Lahan baru, jatah baru, masalah baru (seputar pembelajaran membangun bisnis makanan sederhana)

Posted on

delivery-dcSekira satu bulan lalu kami menerima pesanan dari dua sekolah untuk menyediakan bekal makan siang ananda. Satu sekolah letaknya di daerah Depok dan satu lagi di daerah Darmawangsa Jaksel. Permintaan ini keluar dari beberapa orang tua yang merasa kerepotan harus menyediakan bekal makan siang anandanya di sekolah. Pagi mengantar ke sekolah, lalu balik ke rumah memasak dan siangnya kembali ke sekolah untuk mengantarkan bekal. Sorenya mereka harus kembali lagi ke sekolah (atau menunggu dari siang setelah mengantar makananan) untuk menjemput pulang ananda. Sungguh merepotkan bukan??? Dan inilah yang banyak terjadi pada beberapa sekolah di kota-kota besar.

Peluang dan Permintaan

Pangsa pasar bekal makan siang bagi anak sekolah ternyata cukup terbuka. Mengingat jajanan yang ada secara umum kurang sehat, apalagi jajanan diluaran yang tidak tahu terbuat dari bahan apa, belum lagi pengawet makanan, MSG dan borax formalin, hingga kerepotan para orang tua yang hilir mudik setiap siang untuk sekedar mengantarkan bekal makan siang tersebut. Semula kami tidak sampai berpikir jauh demikian. Ketersediaan bekal makan siang yang semula hanya diperuntukkan bagi sekolah tempat si sulung dan bundanya mengajar (internal) kini meluas seiring dengan tersebarnya informasi jasa yang kami buat sekira satu atau dua tahun lalu. Jika tujuan semula bersifat internal saja, namun memang melihat pangsa pasar yang masih terbuka membuat godaan meluaskan jejaring semakin besar. Maka sekira 6 bulan lalu informasi yang berkenaan pengantaran makanan, menu harian dan kegiatan lainnya (insidentil) rajin diupload melalui medsos (twitter dan blog). Maka tak heran ada saja permintaan yang datang, baik itu yang datang personal (rantangan rumah) hingga penyediaan bekal makan siang di sekolah. Dan baru-baru ini kami pun menyanggupi member baru di dua sekolah tersebut.

Masalah dan bagi hasil

Baiklah ini murni masuk kedalam wilayah bisnis. Jika mungkin semula niatan para orang tua memakai jasa kami dengan maksud sekedar memasak makanan sehat dan kemudian mengantarkannya ke sekolah tempat mereka bersekolah, maka lamat laun ketika jumlah member semakin banyak dengan keikutsertaan kelas lain, maka tentu ini menjadi perhatian sekolah. Apalagi sekolah yang memiliki koperasi dan kantin sendiri yang lamat laun lahan bisnisnya tergerus karena kehadiran jasa katering dari luar. Tentu ini menjadi persoalan; di satu sisi para orang tua yang tidak sreg dengan pola dan menu kantin yang terlalu dewasa untuk anak-anak mereka, sementara di sisi lain ada kepentingan bisnis dari sekolah yang cukup menggiurkan dan harus tergerus. Maka kemudian harus dicapai titik temu; antara orang tua yang bersikeras mengambil jasa penyedia makanan dari luar, pihak sekolah dengan kepentingan bisnisnya dan kami sebagai pihak yang disewa untuk menyediakan jasa tersebut (yang kebetulan dari luar/bukan dari orang tua yang menyekolahkan anaknya disana).

Semula kami pikir ini akan berjalan lancar saja, mengingat apa yang kini berjalan bermula dari beberapa orang saja dan memang tidak secara langsung melalui sekolah (formalnya). Toh orang tua sendiri merasa terbantu; mereka tidak perlu repot memasak, tidak perlu bulak balik mengantar dan anak-anak juga senang dengan makanan sejat, fresh dan ala rumahan yang kami sediakan. Maka sekolahpun menjadi lancar bukan; mereka tercukupi nutrisinya, orang tua happy dan pembelajaranpun lancar selancar-lancarnya. Namun demikian, rupanya tidak bisa berlangsung begitu saja. Ada proses yang mesti dilalui, tentu ini berhubungan dengan bisnis, jujurnya adalah share fee. Namun jika kemudian proses ini dilalui, tentu kami sebagai penyedia jasa juga bisa meminta konsekuensi donks, berupa kebebasan meluaskan pangsa pasar di sekolah tersebut. Karena jujur saja apa yang sudah berjalan saat ini bermula dari inisiasi sendiri (orang tua dan gencarnya kami meluaskan pasar/jejaring informasi) tanpa adanya bantuan dari pihak sekolah itu sendiri.

Namun tentu pada akhirnya semua harus duduk satu meja untuk mencari titik temu dan jalan keluar terbaik. Dan ini masih dicari, bentuk seperti apa yang sama-sama menguntungkan semua pihak. Apa ada ide dari kawan-kawan semua tentang hal ini ????

*depok, 18 maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s