Sang Relawan

Posted on

kolam renang yang terletak didalam area citos sport center cilandak jaksel
kolam renang yang terletak didalam area citos sport center cilandak jaksel

Istilah relawan erat dengan kegiatan bakti sosial. Setidaknya itu yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata itu. Namun relawan yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah itu, sedikit bermakna sama; ketersediaan dan sukarela, namun sederhana saja, relawan pengantar kegiatan berenang di sekolah anakku. Yups… salah satu butir yang jadi misi sekolah ini adalah jalinan kemitraan antara Orang tua murid dengan sekolah. Bahwa pendidikan dan pengajaran itu bukan semata tanggung jawab sekolah, dan tidak berhenti sampai disana. Namun bagaimana proses pendidikan dan pengajaran itu diselaraskan antara lingkungan keluarga, lingkungan sosialnya dan lingkungan sekolah.

Beberapa butir itu sempat mendarat dengan lugas dan disampaikan sang Empunya sekolah, setidaknya ketika kegiatan mengunjungi gedung Balai Kota dan bertemu Ahok beberapa bulan lalu. Pada kegiatan itu saya menjadi relawan juga, konsultan graphis dan penyusun buku karya anak-anak yang kemudian diserahkan kepada Plt Gubernur DKI Jaya. Lebih dari dua kali pertemuan seingatku, sang Empunya sekolah menjabarkan apa saja yang menjadi misi sekolah, dan ini harus ditangkap untuk kemudian dibukukan. Kegiatan ini sudah paripurna, berjalan sukses dan diliput beberapa media lokal (online khususnya).

Konsep relawan (volunteer) baru bagi saya, setidaknya bagi orang yang bersekolah Negeri dari SD sampe perguruan tinggi dan belum beruntung melanjutkan ke luar negeri 😦 seperti saya. Maka ketika hal ini muncul sebagai salah satu partisipasi aktif dari para orang tua, maka beberapa orang tua murid ada yang menyambutnya dengan antusias dan meluangkan waktu, namun ada juga yang sebatas mensupport dibelakang layar saja karena mungkin ketiadaan waktu, bekerja, kesibukan dan lain sebagainya. Di satu sisi keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah tentu positif. Disamping menjalin tali kemitraan, juga orang tua akan lebih mampu mengenali perkembangan sang anak selama bersekolah. Tidak ada yang ditutupi, semua dibuka dan orang tua bisa melihat. Dengan demikian timbul kepercayaan. Namun disisi lain tentu hal ini juga mensyaratkan persamaan cara pandang antara orang tua dengan sekolah. Sebab bisa saja ada satu atau dua orang tua yang cenderung berpikiran berbeda, bahwa bukan tempatnya lagi orang tua melibatkan diri terlalu dalam di sekolah. Mendidik formal dilimpahkan dan menjadi wewenang sekolah. Keluarga tentu menjadi hal yang berbeda, itu masuk kedalam wilayah private. Maka sulitnya sinkronisasi waktu menjadi tanda orang tua jenis ini; tidak terlibat dalam kegiatan sekolah, baik itu sebagai relawan atau bahkan mungkin pada saat Diskusi Tengah Semester sekalipun. Bisa saja ……

Nah, hari jumat ini kebetulan jadwal kesekian kelas anakku berenang. Lokasinya tidak jauh dari sekolah, yups tempatnya di kolam renang cilandak Citos. Dan untuk yang ketika kalinya pula saya mengantarkan anak-anak ini kembali ke sekolah setelah berenang, alias relawan mobil jemputan hehe….. simple sih, tapi tentu buat anakku ini berarti. Entah apa alasannya tapi dia sendiri yang menulis jadwal kesediaanku menghantar, dan ketika kuiyakan senangnya bukan kepalang hihi… mungkin dia senang aja kali ya ada ayahnya di kolam renang dan teman-temannya tau itu ayahnya yang menghantar ke sekolah.

Istilah relawan juga akhir-akhir ini ramai, setidaknya dalam pilpres kemarin disebut-sebut ada relawan jokowi-jk, baik itu di dunia maya maupun di darat yang sekedar membagikan kaos, menyelenggarakan diskusi, konser musik dan seterusnya. Karena konsepnya itu ketersediaan dan sukarela maka tentu para relawan ini tidak bisa menuntut balas jasa, baik itu upah maupun kedudukan. Lantas apa akibatnya jika para relawan ini kecewa karena ternyata yang dibantu itu ingkar pada janjinya?? Ya ini juga bukan transaksi jual beli dimana konsumen bisa menuntut karena ada UU perlindungan konsumen. Sebatas sukarela saja bukan dulunya, maka jika kecewa dengan Jokowi-Jk ya sudah telan saja dan tunggu 5 tahun yang akan datang untuk memberi hukuman. Lantas selama 5 tahun itu apa??? Ya lakukan saja aktivitas seperti biasa, melakukan yang terbaik, belajar dari kesalahan dan sejenisnya. Semoga saja apa yang dijanjikan dalam kampanye bisa dipegang teguh oleh mereka dan dilaksanakan dengan benar ketika menjabat kelak.

SEMOGA!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s