Penikmat versus Player

Posted on Updated on

DSCF8736.jpg

Berbekal tutorial sederhana baik itu melalui youtube, blog dan forum diskusi tentang musik, si Kaka sudah memulai latihan sejak 2 minggu lalu. Latihan dasar ini hanya mencakup penguatan otot jari lewat senam jari yang rutin ia lakukan sepulang sekolah dan mengaji. Kadang 10 menit, kadang lebih dari setengah jam sampai ia sendiri mengantuk dan memutuskan untuk segera tidur.

Pada awalnya jari terasa kaku memang, apalagi dengan kondisi memainkan sepuluh jari secara berurutan dan bersamaan. Sedari kecil ia memang kidal, sehingga jari kanan yang lebih lemah dan harus banyak dilatih. Berbeda dengan kita yang dominan di tangan kanan. Sejauh ini ia cukup menikmati aktivitas terbarunya di rumah. Semoga ketika nanti benar-benar dipandu oleh guru les nya, tinggal meneruskan saja dalam artian dasarnya sudah ia kuasai.

Penikmat versus Player

Musik adalah satu diantara sekian hal yang dulu saya gemari. Mendengarkan musik tertentu sudah pasti, hingga kemudian mulai ngeband saat SMP. Walau dengan kemampuan minim dan skill yang jauh di bawah rata-rata teman saat itu. Posisi yang ideal untuk saya saat itu tentu saja pemain cadangan haha…. cadangan vokal dan penabuh drum utama (weiss gaya yah …  ya ialah pan tinggal pukul doanks klo drum hihihi).

Namun lacur, kegiatan ngeband ini tidak berlangsung lama. Masalahnya sederhana saja sebenarnya, banyak musik yang tidak sesuai dengan selera. Memaksakan genre yang saya gemari pun rasanya tidak elok juga ke mereka, hingga akhirnya setelah kurang lebih 6 bulan latihan saya memutuskan mundur dan kembali ke rutinitas awal; belajar, membaca buku dan sederet kegiatan yang sedikit membosankan lainnya. Oya lupa, beruntung saat itu di Bandung masih banyak lapangan terbuka yang bisa dipakai umum. Jadi kegiatan sepakbola menjadi pelipur lara diantara sekian rutinitas ‘garing’ lainnya.

Menjadi pemain tentu berbeda dengan sekedar menjadi penonton. Pun demikian juga dengan penikmat musik. Mendengarkan, mengkoleksi dan mengagumi tentu nilai kepuasannya berada jauh di bawah mereka yang bisa memainkan musik. Dan ini adalah satu dari sekian banyak hal yang saya sesali saat ini – sekedar mendengarkan tanpa bisa memainkan satu alat musikpun.

Menurut beberapa pakar, musik atau seni juga merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang dimiliki kita sebagai manusia. Tidak hanya terbatas pada bilangan angka di bangku sekolah, musik juga mampu membentuk kepribadian sekaligus memperhalus jiwa dan menyeimbangkan kemampuan belahan otak kanan dan kiri. Bahkan dalam kacamata psikologi, musik juga merupakan salah satu bentuk pengaktualisasian diri.

Tidak salah rasanya banyak orang tua yang kemudian memilih memasukkan anak-anaknya mengikuti kursus musik; baik itu melalui alat musik maupun olah vokal. Alat musik yang dipilih tentu disesuaikan dengan minat anak, kemampuan anak dan yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan keuangan orang tua. Sebab kursus saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kepemilikan alat musik. Waktu bimbingan yang hanya menyediakan paling lama 1 jam sekali selama seminggu di tempat les, tentu akan menguap begitu saja tanpa dibarengi dengan pola latihan rutin selama di rumah. Oleh sebab itu,  kepemilikan alat musik menjadi wajib disini sebagai bentuk pengayaan lebih dalam dan sarana praktek yang sudah dipelajari selama di tempat les bersama pembimbing.

Ragam

Untuk menjadi ahli memang dibutuhkan usaha keras dan fokus konsentrasi yang cukup. Motivasi juga harus kuat, apapun bentuknya. Berbuat yang terbaik menjadi kunci keberhasilan hidup seseorang. Mengenalkan ragam aktivitas pilihan kepada anak tentu menjadi nilai tambah baginya; mulai dari bahasa, seni (musik, lukis dan sebagainya), rancang bangun, menulis (essei, cerpen, novel dll) olah tubuh (gymnastic, sepakbola, tari/dance dll) hingga kecapakan sosial melalui keterlibatan kedalam berbagai kelompok sosial yang berbeda. Ini menjadi referensi yang akan sangat berguna baginya kelak, sebelum memutuskan ingin menekuni apa. Bidang akademik tentu menjadi pilihan utama. Ekstensinya yang bisa beragam dengan pilihan yang berbeda tiap anak. Ini yang harus di pekernalkan sedari dini kepada mereka. Dan itu tugas kita selaku orang tua; membuka pintu dan mengenalkan banyak hal untuk mereka. Walau dengan segala keterbatasan yang ada, namun kita harus tetap kuat dan berusaha semampu mungkin.

Kita tidak pernah tau potensi anak kita berada dimana, sampai mereka kemudian mencobanya. Mungkin kadang tertatih, bangkit dan tersungkur. Tapi darisanalah kemudian mereka belajar merajut asa dan menemukan bakat yang kemudian mereka gali dan asah hingga menjadi berguna[].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s