Subsidi Silang

Posted on

Tampilan soto si bapak yang dulu lebih menarik dari ini nih … apalagi ada kerupuknya emmm

Pagi ini saya sarapan soto ayam. Rasanya cukup enak, lokasinya dibelakang sekolah anakku yang sulung. Soto ini disajikan dalam satu mangkuk, nasi bercampur kuah sotonya dijadikan satu. Perut yang semula kosong kemudian terisi. Saat menyantap kuahnya yang kuning lengkap dengan bihun, kol dan taburan bawang goreng, mengingatkan saya pada beberapa tahun silam. Rasanya saya pernah menyantap soto dengan jenis ini ???

Benar, tepatnya saat masa SMUN 4 dulu di Gardujati…. mmm… kira-kira taun 2000an silam. Pas jam istirahat kami biasanya doyan menyantap soto itu (saya, gugum, sophian dan kawan saya yang chinese itu lupa namanya he..). Harganya cukup murah, hanya Rp. 2.000 sudah lengkap bersama kerupuk udang 1buah. Letaknya memang tidak berada didalam sekolah, namun kira-kira 4 bangunan dari sekolah. Persisnya di pinggir jalan raya gardujati. Untuk bisa keluar dari sekolah biasanya kami berbohong pada satpam; kadang dengan alasan photo kopi atau alasan lainnya, gugum yang ahli dalam hal ini. Jam istirahat hanya tersedia 25 menit, oleh karena itu kami harus pintar-pintar memanfaatkan waktu yang tersedia; berjalan kaki, menunggu antrian, dan lalu menyantapnya. Biasanya sih cukup waktu 25 menit itu hehe…

SMUN 4 Gardujati Bandung
SMUN 4 Gardujati Bandung

Pernah suatu kali saya sengaja datang ke tempat soto itu diluar waktu sekolah. Tepatnya hari Sabtu. Karena hari libur tentu saya menggunakan baju bebas non seragam putih abu. Dengan porsi yang sama, ditambah 1 buah kerupuk udang yang sama. Namun kagetnya harga soto itu bukan Rp. 2.000,- melainkan Rp. 4.000,- plus ditambah kerupuk 1 menjadi Rp. 4.500,- … “lah kok bisa pak harganya beda??” tanyaku pada bapak penjual soto.

“oh iya mas harga umumnya memang segitu, cuma klo buat anak sekolah ya Bapak kasih beda donks harganya… itung-itung subsidi silang” … jelas Bapak itu

Ow… rupanya di awal tahun 2000 itu istilah subsidi silang sudah sampai kepada Bapak penjual soto. Ajiib… dari obrolan lebih lanjut kemudian kuketahui alasan si Bapak membedakan harga jual sotonya. Pertama, menurutnya bekal anak-anak SMA masa itu rata-rata tidak lebih dari Rp. 5.000,- Andaikata soto dijual dengan harga Rp. 4.000,- ya habis donks untuk keperluan lainnya semisal ongkos bis dan photo kopi. Maka muncullah ide itu, menaikkan harga umum dari Rp. 3.000,- (rata-rata soto di Bandung kala itu bersama nasi putih) menjadi Rp. 4.000,- agar anak-anak sekolah di sekitar Gardujati juga bisa menikmati sarapan atau makan siang soto. Dan memang benar, bagi kami yang diberi jatah Rp. 4.000,-/hari dari orang tua harga soto si Bapak benar-benar terjangkau. Dengan harga Rp. 2.000,- kami masih memiliki sisa setengahnya untuk ongkos Damri (saat itu hanya Rp. 250 perak) dan keperluan sekolah lainnya. Perut kenyang sampe pulang, bahkan eskul di waktu tambahan dan masih ada sedikit sisa untuk menabung šŸ™‚

Nah jika logika subsidi ini kemudian dipakai untuk BBM kita gimana ya? Yang mampu membayar lebih, untuk kemudian pemerintah mengalokasikanya bagi yang tidak mampu. Tapi apa benar juga dengan menaikkan harga BBM nanti (pasca Jokowi-JK dilantik) subsidi itu sudah tepat sasaran dan rakyat kecil tidak ikut-ikutan terseret dengan harga kebutuhan pokok yang secara otomatis naik pula ??????

Ah… mari saya lanjutkan sotonya, belum habis nih … srupuutt nyam – nyam šŸ™‚

18 Sept 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s