Month: January 2016

Belajar Lagi Menjadi Orang Tua

Posted on Updated on

DSCF6727Tadinya saya mau melanjutkan diary yang tertunda yaitu lanjutan tulisan perjalanan kami saat berlibur di tahun baru 2016 kemarin. Tapi saat pertama kali membuka blog ini muncul notifikasi beberapa tulisan menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Umumnya tulisan itu dibuat di minggu pertama januari dan muncul di jendela blog saya (tentunya blog yang sudah menjalin pertemanan dengan saya).

Seperti tulisan Pak Dahlan Iskan tentang DR. Ir Suyoto yang bekerja di perusahaan Jepang dan ingin kembali mengabdi di BUMN (dalam negeri), lalu Bambang Trim tentang pentingnya literasi dengan mengutip puisi Taufik Ismail ‘mengapa Indonesia Nol dalam kewajiban membaca buku untuk para siswa/i sekolah’, masalah gagal move on dari blog kapriliyanto yang selalu segar dan lucu hingga tulisan bunda Dina tentang Daud VS Goliath dan pendidikan kewirausahaan bagi anak. Bagi saya tulisan-tulisan itu sangat positif dan menebar inspirasi serta pengetahuan. Namun demikian, ada satu tulisan yang secara pribadi membuat saya tertegun dan merasa bersalah. Tak lain adalah tulisan Bunda Dina tentang ‘mendidik anak agar memiliki sikap yang erat dengan kegiatan wirausaha’. Penekanannya bukan pada wirausaha tapi kepada sikap-sikap anak kita yang ingin kita bentuk secara positif kelak.

Berikut adalah point terpenting dalam tulisan bunda dina tersebut (yang akhir-akhir ini saya lupakan) :

1. Resiliensi (daya tahan).
Cara: biarkan anak mengeluarkan isi hatinya, jangan direndahkan apa yang dirasakannya.

Entah mengapa akhir-akhir ini saya sering cepat meletup secara emosi yang pada akhirnya membuat anak-anak tidak bisa mengeluarkan isi hatinya (sikap saya yang kadang acuh tak acuh ketika mereka bercerita)

2. Inovasi dan kreativitas
Cara: biarkan anak bermain dan berekesplorasi (tapi jangan main game melulu, carikan jenis permainan yang bervariasi)

Kadang untuk membuat anak terdiam dan tidak mengusik kegiatan kita, cara yang termudah adalah berikan caja gadget dan biarkan mereka main games sepuasnya. Cara ini tentu saja salah, tapi apesnya sering saya praktekan akhir-akhir ini.. 😦

3. Kerja keras
Cara: didik anak mandiri dengan memberi mereka tanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaan

Ada kalanya anak memang memerlukan latihan, dimulai misalnya dengan tanggung jawab sederhana mereka dalam menyiapkan barang-barang untuk ke sekolah, merapikan tas, baju dan sepatu ketika pulang ke rumah, membersihkan serak nasi setelah makan dll. Tapi adakalanya (dan ini sering terjadi) saya memilih membersihkan sendiri atau menyuruh mpok (asisten RT) untuk membereskan dengan dalih agar anak-anak tidak lebih membuat berantakan atau muncul kegaduhan baru. Padahal cara ini salah, ujungnya mereka akan manja dan tidak memiliki kemandirian dan tanggung jawab menyelesaikan persoalan

4. Keingintahuan:
Cara: dorong anak untuk memulai hobi baru, ajak ke berbagai tempat yang mungkin bisa menginspirasi (workshop, museum, dll)

Beberpa minggu terakhir di setiap weekend saya malah leyeh-leyeh saja, padahal hanya diwaktu itulah anak-anak memiliki waktu senggang dan bisa bercengkrama 24 jam dengan orang tuanya.

5. Percaya diri.
Cara: dorong mereka memberikan pendapat, beri kesempatan untuk mengambil keptusan sendiri (lalu didampingi, tentu saja; terutama kalau keputusannya beresiko; apapun hasil dari keputusannya, itu akan jadi pengalaman baginya).

Saya sering memotong pembicaraan mereka dan tergesa-gesa langsung pada kesimpulan (bukan mereka yang menyimpulkan tapi saya yang memaksakan sudut pandang saya)

6. Empati
Cara: hormati kepribadian dan pendapat anak, agar dia juga belajar untuk menghormati dan memahami orang lain

Ini betul, harusnya seperti itu. Tapi terkadang lagi-lagi selalu lupa…. kita lebih memilih bahawa ‘pokoknya klo kata ayah/ibu begini kamu harus nurut ya .. bla-bla-bla’

7. Optimisme
Cara: optimisme itu ‘menular’ jadi ortu pun harus jadi pribadi yang optimis, biasakan berpikir positif, dan bacakan kisah-kisah sukses orang lain

Saya juga lupa membelikan mereka buku lagi dan atau menceritakan atau menunjukkan sumber bacaan yang baik tentang kekgigihan dan kesuksesan tokoh-tokoh yang patut dijadikan teladan.

8. Sedekah
Pengusaha yang sukses harus punya visi “kebaikan untuk bersama” (bukan keuntungan sebesar-besarnya untuk diriku). Jadi latih anak untuk berbagi dengan teman, saudara, tetangga, terutama yang kekurangan.

***

Menjadi orang tua itu memang tidak ada sekolahnya. Kegiatan belajarnyapun berlangsung sepanjang masa. Tak pernah berhenti …. mumpung mereka masih dalam kategori anak (yang sebentar lagi menginjak remaja) masih ada waktu tentunya untuk merubah sikap dan memberi teladan yang baik untuk mereka.

Hayu ah belajar lagi hehe…

Tour Jogja Mengesankan

Posted on Updated on

DSCF6742
Aku dan Fa nomor 3 saat hendak menaiki puncak Candi Borobudur di Magelang (yang ngambil photo ini si kaka aka. Fa nomor 1)

Ini adalah perjalanan pertama dan terjauh kami (saya) menggunakan kendaraan (moda transportasi darat dan menyetir sendiri) hehe.. Maklum anak-anak masih kecil, sementara istri juga belum mahir menggunakan kendaraan roda empat. So, tanggung jawab supir menjadi tugasku sendiri. Jika ditanya melelahkan?? Ah.. tidak juga mas bro n sista, assik-assik aja. Sepanjang perjalanan kami cukup menikmati, beristirahat pula beberapa kali untuk sekedar makan, menghirup udara segar, menenangkan gejolak di kursi belakang yang mulai memanas (Fa nomor 1 yang berebut mainan dengan Fa nomor 2), memberi makan si bungsi Fa nomor 3 yang mulai kelaperan atau sekedar memenuhi panggilan alam; kebelet hehe.. untuk urusan yang terakhir ini klo dijumlahkan kayaknya lebih dari 20 ribu selama perjalanan kami dari masuk pintu tol Jagorawi dan sampai di Jogja (wah yang punya toilet umum di musim liburan gini marema nih, panen duit pipiw… )

Perjalanan dimulai Pukul 04.00 menjelang shubuh. Tadinya kami berencana berangkat hari minggu pagi, namun karena badan yang terlalu capek setelah mengerjakan 5 editan pekerjaan sekaligus selama satu minggu. Maka saya memutuskan beristirahat dulu di hari Minggu itu dan memulai perjalanan di hari Senin pagi… biar lebih fresh badannya. Karena segala macam perlengkapan sudah dipacking dan dipersiapkan dua hari sebelumnya, maka di pagi itu kami tidak terlalu repot mengurusi ini dan itu. Apalagi mba yang biasa membantu di rumah juga pulang kampung, atau tepatnya diberhentikan karena kelalaiannya terhadap waktu (intinya sih dia lagi mabok cinta dan lupa akan tugasnya.. makanya pulang aja deh biar dikawinin dulu ama ema bapaknya !!!)

Selama perjalanan di dalam tol jagorawi-cikampek-purbaleunyi, tidak mengalami kendala berarti. Jalur ini memang jalur umum yang sering kami lewati jika hendak ke Bandung. Anak-anak juga nyaman tertidur di posnya masing-masing; Fa nomor 1 di paling ujung dengan bantal, selimut dan dua boneka pinky pai nya, Fa nomor 2 di kursi paling tengah dengan gagah mengangkang tanpa selimut dan bantal (dasar ya anak cowok mah beda hehe…) dan Fa nomor 3 ada di sebelah kemudi, tertidur pulas diatas kasur portable yang tak lain adalah perut ibunya sendiri yang penuh dengan lemak wkwkwkkkkk…

Pukul 07.00 kami sampai di rest area dekat pintu tol Cileunyi. Trio Fa terbangun dengan sendiri saat kendaraan berhenti. Oya saya memutuskan mengambil rute Selatan tidak Utara karena ingin santai saja berkendara. Rute selatan memiliki kesan tersendiri; jalurnya berbukit, penuh pemandangan alam dan banyak tempat berhenti yang bisa disinggahi. Sementara jalur utara walau jalannya lebar dan luas, rasanya saya tidak terlalu familiar dengan daerah itu. Belum lagi saat cuaca panas dan debu dari truk dan bis besar. Oleh sebab itu jalur selatan rasanya pas untuk keluarga kecil kami; dengan tiga anak kecil lengkap dengan tetek bengeknya.

Kondisi Selama di Perjalanan (20 Jam perjalanan sampai Jogja)

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, ada baiknya anda melihat apa yang terjadi didalam mobil jika membawa anak kecil dengan perjalanan jauh berjam-jam 🙂

Fafafa
Sedikit chaos di tengah perjalanan yang bikin assik dan mengesankan tour kemarin hehe…

(bersambung)