Month: September 2016

Islam, Terorisme dan Media Daring

Posted on Updated on

jihad_selfi_istimewa_266a313a01e1405688aa42a0e199c1b8Di sekolahan si kaka siang ini katanya akan ada diskusi menarik seputar tema literasi digital, khususnya tentang tema yang berkaitan dengan terorisme dan bagaimana rekrutmen dan propaganda jihad yang tersebar di media sosial (dunia daring). Pembicara yang hadir (dan tunggal sepertinya) adalah Noor Huda Ismail, mahasiswa program pendidikan PhD di Universitas Monash Ausy, dengan film dokumenternya ‘Jihad Selfie’. Memang sebelum acara diskusi berlangsung, peserta akan menonton bareng terlebih dahulu film dokumenter itu.

Dari penelurusan melalui mbah google didapati beberapa hasil diskusi Noor Huda yang telah dilakukan sebelumnya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Baik itu dalam skala kecil, maupun dalam ruangan besar yang memuat ratusan orang. Dari video yang beredar, dan juga transkip berformat MP3 yang bebas diunduh melalui chrome atau mozilla, sepertinya diskusi berjalan santai, penuh canda dan cukup menarik. Walau di beberapa sessi ia sedikit terlihat seperti menertawai para pelaku atau korban (dengan gesture, mimik dan nada bicara khas dan nyeleneh jawa timuran), namun secara umum apa yang ditawarkannya cukup faktual. Apalagi saat ini ketika booming smartphone sudah marak dan mampu dijangkau oleh siapapun tanpa mengenal golongan kelas.

Jauh Sebelum Itu

Yah katakan saja bahwa saya tidak menghadiri sessi diskusi itu nanti; pendaftaran tentu sudah ditutup hari ini. Namun ada alasan lain sebenarnya, tapi sudahlah … walau sayang juga sebenarnya untuk dilewatkan hiks ….

Jauh bertahun-tahun lalu issue terorisme memang tidaklah sekuat saat ini. Namun bibit-bibit ideologinya sebenarnya sudah mulai terpupuk jauh hari. Media tahun 2000an, ketika gelombang reformasi masih hangat2nya, kran kebebasan dibuka secara luas. Ideologi yang sebelumnya dikerangkeng atas nama asas tunggal kini bebas berkeliaran seperti pasar bebas. Sejumput kemudian menemui muara melalui kegelisahan anak-anak muda dalam hal pencarian identitas atau jati diri. Dalam salah satu tulisannya, M. Natsir menyebut gejala ini sebagai ‘Eksploitasi Keresahan Psikologis/Spiritual’ yang betul-betul dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan dalam memobilisasi massa, khususnya anak-anak muda.

Tak jauh berbeda dengan hal itu, pengalaman saya sendiri pada medio SMP dan SMA beberapa tahun lalu, bibit penyebaran ideologi model jihadis demikian sudah dimulai melalui kedok kajian islam, taklim, dakwah bil lisan dan seterusnya. Karena pada saat itu smartphone belum ditemukan (mungkin !!!!) maka proses penyebaran ideologi itu dilakukan melalui face to face, pendekatan antar teman bahkan ada juga dalam bentuk jejaring seperti MLM. Anak-anak muda yang resah (bahasa kerennya galau) tentu menjadi santapan empuk sebaran ideologi radikal demikian. Dalam hitungan beberapa kali pertemuan, langsung hijrah dan berbai’at di hadapan imam kelompok mereka (dan ini juga saya lakukan dahulu). Untuk kemudian mengemban misi suci menyebarkan kembali kebenaran kepada teman-teman lain melalui proses dan rekrutmen yang sama. Begitu seterusnya hingga berjejaring mirip MLM, dengan jualan utama pahala jihad, surga (plus bidadarinya).

Ciri Utama Ideologi ini

Ciri utama ideologi ini pada saat itu secara singkat saya rangkum seperti ini :

  1. Anti Pancasila : thoghut .. sistem kufur yang dibuat manusia tidak wajib ditaati)
  2. Takfiri : Mudah sekali mengkafirkan golongan islam lain yang tidak seidiologi
  3. Adanya Imam ; Perjuangan jihad yang teroorganisir, baik itu dengan sebutan khilafah, imam dan sebagainya (imam ini konon ada di luar sana, bukan di Indonesia)
  4. Ekslusif : Tertutup dan cenderung seperti organisasi bawah tanah
  5. Kewajiban hijrah : berpindah keyakinan terlebih dahulu dengan cara dibaiat (pemahaman bahwa berislam selama ini belum kaffah)
  6. Mobilisasi dakwah ; mulai dari pemikiran, tenaga (rekrutmen seperti jejaring MLM membutuhkan orang-orang yang persisten, kuat dan tahan banting akan penolakan) hingga pendanaan (bagi yang mampu, tapi untuk pelajar dan mahasiswa cukup tenaga dan pemikiran)
  7. dan seterusnya.

Model ideologi demikian banyak kita temukan saat ini dan terserak luas di media daring, media sosial. Artinya bibit yang dulu di tanam mirip dengan apa yang kita saksikan di media daring saat ini. Atau bisa jadi penggagas utama/penyebar ideologi ini di media daring saat sini adalah kepanjangan tangan dan sekaligus buah didikan jaringan ini beberapa tahun silam.

Kewaspadaan

Kemajuan teknologi dan informasi tak dapat dibendung. Jika dahulu cara terdekat merekrut anggota jihad adalah dengan bertemu langsung, tatap muka,  membawa quran secara fisik dan sebagainya, maka saat ini kondisi itu tidak lagi mengenal batas dan daerah. Ditambah dengan kemudahan menukil ayat yang diambil sepotong-sepotong sesuai kepentingan, dibumbui dengan gambar-gambar mengerikan korban penganiayaan di belahan negara timur tengah sana – yang lagi dan lagi tidak sesuai konteks dan cenderung direkayasa itu – maka kewaspaan perlu dikedepankan. Karena biasanya cara ini cukup efektif; ada hadits atau ayat quran ditambah gambar atau photo kekerasan plus pendapat ulama yang membenarkan gambar itu, ditambah propaganda menoolong agama Allah dan seterusnya, maka geliat ghiroh, semangat anak muda langsung menggelitik dan tancap gas.

Kewaspadaan memang perlu dikedepankan, melakukan cross check secara tepat dan mengambil second opinion mutlak dilakukan. Tapi itu untuk kita orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak/anak muda yang masih rentan dan putih untuk gampang diisi berbagai warna. Tentu ini menjadi kekhawatiran. Oleh sebab itu kita perlu pandai menelisik apapun artikel/tulisan maupun pendapat ustadz/syekh dan sejenisnya apapun itu julukannya; ketika isinya tendensius, ekslusif, merasa benar sendiri, takfiri, ada bahasa hijrah, menyinggung tentang khilafah, konsep keimanan yang ahistoris nan utopis, kewajiban dakwah atau menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain (yang cenderung dipaksakan kebenarannya) dan seterusnya, maka hal itu patut diwaspadai dan dicarikan opini pembandingnya.

Oya sebagai bahan referensi pembanding ketika menemukan pemahaman berideologi demikian, maka anda mungkin bisa mengklik tautan-tautan seperti di bawah ini :

  1. http://www.dinasulaeman.wordpress.com ; pemerhati timur tengah dan ada beberapa artikelnya yang bersinggungan dengan anak-anak dan ISIS yang cukup informatif
  2. http://www.bundakiranareza.wordpress.com ; masih dari orang yang sama, namun ini lebih ke parenting dan keluarga tapi lagi-lagi sangat informatif
  3. http://www.islamlib.com : walo banyak dicaci, khususnya buat kelompok islam yang bersebrangan dengannya. Namun cukup banyak pembelajaran didalamnya yang justru menariknya adalah mengkaji agama tidak an sich tapi juga melalui sejarah, analogi, sosial dan seterusnya
  4. http://www.portal-kleyengan.com : hahaha.. klo ini saya cuma becanda. Eksistensinya sama dengan tuan Jonru, dilihat saja boleh lah.. cukup untuk ditertawakan tentunya
  5. dan banyak lagi sila dicari 🙂

Eh udah mau jumatan, dan harus jemput anak-anak setelah itu jam 1 nya. So sekian dulu ya uneg2nya. Terimakasih

Salam

Omg Ada HFMD di rumah !!!

Posted on Updated on

img_0236

HFMD adalah kependekan dari Hand, Foot and Mouth Disease atau disebut juga dengan penyakit tangan dan mulut. Istilah kerennya adalah Flu Singapura yang kini mulai marak mendera anak-anak di bawah 10 tahun. Nah kenapa disebut flu singapura dan kok bisa menyerang anak-anak yang bahkan belum pernah sekalipun ke negara tetangga itu??

Yups konon penyakit yang disebabkan oleh virus ini mulai mewabah di negara singapura sebelum tahun 2000an, dan sejak saat itu dikenal dengan flu singapura. Untuk lebih jelasnya apa itu flu singapura bisa di cek di : http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/ … dan atau http://mediskus.com/penyakit/flu-singapura .. sementara untuk ciri-cirinya bisa di cek juga di http://halosehat.com/penyakit/flu-singapura/ciri-ciri-flu-singapura.

Walau bukan termasuk kedalam kategori berbahaya, penyakit ini cukup mengganggu bagi anak-anak dan penyebarannya cukup cepat. Masa inkubasi jenis virus ini pun bisa kurang dari 24 jam ketika seorang anak telah terpapar sebelumnya. Maka kewaspadaan orang tua tentu menjadi kunci; mencegah tentu lebih baik daripada mengobati.

“Semoga saja si bungsu di rumah cepat pulih ya… merah-merah di sekitar mulut dan luka (mirip sariawan) di dalam mulutnya cepat pulih. Menurut info kunci pengobatannya cukup istirahat di rumah, asupan nutrisi yang baik dan perbanyak minum … kita lihat 3 hari kedepan saja”

 

Lebaran; keluarga dan wisata

Posted on Updated on

Tahun lalu iedul adha klo tidak salah di sukabumi, ada sembelihan dan titipan beberapa kambing yang dilakukan disana. Sejumput kemudian, setahun berlalu tidak berasa memang tahun ini kembali iedul adha menjelang tepatnya tanggal 11-12 september kemarin. Ah… waktu memang tidak bisa dicurangi, bergerak terus linear tanpa bisa disuruh berhenti. Padahal ada keinginan untuk melakukan beberapa hal khusus di lebaran qurban tahun ini, tapi ya sudahlah.. itu tadi dicurangi pun tak bisa. Syahdan akhirnya harus menerima diri, ada kesalahan dan pengaturan yang tidak tepat sehingga hajat itu tidak tunai juga terlaksana di tahun ini. Mohon maap beribu maap 😦

Lebaran Ajang Berkumpul

Sebagaimana biasa, lebaran adalah momen bertemu dan berkumpul antar handai taulan dan sanak saudara. Dan momen ini rupanya begitu sangat dimanfaatkan dengan baik oleh keluarga besar istri, apalagi bertepatan dengan libur akhir pekan sehingga kemungkinan besar berkumpul dalam satu waktu dan satu tempat dapat terlaksana dengan baik. Puji syukur silaturahmi dan kumpul-kumpul itu terlaksana kemarin. Mengambil tempat di salah satu kawasan penginapan di Bandung atas, momen itu menjadi ajang saling bertemu, bercengkrama dan bertukar kabar. Disamping rutinitas dwi bulanan berupa arisan keluarga yang sengaja dibuat agar tali kekerabatan itu tetap terjaga. Harus ada upaya memang untuk mempertahankannya, tak terhitung banyaknya ikatan kekeluargaan itu yang kemudian melonggar setelah satu atau dua generasi dibawahnya. Kadang agak sulit memang menyatukan ragam kepala dalam satu ikatan keluarga besar seperti itu, belum lagi hadirnya anggota keluarga baru baik itu anak menantu, cucu menantu, keponakan menantu dan seterusnya yang tentu memiliki latar belakang sosial, pemikiran dan latar belakang keluarga yang berbeda. Proses blending kadang mengalami hambatan baik itu dilatarbelakangi oleh keadaan internal masing-masing anggota keluarga baru yang hadir itu, maupun keadaan eksternal berupa penerimaan dari keluarga besar yang dimasuki. Dan ini berlaku untuk kedua belah pihak, baik itu ketika sang suami yang berproses menyatu kedalam keluarga besar istri, maupun sebaliknya sang istri yang berproses menyatu kedalam keluarga besar suami. Akan halnya saya sendiri yang cenderung introvert (saat ini) dan sedikit sulit bergaul dengan orang baru pada awalnya pun mengalami masa-masa sulit itu, namun bersyukur penerimaan yang begitu besar dari keluarga istri membuat masa-masa itu bisa dilalui (prosesnya sebenarnya masih berlangsung hingga saat ini hehe…).

Mulai Perjalanan

Kabar berkumpul pada hari Sabtu sudah kami terima jauh hari sebelumnya. Dan menurut rencana kami berniat pergi pada pagi hari selepas sholat shubuh untuk menghindari macet di perjalanan. Tapi ya itulah, kadang tawaran pekerjaan begitu menggoda untuk dilewatkan. Apalagi orang dengan profesi freelancer seperti saya yang kadang jadwal kerjanya tidak jelas, alias menurut pada kontrak per term yang kadang tidak masuk akal. Seperti kemarin, 4 hari menjelang lebaran ada tawaran dari klien untuk menyelesaikan sedikitnya 5 pekerjaan sekaligus yang harus diserahkan sebelum lebaran. Well buah simalakama, ditolak uang melayang, diterima badan mengawang (karena pasti lembur). Dan tentu saja opsi kedua yang dipilih hihi.. biarlah badan melayang-layang karena ndak tidur yang penting hubungan dengan klien tetap terjaga dan tentu saja isi dompet juga menyala-nyala haha…. amiiinn

Wal hal pengerjaan pun dikebut, dan benar saja sehari menjelang keberangkatan ke Bandung baru 3 pekerjaan yang selesai, sementara sisanya masih sekitar 25% untuk masuk proses rendering, finalisasi dan cetak label. Lembur nih pastinya, dan memang begitulah adanya, Jumat malam pengerjaaan itu dilanjutkan hingga pukul 3 pagi dini hari sabtu. Alhamdulillah jam 10 pagi semua selesai, karena pengiriman harus dilakukan hari itu juga maka layanan Gojek lah yang dipilih. Beruntung memang orang yang hidup saat ini, semuanya dipermudah dengan smartphone. Coba klo pake paket kilat atau bahkan pos, pasti sampai pasca lebaran yang artinya 3 hari kemudian. Salute buat Nadiem Makarim dengan inovasinya 🙂

Kabar Duka

Disaat momen kebersamaan itu terjaga dan terlaksana dengan baik kemarin, terselip kabar duka sebenarnya. Salah satu ayah saya menderita sakit dan dalam proses pemulihan saat ini. Oleh sebab itu di hari pertama lebaran kami menyempatkan datang dan membawa buah tangan untuknya, sepasukan trio Fa pun tentu tidak ketinggalan dibawa serta. Dan seperti biasa, kehadiran mereka membawa riuh. Rumah yang semula sepi karena hanya dihuni oleh kakek dan nenek, menjadi ramai karena kehadiran mereka terutama si bungsu yang kini mulai berjalan dan cerewet berbicara. Oya Doa kami menyertai untuk kesembuhannya Bapak ya. Amiin Yra.

Ke Dusun Bambu dulu ….

picture-020Sebenarnya ini kegiatan yang diluar rencana. Karena sebelumnya memang kami berniat langsung pulang menuju Jagorawi selepas hari kedua lebaran, melalui rute Cimahi/Tol Padalarang langsung dari Lembang tanpa harus ke Bandung terlebih dahulu. Mengingat arus balik yang diprediksi terjadi mulai pukul 12 siang hari senin lalu. Namun tiba-tiba saja terlintas dalam kepala untuk menutup liburan lebaran kali ini dengan membawa anak-anak ke tempat wisata terlebih dahulu. Apalagi jalur Kolonel Masturi menuju Cimahi juga saat itu sudah mulai padat merayap, lebih baik singgah dulu dan memanfaatkan momen kebersamaan ini dengan kegiatan bersama dan bermain dengan anak-anak. Toh belum tentu minggu depan ada waktu luang lagi.

Sekira 10 menit perjalanan dari Villa Istana Bunga, tempat kami menginap, ada satu objek wisata menarik yang bernama Dusun Bambu. Melihat jalur jalan yang juga semakin padat, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan bermain saja disana sebentar. Sekalian memupus rasa penasaran juga akan objek wisata ini hehe… dan minimal ada bahan juga buat si Kaka seputar aktivitas liburannya kali ini, biasanya dia ada tugas membuat jurnal. Dan rasanya wisata alam ini cocok untuk dijadikan sebagai bahan tulisan dan sekaligus menambah informasi pembendaharaan pengetahuannya.

Jarak dari jalan raya kolonel masturi yang kami lalui, dusun Bambu terletak sekitar 10 menit memakai kendaraan kearah atas. Tapi jangan khawatir, jalur yang dilalui cukup nyaman dengan kondisi jalan beraspal dan cukup untuk dua arah mobil berlawanan. Tiket masuk mobil ke tempat ini sebesar Rp. 15.0000,- yang terbagi kedalam dua pintu masuk utama P1 yang terletak di gate utama dan P2-3 di gate sekunder yang jauh lebih ke atas. Total luas area Dusun Bambu konon mencapai 15.000 hektar, namun jangan khawatir dengan jalur yang naik turun dan jauh, pengunjung disediakan mobil penumpang yang menjemput mulai dari pintu masuk baik di P1 maupun P2 menuju lokasi ‘kaulinan’ playground dan restoran. Oya di pintu masuk utama pengunjung dikenakan biaya masuk Rp. 20.000/orang disamping biaya mobil atau parkir tadi.

Memasuki area dusun bambu yang begitu luas anda akan dihadapkan pada ragam pilihan, mulai dari arena permainan dalam kampung kaulinan (ATV, Air Soft Gun dll) dengan biaya atau tiket yang berbeda-beda, hamparan bunga yang beraneka ragam, air terjun dan sungai kecil (gratis karena sudah termasuk wahana umum yang dibayar saat pintu masuk tadi), restoran atau saung klasik ala sunda di atas danau hingga playground dan rabbit park yang bisa dinikmati oleh si kecil dengan biaya masuk Rp. 50.000/anak + pendampingnya.

Untuk tempat makan, Dusun Bambu menyediakan dua tempat utama plus satu tempat tambahan berupa food court; Makan di tepi danau yang berbentuk saung di atas dan tepi danau yang juga dilengkapi dengan perahu, Restoran dengan ornamen Bambu yang cukup besar lengkap dengan live musik, dan pusat jajanan atau food court yang terletak di tepi area playgorund. Silahkan dipilih saja sesuai keperluan dan sesuai dengan kantong juga hehe.. karena harganya relatif agak mahal disini. Bagi keluarga yang datang bersama anak-anak, tentunya memilih jajanan camilan atau sekaligus makan berat di sekitar area food court tentu lebih pas, karena sekalian dapat mengawasi aktivitas anak yang bermain di area playground atau rabbit park. Seperti kami yang hanya membeli semangkok pempek, minuman segar dan es krim saja 🙂

Kepulangan

Jika ditanya berapa jam waktu yang dibutuhkan bagi anak-anak untuk bermain, maka jawabannya dapat tak berhingga. Oleh sebab itu kami membatasi mereka bermain hanya sampai jam 1 siang, itupun tetap ngaret dan akhirnya baru beres jam 2 siang dengan negoisasi alot terutama dengan si abang, Fa nomor 2. Praktis jam 2.30 kami baru turun, dan sudah bisa diduga jalanan semakin padat… hingga tiba di Pintu tol Padalarang pun tidak jauh berbeda. Di dalam tol anak-anak tertidur dengan lelap, hingga kemudian terbangun pukul 18.00 sore saat kami memutuskan keluar di pintu tol purwakarta untuk sekedar istirahat dan makan rapelan – makan siang sekaligus malam – di rumah makan sunda Sambel Hejo dan Sambel Dadakan (shsd) yang lokasinya persis disamping ciganea. Oya rumah makan ini sebenarnya rekomendasi lama salah satu om kami, dan benar saja… setidaknya menurut si kakak Ayam basah yang menjadi ciri khas rumah makan ini adalah makanan terenak dia sepanjang hidupnya … (halah… kadang suka lebay dia hehe… )

Dan pada akhirnya kami tiba di rumah pukul 20.30 malam, lumayan lah padalarang-citayam 6 jam setengah hahaha… pegelnya masih kerasa di leher dan pinggang