Aneh, agama import saja diakui masa agama buhun tidak!!

Posted on

mantra sundaSalah satu tulisan menarik yang sempat menjadi headline surat kabar beberapa waktu lalu berkaitan dengan issue penghilangan kolom agama pada KTP adalah munculnya suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Salah satu suara tersebut adalah suara kelompok sunda buhun yang mayoritas menempati beberapa daerah di tatar pasundan. Suara tersebut pada umumnya menghendaki pengakuan Negara akan eksistensi mereka, baik itu sebagai entitas budaya terlebih keagamaan. Karena aturan yang ada selama ini tidak mampu merangkul dan mengakui keberadaan mereka.

Salah satu tulisan yang cukup menggigit adalah yang termuat pada harian Kompas dan Republika. Mereka mengangkat pernyataan wakil dari komunitas sunda buhun yang mengatakan ‘Mengapa Negara hanya mengakui agama yang justru berasal dari luar Indonesia. Sementara agama asli, yang justru lahir dan berkembang dari dalam tidak mendapat pengakuan’. Sebagaimana kita tahu Negara, dalam hal khususnya pencatatan kependudukan, mengakomodir 5 agama sementara untuk kepercayaan local tidak mendapatkan tempat. Sebut saja kepercayaan sunda buhun yang dikenal juga dengan sunda wiwitan dan suku dayak dengan kepercayaannya juga. Dua contoh suku ini hanyalah sedikit dari sekian banyak jumlah kepercayaan yang lahir dan berkembang di Negara kita. Jika ditelisik jauh kedaerah-daerah tentu akan ditemui sekian jumlah dari bentuk kepercayaan yang berbeda; sebut saja asmat dan suku pedalaman papua. Sehingga ketika issue penghilangan kolom agama marak kepermukaan, suara-suara demikian seperti mendapat angin segar untuk urun serta ke permukaan pula.

Namun demikian, pada tulisan sederhana ini saya tidak akan membicarakan polemic tersebut; apakah setuju atau tidak terhadap penghapusan agama pada KTP. Sesuai dengan deskripsi tugas pertama ini, tulisan akan lebih menguraikan tentang keberadaan suku sunda buhun dan sunda wiwitan sebagai agama atau kepercayaan yang dianutnya.

Sekelumit Keberadaan Masyarakat Sunda Buhun

Penganut keyakinan (penghayat) ini dapat ditemukan di beberapa desa di Provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak Banten, Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok Sukabumi, Kampung Naga Cirebon, dan Cigugur Kuningan dan Kabupaten Bogor. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam. Berbagai sumber menyebut, ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang Siksakanda Ng Karesian. Sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia.

Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut hindu atau Budha, melainkan penganut animisme, yaitu kepercayaan yang memuja arwah nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam.

Akan tetapi, Sunda Wiwitan yang ada di Bogor, tepatnya di Kampung Adat Urug, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya berbeda. Para penganutnya mengklaim Sunda Wiwitan di Bogor bukan agama atau kepercayaan, melainkan sebuah upaya pelestarian budaya. Itu diungkapkan pemangku adat Kampung Urug, Abah Ukat Raja Aya. Menurut Abah Ukat, makna wiwitan dalam Sunda Wiwitan adalah permulaan atau awal. Pemahaman Sunda Wiwitan sendiri antara lain bahasa awal, atau bahasa sunda yang pertama muncul. Lebih lanjut ia menuturkan, masyarakat di Kampung Urug seluruhnya memeluk agama Islam. Sementara ajaran Sunda Wiwitan yang berupa aturan dan norma tidak diubah atau dihilangkan.

Dari beberapa sumber terkai t yang ada, sampai saat ini tidak ada angka pasti jumlah pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan. Namun demikian, pada daerah tertentu diketahui angka yang mendekati; seperti pada kampung Cigugur sekitar 3.000 orang. Dan bila para pemeluk di daerah-daerah lain ikut dihitung, menurut Resla (peneliti alira kepercayaan) jumah keseluruhannya mendekati angka 100.000 orang. Masih menurut Resla, pesebaran kepercayaan atau aliran keagamaan dewasa ini menghadapi tantangan yang luar biasa di masyarakat. “Banyak yang mengira Sunda Wiwitan adalah agama. Tetapi kenyataannya ini adalah sebuah kepercayaan (tradisi, budaya sekaligus kepercayaan) yang diduga sudah ada di kalangan masyarakat Sunda sebelum agama Hindu, Budha dan Islam masuk,”

*ditulis sebagai bahan paper 1 mata kuliah sistem sosial budaya indonesia bagian 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s