Month: September 2015

Pintar Mengatur Jadwal

Posted on

555dd9090423bd5b6c8b4567Karena setiap hari bisa dipastikan pulang hampir jam 8 atau 9 malam sampai di rumah, maka mau nggak mau harus disiasati penggunaan waktu di siang hari. Agak mustahil rasanya setelah bertempur di luar selama siang hari lantas masih juga harus menyelesaikan beberapa hal yang tertunda di malam hari. Belum lagi kehadiran asisten rumah tangga yang menempati kamar belakang yang juga menyatu dengan ruang kerja sederhana saya berupa satu buah meja, seperangkat komputer, satu set audio dan sebuah meja belajar tempat menaruh buku-buku yang kini sudah tidak seberapa banyak jumlahnya itu. Maka giliran malam adalah giliran sang asisten beristirahat, kurang manusiawi rasanya jika ia harus kembali menahan kantuk karena kehadiran saya. Maklumlah rumah yang kami tempati tidak terlampau besar sehingga harus diatur sedemikian rupa penempatannya. Belum lagi kini hadir si adek yang baru berusia 3 bulan, sehingga jelas banyak barang lainnya yang turut hadir mulai dari car seat, bouncer belum baju-baju dan seterusnya. Hah… kadang makin sempit aja nih rumah, apalagi klo si abang ngajak main… maka berantakanlah rumah hehe… ada rencana sih menambah satu ruangan di depan garasi mobil yang masih bisa diperluas, ya mudah-mudahan ada rejekinya. Amiin

Back to topic tentang pengaturan waktu. Kadang memang kita terlena oleh waktu yang berdurasi 24 jam itu, rasa2nya begitu luas dan panjang. Namun prakteknya kadang serasa belum cukup, apalagi jika banyak waktu yang kemudian kita buang secara percuma dengan tertidur, mengobrol nggak jelas, melamun dan seterusnya. Alih-alih mampu menyelesaikan semua tugas, malah kemudian melahirkan masalah baru berupa perasaan bersalah karena tidak melakukan secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu belajar adalah kunci mengatur waktu secara benar. Tidak ada batas sampai kapan selesai, karena proses belajar berlangsung sepanjang hayat. Apalagi kehidupan yang berjalan begitu dinamis; setiap hari ada saja masalah baru yang harus diselesaikan dengan cara dan tingkat berpikir yang berbeda ketika masalah itu lahir dulu, belum lagi pengharapan yang begitu tinggi akan pencapaian karir, kesuksesan, ketercukupan finansial hingga aktualisasi diri yang juga harus dipenuhi. Oleh sebab itu proses belajar akan terus berlangsung selama kita hidup dan baru berakhir ketika kita dikafani. Dalam hal mengatur kegiatan pun demikian, tanpa proses belajar kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar dan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan.

Minggu ini saya ingin belajar bagaimana mengatur kegiatan saya secara efektif. Mulai dari rutinitas pagi, siang, sore hingga malam di rumah. Ada beberapa target yang mesti diselesaikan, bukan perkara mudah juga karena membutuhkan tingkat perhatian dan konsentrasi yang berbeda. Sebut saja target mendapatkan hasil maksimal IPK, maka konsekuensinya saya harus menyelesaikan sekian tutorial online yang tersedia, pengerjaan tugas dan paper tepat waktu hingga bimbingan Tugas Akhir yang juga harus saya penuhi. Belum cukup sampai disitu, tuntutan kebutuhan rumah tangga juga tidak bisa dibiarkan, maka target lainnya adalah bagaimana mengatur pola kegiatan setiap hari sehingga pekerjaan juga tuntas sebagaimana hal itu diharapkan. Mulai dari pengerjaan editing untuk salah satu wedding organizer di jakarta, belanja bahan baku untuk catering di rumah, pengecekan administrasi mingguan catering sekolah dan seterusnya. Sekian jumlah target yang mesti dituntaskan itu, tentu tidak lantas membuat quality time dengan keluarga dan anak-anak menjadi terbengkalai. Dan untuk yang terakhir ini saya masih kebingungan, sebab terkadang ada saja kesalahan yang dilakukan; mulai dari tingkat emosi yang tidak stabil ketika bercengkrama dengan anak-anak di rumah (pada malam hari biasanya), pikiran yang terbelah (kadang saya tidak fokus mendengarkan mereka bercerita) hingga memutuskan tertidur lebih dulu sementara si abang asik mengajak main dan bercerita ini itu. Kalau sudah demikian, biasanya tugas menemani sampai jam 12 malam diserahkan pada sang ibu, walau saya tahu juga bahwa si Ibu lelah dan mengantuk karena seharian bekerja di luar.

Itulah dinamika hidup yang harus dijalani, dihadapi dan diselesaikan. Tulisan ini juga dibuat sebagai pemanasan sebelum saya mengerjakan 3 buah tugas paper lagi di semester ini. Kadang mood menulis tidak datang dengan baik, mesti di rangsang, dan salah satu bentuk rangsangan itu adalah dengan menulis, setidaknya menulis curhat di buku harian dan blog hehe… mudah-mudahan saja 3 tugas itu selesai hari ini sebelum saya harus menjemput anak-anak di sekolah jam 2 nanti. Dan besok adalah waktunya mengerjakan deadline proshow video salah satu WO langganan saya. Besoknya lagi adalah tenggat terakhir merangkum 5 buah buku penunjang materi Tugas Akhir, minimal 3 Bab awal. Pffuuhh… cuma tersisa hari minggu nih, sebelum kembali bertempur di hari senin. Semoga saja saya bisa belajar dengan baik untuk menyelesaikan semua tugas dan target itu. Amiin

-Cinere, Warnet ThePatch-

Manajemen Resiko; Menaikan Harga Jual Apakah Solutif ???

Posted on

Ada kebiasaan rutin tiap pagi ketika di jalan yang kami lakukan, khususnya saya sih… hehe… Apa coba, yups mendengarkan radio. Dari sekian channel yang ada saya memilih Delta FM untuk waktu siar antara jam 6 pagi sampai jam 9 nan. Acaranya cukup menghibur dan berisi konten yang cukup informatif. Biasanya sang pemandu acara “Asri Wellas & Stenny Agustaf” melemparkan satu dua permasalahan yang ringan tapi cukup penting untuk dibahas. Lalu di ujung telp ramai orang menelphone dan menanggapi. Di sessi 2 pagi ini, terlontar satu tema yang unik yaitu tentang ‘Manajemen Resiko’ pada usaha atau toko/butik/bisnis/dagang. Awalnya biasa saja tapi kemudian menjadi penting ketika ‘Manajemen Resiko’ ini tidak dijadikan sebagai satu kesatuan sistem pada usaha yang dijalankan. Sementara resiko dari sebuah usaha adalah keniscayaan; mulai dari pasar yang tidak menentu, fluktuasi bahan baku, bencana alam hingga ‘kenakalan’ anak buah/pegawai.

Pada point ‘kenakalan pegawai’ banyak kasus yang kemudian muncul adalah korupsi kecil-kecilan yang dilakukan, namun berjamaah dan rutin dilakukan tiap bulan. Bagaimanapun juga riak seperti ini tentu akan mengganggu keberlangsungan usaha yang dijalankan, mulai dari merosotnya nilai penjualan (keuntungan) hingga raibnya beberapa barang pada saat dilakukan Stock off name. Jika dibiarkan berlarut tentu membawa masalah besar dikemudian hari, oleh sebab itu ‘Manajemen Resiko’ menjadi penting; bukan hanya sebatas pada upaya penanggulangan ketika hal itu terjadi namun terlebih utama adalah pencegahan sebelum hal itu terjadi. Oleh sebab itu perlu sebuah sistem yang terpola dan terintegrasi secara baik ketika menjalankan sebuah usaha, dan salah satu komponen dalam sistem itu adalah ‘Manajemen Resiko’.

Secara teoritis istilah manajemen resiko ini bukanlah hal baru, di bangku kuliah khususnya dalam mata kuliah manajemen (baik umum, SDM hingga MK manajemen pemerintahan) sudah dipaparkan secara gamblang apa itu manajemen resiko. Mulai dari paparan para ahli hingga beberapa contoh dalam bentuk terapannya. Jadi silahkan saja baca kembali ya buku-buku anda semua yang sudah teronggok rapi itu di rumah hehe… Namun yang pasti, bagi saya manajemen resiko ini ternyata salah satunya adalah berpengaruh pada produksi dan harga jual barang yang ditawarkan. Artinya penghitungan perlu dilakukan secara cermat sebelum usaha dijalankan, dan salah satu komponen ‘manajemen resiko’ seperti tindak penyelewengan bahan baku oleh pegawai, mark up harga hingga kecurangan dalam bentuk jasa yang ditawarkan oleh tim penjualan perlu dihitung juga. Sehingga harga jual yang ada sudah mencakup semua; disamping harga sewa toko, honor pegawai, fluktuasi harga dan keuntungan bersihnya.

Namun demikian, setelah dipikir-pikir jika hal ini dimasukan kedalam tabel perhitungan maka imbasnya adalah kenaikan harga jual, sementara untuk saat ini rasanya tidak mungkin menaikan begitu saja harga jual yang ada. Lalu piye donks … ????

Sambil Merenung dan Membaca Diktat Kuliah Aja

-Pangkalan Jati CInere, Sept’15-

Ternyata Tidak Sehoror itu

Posted on

horror-wallpapers-poze-horor-desktopKadang apa yang ditakuti jauh lebih horor dalam pikiran tinimbang ketika dilakukan. Dalam arti ketakutan yang dibumbui dengan prasangka dan imajinasi ternyata tidak selebay itu ketika dihadapi dan dilakukan. Alih-alih memunculkan kembali ketakutan yang kedua, justru malah memunculkan hal baru berupa pengalaman. Dan ini berlaku dalam hal apapun, bidang apapun dan dalam keadaan apapun. Ketakutan yang dihindari bahkan hingga lari justru malah semakin menjadi bola liar, imajinasi yang terbang melayang dan menimbulkan syak wasangka. Hanya memang terkadang ketika menghadapinya dibutuhkan keberanian yang tinggi atau bahkan nekad, terlepas dari apapun hasilnya yang terpenting ketika kita tahu dan melakukan serta menghadapinya langsung akan terasa jelas dan terang benderang apa yang ditakuti itu. Dan itulah yang dimaksud pengalaman baru.

Pengalaman baru akan menuntun kemudian kepada cara dan tindakan baru dalam menghadapi apapun. Karena sejurus cara dan tindakan sebelumnya dirasa kurang tepat hingga perlu diperbaiki dan diperbaharui. Hal ini berbeda tentunya jika kita cenderung diam bahkan lari ketika menghadapi ketakutan itu; yang muncul kemudian justru ketakutan yang berulang dan semakin dalam sehingga menusuk dan merusak citra diri/self image kita dari dalam. Ini bahaya !!!

Medio September

H-1 sebelum hari jadi

Masih berproses kah ???

Posted on

Sebenarnya bingung mau nulis apa. Serasa tidak ada satupun kata atau kalimat yang bisa keluar. Mungkin ini yang namanya buntu ya, bingung, bercampur rasa bersalah. Ingin kiranya muncul dengan tiba-tiba ‘insight solution’ … dan AHA semuanya menjadi jelas dan ada solusi. Tapi hidup tidaklah dibangun dari ‘adakadabra’ demikian, melainkan lahir melalui rahim bernama proses. Maka mungkin nikmati saja proses itu kali ya.. mau manis, asam ataupun pahit mesti ditelan. Pepatah bijak mengatakan pikiran itu tergantung dari asupan makanan yang diberikan. Lebih baik rasanya jika asupan itu bernilai positif. Maka yang terlebih utama adalah bagaimana memaknai setiap peristiwa dari kaca mata yang positif. Bukan peristiwa dan masalahnya yang penting, tapi cara penyikapan kita terhadap masalah itu.

Sampai saat ini saya masih belajar, mencoba tegar dan memberi makanan pikiran dari sisi yang positif itu. Terkadang jatuh dan terjerembab, tiada tenaga, buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi inilah proses, mungkin kan ada muaranya kelak. Mari berproses menjadi lebih baik.

Cinere, menjelang hari jadi min-2