ‘insight solution’ … dan AHA semuanya menjadi jelas dan ada solusi. Tapi hidup tidaklah dibangun dari ‘adakadabra’ demikian, melainkan lahir melalui rahim bernama proses. Maka mungkin nikmati saja proses itu kali ya.. mau manis, asam ataupun pahit mesti ditelan. Pepatah bijak mengatakan pikiran itu tergantung dari asupan makanan yang diberikan. Lebih baik rasanya jika asupan itu bernilai positif. Maka yang terlebih utama adalah bagaimana memaknai setiap peristiwa dari kaca mata yang positif. Bukan peristiwa dan masalahnya yang penting, tapi cara penyikapan kita terhadap masalah itu.

Sampai saat ini saya masih belajar, mencoba tegar dan memberi makanan pikiran dari sisi yang positif itu. Terkadang jatuh dan terjerembab, tiada tenaga, buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi inilah proses, mungkin kan ada muaranya kelak. Mari berproses menjadi lebih baik.

Cinere, menjelang hari jadi min-2

IPK 3.75

Posted on Updated on

Mengerjakan tugas kuliah di akhir minggu atau pas weekend memang banyak riantangannya, mulai dari rumah yang berantakan, anak-anak yang mainin laptop hingga godaan menonton film hehe…. dan satu lagi yang tidak kalah sengitnya menggoga yaitu tidur dan berleha-leha menikmati weekend .. waduh … ย Wal hal dari 7 tugas yang semestinya sudah selesai di upload, hanya baru satu selesai, itupun dengan kualitas minimal.

Jadi inget 7 tahun lalu ketika kuliah reguler dan tiap hari kekelas, rasa-rasanya ndak ada bosan ngerjain paper malahan papernya ini lahir dengan kualitas maksimal alias beda sendiri. Maka wajar saja jika tiap paper diganjar nilai mendekati sempurna. Tak pelak lagi IP/IPK pun melambung tinggi mendekati angka 3.75 … wew fantastis.. sebuah pencapaian yang sampai saat ini semakin sulit terulangi lagi.

Masalah utama bagi mereka yang kembali berkuliah dengan nyambi bekerja dan melakukan aktivitas lainnya adalah sulitnya membagi konsentrasi dengan tingkat fokus dan cara berpikir yang sama. Porsinya kadang menuntut satu lebih besar ketimbang lainnya, sehingga harus dikorbankan salah satu. Yups .. ini tantangan memang, sejauh mana kita mampu berpikir dan bertindak dalam satu waktu sekaligus, dengan hasil yang sama baiiknya. Tidak mudah memang, namun harus diupayakan dengan merunut kegiatan berdasarkan skala prioritas dan tidak membuah waktu secara percuma.

Bagaimana menurut anda kawans ???

Centang Kawan Lama, akhirnya bersua juga

Posted on Updated on

128932_620ย 

Seorang kawan lama datang menghampiri tadi pagi. Setelah sebelumnya menelp dan chat lewat media sosial akhirnya bersua juga. Tidak banyak yang berubah dari dirinya, masih seperti dulu ketika berseragam putih abu-abu. Dulu kami dekat, satu kelas di kelas 2, walau kemudian terpisah karena jurusan namun kami tetap dekat, saling curhat dan memberi dorongan. Lalu bagaimana ia kini ???

Kesendirian Akut

Apa yang dirasakannya kini sudah lebih mundur dari apa yang biasanya kudengar dulu di sekolah. Perhatiannya pada dunia sosial semakin kecil. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri, kebingungan, galau dan bahkan bergerak seperti boneka. Nah loh!!! Kenapa ??? Dari cerita dan pergaulan kami dulu, Centang (sebut saja namanya begitu) hidup dalam dunia yang tidak mudah. Pengalaman traumatik yang dialaminya sedari kecil, membentuknya menjadi pribadi yang introvert, tidak banyak bicara dan biasanya pikirannya membentuk pelarian… lari dari kesulitan yang dialaminya untuk kemudian menciptakan dunia khayalnya sendiri. Biasanya ia menjadi sosok yang jumawa, berhasil sebagai pribadi, memiliki kecakapan sosial yang tinggi, pandai bicara dan dikelilingi lawan jenis.ย 

Dunia khayal ini perlahan mulai ditinggalkannya ketika ia mulai sering bercerita padaku. Tidak hanya itu, kelompok belajar yang kubentuk pun turut mengusir rasa sepinya itu, kini ia lebih sering bersenda gurau dengan teman-teman yang lain. Satu hal yang kuingat sebelumnya, ia terlilhat selalu takut; takut akan hal apapun, terutama menyangkut dunia sosialnya. Tak berani mencoba, malu dan menarik diri. Ia hidup dalam keterbatasan, terutama keterbatasan afeksi; wujud perhatian, kasih sayang, pengakuan dari lingkungan terdekatnya. Belum lagi pengalaman tak menyenangkan menyangkut hasrat seksualnya; digerayangi, dijamah dan dijadikan objek cerita-cerita fantasi seksual tidak normal dari para pegawai salon tempat ia merawat rambutnya. Lalu ia tumbuh menjadi pribadi yang gamang, tidak memiliki teladan untuk dijadikan pusat imitasi pribadi, diacuhkan keluarga hingga kebingungan akan sikap yang tepat seputar kondisi biologisnya (ketika beranjak remaja khususnya). Akhirnya ia sering menarik diri, membuat fantasi, dan grogi ketika berhadapan dengan orang lain.ย 

Diluar akademik, bisa dibilang tidak ada yang istimewa. Seolah adil bagi Tuhan membagi dirinya berada dalam keseimbangan; pintar namun miskin sebagai pribadi (dan sosial). Dan aku adalah tempat bagi orang-orang seperti itu untuk bercerita, bukan hanya Centang tapi juga Gema, Bunga dan Sirna. Mereka adalah kawan-kawan lamaku yang entah kini menjadi seperti apa; luluskan mereka menjalani ujian hidup?? atau tersungkur tak berdaya menghadapinya???

Dan kawan lama dihadapanku ini kini tengah bergelut dengan masalahnya. 8 tahun tak berjumpa, bukan kabar baik yang kudengar. Centang merasa kini lebih sendiri daripada dulu. Hidupnya berjalan mekanis, melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Sulit membangun hubungan dengan orang baru. Suara-suara dari dunia khayalannya datang kembali. Walau bisa ia tepis namun tetap mengganggu. Bersyukur baginya ia masih dapat membedakan yang mana suara ‘palsu’ itu dan mana dunia nyata yang harus ia hadapi dengan benar. Namun geraknya yang mekanik membuatanya bosan. Setelah menikah 5 tahun silam, Centang praktis tidak mampu keluar dari ikatan rumah tangganya. Seolah ia bergantung pada suaminya. Hidupnya mekanik bagai robot, suaminya ada dimana-mana. Bahkan untuk urusan keluarga orang tuanya sendiri ia masih harus berdebat dengan sang suami.ย 

Ia seperti kembali kemasa sebelum kami membentuk kelompok belajar itu. Kelompok yang saling menguatkan, saling menasehati, saling berbagi dan saling memberi semangat. Ia limbung, berbuat sudah tapi tidak sesuai dengan kenyataan. Andaikan ia dapat memutar waktu kembali kemasa kami berseragam putih abu. Maka ia tak akan pergi begitu saja menginggalkanku dan teman-temanku, terbuai ajakan dan rayuan pacarnya itu untuk menikah dan mengkandaskan cita-citanya untuk meraih gelar sarjana. Nasi sudah menjadi bubur. Jika dimasa itu aku sering menjadi tempat bertanya, maka untuk kali ini aku sendiri bingung harus berkata apa. Mungkin Gema, Bunga dan Sirna bisa memberi nasehat untuknya agar bangkit dan kembali memperbaiki diri. Tapi aku sendiri tak tahu dimana kini mereka berada !!!