Memahami …. bukan menghakimi

Posted on Updated on

lonely_1Ada masanya ketika saya begitu tertarik menulis tentang agama; mulai dari kesalehan yang bersifat pribadi, sejarah-sejarahnya, aliran kallam dan seterusnya. Setiadaknya masa awal-awal dulu lah hehe…. beberapanya malah dimuat media cetak dan hampir rutin mengisi rubrik media sholat jumat di beberapa masjid. Tapi itu dulu, ketertarikan itu perlahan mulai luntur; mungkin bisa jadi penyebabnya adalah motivasi yang kurang kuat, atau bisa juga kesibukan lain (konsentrasi lain) yang justru bertentangan dengan tulisan-tulisan itu, semisal kuliah yang justru mendalami ilmu sosial bukan agama hehe ….. atau hal lain seperti perdebatan tak berujung dengan kawan yang lain, lalu rebutan kesolehan pribadi atas nama agama, dan klaim kebenaran demi kavling surga diatas sana …..  tapi bisa juga ada penyebab lain semisal motif ekonomi… he.. ya bisa aja bukan ???

Suni atau syiah.. pernah suatu kali seorang kawan bertanya kepada saya. Emm … jawabnya apa ya; Sunni mungkin iya, karena setidaknya dalam budaya sunni-lah kita dibesarkan, mulai dari sekolah, pengajian hingga buku-buku yang bertebaran dimana-mana sering kita baca. Tapi kemudian saya menyadari bahwa tidak adil rasanya jika kemudian Syiah sebagai mazhab yang juga sama tuanya dengan sunni tidak dilirik. Maka Syiah layak dipelajari (setidaknya dibaca), dan melalui karya-karya Ustadz ‘J’ saya mulai membaca dan memahami beberapa sejarah perkembangan Islam, khususnya pasca kematian Nabi karena konflik ini (sunni – syiah) bermula dimasa itu bukan pada saat Nabi hidup.

***

Betapa beruntungnya saya, di penghujung masa sekolah dulu aktif dan terlibat dalam lingkungan pemikiran dan diskusi. Setidaknya hal ini mampu membuka cakrawala yang lebih luas akan sikap keberagamaan saya. Dan seperti sebuah perjalanan waktu, maka pemahaman keberagamaan saya pun tumbuh mulai dari hal-hal yang bersifat kecil seperti kesalehan pribadi, doa-doa yang harus dihapal dan sejenisnya 🙂 Geli rasanya jika mengingat bagaimana dimasa itu saya mempersoalkan qunut, ushali dalam sholat, bedug, tahiyat digoyangkan atau tidak hingga hal-hal remeh lainnya. Namun sebagai bentuk evolusi cara beragama sikap ini bisa dipahami sebagai fundamen yang kemudian membentuk bangunan lainnya kelak.

Bergerak dari bentuk pemahaman demikian, dengan jeda waktu yang tidak terlalu jauh pengembaraan lainnya kemudian menyadarkan saya bahwa agama ini sudah tidak murni; perlu perubahan sistem dan gayung bersambut. Maka saya beserta kawan-kawan saat itu bergerilya di bawah tanah hehe…. merekrtu orang untuk masuk kedalam agama yang murni; agama Dien Allah. Syaratnya adalah berbaiat di depan imam, bersyahadat kembali…. tujuannya satu adalah berjihad di jalan Allah dan menegakkan amar makruf nahi munkar. Wew… saat itu terasa gagah dan suci/luhung apalagi ketika pengajian diam-diam itu dimulai. Seolah disuntikkan zat booster yang maha dahsyat, kami begitu membenci sistem kufur yang berlaku saat ini (pancasila, demokrasi dan sederet sistem lainnya). Mungkin bagi kawan-kawan yang pernah masuk kedalam kelompok ini memahami bagaimana ghirah atau semangat itu begitu menggelora, seolah suci dan imbalannya adalah surga … wew dahsyat bukan 🙂

Tapi seiring berjalannya waktu tingkah laku kelompok itu semakin tidak masuk akal. Singkat cerita saya lebih tertarik untuk bergelut dalam dunia aktivis organisasi. Melalui pergumulan ini kemudian saya belajar banyak membaca dengan sumber referensi yang lebih luas. Lingkungan sosial pun tidak terbatas pada satu pemahaman atau satu kelompok saja. Karena ternyata ilmu agama juga bisa didapatkan tidak hanya melalui mimbar atau pengajian, tapi lebih luas dari itu. Melalui pendekatan ilmu lainnya semisal filsafat, sosial, etika/moral dan seterusnya, agama juga dapat dipahami dalam kerangkanya yang lebih universal.

***

Beragama itu harus membebaskan dari belenggu; belenggu pikiran dan belenggu kemunduran. Berebut kavling surga rasanya seperti anak-anak saja memperebutkan permen. Sebab masih banyak hal yang mesti dilakukan, baik untuk sendiri, keluarga bahkan lingkungan sosial. Bukan saat nya lagi mempertanyakan seberapa jauh kesolehan saya, namun jusrtru seberapa besar manfaat yang saya berikan ; baik untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan sosial. Belajar memang tidak pernah berhenti pada usia; sampai kapanpun pembelajaran itu akan terus berlangsung. Sebagai pribadi yang terbuka, tentu kita harus siap menerima perubahan. Bukan perubahan yang terjadi diluar saja, tapi perubahan yang terjadi dalam diri kita; pikiran dan pemahaman kita. Adakalanya memang kita harus menilik kedalam diri.

 

Resah

Depok, 25 Sept 2014

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s