Month: November 2014

Tayangan Favorit Televisi

Posted on

FOX CRIMEDari sekian tayangan yang reguler ada di televisi, bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memikat. Sinetron tentu saya bukanlah ibu-ibu, jadi buang jauh itu. Kuis atau drama korea dan india, juga tidaklah menjadi perhatian. Lalu apa?? Hanya tiga; berita, tayangan olahraga dan film serial. Untuk urusan berita, Metro dan TV One jagonya. Sementara untuk olahraga, saya lebih tertarik menyaksikan tayangan lokal. Lalu untuk serial hanya satu tayangan yang biasanya menjadi favorit, Fox Crime dengan film-film seperti ; Law & Order, The Following dan Perception.

Kendala utama menonton acara-acara itu biasanya adalah waktu. Dan kedua dan utama adalah anak-anak, hehe.. kadang saya suka rebutan dan bertengkar dengan mereka. Apalagi kalau bukan disney junior dan disney chanel anak-anak yang waktunya berbarengan dengan tayangnya film favorite ataupun siaran langsung Bola. Kalau sudah begini ya sudah, ngedumel dan pundung. Mengalah untuk anak-anak 😦

Untuk tayangan film-film lepas saya biasanya tertarik dengan berbagai genre. Yang paling top tentu saja genre yang berbalut misteri dan thriller. Tapi komedi, drama, scifi dan animasi juga saya suka. Sebagai sebuah hiburan, tayangan televisi hanyalah satu dari sekian alternatif sumber hiburan itu. Sumber-sumber yang lain tentu masih bertebaran dengan berbagai bentuknya. Alternatif memilih televisi tentu harus dilandasi kesadaran; baik dan buruknya. Karena tidak semua yang tersaji disana baik bagi jiwa dan pikiran kita. Maka sudah barang tentu selektif dalam memilih program tayangan menjadi kunci. Apalagi jika dikaitkan dengan anak-anak, karena apa yang dilihat maka itulah yang ditirunya. So, jadikan televisi sebagai salah satu saja dari sekian banyak alternatif sumber; baik itu hiburan, informasi dan sekaligus pendidikan. Barengi dengan sumber dan kegiatan lainnya yang positif dan membuka wawasan.

Lomba Tari di TMII; Kaka, teman dan Sekolah

Posted on

kolase hasil jepretan sendiri
kolase hasil jepretan sendiri

Hari Sabtu kemarin, kaka ikut lomba menari. Jadwal pagi yang biasanya masih tertutup selimut, kala itu ia harus bergegas menuju tempat rias; Mang Ujang demikian kami biasa memanggilnya, juru rias kampung yang laris manis disewa saat hajatan, acara kartinian atau hari-hari besar lainnya. Tepat Pukul 5 pagi, Ujang dengan sigap melakukan touch-up. Kuas menari kesana kemari, bulu-bulunya menebarkan warna. Mulai dari alis, hidung, pipi dan ditutup dengan bibir. Seluruhnya purna berubah warna. Cantik ??? ahh.. mungkin bukan. Aku tak terlalu suka anak kecil berlaku dandanan dewasa, tapi harus kuakui cukup lucu juga apalagi dua buah gigi bagian depan baru saja tanggal. Maka seperti gawang saja jika ia tertawa hihihi….

DSCF3418

Tuh terlihat kan giginya yang ompongs ??? Tidak kurang dari waktu 30 menit sesuai kontrak, Kaka sudah siap sedia lengkap dengan sanggul dan kostum tariannya. Tanpa basa-basi, sang ibu merogoh kantong dan mengeluarkan 3 lembar uang sepuluh ribuan, lagi-lagi sesuai kontrak dan perjanjian tadi malam. Tuntas sudah juru rias ini menyelesaikan tugasnya, haknya pun sudah terpenuhi. Kami pun senang dan melenggang menuju rumah memanaskan mobil. Sebelum lanjut, tentu anda bertanya ‘masih musim ya riasan 3 rebu?’ Ooh jangan salah kawan, Ujang tidak mematok harga tinggi pada jasa yang diberikannya, bukan karena skillnya yang masih ecek-ecek, tapi justru karena altruismenya yang tinggi. Sifat ini rasanya yang sudah mulai luntur dikalangan kebanyakan dari kita 😦

Bagian Mang Ujang saya akan menuliskannya lain kali. Singkat kata, Ujang yang kemayu itu adalah tulang punggung bagi adik-adiknya, ibunya yang renta dan anak semata wayangnya.

Dalam Perjalanan

Selama perjalanan, Kakak terlihat serba salah. Maklum saja jarak antara rumah kami dengan sekolah tidak kurang dari 40 menit perjalanan, maka dia yang biasanya tidur nyaman di baris kedua jok mobil, kini mematung resah karena takut karya besar Mang Ujang hancur; rambut menjadi lepek, riasan yang luntur karena lendir tidur dan baju yang acak-acakan. Maka pagi itu ia mematung besi, mendongak kesana kemari melalui jendela menghindari tidur. Dan tuntas juga akhirnya, pukul 7 lewat 30 kami tiba di sekolah. Guru pembimbing tari yang juga rekan sang ibu, telah menunggu dari 5 menit yang lalu. Deru mesin kendaraan tidak terlalu menggema pagi itu, maklum saja ini hari sabtu. Bagi sebagian orang sabtu adalah hari bersantai, bangun siang dan melakukan aktifitas suka-suka; tidak mandi, juga tidak gosok gigi apalagi ganti baju. Wal hal sabtu atau minggu adalah kemerdekaan hakiki; lepas dari belenggu penjajahan ekonomi, merdeka dari rutinitas aktifitas bertahan hidup. Maka sah-sah saja dua hari itu disebut hari suka-suka kita hehe… walau ada dalam sebuah buku weekend juga dikatakan dengan masturbasi, mengganti hasil kerja dalam 5 hari dengan 2 hari kenikmatan semu. Bahkan menghabiskan sumber daya hanya di dua hari itu dengan berfoya-foya dan menikmati hidup. Buku Yudhi Lathief klo ndak salah, chapter berapa saya lupa, intinya tentang masturbasi kebudayaan.

Tiba di Istana Anak TMII

Tidak banyak penumpang kali ini, hanya aku, sang ibu, kaka, dua guru pendamping tari beserta salah satu adik kelas kakak yang juga anak dari rekan atau guru pendamping itu. Biasanya hari-hari mobil ini rutin menjemput 3 siswa lainnya, ya mumpung ada kesempatan hehe…. ada demand ya ada supply. Saling menguntungkan lah, minimal menambah uang bensin.

Tepat pukul 8.30 kami tiba sesuai rencana. Pagi itu jalan cukup lengang. Rute yang kami lewati adalah fatmawati, joss tol dan keluar rambutan lalu TMII. Beberapa orang tua telah hadir bersama sang putri di TKP. Menurut nomor undian, kelompok tari Kakak berada di nomor urut 10. So,… mesti siap-siap kalau nggak mau kelewat. Dan ada beberapa momen yang sempat saya abadikan di saat-saat penantian nomor urut kami dipanggil menuju panggung, berikut adalah momen tersebut :

 kegiatan

Saat Tampil

Bagi sebagian orang, perlombaan adalah ajang memompa diri. Mengukur sejauh mana batas kemampuan. Muaranya ada pada peringkat, label, stratifikasi. Namun identifikasi dengan mengaitkan peringkat sebagai nilai dari kemampuan belum tentu menggambarkan diri sebagai personal yang utuh; yang lengkap dengan multiple bakat, kompleksitas pemikiran dan seterusnya. Alih-alih meningkatkan batas kemampuan minimal, justru kadang sebaliknya; stereotipe, bias dan menempatkan pada satu sisi penilaian yang jauh dari sempurna dan lengkap. Oleh sebab itu, pemikiran yang tidak menekankan pada peringkat (dari bentuk kompetisi apapun) bisa dimafhumi sebagai bagian dari proses pembentukan dan perkembangan kepribadian secara utuh. Apalagi ketika hal ini ditujukan terhadap anak-anak, yang tentu masih terbuka jendela peluangnya untuk senantiasa berkembang dengan berbagai keahlian. Seperti tabula rasa; warna-warni, dengan berbagai gambar dan bentuk kreasi.

Lomba kemarin mungkin bisa dimaknai sebagai bagian dari ekspresi anak-anak. Tidak ada beban target, semuanya mengalir begitu saja. Kekayaan pengalaman tentu jauh lebih berharga dibandingkan peringkat yang hirarkis. Apalagi seni, sebagai bagian dari wujud kebudayaan manusia (jadi inget mata kuliah antrop saya hehe..) adalah buah akal dan budi manusia. Seni juga mampu memperhalus emosi sekaligus mengasah pikiran menjadi lebih arif. Maka mendekatkan anak-anak pada kesenian tentu menjadi salah satu upaya dalam konteks memanusiakan manusia seperti jargon dalam dunia pendidikan itu loh xixi…. Iya gitu … iya lah

So, melihat kaka senang dengan bermain, menari dan tampil di depan umum tentu sudah cukup. Setidaknya bentuk aktualisasi dalam bingkai yang masih sederhana sudah ia lalui. Akan bentuk penghargaan berupa peringkat dari perlombaan itu, hanyalah bonus. Yaa.. anggap saja demikian. Bonus dari apa yang sudah dilakukannya kemarin.

Depok, 17 Nop’14