Month: August 2014

Dia yang sekarang, bukan yang dulu

Posted on

IMG_20140825_160458
Kakak Farras saat bermain ayunan di grand matoa rumah temannya

Dia yang sekarang memang bukan yang dulu. Bayi mungil yang selalu kugendong atau didorong menggunakan kereta bayi ketika jalan-jalan keluar rumah. Dia yang sekarang adalah anak jaman yang setia pada nafasnya. Update, ingin tampil eksis, rempong, kepo dan cerdas. Yup gambaran anak ideal bukan? tugas orang tuanya lah membuka gerbang cakrawala hidup yang maha luas. Agar hidupnya kelak berarti, menjadi diri sendiri dan mampu mencapai aktualisasi setinggi mungkin. Itu tugas kami…. Amin

Berbalik dengan dia yang sekarang. Aku merasa masih seperti yang dulu, tidak beranjak tuwir hehe… padahal tentu itu berbeda. 7 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Kerugian semata jika selama itu tiada hal berguna yang mampu membuat lebih matang, dewasa dan berkarakter. Mudah-mudahan seiring dengan bertambahnya usiaku di bulan ini banyak perbedaan yang telah dibuat. Pencapaian orang tentu berbeda-beda, tolok ukurnya bersifat relatif. Namun bukan berarti kemunduran dianggap sebagai pertumbuhan itu sendiri. Kemajuan dan pertumbuhan adalah sebagaimana adanya. entah apa yang terjadi kelak. Masa kini adalah masa yang bisa diukir… jangan lewatkan

Centang Kawan Lama, akhirnya bersua juga

Posted on Updated on

128932_620 

Seorang kawan lama datang menghampiri tadi pagi. Setelah sebelumnya menelp dan chat lewat media sosial akhirnya bersua juga. Tidak banyak yang berubah dari dirinya, masih seperti dulu ketika berseragam putih abu-abu. Dulu kami dekat, satu kelas di kelas 2, walau kemudian terpisah karena jurusan namun kami tetap dekat, saling curhat dan memberi dorongan. Lalu bagaimana ia kini ???

Kesendirian Akut

Apa yang dirasakannya kini sudah lebih mundur dari apa yang biasanya kudengar dulu di sekolah. Perhatiannya pada dunia sosial semakin kecil. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri, kebingungan, galau dan bahkan bergerak seperti boneka. Nah loh!!! Kenapa ??? Dari cerita dan pergaulan kami dulu, Centang (sebut saja namanya begitu) hidup dalam dunia yang tidak mudah. Pengalaman traumatik yang dialaminya sedari kecil, membentuknya menjadi pribadi yang introvert, tidak banyak bicara dan biasanya pikirannya membentuk pelarian… lari dari kesulitan yang dialaminya untuk kemudian menciptakan dunia khayalnya sendiri. Biasanya ia menjadi sosok yang jumawa, berhasil sebagai pribadi, memiliki kecakapan sosial yang tinggi, pandai bicara dan dikelilingi lawan jenis. 

Dunia khayal ini perlahan mulai ditinggalkannya ketika ia mulai sering bercerita padaku. Tidak hanya itu, kelompok belajar yang kubentuk pun turut mengusir rasa sepinya itu, kini ia lebih sering bersenda gurau dengan teman-teman yang lain. Satu hal yang kuingat sebelumnya, ia terlilhat selalu takut; takut akan hal apapun, terutama menyangkut dunia sosialnya. Tak berani mencoba, malu dan menarik diri. Ia hidup dalam keterbatasan, terutama keterbatasan afeksi; wujud perhatian, kasih sayang, pengakuan dari lingkungan terdekatnya. Belum lagi pengalaman tak menyenangkan menyangkut hasrat seksualnya; digerayangi, dijamah dan dijadikan objek cerita-cerita fantasi seksual tidak normal dari para pegawai salon tempat ia merawat rambutnya. Lalu ia tumbuh menjadi pribadi yang gamang, tidak memiliki teladan untuk dijadikan pusat imitasi pribadi, diacuhkan keluarga hingga kebingungan akan sikap yang tepat seputar kondisi biologisnya (ketika beranjak remaja khususnya). Akhirnya ia sering menarik diri, membuat fantasi, dan grogi ketika berhadapan dengan orang lain. 

Diluar akademik, bisa dibilang tidak ada yang istimewa. Seolah adil bagi Tuhan membagi dirinya berada dalam keseimbangan; pintar namun miskin sebagai pribadi (dan sosial). Dan aku adalah tempat bagi orang-orang seperti itu untuk bercerita, bukan hanya Centang tapi juga Gema, Bunga dan Sirna. Mereka adalah kawan-kawan lamaku yang entah kini menjadi seperti apa; luluskan mereka menjalani ujian hidup?? atau tersungkur tak berdaya menghadapinya???

Dan kawan lama dihadapanku ini kini tengah bergelut dengan masalahnya. 8 tahun tak berjumpa, bukan kabar baik yang kudengar. Centang merasa kini lebih sendiri daripada dulu. Hidupnya berjalan mekanis, melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Sulit membangun hubungan dengan orang baru. Suara-suara dari dunia khayalannya datang kembali. Walau bisa ia tepis namun tetap mengganggu. Bersyukur baginya ia masih dapat membedakan yang mana suara ‘palsu’ itu dan mana dunia nyata yang harus ia hadapi dengan benar. Namun geraknya yang mekanik membuatanya bosan. Setelah menikah 5 tahun silam, Centang praktis tidak mampu keluar dari ikatan rumah tangganya. Seolah ia bergantung pada suaminya. Hidupnya mekanik bagai robot, suaminya ada dimana-mana. Bahkan untuk urusan keluarga orang tuanya sendiri ia masih harus berdebat dengan sang suami. 

Ia seperti kembali kemasa sebelum kami membentuk kelompok belajar itu. Kelompok yang saling menguatkan, saling menasehati, saling berbagi dan saling memberi semangat. Ia limbung, berbuat sudah tapi tidak sesuai dengan kenyataan. Andaikan ia dapat memutar waktu kembali kemasa kami berseragam putih abu. Maka ia tak akan pergi begitu saja menginggalkanku dan teman-temanku, terbuai ajakan dan rayuan pacarnya itu untuk menikah dan mengkandaskan cita-citanya untuk meraih gelar sarjana. Nasi sudah menjadi bubur. Jika dimasa itu aku sering menjadi tempat bertanya, maka untuk kali ini aku sendiri bingung harus berkata apa. Mungkin Gema, Bunga dan Sirna bisa memberi nasehat untuknya agar bangkit dan kembali memperbaiki diri. Tapi aku sendiri tak tahu dimana kini mereka berada !!!