pendidikan

KHARISMA GUSDUR

Posted on

Pendahuluan

Membaca kembali teori kepemimpinan khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan yang diutarakan oleh Weber mengingatkan saya ke beberapa tahun silam, tepatnya medio tahun 2003 hingga 2006. Entah mengapa pikiran langsung tertuju pada sosok Gus Dur (alm) yang begitu memesona baik itu dari sisi pemikiran, maupun sebagai sosok pribadi. Diatas itu tentu ada Bung Karno; jawaranya pemimpin kharismatik; bagaimana ia mengagitasi rakyat dengan balutan kata-kata heroiknya bahkan sebelum ia memiliki kekuasaan legal sebagai Presiden (legitimate power). Namun demikian Gus Dur pun memiliki pesona magisnya sendiri. Masih lekat bagaimana tulisannya mewarnai majalah Prisma dan buku-bukunya yang sering dibawa oleh salah seorang kawan di tempat kami menimba ilmu dulu. Tentu saja buku itu kemudian saya pinjam, termasuk majalah Prisma yang rada usang dengan bau khas debu di tengah rak perpustakaan. Biasanya dalam kondisi normal, buku dan majalah itu dilahap habis tidak kurang dalam waktu satu minggu. Tentu jangan dibandingkan dengan kondisi saat ini, dimana tingkat konsentrasi dan lingkungan yang sudah jauh berbeda. Namun saat itu rasanya cukup menyenangkan berselancar ria menyelami beragam pemikiran, dan Gus Dur adalah salah satunya.

Maka ketika tugas 2 ini hadir dalam mata kuliah perbandingan pemerintahan, momen nostalgia itu kembali hadir. Romantisme yang sarat akan kenangan masa sekolah menengah dulu; jiwa muda yang eksplosif, spirit agama dan lingkungan social organisasi. Maklum saat itu iklim pendidikan sekolah menengah tidaklah seterbuka saat ini, sehingga rasa haus akan informasi dan pengalaman yang lebih baru akan didapatkan diluar bangku sekolah, tepatnya di lingkungan organisasi informal di luar sekolah.

 

 Apa Itu Kharisma

Weber ketika menyebutkan charisma sebenarnya dilatarbelakangi oleh prinsip etik dan spirit perubahan yang dibawa oleh gerakan puritan yang kemudian dikenal dengan gerakan etis protestanisme. Menurutnya perbedaan mendasar dunia barat dan timur berada pada rasionalitas dan agama. Agama bagaimanapun juga membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Didalamnya terselip ajaran, dogma hingga semangat perubahan. Agama kemudian menjelma menjadi lembaga lengkap dengan struktur social dan kekuasaan didalamnya. Dalam tataran kekuasaan, yang pada saat itu dominan di pegang oleh Paus, pendeta, rabid an sejenisnya; dibedakan menjadi tiga bentuk kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pengaruh yang mampu mengubah masyarakat, menggerakkan dan menginspirasi pengikutnya untuk melakukan sesuatu dalam gerakan social. Weber kemudian membedakan kekuasaan itu kedalam tiga bagian :

  1. Kekuasaan Tradisional : Jenis kekuasaan yang sudah ada (established) dan dipercayai secara turun temurun.
  2. Kekuasaan legal-rasional : Jenis kekuasaan yang diperoleh melalui penunjukan hokum positif; kontrak social dan sejenisnya
  3. Kekuasaan kharismatik : Jenis kekuasaan yang diperoleh karena rahmat (grace) pada individu seseorang

Secara akar kata, kharisma berasal dari kata yunani ‘chairismos’ yang berarti berkat yang terinspirasi secara agung atau dengan bahasa lain yakni anugerah. Kata ini dalam tradisi Kristen berpadu padan dengan kata ‘grace’ atau rahmat. Oleh sebab itu kharisma adalah sejenis ‘blessing’ atau anugerah atau bakat yang ada pada diri individu seseorang. Ia lahir dan ada begitu saja (given). Walau demikian pandangan ini kemudian mendapat kritik beberapa tahun setelahnya, dimana kharisma pada diri seseorang juga diyakini mampu dipelajari, dibentuk. Pemimpin dengan kharisma tidak lahir begitu saja, namun ia dapat diciptakan dan dibentuk melalui pembelajaran. Robbins (2005) adalah salah satunya. Dalam penelitiannya ia menjelaskan bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan karismatik. Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Ia juga mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi karismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.

Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura karisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.

 

Bagaimana dengan Gus Dur

gusdurWalau lahir dari keturunan pendiri salah satu organisasi massa islam terbesar di Indonesia (Nahdatul Ulama/NU), Gus Dur mendapatkan peringkat sebagai pemimpin tidaklah mudah. Ia harus menempuh sekian jalan berliku untuk sampai ketahap itu, mulai dari keengganannya untuk meneruskan pendidikan formal hingga pengembaraannya ke dunia asing; kairo, mesir (timteng) dan Negara eropa. Oleh sebab itu jua, dalam dirinya tersimpan aneka dinamika pemikiran yang begitu luas dan terbuka melampaui pemahaman tradisional islam ulama NU. Untuk mengenal sosoknya lebih dekat, berikut adalah profil singkat beliau (yang disarikan dari berbagai sumber terpercaya)

Gus Dur  adalah mantan Presiden Keempat Indonesia  yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970. Dia lalu pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

 

Gus Dur dan Kepemimpinan Karismatiknya

Dua dari pendapat kepemimpinan kharismatiknya, yaitu Weber yang menganggapnya sebagai berkah (given) ada dari lahir dan Robins yang menyebutkan bahwa charisma bisa dibentuk dan dipelajari, purna keduanya melekat pada diri Gus Dur. Sebagai pribadi charisma Gus Dur bisa saja diperoleh dari keluarganya yang merupakan tokoh besar Islam, pendidik dan pembawa perubahan di negeri ini. Namun demikian, charisma yang melekat itu tidak sempurna jika kemudian tidak dilengkapi dengan modal kepribadian yang baik; seperti pemikiran yang kritis, teguh pendirian, jujur, optimis, pembelajar yang baik dan mampu menggerakkan. Sebab menurut Weber sedikitnya ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan pemimpin kharismatik, yaitu : Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luarbiasa, adanya krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang

Kelima factor sebagaimana disyaratkan Weber diatas, melekat pada diri Gus Dur. Sebagaimana kita baca pada profil singkat beliau diatas, disamping bakat personal yang ada pada dirinya (kritis dan pembelajar yang baik) kehadiran Gus Dur juga mampu memberikan pembeda ditengah serba seragamnya iklim politik dan social yang coba dikembangan Orde Baru saat itu. Sikapnya yang teguh dan daya nalarnya yang luar biasa (diperoleh melalui pengalaman hidup dan pembelajaran sebelumnya) membuat kiprahnya semakin meluas; mulai dari kolumnis dan jurnalis, hingga pendidik dan aktif sebagai anggota parlemen. Puncaknya adalah ketika kemudian ia menerima permintaan kakek dari ibunya untuk menahkodai NU dan hijrah dari Jombang menuju Jakarta. Disinilah ia kemudian semakin dikenal dan memiliki banyak pengikut, bukan hanya dari kalangan nahdiyin NU tapi juga dari beragam latar belakang hingga lintas agama. Sosoknya tidak hanya diterima oleh kalangan islam tapi juga ummat lainnya; nasrani, hindu, budha bahkan konghucu. Khusus yang terakhir, tentunya kita masih mengingat bahwa pada masa kepemimpinannya lah kepercayaan konghucu kemudian mendapatkan tempat secara hokum di Indonesia. Maka tidak salah ketika masyarakat menjulukinya sebagai Bapak Bangsa atau Guru Bangsa.

Kharisma tersebut juga semakin lengkap ketika sebagian pengagumnya bahkan ada yang mengkultuskannya, hingga menganggapnya memiliki kekuatan transedental tertentu bahkan supranatural. Padahal sebagai pribadi yang rasional dan terdidik tentu hal ini berkebalikan dengan dirinya. Dan bahkan jika hal ini kemudian ditanyakan kepadanya, mungkin ia hanya terkekeh saja sambil berkata ‘gitu aja kok repot’

Depok, 01 April 2016

ALMK

*ditulis sebagai pemenuhan tugas 2 mata kuliah perbandingan  pemerintahan, Bab Kekuasaan dan Kepemimpinan Kharismatik

Logika Kekeliruan Berpikir

Posted on

logikaDalam pengantar mata kuliah logika yang saya ikuti kali ini, dijelaskan mengenai pengertian logika, asal usul perkembangannya hingga bentuk logika formal dan material yang lazimnya kita kenal. Tentang hal ini, Abuddin Nata telah tuntas menjelaskan dan purna pula saya baca dan ikuti pada semester 2 IKS Unpad tahun 2004 lalu. Saat itu malah saya mendapatkan Nilai A… wew senengnya hehe… terima kasih Pak Hadi Gasagalan yang baik… So, lalu kenapa mata kuliah ini muncul lagi? yups karena alih nilainya tidak disetujui fakultas tempat saya berkuliah sekarang (padahal A ya dengan bobot nilai 4… hadeuh sayang banget). Maka semua dimulai kembali dari awal. Dan berikut adalah rangkuman sekaligus jawaban diskusi saya tentang materi Logika bagian pertama.

Logika : Penalaran yang benar, dan Kekeliruan berpikir

Logika adalah cara kita berpikir, merunut, menalar  dan lalu memberikan kesimpulan. Logika membantu manusia berpikir secara benar. Oleh sebab itu keberadaannya diperlukan, bahkan dipelajari pada berbagai fakultas di perguruan tinggi sebagai mata kuliah dasar atau umum. Sejarah logika terbentuk pada masa yunani kuno, aristoteles bisa dikatakan sebagai salah satu orang yang melahirkan logika tradisional. Logika kemudian berkembang seiring dengan berjalannya waktu, hingga sampai pada bentuknya saat ini.

Dalam logika, selain dikenal bentuk penalaran dan penarikan kesimpulan secara benar. Namun dikenal juga bentuk penalaran atau cara berpikir yang salah. Menarik tentunya mencermati bagaimana cara berpikir ‘salah’ ini kemudian sering terjadi dan dipraktekan oleh kita saat ini. Seperti kekeliruan dalam fallacy of dramatic instant, post hoc ergo propter hoc dan lain sebagainya. Penarikan kesimpulan seperti : Hari ini saya tidak mandi. Tepat sore ini awan mendung dan turun hujan di Depok. Maka artinya saya yang menyebabkan hujan hari ini (karena tidak mandi tadi). Tentu ini adalah sebuah guyonan, namun dalam bentuknya yang lain kekeliruan demikian sering juga dilakukan. Dalam bidang politik misalnya, ketika SBY dilantik sebagai presiden, berbagai bencana alam melanda negara kita salah satunya adalah tsunami Aceh. Lantas kemudian, banyak orang yang menyimpulkan bahwa karena SBY lah Indonesia tidak diberkahi Tuhan, buktinya banyak terjadi bencana alam.

Menarik bukan untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis kesalahan berpikir tadi, disamping tentunya mengenal dan mempelajari bentuk berpikir yang benar dalam logika. Maka mari kita tunggu saja materi inisiasi selanjutnya apakah akan membahas hal ini juga???

Salam
Alike Mulyadi K

Arah Pendidikan yang semestinya manusiawi

Posted on

Setelah menunggu sekian minggu, akhirnya tutorial online berupa diskusi dan tugas kuliah muncul juga di beranda saya. Hari ini saya memilih satu mata kuliah untuk saya selesaikan; Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Tema yang diangkat pada bagian pengantarnya, adalah tentang pendidikan; bagaimana pendidikan mampu mengubah peta sosial dan budaya sebuah bangsa. Tutor merinci kemudian bagaimana Ki Hajar Dewanatara meletakkan batu dasar budi pekerti sebagai tujuan luhur pendidikan itu sendiri. Nah yang kemudian menjadi ajang diskusi dalam tutorial kali ini adalah; bagaimana pendapat mahasiswa tentang pendidikan dewasa ini di tanah air, khususnya dalam memenuhi misi akan tujuan umum dari pendidikan. Dan cara apa yang mesti dilakukan untuk mencapainya? Berikut adalah jawaban saya akan pertanyaan tutor kali ini :

Pendidikan; Humanisasi atau Dehumanisasi

Tujuan luhur dari pendidikan sebenarnya bisa dirangkum kedalam sebuah kata, yaitu humanisasi; kawah candradimuka yang membuat manusia menjadi/merasa manusia. Manusia yang menjadi (merasa) manusia tentu memiliki budi pekerti, sadar akan kebudayaan yang melingkupinya, berperan dalam lingkup peran serta status sosialnya. Proses sebaliknya, yang membuat manusia menjadi a-manusia adalah dehumanisasi, dan ini kerapkali terjadi dalam dunia pendidikan di tanah air.

Sudah bukan rahasia lagi jika banyak pakar pendidikan dan psikolog pengembangan anak yang menyebutkan bahwa cara dan atau sistem pendidikan di tanah air sama sekali tidak ramah anak. Tugas yang begitu menumpuk dan terlalu berat, apresiasi atau penghargaan yang minim akan proses belajar anak, orientasi pada pengejaran nilai semata bukan pada penanaman karakter dan seterusnya. Praktek-praktek serupa cenderung terjadi bukan hanya di pusat tapi menjalar sampai ke daerah, sehingga budi pekerti yang semestinya menjadi tujuan luhur bagi kepribadian peserta didik tergerus oleh kompetisi yang salah kaprah berupa penuhanan akan nilai (akademik) dan peringkat di kelas. Sehingga unsur manusiawi berupa pentingnya nilai kerjasama hilang oleh kepribadian mementingkan diri sendiri demi mengejar kepuasan predikat nilai terbaik.

Sebut saja Arief Rahman Hakim, dan atau pakar pendidik sekaligus praktisi kepribadian anak yang kita kenal sebagai Ayah Edi berulangkali mengkritisi cara belajar yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini. Sehingga menurut mereka perlu ada reform menyeluruh dari sistem pendidikan, khususnya pada usia dini dan sekolah dasar. Karena fundamen kepribadian dibentuk pada masa ini. Pada beberapa sekolah perubahan sistem pengajaran sudah mulai dilakukan, khususnya pada sektor sekolah swasta. Pengajaran tematik mulai diberlakukan, dengan menyederhanakan mata pelajaran. Tugas-tugas juga dibuat seminimal mungkin bahkan semenarik mungkin bagi anak-anak, dan yang terlebih penting adalah proses menemukan pengetahuan bukan pengetahuan itu sendiri. Sehingga pada sekolah-sekolah tertentu simulasi, permainan, merancang bangun ruang, field trip dan sebagainya menempati porsi yang lebih banyak ketimbang proses mendikte di kelas, menyalin catatan dan mengerjakan PR yang berlembar-lembar halaman. Disamping itu, sentuhan manusiawi dari guru juga menempati sisi yang tidak kalah pentingnya. Sehingga sudah bukan jamannya lagi guru membentak murid, melempar kapur papan tulis dan atau menyetrap di depan kelas. Namun bagaimana pola diskusi – komunikasi dua arah yang terbangun secara positif, dukungan dan motivasi untuk belajar menjadi kunci keberhasilan peserta didik (anak2).

Angin segar berupa perubahan di lingkungan sekolah, mesti diamini oleh pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah. Dengan menyiapkan sederet regulasi yang mempermudah sekolah dalam menyelenggarakan aktivitasnya. Dan hindari kebijakan yang bernada ‘proyek’ yang berkesan kroyokan dan bersifat sementara karena motif ekonomi di belakangnya. Terpilihnya Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah patut diapresiasi sebagai bentuk harapan yang mudah-mudahan mampu membawa dunia pendidikan di tanah air ke arah yang lebih baik. Anies adalah sosok praktisi yang lama berkecimpung dalam dunia pendidikan, sehingga pasti tau mana yang selama ini salah dan mana yang bisa ditolerir untuk kemudian diperbaiki demi keberlangsungan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Salam

Alike Mulyadi K

Lomba Tari di TMII; Kaka, teman dan Sekolah

Posted on

kolase hasil jepretan sendiri
kolase hasil jepretan sendiri

Hari Sabtu kemarin, kaka ikut lomba menari. Jadwal pagi yang biasanya masih tertutup selimut, kala itu ia harus bergegas menuju tempat rias; Mang Ujang demikian kami biasa memanggilnya, juru rias kampung yang laris manis disewa saat hajatan, acara kartinian atau hari-hari besar lainnya. Tepat Pukul 5 pagi, Ujang dengan sigap melakukan touch-up. Kuas menari kesana kemari, bulu-bulunya menebarkan warna. Mulai dari alis, hidung, pipi dan ditutup dengan bibir. Seluruhnya purna berubah warna. Cantik ??? ahh.. mungkin bukan. Aku tak terlalu suka anak kecil berlaku dandanan dewasa, tapi harus kuakui cukup lucu juga apalagi dua buah gigi bagian depan baru saja tanggal. Maka seperti gawang saja jika ia tertawa hihihi….

DSCF3418

Tuh terlihat kan giginya yang ompongs ??? Tidak kurang dari waktu 30 menit sesuai kontrak, Kaka sudah siap sedia lengkap dengan sanggul dan kostum tariannya. Tanpa basa-basi, sang ibu merogoh kantong dan mengeluarkan 3 lembar uang sepuluh ribuan, lagi-lagi sesuai kontrak dan perjanjian tadi malam. Tuntas sudah juru rias ini menyelesaikan tugasnya, haknya pun sudah terpenuhi. Kami pun senang dan melenggang menuju rumah memanaskan mobil. Sebelum lanjut, tentu anda bertanya ‘masih musim ya riasan 3 rebu?’ Ooh jangan salah kawan, Ujang tidak mematok harga tinggi pada jasa yang diberikannya, bukan karena skillnya yang masih ecek-ecek, tapi justru karena altruismenya yang tinggi. Sifat ini rasanya yang sudah mulai luntur dikalangan kebanyakan dari kita 😦

Bagian Mang Ujang saya akan menuliskannya lain kali. Singkat kata, Ujang yang kemayu itu adalah tulang punggung bagi adik-adiknya, ibunya yang renta dan anak semata wayangnya.

Dalam Perjalanan

Selama perjalanan, Kakak terlihat serba salah. Maklum saja jarak antara rumah kami dengan sekolah tidak kurang dari 40 menit perjalanan, maka dia yang biasanya tidur nyaman di baris kedua jok mobil, kini mematung resah karena takut karya besar Mang Ujang hancur; rambut menjadi lepek, riasan yang luntur karena lendir tidur dan baju yang acak-acakan. Maka pagi itu ia mematung besi, mendongak kesana kemari melalui jendela menghindari tidur. Dan tuntas juga akhirnya, pukul 7 lewat 30 kami tiba di sekolah. Guru pembimbing tari yang juga rekan sang ibu, telah menunggu dari 5 menit yang lalu. Deru mesin kendaraan tidak terlalu menggema pagi itu, maklum saja ini hari sabtu. Bagi sebagian orang sabtu adalah hari bersantai, bangun siang dan melakukan aktifitas suka-suka; tidak mandi, juga tidak gosok gigi apalagi ganti baju. Wal hal sabtu atau minggu adalah kemerdekaan hakiki; lepas dari belenggu penjajahan ekonomi, merdeka dari rutinitas aktifitas bertahan hidup. Maka sah-sah saja dua hari itu disebut hari suka-suka kita hehe… walau ada dalam sebuah buku weekend juga dikatakan dengan masturbasi, mengganti hasil kerja dalam 5 hari dengan 2 hari kenikmatan semu. Bahkan menghabiskan sumber daya hanya di dua hari itu dengan berfoya-foya dan menikmati hidup. Buku Yudhi Lathief klo ndak salah, chapter berapa saya lupa, intinya tentang masturbasi kebudayaan.

Tiba di Istana Anak TMII

Tidak banyak penumpang kali ini, hanya aku, sang ibu, kaka, dua guru pendamping tari beserta salah satu adik kelas kakak yang juga anak dari rekan atau guru pendamping itu. Biasanya hari-hari mobil ini rutin menjemput 3 siswa lainnya, ya mumpung ada kesempatan hehe…. ada demand ya ada supply. Saling menguntungkan lah, minimal menambah uang bensin.

Tepat pukul 8.30 kami tiba sesuai rencana. Pagi itu jalan cukup lengang. Rute yang kami lewati adalah fatmawati, joss tol dan keluar rambutan lalu TMII. Beberapa orang tua telah hadir bersama sang putri di TKP. Menurut nomor undian, kelompok tari Kakak berada di nomor urut 10. So,… mesti siap-siap kalau nggak mau kelewat. Dan ada beberapa momen yang sempat saya abadikan di saat-saat penantian nomor urut kami dipanggil menuju panggung, berikut adalah momen tersebut :

 kegiatan

Saat Tampil

Bagi sebagian orang, perlombaan adalah ajang memompa diri. Mengukur sejauh mana batas kemampuan. Muaranya ada pada peringkat, label, stratifikasi. Namun identifikasi dengan mengaitkan peringkat sebagai nilai dari kemampuan belum tentu menggambarkan diri sebagai personal yang utuh; yang lengkap dengan multiple bakat, kompleksitas pemikiran dan seterusnya. Alih-alih meningkatkan batas kemampuan minimal, justru kadang sebaliknya; stereotipe, bias dan menempatkan pada satu sisi penilaian yang jauh dari sempurna dan lengkap. Oleh sebab itu, pemikiran yang tidak menekankan pada peringkat (dari bentuk kompetisi apapun) bisa dimafhumi sebagai bagian dari proses pembentukan dan perkembangan kepribadian secara utuh. Apalagi ketika hal ini ditujukan terhadap anak-anak, yang tentu masih terbuka jendela peluangnya untuk senantiasa berkembang dengan berbagai keahlian. Seperti tabula rasa; warna-warni, dengan berbagai gambar dan bentuk kreasi.

Lomba kemarin mungkin bisa dimaknai sebagai bagian dari ekspresi anak-anak. Tidak ada beban target, semuanya mengalir begitu saja. Kekayaan pengalaman tentu jauh lebih berharga dibandingkan peringkat yang hirarkis. Apalagi seni, sebagai bagian dari wujud kebudayaan manusia (jadi inget mata kuliah antrop saya hehe..) adalah buah akal dan budi manusia. Seni juga mampu memperhalus emosi sekaligus mengasah pikiran menjadi lebih arif. Maka mendekatkan anak-anak pada kesenian tentu menjadi salah satu upaya dalam konteks memanusiakan manusia seperti jargon dalam dunia pendidikan itu loh xixi…. Iya gitu … iya lah

So, melihat kaka senang dengan bermain, menari dan tampil di depan umum tentu sudah cukup. Setidaknya bentuk aktualisasi dalam bingkai yang masih sederhana sudah ia lalui. Akan bentuk penghargaan berupa peringkat dari perlombaan itu, hanyalah bonus. Yaa.. anggap saja demikian. Bonus dari apa yang sudah dilakukannya kemarin.

Depok, 17 Nop’14

Ahok; mulai dari gagasan besar kota metropolis hingga babi (senarai singkat pertemuan anak gemala dengan Plt gubernur) – part1

Posted on

photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe...
photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe…

Tepat hari Kamis lalu saya menjadi pendamping anak-anak kelas 1, tempat dimana anak sulungku bersekolah. Kegiatan ini adalah kegiatan penutup di tahun ajaran ini. Kegiatan yang mungkin bisa dinilai berbeda dan cukup menarik, apalagi untuk anak kelas 1; mengunjungi balai kota dan bertemu dengan Plt Gubernur Jakarta Bapak Basuki Tjahya Purnama atau yang lebih akrab disapa dengan Ahok. Menurut Kepala Sekolahnya, seperti yang juga beliau utarakan di sessi pembuka pertemuan itu, kegiatan ini masuk kedalam tema pembelajaran ‘jakartaku’ dimana anak belajar mengenai daerahnya; untuk peka sekaligus peduli akan kota yang ditinggalinya. Bentuknya adalah dengan mengumpulkan karya-karya terbaik perwakilan dari kelas 1 Merapi dan Semeru dalam bentuk tulisan dan gambar mengenai permasalahan jakarta, disertai dengan tindakan pencegahan beserta solusi, tentunya khas anak-anak kelas 1 SD. Maka bisa dibayangkan betapa menariknya hal itu, bagaimana anak-anak bersuara tentang kotanya, permasalahannya hingga hal-hal lainnya yang bisa saja kita – selaku orang dewasa – dianggap sepele namun justru menjadi perhatian anak-anak, dan uniknya hal ini disampaikan secara langsung kepada pemimpin kota jakarta yang kita cintai, Gubernur DKI Jaya.

Jika saja Jokowi tidak nyapres, maka kemungkinan besar yang menerima rombongan SD Gemala Ananda ini adalah beliau. Namun belum tentu juga suasana secair kemarin. Ada sisi yang memang berbeda dari dua karakter pemimpin Jakarta ini. Jokowi yang khas dengan adat jawanya; kalem, lungguh dan sejenisnya dan Ahok yang cenderung ‘melaju kencang’ ceplas ceplos dan apa adanya. Dalam salah satu kesempatan di acara Mata najwa bahkan keduanya mengakui bahwa Jokowi cenderung menjadi rem bagi Ahok. Maka pertemuan yang diselenggarakan Kamis kemarin itu bisa jadi berbeda jika Jokowi yang menerimanya. Bukan dari sisi kualitas pertemuan tentunya, namun dari sisi gaya, terlebih gaya dalam penyampaian dan memperlakukan anak-anak. Maka Ahok berhasil dalam hal itu, membuat suasana santai dan bisa diterima anak-anak.

Kami sebagai orang tua, tentu menyambut baik kegiatan sekolah ini. Apalagi tidak semua orang tua dapat mendampingi dan hadir pada pertemuan itu. Hanya orang tua yang diundang secara khusus yang bisa mendampingi. Dan saya satu diantara sekian ortu yang beruntung itu. Walau mungkin juga karena keterlibatan saya sebelumnya dalam membukukan karya anak-anak itu menjadi sebuah buku yang menarik untuk kemudian disampaikan kepada Bapak Gubernur. Benar, sebulan sebelumnya ibu guru, khususnya guru kelas Merapi kelas anakku, meminta kesediaan orang tua untuk menjadi relawan ahli, atau konsultan graphis sekaligus tata letak/layouter buku dari karya anak-anak yang menurut rencana saat itu akan dibukukan dan disampaikan langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Gayung bersambut, di minggu itu saya memiliki waktu yang masih luang untuk membuatnya. Maka ajakan itu tidak lama untuk kemudian saya iyakan saja hehe….

Walau dalam perjalannya memiliki hambatan, namun proses demi proses yang dilalui membuahkan hasil yang baik (mengenai cerita dibalik pembuatan buku itu, akan saya ceritakan/tulis dalam judul yang lain … kalau sempat itu juga hihi…). Buktinya wujud fisik dari buku itu dinilai cukup estetik dan layak untuk disampaikan secara langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Alhamdulillah, orang tua yang lain juga menyukai hasil desain saya itu dan kabarnya lebih dari 40 orang tua juga turut memesannya kepada Sekolah (noted saya tidak mengambil royalti apapun dari hasil penjualan buku itu ya.. walaupun bisa aja meminta hehe….).

Back to meeting, acara itu berjalan cukup meriah, santai dan memberikan dampak yang positif, tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga guru dan audiens lain yang hadir disana (mungkin juga Ahok sendiri, setidaknya dia sempat berkelakar bahwa harus bersekolah lagi di Gemala haha…..). Sementara dampak bagi guru yang paling penting adalah ‘narsisme’ menemukan muaranya, yups apalagi kalau bukan poto-poto dan kemudian dipasang di media sosial; path, fb, twitter dan bb …… hehe… Sementara buat anak-anak, atau khususnya anakku sendiri,  dia dihapal namanya oleh Ahok ‘Farras awas kamu jatuh’… atau ketika dia berkata “yah si farras ngantuk tuh’ ….. hadeuh tuh anak sepanjang pertemuan duduknya paling nggak deh, kadang tumpang kaki, kadang bersila, kadang sedikit diangkat … padahal di atas kursi loh… emang gak bisa diem.

Ini yang serius ya ….. Dampak yang paling signifikan bagi anak-anak tentu baru terlihat kemudian. Namun setidaknya dari proses ini mampu memberikan wadah atau tempat bagi mereka untuk berkreasi, menempa kepercayaan diri, sedikit membuka wawasan politik (tentang hirarki kepemimpinan setidaknya) dan itu tadi peka dan peduli akan kota yang ditinggalinya. Bagi sekolah feedback nya lebih luar biasa, disamping pencapaian pada tema pembelajaran, namun juga sekaligus menaikan citra atau pamor sekolah dimata khalayak. Tidak hanya bagi para orang tua yang menyekolahkan anaknya disini, tapi juga masyarakat umum lainnya. Sebab tidak kurang dua media online turut mempublikasikannya; grup kompas khususnya seperti tribun dan portal kompas lainnya (terakhir saya juga mendengar liputan 6 SCTV dan NET TV). Sementara bagi pemprov sendiri tentu ini adalah jawaban dari proses keterbukaan dan demokrasi yang diagungkan itu. Sudah bukan jamannya lagi pimpinan/pemerintah menutup diri dan menjauhkan diri dari rakyatnya. Namun sebaliknya, membuka pintu seluas-luasnya terhadap aspirasi apapun yang berasal dari rakyat. Protokoler its oke, setidaknya ini untuk menghormati lembaga pemerintahan dan keamanannya, tapi esensinya adalah mengembalikan porsi, posisi dan fungsi birokrasi kepada khittahnya; sebagai abdi dari masyarakat. Dan proses ini lamat laun sudah dimulai saat ini. Good process… i think.

Lalu apa saja yang disampaikan anak-anak dan Ahok saat pertemuan itu? Lengkapnya bisa dilihat langsung pada rekaman video yang diunggah pemprov DKI sehari pasca pertemuan. Ini berita bagus juga. Sepak terjang Ahok (juga Jokowi tentunya) bisa disaksikan masyarakat umum melalui live report tim dokumentasinya. Bahkan di blog Ahok sendiri, secara rutin beliau selalu menyiarkan kegiatan dinas pemprov, termasuk kegiatan rapat dan hal lainnya yang bikin heboh itu; seperti marah-marah saat rapat dengan kepala dinas dan pejabat eselon lainnya hingga hal-hal kecil atau besar lainnya. Mungkin ini imbas dari kemajuan teknologi yang kemudian dimanfaatkan secara baik dan benar oleh kedua pemimpin jakarta itu. Dalam mata kuliah Birokrasi Indonesia yang saya ikuti dikampus, ini yang mungkin dinamakan sebagai reinventing government dan e-government itu.

Lalu kenapa ada babi??? Ah itu sebenarnya hanya untuk judul saja agar bombastis hehe… Tapi jangan antipati dulu kawan. Di sessi awal Ahok memang sempat membicarakan tentang gagasan besar kota metropolis Jakarta kedepan. Mulai dari pembangunan terpadu sarana transportasi publik (MRT dll), mekanisme atau regulasi pemakaian kendaraan pribadi hingga Babi sebagai satu dari sekian jenis binatang yang strukturnya paling menyerupai manusia. Persisnya saya lupa memang kenapa Ahok menyinggung babi dalam pertemuan itu. Namun menurutnya Babi adalah binatang yang paling sering dijadikan bahan penelitian medis. Banyak sudah obat, vaksin dan lain sebagainya yang melibatkan babi sebagai objek penelitiannya. Karena itu tadi, strukturnya yang paling hampir mirip dengan manusia, disamping tikus. Dan ini bukan sekedar isapan jempol, banyak sumber memang mengatakan demikian. Terlepas dari pandangan agama kita tentang haramnya babi, namun dari sisi manfaat binatang yang satu ini jelas memiliki andil bagi peradaban manusia. Lalu kemudian timbul pertanyaan, apakah mungkin Nabi telah salah memberikan label haram bagi binatang yang satu ini??? Emm.. pertanyaan yang kontroversial tentunya. Namun memang kepercayaan, khususnya agama bersifat taken begitu saja bukan? Hanya sedikit saja ruang yang bisa dipertanyakan. Selebihnya adalah tabu; sami’na wa atona, kami taat dan patuh. Sifat ini membuat agama menjadi tidak elastis, bahkan bagi sebagian orang tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Sementara dalam teori sosial perubahan itu sendiri adalah keniscayaan. Postulat sederhana memang merumuskan bahwa semestinya bukan agama yang menyesuaikan dengan jaman, tapi sebaliknya jaman lah yang harus menyesuaikan dengan agama. Ini ibarat ayam dan telor, muter-muter nggak berujung. Dua-duanya bisa benar, tapi juga bisa salah. Sebab secara konteks agama lahir jauh ribuan tahun lalu yang bisa saja secara aplikatif sudah usang. Jika dihadapkan dengan situasi kekinian dalam kerangka postulat itu maka agama menjadi tumpul, tidak mampu menjawab jaman. Hingga kemudian ada pendapat bahwa pengertian universalitas agama itu terletak pada esensi, bukan pada simbol dan tataran aplikatifnya, sebab konteksnya jauh berbeda. Tapi yaa.. sudahlah membicrakan hal ini tidak akan ada ujungnya, bisa jadi malah melahirkan debat kusir hingga melahirkan pedang dan parang .. maap yah … (apalagi yang gemar memakai sor*** itu, belum apa-apa sudah serang, bakar, habisi… you know lah siapa).

Last but not least, tulisan ini akan menyambung di bagian kedua hehe… sebelum lupa berikut adalah poto bersama Ahok dan beberapa halaman dari buku yang saya buat itu : cekidot

desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)
desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)

 

susunan tim penyusun buku
susunan tim penyusun buku

 

ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
sampul belakang buku
sampul belakang buku

*bersambung

Diskusi dan Tugas Kuliah; Masalah yang paling krusial dari wajah Birokrasi Kita

Posted on

bicara birokrasi, Indonesia memang juaranya !!!
bicara birokrasi, Indonesia memang juaranya !!!

Masalah Pokok :

Menurut saya , sedikitnya ada dua masalah pokok birokrasi kita saat ini :

1. Mental
Dari sisi mental atau psikologis, birokrasi kita sebagian masih terjebak pada pola pikir ‘dilayani’ bukan melayani masyarakat. Hal ini setidaknya terlihat mulai dari ujung tombak terbawah birokrasi, semisal Desa dan atau Kelurahan. Watak ini mungkin melembaga dan amat sulit dihilangkan dan hampir merata di sebagian besar daerah di Indonesia

2. Budaya
Pewarisan budaya khususnya budaya ‘keliru’ yang kemudian ditularkan dan diwariskan kepada setiap generasi. Mulai dari jam kerja yang longgar, aturan disiplin yang rendah, praktek suap, kolusi dan mark up proyek (khususnya yang melibatkan pihak ke-3). Hal ini dirasakan semakin merata di semua daerah, terlebih pasca OTDA yang memberikan kewenangan kepada masing-masing daerah menyelenggarakan pemerintahan.

Solusi

Solusi masalah tersebut terkesan memang rumit, ibarat mengurai benang kusut harus memulai dari mana. Ada satu teori ekstrim yang menyatakan bahwa pewarisan generasi itu bisa dihentikan dengan cara revolusi, dalam hal ini adalah memotong alurnya dengan cara menghabisi generasi tua birokrasi. Akan tetapi tidak mungkin hal ini terlaksana mengingat jumlah para birokrat kita yang rata-rata berusia di atas 40 tahun keatas. Hal logis yang masih bisa dilakukan adalah dengan perbaikan sistem dan rekrutmen pegawai, tidak hanya pegawai baru tetapi yang lebih utama adalah rekrutmen pucuk pimpinan birokrasi.

Perbaikan sistem ditandai dengan revisi UU tentang kepegawaian, pengawasan dan punishment yang konsisten terhadap pelanggar. Lalu pucuk pimpinan tidak kalah pentingnya. Sebab selama ini ditengarai pemilihan pimpinan, baik itu kepala seksi, kepada biro, kepala direktorat, kepala dinas dan seterusnya marak suap, dan ada unsur like and dislike bukan kepada penilaian objektif dari kinerja dan skill yang dimiliki. Jika dua hal ini mengalami perbaikan, bukan tidak mungkin dalam 5 sampai 10 tahun kedepan wajah birokrasi kita berubah ke arah yang lebih baik.

The Last Day On March ; Business Day

Posted on

Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya :-)
Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya 🙂

Tidak banyak memotret saya kali ini. Walau dekorasi sudah dibuat bagus sedemikian rupa, pun juga demikian dengan anak-anak. Tak terkecuali si Kaka, Fafa paling besar, special rok batiknya dijahit dua hari lalu, pake acara nyelak lagi… jadi lebih mahal gitu ongkos jahitnya daripada biasa. hehehe…

Senang, riang dan riuh begitulah kira-kira gambaran acara di Sekolah Kaka hari ini. Tajuknya adalah Business Day, acara yang rutin dilakukan setahun sekali yang melibatkan seluruh siswa-siswinya, mulai dari memasak, mengolah bahan, membuat kriya tangan sampai menjualnya di puncak hari H; ada yang terlibat sebagai penjaga stand, marketing dan seterusnya.

Namun demikian, pengalaman sebagai penjual (penjaga stand) sebenarnya bukanlah pengalaman pertama bagi Kaka. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dulu ia sering kuajak ke beberapa tempat atau outlet tempat Usaha Minumanku berjalan. Seperti di petukangan dan pondok aren. Dua tempat ini pada awalnya kujaga bergantian dengan sahabat karibku. Maklum saja, hari pertama buka belum ada informasi pegawai yang mau bekerja maka harus kujaga langsung. Nah saat itu usianya belum genap 6 tahun, aktivitas pagi biasanya dihabiskan di PAUD dan atau belajar Iqro. Barulah di sore hari kuajak ia langsung berjualan, mulai dari membuka booth, menyiapkan teh seduh, hingga mendisplay barang rutin kami lakukan, setidaknya di minggu awal usaha itu berjalan. Minggu-minggu berikutnya paling hanya kontrol saja karena sudah ada dua pegawai yang bekerja.

tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya
tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya

Berbicara tanggung jawab dan ketelitian, sebagaimana hal itu dimaksudkan juga di acara Business Day kali ini, Kaka mendapatkannya pertama kali di waktu dua tahun lalu itu. Ia sering kali membantuku menyiapkan cup untuk kemudian ku sealer lewat mesin pemanas, atau menjajakan banner sebagai sarana promosi sekaligus menjajakan dengan cara berteriak (nggak jelas) dan menawarkan dengan lembut kepada calon pembeli. Pengalaman ini tentu berkesan untuknya, maka ketika pertama kali kutanyakan padanya apa tugasnya di Business Day kali ini, dengan lantang kemudian ia jawab sebagai penjaga stand minuman (jus kacang ijo) ….. ah sudah barang tentu bisa ia lakukan. Toh dulu pun seperti itu.

Sowan dengan Ortu Yang Lain

Awalnya sedikit canggung juga, bagaimana memulai untuk berkenalan atau sekedar bersilaturahmi untuk yang sudah mengenal lewat pertemuan sebelumnya. Namun lamat laun suasana cair dengan sendirinya, beberapa diantara kami bahkan bertegur sapa terlebih dulu. Ceritapun mengalir, mulai dari aktivitas sehari-hari, pekerjaan, kebiasaan anak dan lain sebaginya. Diantara sekian percakapan itu, terselip bahasan tentang Sekolah. Bagaimana perubahan terjadi setelah sekian bulan anaknya bersekolah disini. Trend nya mengarah ke positif. Dan obrolan pun berlanjut ke masalah kurikulum, gaya mengajar hingga batasan anak untuk terlibat dan tidak dalam setiap pembelajaran.

Memang jauh bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan bagaimana kita dididik dahulu, baik itu di rumah … apalagi di sekolah (sekolah negeri biasanya). Kesempatan siswa untuk berkreasi, menumpahkan ide, bermain amat sangat terbatas. Lebih banyak titah ini dan itu, apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak. Hampir semua top down. Maka sekolah tidak lagi memberi rasa aman saat itu, wajah pendidikan yang ramah seolah berubah menjadi sangar dan tidak lembut untuk kita, peserta didik. Namun dengan kondisi demikian, kita tetap mampu bertahan. Ditengah stressing demikian, toh sebagiannya malah bisa menjadi juara kelas dan mendapat penghargaan.

wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe....
wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe….

Yups…. itu dulu, kini wajah itu berubah 180%. Untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab dan ketelitian bisa dilakukan dengan beragam aktivitas. Tidak melulu teksbook yang membosankan itu. Target pun dipasang tidak dengan cara membebani siswa, namun bagaimana pencapaian itu dilakukan bersama, guru, siswa dan juga orang tua. Artinya terjadi kombinasi yang sinergis antara sekolah dan rumah. Pun demikian dengan penilaian, jika dulu eksakta menjadi raja ditengah singgasana agung, maka kini sejalan dengan penemuan multiple intellegence, penilaian itu lebih fair dengan melihat anak/siswa secara utuh dan manusiawi. Sebab bukankah tujuan paling luhur dari pendidikan itu adalah memang Memanusiakan Manusia ?????

28 Maret 2014

-ditulis sambil ngerjain kuliah online-

 

 

Mengukur Sejauh Mana Materi Yang Sudah Dibaca Dipahami

Posted on Updated on

Perjuangan memang belum usai. Dari 5 materi mata kuliah yang saya ikuti pada semester ini, baru 4 yang tuntas dibaca dan diikuti. Sementara sisanya, yaitu statistik sosial, masih belum… atau tepatnya belum berani mengikuti, membaca apalagi mengerjakan tugasnya hehe…. entahlah apa materi statistik ini sebegitu menyeramkannya????? samakah dengan pelajaran Akuntansi yang dulu kuterima semasa duduk di sekolah menengah???

Aneh memang, semasa SD dan SMP mata perlajaran berhitung atau eksakta rasanya saya jadikan kawan seiring sejalan. Bahkan masih segar dalam ingatan, bagaimana kawan-kawan semasa SD dulu begitu menjagokan saya jika sudah berhubungan dengan matematika dan kawan sejenisnya. Tak ada PR yang tak bisa saya tuntaskan, dan tak ada papan tulis yang tak bisa kukerjakan jika Pak Guru menyuruhku ke depan. Pun demikian saat SMP. Tak percuma juga memang jika peringkat kelasku tidak pernah keluar dari 3 besar di kelas.

Tapi masa indah itu segera berlalu. SMA adalah masa terkelam dalam sejarah eksak-ku. Guru yang tidak menarik, bosan dan pelajaran yang makin rumit, juga tidak bermakna itu…. membuatku malas… semalas-malasnya. Maka wajar jika pada saat pembagian raport kelas 2 wali kelas memberi ultimatum, bahwa peringkatku adalah paling buncit. Jika tidak segera berubah maka akan tinggal kelas, atau paling banter masuk kelas IPS. Dan waktupun berlalu, IPS adalah destinasi paling adil. Tema sosial memang menjadi favoritku saat itu, entahlah kurasa terasa aktual saja dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, kecuali yaa… akuntansi itu hehe….

Syahdan kemudian aku menjadi singa panggung, sederet diskusi dan penugasan tuntas terlaksana. Peringkatpun mulai membaik, menembus ke skala 5 lalu 3 di caturwulan 3. Sungguh perjuangan yang tidak sia-sia.

Mengukur

Materi semester ganjil di tahun 2014 ini, banyak bersinggungan dengan pemerintahan… (ya iyalah wong ngambil jurusan itu kan hehe…). Dari keempat materi awal yang sudah kuikuti, sedikitnya ada benang merah yang ingin kutulis disini. Pertama adalah berkaitan dengan teori perubahan sosial. Dinamikanya cukup luas, terbuka dan terkini. Gagasan-gagasannya tidak berhenti pada teori klasik hingga modern, bahkan kini hingga neoklasik dan neomodern. Lalu kemudian juga dikenal ada Teori Evolusi, seperti evolusi intelektualnya Comte, konflik (marx), fungsional dan siklus. Di era modern pun banyak berlahiran teori baru, sebut saja Parsons, Ogburn dan Dahrendorf. Menarik memang membaca kembali ‘perubahan sosial’ yang tak pernah usang dan terus terjadi. Bagaimana perubahan itu terjadi pada pikiran secara perlahan (comte), lalu merubah struktur kelembagaan (soemardjan), didasari oleh semangat perubahan spiritual lalu menjadi masyarakat organis fungsional (weber) atau dilandasi oleh semangat pertentangan ekonomi (marx) semuanya terjadi. Hanya cara pandang saja yang membedakannya.

Di era kini, perubahan sosial juga turut dipacu oleh kehadiran teknologi. Sebagaimana kita tahu bahwa teknologi telah memudahkan manusia melakukan sesuatu. Melalui teknologi kita mampu mencipta sekaligus diciptakan oleh mesin-mesin yang kita ciptakan sendiri. Bagaimana perubahan komunikasi berlangsung begitu cepat, yang memengaruhi cara pandang masyarakat modern. Tentunya perubahan yang dimaksud haruslah bertujuan mempermudah manusia mencapai tujuannya, yang juga memiliki rasa keadilan, empati dan visi yang baik.

Dalam materi kuliah yang lain, lagi-lagi bersingungan dengan pemerintah. Kali ini bagaimana fungsi dan peran organisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Birokrasi atau yang kemudian disebut sebagai organisasi pemerintahan terlahir karena kompleksnya kehidupan bermasyarakat. Dan demi tercapainya tujuan bersama itu, maka lahirnya organisasi pemerintahan. Namun kenyataannya jauh panggang dari api, bagaimana prilaku birokrasi itu yang memakan tujuan luhurnya sendiri. Menghianati perannya sendiri, yaitu sebagai abdi dan pelayan masyarakat.

Adapun dua materi terakhir, kali ini lebih filosofis, lebih dalam dan esensial. Tentang bagaimana hakikat, dan manfaat kegunaan ilmu, khususnya ilmu pemerintahan. Dan tentang bagaimana organisatoris pemerintahan memenuhi suply dan demandnya dalam bingkai manajemen yang modern dan baik. Tentu harus melalui perencanaan yang ditindaklanjuti dengan aksi yang tepat guna dalam kerangka manajemen logistik pemerintahan yang profesional. Sehingga mutu dan pelayanan kepada masyarakat tidak terabaikan, sesuai dengan hakikat dari ilmu pemerintahan itu sendiri yang memiliki nilai guna pada wilayah aksiologisnya.

” lumayan buat ngerefresh materi yang sudah dibaca”

– Karang Tengah, 4 Maret 2014 –

Perencanaan Keuangan

Posted on

“Mempersiapkan jauh lebih baik, daripada panik ketika hajat itu datang dan harus tertunaikan”

Emm…. betul tidak ya ungkapan di atas??? Yup aku ingin memulainya dari sekarang, mungkin 5 atau 10 tahun lagi bisa menjadi jawaban….. kalaupun tidak jadi digunakan, toh masih bisa dijadikan investasi.

Amiin

BTN_Junior

Senengnya Tulisanku dijadiin Referensi Daftar Pustaka

Posted on

Daftar PustakaMungkin sudah lupa kapan tepatnya tulisan ini di buat dan dalam suasana apa ketika itu. Yang jelas judulnya “Tanggung Jawab dalam Pendidikan”. Syahdan, tulisan ini menyabet Juara II Kategori Essei Terbaik pada Pameran Pendidikan, dan Teknologi Anak yang diselenggarakan di Graha Manggala Siliwangi tahun 2009.

Emm… mungkin saat galau ketika itu. Jika diterawang tahun itu adalah tahun dimana kondisi saya kurang baik. Penuh masalah, dipanggil beberapa kali menghadap Kepala Sekolah, ga kerasan di rumah dan lain sebagainya. Mungkin seperti kata pepatah, dibalik masalah ada hikmah tersembunyi. Dan disadari atau tidak, medio tahun 2007 sd 2012 adalah masa produktif saya menulis, dan beberapa diantaranya menerima honor karena dimuat media cetak hehhe… (bangga banget ya saya hihhi )