Month: April 2015

Beda rumah beda cara

Posted on

MultiplyMencari pengaturan wordpress ternyata sukar ya ….. setidaknya buat saya yang masih baru bersentuhan dengan ia. Maklum dulu sekian taun memakai multiply pas pindah kesini ehh.. ternyata butuh waktu yang nggak sebentar untuk penyesuaian hehe… ya sudahlah sambil berjalan.

Emm jadi teringat dulu ketika masih suka menginap di rumah uwa, ternyata masing-masing punya aturan dan cara tersendiri ya. Apa yang baik bagi satu rumah belum tentu sama jika diberlakukan untuk rumah yang lain. Dulu saya menganggap bahwa aturan mulai dari tata cara berprilaku, hingga aktivitas lainnya bisa berlaku sama, setidaknya ketika hal itu diterapkan di rumah sendiri bersama orang tua. Ternyata tidak demikian adanya, yang lahir kemudian adalah pertentangan karena apa yang saya anggap baik di rumah uwa yang kemudian saya praktekan di rumah itu dianggap berbeda oleh orang tua. Contoh kecil misalnya aturan makan di meja makan. Ini cukup sederhana, di beberapa rumah aturan ini ketat diberlakukan dan itu memang yang terbaik agar disiplin, rapi dan tidak berceceran. Tiap bagian rumah memiliki fungsinya masing-masing, maka tidak mungkin bukan ruangan keluarga atau TV dijadikan arena makan juga. Namun dirumah yang lain belum tentu sama, sebab saat makan adalah saat berkumpul bersama. Tidak menjadi persoalan di meja makan, di ruang tamu atau bahkan di halaman. Yang penting saat makan itu adalah suasana kebersamaannya; saling mengobrol, becanda, tukar pikiran dan bercerita kegiatan selama satu hari di luar.

Well.. aturan dan kebiasaan (dalam istilah sosiologi kadang disebut custom) memang tidak berlaku universal. Amat sangat tergantung dari kondisi, situasi dan waktu dimana ia berada. Perlu ada kompromi, disinilah mungkin diperlukan tingkat adaptasi yang tinggi. Sehingga kecocokan itu bisa dibangun tanpa ada paksaan apalagi konflik yang saling mempertentangkan. Dalam istilah sosiologi – antropologi kita mengenal asimilasi, akulturasi dan internalisasi. Dimana setiap budaya ada celah untuk kemudian bertemu dan bersatu dengan damai. Budaya A menyatu dengan C dan menjadi AC atau sama sekali baru melahirkan B. Sungguh indah bukan jika penyatuan itu berlaku dengan aman, tertib dan damai.. terlepas apakah ia melahirkan kebiasaan atau budaya baru atau tetap dengan jatidiri budaya sebelumnya namun kini lebih kaya.

Nah.. lalu apa hubungannya dengan paragraf pembuka di atas?? Hehe… anggap saja WP itu rumah baru saya sekarang, sementara MP yang sudah tewas itu adalah rumah lama yang sudah tidak dihuni lagi. Perlu waktu untuk menyesuaikan dengan keadaan sekarang. Apalagi saya awam pengaturan CSS… apa lebih baik kembali ke mode default saja tapi membosankan dari segi penampilan??? Emm bukan pilihan bijak juga jika terus seperti itu. Mau tak mau saya harus banyak belajar lagi, bertanya dengan kawan lain yang sudah lama menghuni WP. Tapi siapa ya ???

Advertisements

Terserang Asam Urat Yang Pertama

Posted on

go1Seminggu belakangan bagian pergelangan jempol kaki terasa agak ngilu. Untuk tahiyat saja dalam sholat sudah mulai susah ditekuk. Semula saya berpikir ini akibat kelelahan saja, kaki menjadi terasa kaku dan pegal setelah mengendarai mobil hampir tiap hari. Namun kemarin ketika bangun di pagi harinya, kaki terasa sangat sakit sekali. Jika diinjakkan terasa ngilu khususnya bagian pergelangan jempol kaki. Menjelang siang sakitnya semakin menjadi. Selepas mengantar anak-anak ke sekolah, sayapun berniat membeli obat penghilang sakit sendi baik itu obat dalam maupun luar.

Sesampainya di depan apotek, kok jadi ragu ya.. apa benar ini sakit sendi?? Sambil menunggu nomor antrian, saya membuka hp dan berselancar ria mengenai gejala sakit ini. Dari beberapa informasi yang didapat, hampir semuanya mengarah pada penyakit asam urat. Wah keraguan makin bertambah nih.. hingga akhirnya saya memutuskan untuk cancel saja membeli obat. Lebih baik konsultasi ke dokter biar dapat jawaban pasti.

Tepat jam 10 pagi dokter yang dituju kebetulan praktek di hari itu. Dan setelah saya menyampaikan keluhan, dokter bertanya tentang kemungkinan cedera pada kaki saya; sebab bisa saja otot yang ketarik atau cedera lainnya semisal menghentak pegal gas mobil secara berlebih atau bermain bola. Dengan mantap saya menjawab bahwa memang sudah lama saya tidak berolahraga; baik bersepeda, jogging ataupun bermain bola. Jadi kemungkinan cedera rasanya tidak mungkin. Mengenai pedal gas juga saya rasa cukup normal saya menginjaknya, dalam pengertian tidak pernah ngebut dan ugal-ugalan. Setelah diskusi sekitar 10 menit, dokter akhirnya menyarankan untuk melakukan tes darah, khususnya untuk mengecek kadar kolesterol dan asam urat saya. Sementara untuk menahan nyeri dia lantas memberikan obat anti inflamasi dalam bentuk tablet.

Dengan sabar saya menunggu hasil lab itu keluar sambil bertemu dengan calon klien salah satu sekolah di sawangan depok. Selepas itu menjemput anak-anak dari sekolah seperti biasa. Rasa sakit sudah menghilang sedikit, setidaknya untuk menginjak pedal gas bisa lah … tapi untuk berjalan, awww… jangan ditanya masih nyeri luar biasa. Menjelang sore datang telp dari staf dokter yang memeriksa tadi pagi mengabarkan bahwa hasil lab saya sudah keluar dah diharapkan datang untuk membicarakan langkah lanjutannya. Tanpa menunggu hujan reda, saya mengajak istri ke klinik. Dan ternyata benar saja… kadar asam urat saya sangat tinggi yaitu 9.64.. sementara kadar normalnya untuk laki-laki ada di kisaran 3.5 sd 7 paling tinggi.

Selepasnya tentu bisa ditebak donks, ada beberapa obat yang harus diminum, dan pantangan untuk beberapa makanan tertentu. Dokter juga menyarankan untuk beristirahat sementara…. “wah untung saja, minggu ini long weekend ya … liburnya 3 hari jadi pas khan ???”

Dari tiga jenis obat yang disarankan untuk diminum, hanya satu obat yang harus dicari di luar. Obat itu adalah kolkisin.. namun tahu tidak kawan, dari 5 apotek yang saya datangi mulai K-24, KF hingga Apotek Kawi di CInere semuanya bilang obat itu tidak tersedia di apotek mereka bilang itu import jadi susah… waduh piye toh mas. Penasaran apa itu kolkisin, saya lantas browsing, dan ini ternyata kolkisin itu :

“Kolkisin adalah obat yang memberikan hasil cukup baik jika diberikan pada saat awal serangan. Namun efek dari obat ini kurang memuaskan jika pemberiannya dilakukan setelah beberapa hari serangan pertama. Obat ini harus digunakan secara hati-hati karena memiliki toksisitas yang berat. Cara pemberiannya dapat melalui: Intravena Cara ini diberikan untuk menghindari gangguan GTT. Dosis yang diberikan tunggal 3 mg. Dosis kumulatif yang diberikan tidak boleh melebihi 4 mg dalam 24 jam. Pemberian oral Dosis yang biasa diberikan sebagai dosis initial adalah 1 mg kemudian diikuti dengan dosis 0,5 mg setiap 2 jam sampai timbul gejala intioksikasi berupa diare. Jumlah dosis colchisine total biasanya 4 – 8 mg.
Kolkisin sendiri saat ini sudah jarang digunakan lagi karena resiko efek sampingnya yang relatif tinggi” (http://asamurat-rematik.blogspot.com/2012/03/pengobatan-medis-asam-urat.html)

Waduh.. ngeri juga baca ulasannya. Apa ga salah tuh ya ngasih resep dokternya, pantesan di apotek susah banget. Emm.. gimana ya ???