Arah Pendidikan yang semestinya manusiawi

Posted on

Setelah menunggu sekian minggu, akhirnya tutorial online berupa diskusi dan tugas kuliah muncul juga di beranda saya. Hari ini saya memilih satu mata kuliah untuk saya selesaikan; Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Tema yang diangkat pada bagian pengantarnya, adalah tentang pendidikan; bagaimana pendidikan mampu mengubah peta sosial dan budaya sebuah bangsa. Tutor merinci kemudian bagaimana Ki Hajar Dewanatara meletakkan batu dasar budi pekerti sebagai tujuan luhur pendidikan itu sendiri. Nah yang kemudian menjadi ajang diskusi dalam tutorial kali ini adalah; bagaimana pendapat mahasiswa tentang pendidikan dewasa ini di tanah air, khususnya dalam memenuhi misi akan tujuan umum dari pendidikan. Dan cara apa yang mesti dilakukan untuk mencapainya? Berikut adalah jawaban saya akan pertanyaan tutor kali ini :

Pendidikan; Humanisasi atau Dehumanisasi

Tujuan luhur dari pendidikan sebenarnya bisa dirangkum kedalam sebuah kata, yaitu humanisasi; kawah candradimuka yang membuat manusia menjadi/merasa manusia. Manusia yang menjadi (merasa) manusia tentu memiliki budi pekerti, sadar akan kebudayaan yang melingkupinya, berperan dalam lingkup peran serta status sosialnya. Proses sebaliknya, yang membuat manusia menjadi a-manusia adalah dehumanisasi, dan ini kerapkali terjadi dalam dunia pendidikan di tanah air.

Sudah bukan rahasia lagi jika banyak pakar pendidikan dan psikolog pengembangan anak yang menyebutkan bahwa cara dan atau sistem pendidikan di tanah air sama sekali tidak ramah anak. Tugas yang begitu menumpuk dan terlalu berat, apresiasi atau penghargaan yang minim akan proses belajar anak, orientasi pada pengejaran nilai semata bukan pada penanaman karakter dan seterusnya. Praktek-praktek serupa cenderung terjadi bukan hanya di pusat tapi menjalar sampai ke daerah, sehingga budi pekerti yang semestinya menjadi tujuan luhur bagi kepribadian peserta didik tergerus oleh kompetisi yang salah kaprah berupa penuhanan akan nilai (akademik) dan peringkat di kelas. Sehingga unsur manusiawi berupa pentingnya nilai kerjasama hilang oleh kepribadian mementingkan diri sendiri demi mengejar kepuasan predikat nilai terbaik.

Sebut saja Arief Rahman Hakim, dan atau pakar pendidik sekaligus praktisi kepribadian anak yang kita kenal sebagai Ayah Edi berulangkali mengkritisi cara belajar yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini. Sehingga menurut mereka perlu ada reform menyeluruh dari sistem pendidikan, khususnya pada usia dini dan sekolah dasar. Karena fundamen kepribadian dibentuk pada masa ini. Pada beberapa sekolah perubahan sistem pengajaran sudah mulai dilakukan, khususnya pada sektor sekolah swasta. Pengajaran tematik mulai diberlakukan, dengan menyederhanakan mata pelajaran. Tugas-tugas juga dibuat seminimal mungkin bahkan semenarik mungkin bagi anak-anak, dan yang terlebih penting adalah proses menemukan pengetahuan bukan pengetahuan itu sendiri. Sehingga pada sekolah-sekolah tertentu simulasi, permainan, merancang bangun ruang, field trip dan sebagainya menempati porsi yang lebih banyak ketimbang proses mendikte di kelas, menyalin catatan dan mengerjakan PR yang berlembar-lembar halaman. Disamping itu, sentuhan manusiawi dari guru juga menempati sisi yang tidak kalah pentingnya. Sehingga sudah bukan jamannya lagi guru membentak murid, melempar kapur papan tulis dan atau menyetrap di depan kelas. Namun bagaimana pola diskusi – komunikasi dua arah yang terbangun secara positif, dukungan dan motivasi untuk belajar menjadi kunci keberhasilan peserta didik (anak2).

Angin segar berupa perubahan di lingkungan sekolah, mesti diamini oleh pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah. Dengan menyiapkan sederet regulasi yang mempermudah sekolah dalam menyelenggarakan aktivitasnya. Dan hindari kebijakan yang bernada ‘proyek’ yang berkesan kroyokan dan bersifat sementara karena motif ekonomi di belakangnya. Terpilihnya Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah patut diapresiasi sebagai bentuk harapan yang mudah-mudahan mampu membawa dunia pendidikan di tanah air ke arah yang lebih baik. Anies adalah sosok praktisi yang lama berkecimpung dalam dunia pendidikan, sehingga pasti tau mana yang selama ini salah dan mana yang bisa ditolerir untuk kemudian diperbaiki demi keberlangsungan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Salam

Alike Mulyadi K

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s