Dosa Besar Saya

Posted on

Sambil menunggu waktu berbuka puasa kaka di sekolah, saya mengganti jok mobil atau tepatnya melapisi bagian luarnya agar bagian dalamnya tetap ori dan bersih. Namun ternyata waktu yang dibutuhkan cukup lama. Masuk tadi siang jam 2 dan kata pegawainya baru beres nanti malam bakda maghrib. Wal hal ada waktu 4 jam yang kosong dan tidak tahu harus melakukan apa. Bingung juga, seperti kata pepatah ‘menunggu itu adalah perkara yang paling membosankan’. Lantas apa donks ????

Tak jauh dari lokasi bengkel jok itu ada patch, warnet dengan standar yang cukup bagus lah untuk browsing bahkan download file dalam ukuran besar. Berhubung ini bulan puasa maka harus positif donks, bukan sekedar main games dan atau mendownload film box office. Yups… membaca, itu lebih positif. Maka beberapa portal koran online saya buka, banyak berita menarik yang up to date tersaji disana. Maklum lah di rumah TV lebih banyak dikuasai anak-anak, mulai dari disney junior, mnc kids dan sejenisnya. Tapi kemudian bosan juga, 2 jam membaca berita yang tidak jauh berbeda. Tempat pertama tentu adalah perkembangan real count KPU atu yang berhubungan dengan Pilpres. Tempat kedua adalah berita tentang ‘kesesatan’ Quraish Shihab, katanya sih yang nyebarin potongan video itu Jonru.. itu loh penulis indie yang terkenal itu (yang juga kader PKS katanya hehe..). Berita lainya adalah tentang jatuhnya pesawat Malaysia Airlines, hingga hal-hal remeh temeh lainnya semisal persiapan berbuka dan lain-lain.

Lalu apa yang ada di sosmed, ah… nggak jauh berbeda juga. Walau kali ini lebih baik, setidaknya banyak kawan yang membagikan link-link yang lebih kaya, baik itu seputar pilpres terutama sosok dibalik pembuat situs http://www.kawalpemilu.org (ainun najib) hingga beberapa ulasan tentang maksud Quraish Shihab tentang Nabi Muhammad dalam acara Tafsir Al-Misbah itu. Menarik juga sih ulasannya, dan menambah kaya pastinya.

Lalu kenapa saya tulis judul di atas dengan kata Dosa Besar?? Di sosmed seperti yang saya ceritakan di atas tidak ada kata itu. Atau itu ada hubungannya dengan bulan puasa ini? jawabanya tidak juga. Dosa besar yang saya maksud adalah kesalahan-kesalahan yang keapkali saya lakukan kepada anak-anak saya di rumah. Dan ini menjadi kebiasaan buruk, bahkan membuat prilaku mereka tidak semakin baik tiap harinya. Beruntung memang, memasuki jam 17.00 tadi ada kawan saya yang membagikan link Ayah Edi… pakar parenting dan founder indonesia strong from home itu loh yang dulu rajin mengudara di smart FM dan sekarang merambah juga ke TV berbayar (motivatalk MNC News klo nggak salah). Bermula dari kekeliruan OSpek atau masa MOS siswa yang sekarang lagi marak itu, hingga artikel-artikel lainnya yang sebenarnya sudah pernah saya baca tapi kemudian saya lupakan bahkan tidak mempraktekannya. Dan ini adalah bagian dosa besar itu kawan. Tentang bagaimana prilaku anak-anak kita yang hakikinya adalah refleksi dari sikap dan cara kita mendidik mereka di rumah.

Berikut adalah rubrik konsultasi dari Ayah Edi yang relevan dengan situasi saya (salah satuny tentunya) :

1003181_600278626690968_1448555090_nAyah Edi yg baik, aku punya anak usia 4 tahun, duh… gak pernah bisa diam, gerak terus setiap saat, kata orang2 Anak Hiperaktif, dah gitu anaknya cepat marah dan suka teriak2 jika sudah marah. Aku kadang sabar… tapi lama2 kepancing juga deh jadi marah akhirnya ya gitu…, gimana ya… ngatasi anak yg seperti ini..? please help me dong ayah..?
Nita – Surabaya

Bu Nita yg baik, mengapa harus diatasi? Justru Anda harus bangga karena anak-anak seperti ini mempunyai stamina kuat, termasuk fisik dan kemampuan berpikirnya. Kalau kita atasi, berarti kita melumpuhkan kemampuannya yang luar biasa itu.

Jadi yang tepat, bukan diatasi melainkan disalurkan. Kalau ke pusat perbelanjaan, ajaklah anak ke arena bermain yang memungkinkannya untuk bergerak. Begitu juga saat liburan tiba. Ajaklah ke taman, pantai, dan permainan outdoor, pasti ia akan senang sekali.

Dan ketika mencarikan sekolah untuknya, pilihlah sekolah alam karena lebih cocok dengan tipologinya. Kelak pun ia lebih tepat berkarir di luar ruang, mengingat dirinya tidak bisa duduk diam.
Ibu juga bisa menyalurkan energi berlebihnya dengan mendaftarkan anak ikut ekstra kurikuler yang memiliki banyak kegiatan luar ruang, misalnya bela diri, renang, basket, dan sebagainya. Atau, belikan mainan yang membuatnya aktif seperti sepeda dan bola.

Mengenai sifatnya yg pemarah, langkah pertama yang kita bisa lakukan adalah mengetahui apa yang menyebabkan anak marah. Penyebab kemarahan anak ada bermacam-macam, di antaranya: ada hal yang tak sesuai harapannya, orangtua yang ingkar janji, cemburu karena saudaranya lebih diperhatikan oleh orangtua, dipaksa melakukan sesuatu, dan meminta perhatian mungkin tanpa sadar kita terlalu sibuk di depan layar laptop, atau tak mau mengalihkan pandangan dari BB.

Jika sudah jelas penyebab kemarahannya, akan lebih mudah menyikapinya. Kalau ia marah karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, mintalah secara baik-baik agar anak melaporkan atau memberitahukan pada orangtua atau orang dewasa lain yang ada di rumah.

Anda bisa mengatakan, “Nak…. kalau nanti kereta apinya rusak, bilang sama mama, ya. Kalau kamu banting keretanya malah tambah rusak….”

Katakanlah pada orang dewasa di rumah yang membantu mengawasi anak, apakah itu pengasuh, kakek-nenek, atau kakak-adik kita, yang nantinya menjadi tempat anak mengadu permasalahannya, untuk memberikan respon positif dan cepat. Mintalah kepada mereka untuk tidak mengeluarkan komentar negatif, seperti yang bernada merendahkan atau meremehkan, misalnya,”Masa begini saja nggak bisa,” atau “Kamu payah, ah. Begitu saja nangis!”

Tetapi tanggapilah dengan kata-kata seperti, “Bagus, kamu sudah mencobanya, sekarang kesulitannya di mana? Coba sini Kakek lihat?”
Atau,”Coba ceritakan sama Mbak, kayak apa masalahnya? Nanti Mbak coba bantu.”

Berikanlah kesempatan pada anak untuk bercerita sampai selesai, jangan dipotong, menyalahkan, apalagi menyudutkannya. Anak bukanlah seorang terdakwa yang tengah disidang di pengadilan. ia merupakan sosok yang masih perlu belajar dan dibimbing, jadi wajar saja kalau masih melakukan kesalahan, atau sulit melakukan sesuatu.

Selain itu, jangan menunda memberi respon, karena menunggu satu menit saja, bagi seorang anak ibarat menunggu selama satu jam. Lama bukan?

Anak memang bisa marah apabila ada suatu kejadian yang tidak sesuai dengan harapannya. Jangankan anak-anak, orangtua pun bisa marah jika harapannya tidak tercapai, bukan?

Namun Bu Nita jangan lupa. Sifat setiap anak berbeda. Ada anak yang mengekspresikan kemarahannya dengan gamblang, sehingga orang di sekitarnya tahu ia sedang marah, tetapi ada juga yang tidak bisa mengungkapkan kemarahannya itu, sehingga membuat bingung orangtua.

Kalau ini yang terjadi, bu Nita bisa ‘membaca’ kemarahan itu dari bahasa tubuh dan gerak-geriknya. Misalnya tidak mau keluar kamar, mogok makan, selalu cemberut, atau menangis terus-terusan tanpa diketahui sebabnya. Di sinilah ibu dituntut untuk peka dan mencari tahu secara perlahan apa penyebab tingkah aneh si anak.

Mintalah ia bercerita, apa yang dirisaukannya, atau apa yang membuatnya marah. Kalau ia belum mau bercerita, jangan dipaksa. Tunggu anak tenang dan mau mengungkapkan kekesalannya. Kalau ia malah menangis, tunggulah hingga tangisannya usai, biarkan emosinya lepas dahulu, sehingga nantinya ia nyaman bercerita. Dampingi terus anak dengan penuh kasih sayang dan tidak memaksakan kehendak.

Ada juga penyebab anak marah, karena ia belum dapat berbicara dan berbahasa secara baik, sehingga merasa kesulitan mengungkapkan apa yang dimaksudkannya. Orangtua pun tidak memahami keinginan si anak. Kalau ini yang terjadi, mintalah anak sebisa mungkin mengadukan kesulitannya. Kalau pun sulit bicara, mintalah ia mencontohkan, atau membimbing tangan ibu melalui gerakan. Bagaimana pun ikatan emosional yang kuat akan memudahkan ibu memahami keinginan anak, meskipun ia memakai bahasa isyarat sekalipun.

Kunci berikutnya yang penting adalah bersabar. Anak-anak kita sedang belajar mengembangkan sistem emosinya, Jika ibu terbawa emosi juga, maka anak pun belajar memelihara amarahnya, bukan mengendalikannya.

Bagaimana, Bu Nita, mudahkan ? coba dulu dech nanti lama-lama akan terbiasa.

-ayah edi-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s