artikel

Mendampingi Kunker Badan Kehormatan DPRD

Posted on

Setelah beberapa kali mendapat tugas mendampingi AKD (Alat Kelengkapan DPRD) minus Komisi, Pansus dan BPPD saat Kunjungan Kerja, baik itu antar kota, dan antar Propinsi. Kali ini penugasan selanjutnya adalah mendampingi Badan Kehormatan dibawah Ketua baru periode sisa masa jabatan kedua 2017-2019. Tujuan kota yang dikunjungi adalah DPRD kota Malang Propinsi Jawa Timur. Rute yang diambil melalui jalur udara, yang tentu saja lebih efisien dari sisi waktu (kurang lebih 1,5 jam perjalanan). Menurut rencana kami tiba di lokasi sekira tengah hari Pukul 12.00 siang.


Dari beberapa Daerah yang sudah dikunjungi beberapa waktu lalu, permasalahan BKD secara umum berada pada tataran etis dan penegakan sanksi. Fungsi dan tugas pokok BKD di tiap daerah, rata-rata mirip (karena payung hukumnya sama secara nasional). Perbedaan hanya ada pada tataran tekhnis dan aktualisasi yang dinamis sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah.

Sebagai salah satu Alat Kelengkapan DPRD, BKD pada dasarnya memiliki kewenangan strategis dalam hal penegakan disiplin dan kode etik anggota Dewan. Jadwal kegiatannya disusun tiap bulan dan menyesuaikan dengan kegiatan Dewan pada umumnya setiap bulan berjalan. Laporan dan jadwal kegiatan BKD kemudian dilaporkan dalam Rapat Badan Musyawarah yang umumnya dilakukan di awal bulan berjalan.

Jumlah anggota BKD secara umum merupakan wakil dari masing-masing fraksi. Jumlahnya tidak lebih dari 5 sd 8 orang di tiap DPRD. Pemilihan keanggotaan dan pimpinan BKD merupakan hasil konsensus dan kesepakatan anggota Dewan yang terbagi kedalam dua masa periode jabatan, yaitu 2.5 tahun. Dengan demikian, amat sangat dimungkinkan terjadi pergantian susunan keanggotaan dan rotasi pimpinan selama dua periode masa jabatan. 

Permasalahan BKD Secara Umum

Menurut beberapa laporan yang saya ikuti selama mendampingi anggota BKD ke beberapa daerah, letak permasalahan umumnya berada pada mekanisme penegakan disiplin dan sanksi pada anggota Dewan yang melanggar; mulai dari pelanggaran ringan sampai pelanggaran berat. Seperti yang terjadi di salah satu kota dimana salah satu anggota DPRD nya terlibat dan terbukti menjadi makelar proyek dan pidana penipuan. Karena kasusnya sudah tercium media, maka penegakan dilakukan dengan cara pemberhentian keanggotaan Dewan yang bersangkutan. Namun dalam kasus lain, dimana media tidak terlibat dan kasusnya tertutup tidak jarang masalah diselesaikan dalam lingkup intern dan sedapat mungkin menjaga kerahasiaannya di hadapan publik.

Tidak jarang posisi BKD berada pada posisi inferior, karena menyagkut kepentingan partai dan nama baik DPRD. Sehingga pelanggaran yang dilakukan anggota menguap begitu saja dan tidak mendapatkan sanksi. Tutup mata pun dilakukan, sejurus rapat hanya menjadi rutinitas penggugur kewajiban saja. Fungsi dan tugas pokok BKD dengan demikian hilang, sekedar pelengkap AKD semata. 

-catatan kecil bagian 1 dalam perjalanan menuju bandara Soeta-

Advertisements

Penggiringan Pemilih Untuk Mencoblos Paslon Tertentu

Posted on Updated on

imagesBaiklah KTP saya beserta keluarga memang bukan DKI lagi, jadi bisa dibilang tak memiliki kaitan langsung dengan Pilkada yang lagi hangat akhir-akhir ini. Namun demikian, ibu mertua yang masih tercatat sebagai pemilih di daerah Jakarta Selatan merasa terpanggil untuk datang ke TPS dan mencoblos hari Rabu kemarin walau secara domisili beliau sekarang lebih banyak berada di Bandung.

Dan dengan sukarela tentunya saya mengantar beliau kemarin menuju lokasi TPS. Perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam lebih dari tempat kediamanku di Bogor. Di perjalanan kami mengobrol, tentu di tengah riuh rendah para bocah yang memaksa untuk ikut ramai-ramai di dalam mobil. Kesimpulan dari obrolan itu adalah adanya pemaksaan dari ketua RT tempat beliau tinggal dulu untuk memilih paslon nomor 3. Sejurus alasan dikeluarkan oleh RT tersebut. Khususnya terkait dengan paslon Nomor 2; mulai dari China, non muslim, PKI hingga tuduhan lain yang memang sudah ramai menyeruak di media sosial beberapa bulan belakangan ini.

Saya tidak spesifik bertanya pada Ibu mertua tentang pilihan politiknya. Bagi saya memilih paslon manapun itu adalah hak politknya sebagai warga negara. Sebelum ia memutuskan datang bahkan dari Bandung kemarin, tentu ia sudah memiliki pilihannya sendiri. Saya cenderung menghindari debat soal Pilkada ini, apalagi dengan orang-orang terdekat semacam teman, tetangga, rekan kantor hingga keluarga terdekat. Entahlah soal urusan ini, sudah banyak buktinya yang justru memperkeruh suasana persahabatan hingga pertalian keluarga yang justru menurut saya lebih penting daripada pilihan politik. Terkecuali anda timses salah satu paslon yang memang bekerja secara profesional untuk itu, maka posisi anda harus jelas memihak siapa  dan mati-matian mempertahankan posisi itu.

Saat masuk ke ruang pencoblosan, Ibu mertuaku ditemani si Kaka, anak sulungku. Soal siapa yang dicoblos lagi-lagi aku rasa tak berkepentingan untuk tahu. Hanya ketika kami berjumpa dengan beberapa pengurus RT dan RW disana saya mencoba mengingatkan mereka untuk tidak perlu memobilisasi warga mencoblos paslon tertentu (dalam hal ini paslon nomor 3). Apalagi dengan nada ancaman bahwa siapa-siapa yang mencoblos bukan pasangan 3, maka akan ditandai. Saya pikir tidak bijak pengurus warga berbuat demikian. Dalam hal ini ia memainkan kuasanya sebagai pengurus warga untuk menekan mereka mengikuti keinginannya. Entah masuk kedalam kategori pelanggaran atau bukan, yang jelas praktek serupa semestinya tidak terjadi untuk putaran kedua nanti. Biarkan warga bebas memilih dan menentukan kehendaknya. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan stop Hoax dan berita-berita tendensius yang menyerang SARA, ujaran kebencian dan sejenisnya. Semestinya pesta demokrasi ini membuat kita semakin dewasa, terlebih saat berlangsung secara bebas dan langsung seperti sistem yang dijalankan saat ini.

-curhat di pojok ruangan, karena rapat hari ini ditunda-

CERMIN 7; GODBLESS DENGAN RASA BARU

Posted on Updated on

Dimalam yang hening ini, aku renungi
perjalanan diriku didunia ini
dari tiada aku dicipta, oleh sang maha pencipta manusia

di ruang kenanganku terbayang lagi
orang-orang yang pernah kutemui
dalam kehidupan yang nisbi, mereka kini diam dan mati

*kurenungi waktu yang berlari tiada henti
  bawa aku ke batas yang pasti sampai raga tak berjiwa lagi

cover-cd
*bukan gambar pribadi, tapi diambil dari kiriman salah seorang fans di GBCI

Demikian petikan lirik dari salah satu lagu anyar God bless dalam album Cermin 7 yang baru saja launching dan diedarkan melalui mekanisme preorder lewat komunitas fans club nya.

Di pertengahan tahun 2016 lalu, kabar God bless akan membuat album baru memang santer terdengar. Setidaknya melalui pantauan media daring facebook tempat berkumpulnya para fans setia God bless di seluruh Indonesia. Melalui jenderal God bless Community Indonesia (GBCI), Asriat Ginting laporan pandangan mata kerapkali ditulis melalui wall  baik itu seputar kegiatan show maupun persiapan sekaligus perkembangan album barunya. Bagi para fans berita album baru tersebut tentu sangat menggembirakan. Setidaknya berselang dari tahun 2006 lalu, atau kurang lebih sekitar 11 tahun lalu Godbless tidak atau belum mengeluarkan album lagi. Beruntung penampilan mereka kerapkali masih dapat kita saksikan baik itu melalui youtube dan media sejenis lainnya, maupun siaran langsung dari lokasi konser seperti pada acara Ulang Tahun TVRI pada Agustus 2015 lalu dan teranyar adalah saat mereka menggelar konser sekaligus launching album barunya di acara Golden Memories Indosiar awal tahun 2017 lalu. Maka kerinduan akan lagu-lagu lawas mereka sedikitnya terobati.

Konsep Album

Sampai dengan pertengahan tahun 2016 lalu sebenarnya konsep album baru God bless masih menjadi tanya-tanya bagi para penggemarnya. Satu sumber menyebutkan format full akustik yang dipilih, dengan lebih banyak menyertakan lagu-lagu lawas mereka yang populer dan di recycle dengan arransemen baru. Namun sumber lainnya menyebutkan, album baru tersebut juga memuat beberapa lagu baru yang memang dibuat dan dipersiapkan oleh para punggawa God bless di akhir tahun 2015 atau awal 2016 lalu. Ian Antono bahkan melalui salah satu wawancaranya menyebutkan bahwa materi lagu-lagu dalam album barunya nanti sudah ada, tinggal dimatangkan saja.

Di tengah ragamnya sumber informasi itu, kabar persiapan album baru tetap saja disambut gembira oleh para penggemarnya. Tidak peduli apa konsepnya full akustik, recycle arransemen dari lagu lawas yang sudah populer maupun isinya memuat seluruh lagu baru seperti yang ditampilkan God bless dalam album terakhir mereka bertajuk God bless 36 di tahun 2006 lalu. Terpenting adalah hadirnya album rekaman terkini dari grup kesayangannya itu

Rasa Baru dalam Cermin 7

Sebagaimana sudah diketahui bersama, album baru bertajuk Cermin 7 yang Cd baru saja mendarat di kediamanku sehari kemarin, memuat 3 lagu baru berjudul ; Damai, Kukuh dan Bukan Mimpi Bukan Ilusi … (sayangnya lagu damai ini sudah lebih dulu bocor dua bulan lalu di youtube) ditambah dengan 9 lagu lawas yang diambil dari salah satu album masterpiece mereka di tahun 1980 lalu, yang diarransemen ulang sehingga terdengar lebih fresh dan baru mulai dari Musisi, Selamat Pagi Indonesia, Anak Adam, Balada Sejuta Wajah, Sodom Gomorah, Cermin, Insan Sesat,  dan ditutup dengan Tuan Tanah.

Pertama kali terdengar lagu-lagu dengan arransemen ulang itu tertuju pada vocal Achmad Albar yang kini terasa lebih berat dan rendah. Terus terang di awal terdengar sedikit mengganggu, apalagi bagi mereka yang terbiasa mendengar versi utuh dari album Cermin origin tahun 1980 dimana vocal Achmad Albar terasa begitu prima. Sebut saja di lagu Musisi, Selamat Pagi Indonesia, Cermin dan Tuan Tanah. Namun diluar itu, alunan musik masing-masing personel masih terbilang prima dan garang. Secara umum rasa baru yang ditawarkan di album ini terasa megah dan lebih modern. Jika pada lagu musisi nyaris tiada perubahan berarti baik itu dari versi origin (kecuali tempo) lalu musisi versi 1990 dimana JSOP yang mungkin saja saat itu menggubahnya demikian (menjadi lebih lambat namun lebih kaya dengan permainan keyboard yang bersaut-sautan dengan sayatan gitar dari Eet Syachranie). Di lagu lain terjadi perubahan yang cukup besar, seperti pada arransemen di lagu Insan Sesat, Tuan Tanah dan Sodom Gomorah.

Perubahan pada vocal memang bisa dimafhumi, bagaimanapun juga hal itu menyesuaikan dengan kondisi dan usia diantara mereka. Apalagi pada posisi lead vocal yang memang tidak memungkinkan lagi untuk sama dengan album origin mereka di tahun 1980 lalu, yang mungkin rata-rata usia mereka saat itu berada di kisaran angka 30-40 tahunan. Maka penyesuaian mutlak dilakukan, mulai dengan mengubah nada dasar misalnya menjadi lebih rendah hingga membelokkan nada tinggi menjadi lebih pendek, sehingga saat show nanti sang vocalis tidak terlalu susah melakukannya.

Secara umum hadirnya album ini sangat..sangat mengobati kerinduan penggemarnya. Meraup pasar baru, entahlah. Rasanya memang agak sulit untuk menjangkau selera anak muda jaman sekarang, walau hal itu bukan tidak mungkin juga dilakukan. Setidaknya melalui GBCI terlihat beberapa anggotanya masih ada yang berusia diantara 15 – 20 tahunan. Hal ini memperlihatkan God bless masih mendapat tempat di sebagian kelompok anak-anak muda masa kini.

God bless dan Keberkahan

Usia rupanya tidak menjadi penghalang sebuah grup untuk terus berkarya, eksis dan kreatif. Rintangan dari masalah stamina dan fisik masih bisa disiasati dengan hal-hal lainnya. Buktinya, God bless di usianya yang sudah lebih dari setengah abad para personelnya, masih mampu live dan memainkan lebih dari 10 lagu. Ini adalah keberkahan yang luar biasa, belum lagi masih produktif dalam berkarya menciptakan lagu baru, tentu ini prestasi tersendiri.

**

Tak ada yang lebih patas untuk kuucapkan
Kecuali rasa syukur yang mendalam
Atas segala berkah yang telah kudaparkan

Tak ada yang lebih pantas untuk kulakukan
Kecuali hasrat tulus untuk bertahan
Atas segala kodrat yang telah kuterima

Rock n roll hidupku
Tiada resah hinggapi diriku
Rock n roll darahku
Tiada rintang kalahkan semangatku

Seri Tugas Kuliah; Hasil diskusi, paper, artikel etc

Posted on Updated on

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengupload 3 buah tugas kuliah melalui blog ini. Dan dilihat dari jumlah kunjungan ternyata meningkat. Artinya banyak yang mencari sumber tulisan; baik itu sebagai bahan pemenuhan tugas dan atau keperluan lainnya. Oleh sebab itu dalam beberapa hari ke depan, saya akan kembali mengupload beberapa tugas pilihan – dalam studi Ilmu Pemerintahan tentunya – yang siapa tahu kawan-kawan membutuhkannya. Untuk bagian ini saya ingin mengangkat salah satu diskusi mengenai ilmu politik dan pemerintahan. Monggo 🙂

Beda Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi melalui beberapa kawan di tutorial online beberapa waktu lalu;  ilmu politik dan ilmu pemerintahan tergolong kedalam bidang ilmu kenegaraan, termasuk kedalam kategori ilmu tidak murni (non scientific method). Hal ini berangkat atas dasar asumsi bahwa definisi ilmu didasarkan pada fakta empiris. Hal ini berbeda misalnya jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu murni yang berangkat dari pengamatan empiris dan ilmiah. Tolok ukur ini disebut oleh Dr. Miriam Budiardjo sebagai keistimewaan Ilmu politik yang senantiasa bergerak tumbuh dan berkembang. Sebab focus kajiannya terletak pada kreasi manusia yang serba tidak terbatas dan tidak dapat diprediksi (Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta).

Persamaan lainnya terletak keterkaitannya yang sangar erat dengan ilmu-ilmu social lainnya, khususnya ilmu kenegaraan. Sebab secara subjek studi atau pembelajaran pokok keduanya menyangkut Negara. Dalam hal ini secara material keduanya memiliki focus kajian yang sama. Disamping itu secara historis kelahiran kedua ilmu ini memiliki akar yang sama. Masa resesi dan konflik berkepanjangan di Negara-negara Eropa, khususnya prusia, inggris, perancis dan seterusnya menjadi penyebab tidak langsung kelahiran ataupun pembaruan teori-teori kenegaraan, sebagaimana telah dicetuskan oleh para filosof pada jaman Yunani kuno dahulu, seperti Plato dan Aristoteles.

Adapun yang membedakan keduanya adalah objek forma dari ilmu itu sendiri. Hal inilah yang membedakan satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Disamping itu perbedaan keduanya juga terlihat pada orientasi ilmu poitik yang lebih menekankan pada pola interaksi struktur sementara ilmu pemerintahan orientasinya lebih pada pelayanan public. Hal digambarkan secara jelas pada modul Ilmu Pemerintahan Online Universitas Terbuka, yang juga menyebutkan sedikitnya delapan (8) perbedaan antara ilmu politik dengan ilmu pemerintahan,  seperti ;  Pusat perhatian ilmu politik lebih kepada proses pembuatan keputusan politik untuk memenuhi kebutuhan dari suatu hubungan politik yang dikembangkan berbeda dengan titik tekan ilmu pemerintahan yang lebih mengedepankan focus kerakyatan dimana sebuah pemerintahan dibangun oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat.

Penikmat versus Player

Posted on Updated on

DSCF8736.jpg

Berbekal tutorial sederhana baik itu melalui youtube, blog dan forum diskusi tentang musik, si Kaka sudah memulai latihan sejak 2 minggu lalu. Latihan dasar ini hanya mencakup penguatan otot jari lewat senam jari yang rutin ia lakukan sepulang sekolah dan mengaji. Kadang 10 menit, kadang lebih dari setengah jam sampai ia sendiri mengantuk dan memutuskan untuk segera tidur.

Pada awalnya jari terasa kaku memang, apalagi dengan kondisi memainkan sepuluh jari secara berurutan dan bersamaan. Sedari kecil ia memang kidal, sehingga jari kanan yang lebih lemah dan harus banyak dilatih. Berbeda dengan kita yang dominan di tangan kanan. Sejauh ini ia cukup menikmati aktivitas terbarunya di rumah. Semoga ketika nanti benar-benar dipandu oleh guru les nya, tinggal meneruskan saja dalam artian dasarnya sudah ia kuasai.

Penikmat versus Player

Musik adalah satu diantara sekian hal yang dulu saya gemari. Mendengarkan musik tertentu sudah pasti, hingga kemudian mulai ngeband saat SMP. Walau dengan kemampuan minim dan skill yang jauh di bawah rata-rata teman saat itu. Posisi yang ideal untuk saya saat itu tentu saja pemain cadangan haha…. cadangan vokal dan penabuh drum utama (weiss gaya yah …  ya ialah pan tinggal pukul doanks klo drum hihihi).

Namun lacur, kegiatan ngeband ini tidak berlangsung lama. Masalahnya sederhana saja sebenarnya, banyak musik yang tidak sesuai dengan selera. Memaksakan genre yang saya gemari pun rasanya tidak elok juga ke mereka, hingga akhirnya setelah kurang lebih 6 bulan latihan saya memutuskan mundur dan kembali ke rutinitas awal; belajar, membaca buku dan sederet kegiatan yang sedikit membosankan lainnya. Oya lupa, beruntung saat itu di Bandung masih banyak lapangan terbuka yang bisa dipakai umum. Jadi kegiatan sepakbola menjadi pelipur lara diantara sekian rutinitas ‘garing’ lainnya.

Menjadi pemain tentu berbeda dengan sekedar menjadi penonton. Pun demikian juga dengan penikmat musik. Mendengarkan, mengkoleksi dan mengagumi tentu nilai kepuasannya berada jauh di bawah mereka yang bisa memainkan musik. Dan ini adalah satu dari sekian banyak hal yang saya sesali saat ini – sekedar mendengarkan tanpa bisa memainkan satu alat musikpun.

Menurut beberapa pakar, musik atau seni juga merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang dimiliki kita sebagai manusia. Tidak hanya terbatas pada bilangan angka di bangku sekolah, musik juga mampu membentuk kepribadian sekaligus memperhalus jiwa dan menyeimbangkan kemampuan belahan otak kanan dan kiri. Bahkan dalam kacamata psikologi, musik juga merupakan salah satu bentuk pengaktualisasian diri.

Tidak salah rasanya banyak orang tua yang kemudian memilih memasukkan anak-anaknya mengikuti kursus musik; baik itu melalui alat musik maupun olah vokal. Alat musik yang dipilih tentu disesuaikan dengan minat anak, kemampuan anak dan yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan keuangan orang tua. Sebab kursus saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kepemilikan alat musik. Waktu bimbingan yang hanya menyediakan paling lama 1 jam sekali selama seminggu di tempat les, tentu akan menguap begitu saja tanpa dibarengi dengan pola latihan rutin selama di rumah. Oleh sebab itu,  kepemilikan alat musik menjadi wajib disini sebagai bentuk pengayaan lebih dalam dan sarana praktek yang sudah dipelajari selama di tempat les bersama pembimbing.

Ragam

Untuk menjadi ahli memang dibutuhkan usaha keras dan fokus konsentrasi yang cukup. Motivasi juga harus kuat, apapun bentuknya. Berbuat yang terbaik menjadi kunci keberhasilan hidup seseorang. Mengenalkan ragam aktivitas pilihan kepada anak tentu menjadi nilai tambah baginya; mulai dari bahasa, seni (musik, lukis dan sebagainya), rancang bangun, menulis (essei, cerpen, novel dll) olah tubuh (gymnastic, sepakbola, tari/dance dll) hingga kecapakan sosial melalui keterlibatan kedalam berbagai kelompok sosial yang berbeda. Ini menjadi referensi yang akan sangat berguna baginya kelak, sebelum memutuskan ingin menekuni apa. Bidang akademik tentu menjadi pilihan utama. Ekstensinya yang bisa beragam dengan pilihan yang berbeda tiap anak. Ini yang harus di pekernalkan sedari dini kepada mereka. Dan itu tugas kita selaku orang tua; membuka pintu dan mengenalkan banyak hal untuk mereka. Walau dengan segala keterbatasan yang ada, namun kita harus tetap kuat dan berusaha semampu mungkin.

Kita tidak pernah tau potensi anak kita berada dimana, sampai mereka kemudian mencobanya. Mungkin kadang tertatih, bangkit dan tersungkur. Tapi darisanalah kemudian mereka belajar merajut asa dan menemukan bakat yang kemudian mereka gali dan asah hingga menjadi berguna[].

Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,  membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari 🙂

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Guna-guna Cloud Drive (storage)

Posted on Updated on

imagesBeberapa hari terakhir ini saya rajin memposting tugas-tugas kuliah saya disini. Bukan apa-apa sih, sebagai pekerja lepas yang saban harinya nomaden, aktivitas mobile sangat lekat sehari-hari – dalam pengertian mesti kesana kesini tanpa ajeg di satu tempat. Disamping laptop yang wajib dibawa dibagasi mobil, tak kalah penting adalah media storage yang juga bisa dibawa kemana-mana. Dan ini beresiko jika hilang, tertinggal atau rusak. Sehingga banyak data yang pada akhirnya saya simpan di cloud drive semisal google drive dan juga di blog. Walau tak sering-sering amat updating data dan nulis lewat blog, tapi percayalah dalam satu bulan pasti ada satu hingga dua kesempatan menyimpannya disana. Pernah satu kali dulu hardisk eksternal tertinggal entah dimana, sementara jam 1 siang hasil revisi pengerjaan semalam harus dikirimkan ke klien. Kebayang gimana repotnya harus mencari data itu, sementara jarak dengan rumah juga terbilang jauh (belum lagi saya pelupa sehingga tidak yakin juga HD itu tertinggal disana, bisa jadi di warnet setelah sebelumnya mendownload file kiriman tugas kuliah).

Nah solusi sederhana adalah menyimpannya di colud yang kemudian bisa ditarik kapan saja dan dimana saja. Termasuk tugas-tugas paper kuliah saya, kapanpun saya sempat dan ingin membaca sebagai bekal persiapan UAS nantinya, bisa diakses lewat handphone atau tinggal ke warnet terdekat. khaannn gampang mas bro !!! hehe..

Manfaat kedua adalah siapa tahu tulisan dalam paper itu berguna juga untuk orang lain. Maklum saja sebagai pencari sumber relevan dalam penulisan tugas, saya pun rajin menyambangi blog-blog lain yang setidaknya dapat dijadikan sumber rujukan dalam menulis. Tentu saja tidak asal copy paste dan serampangan mengambil rujukan, namun memilih dan membandingkannya dengan sumber lain yang terserak di dunia maya. Maka jadilah tugas itu sebagai satu kesatuan utuh dari hasil rujukan (pemikiran orang lain tentunya), ditambah analisis saya pribadi dan kesimpulan dari setiap masalah yang diangkat. Nah … tulisan jadi ini nantinya bisa menjadi rujukan orang lain juga bukan sebagai sumber rujukan tugasnya… seperti beberapa tulisan essei saya sebelumnya yang pernah dimuat di surat kabar dan cerpen di majalah online yang pada akhirnya juga banyak disebut-sebut di jadikan rujukan penulisan hehe… (seperti essei Tanggung Jawab dalam Pendidikan dan Cerpen Antok itu)

Nah jadi tidak ada salahnya di guna-guna bukan ????

Cinere, April 2016

 

Seputar Privatisasi BUMN

Posted on

kebijakan-privatisasi-bumnAda dua pandangan utama mengenai BUMN dan kebijakan privatisasi nya. Pandangan yang pertama adalah mereka yang menilai bahwa selaiknya BUMN mutlak dimiliki oleh Negara. Pandangan yang kedua adalah yang melihat bahwa BUMN tidak mutlak harus dimiliki oleh Negara, bisa saja diserahkan sebagiannya kepada pihak swasta selama tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan rakyat. Nah kebijakan privatisasi terhadap BUMN merupakan kelompok yang setuju terhadap pandangan kedua.

Lalu diantara keduanya mana yang paling cocok dan bisa diterapkan??? Apakah kemudian pihak yang setuju terhadap privatisasi melanggar undang-undang, atau justru itu demi kebaikan BUMN itu sendiri??

Tujuan Pendirian BUMN

Pada dasarnya BUMN didirikan dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu (monopoli). Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, seyogyanya dikuasai oleh BUMN. Dengan adanya BUMN diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal dapat dicapai dengan jalan mengikut-sertakan masyarakat sebagai mitra kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memberdayakan usaha kecil, menengah dan koperasi yang berada di sekitar lokasi BUMN.

Namun demikian, faktanya masih banyak permasalahan yang mendera BUMN di tanah air. Masalah yang muncul diantaranya adalah ; perolehan laba yang masih rendah yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari kinerja yang lamban, high cost beuraucracy, lack of maintenance dan seterusnya. Salah satu solusi untuk keluar dari masalah itu adalah dengan melakukan privatisasi BUMN, seperti banyak terjadi pasca krisis moneter tahun 1997-1998 lalu.

Pro Kontra Privatisasi BUMN

Pro kontra seputar kebijakan privatisasi ini kemudian lahir di sebagian kalangan masyarakat. Mereka yang tidak setuju beranggapan bahwa BUMN merupakan aset negara yang harus tetap dipertahankan kepemilikannya oleh pemerintah, walaupun pada kenyataannya tidak mendatangkan manfaat karena terus merugi. Sebaliknya, mereka yang setuju menganggap bahwa pemerintah tidak perlu sepenuhnya memiliki BUMN, yang penting BUMN tersebut dapat mendatangkan manfaat yang lebih baik bagi negara dan masyarakat Indonesia.

Berikut adalah alasan-alasan pro dan kontra terhadap kebijakan privatitasi BUMN tersebut :

*Pro Privatisasi

  1. Peningkatan efisiensi, kinerja dan produktivitas perusahaan yang diprivatisasi : BUMN sering dilihat sebagai sosok unit pekerja yang tidak efisien, boros, tidak professional dengan kinerja yang tidak optimal, dan penilaian-penilaian negatif lainnya. Beberapa faktor yang sering dianggap sebagai penyebabnya adalah kurangnya atau bahkan tidak adanya persaingan di pasar produk sebagai akibat proteksi pemerintah atau hak monopoli yang dimiliki oleh BUMN. tidak adanya persaingan ini mengakibatkan rendahnya efisiensi BUMN. Hal ini akan berbeda jika perusahaan itu diprivatisasi dan pada saat yang bersamaan didukung dengan peningkatan persaingan efektif di sektor yang bersangkutan, semisal meniadakan proteksi perusahaan yang diprivatisasi.
  2. Mendorong perkembangan pasar modal : Privatisasi yang berarti menjual perusahaan negara kepada swasta dapat membantu terciptanya perluasan kepemilikan saham, sehingga diharapkan akan berimplikasi pada perbaikan distribusi pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
  3. Meningkatkan pendapatan baru bagi pemerintah : Secara umum, privatisasi dapat mendatangkan pemasukan bagi pemerintah yang berasal dari penjualan saham BUMN. Selain itu, privatisasi dapat mengurangi subsidi pemerintah yang ditujukan kepada BUMN yang bersangkutan. Juga dapat meningkatkan penerimaan pajak dari perusahaan yang beroperasi lebih produktif dengan laba yang lebih tinggi. Dengan demikian, privatisasi dapat menolong untuk menjaga keseimbangan anggaran pemerintah sekaligus mengatasi tekanan inflasi.

*Kontra Privatisasi

  1. Privatisasi salah sasaran : Beberapa alasan diatas dianggap tidak sesuai dengan fakta. Sebab jika itu yang menjadi motifnya, maka seharusnya yang diprivatisasi adalah perusahaan-perusahaan yang tidak efisien, produktivitasnya rendah dan kinerjanya payah. Sehingga dengan diprivatisasi, diharapkan perusahaan tersebut berubah menjadi lebih efisien, produktivitasnya meningkat, dan kinerjanya menjadi lebih bagus. Kenyatannya yang diprivatisasi adalah perusahaan yang sehat dan efisien. Jika ada perusahaan negara yang merugi dan tidak efisien, biasanya disehatkan terlebih dahulu sehingga menjadi sehat dan mencapai profit, dan setelah itu baru kemudian dijual.
  2. Alasan yang mengada-ngada : Alasan untuk meningkatkan pendapatan negara juga tidak bisa diterima. Memang ketika terjadi penjualan aset-aset BUMN itu negara mendapatkan pemasukan. Namun sebagaimana layaknya penjualan, penerimaan pendapatan itu diiringi dengan kehilangan pemilikan aset-aset tersebut. Ini berarti negara akan kehilangan salah satu sumber pendapatannya. Akan menjadi lebih berbahaya jika ternyata pembelinya dari perusahaan asing. Meskipun pabriknya masih berkedudukan di Indonesia, namun hak atas segala informasi dan bagian dari modal menjadi milik perusahaan asing.

Simpulan

Keduanya baik pihak yang setuju maupun tidak tentu memiliki alas annya masing-masing; ada baik dan ada buruknya. Privatisasi bukanlah barang haram, tujuan privatisasi sudah diundangkan dan tercantum dalam Pasal 74 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 yang isinya berkaitan dengan BUMN, tepatnya adalah tentang upaya meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan saham Persero. Penerbitan peraturan perundangan tentang BUMN dimaksudkan untuk memperjelas landasan hukum dan menjadi pedoman bagi berbagai pemangku kepentingan yang terkait serta sekaligus merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas BUMN. Privatisasi bukan semata-mata kebijakan final, namun merupakan suatu metode regulasi untuk mengatur aktivitas ekonomi sesuai mekanisme pasar. Kebijakan privatisasi dianggap dapat membantu pemerintah dalam menopang penerimaan negara dan menutupi defisit APBN sekaligus menjadikan BUMN lebih efisien dan profitable dengan melibatkan pihak swasta di dalam pengelolaannya sehingga membuka pintu bagi persaingan yang sehat dalam perekonomian.

-seri kuliah : penunai tugas 2 MK Sistem Ekonomi Indonesia-

Pengertian Simpati dan Empati Dalam konteks Psikologi dan Komunikasi

Posted on Updated on

semangat-tugas3.jpgIstilah empati dan simpati amat terkait dengan kondisi psikologis seseorang. Keduanya berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Oleh sebab itu dalam beberapa bacaan terkait, keduanya banyak disinggung dalam disiplin ilmu psikologi. Sementara dalam komunikasi, keduanya banyak dibahas dalam hal komunikasi antar budaya, yaitu interaksi social antara individu dengan individu lain yang berbeda dari sisi latar belakang budaya, pendidikan dan sejenisnya. Tujuannya adalah tentu mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan tersebut, melalui cara berkomunikasi yang baik (secara verbal dan non verbal) sehingga tercipta jalinan interaksi social yang harmonis dan saling berpengertian.

Secara konsep emphatic agak berbeda sedikit dengan simpati. Keduanya memang menunjukkan perasaan atau kondisi kejiwaan seseorang, namun demikian ada perbedaan; simpati berpadanan kata dengan ‘feeling with’ sementara empati adalah ‘feeling in’ atau lebih dalam dari sekedar simpati. Dari sekian sumber yang ada, menarik apa yang disampaikan oleh andry setiawan dalam blognya ketika menganalisa keduanya dari sisi konseling (tinjauan psikologis). Menurutnya :

“Empati dalam pengertian konseling adalah hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi. Salah satu masalah yang sering muncul adalah kurangnya rasa empati dalam berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman interaksi komunikasi sehingga konseli frustasi dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari proses konseling tersebut. Empati merupakan dasar hubungan interpersonal. Hal yang juga penting diungkap dalam konteks peningkatan mutu empati seseorang adalah berlatih menampakkan ekspresi-ekspresi atau isyarat-isyarat non-verbal yang membuat orang lain merasa dimengerti dan diterima, karena kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat non verbal orang lain. Pemahaman seperti ini membuat hubungan antar individu terjalin dengan baik. Dalam kepustakaan konseling ditegaskan tentang keefektifan konseling (counseling effectiveness) lebih ditentukan dari kecakapan konselor. Oleh karena itu, peran empati cukup esensial yang diakui dalam teori-teori konseling, sehingga empati yang diwujud-nyatakan dalam praktik konseling selama ini merupakan suatu keniscayaan untuk ditumbuh-kembangkan secara sistemis di dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat kita (dalam blognya di http://andiysetiawan.blogspot.co.id/2012/11/empati.html)”

Dari pengertian tersebut kita dapat melihat bagaimana empati memegang peranan penting dalam proses interaksi. Karena tinjauannya berkaitan dengan dunia psikologis maka ia menjelaskannya melalui perspektif konseli – konselor. Namun demikian jika ditarik kedalam spectrum yang lebih luas – dalam dunia social misalnya – pengertian itu memiliki kesamaan pandangan bahwa eksekusi empati akan berjalan baik ketika dituangkan dalam langkah komunikasi yang baik. Dalam hubungan konseli – konselor sebagaimana digambarkan diatas, setelah menyelami dan memahami kondisi konseli, konselor wajib melakukan terapis secara baik melalui pendekatan komunikasi yang baik. Sehingga tercipta bangunan interaksi yang positif demi kesembuhan diri konseli (pasien). Demikian halnya juga dengan konteks interaksi social yang mensyaratkan komunikasi yang terjalin baik melalui sikap empatic yang telah ada sebelumnya.

Adapun simpati memiliki pengertian yang kurang lebih sama namun bias dikatakan lebih dulu dari empati. Jika empati adalah ‘feeling in’, maka simpati adalah proses yang mendahuluinya atau diluar kedalaman perasaan itu (sekedar feeling with). Dalam salah satu jurnal psikologi (www.berandapsikologi.com) simpati diartikan sebagai suatu proses dimana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.

Berikut adalah perbedaan antara kedua istilah tersebut :

Simpati

  1. Berasal dari bahasa yunani “ feeling with”
  2. Proses yang terjadi kurang begitu mendalam
  3. Didasarkan faktor kesamaan
  4. Merupakan respons atas need for closeness and support
  5. Lebih spontan, biasanya dalam bentuk reaksi emosional
  6. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun kawan atau saudara kita.

Simpati adalah melakukan sesuatu untuk orang lain, dengan menggunakan cara yang menurut kita baik, menurut kita menyenangkan, menurut kita benar.

Empati

  1. Berasal dari bahasa yunani “ feeling in”
  2. Proses yang terjadi lebih mendalam
  3. Didasarkan pada penerimaan perbedaan individual
  4. Merupakan upaya-upaya pemahaman terhadap kondisi orang lain.
  5. Berbasis pada faktor kognitif dan afektif
  6. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : Seseorang memiliki teman yang orang tuanya meninggal. Sebagai wujud empati kita sebagai temannya merasakan kesedihan dan kehilangan tersebut. Turut merasakan disini bukan sekedar larut dalam kesedihan namun lebih jauh itu kita dapat menyampaikan supporting dengan menyampaikan hal yang baik dan memberinya semangat (bias juga dalam bentuk materi/barang penyemangat, kegiatan dan lain sebagainya). Tujuannya adalah agar kawan kita itu mampu menerima dengan ikhlas dan move on, bangkit dari kesedihan dan menjalani hidup dengan baik.

Sekali lagi Empati memiliki pengertian yang tidak jauh berbeda dengan simpati. Namun demikian, yang menjadi pembedanya adalah bahwa empati tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam seperti pada contoh kehilangan orang tua pada sahabat kita diatas.

Empati, adalah melakukan sesuatu kepada orang lain, dengan menggunakan cara berpikir dari orang lain tersebut, yang menurut orang lain itu menyenangkan, yang menurut orang lain itu benar. Poinnya adalah apa yang menurut kita bernilai sebagai kebaikan, namun bias saja sebenarnya justru mengganggu orang lain. Nah empati tidaklah demikian.

-paper sederhana untuk pemenuhan tugas ke-2 pengantar ilmu komunikasi-

KHARISMA GUSDUR

Posted on

Pendahuluan

Membaca kembali teori kepemimpinan khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan yang diutarakan oleh Weber mengingatkan saya ke beberapa tahun silam, tepatnya medio tahun 2003 hingga 2006. Entah mengapa pikiran langsung tertuju pada sosok Gus Dur (alm) yang begitu memesona baik itu dari sisi pemikiran, maupun sebagai sosok pribadi. Diatas itu tentu ada Bung Karno; jawaranya pemimpin kharismatik; bagaimana ia mengagitasi rakyat dengan balutan kata-kata heroiknya bahkan sebelum ia memiliki kekuasaan legal sebagai Presiden (legitimate power). Namun demikian Gus Dur pun memiliki pesona magisnya sendiri. Masih lekat bagaimana tulisannya mewarnai majalah Prisma dan buku-bukunya yang sering dibawa oleh salah seorang kawan di tempat kami menimba ilmu dulu. Tentu saja buku itu kemudian saya pinjam, termasuk majalah Prisma yang rada usang dengan bau khas debu di tengah rak perpustakaan. Biasanya dalam kondisi normal, buku dan majalah itu dilahap habis tidak kurang dalam waktu satu minggu. Tentu jangan dibandingkan dengan kondisi saat ini, dimana tingkat konsentrasi dan lingkungan yang sudah jauh berbeda. Namun saat itu rasanya cukup menyenangkan berselancar ria menyelami beragam pemikiran, dan Gus Dur adalah salah satunya.

Maka ketika tugas 2 ini hadir dalam mata kuliah perbandingan pemerintahan, momen nostalgia itu kembali hadir. Romantisme yang sarat akan kenangan masa sekolah menengah dulu; jiwa muda yang eksplosif, spirit agama dan lingkungan social organisasi. Maklum saat itu iklim pendidikan sekolah menengah tidaklah seterbuka saat ini, sehingga rasa haus akan informasi dan pengalaman yang lebih baru akan didapatkan diluar bangku sekolah, tepatnya di lingkungan organisasi informal di luar sekolah.

 

 Apa Itu Kharisma

Weber ketika menyebutkan charisma sebenarnya dilatarbelakangi oleh prinsip etik dan spirit perubahan yang dibawa oleh gerakan puritan yang kemudian dikenal dengan gerakan etis protestanisme. Menurutnya perbedaan mendasar dunia barat dan timur berada pada rasionalitas dan agama. Agama bagaimanapun juga membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Didalamnya terselip ajaran, dogma hingga semangat perubahan. Agama kemudian menjelma menjadi lembaga lengkap dengan struktur social dan kekuasaan didalamnya. Dalam tataran kekuasaan, yang pada saat itu dominan di pegang oleh Paus, pendeta, rabid an sejenisnya; dibedakan menjadi tiga bentuk kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pengaruh yang mampu mengubah masyarakat, menggerakkan dan menginspirasi pengikutnya untuk melakukan sesuatu dalam gerakan social. Weber kemudian membedakan kekuasaan itu kedalam tiga bagian :

  1. Kekuasaan Tradisional : Jenis kekuasaan yang sudah ada (established) dan dipercayai secara turun temurun.
  2. Kekuasaan legal-rasional : Jenis kekuasaan yang diperoleh melalui penunjukan hokum positif; kontrak social dan sejenisnya
  3. Kekuasaan kharismatik : Jenis kekuasaan yang diperoleh karena rahmat (grace) pada individu seseorang

Secara akar kata, kharisma berasal dari kata yunani ‘chairismos’ yang berarti berkat yang terinspirasi secara agung atau dengan bahasa lain yakni anugerah. Kata ini dalam tradisi Kristen berpadu padan dengan kata ‘grace’ atau rahmat. Oleh sebab itu kharisma adalah sejenis ‘blessing’ atau anugerah atau bakat yang ada pada diri individu seseorang. Ia lahir dan ada begitu saja (given). Walau demikian pandangan ini kemudian mendapat kritik beberapa tahun setelahnya, dimana kharisma pada diri seseorang juga diyakini mampu dipelajari, dibentuk. Pemimpin dengan kharisma tidak lahir begitu saja, namun ia dapat diciptakan dan dibentuk melalui pembelajaran. Robbins (2005) adalah salah satunya. Dalam penelitiannya ia menjelaskan bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan karismatik. Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Ia juga mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi karismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.

Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura karisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.

 

Bagaimana dengan Gus Dur

gusdurWalau lahir dari keturunan pendiri salah satu organisasi massa islam terbesar di Indonesia (Nahdatul Ulama/NU), Gus Dur mendapatkan peringkat sebagai pemimpin tidaklah mudah. Ia harus menempuh sekian jalan berliku untuk sampai ketahap itu, mulai dari keengganannya untuk meneruskan pendidikan formal hingga pengembaraannya ke dunia asing; kairo, mesir (timteng) dan Negara eropa. Oleh sebab itu jua, dalam dirinya tersimpan aneka dinamika pemikiran yang begitu luas dan terbuka melampaui pemahaman tradisional islam ulama NU. Untuk mengenal sosoknya lebih dekat, berikut adalah profil singkat beliau (yang disarikan dari berbagai sumber terpercaya)

Gus Dur  adalah mantan Presiden Keempat Indonesia  yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970. Dia lalu pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

 

Gus Dur dan Kepemimpinan Karismatiknya

Dua dari pendapat kepemimpinan kharismatiknya, yaitu Weber yang menganggapnya sebagai berkah (given) ada dari lahir dan Robins yang menyebutkan bahwa charisma bisa dibentuk dan dipelajari, purna keduanya melekat pada diri Gus Dur. Sebagai pribadi charisma Gus Dur bisa saja diperoleh dari keluarganya yang merupakan tokoh besar Islam, pendidik dan pembawa perubahan di negeri ini. Namun demikian, charisma yang melekat itu tidak sempurna jika kemudian tidak dilengkapi dengan modal kepribadian yang baik; seperti pemikiran yang kritis, teguh pendirian, jujur, optimis, pembelajar yang baik dan mampu menggerakkan. Sebab menurut Weber sedikitnya ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan pemimpin kharismatik, yaitu : Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luarbiasa, adanya krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang

Kelima factor sebagaimana disyaratkan Weber diatas, melekat pada diri Gus Dur. Sebagaimana kita baca pada profil singkat beliau diatas, disamping bakat personal yang ada pada dirinya (kritis dan pembelajar yang baik) kehadiran Gus Dur juga mampu memberikan pembeda ditengah serba seragamnya iklim politik dan social yang coba dikembangan Orde Baru saat itu. Sikapnya yang teguh dan daya nalarnya yang luar biasa (diperoleh melalui pengalaman hidup dan pembelajaran sebelumnya) membuat kiprahnya semakin meluas; mulai dari kolumnis dan jurnalis, hingga pendidik dan aktif sebagai anggota parlemen. Puncaknya adalah ketika kemudian ia menerima permintaan kakek dari ibunya untuk menahkodai NU dan hijrah dari Jombang menuju Jakarta. Disinilah ia kemudian semakin dikenal dan memiliki banyak pengikut, bukan hanya dari kalangan nahdiyin NU tapi juga dari beragam latar belakang hingga lintas agama. Sosoknya tidak hanya diterima oleh kalangan islam tapi juga ummat lainnya; nasrani, hindu, budha bahkan konghucu. Khusus yang terakhir, tentunya kita masih mengingat bahwa pada masa kepemimpinannya lah kepercayaan konghucu kemudian mendapatkan tempat secara hokum di Indonesia. Maka tidak salah ketika masyarakat menjulukinya sebagai Bapak Bangsa atau Guru Bangsa.

Kharisma tersebut juga semakin lengkap ketika sebagian pengagumnya bahkan ada yang mengkultuskannya, hingga menganggapnya memiliki kekuatan transedental tertentu bahkan supranatural. Padahal sebagai pribadi yang rasional dan terdidik tentu hal ini berkebalikan dengan dirinya. Dan bahkan jika hal ini kemudian ditanyakan kepadanya, mungkin ia hanya terkekeh saja sambil berkata ‘gitu aja kok repot’

Depok, 01 April 2016

ALMK

*ditulis sebagai pemenuhan tugas 2 mata kuliah perbandingan  pemerintahan, Bab Kekuasaan dan Kepemimpinan Kharismatik