Karakter Orang Dilihat Dari Caranya Membayar Kewajiban Tiap Bulannya

Posted on Updated on

gambar tanda tanya.... tipe orang tuh macam-macam ya???
gambar tanda tanya…. tipe orang tuh macam-macam ya???

AWAL CERITA

Ini adalah cerita dari seorang kawan yang belum lama ini punya usaha yang lumayan di bidang makanan dan minuman. Usaha itu dirintisnya sendiri melalui bantuan suami dan adiknya. Hingga tahun pertama berjalan, ada tawaran untuk masuk sebagai rekanan penyedia makan siang dan sore di salah satu sekolah menengah yang cukup bagus di kawasan Jakarta Utara. Gayung pun bersambut dan terjalinlah kerjasama itu hingga berlanjut ke sekolah kedua dan seterusnya.

Nah cerita yang kemudian dishare sambil minum teh itu adalah tentang watak atau karakter para orang tua dalam membayar jasa cateringnya itu. Menarik juga sih, bagaimana ibu dua anak ini dengan ba..bi..bu bercerita bahwa karakter orang bisa dilihat dari cara mereka membayar tiap bulannya. Ada yang rutin di awal bulan, tengah bulan hingga akhir bulan. Ada juga yang mesti diingatkan (melalui sms, email, chat dsb), ada yang membayar sukarela (atas kesadaran sendiri tentunya) namun ada juga yang ndablek (di sms/email/telp tetep aja nggak mau bayar hehe…). Nah kategori orang yang terakhir ini menurutnya cuma Tuhan yang tahu.

Sebagai penyedia jasa catering, tentunya ibu muda ini harus menyiapkan modal setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan makan siang dan makan sore siswa-siswi di sekolah itu. Makin banyak yang menjadi peserta/member, tentu makin banyak modal yang disiapkan. Ketika awal pembicaraan dengan pihak sekolah, kerjasama itu berlaku setahun (untuk kemudian dievaluasi dan diperbaharui jika laik). Mekanisme pemesanan, pembayaran dan hal lainnya dengan kebutuhan siswa terhadap makan siang, diserahkan sepenuhnya kepada penyedia jasa catering dengan para orang tua. Sekolah hanya menjadi ‘watchdog’ saja, fasilitator dan tidak masuk kedalam tataran tekhnis. Program pun berjalan. Promosi dilakukan sederhana saja melalui pembuatan brosur pemesanan dan email yang kemudian dibagikan berupa daftar menu perbulannya, tentunya setelah melalui screening dari pihak admin sekolah.

Dari feedback yang diterima hampir 50% para orang tua menyetujui untuk melakukan pembayaran di awal, 30% di tengah bulan dan sisanya bersedia membayar di akhir bulan dan atau di bulan baru berikutnya. Respon ini tentu diterima dengan sangat senang oleh kawan saya ini, menurutnya modal yang harus dipersiapkan tidaklah terlalu besar karena sebagian besar orang tua sanggup membayar di muka. Menurut estimasinya, untuk memenuhi kebutuhan siswa di sekolah ybs, tidak kurang dari Rp. 1juta perharinya. Ini mulai dari bahan pokok lauk pauk, nasi, ongkos kurir, koki dan asisten. Maka jika dikalikan satu minggu sudah 5juta. Dikali 1 bulan Rp. 25jt, dan jika dikalikan dengan 3 sekolah yang ia layani maka total modal yang harus ia siapkan adalah sebesar Rp.75juta. Tentu buat kawan saya ini, yang memilih mundur dari tempatnya bekerja di perusahaan farmasi dulu, uang sebesar 75juta itu bukanlah jumlah yang sedikit. Namun dengan kesediaan pembayaran di muka, maka sedikitnya beban itu terangkat dengan sendirinya.

ayoo pilih yang mana :-)
ayoo pilih yang mana 🙂

KETIKA USAHA BERJALAN

Memasuki bulan ke-3 usaha yang dirintisnya ini berkembang cukup bagus, terbukti dengan makin bertambahnya member siswa dan juga sekolah yang mengajaknya untuk menjadi rekanan. Aktivitas ngeblog dan kongkow yang biasanya saban hari ia lakukan dulu sudah mulai berkurang, maklum saja menurutnya soal rasa harus pas. Walau untuk urusan masak ia serahkan pada juru masak, tapi urusan bumbu, komposisi dan pengepakan harus ia sendiri yang pegang. Maka berjalanlah usaha itu hingga memasuki bulan ke-5. Di usia yang hampir memasuki setangah tahun ini, tingkat disiplin para orang tua mulai kendor. Pembayaran yang pada awalnya cukup lancar kini mulai berangsur berubah. Seperti di bulan ke-4 lalu, ia hanya menerima pembayaran kurang dari 50% saja dari total jumlah member yang ada. Sisanya baru masuk di bulan ke-5. Bahkan hingga ia bercerita padaku pagi tadi, sampai bulan ke-9 ini masih ada orang tua yang menunggak selama 3 bulan. Sejurus cara pun dilakukan, mulai dari upaya mengingatkan secara santun dan halus hingga menelepon laiknya debt collector. Sambil menyeruput teh hangat pagi ini, sobatku ini terlihat rasa kesal dan geram yang tidak implisit lagi. Dari gestures, cara bicara hingga cara nyeruputnya sudah berbeda ketika jam 7 tadi kami bertemu. Kini ia terlihat cukup emosi dengan muka sedikit memerah.

‘Lalu apa yang bisa kubantu teh?’ tanyaku. ‘Ahh sudahlah, kamu dengarkan saja ceritaku’ pintanya.

Masih menurutnya, dari pengalaman berusaha itu ternyata watak orang berbeda-beda. Ada yang sadar akan kewajibannya, ada yang seolah tidak peduli, ada yang masa bodoh bahkan ada yang sekedar ingin selamat tanpa mengindahkan kewajibannya dulu. Karena ceritanya itu (curhat tepatnya) cukup panjang, maka kuringkas saja cerita si Teteh tentang wakat atau karater orang itu menjadi begini :

ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow... kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe
ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow… kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe..

a. Yang Membayar Tepat Waktu, sesuai dengan kesadaran sendiri (tanpa perlu diingatkan)

Tipe ini adalah tipe orang yang mandiri, jujur dan penuh integritas. Ia sadar akan hak dan kewajibannya. Bisa dikatakan tipe ini menduduki piramida teratas dari golongan orang yang baik. Dalam arti mereka yang selalu berdisiplin, mendahulukan sesuatu tanpa perlu diperintah dan diingatkan. Dalam dirinya seolah ada timer dan pengingat. Dalam konteks dengan anak, tipe ini termasuk kedalam kategori orang tua yang sayang anak. Takut jika anak-anaknya memakan makanan yang haram; belum dibayar (sama dengan mencuri bukan??). Tipe orang tua seperti ini juga amat sangat concern dengan waktu, sebab baginya waktu bisa dikalahkan. Bisa diatur dengan tata kelola yang baik. Setumpuk aktivitas pekerjaan, urusan rumah bahkan arisan sekalipun bisa di urut dan dibuat skala prioritas sehingga kewajiban-kewajiban bulanan bisa tertunaikan.

b. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu tapi dengan kesadaran sendiri

Tipe yang kedua adalah tipe ‘setia menunggu’. Tipe ini adalah tipe dengan kualitas sedikit di bawah tipe pertama. Kesadarannya untuk memenuhi kewajiban tentu harus diapresiasi positif. Namun kelalaiannya terhadap waktu menjadi nilai minus. Tipe ini masih tergolong kedalam orang dengan kualitas jujur dan integritas yang baik. Hanya saja ia sedikit menyepelekan waktu. Mungkin bisa jadi penyebabnya kurang memiliki perencanaan yang baik terhadap waktu, kesibukan yang menggunung dan aktivitas lainnya. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk orang tua yang sayang anak, dan menunda pekerjaan. Jika bisa nanti kenapa harus sekarang, kira-kira begitu motonya.

c. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu dan harus selalu diingatkan

Adapun tipe ini adalah golongan ketiga dari piramida golongan orang baik. Hanya saja ada masalah dengan ingatan. Bisa kodrati atau kurang konsentrasi pada masalah-masalah tertentu. Tipe ini biasanya sering menunda-nunda. Jika muslim, mungkin saja ia suka sembahyang di akhir waktu. Ia bermasalah pada perencanaan, biasanya orangnya eazy going alias let water flow… ya begitu aja deh. Ikut aja arah angin, baru ketika anginnya kencang ia mulai menyiapkan bekal jaket dan payung. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk dalam kategori orang tua yang sayang anak, hanya ia membutuhkan pendamping saja untuk selalu mengingatkan 🙂

d. Yang katanya bersedia membayar, tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya. Ternyata ada masalah pribadi

Kata tukul tipe ini adalah ‘shy-shy cat’ ….. malu-malu kucing gimana gitu. Mungkin karena malu atau jaga gengsi atau hal lainnya sehingga tidak berterus terang. Namun setelah 3 bulan kemudian, tiba-tiba ia menunaikan kewajibannya sambil bercerita bahwa ia memiliki financial problem di rumah. Entah ada kasus perceraian, keluar dari pekerjaan, pindah rumah dan lain sebagainya. Tipe ini menduduki kelompok ke-4 dari piramida orang baik, hanya saja ketidakterus terangannya membuat orang menjadi ragu. Dalam konteks anak, ia termasuk tipe orang tua yang sayang anak, hanya saja mungkin situasi dan kondisi membuatnya demikian.

e. Yang katanya bersedia membayar, punya uang (cukup kaya), tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya

Aneh tapi nyata, rupanya tipe ini masih dipelihara oleh alam. Dan eksistensinya nyata hehe… Entah apa yang ada di dalam kepala orang bertipe ini, namun yang pasti setelah semua usaha dilakukan; remainder, email, sms, bahkan telp…. jawabannya tampak selalu meyakinkan … tar sok dan tar sok. Padahal dandanannya nyecis, mobil juga baru ganti. Tapi bicara kewajiban, nihil. Mungkin bisa saja ia termasuk orang yang gemar menuntut hak tapi lalai akan kewajiban. Dalam konteks anak, kata si teteh, tipe ini adalah tipe orang tua yang tidak sayang anak. Karena ia membiarkan anaknya memakan makanan yang (maaf) tidak halal. Juga memberikan contoh yang tidak baik, karena seperti berbohong saja ketika ia mengakatan ‘tar sok’. Dalam hirarki piramida orang baik, tipe ini sepertinya tidak laik masuk kedalamnya.

secangkir teh hangat di pagi hari... asseekk
secangkir teh hangat di pagi hari… asseekk

TEH PUN HABIS

Teh yang tadi menemani kami ngobrol pun sudah habis. Pertanda kalau hari beranjak siang. Artinya kami harus menunaikan urusan kami masing-masing. Aku dengan pekerjaanku, dan si teteh dengan usaha cateringnya. Sebelum berpisah aku sempat berbisik ke telinga si teteh…

‘eh Teh, sebenarnya aku juga lagi coba buka usaha catering kayak teteh… mumpung kesempatannya lagi ada teh’ …. kataku. ‘Tapi mudah-mudahan sih orang tua di tempat aku, termasuk kedalam piramida orang baik semua, nggak kayak teteh’ hihihi……

Aku pun bergegas pergi. Dering telp berbunyi, rupanya dari salah satu klien ku. Mungkin ia menanyakan kabar desain profil WO nya yang sedang kukerjakan 3 hari ini. Sementara si Teteh pun sama bergegas menuju mobil avanza nya.

‘Lik… jangan lupa ya keep contact terus’

‘Siap Teh …. ‘ jawabku.

-Karang Tengah, Februari 2014-

Advertisements

3 thoughts on “Karakter Orang Dilihat Dari Caranya Membayar Kewajiban Tiap Bulannya

    Nandini Sigaranati said:
    February 25, 2014 at 9:54 am

    hehehe..baca cerita ini kocak banget..paling sebel kalo ada temen ngutang, terus punya kebiasaan :

    e. Yang katanya bersedia membayar, punya uang (cukup kaya), tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya

    nah, ini yang repot plus bikin dongkol. dari niatnya mau bantu, eh malah jadi ilfil sama teman sendiri..nice artikel maas 🙂

      alikemulyadik responded:
      February 28, 2014 at 4:13 am

      hehe… salam kenal mba. Eittss apa jangan-jangan pernah punya pengalaman yang sama ya?? 😉

        Nandini Sigaranati said:
        February 28, 2014 at 4:57 am

        iya mas hahaaha..meskipun tmn baik tapi kalo soal keuangan kan masalah sensitif ya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s