Pembangunan Masyarakat ; Kegagalan Masyarakat

Posted on

kotaBaiklah, kali ini saya ingin memposting jawaban diskusi saya dalam mata kuliah Pembangunan Masyarakat Desa dan Kota. Seperti kita tahu, pembangunan adalah kerja aktif dalam upaya melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik. Pembangunan juga mencakup semua; tidak terbatas pada bidang ekonomi dan sesuatu yang bersifat material. Manusia sudah barang tentu menjadi salah satu fokus atau objek dari pembangunan itu sendiri. sebab bagaimanapun juga, pelaku pembangunan adalah manusia itu sendiri. Sehingga amat mustahil capaian keberhasilan pembangunan dapat diraih jika para pelakunya berwatak kaku, berada dalam tempurung, tidak move on, galau, corrupt dan lain sebagainya.

Nah, dalam diskusi bagian pertama ini. Tutor menghadiahi kami, mahasiswanya dengan 4 buah pertanyaan sebagai berikut :

  1. Apakah pembangunan berhubungan dengan pengentasan kemiskinan?
  2. Mengapa sampai hari masih banyak orang miskin di sekitar kita pemerintah kita sejak merdeka sampai sekarang terus melakukan program pembangunan?
  3. Teori pembangunana manakah yang bisa mengengatasi masalah kemiskinan di negara kita?
  4. Bagaimana seharusnya program pembangunan itu diarahkan yang outpunya adalah kesejahteraan dan keadilan sosial?

Dan berikut adalah jawaban saya menanggapi diskusi pada bagian ini :

1. Untuk pertanyaan pertama, apakah pembangunan berhubungan dengan pengentasan kemiskinan? maka jawabannya bisa diukur melalui indikator capaian pembangunan itu sendiri. Selama indikatornya jelas, maka capaian pembangunan dapat diukur secara jelas. Misalnya melalui indeks pembangunan manusia (IPM), apakah target minimal dalam bidang pendidikan manusia Indonesia misalnya sudah terpenuhi? Akan halnya dalam bidang ekonomi, maka indikator yang bisa dilakukan adalah sejauh mana peningkatan pendapatan masyarakat (baik bruto ataupun netto nya).

Sewajarnya setiap pembangunan memberikan hasil, terlepas dari tinggi atau rendahnya capaian keberhasilan pembangunan yang dilakukan, namun yang jelas pembangunan mutlak membawa perubahan. Perubahan yang dimaksud tentu adalah perubahan ke arah yang lebih baik; misalnya dari yang semula buta hurup menjadi melek angka dan hurup, dari semula tidak berdaya menjadi berdaya. Lalu apakah dengan demikian setiap pembangunan mampu mengentaskan kemiskinan? Tentu jawabannya tidak semudah angka matematis, akan banyak faktor yang turut memengaruhi. Akan tetapi jika kemudian ditanyakan pembangunan apakah membawa perubahan, maka absolut jawabannya adalah iya.

2. Pertanyaan nomor 2, terkait erat dengan pertanyaan dan jawaban nomor 1. Jika pada pertanyaan nomor 1 adalah iya, maka semestinya pembangunan yang sudah dilakukan di negara kita menjauhkan rakyatnya dari kemiskinan. Namun tidak demikian nyatanya, dimana angka kemiskinan, pengangguran, buta hurup/pendidikan rendah masih tetap ada. Penyebabnya tentu terdiri dari berbagai macam faktor, baik itu yang berasal dari dalam negara kita sendiri maupun imbas dari tekanan atau pengaruh perubahan sosio ekonomi global. Setiap program yang dilakukan dan dijalankan, memiliki tolok ukur keberhasilannya sendiri dan dengan demikian wajib pula dievaluasi seandainya hasil yang diinginkan tidak tercapai Pembangunan di negara kita sudah purwarupa, mulai dari orde lama, orde baru hingga kini. Tentu kita tidak dapat menafikan keberhasilan pembangunan pada tiap-tiap era; bahwa ada sisi tertentu yang berubah dari wajah Indonesia, ketika sebelum dan setelah merdeka. Namun demikian, kita juga tidak dapat menutup diri dari kegagalan pembangunan yang dilakukan. Salah satunya adalah ketidakmerataan pembangunan yang menyebabkan timpangnya kehidupan sosial dan ekonomi di Indonesia, sebagai salah satu akibat dari sentralisasi pembangunan di Pulau Jawa (khususnya jakarta)

3. Beragam teori bisa saja diterapkan dalam upaya melakukan pembangunan di Indonesia. Namun faktor utama dari teori adalah pelaksanaan dan sumber daya para pelakunya. Semenjak orde lama hingga saat ini, beragam teori sudah coba diterapkan. Seperti ekonomi percepatan atau tinggal landas ala orde baru hingga ekonomi bebas pada era reformasi. Kesemuanya belum menunjukkan hasil yang sempurna. Prosesnya bisa jadi lebih panjang dari yang diharapkan, namun bukan tidak mungkin suatu saat keadilan, pemerataan pembanguan dan kesejahteraan sosial, sebagaimana termaktub dalam sila 5 pancasila akan menjadi kenyataan. Tentu saja jika ada will atau keinginan dari kita semua, lebih utama para pemangku kepentingan dalam menjalankan kebijakannya yang selaras dengan nilai-nilai demokrasi; pro rakyat.

4. Program pembangunan selama ini sudah dilakukan dan berjalan, baik itu pada orde lama, orde baru hingga kini. Masalah sentralisasi kekuasaan misalnya, demikian juga terpusatnya pembangunan hanya di jakarta (pulau jawa) sudah coba dirubah melalui lahirnya Otonomi Daerah. Namun lagi-lagi dalam prosesnya menemui berbagai kendala, mulai dari korupsi yang semakin meluas, stabilitas politik yang rentan pada kepentingan kelompok dan partai hingga penyalahgunaan wewenang para penguasa daerah. Namun demikian tentu harapan itu masih ada, selama dalam diri kita masih terpatri keinginan untuk berbuat, berubah ke arah yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan melakukan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia (khususnya pendidikan karakter). Dan secara umum bagaimana formula kebijakan itu dibuat dan dilakukan demi kepentingan umum, bukan kepentingan golongan seperti saat ini kita ramai saksikan. Entah kapan hal ini tercapai, tapi kelak itu pasti.

Salam

Alike Mulyadi K

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s