Month: February 2017

Mulai dari karakter, hingga kuasa

Posted on

img-20170224-wa0004Baiklah, malam ini saya agak kesulitan untuk tidur. Jam sudah menunjukkan Pukul 23.30 lewat, yang artinya sudah hampir tengah malam. Mata rasanya belum mau mengantuk juga hehe… Padahal seharian tadi menemani Pak Kabag saya dari kantor ke Bandung, tepatnya ke savoy. Ya sudahlah lebih baik saya melakukan sesuatu bukan, buka blog sekedar curat coret dan mengerjakan sejumlah invoice yang belum tuntas saya selesaikan dan ditagihkan kepada para klien catering di sekolah.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya hari ini. Pertama, karakter seseorang itu berbeda. Dan itu sudah pasti. Namun demikian saya melihat ada beberapa kecenderungan yang membuat seseorang itu bisa cocok dengan kita. Yang jelas kesan pertama itu belum tentu mencerminkan yang sesungguhnya, terkadang memerlukan waktu berproses. Maka biarkan itu berjalan secara alamiah, sembari kita membuka diri untuk menerima perkawanan yang baru. Kedua, berhubungan dengan tugas dan pekerjaan. Pada ragam pekerjaan tertentu, skill – kecakapan pada keahlian tertentu (tekhnis) ternyata bukanlah faktor dominan seseorang mendapatkan tempat dan prestasi. Terkadang dengan skill yang pas-pasan saja seseorang mampu berada pada kelompok pekerjaan tertentu dan berhasil. Artinya skill yang dimiliki cukup rata-rata saja, tidak terlalu dalam (ahli) dan juga tiadalah terlalu dangkal (tak punya kemampuan apa-apa). Cukup berada pada tingkat rata-rata saja bisa berhasil, dengan catatan ia memiliki kecakapan emosional dan sosial yang cukup; Kepercayaan diri, halus bahasa, ramah dan mampu merangkai kata sehingga menyenangkan orang lain.

Ketiga, adalah yang berhubungan dengan kuasa. Kecenderungan abbuse ketika kuasa yang memuncak dan tidak berbatas memang lebih terbuka untuk diselewengkan. Namun kuasa juga memiliki kepingan lainnya, yang berada pada sisi yang berlawanan; dapat digunakan untuk tujuan positif, semisal membuka kesempatan kepada orang lain untuk terlibat dengan kegiatan kita yang bersifat saling menguntungkan, dan atau memberikan jalan kepada sanak, kerabat dan kenalan untuk bekerja pada instansi kita. Sisi positif ini tentu memiliki nilai, dan berguna bagi kehidupan orang lain. Tiada salahnya bukan ????

Keempat, …. rasanya cukup itu saja dulu. Untuk tulisan yang sekedar coretan, ketiga bagian itu saja rasanya sudah terlalu panjang. Maka kita sudahi sampai disini saja hehe..

Salam, Bandung tengah malam

Advertisements

Penggiringan Pemilih Untuk Mencoblos Paslon Tertentu

Posted on Updated on

imagesBaiklah KTP saya beserta keluarga memang bukan DKI lagi, jadi bisa dibilang tak memiliki kaitan langsung dengan Pilkada yang lagi hangat akhir-akhir ini. Namun demikian, ibu mertua yang masih tercatat sebagai pemilih di daerah Jakarta Selatan merasa terpanggil untuk datang ke TPS dan mencoblos hari Rabu kemarin walau secara domisili beliau sekarang lebih banyak berada di Bandung.

Dan dengan sukarela tentunya saya mengantar beliau kemarin menuju lokasi TPS. Perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam lebih dari tempat kediamanku di Bogor. Di perjalanan kami mengobrol, tentu di tengah riuh rendah para bocah yang memaksa untuk ikut ramai-ramai di dalam mobil. Kesimpulan dari obrolan itu adalah adanya pemaksaan dari ketua RT tempat beliau tinggal dulu untuk memilih paslon nomor 3. Sejurus alasan dikeluarkan oleh RT tersebut. Khususnya terkait dengan paslon Nomor 2; mulai dari China, non muslim, PKI hingga tuduhan lain yang memang sudah ramai menyeruak di media sosial beberapa bulan belakangan ini.

Saya tidak spesifik bertanya pada Ibu mertua tentang pilihan politiknya. Bagi saya memilih paslon manapun itu adalah hak politknya sebagai warga negara. Sebelum ia memutuskan datang bahkan dari Bandung kemarin, tentu ia sudah memiliki pilihannya sendiri. Saya cenderung menghindari debat soal Pilkada ini, apalagi dengan orang-orang terdekat semacam teman, tetangga, rekan kantor hingga keluarga terdekat. Entahlah soal urusan ini, sudah banyak buktinya yang justru memperkeruh suasana persahabatan hingga pertalian keluarga yang justru menurut saya lebih penting daripada pilihan politik. Terkecuali anda timses salah satu paslon yang memang bekerja secara profesional untuk itu, maka posisi anda harus jelas memihak siapa  dan mati-matian mempertahankan posisi itu.

Saat masuk ke ruang pencoblosan, Ibu mertuaku ditemani si Kaka, anak sulungku. Soal siapa yang dicoblos lagi-lagi aku rasa tak berkepentingan untuk tahu. Hanya ketika kami berjumpa dengan beberapa pengurus RT dan RW disana saya mencoba mengingatkan mereka untuk tidak perlu memobilisasi warga mencoblos paslon tertentu (dalam hal ini paslon nomor 3). Apalagi dengan nada ancaman bahwa siapa-siapa yang mencoblos bukan pasangan 3, maka akan ditandai. Saya pikir tidak bijak pengurus warga berbuat demikian. Dalam hal ini ia memainkan kuasanya sebagai pengurus warga untuk menekan mereka mengikuti keinginannya. Entah masuk kedalam kategori pelanggaran atau bukan, yang jelas praktek serupa semestinya tidak terjadi untuk putaran kedua nanti. Biarkan warga bebas memilih dan menentukan kehendaknya. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan stop Hoax dan berita-berita tendensius yang menyerang SARA, ujaran kebencian dan sejenisnya. Semestinya pesta demokrasi ini membuat kita semakin dewasa, terlebih saat berlangsung secara bebas dan langsung seperti sistem yang dijalankan saat ini.

-curhat di pojok ruangan, karena rapat hari ini ditunda-

CERMIN 7; GODBLESS DENGAN RASA BARU

Posted on Updated on

Dimalam yang hening ini, aku renungi
perjalanan diriku didunia ini
dari tiada aku dicipta, oleh sang maha pencipta manusia

di ruang kenanganku terbayang lagi
orang-orang yang pernah kutemui
dalam kehidupan yang nisbi, mereka kini diam dan mati

*kurenungi waktu yang berlari tiada henti
  bawa aku ke batas yang pasti sampai raga tak berjiwa lagi

cover-cd
*bukan gambar pribadi, tapi diambil dari kiriman salah seorang fans di GBCI

Demikian petikan lirik dari salah satu lagu anyar God bless dalam album Cermin 7 yang baru saja launching dan diedarkan melalui mekanisme preorder lewat komunitas fans club nya.

Di pertengahan tahun 2016 lalu, kabar God bless akan membuat album baru memang santer terdengar. Setidaknya melalui pantauan media daring facebook tempat berkumpulnya para fans setia God bless di seluruh Indonesia. Melalui jenderal God bless Community Indonesia (GBCI), Asriat Ginting laporan pandangan mata kerapkali ditulis melalui wall  baik itu seputar kegiatan show maupun persiapan sekaligus perkembangan album barunya. Bagi para fans berita album baru tersebut tentu sangat menggembirakan. Setidaknya berselang dari tahun 2006 lalu, atau kurang lebih sekitar 11 tahun lalu Godbless tidak atau belum mengeluarkan album lagi. Beruntung penampilan mereka kerapkali masih dapat kita saksikan baik itu melalui youtube dan media sejenis lainnya, maupun siaran langsung dari lokasi konser seperti pada acara Ulang Tahun TVRI pada Agustus 2015 lalu dan teranyar adalah saat mereka menggelar konser sekaligus launching album barunya di acara Golden Memories Indosiar awal tahun 2017 lalu. Maka kerinduan akan lagu-lagu lawas mereka sedikitnya terobati.

Konsep Album

Sampai dengan pertengahan tahun 2016 lalu sebenarnya konsep album baru God bless masih menjadi tanya-tanya bagi para penggemarnya. Satu sumber menyebutkan format full akustik yang dipilih, dengan lebih banyak menyertakan lagu-lagu lawas mereka yang populer dan di recycle dengan arransemen baru. Namun sumber lainnya menyebutkan, album baru tersebut juga memuat beberapa lagu baru yang memang dibuat dan dipersiapkan oleh para punggawa God bless di akhir tahun 2015 atau awal 2016 lalu. Ian Antono bahkan melalui salah satu wawancaranya menyebutkan bahwa materi lagu-lagu dalam album barunya nanti sudah ada, tinggal dimatangkan saja.

Di tengah ragamnya sumber informasi itu, kabar persiapan album baru tetap saja disambut gembira oleh para penggemarnya. Tidak peduli apa konsepnya full akustik, recycle arransemen dari lagu lawas yang sudah populer maupun isinya memuat seluruh lagu baru seperti yang ditampilkan God bless dalam album terakhir mereka bertajuk God bless 36 di tahun 2006 lalu. Terpenting adalah hadirnya album rekaman terkini dari grup kesayangannya itu

Rasa Baru dalam Cermin 7

Sebagaimana sudah diketahui bersama, album baru bertajuk Cermin 7 yang Cd baru saja mendarat di kediamanku sehari kemarin, memuat 3 lagu baru berjudul ; Damai, Kukuh dan Bukan Mimpi Bukan Ilusi … (sayangnya lagu damai ini sudah lebih dulu bocor dua bulan lalu di youtube) ditambah dengan 9 lagu lawas yang diambil dari salah satu album masterpiece mereka di tahun 1980 lalu, yang diarransemen ulang sehingga terdengar lebih fresh dan baru mulai dari Musisi, Selamat Pagi Indonesia, Anak Adam, Balada Sejuta Wajah, Sodom Gomorah, Cermin, Insan Sesat,  dan ditutup dengan Tuan Tanah.

Pertama kali terdengar lagu-lagu dengan arransemen ulang itu tertuju pada vocal Achmad Albar yang kini terasa lebih berat dan rendah. Terus terang di awal terdengar sedikit mengganggu, apalagi bagi mereka yang terbiasa mendengar versi utuh dari album Cermin origin tahun 1980 dimana vocal Achmad Albar terasa begitu prima. Sebut saja di lagu Musisi, Selamat Pagi Indonesia, Cermin dan Tuan Tanah. Namun diluar itu, alunan musik masing-masing personel masih terbilang prima dan garang. Secara umum rasa baru yang ditawarkan di album ini terasa megah dan lebih modern. Jika pada lagu musisi nyaris tiada perubahan berarti baik itu dari versi origin (kecuali tempo) lalu musisi versi 1990 dimana JSOP yang mungkin saja saat itu menggubahnya demikian (menjadi lebih lambat namun lebih kaya dengan permainan keyboard yang bersaut-sautan dengan sayatan gitar dari Eet Syachranie). Di lagu lain terjadi perubahan yang cukup besar, seperti pada arransemen di lagu Insan Sesat, Tuan Tanah dan Sodom Gomorah.

Perubahan pada vocal memang bisa dimafhumi, bagaimanapun juga hal itu menyesuaikan dengan kondisi dan usia diantara mereka. Apalagi pada posisi lead vocal yang memang tidak memungkinkan lagi untuk sama dengan album origin mereka di tahun 1980 lalu, yang mungkin rata-rata usia mereka saat itu berada di kisaran angka 30-40 tahunan. Maka penyesuaian mutlak dilakukan, mulai dengan mengubah nada dasar misalnya menjadi lebih rendah hingga membelokkan nada tinggi menjadi lebih pendek, sehingga saat show nanti sang vocalis tidak terlalu susah melakukannya.

Secara umum hadirnya album ini sangat..sangat mengobati kerinduan penggemarnya. Meraup pasar baru, entahlah. Rasanya memang agak sulit untuk menjangkau selera anak muda jaman sekarang, walau hal itu bukan tidak mungkin juga dilakukan. Setidaknya melalui GBCI terlihat beberapa anggotanya masih ada yang berusia diantara 15 – 20 tahunan. Hal ini memperlihatkan God bless masih mendapat tempat di sebagian kelompok anak-anak muda masa kini.

God bless dan Keberkahan

Usia rupanya tidak menjadi penghalang sebuah grup untuk terus berkarya, eksis dan kreatif. Rintangan dari masalah stamina dan fisik masih bisa disiasati dengan hal-hal lainnya. Buktinya, God bless di usianya yang sudah lebih dari setengah abad para personelnya, masih mampu live dan memainkan lebih dari 10 lagu. Ini adalah keberkahan yang luar biasa, belum lagi masih produktif dalam berkarya menciptakan lagu baru, tentu ini prestasi tersendiri.

**

Tak ada yang lebih patas untuk kuucapkan
Kecuali rasa syukur yang mendalam
Atas segala berkah yang telah kudaparkan

Tak ada yang lebih pantas untuk kulakukan
Kecuali hasrat tulus untuk bertahan
Atas segala kodrat yang telah kuterima

Rock n roll hidupku
Tiada resah hinggapi diriku
Rock n roll darahku
Tiada rintang kalahkan semangatku