Month: April 2016

Guna-guna Cloud Drive (storage)

Posted on Updated on

imagesBeberapa hari terakhir ini saya rajin memposting tugas-tugas kuliah saya disini. Bukan apa-apa sih, sebagai pekerja lepas yang saban harinya nomaden, aktivitas mobile sangat lekat sehari-hari – dalam pengertian mesti kesana kesini tanpa ajeg di satu tempat. Disamping laptop yang wajib dibawa dibagasi mobil, tak kalah penting adalah media storage yang juga bisa dibawa kemana-mana. Dan ini beresiko jika hilang, tertinggal atau rusak. Sehingga banyak data yang pada akhirnya saya simpan di cloud drive semisal google drive dan juga di blog. Walau tak sering-sering amat updating data dan nulis lewat blog, tapi percayalah dalam satu bulan pasti ada satu hingga dua kesempatan menyimpannya disana. Pernah satu kali dulu hardisk eksternal tertinggal entah dimana, sementara jam 1 siang hasil revisi pengerjaan semalam harus dikirimkan ke klien. Kebayang gimana repotnya harus mencari data itu, sementara jarak dengan rumah juga terbilang jauh (belum lagi saya pelupa sehingga tidak yakin juga HD itu tertinggal disana, bisa jadi di warnet setelah sebelumnya mendownload file kiriman tugas kuliah).

Nah solusi sederhana adalah menyimpannya di colud yang kemudian bisa ditarik kapan saja dan dimana saja. Termasuk tugas-tugas paper kuliah saya, kapanpun saya sempat dan ingin membaca sebagai bekal persiapan UAS nantinya, bisa diakses lewat handphone atau tinggal ke warnet terdekat. khaannn gampang mas bro !!! hehe..

Manfaat kedua adalah siapa tahu tulisan dalam paper itu berguna juga untuk orang lain. Maklum saja sebagai pencari sumber relevan dalam penulisan tugas, saya pun rajin menyambangi blog-blog lain yang setidaknya dapat dijadikan sumber rujukan dalam menulis. Tentu saja tidak asal copy paste dan serampangan mengambil rujukan, namun memilih dan membandingkannya dengan sumber lain yang terserak di dunia maya. Maka jadilah tugas itu sebagai satu kesatuan utuh dari hasil rujukan (pemikiran orang lain tentunya), ditambah analisis saya pribadi dan kesimpulan dari setiap masalah yang diangkat. Nah … tulisan jadi ini nantinya bisa menjadi rujukan orang lain juga bukan sebagai sumber rujukan tugasnya… seperti beberapa tulisan essei saya sebelumnya yang pernah dimuat di surat kabar dan cerpen di majalah online yang pada akhirnya juga banyak disebut-sebut di jadikan rujukan penulisan hehe… (seperti essei Tanggung Jawab dalam Pendidikan dan Cerpen Antok itu)

Nah jadi tidak ada salahnya di guna-guna bukan ????

Cinere, April 2016

 

Advertisements

Seputar Privatisasi BUMN

Posted on

kebijakan-privatisasi-bumnAda dua pandangan utama mengenai BUMN dan kebijakan privatisasi nya. Pandangan yang pertama adalah mereka yang menilai bahwa selaiknya BUMN mutlak dimiliki oleh Negara. Pandangan yang kedua adalah yang melihat bahwa BUMN tidak mutlak harus dimiliki oleh Negara, bisa saja diserahkan sebagiannya kepada pihak swasta selama tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan rakyat. Nah kebijakan privatisasi terhadap BUMN merupakan kelompok yang setuju terhadap pandangan kedua.

Lalu diantara keduanya mana yang paling cocok dan bisa diterapkan??? Apakah kemudian pihak yang setuju terhadap privatisasi melanggar undang-undang, atau justru itu demi kebaikan BUMN itu sendiri??

Tujuan Pendirian BUMN

Pada dasarnya BUMN didirikan dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak tertentu (monopoli). Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, seyogyanya dikuasai oleh BUMN. Dengan adanya BUMN diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal dapat dicapai dengan jalan mengikut-sertakan masyarakat sebagai mitra kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memberdayakan usaha kecil, menengah dan koperasi yang berada di sekitar lokasi BUMN.

Namun demikian, faktanya masih banyak permasalahan yang mendera BUMN di tanah air. Masalah yang muncul diantaranya adalah ; perolehan laba yang masih rendah yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari kinerja yang lamban, high cost beuraucracy, lack of maintenance dan seterusnya. Salah satu solusi untuk keluar dari masalah itu adalah dengan melakukan privatisasi BUMN, seperti banyak terjadi pasca krisis moneter tahun 1997-1998 lalu.

Pro Kontra Privatisasi BUMN

Pro kontra seputar kebijakan privatisasi ini kemudian lahir di sebagian kalangan masyarakat. Mereka yang tidak setuju beranggapan bahwa BUMN merupakan aset negara yang harus tetap dipertahankan kepemilikannya oleh pemerintah, walaupun pada kenyataannya tidak mendatangkan manfaat karena terus merugi. Sebaliknya, mereka yang setuju menganggap bahwa pemerintah tidak perlu sepenuhnya memiliki BUMN, yang penting BUMN tersebut dapat mendatangkan manfaat yang lebih baik bagi negara dan masyarakat Indonesia.

Berikut adalah alasan-alasan pro dan kontra terhadap kebijakan privatitasi BUMN tersebut :

*Pro Privatisasi

  1. Peningkatan efisiensi, kinerja dan produktivitas perusahaan yang diprivatisasi : BUMN sering dilihat sebagai sosok unit pekerja yang tidak efisien, boros, tidak professional dengan kinerja yang tidak optimal, dan penilaian-penilaian negatif lainnya. Beberapa faktor yang sering dianggap sebagai penyebabnya adalah kurangnya atau bahkan tidak adanya persaingan di pasar produk sebagai akibat proteksi pemerintah atau hak monopoli yang dimiliki oleh BUMN. tidak adanya persaingan ini mengakibatkan rendahnya efisiensi BUMN. Hal ini akan berbeda jika perusahaan itu diprivatisasi dan pada saat yang bersamaan didukung dengan peningkatan persaingan efektif di sektor yang bersangkutan, semisal meniadakan proteksi perusahaan yang diprivatisasi.
  2. Mendorong perkembangan pasar modal : Privatisasi yang berarti menjual perusahaan negara kepada swasta dapat membantu terciptanya perluasan kepemilikan saham, sehingga diharapkan akan berimplikasi pada perbaikan distribusi pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
  3. Meningkatkan pendapatan baru bagi pemerintah : Secara umum, privatisasi dapat mendatangkan pemasukan bagi pemerintah yang berasal dari penjualan saham BUMN. Selain itu, privatisasi dapat mengurangi subsidi pemerintah yang ditujukan kepada BUMN yang bersangkutan. Juga dapat meningkatkan penerimaan pajak dari perusahaan yang beroperasi lebih produktif dengan laba yang lebih tinggi. Dengan demikian, privatisasi dapat menolong untuk menjaga keseimbangan anggaran pemerintah sekaligus mengatasi tekanan inflasi.

*Kontra Privatisasi

  1. Privatisasi salah sasaran : Beberapa alasan diatas dianggap tidak sesuai dengan fakta. Sebab jika itu yang menjadi motifnya, maka seharusnya yang diprivatisasi adalah perusahaan-perusahaan yang tidak efisien, produktivitasnya rendah dan kinerjanya payah. Sehingga dengan diprivatisasi, diharapkan perusahaan tersebut berubah menjadi lebih efisien, produktivitasnya meningkat, dan kinerjanya menjadi lebih bagus. Kenyatannya yang diprivatisasi adalah perusahaan yang sehat dan efisien. Jika ada perusahaan negara yang merugi dan tidak efisien, biasanya disehatkan terlebih dahulu sehingga menjadi sehat dan mencapai profit, dan setelah itu baru kemudian dijual.
  2. Alasan yang mengada-ngada : Alasan untuk meningkatkan pendapatan negara juga tidak bisa diterima. Memang ketika terjadi penjualan aset-aset BUMN itu negara mendapatkan pemasukan. Namun sebagaimana layaknya penjualan, penerimaan pendapatan itu diiringi dengan kehilangan pemilikan aset-aset tersebut. Ini berarti negara akan kehilangan salah satu sumber pendapatannya. Akan menjadi lebih berbahaya jika ternyata pembelinya dari perusahaan asing. Meskipun pabriknya masih berkedudukan di Indonesia, namun hak atas segala informasi dan bagian dari modal menjadi milik perusahaan asing.

Simpulan

Keduanya baik pihak yang setuju maupun tidak tentu memiliki alas annya masing-masing; ada baik dan ada buruknya. Privatisasi bukanlah barang haram, tujuan privatisasi sudah diundangkan dan tercantum dalam Pasal 74 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 yang isinya berkaitan dengan BUMN, tepatnya adalah tentang upaya meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan saham Persero. Penerbitan peraturan perundangan tentang BUMN dimaksudkan untuk memperjelas landasan hukum dan menjadi pedoman bagi berbagai pemangku kepentingan yang terkait serta sekaligus merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas BUMN. Privatisasi bukan semata-mata kebijakan final, namun merupakan suatu metode regulasi untuk mengatur aktivitas ekonomi sesuai mekanisme pasar. Kebijakan privatisasi dianggap dapat membantu pemerintah dalam menopang penerimaan negara dan menutupi defisit APBN sekaligus menjadikan BUMN lebih efisien dan profitable dengan melibatkan pihak swasta di dalam pengelolaannya sehingga membuka pintu bagi persaingan yang sehat dalam perekonomian.

-seri kuliah : penunai tugas 2 MK Sistem Ekonomi Indonesia-

Pengertian Simpati dan Empati Dalam konteks Psikologi dan Komunikasi

Posted on Updated on

semangat-tugas3.jpgIstilah empati dan simpati amat terkait dengan kondisi psikologis seseorang. Keduanya berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Oleh sebab itu dalam beberapa bacaan terkait, keduanya banyak disinggung dalam disiplin ilmu psikologi. Sementara dalam komunikasi, keduanya banyak dibahas dalam hal komunikasi antar budaya, yaitu interaksi social antara individu dengan individu lain yang berbeda dari sisi latar belakang budaya, pendidikan dan sejenisnya. Tujuannya adalah tentu mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan tersebut, melalui cara berkomunikasi yang baik (secara verbal dan non verbal) sehingga tercipta jalinan interaksi social yang harmonis dan saling berpengertian.

Secara konsep emphatic agak berbeda sedikit dengan simpati. Keduanya memang menunjukkan perasaan atau kondisi kejiwaan seseorang, namun demikian ada perbedaan; simpati berpadanan kata dengan ‘feeling with’ sementara empati adalah ‘feeling in’ atau lebih dalam dari sekedar simpati. Dari sekian sumber yang ada, menarik apa yang disampaikan oleh andry setiawan dalam blognya ketika menganalisa keduanya dari sisi konseling (tinjauan psikologis). Menurutnya :

“Empati dalam pengertian konseling adalah hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi. Salah satu masalah yang sering muncul adalah kurangnya rasa empati dalam berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman interaksi komunikasi sehingga konseli frustasi dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari proses konseling tersebut. Empati merupakan dasar hubungan interpersonal. Hal yang juga penting diungkap dalam konteks peningkatan mutu empati seseorang adalah berlatih menampakkan ekspresi-ekspresi atau isyarat-isyarat non-verbal yang membuat orang lain merasa dimengerti dan diterima, karena kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat non verbal orang lain. Pemahaman seperti ini membuat hubungan antar individu terjalin dengan baik. Dalam kepustakaan konseling ditegaskan tentang keefektifan konseling (counseling effectiveness) lebih ditentukan dari kecakapan konselor. Oleh karena itu, peran empati cukup esensial yang diakui dalam teori-teori konseling, sehingga empati yang diwujud-nyatakan dalam praktik konseling selama ini merupakan suatu keniscayaan untuk ditumbuh-kembangkan secara sistemis di dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat kita (dalam blognya di http://andiysetiawan.blogspot.co.id/2012/11/empati.html)”

Dari pengertian tersebut kita dapat melihat bagaimana empati memegang peranan penting dalam proses interaksi. Karena tinjauannya berkaitan dengan dunia psikologis maka ia menjelaskannya melalui perspektif konseli – konselor. Namun demikian jika ditarik kedalam spectrum yang lebih luas – dalam dunia social misalnya – pengertian itu memiliki kesamaan pandangan bahwa eksekusi empati akan berjalan baik ketika dituangkan dalam langkah komunikasi yang baik. Dalam hubungan konseli – konselor sebagaimana digambarkan diatas, setelah menyelami dan memahami kondisi konseli, konselor wajib melakukan terapis secara baik melalui pendekatan komunikasi yang baik. Sehingga tercipta bangunan interaksi yang positif demi kesembuhan diri konseli (pasien). Demikian halnya juga dengan konteks interaksi social yang mensyaratkan komunikasi yang terjalin baik melalui sikap empatic yang telah ada sebelumnya.

Adapun simpati memiliki pengertian yang kurang lebih sama namun bias dikatakan lebih dulu dari empati. Jika empati adalah ‘feeling in’, maka simpati adalah proses yang mendahuluinya atau diluar kedalaman perasaan itu (sekedar feeling with). Dalam salah satu jurnal psikologi (www.berandapsikologi.com) simpati diartikan sebagai suatu proses dimana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.

Berikut adalah perbedaan antara kedua istilah tersebut :

Simpati

  1. Berasal dari bahasa yunani “ feeling with”
  2. Proses yang terjadi kurang begitu mendalam
  3. Didasarkan faktor kesamaan
  4. Merupakan respons atas need for closeness and support
  5. Lebih spontan, biasanya dalam bentuk reaksi emosional
  6. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun kawan atau saudara kita.

Simpati adalah melakukan sesuatu untuk orang lain, dengan menggunakan cara yang menurut kita baik, menurut kita menyenangkan, menurut kita benar.

Empati

  1. Berasal dari bahasa yunani “ feeling in”
  2. Proses yang terjadi lebih mendalam
  3. Didasarkan pada penerimaan perbedaan individual
  4. Merupakan upaya-upaya pemahaman terhadap kondisi orang lain.
  5. Berbasis pada faktor kognitif dan afektif
  6. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : Seseorang memiliki teman yang orang tuanya meninggal. Sebagai wujud empati kita sebagai temannya merasakan kesedihan dan kehilangan tersebut. Turut merasakan disini bukan sekedar larut dalam kesedihan namun lebih jauh itu kita dapat menyampaikan supporting dengan menyampaikan hal yang baik dan memberinya semangat (bias juga dalam bentuk materi/barang penyemangat, kegiatan dan lain sebagainya). Tujuannya adalah agar kawan kita itu mampu menerima dengan ikhlas dan move on, bangkit dari kesedihan dan menjalani hidup dengan baik.

Sekali lagi Empati memiliki pengertian yang tidak jauh berbeda dengan simpati. Namun demikian, yang menjadi pembedanya adalah bahwa empati tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam seperti pada contoh kehilangan orang tua pada sahabat kita diatas.

Empati, adalah melakukan sesuatu kepada orang lain, dengan menggunakan cara berpikir dari orang lain tersebut, yang menurut orang lain itu menyenangkan, yang menurut orang lain itu benar. Poinnya adalah apa yang menurut kita bernilai sebagai kebaikan, namun bias saja sebenarnya justru mengganggu orang lain. Nah empati tidaklah demikian.

-paper sederhana untuk pemenuhan tugas ke-2 pengantar ilmu komunikasi-

KHARISMA GUSDUR

Posted on

Pendahuluan

Membaca kembali teori kepemimpinan khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan yang diutarakan oleh Weber mengingatkan saya ke beberapa tahun silam, tepatnya medio tahun 2003 hingga 2006. Entah mengapa pikiran langsung tertuju pada sosok Gus Dur (alm) yang begitu memesona baik itu dari sisi pemikiran, maupun sebagai sosok pribadi. Diatas itu tentu ada Bung Karno; jawaranya pemimpin kharismatik; bagaimana ia mengagitasi rakyat dengan balutan kata-kata heroiknya bahkan sebelum ia memiliki kekuasaan legal sebagai Presiden (legitimate power). Namun demikian Gus Dur pun memiliki pesona magisnya sendiri. Masih lekat bagaimana tulisannya mewarnai majalah Prisma dan buku-bukunya yang sering dibawa oleh salah seorang kawan di tempat kami menimba ilmu dulu. Tentu saja buku itu kemudian saya pinjam, termasuk majalah Prisma yang rada usang dengan bau khas debu di tengah rak perpustakaan. Biasanya dalam kondisi normal, buku dan majalah itu dilahap habis tidak kurang dalam waktu satu minggu. Tentu jangan dibandingkan dengan kondisi saat ini, dimana tingkat konsentrasi dan lingkungan yang sudah jauh berbeda. Namun saat itu rasanya cukup menyenangkan berselancar ria menyelami beragam pemikiran, dan Gus Dur adalah salah satunya.

Maka ketika tugas 2 ini hadir dalam mata kuliah perbandingan pemerintahan, momen nostalgia itu kembali hadir. Romantisme yang sarat akan kenangan masa sekolah menengah dulu; jiwa muda yang eksplosif, spirit agama dan lingkungan social organisasi. Maklum saat itu iklim pendidikan sekolah menengah tidaklah seterbuka saat ini, sehingga rasa haus akan informasi dan pengalaman yang lebih baru akan didapatkan diluar bangku sekolah, tepatnya di lingkungan organisasi informal di luar sekolah.

 

 Apa Itu Kharisma

Weber ketika menyebutkan charisma sebenarnya dilatarbelakangi oleh prinsip etik dan spirit perubahan yang dibawa oleh gerakan puritan yang kemudian dikenal dengan gerakan etis protestanisme. Menurutnya perbedaan mendasar dunia barat dan timur berada pada rasionalitas dan agama. Agama bagaimanapun juga membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Didalamnya terselip ajaran, dogma hingga semangat perubahan. Agama kemudian menjelma menjadi lembaga lengkap dengan struktur social dan kekuasaan didalamnya. Dalam tataran kekuasaan, yang pada saat itu dominan di pegang oleh Paus, pendeta, rabid an sejenisnya; dibedakan menjadi tiga bentuk kekuasaan. Kekuasaan disini adalah pengaruh yang mampu mengubah masyarakat, menggerakkan dan menginspirasi pengikutnya untuk melakukan sesuatu dalam gerakan social. Weber kemudian membedakan kekuasaan itu kedalam tiga bagian :

  1. Kekuasaan Tradisional : Jenis kekuasaan yang sudah ada (established) dan dipercayai secara turun temurun.
  2. Kekuasaan legal-rasional : Jenis kekuasaan yang diperoleh melalui penunjukan hokum positif; kontrak social dan sejenisnya
  3. Kekuasaan kharismatik : Jenis kekuasaan yang diperoleh karena rahmat (grace) pada individu seseorang

Secara akar kata, kharisma berasal dari kata yunani ‘chairismos’ yang berarti berkat yang terinspirasi secara agung atau dengan bahasa lain yakni anugerah. Kata ini dalam tradisi Kristen berpadu padan dengan kata ‘grace’ atau rahmat. Oleh sebab itu kharisma adalah sejenis ‘blessing’ atau anugerah atau bakat yang ada pada diri individu seseorang. Ia lahir dan ada begitu saja (given). Walau demikian pandangan ini kemudian mendapat kritik beberapa tahun setelahnya, dimana kharisma pada diri seseorang juga diyakini mampu dipelajari, dibentuk. Pemimpin dengan kharisma tidak lahir begitu saja, namun ia dapat diciptakan dan dibentuk melalui pembelajaran. Robbins (2005) adalah salah satunya. Dalam penelitiannya ia menjelaskan bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan karismatik. Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri, dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Ia juga mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi karismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.

Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura karisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.

 

Bagaimana dengan Gus Dur

gusdurWalau lahir dari keturunan pendiri salah satu organisasi massa islam terbesar di Indonesia (Nahdatul Ulama/NU), Gus Dur mendapatkan peringkat sebagai pemimpin tidaklah mudah. Ia harus menempuh sekian jalan berliku untuk sampai ketahap itu, mulai dari keengganannya untuk meneruskan pendidikan formal hingga pengembaraannya ke dunia asing; kairo, mesir (timteng) dan Negara eropa. Oleh sebab itu jua, dalam dirinya tersimpan aneka dinamika pemikiran yang begitu luas dan terbuka melampaui pemahaman tradisional islam ulama NU. Untuk mengenal sosoknya lebih dekat, berikut adalah profil singkat beliau (yang disarikan dari berbagai sumber terpercaya)

Gus Dur  adalah mantan Presiden Keempat Indonesia  yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970. Dia lalu pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

 

Gus Dur dan Kepemimpinan Karismatiknya

Dua dari pendapat kepemimpinan kharismatiknya, yaitu Weber yang menganggapnya sebagai berkah (given) ada dari lahir dan Robins yang menyebutkan bahwa charisma bisa dibentuk dan dipelajari, purna keduanya melekat pada diri Gus Dur. Sebagai pribadi charisma Gus Dur bisa saja diperoleh dari keluarganya yang merupakan tokoh besar Islam, pendidik dan pembawa perubahan di negeri ini. Namun demikian, charisma yang melekat itu tidak sempurna jika kemudian tidak dilengkapi dengan modal kepribadian yang baik; seperti pemikiran yang kritis, teguh pendirian, jujur, optimis, pembelajar yang baik dan mampu menggerakkan. Sebab menurut Weber sedikitnya ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan pemimpin kharismatik, yaitu : Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luarbiasa, adanya krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang

Kelima factor sebagaimana disyaratkan Weber diatas, melekat pada diri Gus Dur. Sebagaimana kita baca pada profil singkat beliau diatas, disamping bakat personal yang ada pada dirinya (kritis dan pembelajar yang baik) kehadiran Gus Dur juga mampu memberikan pembeda ditengah serba seragamnya iklim politik dan social yang coba dikembangan Orde Baru saat itu. Sikapnya yang teguh dan daya nalarnya yang luar biasa (diperoleh melalui pengalaman hidup dan pembelajaran sebelumnya) membuat kiprahnya semakin meluas; mulai dari kolumnis dan jurnalis, hingga pendidik dan aktif sebagai anggota parlemen. Puncaknya adalah ketika kemudian ia menerima permintaan kakek dari ibunya untuk menahkodai NU dan hijrah dari Jombang menuju Jakarta. Disinilah ia kemudian semakin dikenal dan memiliki banyak pengikut, bukan hanya dari kalangan nahdiyin NU tapi juga dari beragam latar belakang hingga lintas agama. Sosoknya tidak hanya diterima oleh kalangan islam tapi juga ummat lainnya; nasrani, hindu, budha bahkan konghucu. Khusus yang terakhir, tentunya kita masih mengingat bahwa pada masa kepemimpinannya lah kepercayaan konghucu kemudian mendapatkan tempat secara hokum di Indonesia. Maka tidak salah ketika masyarakat menjulukinya sebagai Bapak Bangsa atau Guru Bangsa.

Kharisma tersebut juga semakin lengkap ketika sebagian pengagumnya bahkan ada yang mengkultuskannya, hingga menganggapnya memiliki kekuatan transedental tertentu bahkan supranatural. Padahal sebagai pribadi yang rasional dan terdidik tentu hal ini berkebalikan dengan dirinya. Dan bahkan jika hal ini kemudian ditanyakan kepadanya, mungkin ia hanya terkekeh saja sambil berkata ‘gitu aja kok repot’

Depok, 01 April 2016

ALMK

*ditulis sebagai pemenuhan tugas 2 mata kuliah perbandingan  pemerintahan, Bab Kekuasaan dan Kepemimpinan Kharismatik