memulai-usaha

Wawantawa Dengan Mang Bonju (bag2)

Posted on Updated on

farrasIde pada dasarnya tidak ada yang genuine original. Ia lahir dan tumbuh sebagai penyempurna, penambah nilai hingga pelengkap dari sederetan ide yang telah ada sebelumnya. Keberanian mengambil keputusan, perhitungan yang matang akan segala resiko dan sekaligus kejernihan melihat peluang, pada akhirnya  yang menentukan keberhasilan, disamping tentunya keberuntungan. Khusus yang terakhir jika mengingat prinsip law of attraction, keberuntungan tentu enggan datang begitu saja tanpa perjuangan dan usaha keras yang dilakukan terus menerus. Pada prinsipnya sama seperti apa yang diutarakan walikota Bandung beberapa waktu lalu saat ditanya apakah ia akan maju dalam pilgub DKI, secara diplomatis beliau menjawab ‘semua akan indah pada waktunya’ hehe…

brownies-amandaProses pertumbuhan bisnis kuliner jika dilakukan secara benar bisa meledak dengan cepat. Jadi teringat beberapa tahun lalu ketika Amanda Brownies masih diproduksi secara sederhana di sebuah warung kecil di pinggiran jalan Margahayu. Saat itu tentu tidak akan ada yang menyangka ide brownies kukus bisa melejit dengan cepat di bawah nama Amanda (kependekan dari Anak Mantu Dagang). Masih lekat juga bagaimana paman saya (adiknya Bapak) yang bekerja sebagai pemasar disana merasakan sulitnya masa-masa awal bisnis itu dibangun, namun dengan semangat kerja keras, kejernihan melihat peluang dan sedikit keberuntungan Amanda menjelma menjadi raksassa produsen oleh-oleh khas Bandung menyaingi Kartika Sari dan usaha sejenisnya yang telah ada lebih dulu.

Pun demikian dengan cireng salju (aci digoreng) yang pertumbuhannya terus merangkak naik – sebagaimana diamini oleh salah satu pendirinya Najib Wahab – beberapa hari lalu saat anak saya mewawancarai beliau untuk penunaian tugas kewirausahaannya di sekolah. Sebagai salah satu pendiri – disamping dua sosok penting lainnya sebagai ahli pemasar dan penguatan branding serta finance dan human resources – keberadaan cireng ini bukanlah yang pertama di jakarta, sebelumnya sudah ada produk serupa yang booming terlebih dahulu. Namun demikian, peluang panganan atau kuliner memang cukuplah besar, tidak bisa dimonopoli hanya oleh segelintir orang atau sekelompok saja. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, inovasi dan kepercayaan diri akan produk yang diusung, maka hasilnya luar biasa. Walau masih dalam proses pertumbuhan, namun melihat dari progress yang ada, usaha kawan saya ini secara optimis diakuinya akan semakin besar dan menjangkau luas.

Ada beberapa point penting dari isi wawancara anak saya beserta kelompoknya kemarin. Mungkin lain kali saya akan tulis sebagai sambungan bagian kedua ini hehe….. sekarang saya mau bikin proposal buku tahunan sekolah dulu dan menyelesaikan beberapa ribu eksemplar cetakan yang sudah didesain seminggu ini. Maklum dah deadline 🙂

Karang Tengah, 23 Maret 2016

Advertisements

Manajemen Resiko; Menaikan Harga Jual Apakah Solutif ???

Posted on

Ada kebiasaan rutin tiap pagi ketika di jalan yang kami lakukan, khususnya saya sih… hehe… Apa coba, yups mendengarkan radio. Dari sekian channel yang ada saya memilih Delta FM untuk waktu siar antara jam 6 pagi sampai jam 9 nan. Acaranya cukup menghibur dan berisi konten yang cukup informatif. Biasanya sang pemandu acara “Asri Wellas & Stenny Agustaf” melemparkan satu dua permasalahan yang ringan tapi cukup penting untuk dibahas. Lalu di ujung telp ramai orang menelphone dan menanggapi. Di sessi 2 pagi ini, terlontar satu tema yang unik yaitu tentang ‘Manajemen Resiko’ pada usaha atau toko/butik/bisnis/dagang. Awalnya biasa saja tapi kemudian menjadi penting ketika ‘Manajemen Resiko’ ini tidak dijadikan sebagai satu kesatuan sistem pada usaha yang dijalankan. Sementara resiko dari sebuah usaha adalah keniscayaan; mulai dari pasar yang tidak menentu, fluktuasi bahan baku, bencana alam hingga ‘kenakalan’ anak buah/pegawai.

Pada point ‘kenakalan pegawai’ banyak kasus yang kemudian muncul adalah korupsi kecil-kecilan yang dilakukan, namun berjamaah dan rutin dilakukan tiap bulan. Bagaimanapun juga riak seperti ini tentu akan mengganggu keberlangsungan usaha yang dijalankan, mulai dari merosotnya nilai penjualan (keuntungan) hingga raibnya beberapa barang pada saat dilakukan Stock off name. Jika dibiarkan berlarut tentu membawa masalah besar dikemudian hari, oleh sebab itu ‘Manajemen Resiko’ menjadi penting; bukan hanya sebatas pada upaya penanggulangan ketika hal itu terjadi namun terlebih utama adalah pencegahan sebelum hal itu terjadi. Oleh sebab itu perlu sebuah sistem yang terpola dan terintegrasi secara baik ketika menjalankan sebuah usaha, dan salah satu komponen dalam sistem itu adalah ‘Manajemen Resiko’.

Secara teoritis istilah manajemen resiko ini bukanlah hal baru, di bangku kuliah khususnya dalam mata kuliah manajemen (baik umum, SDM hingga MK manajemen pemerintahan) sudah dipaparkan secara gamblang apa itu manajemen resiko. Mulai dari paparan para ahli hingga beberapa contoh dalam bentuk terapannya. Jadi silahkan saja baca kembali ya buku-buku anda semua yang sudah teronggok rapi itu di rumah hehe… Namun yang pasti, bagi saya manajemen resiko ini ternyata salah satunya adalah berpengaruh pada produksi dan harga jual barang yang ditawarkan. Artinya penghitungan perlu dilakukan secara cermat sebelum usaha dijalankan, dan salah satu komponen ‘manajemen resiko’ seperti tindak penyelewengan bahan baku oleh pegawai, mark up harga hingga kecurangan dalam bentuk jasa yang ditawarkan oleh tim penjualan perlu dihitung juga. Sehingga harga jual yang ada sudah mencakup semua; disamping harga sewa toko, honor pegawai, fluktuasi harga dan keuntungan bersihnya.

Namun demikian, setelah dipikir-pikir jika hal ini dimasukan kedalam tabel perhitungan maka imbasnya adalah kenaikan harga jual, sementara untuk saat ini rasanya tidak mungkin menaikan begitu saja harga jual yang ada. Lalu piye donks … ????

Sambil Merenung dan Membaca Diktat Kuliah Aja

-Pangkalan Jati CInere, Sept’15-