catering

Manajemen Resiko; Menaikan Harga Jual Apakah Solutif ???

Posted on

Ada kebiasaan rutin tiap pagi ketika di jalan yang kami lakukan, khususnya saya sih… hehe… Apa coba, yups mendengarkan radio. Dari sekian channel yang ada saya memilih Delta FM untuk waktu siar antara jam 6 pagi sampai jam 9 nan. Acaranya cukup menghibur dan berisi konten yang cukup informatif. Biasanya sang pemandu acara “Asri Wellas & Stenny Agustaf” melemparkan satu dua permasalahan yang ringan tapi cukup penting untuk dibahas. Lalu di ujung telp ramai orang menelphone dan menanggapi. Di sessi 2 pagi ini, terlontar satu tema yang unik yaitu tentang ‘Manajemen Resiko’ pada usaha atau toko/butik/bisnis/dagang. Awalnya biasa saja tapi kemudian menjadi penting ketika ‘Manajemen Resiko’ ini tidak dijadikan sebagai satu kesatuan sistem pada usaha yang dijalankan. Sementara resiko dari sebuah usaha adalah keniscayaan; mulai dari pasar yang tidak menentu, fluktuasi bahan baku, bencana alam hingga ‘kenakalan’ anak buah/pegawai.

Pada point ‘kenakalan pegawai’ banyak kasus yang kemudian muncul adalah korupsi kecil-kecilan yang dilakukan, namun berjamaah dan rutin dilakukan tiap bulan. Bagaimanapun juga riak seperti ini tentu akan mengganggu keberlangsungan usaha yang dijalankan, mulai dari merosotnya nilai penjualan (keuntungan) hingga raibnya beberapa barang pada saat dilakukan Stock off name. Jika dibiarkan berlarut tentu membawa masalah besar dikemudian hari, oleh sebab itu ‘Manajemen Resiko’ menjadi penting; bukan hanya sebatas pada upaya penanggulangan ketika hal itu terjadi namun terlebih utama adalah pencegahan sebelum hal itu terjadi. Oleh sebab itu perlu sebuah sistem yang terpola dan terintegrasi secara baik ketika menjalankan sebuah usaha, dan salah satu komponen dalam sistem itu adalah ‘Manajemen Resiko’.

Secara teoritis istilah manajemen resiko ini bukanlah hal baru, di bangku kuliah khususnya dalam mata kuliah manajemen (baik umum, SDM hingga MK manajemen pemerintahan) sudah dipaparkan secara gamblang apa itu manajemen resiko. Mulai dari paparan para ahli hingga beberapa contoh dalam bentuk terapannya. Jadi silahkan saja baca kembali ya buku-buku anda semua yang sudah teronggok rapi itu di rumah hehe… Namun yang pasti, bagi saya manajemen resiko ini ternyata salah satunya adalah berpengaruh pada produksi dan harga jual barang yang ditawarkan. Artinya penghitungan perlu dilakukan secara cermat sebelum usaha dijalankan, dan salah satu komponen ‘manajemen resiko’ seperti tindak penyelewengan bahan baku oleh pegawai, mark up harga hingga kecurangan dalam bentuk jasa yang ditawarkan oleh tim penjualan perlu dihitung juga. Sehingga harga jual yang ada sudah mencakup semua; disamping harga sewa toko, honor pegawai, fluktuasi harga dan keuntungan bersihnya.

Namun demikian, setelah dipikir-pikir jika hal ini dimasukan kedalam tabel perhitungan maka imbasnya adalah kenaikan harga jual, sementara untuk saat ini rasanya tidak mungkin menaikan begitu saja harga jual yang ada. Lalu piye donks … ????

Sambil Merenung dan Membaca Diktat Kuliah Aja

-Pangkalan Jati CInere, Sept’15-

Advertisements

Lahan baru, jatah baru, masalah baru (seputar pembelajaran membangun bisnis makanan sederhana)

Posted on

delivery-dcSekira satu bulan lalu kami menerima pesanan dari dua sekolah untuk menyediakan bekal makan siang ananda. Satu sekolah letaknya di daerah Depok dan satu lagi di daerah Darmawangsa Jaksel. Permintaan ini keluar dari beberapa orang tua yang merasa kerepotan harus menyediakan bekal makan siang anandanya di sekolah. Pagi mengantar ke sekolah, lalu balik ke rumah memasak dan siangnya kembali ke sekolah untuk mengantarkan bekal. Sorenya mereka harus kembali lagi ke sekolah (atau menunggu dari siang setelah mengantar makananan) untuk menjemput pulang ananda. Sungguh merepotkan bukan??? Dan inilah yang banyak terjadi pada beberapa sekolah di kota-kota besar.

Peluang dan Permintaan

Pangsa pasar bekal makan siang bagi anak sekolah ternyata cukup terbuka. Mengingat jajanan yang ada secara umum kurang sehat, apalagi jajanan diluaran yang tidak tahu terbuat dari bahan apa, belum lagi pengawet makanan, MSG dan borax formalin, hingga kerepotan para orang tua yang hilir mudik setiap siang untuk sekedar mengantarkan bekal makan siang tersebut. Semula kami tidak sampai berpikir jauh demikian. Ketersediaan bekal makan siang yang semula hanya diperuntukkan bagi sekolah tempat si sulung dan bundanya mengajar (internal) kini meluas seiring dengan tersebarnya informasi jasa yang kami buat sekira satu atau dua tahun lalu. Jika tujuan semula bersifat internal saja, namun memang melihat pangsa pasar yang masih terbuka membuat godaan meluaskan jejaring semakin besar. Maka sekira 6 bulan lalu informasi yang berkenaan pengantaran makanan, menu harian dan kegiatan lainnya (insidentil) rajin diupload melalui medsos (twitter dan blog). Maka tak heran ada saja permintaan yang datang, baik itu yang datang personal (rantangan rumah) hingga penyediaan bekal makan siang di sekolah. Dan baru-baru ini kami pun menyanggupi member baru di dua sekolah tersebut.

Masalah dan bagi hasil

Baiklah ini murni masuk kedalam wilayah bisnis. Jika mungkin semula niatan para orang tua memakai jasa kami dengan maksud sekedar memasak makanan sehat dan kemudian mengantarkannya ke sekolah tempat mereka bersekolah, maka lamat laun ketika jumlah member semakin banyak dengan keikutsertaan kelas lain, maka tentu ini menjadi perhatian sekolah. Apalagi sekolah yang memiliki koperasi dan kantin sendiri yang lamat laun lahan bisnisnya tergerus karena kehadiran jasa katering dari luar. Tentu ini menjadi persoalan; di satu sisi para orang tua yang tidak sreg dengan pola dan menu kantin yang terlalu dewasa untuk anak-anak mereka, sementara di sisi lain ada kepentingan bisnis dari sekolah yang cukup menggiurkan dan harus tergerus. Maka kemudian harus dicapai titik temu; antara orang tua yang bersikeras mengambil jasa penyedia makanan dari luar, pihak sekolah dengan kepentingan bisnisnya dan kami sebagai pihak yang disewa untuk menyediakan jasa tersebut (yang kebetulan dari luar/bukan dari orang tua yang menyekolahkan anaknya disana).

Semula kami pikir ini akan berjalan lancar saja, mengingat apa yang kini berjalan bermula dari beberapa orang saja dan memang tidak secara langsung melalui sekolah (formalnya). Toh orang tua sendiri merasa terbantu; mereka tidak perlu repot memasak, tidak perlu bulak balik mengantar dan anak-anak juga senang dengan makanan sejat, fresh dan ala rumahan yang kami sediakan. Maka sekolahpun menjadi lancar bukan; mereka tercukupi nutrisinya, orang tua happy dan pembelajaranpun lancar selancar-lancarnya. Namun demikian, rupanya tidak bisa berlangsung begitu saja. Ada proses yang mesti dilalui, tentu ini berhubungan dengan bisnis, jujurnya adalah share fee. Namun jika kemudian proses ini dilalui, tentu kami sebagai penyedia jasa juga bisa meminta konsekuensi donks, berupa kebebasan meluaskan pangsa pasar di sekolah tersebut. Karena jujur saja apa yang sudah berjalan saat ini bermula dari inisiasi sendiri (orang tua dan gencarnya kami meluaskan pasar/jejaring informasi) tanpa adanya bantuan dari pihak sekolah itu sendiri.

Namun tentu pada akhirnya semua harus duduk satu meja untuk mencari titik temu dan jalan keluar terbaik. Dan ini masih dicari, bentuk seperti apa yang sama-sama menguntungkan semua pihak. Apa ada ide dari kawan-kawan semua tentang hal ini ????

*depok, 18 maret 2015

Karakter Orang Dilihat Dari Caranya Membayar Kewajiban Tiap Bulannya

Posted on Updated on

gambar tanda tanya.... tipe orang tuh macam-macam ya???
gambar tanda tanya…. tipe orang tuh macam-macam ya???

AWAL CERITA

Ini adalah cerita dari seorang kawan yang belum lama ini punya usaha yang lumayan di bidang makanan dan minuman. Usaha itu dirintisnya sendiri melalui bantuan suami dan adiknya. Hingga tahun pertama berjalan, ada tawaran untuk masuk sebagai rekanan penyedia makan siang dan sore di salah satu sekolah menengah yang cukup bagus di kawasan Jakarta Utara. Gayung pun bersambut dan terjalinlah kerjasama itu hingga berlanjut ke sekolah kedua dan seterusnya.

Nah cerita yang kemudian dishare sambil minum teh itu adalah tentang watak atau karakter para orang tua dalam membayar jasa cateringnya itu. Menarik juga sih, bagaimana ibu dua anak ini dengan ba..bi..bu bercerita bahwa karakter orang bisa dilihat dari cara mereka membayar tiap bulannya. Ada yang rutin di awal bulan, tengah bulan hingga akhir bulan. Ada juga yang mesti diingatkan (melalui sms, email, chat dsb), ada yang membayar sukarela (atas kesadaran sendiri tentunya) namun ada juga yang ndablek (di sms/email/telp tetep aja nggak mau bayar hehe…). Nah kategori orang yang terakhir ini menurutnya cuma Tuhan yang tahu.

Sebagai penyedia jasa catering, tentunya ibu muda ini harus menyiapkan modal setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan makan siang dan makan sore siswa-siswi di sekolah itu. Makin banyak yang menjadi peserta/member, tentu makin banyak modal yang disiapkan. Ketika awal pembicaraan dengan pihak sekolah, kerjasama itu berlaku setahun (untuk kemudian dievaluasi dan diperbaharui jika laik). Mekanisme pemesanan, pembayaran dan hal lainnya dengan kebutuhan siswa terhadap makan siang, diserahkan sepenuhnya kepada penyedia jasa catering dengan para orang tua. Sekolah hanya menjadi ‘watchdog’ saja, fasilitator dan tidak masuk kedalam tataran tekhnis. Program pun berjalan. Promosi dilakukan sederhana saja melalui pembuatan brosur pemesanan dan email yang kemudian dibagikan berupa daftar menu perbulannya, tentunya setelah melalui screening dari pihak admin sekolah.

Dari feedback yang diterima hampir 50% para orang tua menyetujui untuk melakukan pembayaran di awal, 30% di tengah bulan dan sisanya bersedia membayar di akhir bulan dan atau di bulan baru berikutnya. Respon ini tentu diterima dengan sangat senang oleh kawan saya ini, menurutnya modal yang harus dipersiapkan tidaklah terlalu besar karena sebagian besar orang tua sanggup membayar di muka. Menurut estimasinya, untuk memenuhi kebutuhan siswa di sekolah ybs, tidak kurang dari Rp. 1juta perharinya. Ini mulai dari bahan pokok lauk pauk, nasi, ongkos kurir, koki dan asisten. Maka jika dikalikan satu minggu sudah 5juta. Dikali 1 bulan Rp. 25jt, dan jika dikalikan dengan 3 sekolah yang ia layani maka total modal yang harus ia siapkan adalah sebesar Rp.75juta. Tentu buat kawan saya ini, yang memilih mundur dari tempatnya bekerja di perusahaan farmasi dulu, uang sebesar 75juta itu bukanlah jumlah yang sedikit. Namun dengan kesediaan pembayaran di muka, maka sedikitnya beban itu terangkat dengan sendirinya.

ayoo pilih yang mana :-)
ayoo pilih yang mana 🙂

KETIKA USAHA BERJALAN

Memasuki bulan ke-3 usaha yang dirintisnya ini berkembang cukup bagus, terbukti dengan makin bertambahnya member siswa dan juga sekolah yang mengajaknya untuk menjadi rekanan. Aktivitas ngeblog dan kongkow yang biasanya saban hari ia lakukan dulu sudah mulai berkurang, maklum saja menurutnya soal rasa harus pas. Walau untuk urusan masak ia serahkan pada juru masak, tapi urusan bumbu, komposisi dan pengepakan harus ia sendiri yang pegang. Maka berjalanlah usaha itu hingga memasuki bulan ke-5. Di usia yang hampir memasuki setangah tahun ini, tingkat disiplin para orang tua mulai kendor. Pembayaran yang pada awalnya cukup lancar kini mulai berangsur berubah. Seperti di bulan ke-4 lalu, ia hanya menerima pembayaran kurang dari 50% saja dari total jumlah member yang ada. Sisanya baru masuk di bulan ke-5. Bahkan hingga ia bercerita padaku pagi tadi, sampai bulan ke-9 ini masih ada orang tua yang menunggak selama 3 bulan. Sejurus cara pun dilakukan, mulai dari upaya mengingatkan secara santun dan halus hingga menelepon laiknya debt collector. Sambil menyeruput teh hangat pagi ini, sobatku ini terlihat rasa kesal dan geram yang tidak implisit lagi. Dari gestures, cara bicara hingga cara nyeruputnya sudah berbeda ketika jam 7 tadi kami bertemu. Kini ia terlihat cukup emosi dengan muka sedikit memerah.

‘Lalu apa yang bisa kubantu teh?’ tanyaku. ‘Ahh sudahlah, kamu dengarkan saja ceritaku’ pintanya.

Masih menurutnya, dari pengalaman berusaha itu ternyata watak orang berbeda-beda. Ada yang sadar akan kewajibannya, ada yang seolah tidak peduli, ada yang masa bodoh bahkan ada yang sekedar ingin selamat tanpa mengindahkan kewajibannya dulu. Karena ceritanya itu (curhat tepatnya) cukup panjang, maka kuringkas saja cerita si Teteh tentang wakat atau karater orang itu menjadi begini :

ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow... kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe
ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow… kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe..

a. Yang Membayar Tepat Waktu, sesuai dengan kesadaran sendiri (tanpa perlu diingatkan)

Tipe ini adalah tipe orang yang mandiri, jujur dan penuh integritas. Ia sadar akan hak dan kewajibannya. Bisa dikatakan tipe ini menduduki piramida teratas dari golongan orang yang baik. Dalam arti mereka yang selalu berdisiplin, mendahulukan sesuatu tanpa perlu diperintah dan diingatkan. Dalam dirinya seolah ada timer dan pengingat. Dalam konteks dengan anak, tipe ini termasuk kedalam kategori orang tua yang sayang anak. Takut jika anak-anaknya memakan makanan yang haram; belum dibayar (sama dengan mencuri bukan??). Tipe orang tua seperti ini juga amat sangat concern dengan waktu, sebab baginya waktu bisa dikalahkan. Bisa diatur dengan tata kelola yang baik. Setumpuk aktivitas pekerjaan, urusan rumah bahkan arisan sekalipun bisa di urut dan dibuat skala prioritas sehingga kewajiban-kewajiban bulanan bisa tertunaikan.

b. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu tapi dengan kesadaran sendiri

Tipe yang kedua adalah tipe ‘setia menunggu’. Tipe ini adalah tipe dengan kualitas sedikit di bawah tipe pertama. Kesadarannya untuk memenuhi kewajiban tentu harus diapresiasi positif. Namun kelalaiannya terhadap waktu menjadi nilai minus. Tipe ini masih tergolong kedalam orang dengan kualitas jujur dan integritas yang baik. Hanya saja ia sedikit menyepelekan waktu. Mungkin bisa jadi penyebabnya kurang memiliki perencanaan yang baik terhadap waktu, kesibukan yang menggunung dan aktivitas lainnya. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk orang tua yang sayang anak, dan menunda pekerjaan. Jika bisa nanti kenapa harus sekarang, kira-kira begitu motonya.

c. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu dan harus selalu diingatkan

Adapun tipe ini adalah golongan ketiga dari piramida golongan orang baik. Hanya saja ada masalah dengan ingatan. Bisa kodrati atau kurang konsentrasi pada masalah-masalah tertentu. Tipe ini biasanya sering menunda-nunda. Jika muslim, mungkin saja ia suka sembahyang di akhir waktu. Ia bermasalah pada perencanaan, biasanya orangnya eazy going alias let water flow… ya begitu aja deh. Ikut aja arah angin, baru ketika anginnya kencang ia mulai menyiapkan bekal jaket dan payung. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk dalam kategori orang tua yang sayang anak, hanya ia membutuhkan pendamping saja untuk selalu mengingatkan 🙂

d. Yang katanya bersedia membayar, tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya. Ternyata ada masalah pribadi

Kata tukul tipe ini adalah ‘shy-shy cat’ ….. malu-malu kucing gimana gitu. Mungkin karena malu atau jaga gengsi atau hal lainnya sehingga tidak berterus terang. Namun setelah 3 bulan kemudian, tiba-tiba ia menunaikan kewajibannya sambil bercerita bahwa ia memiliki financial problem di rumah. Entah ada kasus perceraian, keluar dari pekerjaan, pindah rumah dan lain sebagainya. Tipe ini menduduki kelompok ke-4 dari piramida orang baik, hanya saja ketidakterus terangannya membuat orang menjadi ragu. Dalam konteks anak, ia termasuk tipe orang tua yang sayang anak, hanya saja mungkin situasi dan kondisi membuatnya demikian.

e. Yang katanya bersedia membayar, punya uang (cukup kaya), tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya

Aneh tapi nyata, rupanya tipe ini masih dipelihara oleh alam. Dan eksistensinya nyata hehe… Entah apa yang ada di dalam kepala orang bertipe ini, namun yang pasti setelah semua usaha dilakukan; remainder, email, sms, bahkan telp…. jawabannya tampak selalu meyakinkan … tar sok dan tar sok. Padahal dandanannya nyecis, mobil juga baru ganti. Tapi bicara kewajiban, nihil. Mungkin bisa saja ia termasuk orang yang gemar menuntut hak tapi lalai akan kewajiban. Dalam konteks anak, kata si teteh, tipe ini adalah tipe orang tua yang tidak sayang anak. Karena ia membiarkan anaknya memakan makanan yang (maaf) tidak halal. Juga memberikan contoh yang tidak baik, karena seperti berbohong saja ketika ia mengakatan ‘tar sok’. Dalam hirarki piramida orang baik, tipe ini sepertinya tidak laik masuk kedalamnya.

secangkir teh hangat di pagi hari... asseekk
secangkir teh hangat di pagi hari… asseekk

TEH PUN HABIS

Teh yang tadi menemani kami ngobrol pun sudah habis. Pertanda kalau hari beranjak siang. Artinya kami harus menunaikan urusan kami masing-masing. Aku dengan pekerjaanku, dan si teteh dengan usaha cateringnya. Sebelum berpisah aku sempat berbisik ke telinga si teteh…

‘eh Teh, sebenarnya aku juga lagi coba buka usaha catering kayak teteh… mumpung kesempatannya lagi ada teh’ …. kataku. ‘Tapi mudah-mudahan sih orang tua di tempat aku, termasuk kedalam piramida orang baik semua, nggak kayak teteh’ hihihi……

Aku pun bergegas pergi. Dering telp berbunyi, rupanya dari salah satu klien ku. Mungkin ia menanyakan kabar desain profil WO nya yang sedang kukerjakan 3 hari ini. Sementara si Teteh pun sama bergegas menuju mobil avanza nya.

‘Lik… jangan lupa ya keep contact terus’

‘Siap Teh …. ‘ jawabku.

-Karang Tengah, Februari 2014-