Pengertian Simpati dan Empati Dalam konteks Psikologi dan Komunikasi

Posted on Updated on

semangat-tugas3.jpgIstilah empati dan simpati amat terkait dengan kondisi psikologis seseorang. Keduanya berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Oleh sebab itu dalam beberapa bacaan terkait, keduanya banyak disinggung dalam disiplin ilmu psikologi. Sementara dalam komunikasi, keduanya banyak dibahas dalam hal komunikasi antar budaya, yaitu interaksi social antara individu dengan individu lain yang berbeda dari sisi latar belakang budaya, pendidikan dan sejenisnya. Tujuannya adalah tentu mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan tersebut, melalui cara berkomunikasi yang baik (secara verbal dan non verbal) sehingga tercipta jalinan interaksi social yang harmonis dan saling berpengertian.

Secara konsep emphatic agak berbeda sedikit dengan simpati. Keduanya memang menunjukkan perasaan atau kondisi kejiwaan seseorang, namun demikian ada perbedaan; simpati berpadanan kata dengan ‘feeling with’ sementara empati adalah ‘feeling in’ atau lebih dalam dari sekedar simpati. Dari sekian sumber yang ada, menarik apa yang disampaikan oleh andry setiawan dalam blognya ketika menganalisa keduanya dari sisi konseling (tinjauan psikologis). Menurutnya :

“Empati dalam pengertian konseling adalah hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi. Salah satu masalah yang sering muncul adalah kurangnya rasa empati dalam berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman interaksi komunikasi sehingga konseli frustasi dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari proses konseling tersebut. Empati merupakan dasar hubungan interpersonal. Hal yang juga penting diungkap dalam konteks peningkatan mutu empati seseorang adalah berlatih menampakkan ekspresi-ekspresi atau isyarat-isyarat non-verbal yang membuat orang lain merasa dimengerti dan diterima, karena kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat non verbal orang lain. Pemahaman seperti ini membuat hubungan antar individu terjalin dengan baik. Dalam kepustakaan konseling ditegaskan tentang keefektifan konseling (counseling effectiveness) lebih ditentukan dari kecakapan konselor. Oleh karena itu, peran empati cukup esensial yang diakui dalam teori-teori konseling, sehingga empati yang diwujud-nyatakan dalam praktik konseling selama ini merupakan suatu keniscayaan untuk ditumbuh-kembangkan secara sistemis di dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat kita (dalam blognya di http://andiysetiawan.blogspot.co.id/2012/11/empati.html)”

Dari pengertian tersebut kita dapat melihat bagaimana empati memegang peranan penting dalam proses interaksi. Karena tinjauannya berkaitan dengan dunia psikologis maka ia menjelaskannya melalui perspektif konseli – konselor. Namun demikian jika ditarik kedalam spectrum yang lebih luas – dalam dunia social misalnya – pengertian itu memiliki kesamaan pandangan bahwa eksekusi empati akan berjalan baik ketika dituangkan dalam langkah komunikasi yang baik. Dalam hubungan konseli – konselor sebagaimana digambarkan diatas, setelah menyelami dan memahami kondisi konseli, konselor wajib melakukan terapis secara baik melalui pendekatan komunikasi yang baik. Sehingga tercipta bangunan interaksi yang positif demi kesembuhan diri konseli (pasien). Demikian halnya juga dengan konteks interaksi social yang mensyaratkan komunikasi yang terjalin baik melalui sikap empatic yang telah ada sebelumnya.

Adapun simpati memiliki pengertian yang kurang lebih sama namun bias dikatakan lebih dulu dari empati. Jika empati adalah ‘feeling in’, maka simpati adalah proses yang mendahuluinya atau diluar kedalaman perasaan itu (sekedar feeling with). Dalam salah satu jurnal psikologi (www.berandapsikologi.com) simpati diartikan sebagai suatu proses dimana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.

Berikut adalah perbedaan antara kedua istilah tersebut :

Simpati

  1. Berasal dari bahasa yunani “ feeling with”
  2. Proses yang terjadi kurang begitu mendalam
  3. Didasarkan faktor kesamaan
  4. Merupakan respons atas need for closeness and support
  5. Lebih spontan, biasanya dalam bentuk reaksi emosional
  6. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun kawan atau saudara kita.

Simpati adalah melakukan sesuatu untuk orang lain, dengan menggunakan cara yang menurut kita baik, menurut kita menyenangkan, menurut kita benar.

Empati

  1. Berasal dari bahasa yunani “ feeling in”
  2. Proses yang terjadi lebih mendalam
  3. Didasarkan pada penerimaan perbedaan individual
  4. Merupakan upaya-upaya pemahaman terhadap kondisi orang lain.
  5. Berbasis pada faktor kognitif dan afektif
  6. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : Seseorang memiliki teman yang orang tuanya meninggal. Sebagai wujud empati kita sebagai temannya merasakan kesedihan dan kehilangan tersebut. Turut merasakan disini bukan sekedar larut dalam kesedihan namun lebih jauh itu kita dapat menyampaikan supporting dengan menyampaikan hal yang baik dan memberinya semangat (bias juga dalam bentuk materi/barang penyemangat, kegiatan dan lain sebagainya). Tujuannya adalah agar kawan kita itu mampu menerima dengan ikhlas dan move on, bangkit dari kesedihan dan menjalani hidup dengan baik.

Sekali lagi Empati memiliki pengertian yang tidak jauh berbeda dengan simpati. Namun demikian, yang menjadi pembedanya adalah bahwa empati tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam seperti pada contoh kehilangan orang tua pada sahabat kita diatas.

Empati, adalah melakukan sesuatu kepada orang lain, dengan menggunakan cara berpikir dari orang lain tersebut, yang menurut orang lain itu menyenangkan, yang menurut orang lain itu benar. Poinnya adalah apa yang menurut kita bernilai sebagai kebaikan, namun bias saja sebenarnya justru mengganggu orang lain. Nah empati tidaklah demikian.

-paper sederhana untuk pemenuhan tugas ke-2 pengantar ilmu komunikasi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s