farras

Semangkok Sarapan Bergizi Dari Ayah Untuk Kakak

Posted on

Bukan karena iklan yang saban pagi terdengar melalui Female97.9FM diacara Indy-Bekti ‘Happy Morning’ di radio mobil. Tapi sudah hampir 6 bulan belakangan ini, kakak memang memulai hari dengan sarapan pagi outmeal. Bagiku rasa outmeal masih asing di lidah, pun ketika dicampur buah-buahan atau susu malah semakin tak karuan. Tapi berbeda dengan kakak, menurutnya enak dan cocok digunakan sebagai sarapan pengganti nasi. Tanya kenapa??? menurutnya makan nasi di pagi hari, apalagi sampai kenyang, membuatnya ngantuk di sekolah. Sementara outmeal tidak. Cukup diseduh dengan air panas sudah jadi. Gampang membuatnya dan cocok diperutnya. Apalagi jika dihidangkan dengan tambahan lainnya semisal susu cair, strawberry, pisang atau anggur membuatnya semakin nikmat.

Well, setelah kebiasaan ini mulai terpola di bulan ke-3 kadang ingin juga icip-icip. Tapi tetap saja, lidah ndeso memang nggak bisa bohong. Ga cocok buat saya haha…. ga enak 🙂 Bagaimana dengan anda, apakah outmeal enak rasanya ??? atau hambar dan bikin enek ???

Setelah mendengar manfaat sereal dan atau gandum dan atau outmeal (berbeda ya nggak sama ini) memang tiada salahnya membiasakan jenis makanan ini, terutama buat anak-anak yang masih bertumbuh. Diantara sekian banyak manfaat, salah satunya adalah serat. Seperti kita tahu tubuh kita membutuhkan serat, dan biasanya serat ini bisa tercukupi dengan mengkonsumsi buah-buahan. Nah menurut info juga, sekian sendok outmeal itu sudah bisa menggantikan dua mangkok pepaya. So, mengapa tidak mulai membiasakan buat anak-anak. Selain serat, outmeal juga mengandung antioksidan, menurunkan kolesterol dan lain sebagainya (http://www.ciputrahospital.com/berita-108-manfaat-oatmeal-bagi-kesehatan-.html)

Dan karena kebutulan kakak juga suka, maka kebiasaan ini akan terus kami lakukan (minus saya tentunya). Mungkin sampai nanti hehe…. Tapi pagi ini kakak sakit dan ijin ke sekolah. Sebetulnya memang sudah dari 2 hari lalu batuknya menggejala. Dan sepulang les bahasa inggris kemarin, batuknya itu menjadi. Maka saya antar dia ke klinik langganan di dekat jembatan serong itu. Dan dugaan benar, tenggorokannya merah merona alias radang besar. Dan bisa dipastikan bagaimana sakitnya ia saat batuk dan makan. Maka hari ini lebih baik istirahat saja dulu, toh sudah masuk minggu akhir sekolah. Dengan begitu tidak ada absensi dan tidak ada lagi penilaian, karena guru-gurunya sudah sibuk ngurusin raport hehe… Minggu depan sudah masuk diskusi akhir semester, setelah itu libur deh.

Berhubung pagi ini waktu agak luang, maka saya pun dengan sigap menyiapkan semangkok sarapan outmeal buat dia; lengkap dengan potongan pisang, anggur merah dan campuran susu putih segar. Berikut penampakannya :

semangkok sarapan buat kakak dari ayah

Setelah nya kakak tinggal meminum obat dan istirahat lagi sambil nonton tivi Doc McStuffins … ‘jangan lupa mandi ya ka …’

 

10 Des’14

Ayahmu

Advertisements

Lomba Tari di TMII; Kaka, teman dan Sekolah

Posted on

kolase hasil jepretan sendiri
kolase hasil jepretan sendiri

Hari Sabtu kemarin, kaka ikut lomba menari. Jadwal pagi yang biasanya masih tertutup selimut, kala itu ia harus bergegas menuju tempat rias; Mang Ujang demikian kami biasa memanggilnya, juru rias kampung yang laris manis disewa saat hajatan, acara kartinian atau hari-hari besar lainnya. Tepat Pukul 5 pagi, Ujang dengan sigap melakukan touch-up. Kuas menari kesana kemari, bulu-bulunya menebarkan warna. Mulai dari alis, hidung, pipi dan ditutup dengan bibir. Seluruhnya purna berubah warna. Cantik ??? ahh.. mungkin bukan. Aku tak terlalu suka anak kecil berlaku dandanan dewasa, tapi harus kuakui cukup lucu juga apalagi dua buah gigi bagian depan baru saja tanggal. Maka seperti gawang saja jika ia tertawa hihihi….

DSCF3418

Tuh terlihat kan giginya yang ompongs ??? Tidak kurang dari waktu 30 menit sesuai kontrak, Kaka sudah siap sedia lengkap dengan sanggul dan kostum tariannya. Tanpa basa-basi, sang ibu merogoh kantong dan mengeluarkan 3 lembar uang sepuluh ribuan, lagi-lagi sesuai kontrak dan perjanjian tadi malam. Tuntas sudah juru rias ini menyelesaikan tugasnya, haknya pun sudah terpenuhi. Kami pun senang dan melenggang menuju rumah memanaskan mobil. Sebelum lanjut, tentu anda bertanya ‘masih musim ya riasan 3 rebu?’ Ooh jangan salah kawan, Ujang tidak mematok harga tinggi pada jasa yang diberikannya, bukan karena skillnya yang masih ecek-ecek, tapi justru karena altruismenya yang tinggi. Sifat ini rasanya yang sudah mulai luntur dikalangan kebanyakan dari kita 😦

Bagian Mang Ujang saya akan menuliskannya lain kali. Singkat kata, Ujang yang kemayu itu adalah tulang punggung bagi adik-adiknya, ibunya yang renta dan anak semata wayangnya.

Dalam Perjalanan

Selama perjalanan, Kakak terlihat serba salah. Maklum saja jarak antara rumah kami dengan sekolah tidak kurang dari 40 menit perjalanan, maka dia yang biasanya tidur nyaman di baris kedua jok mobil, kini mematung resah karena takut karya besar Mang Ujang hancur; rambut menjadi lepek, riasan yang luntur karena lendir tidur dan baju yang acak-acakan. Maka pagi itu ia mematung besi, mendongak kesana kemari melalui jendela menghindari tidur. Dan tuntas juga akhirnya, pukul 7 lewat 30 kami tiba di sekolah. Guru pembimbing tari yang juga rekan sang ibu, telah menunggu dari 5 menit yang lalu. Deru mesin kendaraan tidak terlalu menggema pagi itu, maklum saja ini hari sabtu. Bagi sebagian orang sabtu adalah hari bersantai, bangun siang dan melakukan aktifitas suka-suka; tidak mandi, juga tidak gosok gigi apalagi ganti baju. Wal hal sabtu atau minggu adalah kemerdekaan hakiki; lepas dari belenggu penjajahan ekonomi, merdeka dari rutinitas aktifitas bertahan hidup. Maka sah-sah saja dua hari itu disebut hari suka-suka kita hehe… walau ada dalam sebuah buku weekend juga dikatakan dengan masturbasi, mengganti hasil kerja dalam 5 hari dengan 2 hari kenikmatan semu. Bahkan menghabiskan sumber daya hanya di dua hari itu dengan berfoya-foya dan menikmati hidup. Buku Yudhi Lathief klo ndak salah, chapter berapa saya lupa, intinya tentang masturbasi kebudayaan.

Tiba di Istana Anak TMII

Tidak banyak penumpang kali ini, hanya aku, sang ibu, kaka, dua guru pendamping tari beserta salah satu adik kelas kakak yang juga anak dari rekan atau guru pendamping itu. Biasanya hari-hari mobil ini rutin menjemput 3 siswa lainnya, ya mumpung ada kesempatan hehe…. ada demand ya ada supply. Saling menguntungkan lah, minimal menambah uang bensin.

Tepat pukul 8.30 kami tiba sesuai rencana. Pagi itu jalan cukup lengang. Rute yang kami lewati adalah fatmawati, joss tol dan keluar rambutan lalu TMII. Beberapa orang tua telah hadir bersama sang putri di TKP. Menurut nomor undian, kelompok tari Kakak berada di nomor urut 10. So,… mesti siap-siap kalau nggak mau kelewat. Dan ada beberapa momen yang sempat saya abadikan di saat-saat penantian nomor urut kami dipanggil menuju panggung, berikut adalah momen tersebut :

 kegiatan

Saat Tampil

Bagi sebagian orang, perlombaan adalah ajang memompa diri. Mengukur sejauh mana batas kemampuan. Muaranya ada pada peringkat, label, stratifikasi. Namun identifikasi dengan mengaitkan peringkat sebagai nilai dari kemampuan belum tentu menggambarkan diri sebagai personal yang utuh; yang lengkap dengan multiple bakat, kompleksitas pemikiran dan seterusnya. Alih-alih meningkatkan batas kemampuan minimal, justru kadang sebaliknya; stereotipe, bias dan menempatkan pada satu sisi penilaian yang jauh dari sempurna dan lengkap. Oleh sebab itu, pemikiran yang tidak menekankan pada peringkat (dari bentuk kompetisi apapun) bisa dimafhumi sebagai bagian dari proses pembentukan dan perkembangan kepribadian secara utuh. Apalagi ketika hal ini ditujukan terhadap anak-anak, yang tentu masih terbuka jendela peluangnya untuk senantiasa berkembang dengan berbagai keahlian. Seperti tabula rasa; warna-warni, dengan berbagai gambar dan bentuk kreasi.

Lomba kemarin mungkin bisa dimaknai sebagai bagian dari ekspresi anak-anak. Tidak ada beban target, semuanya mengalir begitu saja. Kekayaan pengalaman tentu jauh lebih berharga dibandingkan peringkat yang hirarkis. Apalagi seni, sebagai bagian dari wujud kebudayaan manusia (jadi inget mata kuliah antrop saya hehe..) adalah buah akal dan budi manusia. Seni juga mampu memperhalus emosi sekaligus mengasah pikiran menjadi lebih arif. Maka mendekatkan anak-anak pada kesenian tentu menjadi salah satu upaya dalam konteks memanusiakan manusia seperti jargon dalam dunia pendidikan itu loh xixi…. Iya gitu … iya lah

So, melihat kaka senang dengan bermain, menari dan tampil di depan umum tentu sudah cukup. Setidaknya bentuk aktualisasi dalam bingkai yang masih sederhana sudah ia lalui. Akan bentuk penghargaan berupa peringkat dari perlombaan itu, hanyalah bonus. Yaa.. anggap saja demikian. Bonus dari apa yang sudah dilakukannya kemarin.

Depok, 17 Nop’14

Meriahnya Susu

Posted on

DSCF2977 DSCF2973 DSCF2974 DSCF2976Jarang sekali saya mengupload photo akhir-akhir ini. Nah berhubung kamera nya saya bawa dan kabelnya juga.. maka inilah photo-photo hasil jeprat jepret hari minggu kemaren.

Walau sebenarnya nggak beli susunya, Fafa nampak antusias sekali ‘ditanggap’ ama mba-mba dan mas-mas SPG susunya. Aktif-aktif katanya anaknya dan lucu hehe…. Tapi bukan berarti nggak beli sama sekali juga susunya, tetep beli tapi diberikan untuk anaknya mba yang jaga di rumah, dah dua hari dia ikut nemenin kakak maen.

So, mungkin itu dulu… sudah jam 2 mau jemput anak-anak sekolah dulu ya 😉

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dia yang sekarang, bukan yang dulu

Posted on

IMG_20140825_160458
Kakak Farras saat bermain ayunan di grand matoa rumah temannya

Dia yang sekarang memang bukan yang dulu. Bayi mungil yang selalu kugendong atau didorong menggunakan kereta bayi ketika jalan-jalan keluar rumah. Dia yang sekarang adalah anak jaman yang setia pada nafasnya. Update, ingin tampil eksis, rempong, kepo dan cerdas. Yup gambaran anak ideal bukan? tugas orang tuanya lah membuka gerbang cakrawala hidup yang maha luas. Agar hidupnya kelak berarti, menjadi diri sendiri dan mampu mencapai aktualisasi setinggi mungkin. Itu tugas kami…. Amin

Berbalik dengan dia yang sekarang. Aku merasa masih seperti yang dulu, tidak beranjak tuwir hehe… padahal tentu itu berbeda. 7 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Kerugian semata jika selama itu tiada hal berguna yang mampu membuat lebih matang, dewasa dan berkarakter. Mudah-mudahan seiring dengan bertambahnya usiaku di bulan ini banyak perbedaan yang telah dibuat. Pencapaian orang tentu berbeda-beda, tolok ukurnya bersifat relatif. Namun bukan berarti kemunduran dianggap sebagai pertumbuhan itu sendiri. Kemajuan dan pertumbuhan adalah sebagaimana adanya. entah apa yang terjadi kelak. Masa kini adalah masa yang bisa diukir… jangan lewatkan

Ahok; mulai dari gagasan besar kota metropolis hingga babi (senarai singkat pertemuan anak gemala dengan Plt gubernur) – part1

Posted on

photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe...
photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe…

Tepat hari Kamis lalu saya menjadi pendamping anak-anak kelas 1, tempat dimana anak sulungku bersekolah. Kegiatan ini adalah kegiatan penutup di tahun ajaran ini. Kegiatan yang mungkin bisa dinilai berbeda dan cukup menarik, apalagi untuk anak kelas 1; mengunjungi balai kota dan bertemu dengan Plt Gubernur Jakarta Bapak Basuki Tjahya Purnama atau yang lebih akrab disapa dengan Ahok. Menurut Kepala Sekolahnya, seperti yang juga beliau utarakan di sessi pembuka pertemuan itu, kegiatan ini masuk kedalam tema pembelajaran ‘jakartaku’ dimana anak belajar mengenai daerahnya; untuk peka sekaligus peduli akan kota yang ditinggalinya. Bentuknya adalah dengan mengumpulkan karya-karya terbaik perwakilan dari kelas 1 Merapi dan Semeru dalam bentuk tulisan dan gambar mengenai permasalahan jakarta, disertai dengan tindakan pencegahan beserta solusi, tentunya khas anak-anak kelas 1 SD. Maka bisa dibayangkan betapa menariknya hal itu, bagaimana anak-anak bersuara tentang kotanya, permasalahannya hingga hal-hal lainnya yang bisa saja kita – selaku orang dewasa – dianggap sepele namun justru menjadi perhatian anak-anak, dan uniknya hal ini disampaikan secara langsung kepada pemimpin kota jakarta yang kita cintai, Gubernur DKI Jaya.

Jika saja Jokowi tidak nyapres, maka kemungkinan besar yang menerima rombongan SD Gemala Ananda ini adalah beliau. Namun belum tentu juga suasana secair kemarin. Ada sisi yang memang berbeda dari dua karakter pemimpin Jakarta ini. Jokowi yang khas dengan adat jawanya; kalem, lungguh dan sejenisnya dan Ahok yang cenderung ‘melaju kencang’ ceplas ceplos dan apa adanya. Dalam salah satu kesempatan di acara Mata najwa bahkan keduanya mengakui bahwa Jokowi cenderung menjadi rem bagi Ahok. Maka pertemuan yang diselenggarakan Kamis kemarin itu bisa jadi berbeda jika Jokowi yang menerimanya. Bukan dari sisi kualitas pertemuan tentunya, namun dari sisi gaya, terlebih gaya dalam penyampaian dan memperlakukan anak-anak. Maka Ahok berhasil dalam hal itu, membuat suasana santai dan bisa diterima anak-anak.

Kami sebagai orang tua, tentu menyambut baik kegiatan sekolah ini. Apalagi tidak semua orang tua dapat mendampingi dan hadir pada pertemuan itu. Hanya orang tua yang diundang secara khusus yang bisa mendampingi. Dan saya satu diantara sekian ortu yang beruntung itu. Walau mungkin juga karena keterlibatan saya sebelumnya dalam membukukan karya anak-anak itu menjadi sebuah buku yang menarik untuk kemudian disampaikan kepada Bapak Gubernur. Benar, sebulan sebelumnya ibu guru, khususnya guru kelas Merapi kelas anakku, meminta kesediaan orang tua untuk menjadi relawan ahli, atau konsultan graphis sekaligus tata letak/layouter buku dari karya anak-anak yang menurut rencana saat itu akan dibukukan dan disampaikan langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Gayung bersambut, di minggu itu saya memiliki waktu yang masih luang untuk membuatnya. Maka ajakan itu tidak lama untuk kemudian saya iyakan saja hehe….

Walau dalam perjalannya memiliki hambatan, namun proses demi proses yang dilalui membuahkan hasil yang baik (mengenai cerita dibalik pembuatan buku itu, akan saya ceritakan/tulis dalam judul yang lain … kalau sempat itu juga hihi…). Buktinya wujud fisik dari buku itu dinilai cukup estetik dan layak untuk disampaikan secara langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Alhamdulillah, orang tua yang lain juga menyukai hasil desain saya itu dan kabarnya lebih dari 40 orang tua juga turut memesannya kepada Sekolah (noted saya tidak mengambil royalti apapun dari hasil penjualan buku itu ya.. walaupun bisa aja meminta hehe….).

Back to meeting, acara itu berjalan cukup meriah, santai dan memberikan dampak yang positif, tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga guru dan audiens lain yang hadir disana (mungkin juga Ahok sendiri, setidaknya dia sempat berkelakar bahwa harus bersekolah lagi di Gemala haha…..). Sementara dampak bagi guru yang paling penting adalah ‘narsisme’ menemukan muaranya, yups apalagi kalau bukan poto-poto dan kemudian dipasang di media sosial; path, fb, twitter dan bb …… hehe… Sementara buat anak-anak, atau khususnya anakku sendiri,  dia dihapal namanya oleh Ahok ‘Farras awas kamu jatuh’… atau ketika dia berkata “yah si farras ngantuk tuh’ ….. hadeuh tuh anak sepanjang pertemuan duduknya paling nggak deh, kadang tumpang kaki, kadang bersila, kadang sedikit diangkat … padahal di atas kursi loh… emang gak bisa diem.

Ini yang serius ya ….. Dampak yang paling signifikan bagi anak-anak tentu baru terlihat kemudian. Namun setidaknya dari proses ini mampu memberikan wadah atau tempat bagi mereka untuk berkreasi, menempa kepercayaan diri, sedikit membuka wawasan politik (tentang hirarki kepemimpinan setidaknya) dan itu tadi peka dan peduli akan kota yang ditinggalinya. Bagi sekolah feedback nya lebih luar biasa, disamping pencapaian pada tema pembelajaran, namun juga sekaligus menaikan citra atau pamor sekolah dimata khalayak. Tidak hanya bagi para orang tua yang menyekolahkan anaknya disini, tapi juga masyarakat umum lainnya. Sebab tidak kurang dua media online turut mempublikasikannya; grup kompas khususnya seperti tribun dan portal kompas lainnya (terakhir saya juga mendengar liputan 6 SCTV dan NET TV). Sementara bagi pemprov sendiri tentu ini adalah jawaban dari proses keterbukaan dan demokrasi yang diagungkan itu. Sudah bukan jamannya lagi pimpinan/pemerintah menutup diri dan menjauhkan diri dari rakyatnya. Namun sebaliknya, membuka pintu seluas-luasnya terhadap aspirasi apapun yang berasal dari rakyat. Protokoler its oke, setidaknya ini untuk menghormati lembaga pemerintahan dan keamanannya, tapi esensinya adalah mengembalikan porsi, posisi dan fungsi birokrasi kepada khittahnya; sebagai abdi dari masyarakat. Dan proses ini lamat laun sudah dimulai saat ini. Good process… i think.

Lalu apa saja yang disampaikan anak-anak dan Ahok saat pertemuan itu? Lengkapnya bisa dilihat langsung pada rekaman video yang diunggah pemprov DKI sehari pasca pertemuan. Ini berita bagus juga. Sepak terjang Ahok (juga Jokowi tentunya) bisa disaksikan masyarakat umum melalui live report tim dokumentasinya. Bahkan di blog Ahok sendiri, secara rutin beliau selalu menyiarkan kegiatan dinas pemprov, termasuk kegiatan rapat dan hal lainnya yang bikin heboh itu; seperti marah-marah saat rapat dengan kepala dinas dan pejabat eselon lainnya hingga hal-hal kecil atau besar lainnya. Mungkin ini imbas dari kemajuan teknologi yang kemudian dimanfaatkan secara baik dan benar oleh kedua pemimpin jakarta itu. Dalam mata kuliah Birokrasi Indonesia yang saya ikuti dikampus, ini yang mungkin dinamakan sebagai reinventing government dan e-government itu.

Lalu kenapa ada babi??? Ah itu sebenarnya hanya untuk judul saja agar bombastis hehe… Tapi jangan antipati dulu kawan. Di sessi awal Ahok memang sempat membicarakan tentang gagasan besar kota metropolis Jakarta kedepan. Mulai dari pembangunan terpadu sarana transportasi publik (MRT dll), mekanisme atau regulasi pemakaian kendaraan pribadi hingga Babi sebagai satu dari sekian jenis binatang yang strukturnya paling menyerupai manusia. Persisnya saya lupa memang kenapa Ahok menyinggung babi dalam pertemuan itu. Namun menurutnya Babi adalah binatang yang paling sering dijadikan bahan penelitian medis. Banyak sudah obat, vaksin dan lain sebagainya yang melibatkan babi sebagai objek penelitiannya. Karena itu tadi, strukturnya yang paling hampir mirip dengan manusia, disamping tikus. Dan ini bukan sekedar isapan jempol, banyak sumber memang mengatakan demikian. Terlepas dari pandangan agama kita tentang haramnya babi, namun dari sisi manfaat binatang yang satu ini jelas memiliki andil bagi peradaban manusia. Lalu kemudian timbul pertanyaan, apakah mungkin Nabi telah salah memberikan label haram bagi binatang yang satu ini??? Emm.. pertanyaan yang kontroversial tentunya. Namun memang kepercayaan, khususnya agama bersifat taken begitu saja bukan? Hanya sedikit saja ruang yang bisa dipertanyakan. Selebihnya adalah tabu; sami’na wa atona, kami taat dan patuh. Sifat ini membuat agama menjadi tidak elastis, bahkan bagi sebagian orang tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Sementara dalam teori sosial perubahan itu sendiri adalah keniscayaan. Postulat sederhana memang merumuskan bahwa semestinya bukan agama yang menyesuaikan dengan jaman, tapi sebaliknya jaman lah yang harus menyesuaikan dengan agama. Ini ibarat ayam dan telor, muter-muter nggak berujung. Dua-duanya bisa benar, tapi juga bisa salah. Sebab secara konteks agama lahir jauh ribuan tahun lalu yang bisa saja secara aplikatif sudah usang. Jika dihadapkan dengan situasi kekinian dalam kerangka postulat itu maka agama menjadi tumpul, tidak mampu menjawab jaman. Hingga kemudian ada pendapat bahwa pengertian universalitas agama itu terletak pada esensi, bukan pada simbol dan tataran aplikatifnya, sebab konteksnya jauh berbeda. Tapi yaa.. sudahlah membicrakan hal ini tidak akan ada ujungnya, bisa jadi malah melahirkan debat kusir hingga melahirkan pedang dan parang .. maap yah … (apalagi yang gemar memakai sor*** itu, belum apa-apa sudah serang, bakar, habisi… you know lah siapa).

Last but not least, tulisan ini akan menyambung di bagian kedua hehe… sebelum lupa berikut adalah poto bersama Ahok dan beberapa halaman dari buku yang saya buat itu : cekidot

desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)
desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)

 

susunan tim penyusun buku
susunan tim penyusun buku

 

ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
sampul belakang buku
sampul belakang buku

*bersambung

JANGAN BERHENTI MENCOBA

Posted on

Keengganan untuk mencoba setelah gagal dan terjatuh… lalu bangkit dan mencoba lagi adalah sikap mental yang patut dimiliki. Keinginan yang kukuh dan tekad yang keras terkadang menjadi penentu keberhasilan, ketimbang bakat, gen, kesempatan dan lingkungan. Sudah banyak contoh orang yang persisten, konsisten dalam mencapai tujuan hingga kemudian berhasil dan mampu mewujudkan impiannya itu.

Namun dalam prakteknya, persisten dan konsisten kadang tidak mudah dilakukan. Adakalanya semangat untuk terus ‘on’ itu meredup oleh berbagai hal; bisa karena pengalaman terjatuh sebelumnya, kecemasan dan ketakutan (anxiety and paranoia) padahal belum dilakukan, hingga hal lainnya yang kemudian menumbuhkan sikap negatif dalam pikiran. Hingga hasrat untuk mencoba itu sirna, bahkan layu sebelum berkembang.

Orang dewasa cenderung berpikir secara logis, yang ditandai dengan berbagai pertimbangan; disertai alasan ini dan itu untuk kemudian melakukan. Kata orang tindakan tanpa pemikiran adalah sembrono; bisa jadi benar dan bisa juga tidak. Sebab aksi tanpa pemikiran/perencanaan bisa kebablasan, namun sebaliknya terjebak pada pemikiran dengan sederet pertimbangan tanpa aksi sekalipun adalah NOL BESAR alias OMDO. Lantas bagaimana ???

Anak-anak berbeda dengan kita; orang dewasa dalam berbuat dan bertindak. Terkadang ada saatnya orang dewasa perlu mencontoh dan belajar pada anak-anak. Walau terkadang tanpa perhitungan, mereka melakukannya dengan spontan. Bahkan ketika gagal, dengan cepat bangkit dan mencoba lagi. Tak peduli dengan rengekan, tangisan dan kesakitan yang mungkin saja timbul ketika melakukan perbuatan itu. Yang penting mencoba sambil bermain dan berbuat sesuatu yang menyenangkan. Itulah mereka, anak-anak dengan segala kepolosan dan kelucuannya.

Sama dengan duo Fafaku kemarin; Fa besar kini berusia 7 tahun dan Fa kecil berusia 3 tahun, ketika bermain Ice Skating di BxC Mall Bintaro hari minggu lalu, keduanya bermain dengan riang. Tak peduli bahaya yang bisa saja terjadi; semisal terjatuh karena licin, terinjak sepatu skating yang tajam dan atau kejadian lain yang jika saya bayangkan bisa saja mengerikan. Mereka dengan excitednya memakai sepatu dan masuk area permainan. 1 menit awal terlihat kesulitan dan berpegangan pada pembatas… namun sejurus kemudian mencoba berjalan sendiri perlahan tapi pasti meluncur… lalu BRAAKKK … terpeleset dan jatuh. Fa besar bangkit dan mencoba lagi, sementara Fa kecil menangis dengan pipi memerah terpapar es. Ajaibnya mereka turun lagi dan mencoba kembali berjalan. Terlalu berani mungkin iya, sebab bisa saja badannya terpelanting dan membentur lantas es yang licin. Namun disisi lain keinginannya untuk terus mencoba dan mencoba adalah hal lain yang patut diapresiasi.

Menilik diri sendiri, terkadang dalam melakukan sesuatu terlalu banyak pertimbangan. Hingga kemudian urung dilakukan. Padahal bisa saja setelah mencoba, mendapatkan banyak hal, minimal belajar pada hal-hal baru. Namun itulah kita orang dewasa, yang hidup dengan beragam latar belakang, pengalaman dan lingkungan yang kemudian membentuknya menjadi saat ini. Tidak ada kata terlambat memang untuk belajar dan mencicipi hal baru. Usia boleh tua tapi semangat harus tetap segar dan muda. Namun tidak ada objektiitas yang murni dalam diri kita, kenyataan saat ini adalah bentukan masa lalu. Ketakutan, pikiran negatif dan sejenisnya sudah terlanjur bersemayam dalam otak. Belajar mengendalikannya adalah keharusan. Namun yang lebih utama adalah menyadari diri dengan berbuat dan menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk anak-anak kita agar berkembang secara dinamis, terbuka, kuat pikiran dengan mental baja yang tahan terhadap rintangan dan godaan yang menyesatkan 🙂

***

Berikut adalah beberapa gambar yang sempat saya abadikan bersama duo Fafaku

photo diambil sambil bergerak (makanya ngeblurr gitu hee..) saat Kaka Farras (7 thn) melepaskan diri dari pegangan
photo diambil sambil bergerak (makanya ngeblurr gitu hee..) saat Kaka Farras (7 thn) melepaskan diri dari pegangan

 

Walau memakai alat bantu, Ade (Fathir, 3 thn) sudah berani ber-skating ria ke tengah area permainan
Walau memakai alat bantu, Ade (Fathir, 3 thn) sudah berani ber-skating ria ke tengah area permainan

 

Kaka Farras saat istirahat
Kaka Farras saat istirahat

 

Ade Fathir sebelum pulang... pasca menangis karena terjatuh di tengah2 area permainan (akhirnya dia berhenti main)
Ade Fathir sebelum pulang… pasca menangis karena terjatuh di tengah2 area permainan (akhirnya dia berhenti main)

 

The Last Day On March ; Business Day

Posted on

Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya :-)
Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya 🙂

Tidak banyak memotret saya kali ini. Walau dekorasi sudah dibuat bagus sedemikian rupa, pun juga demikian dengan anak-anak. Tak terkecuali si Kaka, Fafa paling besar, special rok batiknya dijahit dua hari lalu, pake acara nyelak lagi… jadi lebih mahal gitu ongkos jahitnya daripada biasa. hehehe…

Senang, riang dan riuh begitulah kira-kira gambaran acara di Sekolah Kaka hari ini. Tajuknya adalah Business Day, acara yang rutin dilakukan setahun sekali yang melibatkan seluruh siswa-siswinya, mulai dari memasak, mengolah bahan, membuat kriya tangan sampai menjualnya di puncak hari H; ada yang terlibat sebagai penjaga stand, marketing dan seterusnya.

Namun demikian, pengalaman sebagai penjual (penjaga stand) sebenarnya bukanlah pengalaman pertama bagi Kaka. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dulu ia sering kuajak ke beberapa tempat atau outlet tempat Usaha Minumanku berjalan. Seperti di petukangan dan pondok aren. Dua tempat ini pada awalnya kujaga bergantian dengan sahabat karibku. Maklum saja, hari pertama buka belum ada informasi pegawai yang mau bekerja maka harus kujaga langsung. Nah saat itu usianya belum genap 6 tahun, aktivitas pagi biasanya dihabiskan di PAUD dan atau belajar Iqro. Barulah di sore hari kuajak ia langsung berjualan, mulai dari membuka booth, menyiapkan teh seduh, hingga mendisplay barang rutin kami lakukan, setidaknya di minggu awal usaha itu berjalan. Minggu-minggu berikutnya paling hanya kontrol saja karena sudah ada dua pegawai yang bekerja.

tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya
tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya

Berbicara tanggung jawab dan ketelitian, sebagaimana hal itu dimaksudkan juga di acara Business Day kali ini, Kaka mendapatkannya pertama kali di waktu dua tahun lalu itu. Ia sering kali membantuku menyiapkan cup untuk kemudian ku sealer lewat mesin pemanas, atau menjajakan banner sebagai sarana promosi sekaligus menjajakan dengan cara berteriak (nggak jelas) dan menawarkan dengan lembut kepada calon pembeli. Pengalaman ini tentu berkesan untuknya, maka ketika pertama kali kutanyakan padanya apa tugasnya di Business Day kali ini, dengan lantang kemudian ia jawab sebagai penjaga stand minuman (jus kacang ijo) ….. ah sudah barang tentu bisa ia lakukan. Toh dulu pun seperti itu.

Sowan dengan Ortu Yang Lain

Awalnya sedikit canggung juga, bagaimana memulai untuk berkenalan atau sekedar bersilaturahmi untuk yang sudah mengenal lewat pertemuan sebelumnya. Namun lamat laun suasana cair dengan sendirinya, beberapa diantara kami bahkan bertegur sapa terlebih dulu. Ceritapun mengalir, mulai dari aktivitas sehari-hari, pekerjaan, kebiasaan anak dan lain sebaginya. Diantara sekian percakapan itu, terselip bahasan tentang Sekolah. Bagaimana perubahan terjadi setelah sekian bulan anaknya bersekolah disini. Trend nya mengarah ke positif. Dan obrolan pun berlanjut ke masalah kurikulum, gaya mengajar hingga batasan anak untuk terlibat dan tidak dalam setiap pembelajaran.

Memang jauh bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan bagaimana kita dididik dahulu, baik itu di rumah … apalagi di sekolah (sekolah negeri biasanya). Kesempatan siswa untuk berkreasi, menumpahkan ide, bermain amat sangat terbatas. Lebih banyak titah ini dan itu, apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak. Hampir semua top down. Maka sekolah tidak lagi memberi rasa aman saat itu, wajah pendidikan yang ramah seolah berubah menjadi sangar dan tidak lembut untuk kita, peserta didik. Namun dengan kondisi demikian, kita tetap mampu bertahan. Ditengah stressing demikian, toh sebagiannya malah bisa menjadi juara kelas dan mendapat penghargaan.

wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe....
wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe….

Yups…. itu dulu, kini wajah itu berubah 180%. Untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab dan ketelitian bisa dilakukan dengan beragam aktivitas. Tidak melulu teksbook yang membosankan itu. Target pun dipasang tidak dengan cara membebani siswa, namun bagaimana pencapaian itu dilakukan bersama, guru, siswa dan juga orang tua. Artinya terjadi kombinasi yang sinergis antara sekolah dan rumah. Pun demikian dengan penilaian, jika dulu eksakta menjadi raja ditengah singgasana agung, maka kini sejalan dengan penemuan multiple intellegence, penilaian itu lebih fair dengan melihat anak/siswa secara utuh dan manusiawi. Sebab bukankah tujuan paling luhur dari pendidikan itu adalah memang Memanusiakan Manusia ?????

28 Maret 2014

-ditulis sambil ngerjain kuliah online-

 

 

Sebaris Cerita dari Kampung 99 Pepohonan

Posted on Updated on

Hari minggu kemarin adalah hari yang cukup melelahkan, setelah seminggu sebelumnya melakukan banyak pekerjaan tertunda dan tugas kuliah yang kembali menumpuk. Maka Minggu pagi cukup dengan berleha-leha saja di rumah, sembari minum kopi dan kudapan tak bergizi (otak-otak goreng). Namun tak demikian dengan Fafa, duo bocah kecilku di rumah. Ada-ada saja ulahnya, saling usil, saling colek, saling ini dan itu… hingga menangis atau bertengkar. Ibunya cukup pusing dibuatnya. Lalu Fafa tertua berkomentar ‘hah.. di rumah terus bosen nih Ayah ….’

Mungkin itulah penyebab dari keributan itu. Padahal dia baru satu hari saja di rumah, karena dari Senin sd Jumat bersekolah dan pulang hampir selalu malam. Ya sudah kami pun memutuskan pergi, tapi kemana??? Berenang lagi… ahh.. bosen. Ke mall … juga nyaris tak ada yang baru. Mau nonton bioskop pun tak ada film anak-anak yang tayang. Lalu apa??? Satu jam, dua jam pun berlalu. Saya masih saja berleha-leha sambil menonton TV. Hingga kemudian tuts demi tuts gadget sederhana itu menampakkan diri, satu persatu wahana wisata kota Depok bermunculan. Dan kami pun memutuskan untuk pergi/berjalan-jalan ke Kampoeng 99 Pepohonan.

Sulitnya Menuju Lokasi

IMG_20140316_135518 Photo disamping diambil pada saat kami akan memasuki rumah kayu yang terletak di bagian depan lokasi Kampoeng 99 Pepohonan. Ade seperti biasa dengan gayanya yang ‘sok tahu’ menunjuk ke arah bawah, kira-kira … ayo kesana ayah….

Letak lokasi Kampoeng 99 Pepohonan sebenarnya tidak lah terlalu jauh dari Jalan Raya Meruyung Limo Depok. Persisnya ada di seberang Masjid Kubah Mas (Dian Al-Mahri) Depok. Hanya saja minimnya petunjuk dan sempitnya jalan masuk kedalam lokasi membuat banyak orang tersesat. Bahkan kami sempat dibuat ragu apa benar jalan atau gang yang kami susuri ini benar menuju lokasi?? Lebar jalannya tidak lebih dari satu badan mobil lebih sedikit. Makin masuk kedalam makin mengecil, bahkan di ujung jalan ada lobang dan patahan jalan yang membuat siapa saja harus berhati-hati. Belum lagi dua cabang jalan (kiri dan kanan) yang membuat bingung arah mana yang benar menuju Kampoeng 99 Pepohonan. Disamping terhampar pesawahan yang luas, kanan kirinya hanya ada sungai kecil dan pepohonan kayu. Bagi yang tidak nekad, pasti dipenghujung jalan itu memutar arah lalu kembali ke atas menuju jalan raya meruyung dan kembali pulang atau bertanya lagi dan tersesat hehe…

Saya tidak demikian, kepalang tanggung memilih berbelok kekiri dan meneruskan perjalanan. Kira-kira 1 Km dari belokan itu terlihat pepohonan menjulang dan tempat parkir yang cukup rapi. Rupanya ini lokasi yang dimaksud. Walau minim penanda juga nama seperti Baligho atau Spanduk/Papan Nama bertuliskan Kampoeng 99 Pepohonan, kami memutuskan untuk turun dari mobil dan masuk kedalam. Di sebelah kanan pintu masuk, berdiri kokoh dan anggun bangunan besar yang terbuat dari kayu, dua lantai tepatnya. Arsitekturnya cukup menarik. Dan rupanya inilah front office dari Kampoeng 99 Pepohonan itu. Disana kami disambut oleh dua orang wanita berperawakan sedang. Mereka lalu menjelaskan program kegiatan apa saja yang ada di Kampoeng ini, juga hal-hal lainnya yang berkaitan dengan Kampoeng 99 Pepohonan. Termasuk alasan minimnya informasi, penanda jalan atau iklan yang berkaitan dengan Kampoeng 99 Pepohonan ini.

a. Bukan Wahana Wisata Resmi, tapi Rumah Tinggal dengan 20 bangunan Kayu yang ditinggali keluarga

Yups … ini alasan pertama yang dikemukakan. Namun rada aneh juga, jika memang ini bukan wahana wisata kenapa Kota Depok memasukkan ini sebagai salah satu tempat tujuan wisatanya??? entah lah mungkin hanya Ibu itu atau Tuhan yang tahu. Yang jelas menurut penuturan Dua orang wanita ini, tempat ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh masuk, tapi untuk menginap dan mengadakan kegiatan (gathering, arisan, live music dll) dikenakan biaya mulai dari Rp. 750.000,,- … bahkan ada beberapa bangunan yang sengaja dikosongkan untuk dijadikan penginapan. Bahkan tempat yang kami datangi pertama kali ini berfungsi sebagai restoran atau tempat makan.

b. Outbond dan Kegiatan Alam

salah satu rumah yang terletak di bagian peternakan Kampoeng 99
salah satu rumah yang terletak di bagian peternakan Kampoeng 99

Lingkungan yang asri, sejuk dan rindang dari berbagai pohon yang ada membuat kami nyaman. Makin kedalam makin sunyi. Jalan setapak sudah ditembok sehingga nyaman untuk dijajaki. Luasnya 7 hektar (menurut katalog); dibagi mulai dari pertamanan, pepohonan, panggung (stage), rumah-rumah keluarga dan penginapan

Beragam kegiatan disajikan disini, mulai dari Outbond dengan menyediakan aneka permainan seperti flying fox, ATV dan lain sebagainya (khusus ATV dan Fliying fox dalam perbaikan setelah Iedul Adha kemarin tempatnya dipakai untuk menjajakan Kambing dan Sapi)

 

c. Memberi Makan Rusa, Sapi dan Kambing

Ade Fathir sedang memberi makan Rusa
Ade Fathir sedang memberi makan Rusa

Kegiatan yang biasa dilakukan disini salah satu nya adalah memberi makan rusa, kambing dan sapi. Kegiatan ini tarifnya Rp. 25.000/kegiatan per anak. Atau bisa juga mengambil paket Rp. 125.000,- untuk seluruh kegiatan, mulai dari memberi makan, memerah susu dan lain sebagainya (Harga sudah termasuk pendamping atau tour guide).

Photo disamping adalah saat Fafa yang kecil memberi makan Rusa dan Babi Hutan. Letaknya berada di bagian dalam Kampoeng 99, atau pinggir sungai kecil atau kira-kira 5 menit berjalan dari tempat front office. Bagi anak-anak yang jarang melihat binatang secara langsung, apalagi memberi makannya juga, kegiatan ini cukup menyenangkan, memberi pengalaman baru sekaligus melatih keberanian mereka berdekatan dengan binatang.

d. Memerah Susu Sapi dan Kambing, memberi makan sapi/sapi dan meminum Susunya yang Segar

IMG_20140316_141851
Peternakan Sapi Pedaging yang ada diKampoeng 99

Setelah puas berkeliling di lokasi utama Kampoeng 99 pepohonan (mulai dari melihat rumah kayu/panggung yang unik, menyusuri pepohonan yang rindang dan melihat wahana outbondnya). Maka selanjutnya kita dibawa kelokasi yang agak jauh dari lokasi utama, atau seolah keluar dari lokasi utama. Yups kita dibawa berjalan menuju peternakan Kampoeng 99. Kira-kira 10 menit dengan berjalan kaki.

Peternakan pertama yang dilewati adalah peternakan Sapi Pedaging. Kita disuguhkan Sapi-sapi segar yang gemuk tengah memakan rumput, lengkap dengan bau khas dan pups nya yang berwarna ijo lumut hehe…. Kedua, adalah lokasi tambak ikan yang cukup luas dimana didalamnya terdapat Ikan Lele, Mas, Gurame.

Rumah Kayu yang dibawahnya jadi tempat tinggal kambing dan domba
Rumah Kayu yang dibawahnya jadi tempat tinggal kambing dan domba

Ketiga, adalah lokasi peternakan Kambing dan Domba. Uniknya kambing dan domba ini terletak di bagian rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga atau para pegawai peternakan. Saya tidak menghitung ada berapa rumah yang sekaligus tempat beternaknya, namun cukup untuk membuat kaki pegal dengan berjalan kesana kemari. Apalagi Fafa yang kecil begitu aktif dan bawaannya ingin memegang kambing-kambing itu.

Sementara Fafa yang besar sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tiada habisnya diutarakan kepada si Tour Pemandu (guide). Pokoke, Duo Fafa terlihat antusias hari ini, walau rencana berenangnya di gagalkan.

Selanjutnya, perjalanan kali ini dilengkapi dengan kegiatan memerah susu kambing. Anak-anak diajak untuk memegang Ibu Kambing sekaligus merasakan pengalaman memerah puting susu Ibu kambing yang begitu merekah dan merah itu hehe… kira-kira begini penampakannya :

Kaka sedang memerah susu
Kaka sedang memerah susu
ibu kambing yang akan diperah susunya
ibu kambing yang akan diperah susunya
Kakak dan Ade berkenalan dengan anak kambing
Kakak dan Ade berkenalan dengan anak kambing

Aku dan Ade berphoto di depan kandang kambingAku dan Ade berphoto di depan kandang kambing

Setelah puas memerah susu, kegiatan dilanjutkan dengan memberi Susu kepada anak kambing. Kaka dan Ade disediakan botol susu dan lalu berebutan memberi minum anak kambing seperti gambar di bawah ini :

Kakak dan ade memberi minum anak kambing
Kakak dan ade memberi minum anak kambing

Selesai memberi minum kambing, maka kini kami yang mulai kehausan. Lalu Guide pun mengajak kami ke lokasi pembuatan susu segar dan yoghurt. Disinilah kami tuntas menghilangkan dahaga, dengan memborong

10 botol susu sapi dan yoghurt dingin. Kegiatan pun ditutup dengan ade terpeleset di tangga dan kwitansi yang harus kami bayar….

Bukan Yang Terbaik

Dibantu ibu kakak dan ade terlihat tegang saat memberi minum kambing pertama kali
Dibantu ibu kakak dan ade terlihat tegang saat memberi minum kambing pertama kali

Walau tidak bisa dikatakan sebagai tempat wisata yang lengkap dengan segala aspek dan kelebihannya. Namun kegiatan mengunjungi Kampoeng 99 Pepohonan bisa dijadikan alternatif untuk mengisi masa liburan anak-anak. Tentunya dengan mengenalkannya ke alam; pepohonan, binatang dan sebagainya. Mereka juga terkesan excited dan yang peling penting menambah pengalaman baru dan pengetahuan.

Kampoeng 99 memang bukanlah yang terbaik. Kekurang-kekurangan seperti disebut di atas, minimnya informasi, akses masuk jalan yang sempit (melalui pemukiman penduduk). Ditambah dengan bangunan kayu yang di beberapa bagiannya sudah lapuk, kotor dan kurang terawat, namun dari sisi jarak cukup dekat dengan kota menjadi nilai lebih dari kawasan ini. So… tidak ada salahnya lain kali datang berkunjung lagi 🙂

Depok, 16 Maret 2014

Gema Festival Ananda

Posted on

Ada agenda rutin yang biasanya diselenggarakan oleh Sekolah tempat si Kakak belajar. Kegiatan itu disebut dengan nama GEMAFEST, Gemala Ananda Festival. Tahun ini katanya diselenggarakan tepatnya di bulan Juni nanti. Lokasi persisnya masih dalam pembahasan panitia. Bisa juga seperti tahun lalu di wisma subud, atau tahun sebelumnya di gedung SLB. Dua-duanya tidak terlalu jauh dari Sekolah, mungkin hanya 5 sd 10 menit perjalanan.

FestivKegiatan ini sepertinya adalah ajang unjuk kreasi tiap kelas, dan eksibisi multi produk untuk umum. Tahun lalu si Kakak turut menyaksikan langsung kemeriahan acaranya, walau bukan sebagai siswa tapi undangan sebagai calon siswa baru di tahun ajaran berikutnya. Saat itu saya juga turut hadir sebagai salah satu penyewa stand yang disediakan panitia. Ya biasa lah, kalau ada ajang seperti itu saya suka buka lapak hehe… kadang buka lapak makanan dan minuman, tapi jika memungkinkan juga membuka studio mini photography.

Tahun ini Kakak sudah bersekolah, tepatnya di Kelas 1-B. Tentu dia akan unjuk kabisa nanti, mungkin menari, drama tari, parodi atau bisa juga lainnya. Tema acara tahun ini memang masih belum final, berharap akan lebih menarik dari tahun sebelumnya. Seminggu lalu undangan dari sekolah memang sampai, ajakan untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan. Ini berlaku untuk semua orang tua tentunya, baik yang bekerja penuh atau yang paruh waktu. Bentuk partisipasinya beragam, mulai terlibat langsung atau sekedar memberikan sokongan berupa materi maupun immateri. Dan saya pun memutuskan untuk terlibat, setidaknya bersedia membantu dalam bidang yang memang saya mampu. Tadi pagi hal ini sudah disampaikan kepada panitia, ya mudah-mudahan saja berjalan lancar pada prakteknya nanti; (free) menyediakan liputan dokumentasi video untuk seluruh kegiatan Festival itu nantinya 🙂

Saat ini … bukan 7 tahun lalu

Posted on

IMG_20140220_093529
Kue sederhana untuk Kakak sebagai penanda Milad mu yang ke-7. Disaksikan teman-teman kakak di dalam kelas juga hehe…

Waktu terus berjalan, detik demi detik hingga tahun ke tahun. Ketika prosesi kelahiranmu dulu kusaksikan, dengan menggenggam kamera video recorder di ruangan bersalin itu, tangismu begitu memekik. Mulutmu begitu lebar, sekujur tubuhmu dilumuri cairan, kental dan berwarna sedikit merah. Ohh… tak ada ungkapan lain yang bisa kulakukan selain syukur yang mendalam pada Tuhan.

Dan waktu pun berlalu, 1 tahun pasca persalinan itu kita melaluinya dengan penuh perjuangan. Mungkin engkau tak ingat bagaimana kita pulang larut malam naik vespa, karena ada yang harus kukerjakan di toko. Saat itu aku masih berkuliah sembari membuka toko dalam bidang graphis dan multimedia di jatinangor. Tahun kedua, perayaan Ultah dilakukan di kediaman Nenekmu di Jakarta. Saat itu perayaan dilakukan secara meriah, maklum saja subsidi di tahun kedua itu masih ada. Dan Nenekmu menjadi satu diantara sekian orang subsider Ultahmu kala itu, disamping orang tuaku di Bandung hehe…

IMG_20140220_094149
suasana perayaan yang sederhana di kelas. kakak mendapatkan pelukan dari teman-teman dan ucapan selamat sebelum pemotongan kue

Tahun ke-3 kali ini berdikari. Aku dan Ibumu yang melakukannya. Bahkan bisa dibilang lebih meriah jika dibanding tahun ke-2 mu. Tak kurang dari 100 undangan hadir, anak-anak komplek dan anak-anak kampung tetangga Mpok Warmah yang saat itu menjagaimu setiap hari. Beberapa keluarga juga turut hadir, yang dari Depok dan Bekasi. Sementara Om dan Nenek dari Bandung tak kalah sibuk membantu menyiapkan dekorasi, nasi tumpeng dan goody bag yang kemudian akan dibagikan sebagai kenang-kenangan.

Tahun ke-4 rasanya datar saja. Karena di tahun itu engkau sudah mulai beranjak anak-anak, rasanya tidak terlalu perlu pula perayaan seperti dulu. Disamping itu kebutuhanmu juga semakin banyak. Alangkah bijaknya jika budget yang ada dialihkan untuk hal lain yang lebih penting, seperti persiapan kelahiran Adikmu, Kakaknya Ade Fathir yang kemudian takdir merenggutnya dari kita. Jasad, atau lebih tepatnya daging dengan sedikit struktur tulang didalamnya Aku kuburkan tepat di halaman rumah di Pancoran Mas.

Tahun ke-5 adalah tahun getir dalam usiamu. Kali itu aku ingat betul Ultahmu dilakukan dengan amat sangat sederhana. Itupun dengan sabar kita menunggu Ibumu pulang karena letak rumah kita yang begitu jauh dari Sekolah. Ini memang keputusan Aku. Setelah insiden keributan yang kerapkali dialami, budaya keluarga yang bagiku salah, prilaku mistiknya, kekasarannya hingga hilangnya rasa malu dalam dirinya, membuatku muntah dan segera saja untuk menjauh dari keluarga Ibumu, terutama kakekmu itu. Dengan bekal 3 buah gerobak franchise Teh Poci yang di 2 tahun sebelumnya kujadikan lahan usaha sampingan aku dan ibumu, akhirnya kita menyepi dan menjauh menuju Kabupaten Bogor. Semua dibangun dari Nol lagi, perkawanan, sekolahmu hingga usaha yang sudah kujalani 3 tahun selepas keluar dari tempat kerjaku di tahun 2009 dulu (www.rumahchantik.multiply.com).

IMG_20140220_094115
Kakak menjelang peniupan lilin. Excited banget dia hehe…

Kini tepat di tanggal perayaanmu yang ke-7, semua mulai membaik. Tuhan rupanya masih menuntun dan mengarahkan kita dengan benar dalam bingkai kebersamaan yang utuh. Pernah terbesit memang untuk pergi saja… tapi setelah kusadari lagi, tiada guna. Cukup aku saja yang terlahir dari produk perceraian Orang Tua. Engkau dan Adikmu tidak. Sesulit apapun itu, semua harus dijalani bukan. Tahun ini aku kembali mendaftarkan alih nilaiku. Hasil studi dulu di Jatinangor selama 2.5 tahun rasanya sayang jika menguap begitu saja. Maka tahun ini pula aku ingin persembahan terindah berupa kelulusanku dalam bidang Ilmu Sosial dan Politik. Ilmu lain berupa komputer yang juga dulu kuikuti di STMIK selama 3 tahun dan multimedia (otodidak) biar saja menjadi sandaran sementara untuk mencari rezeki. Dan  usaha sampingan lainnya yang selama 1 tahun belakang ini kurintis, baik dalam bidang kuliner (makanan dan minuman) juga bidang lainnya. Semoga semua bermuara pada arah yang lebih baik. Amiin

crop
Kami bertiga di depan kelas 1 Merapi. Bu guru yang motret nih 🙂

Happy Birthday Kaka…. peluk cium dan sayang untukmu 🙂