TIGA SAHABAT BERSEPEDA

Posted on

Sebuah Cerita Pendek

“Aku selalu memimpikannya saat menjelang tidur
Rasanya akan terasa istimewa menaikinya
roda duanya yang hitam berkerlat mengkilat
batangnya yang kokoh menopang sang pengendara
Ohh….
Ini keluaran terbaru Dek … kata mbak dari toko
Betul ini keluaran terbaru, berbeda dari yang sudah ada
Dan aku ingin memilikinya, mungkinkah?”

sapedaSaat itu usiaku 9 tahun. Aku bersekolah di SD 07 Pagi Petukangan Utara Jakarta Selatan. Letak sekolahnya cukup jauh dari rumahku. setiap pagi aku diantar ojek langganan menuju sekolah. Jarak yang cukup jauh menjadi pertimbangan ibuku berlangganan ojek. Menurutnya lebih aman dan cepat memakai ojek Bang Jali ketimbang becak Pak Dami, yang saat itu masih diperbolehkan beroperasi di wilayah Jakarta. Bang Jali adalah tetanggaku, letak rumahnya berada tepat di belakang rumahku, bersebrangan jalan saja. Orangnya cukup ramah dan sedikit humoris, bisaanya ia memanggilku Neng.
Berbeda dengan pagi, siang hari sepulang sekolah aku lebih suka berjalan kaki menuju rumah. Disamping lebih irit, berjalan kaki juga lebih assikk karena ditemani sahabat karibku ; Vivin dan Dwi. Mereka adalah teman dekatku di kelas, sering satu kelompok saat mendapat tugas dari bu guru. Bisaanya kami pulang dari sekolah Pukul 12.15 siang dan tiba di rumah masing‐masing setengah jam sampai dengan satu jam sesudahnya. Rute yang bisaa dilewati adalah jalanan kecil yang berada tepat di pinggir sekolah. Sengaja kami tidak memilih jalan raya karena banyaknya kendaraan yang hilir mudik memacu gas dengan tinggi. Bukan hanya kikuk ketika mendengar raungannya, namun menurut Vivin jauh lebih enak melewati gang dimana kami bebas bersenda gurau dan mampir dengan leluasa ke warung ketika haus. Disamping itu gang sempit ini pula menjadi penghubung jarak rumah kami yang berjauhan.

***
Tidak seperti hari‐hari sebelumnya, siang itu Dwi terlihat lebih segar dan sumringah. Menjelang dentang bel sekolah ia terlihat tak sabar untuk pulang. Rasanya ada yang belum dikatakannya kepada kami, ‘emm .. aku penasaran juga ingin segera menegurnya’.
‘hai Wi, pulang kita mampir ke warung Bu Sita yuk?’ pintaku
‘iya Wi, aku baru dapet kiriman nih dari kakakku di Batam. Kita jajan yuk, jangan khawatir hari ini special aku yang bayar he … ‘ ajak Vivin padanya.
Seolah ajakan yang terlampau bisaa buatnya, dengan cepat ia menarik tangan kami menuju pojokan kelas.
‘ssstt…. Kita pulang langsung kerumahku saja ya. Ada yang ingin kutunjukkan pada kalian’
Aku dan Vivin hanya saling bertukar pandang, ‘ada apaan emang Wi … ?’ tanyaku.
‘sudahlah, nanti juga kalian tahu he..’ diiringi senyum manis khas Dwi pada kami
Kami menuruti saja keinginannya. Letak rumah Dwi memang paling dekat dengan sekolah jika dibandingkan Vivin dan aku. Maka bisaanya kami berlama‐lama main dirumahnya sebelum pulang kerumah kami masing‐masing.
Rumah Dwi tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil untuk ukuran keluarga dengan lima anggotanya; ayah ibunya, adik beserta kakaknya. Dengan tiga buah kamar di rumahnya, kami sedikit leluasa bermain. Kakak dan adiknya yang lelaki berada di satu kamar paling belakang. Ibu dan ayahnya di kamar utama yang terletak di bagian depan. Sementara kamar Dwi terletak di lantai dua. Karena anak perempuan, Dwi mendapat perlakuan istimewa dari orang tuanya. Perlakuan ini bisaanya dialami oleh orang tua jaman dulu yang menganggap bahwa perempuan berbeda dengan lelaki. Saat itu aku belum begitu mengerti, baru kemudian aku tahu bahwa tidak ada pembeda yang berarti antara lelaki dan perempuan. Hanya masalah kodrati saja yang membedakan keduanya. Perempuan dengan fungsi kodratinya dan juga lelaki, selebihnya hanyalah fungsi‐fungsi yang bisa dipertukarkan antar keduanya.
Saat menuruni tangga menuju lantai bawah rumahnya, aku tahu ada kabar gembira yang ingin ia sampaikan. Hari itu aku dan Vivin sengaja tidak ikut kekamarnya di atas, kami menunggu di bawah di ruang keluarga. Dengan bersenandung riang ia menuruni tangga satu persatu. Lalu bergegas menuju pintu belakang. Dari kejauhan terdengar bunyi seperti bel ‘kring.. kring’. Lalu berbunyi untuk yang kedua kali ‘kring…kring’ ketiga, keempat dan seterusnya. Sontak kami berdiri, saling bertukar pandang, jangan‐jangan itu bunyi sepeda. Vivin tak kalah bingungnya, ia lebih banyak diam. Tangannya mencengkram tanganku dengan erat. Maklum saja, sepeda menjadi incaran kami beberapa bulan belakangan ini. Tiada hari tanpa membicarakan sepeda. Apalagi model baru dengan tambahan keranjang di bagian depan, lampu dan bel di tangan bagian kiri menambah rasa ingin memiliki kami semakin tinggi. Vivin begitu tertarik dengan warna putih, menurutnya putih melambangkan kepolosan, sama seperti dirinya yang lugu dan polos serta selalu bicara jujur apa adanya. Sementara Dwi begitu sangat menginginkan warna pink. Baginya Pink melambangkan feminism, dunia perempuan yang kemayu, lembut dan istimewa. Mungkin pikiran ini terbentuk dari pola asuh yang ia terima di rumah. Bagaimanapun juga, orang tua Dwi selalu membedakan dirinya dengan kedua saudara lelakinya yang lain. Lalu bagaimana denganku? Ahh… warna tidaklah menjadi perhatianku. Warna hanyalah persepsi yang dibentuk dan ditafsirkan kemudian disematkan. Ia menjadi special karena penyematan itu. Selebihnya warna adalah kanvas kosong. Bagiku lebih penting memiliki sepeda, terlepas apapun warnanya.

***
Setengah tahun yang lalu kami, Aku, Dwi dan Vivin membuat perjanjian bersama. Perjanjian ini bersifat rahasia dan hanya kami yang boleh tahu. Perjanjian itu mengikat kami kedalam ikrar bersama yang isinya adalah ; barangsiapa mampu menduduki tiga peringkat besar di kelas maka ia akan meminta pada ayah ibunya dibelikan sepeda. Jika ternyata salah satu diantara kami yang mencapai peringkat itu lebih dulu, maka ia harus rela membagi sepedanya untuk bertiga. Dan barangsiapa ketiganya mampu mencapai peringkat tiga besar di kelas, maka kami bersepakat untuk pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Kami yakin hal ini pasti diamini oleh orang tua kami masing‐masing. Sedikitnya ada dua alas an yang membuat kami yakin; pertama orang tua mana yang tidak bangga jika anaknya mampu menembus peringkat 3 besar teratas di kelas. Maka permintaan apapun bisaanya diluluskan oleh para orang tua. Kedua, dengan menaiki sepeda tentunya biaya berlangganan ojek menjadi hilang dan secara otomatis menghemat pengeluaran orang tua.
Selepas ikrar bersama yang diucapkan didalam gazebo ditengah kebun milik warga. Kami mantap pulang kerumah dengan membawa permintaan sepeda pada orang tua masing‐masing. Dua dalih diatas tentu menjadi senjata ampuh kami dalam merayu ; peringkat di kelas dan penghematan anggaran. Setidaknya aku yakin Vivin dan Dwi akan mengatakan itu pada orang tuanya. Bagiku berbeda. Permintaan itu tak bisa kusampaikan, banyak hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya adalah kesibukan ibu yang begitu menyita waktu. Kadang untuk berada dirumah sehari saja sangat sulit. Tugas‐tugas dari kantornya membuat ibu sedikit memiliki waktu bersama keluarga; aku dan adikku di rumah. Tapi sudahlah, hal ini sudah menjadi bisaa buatku. Keadaan demikian justru membentuk aku lebih mandiri dan dewasa. Mengatur keperluan sendiri, memilah mana yang pokok dan mana yang bukan. Membagi uang jajan dengan adikku juga menjadi satu dari sekian rutinitasku. Ibu hanya memberi sekian perhatian dan sekian jumlah uang. Tidak detail untuk ini dan itu. Aku lah yang kemudian harus memilahnya.

Apa yang diberikan ibu tidaklah dalam pengertian yang kurang. Kadang malah lebih dari cukup, seperti ketika di bulan yang lalu ibu memberi uang bulanan yang berlebih. Maka sebisa mungkin aku mengaturnya untuk keperluan berdua, antara aku dan adikku. Kelebihannya aku tabung. Bahkan di kelas tiga, atau tepatnya dua tahun yang lalu, dari kelebihan uang itu aku bisa membeli sepatu docmart (docter martin), yang saat itu lagi booming dan digandrungi anak‐anak seantero Jakarta. Senangnya bukan kepalang, dikelas rasanya aku seperti putri dengan sepatu kacanya. Begitu jumawa dan istimewa.
Ibu bukanlah sosok yang sempurna, aku tahu itu. Tapi dia berusaha menjadi yang terbaik di rumah, memberikan sisa‐sisa tenaga dan pikirannya untuk kami. Oleh sebab itu aku begitu segan meminta hal yang terlalu banyak. Lebih baik aku diam, toh ibu sudah cukup memberi apa yang memang bisa diberikannya pada kami. Selebihnya cukup aku yang tahu. Termasuk akan ikrar tiga sahabat di kelas ini. Tuntutan belajar dengan baik bukan hanya terjadi ketika ada iming‐iming hadiah sepeda, namun justru ia hadir dari dalam diri untuk senantiasa berbuat yang terbaik. Walau sudah tiga tahun aku berada di sekolah, upaya terbaikku baru berada pada peringkat lima besar di kelas. Itu terjadi di kelas dua dan tiga. Di kelas empat, entah kenapa peringkatku turun. Kata Dwi itu terjadi karena bocah di kelas sebelah. Vivin sedikit memperhalus bahasanya, dengan berkata bahwa konsentrasiku terpecah. Apalagi setelah ada surat‐surat nggak jelas yang masuk kedalam tas ku. Ahh…. Dasar mereka, ada‐ada saja. Masa gara‐gara Donie, anak kurus itu peringkatku turun..???

***
Bagi sebagian orang hari minggu adalah hari dimana seluruh keluarga berkumpul dan menikmati waktu bersama. Tak terkecuali keluargaku. Hari ini ibu mengajakku ke pasar kebayoran lama. Ada beberapa barang yang hendak dibelinya. Sesampainya di pasar aku membantu ibu membawakan barang‐barang; seperti gelas, buku tulis sekolahku, kain lap dan beberapa bahan makanan. Di pojokan jalan yang menghadap ke rel kereta, terpampang dengan gagah tulisan Toko Sepeda Butterfly. Melalui etalasenya terlihat beberapa sepeda. Bukan sepeda bisaa yang sering kulihat dinaiki anak‐anak di lingkungan rumahku. Sepeda ini terlihat berbeda. Begitu istimewa. Kala itu penglihatanku hanya sekilas. Tak berapa lama kemudian ibu mengajakku pulang. Pandanganku tak berhenti menatap toko itu. Becak pun dikayuh mengantar kami pulang. Pandanganku tetap tertuju pada etalase toko. Hingga lama kelamaan menjauh, yang tersisa hanya butiran ingatan. Ingatan yang membuatku semakin ingin datang dan melihat lagi. Tulisan di atas toko itu tetap gagah berdiri ‘Toko Sepeda Butterfly’ pun ketika aku mengunjunginya hampir beberapa minggu kemudian. Lagi dan lagi hingga pikiranku nyaris habis memikirkannya. Bahkan dua bulan setelah kepergianku dengan ibu ke pasar waktu itu, kali ini aku memberanikan diri mendekat. Etalase yang dibuat menarik sedemikian rupa bak istana raja‐raja jaman dulu. Sepeda itu berdiri dengan gagahnya. Dua buah rodanya yang hitam mengkilat mengalahkan keangkuhan kaki kuda delman pak Kusir. Rangkanya yang terlihat kokoh seolah menandai keabadian.

Bentuknya yang ramping dan meliuk seperti gitar biola membuatnya cocok dinaiki perempuan. Di bagian depan ada keranjang yang multi fungsi, dibagian kiri atas ada bel yang bisa dibunyikan setiap saat. Dan ada satu lagi, lampu yang bisa menerangi jalan ketika gelap. Sungguh indah, perpaduan yang sempurna antara kekokohan rangka dan estetika yang agung membungkus sepeda ini menjadi keutuhan yang lengkap. Tanpa sadar kekagumanku menjadi obsesi. Hampir tiap hari libur menyambangi tempat itu. Obsesi ini begitu menyita perhatianku di kemudian hari. Konsentrasiku terpecah dan membuat cara belajarku berubah. Perubahan ini tersimpan rapi dalam diriku, tak ada yang tahu. Baik itu ibu, maupun dua sahabatku Vivin dan Dwi.

***
Kami pun berdua mendekat ke arah suara bel itu dibunyikan. Vivin bergegas dengan cepat, aku mengikuti di belakang. Dengan anggun Dwi menaiki sepeda itu keluar menuju garasi. Aku dan Vivin hanya melongo tak percaya. Rupanya ini kejutan yang ingin disampaikan Dwi pada kami. Mulai dari sikapnya yang aneh di sekolah dan keinginannya untuk bersegera pulang menuju rumah. ‘ah kenapa tidak kau katakan saja sedari tadi Wi … “ bisik hatiku penuh pertanyaan.
Vivin melonjak kegirangan dan keluar dari garasi mengejar Dwi. Wajahnya sumringah turut berbahagia atas apa yang diperoleh Dwi saat ini. Sementara aku terdiam di dalam garasi. Tak percaya dengan apa yang kulihat. ‘ini kan belum kenaikan kelas, bukannya kami sepakat baru akan meminta pada orang tua kami pada saat kenaikan kelas nanti..?’ hatiku disesaki pertanyaan.
‘aah mungkin aku hanya iri saja, sudah dari kelas 3 aku memimpikan sepeda itu. Kenapa Dwi lebih cepat memilikinya dibandingkan aku? Mengapa jumlah tabunganku tidak bisa mencukupi untuk membelinya saat ini…?’
Dwi pun menghampiriku ‘Rin, kok kamu bengong aja’
Aku pun terbangun dari lamunanku dan bersegera menghampiri Dwi.
‘maaf Dwi.. aku Cuma nggak percaya aja kamu.. kamu …’ belum selesai kalimatku, Dwi langsung membalas ‘sudahlah.. nanti aku ceritakan pada kalian. Kalian pasti heran kenapa aku mendapat hadiah ini padahal belum kenaikan kelas kan ..??’
Seolah bisa membaca pikiran kami, Dwi pun langsung bercerita sembari menyusuri jalanan kecil yang bisaa kami lalui sepulang dari sekolah. Sepeda itu kami dorong bersama bertiga. Menurut Dwi hadiah itu diberikan Ayahnya menjelang hari ulang tahunnya yang jatuh tepat minggu depan. Ada dua pilihan yang diberikan orang tuanya, dirayakan dengan mengundang beberapa teman. Atau uang perayaan itu, yang kemudian ditambah juga dengan tabungan Dwi selama ini, dibelikan sepeda. Pilihan jatuh membeli sepeda. Dengan demikian perayaan ulang tahun ditiadakan. Sesuai ikrar yang sudah kami sepakati bersama, barangsiapa memiliki sepeda lebih dulu maka ia harus rela membaginya untuk kami bertiga. Walau dalam hal ini ada pengecualian, terjadi sebelum kenaikan kelas. Maka sejak hari itu status penggunaan sepeda menjadi milik bertiga, walau hak kepemilikan tetap ada di tangan Dwi he….

Tak berapa lama kami pun sampai di depan sekolah. Jarak tempuh sekolah dengan rumah Dwi hanya sepuluh menit dengan berjalan kaki. Ini berbeda dengan jarak tempuh kerumahku yang hampir 40 menit dengan berjalan kaki. Sementara rumah Vivin terletak di tengah‐tengah, kurang lebih 15 menit dari sekolah dengan berjalan kaki. Kami pun bersepakat di hari pertama itu harus mencoba sepeda baru Dwi dengan menjawab tantangan menyusuri jalan raya sekolah yang tidak rata. Kontur nya naik turun, bahkan di turunan kedua begitu menukik. Dwi menantangku dan Vivin untuk mencobanya. Vivin mengiyakan, sementara aku ragu menjawab tantangan itu. Terbesit ketakutan melihat turunan yang begitu tajam. Maklum saja, terakhir kali aku memakai sepeda setahun lalu, tepat di saat ibu mengunjungi keluarga besarnya di Bandung. Dwi mendapat kesempatan pertama. Satu… dua .. tiga, ia pun meluncur dengan kencang dan sukses sampai di ujung. Tidak terjatuh atau sekedar berbelok arah menuju pinggiran jalan. Dengan ceria ia kembali ketempat kami berdiri. Dan menyerahkan sepeda pada Vivin. Vivin pun menyambut tantangan itu dengan yakin. Satu…. Dua…. Tiga ia pun meluncur persis seperti luncuran Dwi, sukses sampai ujung jalan dan kembali dengan selamat. Tiba giliranku kini, dada ku berdegup dengan kencang. Nafasku tercekat. Ingin rasanya aku berbicara jujur pada dua kawanku ini ‘Vin, Wi aku… aku sebenarnya belum lancar bersepeda. Tolong ajari aku dulu sebelum menjawab tantangan kalian’ Tapi itu hanya muncul di dalam pikiranku.
‘Apa yang akan terjadi jika kuungkapkan itu pada mereka? Aahh.. aku takut jadi bahan tertawaan mereka saja’ bisik hatiku.
Sudahlah, walau dengan terpaksa aku ambil gagang sepeda baru itu. Dengan penuh keraguan aku menjawab tantangan itu, hari ini tepat di hadapan kedua sahabatku. Saksikanlah bagaimana sahabatmu ini yang begitu sangat terobsesi pada sepeda, dengan begitu saja menerima tantangan berselancar di jalanan yang tidak rata. Padahal di jalanan rata saja belum tentu bisa dan lancer mengendarainya. Sebelum semuanya terjadi, dari jauh terdengar seseorang berteriak. ‘Dwi.. dwi ….. pulang. Bapak dan Mamah ada di rumah‘
‘Suara siapa itu, apa mungkin itu suara kakak Dwi’ pikirku penuh pertanyaan.
Tak berapa lama kemudian, wajah dari suara itu mendekat. Dan benar saja, Arief kakak Dwi menghampiri kami. Rupanya orang tua Dwi pulang lebih cepat hari ini. Kakaknya sengaja mendatangi
kami agar Dwi cepat pulang dan membantu ibu menyiapkan makanan di rumah. Seperti yang kukatakan di bagian awal kisah ini, orang tua Dwi memperlakukannya berbeda dengan saudara lelakinya. Ia diperlakukan istimewa. Hak istimewanya adalah kewajibannya mengurusi urusan rumah, mulai dari membantu mencuci, memasak, menyetrika dan membersihkan rumah. Keistimewaan ini tidak pernah sama ditujukan bagi dua saudara lelakinya. Begitulah Dwi, waktu bermainnya hanya terjadi sepulang sekolah. Tepat jam 3 sore ia sudah harus berada dirumah, menyambut kepulangan sang ibu dan ayah sekaligus menyiapkan keperluan mereka.

Agak lega juga mendengar Dwi dipanggil ke rumah. Dengan demikian tantanganku hari ini tertunda. Masih ada hari esok memang, tapi setidaknya aku bisa mempersiapkan mental sebelum hal itu benar‐benar terjadi. Kami pun lantas bergegas pulang ke rumah masing‐masing, Dwi tentu lebih dulu, lalu Vivin dan terakhir aku. Jalan yang kami susuri masih sama, jalanan kecil di pinggir sekolah yang melewati gazebo dan kebon pisan milik warga.

***
Esok harinya kami bersekolah seperti bisaa. Dwi membawa sepedanya ke sekolah. Sepeda itu terlihat diparkir di sudut sekolah. Anggun berdiri dan berbeda dengan sepeda‐sepeda lainnya. Aku yakin orang tua Dwi membelinya dari Toko Sepeda Butterfly Kebayoran. Sebab bentuknya sama persis dengan apa yang kulihat disana. Bisa dibilang, sepeda itu adalah sepeda impianku. Sepeda yang selama dua tahun ini menghantui hari‐hariku. Tiada hari rasanya tanpa memikirkannya. Hampir tiap halaman dalam diary ku bercerita tentang sepeda. Bahkan aku rela menyisihkan sebagian uang jajanku hanya untuk membeli buku‐buku yang berhubungan dengan sepeda, mulai dari sejarah pembuatan sepeda, jenis‐jenis sepeda hingga kolektor‐kolektor sepeda antik di Indonesia. Semua itu kulalui dengan rapi tanpa diketahui yang lain, baik ibuku sendiri atau dua sahabatku. Rupanya aku cukup pintar menyembunyikan sesuatu.
Di kelas suasana belajar kami berjalan sebagaimana bisaa. Hanya Vivin yang selalu menggodaku di tiap selesai jam pelajaran. ‘hai Rin… kamu jangan curang ya, aku dan dwi sudah mencoba turunannya. Tinggal kamu yang belum’ sambil menyeringai seolah ia mencemoohku.

Aku bingung mesti menjawab apa. Terus terang saja, jauh di lubuk hatiku takut luar bisaa. Tapi tak mungkin pula kuutarakan pada mereka. Bisa‐bisa aku dianggap penakut atau apa. Sudahlah kuterima saja tantangan itu ‘iya‐iya Vin, nanti siang aku coba sepedanya si Dwi. Kalau kau mau, bilang juga sama teman‐teman yang lain, biar rame gitu’ kataku pada Vivin dengan penuh keyakinan. Sifatnya yang lugu, polos dan jujur membuat perkataanku padanya disikapi dengan serius. Tidak kurang dari sepuluh anak sekelasku berkumpul di jalan sepulang sekolah. Padahal maksudku tidaklah seserius itu. Apa yang kukatakan hanyalah ungkapan saja. Tapi apa yang terjadi sekarang?
Aku panic luar bisaa, kaget bercampur ngeri. Rasa yang bercampur baur menjadi satu membuat hatiku tak keruan. Bingung, tapi harus bagaimana. Nasi sudah menjadi bubur. Vivin sudah mengajak orang untuk menonton. Entah apa yang dikatakannya pada mereka, yang jelas mereka kini memadati jalan. Tak mungkin pula aku mundur, mau ditaro dimana mukaku. Genderang sudah ditabuh, pantang mundur kata para pejuang. Tapi ini bukan perjuangan, hanya topeng saja untuk menutupi gengsi yang terbalut obsesi. Apakah setimpal dengan pengorbanannnya? Pertanyaan ini akan terjawab jika aku mampu dengan lancer mengendarainya dan kembali dengan selamat tanpa lecet sedikitpun. Tapi bagaimana jika tidak?.

Detik demi detik berlalu, waktu seolah berjalan lambat. Bunyinya tik..tik dengan jeda yang panjang. Dadaku bergetar gugup, pikiranku kacau tak karuan. Seperti masuk ke arena perang, kuyakinkan hatiku bahwa aku mampu. Dengan tangan bergetar jemariku meraih sepeda Dwi. Tanpa ba‐bi‐bu aku keluar pagar sekolah ditemani Dwi dan Vivin. Apakah ini pertunjukan sirkus? Kenapa aku merasa seperti itu. Mereka adalah penontonnya sementara aku adalah sirkus itu sendiri. Binatang yang beraksi ditengah riuh tepuk tangan penonton. Jika berhasil mendapat applause dan jika gagal mendapat tertawaan. Sungguh mengerikan bukan?

Menjelang bel sekolah berbunyi, perasaanku memang sudah tidak enak. Pikirku hanya Dwi dan Vivin yang kemudian melihatku terjatuh di turunan itu. Tapi ini jauh lebih buruk dari itu. Teman satu kelas menontonku, bahkan mungkin satu sekolah. Jalanku gontai, tubuhku lemas. Serasa ringan bertumpu. Kupandangi wajah dua sahabatku satu persatu. Wajah itu balas menatap dan seolah berkata meminta pembuktianku. Baiklah jika demikian, aku jawab tantangan kalian …… satu ….. dua ….. tiga ….. suara bergemuruh. Aku meluncur dengan sepeda anggun itu. Angin terasa menerpa wajahku, bukan menghentikan lajuku namun mendorong lebih kencang dan kencang. Mataku terpejam di situasi dan kondisi yang tidak tepat. Semestinya disaat seperti inilah seluruh indraku bekerja. Mana rem … mana bel dan mana pedal, nyaris tak bisa kubedakan. Semua lenyap dalam kepanikanku. Dan benar saja. Waktu kini berjalan serasa begitu cepat. Detik demi detik dipercepat seolah mengikuti irama degup jantungku. Dan crash… bunyi terdengar, aku tersungkur jatuh. Yang terasa kemudian dingin menusuk kakiku. Sementara tanganku memanas. Mungkin bergesekan dengan badan jalan. Lalu semua menjadi kabur, gemuruh suara semakin mengecil dan tidak jelas, apakah applause, tertawaan atau teriakan. Semua menjadi serba kabur. Hingga gelap gulita dan lenyap begitu saja. Dan tiba‐tiba sesuatu menindihku… brug… menindih kepalaku, lalu badan dan kakiku. Lamat tapi pasti sorak sorai kembali menggema menusuk kupingku. Ada derap langkah kaki yang mendekat.
‘Rin… Rin sepedanya menindihmu’
‘Wi ayo bantu Rini, angkat sepedanya biar aku yang papah dia’
‘Apa, sepeda itu menindih tubuh ku ….?’ Kepalaku makin pening, tak kuasa rasanya untuk membuka mata. Sakit dan lecet sudah tak kurasa, malu lebih terasa saat ini.
‘oh Tuhan…… ‘ lalu semua kembali gelap. Suara‐suara itu mengecil dan kemudian menghilang. Semua menjadi gelap gulita, sirna.

***
Dengan berat aku membuka kedua mataku. Perlahan dan terasa silau. Sangat silau sekali. Di kejauhan suara ibu memanggilku.
‘Rini… ayoo bangun sudah siang’
Aku kaget bukan kepalang, kuraba satu persatu badanku. Semua utuh, tidak ada yang cedera baik itu lecet atau luka. Ku tepuk‐tepuk pipiku berulang kali. Aku dalam keadaan sadar.
‘kemana lukaku? Bukankah aku terjatuh dari sepeda sebelumnya ?’ otakku dipenuhi pertanyaan. Kulirik jam, saat itu Pukul 05.45 pagi. Ibu mengetuk pintu kamar lalu masuk dan menyuruhku mandi.
‘kamu nggak sekolah? cepet mandi, adikmu sudah sarapan tuh di depan’ terang ibu padaku.
Aku masih melongo dan tak percaya atas apa yang terjadi. Badanku berkeringat dan basah. Selepas ibu keluar dari kamar, aku bersegera mandi dan berganti baju sekolah. Lalu bergegas menuju ruang makan. Di meja sudah ada ibu dan adik lelakiku. Kami pun bersantap pagi bersama. Dengan lahap kuhabiskan nasi goreng dan telur mata sapi buatan ibu. Seperti habis nguli saja kata adikku. Ah.. aku tak peduli, perutku rasanya sudah tak terisi berhari‐hari.
Menjelang Pukul 06.50 pagi, kami bersiap berangkat. Ibu seperti biasa dijemput bis karyawan yang disediakan oleh kantornya. Sementara aku dan adikku dijemput Pak Dami, ojek langganan kami. Sebelum melangkah keluar, ibu menghampiri dan mencium pipiku dengan lembut lalu berbisik ‘Kaka, hari minggu nanti kita ke toko Sepeda ya’
Wajah manisnya kemudian menatapku. Aku kikuk dilihat seperti itu. Lalu ibu meraih sesuatu di tasnya. ‘apa itu ibu ?’ tanyaku padanya. ‘harusnya kamu bilang dan terus terang sama ibu. Kenapa harus takut. Aku ibumu, tentu tugasku menjaga dan membahagiakanmu anakku’

Buku cokelat itu lalu ia serahkan padaku. Buku yang kukenal, buku yang selama ini menjadi teman curahan hatiku. Rupanya sang Diary telah mendahuluiku berbicara pada Ibu. Kini ibu tahu apa yang selama ini menggangguku, sepeda itu.
Di perjalanan menuju sekolah hatiku riang, betapa tidak ibu akan membelikan sepeda impianku di hari minggu nanti. Tak sabar rasanya untuk bercerita pada Vivin dan Dwi yang telah lebih dulu memiliki sepeda. Seperti apa ya muka mereka mendengar ceritaku?

Tapi bagaimana dengan kecerobohanku menaiki sepeda Dwi. Kalau diingat betapa malunya aku disaksikan seperti sirkus oleh seluruh kelas. Beruntung hal itu tidak benar‐benar terjadi, hanya bunga tidurku saja tadi malam. Mungkin ini kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untukku, jangan sampai mengulangi mimpi itu menjadi nyata. Ceroboh, bodoh, tertutup dan tidak berterus terang. Padahal mereka itu orang terdekatku, ibu dan kedua sahabatku. Sudah semestinya aku tidak merasa benar sendiri, gengsi dan merasa mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri. Adakalanya kita harus berbagi hingga semua terasa menjadi ringan. Dan berbicara apa adanya atas apa yang menjadi ketidakmampuan kita []

Citayam, 19 Januari 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s