Month: March 2016

Wawantawa Dengan Mang Bonju (bag2)

Posted on Updated on

farrasIde pada dasarnya tidak ada yang genuine original. Ia lahir dan tumbuh sebagai penyempurna, penambah nilai hingga pelengkap dari sederetan ide yang telah ada sebelumnya. Keberanian mengambil keputusan, perhitungan yang matang akan segala resiko dan sekaligus kejernihan melihat peluang, pada akhirnya  yang menentukan keberhasilan, disamping tentunya keberuntungan. Khusus yang terakhir jika mengingat prinsip law of attraction, keberuntungan tentu enggan datang begitu saja tanpa perjuangan dan usaha keras yang dilakukan terus menerus. Pada prinsipnya sama seperti apa yang diutarakan walikota Bandung beberapa waktu lalu saat ditanya apakah ia akan maju dalam pilgub DKI, secara diplomatis beliau menjawab ‘semua akan indah pada waktunya’ hehe…

brownies-amandaProses pertumbuhan bisnis kuliner jika dilakukan secara benar bisa meledak dengan cepat. Jadi teringat beberapa tahun lalu ketika Amanda Brownies masih diproduksi secara sederhana di sebuah warung kecil di pinggiran jalan Margahayu. Saat itu tentu tidak akan ada yang menyangka ide brownies kukus bisa melejit dengan cepat di bawah nama Amanda (kependekan dari Anak Mantu Dagang). Masih lekat juga bagaimana paman saya (adiknya Bapak) yang bekerja sebagai pemasar disana merasakan sulitnya masa-masa awal bisnis itu dibangun, namun dengan semangat kerja keras, kejernihan melihat peluang dan sedikit keberuntungan Amanda menjelma menjadi raksassa produsen oleh-oleh khas Bandung menyaingi Kartika Sari dan usaha sejenisnya yang telah ada lebih dulu.

Pun demikian dengan cireng salju (aci digoreng) yang pertumbuhannya terus merangkak naik – sebagaimana diamini oleh salah satu pendirinya Najib Wahab – beberapa hari lalu saat anak saya mewawancarai beliau untuk penunaian tugas kewirausahaannya di sekolah. Sebagai salah satu pendiri – disamping dua sosok penting lainnya sebagai ahli pemasar dan penguatan branding serta finance dan human resources – keberadaan cireng ini bukanlah yang pertama di jakarta, sebelumnya sudah ada produk serupa yang booming terlebih dahulu. Namun demikian, peluang panganan atau kuliner memang cukuplah besar, tidak bisa dimonopoli hanya oleh segelintir orang atau sekelompok saja. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, inovasi dan kepercayaan diri akan produk yang diusung, maka hasilnya luar biasa. Walau masih dalam proses pertumbuhan, namun melihat dari progress yang ada, usaha kawan saya ini secara optimis diakuinya akan semakin besar dan menjangkau luas.

Ada beberapa point penting dari isi wawancara anak saya beserta kelompoknya kemarin. Mungkin lain kali saya akan tulis sebagai sambungan bagian kedua ini hehe….. sekarang saya mau bikin proposal buku tahunan sekolah dulu dan menyelesaikan beberapa ribu eksemplar cetakan yang sudah didesain seminggu ini. Maklum dah deadline 🙂

Karang Tengah, 23 Maret 2016

Advertisements

Wawantawa dengan Mang Bonju

Posted on

DSCF7859Awalnya kami berencana ke Bandung Sabtu pagi dua hari lalu. Namun kemudian mendadak ada kabar datang dan membuat seketika kami membatalkan niat yang sedianya sudah di rencanakan seminggu sebelumnya. Syahdan hari Sabtu itu kami sekedar jalan-jalan saja diseputaran Depok dan Bekasi sembari malamnya mencari bahan baku keperluan catering.

Group whatsapp pun ramai berbunyi, persisnya di HP mantan pacar. Ibu-ibu sedang galau rupanya karena ada tugas kewirausahaan di sekolah yang harus dibuat buku dan dikumpulkan tepat hari Rabu, yang artinya 3 hari tersisa (plus 1 hari yang masih libur). Tugas ini mengharuskan siswa/i kelas 3 mewawancarai tokoh pelaku bisnis yang tidak dikenal (bukan saudara dekat; om, tante atau keluarga), atau bahkan teman dekat ayah dan ibu yang saban hari ketemu. Wawancara ini dilakukan secara berkelompok; satu kelompok berisi dua ekor … eh salah dua orang maksudnya (beda ya dengan masa sekolah kita dulu yang sekelompoknya bisa 5 sampai 7 orang hehe…)

Mengingat lusa sudah hari senin, yang artinya kembali pada rutinitas maka saya berpikir akan lebih baik melakukan wawancara itu di hari libur saja (1 hari tersisa ya besok, hari minggu). Disamping waktu yang leluasa untuk mengantar ke lokasi, ada info dari ibunda teman sekelompok si kakak yang menyarankan di hari libur juga, mengingat di hari biasa dia juga bekerja dan ada ketidak cocokan waktu luang antara anaknya dengan anakku karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang berbeda (kegiatan ekskul ini tersedia di hari senin sd kamis mulai pukul 14.40 sd 15.45). Maka hari minggu adalah pilihan yang pas.

DSCF7852Lalu kemudian yang menjadi masalah siapa nara sumber yang cocok dan bersedia meluangkan waktunya besok?? Semula saya memilih kawan saya yang berdomisili di petukangan. Pertama saya sudah tahu persis rutinitasnya, kedua dia juga partner saya dalam beberapa kali kesempatan menyelesaikan pekerjaan. So, nggak mungkin lah menolak. Secara kriteria juga cukup mumpuni; memiliki gerai JNE, freelancer photographer dan lini bisnis multimedia lainnya. Hanya masalahnya, si kakak sudah sering bertemu dengan dia yang artinya sudah kenal dekat, sehingga dikhawatirkan tidak ada informasi baru yang bisa digali lebih dalam. Lantas siapa lagi yang bisa ya ????

Seketika saya teringat kawan karib saya semasa SMU dahulu di Bandung. Kami pernah satu kelas, bahkan satu bangku selama beberapa semester. Secara tidak sengaja lima tahun lalu kami kembali bertemu di Facebook dan tak berapa lama kemudian kopdar di kantornya pas jam istirahat. Pertemuan itu sekedar melepas kangen saja; ketawa ketiwi dan menanyakan kabar masing-masing, mulai dari siapa yang jadi istri (ooh bukan yang pas SMA itu dulu ya ternyata hahaa…), berapa anak dan aktivitas masing-masing. Pertemuan singkat itu diakhiri dengan beberapa ide bisnis, kebetulan secara latar belakang kawan saya itu juga tengah berbisnis disamping bekerja pada salah satu BUMN Minyak terbesar di negeri ini. Sementara saya apalagi, pasca keluar dari pekerjaan dua tahun sebelumnya, nyaris malas mencari pekerjaan lagi. Ujung-ujungnya berbisnis…. dengan modal dengkul dan skill pas-pasan hahha… (tapi tenang lah masih bisa dipoles… pan manusia otodidak .. ngeless nih).

IMG_20151126_211913_scaled.jpgNamun entah apa sebab, pertemuan itu seolah menjadi pertemuan pertama dan terakhir. Nyaris kami tidak pernah bertukar sapa kembali, tenggelam dalam rutinitas masing-masing, hingga kemudian kawan saya itu booming dengan bisnis kulinernya; cireng salju dengan nama Mang Bonju. Produksinya sudah ribuan pieces tiap harinya, omzetnya jangan ditanya lah … bikin ngillerrrr… so, tugas kakak di kelas 3 ini mengingatkan saya akan sosok sahabat saya ini. Dengan mantaps saya kontak beliau dan gayung pun bersambut, kami bersepakat bertemu di kantornya di kawasan BSD Tangsel.

Penasaran bagaimana petikan wawancara anak kelas 3 SD dengan narsumnya, dan bagaimana sahabat saya itu memulai bisnis dan perlahan booming, tunggu saja lanjutan kisah ini besok di stasiun yang sama ya hihi…