KHARISMA GUSDUR

Posted on

Pendahuluan

Membaca kembali teori kepemimpinan khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan yang diutarakan oleh Weber mengingatkan saya ke beberapa tahun silam, tepatnya medio tahun 2003 hingga 2006. Entah mengapa pikiran langsung tertuju pada sosok Gus Dur (alm) yang begitu memesona baik itu dari sisi pemikiran, maupun sebagai sosok pribadi. Diatas itu tentu ada Bung Karno; jawaranya pemimpin kharismatik; bagaimana ia mengagitasi rakyat dengan balutan kata-kata heroiknya bahkan sebelum ia memiliki kekuasaan legal sebagai Presiden (legitimate power). Namun demikian Gus Dur pun memiliki pesona magisnya sendiri. Masih lekat bagaimana tulisannya mewarnai majalah Prisma dan buku-bukunya yang sering dibawa oleh salah seorang kawan di tempat kami menimba ilmu dulu. Tentu saja buku itu kemudian saya pinjam, termasuk majalah Prisma yang rada usang dengan bau khas debu di tengah rak perpustakaan. Biasanya dalam kondisi normal, buku dan majalah itu dilahap habis tidak kurang dalam waktu satu minggu. Tentu jangan dibandingkan dengan kondisi saat ini, dimana tingkat konsentrasi dan lingkungan yang sudah jauh berbeda. Namun saat itu rasanya cukup menyenangkan berselancar ria menyelami beragam pemikiran, dan Gus Dur adalah salah satunya.

Maka ketika tugas 2 ini hadir dalam mata kuliah perbandingan pemerintahan, momen nostalgia itu kembali hadir. Romantisme yang sarat akan kenangan masa sekolah menengah dulu; jiwa muda yang eksplosif, spirit agama dan lingkungan social organisasi. Maklum saat itu iklim pendidikan sekolah menengah tidaklah seterbuka saat ini, sehingga rasa haus akan informasi dan pengalaman yang lebih baru akan didapatkan diluar bangku sekolah, tepatnya di lingkungan organisasi informal di luar sekolah.

 

 Apa Itu Kharisma

Weber ketika menyebutkan charisma sebenarnya dilatarbelakangi oleh prinsip etik dan spirit perubahan yang dibawa oleh gerakan puritan yang kemudian dikenal dengan gerakan etis protestanisme. Menurutnya perbedaan mendasar dunia barat dan timur berada pada rasionalitas dan agama. Agama bagaimanapun juga membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Didalamnya terselip ajaran, dogma hingga semangat perubahan. Agama kemudian menjelma menjadi lembaga lengkap dengan struktur social dan kekuasaan didalamnya. Dalam tataran kekuasaan, yang pada saat itu dominan di pegang oleh Paus, pendeta, rabid an sejenisnya; dibedakan menjadi tiga bentuk kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pengaruh yang mampu mengubah masyarakat, menggerakkan dan menginspirasi pengikutnya untuk melakukan sesuatu dalam gerakan social. Weber kemudian membedakan kekuasaan itu kedalam tiga bagian :

  1. Kekuasaan Tradisional : Jenis kekuasaan yang sudah ada (established) dan dipercayai secara turun temurun.
  2. Kekuasaan legal-rasional : Jenis kekuasaan yang diperoleh melalui penunjukan hokum positif; kontrak social dan sejenisnya
  3. Kekuasaan kharismatik : Jenis kekuasaan yang diperoleh karena rahmat (grace) pada individu seseorang

Secara akar kata, kharisma berasal dari kata yunani ‘chairismos’ yang berarti berkat yang terinspirasi secara agung atau dengan bahasa lain yakni anugerah. Kata ini dalam tradisi Kristen berpadu padan dengan kata ‘grace’ atau rahmat. Oleh sebab itu kharisma adalah sejenis ‘blessing’ atau anugerah atau bakat yang ada pada diri individu seseorang. Ia lahir dan ada begitu saja (given). Walau demikian pandangan ini kemudian mendapat kritik beberapa tahun setelahnya, dimana kharisma pada diri seseorang juga diyakini mampu dipelajari, dibentuk. Pemimpin dengan kharisma tidak lahir begitu saja, namun ia dapat diciptakan dan dibentuk melalui pembelajaran. Robbins (2005) adalah salah satunya. Dalam penelitiannya ia menjelaskan bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan karismatik. Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Ia juga mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi karismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.

Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura karisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.

 

Bagaimana dengan Gus Dur

gusdurWalau lahir dari keturunan pendiri salah satu organisasi massa islam terbesar di Indonesia (Nahdatul Ulama/NU), Gus Dur mendapatkan peringkat sebagai pemimpin tidaklah mudah. Ia harus menempuh sekian jalan berliku untuk sampai ketahap itu, mulai dari keengganannya untuk meneruskan pendidikan formal hingga pengembaraannya ke dunia asing; kairo, mesir (timteng) dan Negara eropa. Oleh sebab itu jua, dalam dirinya tersimpan aneka dinamika pemikiran yang begitu luas dan terbuka melampaui pemahaman tradisional islam ulama NU. Untuk mengenal sosoknya lebih dekat, berikut adalah profil singkat beliau (yang disarikan dari berbagai sumber terpercaya)

Gus Dur  adalah mantan Presiden Keempat Indonesia  yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970. Dia lalu pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

 

Gus Dur dan Kepemimpinan Karismatiknya

Dua dari pendapat kepemimpinan kharismatiknya, yaitu Weber yang menganggapnya sebagai berkah (given) ada dari lahir dan Robins yang menyebutkan bahwa charisma bisa dibentuk dan dipelajari, purna keduanya melekat pada diri Gus Dur. Sebagai pribadi charisma Gus Dur bisa saja diperoleh dari keluarganya yang merupakan tokoh besar Islam, pendidik dan pembawa perubahan di negeri ini. Namun demikian, charisma yang melekat itu tidak sempurna jika kemudian tidak dilengkapi dengan modal kepribadian yang baik; seperti pemikiran yang kritis, teguh pendirian, jujur, optimis, pembelajar yang baik dan mampu menggerakkan. Sebab menurut Weber sedikitnya ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan pemimpin kharismatik, yaitu : Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luarbiasa, adanya krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang

Kelima factor sebagaimana disyaratkan Weber diatas, melekat pada diri Gus Dur. Sebagaimana kita baca pada profil singkat beliau diatas, disamping bakat personal yang ada pada dirinya (kritis dan pembelajar yang baik) kehadiran Gus Dur juga mampu memberikan pembeda ditengah serba seragamnya iklim politik dan social yang coba dikembangan Orde Baru saat itu. Sikapnya yang teguh dan daya nalarnya yang luar biasa (diperoleh melalui pengalaman hidup dan pembelajaran sebelumnya) membuat kiprahnya semakin meluas; mulai dari kolumnis dan jurnalis, hingga pendidik dan aktif sebagai anggota parlemen. Puncaknya adalah ketika kemudian ia menerima permintaan kakek dari ibunya untuk menahkodai NU dan hijrah dari Jombang menuju Jakarta. Disinilah ia kemudian semakin dikenal dan memiliki banyak pengikut, bukan hanya dari kalangan nahdiyin NU tapi juga dari beragam latar belakang hingga lintas agama. Sosoknya tidak hanya diterima oleh kalangan islam tapi juga ummat lainnya; nasrani, hindu, budha bahkan konghucu. Khusus yang terakhir, tentunya kita masih mengingat bahwa pada masa kepemimpinannya lah kepercayaan konghucu kemudian mendapatkan tempat secara hokum di Indonesia. Maka tidak salah ketika masyarakat menjulukinya sebagai Bapak Bangsa atau Guru Bangsa.

Kharisma tersebut juga semakin lengkap ketika sebagian pengagumnya bahkan ada yang mengkultuskannya, hingga menganggapnya memiliki kekuatan transedental tertentu bahkan supranatural. Padahal sebagai pribadi yang rasional dan terdidik tentu hal ini berkebalikan dengan dirinya. Dan bahkan jika hal ini kemudian ditanyakan kepadanya, mungkin ia hanya terkekeh saja sambil berkata ‘gitu aja kok repot’

Depok, 01 April 2016

ALMK

*ditulis sebagai pemenuhan tugas 2 mata kuliah perbandingan  pemerintahan, Bab Kekuasaan dan Kepemimpinan Kharismatik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s