farras-chantika

Wawantawa dengan Mang Bonju

Posted on

DSCF7859Awalnya kami berencana ke Bandung Sabtu pagi dua hari lalu. Namun kemudian mendadak ada kabar datang dan membuat seketika kami membatalkan niat yang sedianya sudah di rencanakan seminggu sebelumnya. Syahdan hari Sabtu itu kami sekedar jalan-jalan saja diseputaran Depok dan Bekasi sembari malamnya mencari bahan baku keperluan catering.

Group whatsapp pun ramai berbunyi, persisnya di HP mantan pacar. Ibu-ibu sedang galau rupanya karena ada tugas kewirausahaan di sekolah yang harus dibuat buku dan dikumpulkan tepat hari Rabu, yang artinya 3 hari tersisa (plus 1 hari yang masih libur). Tugas ini mengharuskan siswa/i kelas 3 mewawancarai tokoh pelaku bisnis yang tidak dikenal (bukan saudara dekat; om, tante atau keluarga), atau bahkan teman dekat ayah dan ibu yang saban hari ketemu. Wawancara ini dilakukan secara berkelompok; satu kelompok berisi dua ekor … eh salah dua orang maksudnya (beda ya dengan masa sekolah kita dulu yang sekelompoknya bisa 5 sampai 7 orang hehe…)

Mengingat lusa sudah hari senin, yang artinya kembali pada rutinitas maka saya berpikir akan lebih baik melakukan wawancara itu di hari libur saja (1 hari tersisa ya besok, hari minggu). Disamping waktu yang leluasa untuk mengantar ke lokasi, ada info dari ibunda teman sekelompok si kakak yang menyarankan di hari libur juga, mengingat di hari biasa dia juga bekerja dan ada ketidak cocokan waktu luang antara anaknya dengan anakku karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang berbeda (kegiatan ekskul ini tersedia di hari senin sd kamis mulai pukul 14.40 sd 15.45). Maka hari minggu adalah pilihan yang pas.

DSCF7852Lalu kemudian yang menjadi masalah siapa nara sumber yang cocok dan bersedia meluangkan waktunya besok?? Semula saya memilih kawan saya yang berdomisili di petukangan. Pertama saya sudah tahu persis rutinitasnya, kedua dia juga partner saya dalam beberapa kali kesempatan menyelesaikan pekerjaan. So, nggak mungkin lah menolak. Secara kriteria juga cukup mumpuni; memiliki gerai JNE, freelancer photographer dan lini bisnis multimedia lainnya. Hanya masalahnya, si kakak sudah sering bertemu dengan dia yang artinya sudah kenal dekat, sehingga dikhawatirkan tidak ada informasi baru yang bisa digali lebih dalam. Lantas siapa lagi yang bisa ya ????

Seketika saya teringat kawan karib saya semasa SMU dahulu di Bandung. Kami pernah satu kelas, bahkan satu bangku selama beberapa semester. Secara tidak sengaja lima tahun lalu kami kembali bertemu di Facebook dan tak berapa lama kemudian kopdar di kantornya pas jam istirahat. Pertemuan itu sekedar melepas kangen saja; ketawa ketiwi dan menanyakan kabar masing-masing, mulai dari siapa yang jadi istri (ooh bukan yang pas SMA itu dulu ya ternyata hahaa…), berapa anak dan aktivitas masing-masing. Pertemuan singkat itu diakhiri dengan beberapa ide bisnis, kebetulan secara latar belakang kawan saya itu juga tengah berbisnis disamping bekerja pada salah satu BUMN Minyak terbesar di negeri ini. Sementara saya apalagi, pasca keluar dari pekerjaan dua tahun sebelumnya, nyaris malas mencari pekerjaan lagi. Ujung-ujungnya berbisnis…. dengan modal dengkul dan skill pas-pasan hahha… (tapi tenang lah masih bisa dipoles… pan manusia otodidak .. ngeless nih).

IMG_20151126_211913_scaled.jpgNamun entah apa sebab, pertemuan itu seolah menjadi pertemuan pertama dan terakhir. Nyaris kami tidak pernah bertukar sapa kembali, tenggelam dalam rutinitas masing-masing, hingga kemudian kawan saya itu booming dengan bisnis kulinernya; cireng salju dengan nama Mang Bonju. Produksinya sudah ribuan pieces tiap harinya, omzetnya jangan ditanya lah … bikin ngillerrrr… so, tugas kakak di kelas 3 ini mengingatkan saya akan sosok sahabat saya ini. Dengan mantaps saya kontak beliau dan gayung pun bersambut, kami bersepakat bertemu di kantornya di kawasan BSD Tangsel.

Penasaran bagaimana petikan wawancara anak kelas 3 SD dengan narsumnya, dan bagaimana sahabat saya itu memulai bisnis dan perlahan booming, tunggu saja lanjutan kisah ini besok di stasiun yang sama ya hihi…

 

Advertisements

Semangkok Sarapan Bergizi Dari Ayah Untuk Kakak

Posted on

Bukan karena iklan yang saban pagi terdengar melalui Female97.9FM diacara Indy-Bekti ‘Happy Morning’ di radio mobil. Tapi sudah hampir 6 bulan belakangan ini, kakak memang memulai hari dengan sarapan pagi outmeal. Bagiku rasa outmeal masih asing di lidah, pun ketika dicampur buah-buahan atau susu malah semakin tak karuan. Tapi berbeda dengan kakak, menurutnya enak dan cocok digunakan sebagai sarapan pengganti nasi. Tanya kenapa??? menurutnya makan nasi di pagi hari, apalagi sampai kenyang, membuatnya ngantuk di sekolah. Sementara outmeal tidak. Cukup diseduh dengan air panas sudah jadi. Gampang membuatnya dan cocok diperutnya. Apalagi jika dihidangkan dengan tambahan lainnya semisal susu cair, strawberry, pisang atau anggur membuatnya semakin nikmat.

Well, setelah kebiasaan ini mulai terpola di bulan ke-3 kadang ingin juga icip-icip. Tapi tetap saja, lidah ndeso memang nggak bisa bohong. Ga cocok buat saya haha…. ga enak 🙂 Bagaimana dengan anda, apakah outmeal enak rasanya ??? atau hambar dan bikin enek ???

Setelah mendengar manfaat sereal dan atau gandum dan atau outmeal (berbeda ya nggak sama ini) memang tiada salahnya membiasakan jenis makanan ini, terutama buat anak-anak yang masih bertumbuh. Diantara sekian banyak manfaat, salah satunya adalah serat. Seperti kita tahu tubuh kita membutuhkan serat, dan biasanya serat ini bisa tercukupi dengan mengkonsumsi buah-buahan. Nah menurut info juga, sekian sendok outmeal itu sudah bisa menggantikan dua mangkok pepaya. So, mengapa tidak mulai membiasakan buat anak-anak. Selain serat, outmeal juga mengandung antioksidan, menurunkan kolesterol dan lain sebagainya (http://www.ciputrahospital.com/berita-108-manfaat-oatmeal-bagi-kesehatan-.html)

Dan karena kebutulan kakak juga suka, maka kebiasaan ini akan terus kami lakukan (minus saya tentunya). Mungkin sampai nanti hehe…. Tapi pagi ini kakak sakit dan ijin ke sekolah. Sebetulnya memang sudah dari 2 hari lalu batuknya menggejala. Dan sepulang les bahasa inggris kemarin, batuknya itu menjadi. Maka saya antar dia ke klinik langganan di dekat jembatan serong itu. Dan dugaan benar, tenggorokannya merah merona alias radang besar. Dan bisa dipastikan bagaimana sakitnya ia saat batuk dan makan. Maka hari ini lebih baik istirahat saja dulu, toh sudah masuk minggu akhir sekolah. Dengan begitu tidak ada absensi dan tidak ada lagi penilaian, karena guru-gurunya sudah sibuk ngurusin raport hehe… Minggu depan sudah masuk diskusi akhir semester, setelah itu libur deh.

Berhubung pagi ini waktu agak luang, maka saya pun dengan sigap menyiapkan semangkok sarapan outmeal buat dia; lengkap dengan potongan pisang, anggur merah dan campuran susu putih segar. Berikut penampakannya :

semangkok sarapan buat kakak dari ayah

Setelah nya kakak tinggal meminum obat dan istirahat lagi sambil nonton tivi Doc McStuffins … ‘jangan lupa mandi ya ka …’

 

10 Des’14

Ayahmu

Manual Book Menjadi Manusia Dewasa (Ortu)

Posted on

Well …. tidak cukup dengan pendidikan di bangku formal saja untuk menjadi orang tua. Pengetahuan dan mental juga memegang peran cukup penting. Bukan sesuatu yang sulit, tapi juga bukan perkara mudah menjadi orang tua yang baik buat anak-anak. Yang kita bicarakan disini adalah tubuh dan jiwa dalam bentuk manusia, yang dinamis, memiliki keinginan, pikiran yang tak berbatas sekaligus emosi. Anak-anak dengan sejuta kelucuan dan semilyar tindak-tanduknya tentu membutuhkan penanganan yang tepat. Jika dalam penggunaan Handphone saja disertakan ‘manual book’ tentang cara operasinya, apalagi dengan anak-anak. Namun sayang seribu sayang, manual book itu tidak bisa didapatkan dengan hanya berdiam diri. Pendidikan formal yang didapat pun semasa kita SD sampai Kuliah jarang ada Mata Kuliah tentang bagaimana berperan dan menjadi orang tua yang tepat dan baik untuk anak-anak.

imagesMaka ini adalah tantangan yang mesti dijawab oleh manusia dewasa. Sejauh mana ia mampu dan siap membawa anak-anaknya menuju gerbang kehidupan yang maha luas itu. Tentang bagaimana ia menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang kelak. Proses interaksi dalam keluarga tentu menjadi kunci. Komunikasi menjadi jembatan apa-apa yang diinginkan oleh masing-masing anggota keluarga sehingga tujuan bersama bisa tercapai. Kita (sebagai manusia dewasa; orang tua) wajib membuka diri, memperluas wawasan sekaligus mengasah emosi terhadap kepekaan diri kita. Anak-anak adalah produk diri kita sekaligus produk kebudayaan yang mengitarinya. Dua hal ini menjadi embrio kepribadian yang akan membuatnya menjadi manusia seutuhnya kelak. Gambarannya tentu harus dicanangkan sejak dini. Minimal imaji, seperti visi yang dapat memandu kita.

Ia ada karena kita. Tuhan menyempurnakannya melalui proses kelahiran dari rahim sang Ibu, istri. Cinta adalah pengikat kebersamaan. Riak dan kerikil apapun yang akan dilaluinya kemudian, adalah bumbu-bumbu kehidupan. Mungkin penguji akan cinta sebagai ikatan itu.

Tidak seperti Ujian Nasional yang hanya dinilai di penghujung masa studi, maka keberhasilan bersama itu mesti dilalui melalui sebuah proses yang baik. Tahap demi tahap, hari demi hari hingga tak terasa kita menjadi tua, kakek dan nenek. Tentu kita membayangkan ketika masa itu datang kehidupan bersama itu tetap terjaga dengan baik, harmonis, sejahtera dalam bingkai memberi dan menerima.

Namun kelak, semua bisa berubah suram kelak. Jika tidak dititi dengan baik tangga demi tangga dari sekarang saat ini. Maka mari melakukannya mulai saat ini

*untuk buah hati kami yang tengah bertumbuh. jadikan kami orang tua yang baik ya Nak untuk kalian…. selalu belajar, mengoreksi diri, berbuat yang terbaik dan senantiasa berupaya mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan kalian. Amiin