jiwa

Penikmat versus Player

Posted on Updated on

DSCF8736.jpg

Berbekal tutorial sederhana baik itu melalui youtube, blog dan forum diskusi tentang musik, si Kaka sudah memulai latihan sejak 2 minggu lalu. Latihan dasar ini hanya mencakup penguatan otot jari lewat senam jari yang rutin ia lakukan sepulang sekolah dan mengaji. Kadang 10 menit, kadang lebih dari setengah jam sampai ia sendiri mengantuk dan memutuskan untuk segera tidur.

Pada awalnya jari terasa kaku memang, apalagi dengan kondisi memainkan sepuluh jari secara berurutan dan bersamaan. Sedari kecil ia memang kidal, sehingga jari kanan yang lebih lemah dan harus banyak dilatih. Berbeda dengan kita yang dominan di tangan kanan. Sejauh ini ia cukup menikmati aktivitas terbarunya di rumah. Semoga ketika nanti benar-benar dipandu oleh guru les nya, tinggal meneruskan saja dalam artian dasarnya sudah ia kuasai.

Penikmat versus Player

Musik adalah satu diantara sekian hal yang dulu saya gemari. Mendengarkan musik tertentu sudah pasti, hingga kemudian mulai ngeband saat SMP. Walau dengan kemampuan minim dan skill yang jauh di bawah rata-rata teman saat itu. Posisi yang ideal untuk saya saat itu tentu saja pemain cadangan haha…. cadangan vokal dan penabuh drum utama (weiss gaya yah …  ya ialah pan tinggal pukul doanks klo drum hihihi).

Namun lacur, kegiatan ngeband ini tidak berlangsung lama. Masalahnya sederhana saja sebenarnya, banyak musik yang tidak sesuai dengan selera. Memaksakan genre yang saya gemari pun rasanya tidak elok juga ke mereka, hingga akhirnya setelah kurang lebih 6 bulan latihan saya memutuskan mundur dan kembali ke rutinitas awal; belajar, membaca buku dan sederet kegiatan yang sedikit membosankan lainnya. Oya lupa, beruntung saat itu di Bandung masih banyak lapangan terbuka yang bisa dipakai umum. Jadi kegiatan sepakbola menjadi pelipur lara diantara sekian rutinitas ‘garing’ lainnya.

Menjadi pemain tentu berbeda dengan sekedar menjadi penonton. Pun demikian juga dengan penikmat musik. Mendengarkan, mengkoleksi dan mengagumi tentu nilai kepuasannya berada jauh di bawah mereka yang bisa memainkan musik. Dan ini adalah satu dari sekian banyak hal yang saya sesali saat ini – sekedar mendengarkan tanpa bisa memainkan satu alat musikpun.

Menurut beberapa pakar, musik atau seni juga merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang dimiliki kita sebagai manusia. Tidak hanya terbatas pada bilangan angka di bangku sekolah, musik juga mampu membentuk kepribadian sekaligus memperhalus jiwa dan menyeimbangkan kemampuan belahan otak kanan dan kiri. Bahkan dalam kacamata psikologi, musik juga merupakan salah satu bentuk pengaktualisasian diri.

Tidak salah rasanya banyak orang tua yang kemudian memilih memasukkan anak-anaknya mengikuti kursus musik; baik itu melalui alat musik maupun olah vokal. Alat musik yang dipilih tentu disesuaikan dengan minat anak, kemampuan anak dan yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan keuangan orang tua. Sebab kursus saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kepemilikan alat musik. Waktu bimbingan yang hanya menyediakan paling lama 1 jam sekali selama seminggu di tempat les, tentu akan menguap begitu saja tanpa dibarengi dengan pola latihan rutin selama di rumah. Oleh sebab itu,  kepemilikan alat musik menjadi wajib disini sebagai bentuk pengayaan lebih dalam dan sarana praktek yang sudah dipelajari selama di tempat les bersama pembimbing.

Ragam

Untuk menjadi ahli memang dibutuhkan usaha keras dan fokus konsentrasi yang cukup. Motivasi juga harus kuat, apapun bentuknya. Berbuat yang terbaik menjadi kunci keberhasilan hidup seseorang. Mengenalkan ragam aktivitas pilihan kepada anak tentu menjadi nilai tambah baginya; mulai dari bahasa, seni (musik, lukis dan sebagainya), rancang bangun, menulis (essei, cerpen, novel dll) olah tubuh (gymnastic, sepakbola, tari/dance dll) hingga kecapakan sosial melalui keterlibatan kedalam berbagai kelompok sosial yang berbeda. Ini menjadi referensi yang akan sangat berguna baginya kelak, sebelum memutuskan ingin menekuni apa. Bidang akademik tentu menjadi pilihan utama. Ekstensinya yang bisa beragam dengan pilihan yang berbeda tiap anak. Ini yang harus di pekernalkan sedari dini kepada mereka. Dan itu tugas kita selaku orang tua; membuka pintu dan mengenalkan banyak hal untuk mereka. Walau dengan segala keterbatasan yang ada, namun kita harus tetap kuat dan berusaha semampu mungkin.

Kita tidak pernah tau potensi anak kita berada dimana, sampai mereka kemudian mencobanya. Mungkin kadang tertatih, bangkit dan tersungkur. Tapi darisanalah kemudian mereka belajar merajut asa dan menemukan bakat yang kemudian mereka gali dan asah hingga menjadi berguna[].

Membuka diri

Posted on

Seberapa besar anda mengutarakan siapa diri anda yang sesungguhnya pada pasangan anda? atau mungkin anda memilih orang lain sebagai tempat bercerita? Sah-sah saja demikian, karena belum tentu pasangan adalah mitra terbaik dalam hal itu. Seperti cerita seorang kawan yang lebih memilih menutup diri karena merasa tidak ada yang bisa dipercaya. Namun kemudian ia merasa terasing hingga harus diutarakan juga. Menulis adalah jawabannya, dimana ia bisa memuntahkan semua. Lantas bagaimana mungkin menulis menjadi solusi ketika begitu terbuka dan dibaca umum?

Solusinya adalah dengan memilih alias, menyembunyikan identitas atau memilih anonim saja. Tapi lagi-lagi keadaan demikian justru semakin membuat seseorang berada di balik topeng, tidak jujur. Dan ini tidak baik juga, sebab adakalanya seseorang memerlukan waktu dimana ia harus berterus terang siapa dirinya, apa masalahnya dan bercerita apa adanya. Bosan bukan jika dalam dunia nyata bersembunyi pun demikian dengan dunia maya. Teman atau sahabat memang bisa menjadi pelipur lara; bisa pasangan, orang tua, orang lain atau bahkan profesional sekalipun. Ada kalanya memang kita perlu bercerita apa adanya

Orang tidak tahu dan ditidaktahunya juga

Posted on

cover-buku1Ketika dulu membaca kata pengantar Andi Hakim dalam bukunya Prof Jujun S,  filsafatilmu ada istilah ‘orang yang tidak tahu, dan juga ditidaktahunya’. Kategori ini berada dalam baris keempat jenis orang yang sudah ndablek, tidak mawas diri dan juga susah diberi tahu. Saat itu ketika membaca, merasa ragu juga apakah ada orang demikian?? Namun akhir-akhir ini saya menemukan beberapa orang yang demikian; susah berubah, merasa benar, tidak menilik kedalam dan juga tuli akan nasihat orang lain. Pada jenis orang yang ‘tidak tahu tapi ditahunya’ masih memungkinkan beralih, sebab pada akhirnya ia menyadari bahwa selama ini dirinya itu tidak tahu dan sadar akan ketidaktahuannya itu maka ia bersegera berubah. Namun susah bagi orang yang tidak sadar akan ketidaktahuannya itu, sehingga kegagalannya dalam hidup tidak diketahuinya sebagai kegagalan yang harus diperbaiki dan diubah. Bagi orang-orang seperti ini hidup sebatas gerak dan langkah, yang berjalan teratur seuai irama dan arah angin. Menerima begitu saja, tak peka akan salah dan benar.

hmmm…. 😦

Self healing dan kemampuan membuka diri

Posted on

imagesKadangkala kita terjebak pada cara pikir yang sederhana dan sempit. Parahnya lagi seluruh konsentrasi dan tindakan habis karena hal itu. Sehingga lupa akan hal lain yang lebih besar, bermanfaat bahkan solusi dari masalah yang menghimpit. Yaahh itulah saya, cenderung demikian. Melepaskan beban tidak semudah membalik telapak tangan, begitu ringan dan langsung jadi. Apalagi jika beban itu sudah berkarat dalam benak kita selama bertahun-tahun. Membersihkannya tentu memerlukan tools istimewa dan mesti berhati-hati jangan sampai pula merusaknya. Alih-alih membetulkan, malah terjerembab pada masalah lain yang lebih pelik.

Tahu tidak, memutus rantai dari pikiran sempit itu sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara. Membuka wawasan dan mencari informasi seluas mungkin adalah salah satunya. Menambah jam terbang bergaul juga solusi lain, yang bisa membuat diri terhibur dengan banyaknya percakapan yang membangun dari teman-teman atau pergaulan sosial. Intropeksi diri juga solusi lain, tapi ini lebih susah. Apalagi jika kemampuan self healing kita tidak memadai. Maka yang ada hanyalah ratapan yang tidak perlu. Ini bahaya laten, alih-alih membangun malah semakin menjatuhkan self esteem, harga diri hingga lagi-lagi muncul pikiran picik menyalahkan diri sendiri.

Kemampuan mencari solusi memang perlu latihan. Diri adanya dibekali kemampuan itu, namun bantuan dari luar tetap diperlukan. Setidaknya memberikan pilihan yang lebih luas, pembanding sekaligus tularan semangat untuk terus hidup dan bangun kembali ketika terjatuh.

Saya ingin bangun dan bangkit setelah terjatuh. Sudikah anda membantu saya???

dibawah rintik hujan yang tak berhenti, 22 Januari 2015

Kala

Posted on Updated on

Ilustrasi+Mati+LampuPernah ada satu masa ketika semua terasa terang benderang. Semangat terpompa begitu rupa, gerak langkah terpacu cepat, hectic; so passionate. Emm… capek, lelah… tidak juga. Malah justru sebaliknya, tertantang untuk terus dan terus bergerak. Berpikir lebih keras dan mendalam. Assik dan mengasyikan kala itu. Hingga perlahan lampu itu meredup. Semula terang benderang kini lamat temaram. Padam …. oh jangan sampai. Jangan mati dulu, masih ada waktu untuk kembali bersinar.

-galau akhir tahun 2014-

Dia yang sekarang, bukan yang dulu

Posted on

IMG_20140825_160458
Kakak Farras saat bermain ayunan di grand matoa rumah temannya

Dia yang sekarang memang bukan yang dulu. Bayi mungil yang selalu kugendong atau didorong menggunakan kereta bayi ketika jalan-jalan keluar rumah. Dia yang sekarang adalah anak jaman yang setia pada nafasnya. Update, ingin tampil eksis, rempong, kepo dan cerdas. Yup gambaran anak ideal bukan? tugas orang tuanya lah membuka gerbang cakrawala hidup yang maha luas. Agar hidupnya kelak berarti, menjadi diri sendiri dan mampu mencapai aktualisasi setinggi mungkin. Itu tugas kami…. Amin

Berbalik dengan dia yang sekarang. Aku merasa masih seperti yang dulu, tidak beranjak tuwir hehe… padahal tentu itu berbeda. 7 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Kerugian semata jika selama itu tiada hal berguna yang mampu membuat lebih matang, dewasa dan berkarakter. Mudah-mudahan seiring dengan bertambahnya usiaku di bulan ini banyak perbedaan yang telah dibuat. Pencapaian orang tentu berbeda-beda, tolok ukurnya bersifat relatif. Namun bukan berarti kemunduran dianggap sebagai pertumbuhan itu sendiri. Kemajuan dan pertumbuhan adalah sebagaimana adanya. entah apa yang terjadi kelak. Masa kini adalah masa yang bisa diukir… jangan lewatkan

Kebiasaan Menunda

Posted on

time differentMasalah kecil kadang bisa jadi hebat ya!! Seperti tadi pagi, kebiasaan menunda bangun ternyata berakibat fatal. Kondisi jalan yang tidak bisa diprediksi turut membuat murka. Nyaris saja sampai di sekolah jam 8 pagi, yang artinya lewat dari batas waktu masuk anak-anak sekolah. Masih saja ada pak untung lewat, jadi belum ditutup itu pintu gerbang oleh Satpam. Makasih pak untung … !!!!!!

Kebiasaan menunda ini memang harus dibasmi. Sebab menunda-nunda melahirkan sikap enteng, terlalu santai dan tidak disiplin. Seperti kata Covey, sang maestro Habbits itu loh ….. karakter itu terbangun dari kebiasaan. Kebayang jika kebiasaan buruk yang ditanam maka karakter yang muncul seperti apa??

Menunda-nunda ini memang kadang menjadi kebiasaan dari dulu. Hayoo coba siapa yang mengerjakan tugas paper saat kuliah di awal??? jarang rasanya seperti itu. Alih-alih dikerjakan, biasanya kita suka menunda … ‘ah masih satu minggu lagi kok dikumpulkan’ …. Padahal jika dikerjakan lebih awal tentu lebih bagus, minimal kita jadi tahu waktu senggang kita ke depan. Dan membuat perencanaan aktivitas lainnya.

Kebiasaan menunda ini ternyata bisa menjalar dari satu perbuatan ke perbuatan lainnya. Hingga kemudian melekat menjadi mindset… ini yang bahaya. Tidak hanya dalah perkara tugas, tapi juga melekat kedalam kehidupan keseharian. Beruntung orang yang masih menyadari bahwa kebiasaan ini tidaklah bagus, dan harus diubah. Namun celaka bagi seseorang, ketika ia terlena, lupa dan berkawan baik dengan kebiasaan menunda ini, hingga tak menyadari bahwa hal itu berdampak buruk dan menggerogoti dirinya.

Mari belajar membuka diri, mengubah dan menanamkan hal baik kedalamnya []

DESTROYER DAN BOOSTER DIRI

Posted on

Mungkinkah penyebab rasa rendah diri itu karena self image yang rusak?

Cara ketika memandang diri sendiri yang tidak semestinya?

 

Ketika bicara mengenai paradigma maka hal itu menentukan bagaimana cara kita memandang dunia, hal eksternal yang terlihat oleh mata dan pikiran. Bentukan cara memandang itu adalah hasil olah pikiran, yang dipadu padankan dengan laiknya koki yang tengah memasak, mencampur bumbu, bahan pokok, rempah dan seterusnya. Hasil olahan makanan itu bergantung kepada sejauh  mana koki itu mampu meramu dan menyatukannya. Pengalaman juga turut memberi andil sejauh mana cita rasa yang ada mampu disajikan dengan baik. Pun demikian cara kita memandang sesuatu, hasil indrawi yang kemudian dipersepsi. Bahannya tentu adalah pengetahuan, rasa/emosi dan insting. Oleh sebab itu hasilnya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Bahan dasar yang berbeda, pikiran berbeda dan koki yang tidak sama tentu membuat masakan bernama paradigma itu berbeda.

Jika paradigma itu berkait erat dengan dunia eksternal lantas bagaimana dengan keadaan internal, yang juga bisa dirasai oleh indra, dilihat dan dipersepsi melalui citra diri. Akankah mampu membuat pribadi menjadi utuh ketika paradigma lahir dari citra diri yang mumpuni dan baik. Atau keduanya sama sekali tiada berhubungan.

Persepsi diri amat sangat diwarnai oleh self image, tentang bagaimana melihat, merasai dan menafsirkan diri sendiri. Baik buruknya ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengenal kedalaman diri. Pengetahuan tentang hal ini tentu menjadi kekayaan dalam proses kelolanya. Pengetahuan didapat dari sederet pengalaman melalui penelaahan intrinsik terhadap diri, dan ekstrinsik berupa feedback lingkungan sosial dan materi ilmiah dari pendidikan formal dan maupun informal. Penelaahan intrinsik dilakukan dengan melakukan pendalaman terhadap diri, kata hati, dan penilaian terhadap aktivitas pribadi. Penilaian berbeda dengan penghakiman, ibarat proses dan hasil. Penghakiman adalah proses yang sudah berhenti dan mewujud kedalam skala akhir, sementara penilaian adalah hasil sementara yang masih bisa diproses, sehingga masih terbuka akan input baru, kritisi dan sekaligus muara yang tidak tunggal.

Pengetahuan ekstrinsik tentu menjadi pengaya yang baik ketika proses penelaahan instrinsik terlalu sempit, baik itu karena depresi, stress, keragu-raguan dan rendah diri sehingga tidak mampu menghasilkan penilaian pribadi yang luas dan objektif. Pengalaman yang didapat orang lain adalah salah satu contohnya. Dimana kita mampu mengkomparasikan sekaligus menarik rentang jarak yang cukup dekat dengan diri sendiri, akan hal seperti baik dan buruknya melakukan A dan B sekaligus wujud konklusinya berupa tindakan yang masih dapat dilakukan kembali atau harus berhenti karena tidak memberikan manfaat terhadap diri. Lingkungan pergaulan sosial menjadi salah satu elemen penting dalam hal ini. Dimana input menjadi lebih berwarna melalui interaksi yang dinamis dan proses komunikasi yang saling bertukar arah; menjadi komunikan atau komunikator bahkan keduanya dilakukan bersamaan.

Self imaga yang utuh hampir bisa dikatakan mustahil terlahir sempurna, namun upaya yang baik setidaknya mampu mendekatinya. Harapannya adalah menjadi booster yang baik untuk proses development image atau pembangunan kepribadian yang baik. Sehingga dalam titik nadir sekalipun, diri mampu mengangkat citranya sendiri dan bangkit untuk menumbuhkan kepercayaan diri kembali. Melakukan ini dan itu secara mandiri, bebas tanpa pelemahan yang dilakukan oleh pikiran-pikiran negatif yang muncul sebelumnya. Booster ini ibarat batrei yang menggerakkan. Tanpanya alat kan berhenti. Pemakaiannya tentu memiliki batas waktu, oleh karenanya kita membutuhkan daya pengisian ulang, adaptor. Pengisian ulang ini berdasarkan sejauh mana pemakaian dilakukanyang , bisa dalam waktu yang cepat atau lambat. Namun pencegahan lebih baik bukan, maka isilah sebelum menjadi habis. Jika dibiarkan berlarut dan berulang dayanya menjadi tidak optimal dan aus/rusak. Pengisian ulang itu adalah kontemplasi (intrinsik), bergaul, komunikasi dan membaca (ekstrinsik).

Semoga diri ini menjadi lebih baik, move on top dan memiliki daya booster yang konsisten. Self image yang baik tentu mampu membangun diri yang baik. Bukan sebaliknya, merusak dan melemahkan diri. Tidak ada diri yang sempurna, salah, keliru lalu belajar memperbaikinya. Itu lebih baik[]

-ruang TV, awal march’14-

Personality Disorder

Posted on Updated on

The Scream
The Scream

Jujur saja, pagi ini selepas mengantar si sulung ke tempat berenang, muncul keinginan untuk membuka-buka kembali artikel psikologi, khususnya tentang masalah kejiwaan, personality disorder dan istilah lainnya yang berkaitan dengan itu. Dulu bacaan serupa doyan kulahap berjam-jam, di sela-sela belajar di kelas misalnya atau dalam perjalanan dari rumah ke sekolah. Beberapa teorinya masih membekas hingga kini, namun sebagian besar yang lain lenyap menguap. Teori itu kadang ikut membantu mengenal diri, awalnya serampangan saja. Namun makin lama kemampuan itu semakin terasah dengan pola pemikiran yang sudah runut.

Proses tumbuh kembang yang kurang baik dari anak-anak ke remaja, memang menjadi akar masalahnya. Ada letupan-letupan yang tidak memiliki muara, tekanan yang keras hingga sulitnya mencari sosok ideal yang dapat dijadikan imitasi pribadi. Figur yang baik biasanya berfungsi sebagai kiblat imitasi itu. Sebaliknya figur yang salah menjerumuskan pada sikap dan tingkah laku yang salah pula. Namun keduanya tidak banyak dijumpai saat itu. Alih-alih mendapat sandaran penilaian pribadi, yang ada malah kegamangan yang luar biasa. Sulit bersikap, menentukan posisi, bingung dalam mencari aktualisasi diri hingga terkadang menarik diri dari lingkup pergaulan sosial.

Dalam teori disasosiasi, tekanan yang deras, jiwa anak-anak masih belum cukup kuat untuk menahannya. Sebagian melarikan diri kedalam bentuk defense of mechanism nya sendiri; halusinasi, lari dan menciptakan imaji tokoh, diri atau dunia yang ideal dan nyaman. Depresi seolah hilang, namun sesungguhnya ia melekat dalam diri. Jika terbiasa demikian maka tentu berdampak pada proses perkembangan pribadi pada saat remaja lalu dewasa. Ibarat kerat yang melekat, dan darah yang sudah mendaging maka kebiasaan itu akan sulit dilepaskan hingga mengaburnya yang mana realitas dan rekaan pikiran. Ini bahaya bukan??!! Maka buku beserta teori yang menyertainya mampu mengurai benang kusut itu. Menjelaskan secara bertahap, dengan tinjauan yang amat sangat luas disertai sudut pandang yang beragam; mulai dari analisis freudian dan lain sebagainya.

Saat itu bacaan menjadi sandaran penting dalam mengenali masalah, memahami diri dan mencari solusi. Keinginan yang kuat menjadi bara yang mampu menggerakkan diri menjadi action… dan action. Jatuh bangun pada awalnya namun manis di penghujungnya. Hingga kemudian masa manis itu kembali menggayut mendung. Ibarat sejarah peradaban yang berada di puncak-kolaps-lalu klimaks-dan kolaps lagi maka mungkin inilah saat dimana masa manis itu berangsur jatuh ke titik nadir. Kembali bermasalah, kebingungan dan nyaris tak mampu mengenali diri lagi. Solusi tentu mudah ketika masalahnya mampu dikenali dulu. Alih-alih demikian, lupa dan kesal yang kini mendera. Sejurus pertanyaan-pertanyaan yang dulu telah hilang kini mulai kembali menampakan diri. Diawali dengan berbisik, lalu semakin kencang hingga pekak. Tapi aku tak tahu siapa, dan harus menjawab apa???

Manual Book Menjadi Manusia Dewasa (Ortu)

Posted on

Well …. tidak cukup dengan pendidikan di bangku formal saja untuk menjadi orang tua. Pengetahuan dan mental juga memegang peran cukup penting. Bukan sesuatu yang sulit, tapi juga bukan perkara mudah menjadi orang tua yang baik buat anak-anak. Yang kita bicarakan disini adalah tubuh dan jiwa dalam bentuk manusia, yang dinamis, memiliki keinginan, pikiran yang tak berbatas sekaligus emosi. Anak-anak dengan sejuta kelucuan dan semilyar tindak-tanduknya tentu membutuhkan penanganan yang tepat. Jika dalam penggunaan Handphone saja disertakan ‘manual book’ tentang cara operasinya, apalagi dengan anak-anak. Namun sayang seribu sayang, manual book itu tidak bisa didapatkan dengan hanya berdiam diri. Pendidikan formal yang didapat pun semasa kita SD sampai Kuliah jarang ada Mata Kuliah tentang bagaimana berperan dan menjadi orang tua yang tepat dan baik untuk anak-anak.

imagesMaka ini adalah tantangan yang mesti dijawab oleh manusia dewasa. Sejauh mana ia mampu dan siap membawa anak-anaknya menuju gerbang kehidupan yang maha luas itu. Tentang bagaimana ia menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang kelak. Proses interaksi dalam keluarga tentu menjadi kunci. Komunikasi menjadi jembatan apa-apa yang diinginkan oleh masing-masing anggota keluarga sehingga tujuan bersama bisa tercapai. Kita (sebagai manusia dewasa; orang tua) wajib membuka diri, memperluas wawasan sekaligus mengasah emosi terhadap kepekaan diri kita. Anak-anak adalah produk diri kita sekaligus produk kebudayaan yang mengitarinya. Dua hal ini menjadi embrio kepribadian yang akan membuatnya menjadi manusia seutuhnya kelak. Gambarannya tentu harus dicanangkan sejak dini. Minimal imaji, seperti visi yang dapat memandu kita.

Ia ada karena kita. Tuhan menyempurnakannya melalui proses kelahiran dari rahim sang Ibu, istri. Cinta adalah pengikat kebersamaan. Riak dan kerikil apapun yang akan dilaluinya kemudian, adalah bumbu-bumbu kehidupan. Mungkin penguji akan cinta sebagai ikatan itu.

Tidak seperti Ujian Nasional yang hanya dinilai di penghujung masa studi, maka keberhasilan bersama itu mesti dilalui melalui sebuah proses yang baik. Tahap demi tahap, hari demi hari hingga tak terasa kita menjadi tua, kakek dan nenek. Tentu kita membayangkan ketika masa itu datang kehidupan bersama itu tetap terjaga dengan baik, harmonis, sejahtera dalam bingkai memberi dan menerima.

Namun kelak, semua bisa berubah suram kelak. Jika tidak dititi dengan baik tangga demi tangga dari sekarang saat ini. Maka mari melakukannya mulai saat ini

*untuk buah hati kami yang tengah bertumbuh. jadikan kami orang tua yang baik ya Nak untuk kalian…. selalu belajar, mengoreksi diri, berbuat yang terbaik dan senantiasa berupaya mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan kalian. Amiin