anakku

Berkah Tuhan

Posted on Updated on

Pada awalnya menjadi orang tua, apalagi dengan jumlah tiga orang anak tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi pada akhirnya harus dilewati juga proses itu. Anak adalah berkah Tuhan yang dianugerahkan pada pasangan dewasa seperti kita. Siap tidak siap toh kenyataannya ketika mereka hadir sedikitnya menambal sisi luka yang kosong pada diri kita. Beban, bisa juga. Tapi janganlah menganggap demikian, janji Tuhan tak mungkin ingkar. Dalam bentuknya yang lain kesiapan itu berproses mewujud dalam bentuknya yang semakin sempurna. Terus bertumbuh… Syaratnya adalah menerima keberkahan itu dengan lapang dada, menjalani dan mengisinya dengan belaian kelembutan, kasih sayang dan suri tauladan yang bisa mereka contoh. Baik buruknya mereka adalah jelmaan kita, para orang tua. Rezeki mereka adalah apa yang kemudian Tuhan titipkan pada kemampuan kita.

Semoga kita terus bertumbuh menuju bentuknya yang semakin sempurna, atau setidaknya menjadi lebih baik setiap hari. Untuk mereka, aku dan Tuhan yang menitipkannya 🙂

Detos, 24 des’16

Advertisements

Penikmat versus Player

Posted on Updated on

DSCF8736.jpg

Berbekal tutorial sederhana baik itu melalui youtube, blog dan forum diskusi tentang musik, si Kaka sudah memulai latihan sejak 2 minggu lalu. Latihan dasar ini hanya mencakup penguatan otot jari lewat senam jari yang rutin ia lakukan sepulang sekolah dan mengaji. Kadang 10 menit, kadang lebih dari setengah jam sampai ia sendiri mengantuk dan memutuskan untuk segera tidur.

Pada awalnya jari terasa kaku memang, apalagi dengan kondisi memainkan sepuluh jari secara berurutan dan bersamaan. Sedari kecil ia memang kidal, sehingga jari kanan yang lebih lemah dan harus banyak dilatih. Berbeda dengan kita yang dominan di tangan kanan. Sejauh ini ia cukup menikmati aktivitas terbarunya di rumah. Semoga ketika nanti benar-benar dipandu oleh guru les nya, tinggal meneruskan saja dalam artian dasarnya sudah ia kuasai.

Penikmat versus Player

Musik adalah satu diantara sekian hal yang dulu saya gemari. Mendengarkan musik tertentu sudah pasti, hingga kemudian mulai ngeband saat SMP. Walau dengan kemampuan minim dan skill yang jauh di bawah rata-rata teman saat itu. Posisi yang ideal untuk saya saat itu tentu saja pemain cadangan haha…. cadangan vokal dan penabuh drum utama (weiss gaya yah …  ya ialah pan tinggal pukul doanks klo drum hihihi).

Namun lacur, kegiatan ngeband ini tidak berlangsung lama. Masalahnya sederhana saja sebenarnya, banyak musik yang tidak sesuai dengan selera. Memaksakan genre yang saya gemari pun rasanya tidak elok juga ke mereka, hingga akhirnya setelah kurang lebih 6 bulan latihan saya memutuskan mundur dan kembali ke rutinitas awal; belajar, membaca buku dan sederet kegiatan yang sedikit membosankan lainnya. Oya lupa, beruntung saat itu di Bandung masih banyak lapangan terbuka yang bisa dipakai umum. Jadi kegiatan sepakbola menjadi pelipur lara diantara sekian rutinitas ‘garing’ lainnya.

Menjadi pemain tentu berbeda dengan sekedar menjadi penonton. Pun demikian juga dengan penikmat musik. Mendengarkan, mengkoleksi dan mengagumi tentu nilai kepuasannya berada jauh di bawah mereka yang bisa memainkan musik. Dan ini adalah satu dari sekian banyak hal yang saya sesali saat ini – sekedar mendengarkan tanpa bisa memainkan satu alat musikpun.

Menurut beberapa pakar, musik atau seni juga merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang dimiliki kita sebagai manusia. Tidak hanya terbatas pada bilangan angka di bangku sekolah, musik juga mampu membentuk kepribadian sekaligus memperhalus jiwa dan menyeimbangkan kemampuan belahan otak kanan dan kiri. Bahkan dalam kacamata psikologi, musik juga merupakan salah satu bentuk pengaktualisasian diri.

Tidak salah rasanya banyak orang tua yang kemudian memilih memasukkan anak-anaknya mengikuti kursus musik; baik itu melalui alat musik maupun olah vokal. Alat musik yang dipilih tentu disesuaikan dengan minat anak, kemampuan anak dan yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan keuangan orang tua. Sebab kursus saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kepemilikan alat musik. Waktu bimbingan yang hanya menyediakan paling lama 1 jam sekali selama seminggu di tempat les, tentu akan menguap begitu saja tanpa dibarengi dengan pola latihan rutin selama di rumah. Oleh sebab itu,  kepemilikan alat musik menjadi wajib disini sebagai bentuk pengayaan lebih dalam dan sarana praktek yang sudah dipelajari selama di tempat les bersama pembimbing.

Ragam

Untuk menjadi ahli memang dibutuhkan usaha keras dan fokus konsentrasi yang cukup. Motivasi juga harus kuat, apapun bentuknya. Berbuat yang terbaik menjadi kunci keberhasilan hidup seseorang. Mengenalkan ragam aktivitas pilihan kepada anak tentu menjadi nilai tambah baginya; mulai dari bahasa, seni (musik, lukis dan sebagainya), rancang bangun, menulis (essei, cerpen, novel dll) olah tubuh (gymnastic, sepakbola, tari/dance dll) hingga kecapakan sosial melalui keterlibatan kedalam berbagai kelompok sosial yang berbeda. Ini menjadi referensi yang akan sangat berguna baginya kelak, sebelum memutuskan ingin menekuni apa. Bidang akademik tentu menjadi pilihan utama. Ekstensinya yang bisa beragam dengan pilihan yang berbeda tiap anak. Ini yang harus di pekernalkan sedari dini kepada mereka. Dan itu tugas kita selaku orang tua; membuka pintu dan mengenalkan banyak hal untuk mereka. Walau dengan segala keterbatasan yang ada, namun kita harus tetap kuat dan berusaha semampu mungkin.

Kita tidak pernah tau potensi anak kita berada dimana, sampai mereka kemudian mencobanya. Mungkin kadang tertatih, bangkit dan tersungkur. Tapi darisanalah kemudian mereka belajar merajut asa dan menemukan bakat yang kemudian mereka gali dan asah hingga menjadi berguna[].

Seni dan Olah Tubuh

Posted on Updated on

Kata orang ‘seni’ itu mampu melunakkan jiwa. Sesuatu yang keras pada awalnya, kemudian melunak dan elastis ketika disentuh seni atau kesenian. Dengan seni pula jiwa menjadi tenang, dari yang semula riuh rendah karena terjangan rutinitas harian. Thats way saya memilih ini. Walau mungkin sedikit terlambat, tapi lebih baik dimulai saat ini daripada tidak sama sekali.

Maka seminggu lalu gerilya mencari informasi alat musik yang terjangkau dilakukan. Piano klasik tentu bukan jawabannya, disamping alatnya yang terbilang mahal (diatas puluhan bahkan ratusan juta) juga biaya kursus musik dengan jenis alat ini terbilang serupa dan memakan waktu yang lama. Gitar, biola, vocal dan keyboard adalah alternatif pilihan lainnya. Setelah menimang sekian waktu, maka pilihan jatuh ke alat musik keyboard. Disamping harganya yang masih terjangkau kantong, juga waktu les yang dibutuhkan relatif singkat. Setelah browsing sana-sini, pelabuhan terakhir jatuh pada Yamaha PSR E343 …. cukup cocok lah untuk pemula yang baru belajar dan mudah-mudahan awet sampai nanti berlanjut ke Fa nomor 3.

Berikut penampakannya :

Berharap bulan depan, tepat di saat ibunya berulang tahun Fa nomor 1 sudah dapat memulai les keyboardnya di dekat rumah 🙂

Taekwondo

Yang ini adalah satu dari sekian olah tubuh / bela diri yang cukup populer di tanah air. Walau salah satu kakek nya adalah jawara silat, bahkan pernah memiliki padepokan di Bandung…. namun karena cukup sulitnya mencari padepokan pencak silat di Depok dan Bogor (terutama dekat rumah) … maka akhirnya saya berencana memasukkan Fa nomor 2 ke group Taekwondo. Sekira 3 bulan lalu, ketika kami berlibur ke Bandung, Sang kakek sempat mengajari satu dua jurus. Dan Fathir – Fa nomor 2 – terlihat antusias menghapal gerakan satu, dua dan seterusnya apalagi ketika ia dibelikan baju pangsi hitam-hitam lengkap dengan ikat kepala nyunda di atas kepalanya. Sayang memang jarak kami cukup jauh untuk berlatih rutin. Maka dari ketertarikan awal itu, saya ingin meneruskan apa yang sudah dimulai kakeknya di Bandung, untuk dikembangkan di sini, di kediaman kami. Kebetulan di salah satu pendopo Pemkab Bogor, Pemda Cibinong sering terlihat anak-anak berlatih di hari minggu car free day, lengkap dengan seragam putih-putih dan sabuknya. So tiada salahnya ia saya masukkan kesana bulan depan.

Oya berikut adalah gambar Fa nomor 3 ketika berlatih di Bandung

Sementara dua aja dulu kegiatan diluar sekolah untuk mereka. Klo masih ada waktu luang dan kemurahan rezeki lainnya, mungkin nanti akan ada pilihan kegiatan lainnya untuk mereka. Amiin

Omg Ada HFMD di rumah !!!

Posted on Updated on

img_0236

HFMD adalah kependekan dari Hand, Foot and Mouth Disease atau disebut juga dengan penyakit tangan dan mulut. Istilah kerennya adalah Flu Singapura yang kini mulai marak mendera anak-anak di bawah 10 tahun. Nah kenapa disebut flu singapura dan kok bisa menyerang anak-anak yang bahkan belum pernah sekalipun ke negara tetangga itu??

Yups konon penyakit yang disebabkan oleh virus ini mulai mewabah di negara singapura sebelum tahun 2000an, dan sejak saat itu dikenal dengan flu singapura. Untuk lebih jelasnya apa itu flu singapura bisa di cek di : http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/ … dan atau http://mediskus.com/penyakit/flu-singapura .. sementara untuk ciri-cirinya bisa di cek juga di http://halosehat.com/penyakit/flu-singapura/ciri-ciri-flu-singapura.

Walau bukan termasuk kedalam kategori berbahaya, penyakit ini cukup mengganggu bagi anak-anak dan penyebarannya cukup cepat. Masa inkubasi jenis virus ini pun bisa kurang dari 24 jam ketika seorang anak telah terpapar sebelumnya. Maka kewaspadaan orang tua tentu menjadi kunci; mencegah tentu lebih baik daripada mengobati.

“Semoga saja si bungsu di rumah cepat pulih ya… merah-merah di sekitar mulut dan luka (mirip sariawan) di dalam mulutnya cepat pulih. Menurut info kunci pengobatannya cukup istirahat di rumah, asupan nutrisi yang baik dan perbanyak minum … kita lihat 3 hari kedepan saja”

 

Wawantawa Dengan Mang Bonju (bag2)

Posted on Updated on

farrasIde pada dasarnya tidak ada yang genuine original. Ia lahir dan tumbuh sebagai penyempurna, penambah nilai hingga pelengkap dari sederetan ide yang telah ada sebelumnya. Keberanian mengambil keputusan, perhitungan yang matang akan segala resiko dan sekaligus kejernihan melihat peluang, pada akhirnya  yang menentukan keberhasilan, disamping tentunya keberuntungan. Khusus yang terakhir jika mengingat prinsip law of attraction, keberuntungan tentu enggan datang begitu saja tanpa perjuangan dan usaha keras yang dilakukan terus menerus. Pada prinsipnya sama seperti apa yang diutarakan walikota Bandung beberapa waktu lalu saat ditanya apakah ia akan maju dalam pilgub DKI, secara diplomatis beliau menjawab ‘semua akan indah pada waktunya’ hehe…

brownies-amandaProses pertumbuhan bisnis kuliner jika dilakukan secara benar bisa meledak dengan cepat. Jadi teringat beberapa tahun lalu ketika Amanda Brownies masih diproduksi secara sederhana di sebuah warung kecil di pinggiran jalan Margahayu. Saat itu tentu tidak akan ada yang menyangka ide brownies kukus bisa melejit dengan cepat di bawah nama Amanda (kependekan dari Anak Mantu Dagang). Masih lekat juga bagaimana paman saya (adiknya Bapak) yang bekerja sebagai pemasar disana merasakan sulitnya masa-masa awal bisnis itu dibangun, namun dengan semangat kerja keras, kejernihan melihat peluang dan sedikit keberuntungan Amanda menjelma menjadi raksassa produsen oleh-oleh khas Bandung menyaingi Kartika Sari dan usaha sejenisnya yang telah ada lebih dulu.

Pun demikian dengan cireng salju (aci digoreng) yang pertumbuhannya terus merangkak naik – sebagaimana diamini oleh salah satu pendirinya Najib Wahab – beberapa hari lalu saat anak saya mewawancarai beliau untuk penunaian tugas kewirausahaannya di sekolah. Sebagai salah satu pendiri – disamping dua sosok penting lainnya sebagai ahli pemasar dan penguatan branding serta finance dan human resources – keberadaan cireng ini bukanlah yang pertama di jakarta, sebelumnya sudah ada produk serupa yang booming terlebih dahulu. Namun demikian, peluang panganan atau kuliner memang cukuplah besar, tidak bisa dimonopoli hanya oleh segelintir orang atau sekelompok saja. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, inovasi dan kepercayaan diri akan produk yang diusung, maka hasilnya luar biasa. Walau masih dalam proses pertumbuhan, namun melihat dari progress yang ada, usaha kawan saya ini secara optimis diakuinya akan semakin besar dan menjangkau luas.

Ada beberapa point penting dari isi wawancara anak saya beserta kelompoknya kemarin. Mungkin lain kali saya akan tulis sebagai sambungan bagian kedua ini hehe….. sekarang saya mau bikin proposal buku tahunan sekolah dulu dan menyelesaikan beberapa ribu eksemplar cetakan yang sudah didesain seminggu ini. Maklum dah deadline 🙂

Karang Tengah, 23 Maret 2016

Belajar Lagi Menjadi Orang Tua

Posted on Updated on

DSCF6727Tadinya saya mau melanjutkan diary yang tertunda yaitu lanjutan tulisan perjalanan kami saat berlibur di tahun baru 2016 kemarin. Tapi saat pertama kali membuka blog ini muncul notifikasi beberapa tulisan menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Umumnya tulisan itu dibuat di minggu pertama januari dan muncul di jendela blog saya (tentunya blog yang sudah menjalin pertemanan dengan saya).

Seperti tulisan Pak Dahlan Iskan tentang DR. Ir Suyoto yang bekerja di perusahaan Jepang dan ingin kembali mengabdi di BUMN (dalam negeri), lalu Bambang Trim tentang pentingnya literasi dengan mengutip puisi Taufik Ismail ‘mengapa Indonesia Nol dalam kewajiban membaca buku untuk para siswa/i sekolah’, masalah gagal move on dari blog kapriliyanto yang selalu segar dan lucu hingga tulisan bunda Dina tentang Daud VS Goliath dan pendidikan kewirausahaan bagi anak. Bagi saya tulisan-tulisan itu sangat positif dan menebar inspirasi serta pengetahuan. Namun demikian, ada satu tulisan yang secara pribadi membuat saya tertegun dan merasa bersalah. Tak lain adalah tulisan Bunda Dina tentang ‘mendidik anak agar memiliki sikap yang erat dengan kegiatan wirausaha’. Penekanannya bukan pada wirausaha tapi kepada sikap-sikap anak kita yang ingin kita bentuk secara positif kelak.

Berikut adalah point terpenting dalam tulisan bunda dina tersebut (yang akhir-akhir ini saya lupakan) :

1. Resiliensi (daya tahan).
Cara: biarkan anak mengeluarkan isi hatinya, jangan direndahkan apa yang dirasakannya.

Entah mengapa akhir-akhir ini saya sering cepat meletup secara emosi yang pada akhirnya membuat anak-anak tidak bisa mengeluarkan isi hatinya (sikap saya yang kadang acuh tak acuh ketika mereka bercerita)

2. Inovasi dan kreativitas
Cara: biarkan anak bermain dan berekesplorasi (tapi jangan main game melulu, carikan jenis permainan yang bervariasi)

Kadang untuk membuat anak terdiam dan tidak mengusik kegiatan kita, cara yang termudah adalah berikan caja gadget dan biarkan mereka main games sepuasnya. Cara ini tentu saja salah, tapi apesnya sering saya praktekan akhir-akhir ini.. 😦

3. Kerja keras
Cara: didik anak mandiri dengan memberi mereka tanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaan

Ada kalanya anak memang memerlukan latihan, dimulai misalnya dengan tanggung jawab sederhana mereka dalam menyiapkan barang-barang untuk ke sekolah, merapikan tas, baju dan sepatu ketika pulang ke rumah, membersihkan serak nasi setelah makan dll. Tapi adakalanya (dan ini sering terjadi) saya memilih membersihkan sendiri atau menyuruh mpok (asisten RT) untuk membereskan dengan dalih agar anak-anak tidak lebih membuat berantakan atau muncul kegaduhan baru. Padahal cara ini salah, ujungnya mereka akan manja dan tidak memiliki kemandirian dan tanggung jawab menyelesaikan persoalan

4. Keingintahuan:
Cara: dorong anak untuk memulai hobi baru, ajak ke berbagai tempat yang mungkin bisa menginspirasi (workshop, museum, dll)

Beberpa minggu terakhir di setiap weekend saya malah leyeh-leyeh saja, padahal hanya diwaktu itulah anak-anak memiliki waktu senggang dan bisa bercengkrama 24 jam dengan orang tuanya.

5. Percaya diri.
Cara: dorong mereka memberikan pendapat, beri kesempatan untuk mengambil keptusan sendiri (lalu didampingi, tentu saja; terutama kalau keputusannya beresiko; apapun hasil dari keputusannya, itu akan jadi pengalaman baginya).

Saya sering memotong pembicaraan mereka dan tergesa-gesa langsung pada kesimpulan (bukan mereka yang menyimpulkan tapi saya yang memaksakan sudut pandang saya)

6. Empati
Cara: hormati kepribadian dan pendapat anak, agar dia juga belajar untuk menghormati dan memahami orang lain

Ini betul, harusnya seperti itu. Tapi terkadang lagi-lagi selalu lupa…. kita lebih memilih bahawa ‘pokoknya klo kata ayah/ibu begini kamu harus nurut ya .. bla-bla-bla’

7. Optimisme
Cara: optimisme itu ‘menular’ jadi ortu pun harus jadi pribadi yang optimis, biasakan berpikir positif, dan bacakan kisah-kisah sukses orang lain

Saya juga lupa membelikan mereka buku lagi dan atau menceritakan atau menunjukkan sumber bacaan yang baik tentang kekgigihan dan kesuksesan tokoh-tokoh yang patut dijadikan teladan.

8. Sedekah
Pengusaha yang sukses harus punya visi “kebaikan untuk bersama” (bukan keuntungan sebesar-besarnya untuk diriku). Jadi latih anak untuk berbagi dengan teman, saudara, tetangga, terutama yang kekurangan.

***

Menjadi orang tua itu memang tidak ada sekolahnya. Kegiatan belajarnyapun berlangsung sepanjang masa. Tak pernah berhenti …. mumpung mereka masih dalam kategori anak (yang sebentar lagi menginjak remaja) masih ada waktu tentunya untuk merubah sikap dan memberi teladan yang baik untuk mereka.

Hayu ah belajar lagi hehe…

Wisata Ah Poong; Sedikit Rehat ‘Ademin’ Kepala

Posted on Updated on

Tanpa rencana sebelumnya kami tiba juga di pasar Ah Poong kemarin sore. Awalnya cuma sekedar makan siang atau sore diluar. Rencana awal belanja kebutuhan di rumah ke sentul city sekalian makan disana. Eh .. pas bunderan kawasan sentul ada plang gede Pasar Ah Poong… ya udah deh kita belok kanan dan tara dalam waktu kurang dua menit sampai di pelataran parkir valletnya.

Kepala Ngebul

Beberapa waktu belakangan ini saya disibukkan deadline beberapa editan yang harus tuntas sebelum tanggal 27 Desember. Mulai dari pengerjaan kalender, liputan presscon Nivea, QBE insurance hingga beberapa pesanan Wedding Organizer yang biasanya rutin dikerjakan tiap bulan. Akibat aktivitas yang terus menerus, komputer ngadat tiga hari lalu. ‘Wah mabok juga nih akhirnya hehe…’ dan solusinya nambah VGA dan RAM. Its so simple, tapi lumayan juga nyedot anggaran yang semestinya dipakai untuk liburan akhir tahun nanti ke Jogja (baru rencana ini hihi).

Dan ternyata yang mabok bukan cuma itu kompi, kepala juga terasa muter-muter kemarin… panas dah overheat kali. Wal hal memang butuh sedikit rehat, sekedar memanfaatkan waktu  yang ada untuk istirahat dan menghibur diri. Berhubung anak-anak juga sudah libur sekolah, maka nggak bisa dong selfish pergi sendiri. Akhirnya ya memang harus rame-rame dengan mereka. Dan pasar Ah Poong sentul city bisa dibilang pilihan tepat.

Tiba di Lokasi

Kurang dari jam 4 sore kami tiba di lokasi. Pelataran parkir yang sangat penuh membuat kami kesulitan untuk mencari lahan parkir. Mau nggak mau ya yang tersisa parkir vallet… yo wes deh kami parkir mobil disana (walo agak mahal juga tarifnya hehe… 25 rebu).

Perlu diketahui entry ke dalam pasar Ah Poong sama sekali tidak dikenakan tarif alias bebas-bebas aja. Pengunjung bebas menikmati pemandangan dan nuansa yang cukup bagus kapanpun (selama dia buka ya tentunya). Mau poto-poto juga bebas, yang paling menarik itu di atas jempatan; cukup banyak jembatan disini mulai dari jembatan biru, jembatan gantung yang bergoyang, jembatan muter-muter hehe dan jembatan satu lagi yang susah klo saya beri nama 🙂

Seperti kami yang langsung klik insting ‘kekiniannya’ dengan mengambil poto diatas jembatan pertama pintu masuk

Oya bagi anda yang membawa serta bayi dan kereta dorongnya atau nenek uyut sepuh yang memakai kursi roda, jangan khawatir sulit untuk masuk kedalam area Ah Poong. Karena jalur kawasan ini rupanya didesain ramah terhadap pengunjung dengan membuat dua jalur bagi pejalan kaki (dengan tangga) dan jalur untuk roda yang lurus sehingga mudah bagi keluarga yang membawa kursi atau kereta dorong.

Di bawah jembatan terhampar luas kali atau sungai yang bisa kita masuki secara bebas juga. Letaknya persis di bawah antara tempat jajan (foodcourt) dan jalur pejalan kaki atau pintu keluar. Kami pun tidak melewatkan momen ini untuk sekedar berpoto-poto ria, sementara Ibunya anak-anak ditugasi mengantri makanan. Oya transaksi di tempat ini menggunakan kartu ya, jadi kita diharuskan mengisi deposit terlebih dahulu di kasir untuk membeli makanan yang tersedia di dalam area pasar Ah Poong. Oya dibawah ini adalah beberapa poto yang saya ambil bersama anak-anak :

Selepas assik main di kali, lalu menjelajah ke seluruh area kawasan ini seperti tempat pembuatan madu, bazaar eco park dan taman-taman yang terletak di pintu depan dekat parkir utama kami pun santap sore; dimulai dengan Cakwe medan  yang big size itu lengkap dengan bumbunya yang enak (Rp. 11.000/pc), pempek palembang (Rp. 33.000/porsi), bubur singapore (Rp. 17.000/porsi), rosted chicken/bebek (Rp. 32.000/porsi) dan ditutup dengan Snow Ice atau es krim salju seperti terlihat di gambar di bawah ini :

WP_20151224_016

Kegiatan kemarin ditutup dengan menaiki perahu dayung yang terletak di bagian atas atau ujung pasar ah poong. Oya khusus untuk perahu ini sang pendayung, yang berasal dari warga sekitar tidak mematok tarif pasti berapa. Hanya keridhoan saja dari para pengunjung untuk memberi uang tips, bisa 5 rebu, 10, 20 bahkan 50. Kami sendiri kemarin memberi uang dayung 20ribu saja, ya lumayan lah berlima mengelilingi sungai dengan formasi lengkap termasuk si kecil yang baru berusia enam bulan. Tak ketinggalan dayung mendayung ini pun ada potonya hehe…

Kurang lebih 3 jam kami berada disana. Cukup terhibur juga, apalagi anak-anak yang mulai BT karena sudah hampir seminggu di rumah saja ndak kemana-mana hehe….

Jam 7.30 kami keluar dari area dan kembali ke rencana awal untuk membeli beberapa kebutuhan pokok di rumah seperti cemilan, susu cair, kue, sabun dll. Tepat pukul 10 malam kami tiba di rumah, dan saat ini – pagi keesokan harinya saya kembali pada tugas semula. Duduk di depan komputer melanjutkan editing liputan Nivea cares for family Bandung… eits bukan denk nulis blog dulu baru lanjut ngedit nanti hehe…

Pabuaran, 25 Des’15 saat Natalan

 

Dino Yang Baik

Posted on Updated on

dino yang baikJangan terkecoh dengan judulnya .. yups ini sama dengan film God Dinosour yang itu hehe.. konon ini adalah film pertama dengan dwibahasa. Artinya Dino Yang Baik adalah God Dinosour yang sudah di alih suarakan kedalam Bahasa Indonesia.

Yups weekend kemarin kiddos pada ngajakin nonton ini film, setelah sebelumnya mereka terbuai oleh iklan yang rajin tayang di TV terutama si Abah yang kini sudah masuk usia TK. Yo wess lah mumpung libur juga, akhirnya jadi deh kita nonton yang jam 12 siang. Tapi sayangnya kita sampai di Studio 21 Cibinong City Mall (CCM) jam 12.30, artinya film sudah diputar 30 menit yang lalu. Hadeuh… kiddos langsung pundung… Ini gegara lahan parkir di CCM yang kecil dan sempit hingga tak mampu menampung pengunjung yang biasanya membludak di hari libur. Bayangkan, kita datang jam 11.45 … setelah itu muter-muter kesana kemari hanya untuk mencari tempat parkir yang kosong. Dan ini bukan kejadian pertama kali, sebelum-sebelumnya juga begitu. Entah kenapa dengan Mall ini, apa salah desain sebelumnya atau memang tidak menyangka sebelumnya akan antusiasme warga yang bakal datang kesana. Hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu 🙂

Untuk menghindari pundung yang bisa memuncak ke para kiddos, maka alternatif kedua adalah pindah lokasi. Kebetulan ada yang dekat, Platinum Cineplex Cibinong Square… walo memang sih secara kekinian ini mall sudah berumur dan kalah pamor dengan CCM. Tapi demi menyelamatkan biduk kiddos yang mulai pundung, ndak apalah. Kebetulan jam tayang disana dimulai jam 13.00 .. so, pas kan.

Selepas membeli tiket dan free jagung berondong .. hehe.. ada yang tau kan jagung berondong itu apa… yups popcorn lah kerennya mah. Dengan dua rasa keju dan vanilla, kami memilih setengah2 diantara keduanya. Tak lama kemudian pintu teater 2 dibuka, dimulai dengan announcement dari speaker yang terdengar sember dan tidak enak didengar itu .. hehe.. jika dibandingkan dengan suara Ibu Maria Untung yang dulu suka ada di XXI rasanya bagai langit dan bumi ini suara. Tapi ya sudahlah.. apa arti suara yang penting bisa nonton rame-rame.

Dan taraa… begitu kami masuk ke dalam studio tampilan screennya redup, nyaris ndak berwarna. Padahal sekarang kan jamannya tampilan HD yang warnanya begitu menyala dan terang, tapi ini kok beda ya. Dan tak berapa lama kemudian film pun ditayangkan, lampu dimatikan. Sementara layar tak berubah signifikan, tetap gelap dan kurang berwarna. Tata Audio pun hanya terdengar kencang di bagian depan, sementara kanan dan kiri juga belakang nyaris tidak terdengar. Wal hal nonton kemarin terasa hambar dan kurang puassssssss …. Tapi ya klo Kiddos sih seneng-senang aja, yang penting mereka mah bisa bareng2 dengan Bapak Ibuknya di hari libur hehe..

So, kesimpulan pertama nggak lagi deh nonton di Platinum, mending XXI saja hehe…

Tentang Film

dino yang baik2Jujur saja di tengah film saya sempat tertidur, klo tidak dibangunkan dengan suara ribut si Abah yang minta popcorn lagi mungkin saya bisa tidur sampe film usai. Walo tidak kering-kering amat, film ini cukup menghibur dan memberi pesan yang baik. Tapi tetap saja jika dibandingkan dengan inside out kalah kelas. Ini sudut pandang saya sih, orang lain tentu bisa berbeda. Si kaka pun demikian, buktinya kemarin di Dino Yang Baik ia sampai menangis, terutama saat Arlo membuat lingkaran keluarga ketika ia berhadapan dengan Spot… sedih katanya hehe…

Secara umum yang bisa ditangkap dari film ini adalah perjuangan menjadi dewasa (kisah Arlo yang dimulai saat ia kehilangan Ayah dan terdampar). Lalu persahabatannya dengan sang musuh diawal film (Spot atau manusia yang dalam film ini lebih rendah kebudayaannya dibandingkan Dino) dan Perpisahan… pilihan untuk terus bersama atau merelakan sahabat terbaiknya menyatu kembali dengan keluarganya.

Overall film yang sangat menghibur dan mudah dicerna oleh anak-anak. Beda dengan Inside Out yang tidak habis-habisnya si Kakak bertanya ini itu hingga saya kehabisan kata untuk memberi penjelasan 🙂

 

 

H-1 menjelang tanggal 12 besok ; Ada seorang lagi datang

Posted on

hgaPemeriksaan terakhir oleh Dr. Maman Hilman Sp.Og di RS HGA Depok menegaskan bahwa usia kandungan istri sudah matang, hal ini semakin memperkuat pemeriksaan awal yang dilakukan di klinik Bunda di awal kehamilan. Entah parameter apa yang digunakan sehingga kemudian di trimester kedua mengalami perubahan dan maju ke awal bulan Juni, mungkin hanya Dr. Irene dan Tuhan yang tahu hehe….

Setelah beberapa kali mengunjungi HGA kesan kuat yang kemudian kami rasakan adalah bahwa rumah sakit ini tergolong ramah pasien. Walau bukan berskala besar namun sarana penunjang sudah lumayan lengkap. Belum lagi Dokter Maman, sebagai dokter senior yang begitu telaten saat memeriksa, tidak terburu-buru, runtut dalam menjelaskan dan ramah. Semoga saja operasi/SC besok berjalan sesuai yang diharapkan, lancar, kamar tersedia sesuai plafon nya dan ibu beserta si jabang bayi juga sehat. Amin

Mohon doanya ya kawans ….

4th Anniversary Fafa 02

Posted on

DSCF5105Seperti biasa ini late post 😦 karena kejadianya sudah berlangsung lebih dari 2 minggu lalu hehe… Ceritanya begini, tepat tanggal 07 maret lalu Fafa 02 berulang tahun. Yups jaraknya memang cuma berselang dari kakaknya, Fafa 01 yang telah lebih dulu merayakannya di sekolah pada akhir Februari lalu. Yang istimewa dari ultah Fathir kali ini adalah perayaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan…. sekedar pelukan, ucapan selamat lalu kita pergi keluar sih ada. Hanya untuk merayakannya di 3 tahun sebelumnya tidak pernah terjadi. Alasan utama saat itu adalah domisili kami yang masih sering berpindah antara depok dan jakarta selatan, sehingga amat sukar menentukan waktu yang pas dan berapa kenalan yang akrab dengan fathir. Semenjak proses kelahirannya 4 taun lalu, Fafa 02 ini memang agak banyak menghabiskan waktu bersama neneknya. Bahkan hingga kini saat sudah bersekolah PG pun ia kami titipkan bersama neneknya. Beruntung neneknya sudah pindah ke Depok, sehingga jarak menjadi dekat 🙂

Alasan kedua adalah prioritas. Saat itu (bahkan hingga sekarang sebenarnya) kami masih berkutat pada anggaran yang mesti diatur sedemikian rupa; mana yang pokok, mana yang bisa ditangguhkan dan mana yang harus didahulukan. Saat Fafa 02 berusia 2 tahun contohnya, anggaran sedikit terkuras karena perawatan selama seminggu di rumah sakit. Saat itu ia terserang panas bahkan disuatu malam kami dibuat panik dengan kejang-kejang. Bibirnya membiru dan matanya melotot keatas… uh sungguh mengerikan…. tak berapa lama kemudian kami ke ICU jam 2 pagi dan rawat jalan esoknya. Namun hingga hari ke-2 tidak mengalami penurunan demamnya, maka mau tak mau ia harus dirawat, klo ndak salah hampir seminggu ia di rumah sakit… di infus dan tergolek di kasur RS yang serba bau obat itu.

DSCF5044Nah sekarang momentum nya pas. Ia sudah bersekolah PG dan kami pun tengah libur dari aktivitas bekerja. Maka hari itu kami memilih sebagai hari yang pas untuk ultahnya, senin tanggal 10 Maret. Sehari sebelumnya kami berbelanja semua kebutuhan ultah, mulai dari tas, topi, isian tasnya, kue ultah dan lain sebagainya. Kakaknya, Fafa 01 yang riweuh dari awal. Harus beli ini dan itu… ah bagiku biasa saja lah, jangan terlalu berlebihan.. cukup tiup lilin, bagi kue dan goodybag lalu baca doa dan selesai.

Saat Tiup Lilin

Acara pagi itu dimulai pukul 09.30 pagi, tepat saat jam istirahat di mulai. Anak-anak PG dan TK masuk pukul 08.00 pagi, jadi tetap dia mesti belajar dulu sebelum tiup lilin. Kami sibuk berada di belakang kelas menyiapkan goodybag dan kue, begitu juga kaka sibuk merapikan dan menyusun topi. Dari belakang inilah kami mendengar bagaimana Fafa02 ketika berada di kelas. Emm.. cukup cerewet juga dan berani.. walau dengan bahasa yang masih terbata, ia lagi-lagi nyeletuk ‘atih mo ulang tawun’ dan gurunya menimpali ‘iaya…iya nanti ya’… Hadeuh si ade ada-ada aja, udah nggak sabaran kali ya dia hehe..

Saat guru mempersilahkan masuk kedalam kelas, kaka yang terlihat sigap dan antusias. Tak berapa lama penjaga sekolah membantu kami membawa barang bawaan. Ketika sampai didalam seluruh anak mulai rame.. yah maklum lah ya bocah-bocah… setelah itu ibu guru memimpin kelas dan mulai mempersilahkan yang punya hajat ke depan kelas, seperti yang terekam dalam kamera di bawah ini :

DSCF5098Setelah itu kemudian ramai bernyanyi bersama, lalu sedikit bermain dan kemudian tiup lilin. Ini cukup seru juga karena Fathir sedikit susah meniupnya, perlu tiga atau empat kali sampai lilin padam. Acara lalu diakhiri dengan pembacaan doa bersama. Selepasnya, ya apalagi…. potong kue dan bagi2 goody bag.

DSCF5111DSCF5116DSCF5132DSCF5137DSCF5084