Month: September 2014

Menjajal si Putih

Posted on Updated on

Di penghujung puasa lalu, akhirnya kesampaian juga ngejajal Si putih. Dengan jalan yang cukup berliku, sempit dan menanjak (curam dibeberapa bagiannya) akhirnya sampai di tempat yang direkomendasikan adikku. Perjalanan dari ciumbeuluit (Unpar) kurang lebih 20 menit saja. Tapi ya itu, untuk ukuran mobil sejuta ummat seperti ini dengan cc1300 ditambah dengan kondisi mobil yang penuh yo wess gigi satu…. masuk gigi dua ngeden kawan-kawan, nggak kuat. Tapi alhamdulillah yang penting puas ngejajal, karena setelah itu lanjut ke cimenyan dan pasir honje. Berikut adalah photo kenang-kenangan dari rumah makan sunda yang ada di seputaran Punclut Bandung

selepas bedug maghrib.. langsung santaappp
selepas bedug maghrib.. langsung santaappp
Masakan sunda disajikan dengan nasi merah.. nyam nyam lah pokoke
Masakan sunda disajikan dengan nasi merah.. nyam nyam lah pokoke
Suasana menunggu berbuka puasa
Suasana menunggu berbuka puasa
Berphoto bersama sesaat sebelum pulang
Berphoto bersama sesaat sebelum pulang

Meriahnya Susu

Posted on

DSCF2977 DSCF2973 DSCF2974 DSCF2976Jarang sekali saya mengupload photo akhir-akhir ini. Nah berhubung kamera nya saya bawa dan kabelnya juga.. maka inilah photo-photo hasil jeprat jepret hari minggu kemaren.

Walau sebenarnya nggak beli susunya, Fafa nampak antusias sekali ‘ditanggap’ ama mba-mba dan mas-mas SPG susunya. Aktif-aktif katanya anaknya dan lucu hehe…. Tapi bukan berarti nggak beli sama sekali juga susunya, tetep beli tapi diberikan untuk anaknya mba yang jaga di rumah, dah dua hari dia ikut nemenin kakak maen.

So, mungkin itu dulu… sudah jam 2 mau jemput anak-anak sekolah dulu ya 😉

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidup, keberuntungan, jalan dan usaha

Posted on Updated on

Memulai bisnis bukan dari keahlian atau minat memang susah. Bingung mesti memulai dari mana dan arahnya mau kemana. Kapan mesti dimulai, kepada siapa ditawarkan dan bagaimana merawatnya agar sustain dan berjalan lama. Tapi tiada kesulitan yang tidak diberi jalan keluar, selama kita berusaha dan mencari, kesempatan itu akan datang; setidaknya jika kembali gagal kita mendapatkan pengalaman hehe….

Sebenarnya letak jalan buntu bisa disebabkan oleh sikap minder. Ya karena itu tadi, memulai bukan dari keahlian dan juga minat. Maka diri serasa nol, ndak tahu apa-apa. Gamang berbuat hingga terkesan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Nah apakah saudara sekalian pernah mengalami demikian??? Saya pernah.. atau bahkan sekarang tengah mengalami. Padahal dua jenis usaha ini sudah saya coba lakukan selama lebih dari 1 tahun. Semestinya sudah banyak hal yang saya dapatkan bukan?? Let say …. ya katanlah pengalaman trial dan error selama hal ini berjalan, masa tidak ada! …. Ah terkadang memang kita tidak mampu menyadarinya, padahal setiap hari berkutat dengan masalah yang sama dan dituntut menyelesaikannya dengan baik.. Tapi hanya sedikit yang kemudian menempel di kepala sebagai ilmu; untuk terus memperbaiki dan membuka jalan yang lebih lebar kemasa depan. Terus terang saya ingin seperti itu, tapi masih adakah energi untuk terus ‘on’ … ndak gampang loyo bahkan impoten ; mati di tengah jalan.

Pencapaian… mungkin ini juga salah satu indikator pengukurannya. Setelah sekian lama berjalan sejauh mana pencapaiannya ; baik yang bersifat pribadi maupun dari segi bisnis yang dijalankan. Dari sisi pribadi bisa berupa pencapaian income yang menanjak naik, diri bertumbuh dengan ilmu baru dan rasa minder yang sudah mulai terkikis (harusnya bisa habis). Dari sisi bisnis pencapaiannya bisa berupa sejauh mana pasarnya terbuka, sudah berapa pelanggan yang ada saat ini, dan mampukah usaha ini bertahan setidaknya untuk 2 sampai dengan 3 tahun yang akan datang.

Meminimalisir resiko adalah kejelian yang kadang tidak lahir begitu saja. Ia mesti ditempa, mungkin bagi saya meminimalisir ini sama dengan berhati-hati ketika melangkah. Tapi juga hal ini kadang menjadi boomerang, karena terlalu berhitung akhirnya lambat mengambil keputusan… tuh khan jadi bingung. Okey.. mungkin lebih baik bagi saya meneruskan apa yang sudah dimulai. Biarkahlah berjalan lambat, sembari mencari alternatif lain sebagai bentuk cadangan atau plan B ketika rencana A mandek. Meneruskan kuliah mungkin bisa menjadi salah satunya, dan targetnya tahun depan mesti lulus… malu sama umur mas hehe…..

So, benar kata pepatah ‘the power of kepepet’ memang kadang tidak terduga, bisa lahir gitu aja. Apalagi bagi orang yang masih bingung menentukan arah hidupnya saat ini. Maka disaat kepepet itulah, kesempatan datang menghampiri walau tidak sesuai dengan minat dan keahlian. Kata orang ‘biar saja.. asalkan bisa hidup’ …… atau nasihat bijak primum vivere deinde philosophari … tul… betul. Hiduplah dulu baru kemudian berfilsafat, bukan sebaliknya kawan ???!!!!

Menjelang Jumatan yang kemungkinan mengantuk

26 Dept 2014

Memahami …. bukan menghakimi

Posted on Updated on

lonely_1Ada masanya ketika saya begitu tertarik menulis tentang agama; mulai dari kesalehan yang bersifat pribadi, sejarah-sejarahnya, aliran kallam dan seterusnya. Setiadaknya masa awal-awal dulu lah hehe…. beberapanya malah dimuat media cetak dan hampir rutin mengisi rubrik media sholat jumat di beberapa masjid. Tapi itu dulu, ketertarikan itu perlahan mulai luntur; mungkin bisa jadi penyebabnya adalah motivasi yang kurang kuat, atau bisa juga kesibukan lain (konsentrasi lain) yang justru bertentangan dengan tulisan-tulisan itu, semisal kuliah yang justru mendalami ilmu sosial bukan agama hehe ….. atau hal lain seperti perdebatan tak berujung dengan kawan yang lain, lalu rebutan kesolehan pribadi atas nama agama, dan klaim kebenaran demi kavling surga diatas sana …..  tapi bisa juga ada penyebab lain semisal motif ekonomi… he.. ya bisa aja bukan ???

Suni atau syiah.. pernah suatu kali seorang kawan bertanya kepada saya. Emm … jawabnya apa ya; Sunni mungkin iya, karena setidaknya dalam budaya sunni-lah kita dibesarkan, mulai dari sekolah, pengajian hingga buku-buku yang bertebaran dimana-mana sering kita baca. Tapi kemudian saya menyadari bahwa tidak adil rasanya jika kemudian Syiah sebagai mazhab yang juga sama tuanya dengan sunni tidak dilirik. Maka Syiah layak dipelajari (setidaknya dibaca), dan melalui karya-karya Ustadz ‘J’ saya mulai membaca dan memahami beberapa sejarah perkembangan Islam, khususnya pasca kematian Nabi karena konflik ini (sunni – syiah) bermula dimasa itu bukan pada saat Nabi hidup.

***

Betapa beruntungnya saya, di penghujung masa sekolah dulu aktif dan terlibat dalam lingkungan pemikiran dan diskusi. Setidaknya hal ini mampu membuka cakrawala yang lebih luas akan sikap keberagamaan saya. Dan seperti sebuah perjalanan waktu, maka pemahaman keberagamaan saya pun tumbuh mulai dari hal-hal yang bersifat kecil seperti kesalehan pribadi, doa-doa yang harus dihapal dan sejenisnya 🙂 Geli rasanya jika mengingat bagaimana dimasa itu saya mempersoalkan qunut, ushali dalam sholat, bedug, tahiyat digoyangkan atau tidak hingga hal-hal remeh lainnya. Namun sebagai bentuk evolusi cara beragama sikap ini bisa dipahami sebagai fundamen yang kemudian membentuk bangunan lainnya kelak.

Bergerak dari bentuk pemahaman demikian, dengan jeda waktu yang tidak terlalu jauh pengembaraan lainnya kemudian menyadarkan saya bahwa agama ini sudah tidak murni; perlu perubahan sistem dan gayung bersambut. Maka saya beserta kawan-kawan saat itu bergerilya di bawah tanah hehe…. merekrtu orang untuk masuk kedalam agama yang murni; agama Dien Allah. Syaratnya adalah berbaiat di depan imam, bersyahadat kembali…. tujuannya satu adalah berjihad di jalan Allah dan menegakkan amar makruf nahi munkar. Wew… saat itu terasa gagah dan suci/luhung apalagi ketika pengajian diam-diam itu dimulai. Seolah disuntikkan zat booster yang maha dahsyat, kami begitu membenci sistem kufur yang berlaku saat ini (pancasila, demokrasi dan sederet sistem lainnya). Mungkin bagi kawan-kawan yang pernah masuk kedalam kelompok ini memahami bagaimana ghirah atau semangat itu begitu menggelora, seolah suci dan imbalannya adalah surga … wew dahsyat bukan 🙂

Tapi seiring berjalannya waktu tingkah laku kelompok itu semakin tidak masuk akal. Singkat cerita saya lebih tertarik untuk bergelut dalam dunia aktivis organisasi. Melalui pergumulan ini kemudian saya belajar banyak membaca dengan sumber referensi yang lebih luas. Lingkungan sosial pun tidak terbatas pada satu pemahaman atau satu kelompok saja. Karena ternyata ilmu agama juga bisa didapatkan tidak hanya melalui mimbar atau pengajian, tapi lebih luas dari itu. Melalui pendekatan ilmu lainnya semisal filsafat, sosial, etika/moral dan seterusnya, agama juga dapat dipahami dalam kerangkanya yang lebih universal.

***

Beragama itu harus membebaskan dari belenggu; belenggu pikiran dan belenggu kemunduran. Berebut kavling surga rasanya seperti anak-anak saja memperebutkan permen. Sebab masih banyak hal yang mesti dilakukan, baik untuk sendiri, keluarga bahkan lingkungan sosial. Bukan saat nya lagi mempertanyakan seberapa jauh kesolehan saya, namun jusrtru seberapa besar manfaat yang saya berikan ; baik untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan sosial. Belajar memang tidak pernah berhenti pada usia; sampai kapanpun pembelajaran itu akan terus berlangsung. Sebagai pribadi yang terbuka, tentu kita harus siap menerima perubahan. Bukan perubahan yang terjadi diluar saja, tapi perubahan yang terjadi dalam diri kita; pikiran dan pemahaman kita. Adakalanya memang kita harus menilik kedalam diri.

 

Resah

Depok, 25 Sept 2014

 

Sang Relawan

Posted on

kolam renang yang terletak didalam area citos sport center cilandak jaksel
kolam renang yang terletak didalam area citos sport center cilandak jaksel

Istilah relawan erat dengan kegiatan bakti sosial. Setidaknya itu yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata itu. Namun relawan yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah itu, sedikit bermakna sama; ketersediaan dan sukarela, namun sederhana saja, relawan pengantar kegiatan berenang di sekolah anakku. Yups… salah satu butir yang jadi misi sekolah ini adalah jalinan kemitraan antara Orang tua murid dengan sekolah. Bahwa pendidikan dan pengajaran itu bukan semata tanggung jawab sekolah, dan tidak berhenti sampai disana. Namun bagaimana proses pendidikan dan pengajaran itu diselaraskan antara lingkungan keluarga, lingkungan sosialnya dan lingkungan sekolah.

Beberapa butir itu sempat mendarat dengan lugas dan disampaikan sang Empunya sekolah, setidaknya ketika kegiatan mengunjungi gedung Balai Kota dan bertemu Ahok beberapa bulan lalu. Pada kegiatan itu saya menjadi relawan juga, konsultan graphis dan penyusun buku karya anak-anak yang kemudian diserahkan kepada Plt Gubernur DKI Jaya. Lebih dari dua kali pertemuan seingatku, sang Empunya sekolah menjabarkan apa saja yang menjadi misi sekolah, dan ini harus ditangkap untuk kemudian dibukukan. Kegiatan ini sudah paripurna, berjalan sukses dan diliput beberapa media lokal (online khususnya).

Konsep relawan (volunteer) baru bagi saya, setidaknya bagi orang yang bersekolah Negeri dari SD sampe perguruan tinggi dan belum beruntung melanjutkan ke luar negeri 😦 seperti saya. Maka ketika hal ini muncul sebagai salah satu partisipasi aktif dari para orang tua, maka beberapa orang tua murid ada yang menyambutnya dengan antusias dan meluangkan waktu, namun ada juga yang sebatas mensupport dibelakang layar saja karena mungkin ketiadaan waktu, bekerja, kesibukan dan lain sebagainya. Di satu sisi keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah tentu positif. Disamping menjalin tali kemitraan, juga orang tua akan lebih mampu mengenali perkembangan sang anak selama bersekolah. Tidak ada yang ditutupi, semua dibuka dan orang tua bisa melihat. Dengan demikian timbul kepercayaan. Namun disisi lain tentu hal ini juga mensyaratkan persamaan cara pandang antara orang tua dengan sekolah. Sebab bisa saja ada satu atau dua orang tua yang cenderung berpikiran berbeda, bahwa bukan tempatnya lagi orang tua melibatkan diri terlalu dalam di sekolah. Mendidik formal dilimpahkan dan menjadi wewenang sekolah. Keluarga tentu menjadi hal yang berbeda, itu masuk kedalam wilayah private. Maka sulitnya sinkronisasi waktu menjadi tanda orang tua jenis ini; tidak terlibat dalam kegiatan sekolah, baik itu sebagai relawan atau bahkan mungkin pada saat Diskusi Tengah Semester sekalipun. Bisa saja ……

Nah, hari jumat ini kebetulan jadwal kesekian kelas anakku berenang. Lokasinya tidak jauh dari sekolah, yups tempatnya di kolam renang cilandak Citos. Dan untuk yang ketika kalinya pula saya mengantarkan anak-anak ini kembali ke sekolah setelah berenang, alias relawan mobil jemputan hehe….. simple sih, tapi tentu buat anakku ini berarti. Entah apa alasannya tapi dia sendiri yang menulis jadwal kesediaanku menghantar, dan ketika kuiyakan senangnya bukan kepalang hihi… mungkin dia senang aja kali ya ada ayahnya di kolam renang dan teman-temannya tau itu ayahnya yang menghantar ke sekolah.

Istilah relawan juga akhir-akhir ini ramai, setidaknya dalam pilpres kemarin disebut-sebut ada relawan jokowi-jk, baik itu di dunia maya maupun di darat yang sekedar membagikan kaos, menyelenggarakan diskusi, konser musik dan seterusnya. Karena konsepnya itu ketersediaan dan sukarela maka tentu para relawan ini tidak bisa menuntut balas jasa, baik itu upah maupun kedudukan. Lantas apa akibatnya jika para relawan ini kecewa karena ternyata yang dibantu itu ingkar pada janjinya?? Ya ini juga bukan transaksi jual beli dimana konsumen bisa menuntut karena ada UU perlindungan konsumen. Sebatas sukarela saja bukan dulunya, maka jika kecewa dengan Jokowi-Jk ya sudah telan saja dan tunggu 5 tahun yang akan datang untuk memberi hukuman. Lantas selama 5 tahun itu apa??? Ya lakukan saja aktivitas seperti biasa, melakukan yang terbaik, belajar dari kesalahan dan sejenisnya. Semoga saja apa yang dijanjikan dalam kampanye bisa dipegang teguh oleh mereka dan dilaksanakan dengan benar ketika menjabat kelak.

SEMOGA!!

Subsidi Silang

Posted on

Tampilan soto si bapak yang dulu lebih menarik dari ini nih … apalagi ada kerupuknya emmm

Pagi ini saya sarapan soto ayam. Rasanya cukup enak, lokasinya dibelakang sekolah anakku yang sulung. Soto ini disajikan dalam satu mangkuk, nasi bercampur kuah sotonya dijadikan satu. Perut yang semula kosong kemudian terisi. Saat menyantap kuahnya yang kuning lengkap dengan bihun, kol dan taburan bawang goreng, mengingatkan saya pada beberapa tahun silam. Rasanya saya pernah menyantap soto dengan jenis ini ???

Benar, tepatnya saat masa SMUN 4 dulu di Gardujati…. mmm… kira-kira taun 2000an silam. Pas jam istirahat kami biasanya doyan menyantap soto itu (saya, gugum, sophian dan kawan saya yang chinese itu lupa namanya he..). Harganya cukup murah, hanya Rp. 2.000 sudah lengkap bersama kerupuk udang 1buah. Letaknya memang tidak berada didalam sekolah, namun kira-kira 4 bangunan dari sekolah. Persisnya di pinggir jalan raya gardujati. Untuk bisa keluar dari sekolah biasanya kami berbohong pada satpam; kadang dengan alasan photo kopi atau alasan lainnya, gugum yang ahli dalam hal ini. Jam istirahat hanya tersedia 25 menit, oleh karena itu kami harus pintar-pintar memanfaatkan waktu yang tersedia; berjalan kaki, menunggu antrian, dan lalu menyantapnya. Biasanya sih cukup waktu 25 menit itu hehe…

SMUN 4 Gardujati Bandung
SMUN 4 Gardujati Bandung

Pernah suatu kali saya sengaja datang ke tempat soto itu diluar waktu sekolah. Tepatnya hari Sabtu. Karena hari libur tentu saya menggunakan baju bebas non seragam putih abu. Dengan porsi yang sama, ditambah 1 buah kerupuk udang yang sama. Namun kagetnya harga soto itu bukan Rp. 2.000,- melainkan Rp. 4.000,- plus ditambah kerupuk 1 menjadi Rp. 4.500,- … “lah kok bisa pak harganya beda??” tanyaku pada bapak penjual soto.

“oh iya mas harga umumnya memang segitu, cuma klo buat anak sekolah ya Bapak kasih beda donks harganya… itung-itung subsidi silang” … jelas Bapak itu

Ow… rupanya di awal tahun 2000 itu istilah subsidi silang sudah sampai kepada Bapak penjual soto. Ajiib… dari obrolan lebih lanjut kemudian kuketahui alasan si Bapak membedakan harga jual sotonya. Pertama, menurutnya bekal anak-anak SMA masa itu rata-rata tidak lebih dari Rp. 5.000,- Andaikata soto dijual dengan harga Rp. 4.000,- ya habis donks untuk keperluan lainnya semisal ongkos bis dan photo kopi. Maka muncullah ide itu, menaikkan harga umum dari Rp. 3.000,- (rata-rata soto di Bandung kala itu bersama nasi putih) menjadi Rp. 4.000,- agar anak-anak sekolah di sekitar Gardujati juga bisa menikmati sarapan atau makan siang soto. Dan memang benar, bagi kami yang diberi jatah Rp. 4.000,-/hari dari orang tua harga soto si Bapak benar-benar terjangkau. Dengan harga Rp. 2.000,- kami masih memiliki sisa setengahnya untuk ongkos Damri (saat itu hanya Rp. 250 perak) dan keperluan sekolah lainnya. Perut kenyang sampe pulang, bahkan eskul di waktu tambahan dan masih ada sedikit sisa untuk menabung 🙂

Nah jika logika subsidi ini kemudian dipakai untuk BBM kita gimana ya? Yang mampu membayar lebih, untuk kemudian pemerintah mengalokasikanya bagi yang tidak mampu. Tapi apa benar juga dengan menaikkan harga BBM nanti (pasca Jokowi-JK dilantik) subsidi itu sudah tepat sasaran dan rakyat kecil tidak ikut-ikutan terseret dengan harga kebutuhan pokok yang secara otomatis naik pula ??????

Ah… mari saya lanjutkan sotonya, belum habis nih … srupuutt nyam – nyam 🙂

18 Sept 2014

Melihat masa lalu, menerima diri dan mengakui kesalahan

Posted on

Adakalanya kita terjebak karena masa lalu. Kesalahan yang diperbuat dan tak mau diakui. Belenggu ini hanya mungkin terbebaskan ketika kita mengakui kesalahan, menerima diri untuk kemudian belajar memperbaiki.

Sudikah ???