Month: June 2014

Ahok; mulai dari gagasan besar kota metropolis hingga babi (senarai singkat pertemuan anak gemala dengan Plt gubernur) – part1

Posted on

photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe...
photo ortu, guru bersama Ahok. Saya di ujung sebelah kanan hehe…

Tepat hari Kamis lalu saya menjadi pendamping anak-anak kelas 1, tempat dimana anak sulungku bersekolah. Kegiatan ini adalah kegiatan penutup di tahun ajaran ini. Kegiatan yang mungkin bisa dinilai berbeda dan cukup menarik, apalagi untuk anak kelas 1; mengunjungi balai kota dan bertemu dengan Plt Gubernur Jakarta Bapak Basuki Tjahya Purnama atau yang lebih akrab disapa dengan Ahok. Menurut Kepala Sekolahnya, seperti yang juga beliau utarakan di sessi pembuka pertemuan itu, kegiatan ini masuk kedalam tema pembelajaran ‘jakartaku’ dimana anak belajar mengenai daerahnya; untuk peka sekaligus peduli akan kota yang ditinggalinya. Bentuknya adalah dengan mengumpulkan karya-karya terbaik perwakilan dari kelas 1 Merapi dan Semeru dalam bentuk tulisan dan gambar mengenai permasalahan jakarta, disertai dengan tindakan pencegahan beserta solusi, tentunya khas anak-anak kelas 1 SD. Maka bisa dibayangkan betapa menariknya hal itu, bagaimana anak-anak bersuara tentang kotanya, permasalahannya hingga hal-hal lainnya yang bisa saja kita – selaku orang dewasa – dianggap sepele namun justru menjadi perhatian anak-anak, dan uniknya hal ini disampaikan secara langsung kepada pemimpin kota jakarta yang kita cintai, Gubernur DKI Jaya.

Jika saja Jokowi tidak nyapres, maka kemungkinan besar yang menerima rombongan SD Gemala Ananda ini adalah beliau. Namun belum tentu juga suasana secair kemarin. Ada sisi yang memang berbeda dari dua karakter pemimpin Jakarta ini. Jokowi yang khas dengan adat jawanya; kalem, lungguh dan sejenisnya dan Ahok yang cenderung ‘melaju kencang’ ceplas ceplos dan apa adanya. Dalam salah satu kesempatan di acara Mata najwa bahkan keduanya mengakui bahwa Jokowi cenderung menjadi rem bagi Ahok. Maka pertemuan yang diselenggarakan Kamis kemarin itu bisa jadi berbeda jika Jokowi yang menerimanya. Bukan dari sisi kualitas pertemuan tentunya, namun dari sisi gaya, terlebih gaya dalam penyampaian dan memperlakukan anak-anak. Maka Ahok berhasil dalam hal itu, membuat suasana santai dan bisa diterima anak-anak.

Kami sebagai orang tua, tentu menyambut baik kegiatan sekolah ini. Apalagi tidak semua orang tua dapat mendampingi dan hadir pada pertemuan itu. Hanya orang tua yang diundang secara khusus yang bisa mendampingi. Dan saya satu diantara sekian ortu yang beruntung itu. Walau mungkin juga karena keterlibatan saya sebelumnya dalam membukukan karya anak-anak itu menjadi sebuah buku yang menarik untuk kemudian disampaikan kepada Bapak Gubernur. Benar, sebulan sebelumnya ibu guru, khususnya guru kelas Merapi kelas anakku, meminta kesediaan orang tua untuk menjadi relawan ahli, atau konsultan graphis sekaligus tata letak/layouter buku dari karya anak-anak yang menurut rencana saat itu akan dibukukan dan disampaikan langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Gayung bersambut, di minggu itu saya memiliki waktu yang masih luang untuk membuatnya. Maka ajakan itu tidak lama untuk kemudian saya iyakan saja hehe….

Walau dalam perjalannya memiliki hambatan, namun proses demi proses yang dilalui membuahkan hasil yang baik (mengenai cerita dibalik pembuatan buku itu, akan saya ceritakan/tulis dalam judul yang lain … kalau sempat itu juga hihi…). Buktinya wujud fisik dari buku itu dinilai cukup estetik dan layak untuk disampaikan secara langsung kepada Plt Gubernur Jakarta. Alhamdulillah, orang tua yang lain juga menyukai hasil desain saya itu dan kabarnya lebih dari 40 orang tua juga turut memesannya kepada Sekolah (noted saya tidak mengambil royalti apapun dari hasil penjualan buku itu ya.. walaupun bisa aja meminta hehe….).

Back to meeting, acara itu berjalan cukup meriah, santai dan memberikan dampak yang positif, tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga guru dan audiens lain yang hadir disana (mungkin juga Ahok sendiri, setidaknya dia sempat berkelakar bahwa harus bersekolah lagi di Gemala haha…..). Sementara dampak bagi guru yang paling penting adalah ‘narsisme’ menemukan muaranya, yups apalagi kalau bukan poto-poto dan kemudian dipasang di media sosial; path, fb, twitter dan bb …… hehe… Sementara buat anak-anak, atau khususnya anakku sendiri,  dia dihapal namanya oleh Ahok ‘Farras awas kamu jatuh’… atau ketika dia berkata “yah si farras ngantuk tuh’ ….. hadeuh tuh anak sepanjang pertemuan duduknya paling nggak deh, kadang tumpang kaki, kadang bersila, kadang sedikit diangkat … padahal di atas kursi loh… emang gak bisa diem.

Ini yang serius ya ….. Dampak yang paling signifikan bagi anak-anak tentu baru terlihat kemudian. Namun setidaknya dari proses ini mampu memberikan wadah atau tempat bagi mereka untuk berkreasi, menempa kepercayaan diri, sedikit membuka wawasan politik (tentang hirarki kepemimpinan setidaknya) dan itu tadi peka dan peduli akan kota yang ditinggalinya. Bagi sekolah feedback nya lebih luar biasa, disamping pencapaian pada tema pembelajaran, namun juga sekaligus menaikan citra atau pamor sekolah dimata khalayak. Tidak hanya bagi para orang tua yang menyekolahkan anaknya disini, tapi juga masyarakat umum lainnya. Sebab tidak kurang dua media online turut mempublikasikannya; grup kompas khususnya seperti tribun dan portal kompas lainnya (terakhir saya juga mendengar liputan 6 SCTV dan NET TV). Sementara bagi pemprov sendiri tentu ini adalah jawaban dari proses keterbukaan dan demokrasi yang diagungkan itu. Sudah bukan jamannya lagi pimpinan/pemerintah menutup diri dan menjauhkan diri dari rakyatnya. Namun sebaliknya, membuka pintu seluas-luasnya terhadap aspirasi apapun yang berasal dari rakyat. Protokoler its oke, setidaknya ini untuk menghormati lembaga pemerintahan dan keamanannya, tapi esensinya adalah mengembalikan porsi, posisi dan fungsi birokrasi kepada khittahnya; sebagai abdi dari masyarakat. Dan proses ini lamat laun sudah dimulai saat ini. Good process… i think.

Lalu apa saja yang disampaikan anak-anak dan Ahok saat pertemuan itu? Lengkapnya bisa dilihat langsung pada rekaman video yang diunggah pemprov DKI sehari pasca pertemuan. Ini berita bagus juga. Sepak terjang Ahok (juga Jokowi tentunya) bisa disaksikan masyarakat umum melalui live report tim dokumentasinya. Bahkan di blog Ahok sendiri, secara rutin beliau selalu menyiarkan kegiatan dinas pemprov, termasuk kegiatan rapat dan hal lainnya yang bikin heboh itu; seperti marah-marah saat rapat dengan kepala dinas dan pejabat eselon lainnya hingga hal-hal kecil atau besar lainnya. Mungkin ini imbas dari kemajuan teknologi yang kemudian dimanfaatkan secara baik dan benar oleh kedua pemimpin jakarta itu. Dalam mata kuliah Birokrasi Indonesia yang saya ikuti dikampus, ini yang mungkin dinamakan sebagai reinventing government dan e-government itu.

Lalu kenapa ada babi??? Ah itu sebenarnya hanya untuk judul saja agar bombastis hehe… Tapi jangan antipati dulu kawan. Di sessi awal Ahok memang sempat membicarakan tentang gagasan besar kota metropolis Jakarta kedepan. Mulai dari pembangunan terpadu sarana transportasi publik (MRT dll), mekanisme atau regulasi pemakaian kendaraan pribadi hingga Babi sebagai satu dari sekian jenis binatang yang strukturnya paling menyerupai manusia. Persisnya saya lupa memang kenapa Ahok menyinggung babi dalam pertemuan itu. Namun menurutnya Babi adalah binatang yang paling sering dijadikan bahan penelitian medis. Banyak sudah obat, vaksin dan lain sebagainya yang melibatkan babi sebagai objek penelitiannya. Karena itu tadi, strukturnya yang paling hampir mirip dengan manusia, disamping tikus. Dan ini bukan sekedar isapan jempol, banyak sumber memang mengatakan demikian. Terlepas dari pandangan agama kita tentang haramnya babi, namun dari sisi manfaat binatang yang satu ini jelas memiliki andil bagi peradaban manusia. Lalu kemudian timbul pertanyaan, apakah mungkin Nabi telah salah memberikan label haram bagi binatang yang satu ini??? Emm.. pertanyaan yang kontroversial tentunya. Namun memang kepercayaan, khususnya agama bersifat taken begitu saja bukan? Hanya sedikit saja ruang yang bisa dipertanyakan. Selebihnya adalah tabu; sami’na wa atona, kami taat dan patuh. Sifat ini membuat agama menjadi tidak elastis, bahkan bagi sebagian orang tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Sementara dalam teori sosial perubahan itu sendiri adalah keniscayaan. Postulat sederhana memang merumuskan bahwa semestinya bukan agama yang menyesuaikan dengan jaman, tapi sebaliknya jaman lah yang harus menyesuaikan dengan agama. Ini ibarat ayam dan telor, muter-muter nggak berujung. Dua-duanya bisa benar, tapi juga bisa salah. Sebab secara konteks agama lahir jauh ribuan tahun lalu yang bisa saja secara aplikatif sudah usang. Jika dihadapkan dengan situasi kekinian dalam kerangka postulat itu maka agama menjadi tumpul, tidak mampu menjawab jaman. Hingga kemudian ada pendapat bahwa pengertian universalitas agama itu terletak pada esensi, bukan pada simbol dan tataran aplikatifnya, sebab konteksnya jauh berbeda. Tapi yaa.. sudahlah membicrakan hal ini tidak akan ada ujungnya, bisa jadi malah melahirkan debat kusir hingga melahirkan pedang dan parang .. maap yah … (apalagi yang gemar memakai sor*** itu, belum apa-apa sudah serang, bakar, habisi… you know lah siapa).

Last but not least, tulisan ini akan menyambung di bagian kedua hehe… sebelum lupa berikut adalah poto bersama Ahok dan beberapa halaman dari buku yang saya buat itu : cekidot

desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)
desain cover revisi akhir (masukan dari kepala sekolah agar memasukan gambar hasil karya anak-anak)

 

susunan tim penyusun buku
susunan tim penyusun buku

 

ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
ini salah satu karya anak kelas 1 merapi (anakku nih .. kakak farras)
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
bentuk surat yang ditulis oleh anak-anak
sampul belakang buku
sampul belakang buku

*bersambung

Advertisements