Month: April 2014

Diskusi dan Tugas Kuliah; Masalah yang paling krusial dari wajah Birokrasi Kita

Posted on

bicara birokrasi, Indonesia memang juaranya !!!
bicara birokrasi, Indonesia memang juaranya !!!

Masalah Pokok :

Menurut saya , sedikitnya ada dua masalah pokok birokrasi kita saat ini :

1. Mental
Dari sisi mental atau psikologis, birokrasi kita sebagian masih terjebak pada pola pikir ‘dilayani’ bukan melayani masyarakat. Hal ini setidaknya terlihat mulai dari ujung tombak terbawah birokrasi, semisal Desa dan atau Kelurahan. Watak ini mungkin melembaga dan amat sulit dihilangkan dan hampir merata di sebagian besar daerah di Indonesia

2. Budaya
Pewarisan budaya khususnya budaya ‘keliru’ yang kemudian ditularkan dan diwariskan kepada setiap generasi. Mulai dari jam kerja yang longgar, aturan disiplin yang rendah, praktek suap, kolusi dan mark up proyek (khususnya yang melibatkan pihak ke-3). Hal ini dirasakan semakin merata di semua daerah, terlebih pasca OTDA yang memberikan kewenangan kepada masing-masing daerah menyelenggarakan pemerintahan.

Solusi

Solusi masalah tersebut terkesan memang rumit, ibarat mengurai benang kusut harus memulai dari mana. Ada satu teori ekstrim yang menyatakan bahwa pewarisan generasi itu bisa dihentikan dengan cara revolusi, dalam hal ini adalah memotong alurnya dengan cara menghabisi generasi tua birokrasi. Akan tetapi tidak mungkin hal ini terlaksana mengingat jumlah para birokrat kita yang rata-rata berusia di atas 40 tahun keatas. Hal logis yang masih bisa dilakukan adalah dengan perbaikan sistem dan rekrutmen pegawai, tidak hanya pegawai baru tetapi yang lebih utama adalah rekrutmen pucuk pimpinan birokrasi.

Perbaikan sistem ditandai dengan revisi UU tentang kepegawaian, pengawasan dan punishment yang konsisten terhadap pelanggar. Lalu pucuk pimpinan tidak kalah pentingnya. Sebab selama ini ditengarai pemilihan pimpinan, baik itu kepala seksi, kepada biro, kepala direktorat, kepala dinas dan seterusnya marak suap, dan ada unsur like and dislike bukan kepada penilaian objektif dari kinerja dan skill yang dimiliki. Jika dua hal ini mengalami perbaikan, bukan tidak mungkin dalam 5 sampai 10 tahun kedepan wajah birokrasi kita berubah ke arah yang lebih baik.

Mencoblos, itu rahasia donks … !!!

Posted on

Hari ini tepat tanggal 09 April euforia perhelatan demokrasi di negeri kita dimulai. Hampir setiap pelosok TPS ramai dikunjungi orang. Menyalurkan hak politik katanya…. mmm… manis terdengar memang, Hak Politik, sepertinya ada yang akan diperoleh kelak, … tentu saja karena kita berbicara hak kan ?? bukan kewajiban ???

Ingatan pun terbayang pada beberapa istilah, tepatnya dalam mata kuliah Metodologi Ilmu Pemerintahan yang tengah saya ikuti semester ini. Dalam model dua ada istilah tentang hubungan antara pemerintah dengan rakyat, kepercayaan dan janji. Mungkin momentum nya tepat dengan masa PEMILU seperti saat ini. Dimana janji-janji dengan mudah diobral dimana-mana, lalu rakyat pun dengan kepercayaan tinggi berduyun-duyun ke TPS memilih sang pengobral janji itu. Lalu kemudian ketuk palu dan Mr. X lah yang kemudian berhasil mewakilinya melenggang menuju dewan.

Rutinitas kemudian menjadi menu sehari-hari. Rakyat berkutat dengan masalah hidupnya masing-masing, dan para wakil terpilih pun demikian. Sibuk kasak kusuk mencari proyek, putar otak memilih rekanan yang bisa memberi prosen lebih besar, dan lain-dan lain (silahkan anda isi sendiri hehe…).

Begitulah wajah demokrasi yang kita kenal, setidaknya beberapa waktu belakangan ini. Hingar bingar politik lebih terlihat pada tataran elit. Kebijakan yang mewakili kepentingan rakyat kecil sunyi senyap, nyaris tak terdengar. Baru kemudian ramai kembali ketika menjelang PEMILU di lima tahun berikutnya. Oooh… sungguh tak terperi.

So…. sudahkah anda mencoblos hari ini??? Saya…. mmmm itu rahasia donks…..

Kebiasaan Menunda

Posted on

time differentMasalah kecil kadang bisa jadi hebat ya!! Seperti tadi pagi, kebiasaan menunda bangun ternyata berakibat fatal. Kondisi jalan yang tidak bisa diprediksi turut membuat murka. Nyaris saja sampai di sekolah jam 8 pagi, yang artinya lewat dari batas waktu masuk anak-anak sekolah. Masih saja ada pak untung lewat, jadi belum ditutup itu pintu gerbang oleh Satpam. Makasih pak untung … !!!!!!

Kebiasaan menunda ini memang harus dibasmi. Sebab menunda-nunda melahirkan sikap enteng, terlalu santai dan tidak disiplin. Seperti kata Covey, sang maestro Habbits itu loh ….. karakter itu terbangun dari kebiasaan. Kebayang jika kebiasaan buruk yang ditanam maka karakter yang muncul seperti apa??

Menunda-nunda ini memang kadang menjadi kebiasaan dari dulu. Hayoo coba siapa yang mengerjakan tugas paper saat kuliah di awal??? jarang rasanya seperti itu. Alih-alih dikerjakan, biasanya kita suka menunda … ‘ah masih satu minggu lagi kok dikumpulkan’ …. Padahal jika dikerjakan lebih awal tentu lebih bagus, minimal kita jadi tahu waktu senggang kita ke depan. Dan membuat perencanaan aktivitas lainnya.

Kebiasaan menunda ini ternyata bisa menjalar dari satu perbuatan ke perbuatan lainnya. Hingga kemudian melekat menjadi mindset… ini yang bahaya. Tidak hanya dalah perkara tugas, tapi juga melekat kedalam kehidupan keseharian. Beruntung orang yang masih menyadari bahwa kebiasaan ini tidaklah bagus, dan harus diubah. Namun celaka bagi seseorang, ketika ia terlena, lupa dan berkawan baik dengan kebiasaan menunda ini, hingga tak menyadari bahwa hal itu berdampak buruk dan menggerogoti dirinya.

Mari belajar membuka diri, mengubah dan menanamkan hal baik kedalamnya []

Hello Ghost ; Nonton Lagi ….

Posted on

posterCerita dimulai dengan adegan sang pemuda yang merasa depresi. Dia merasa tak seorang pun peduli padanya. Tidak ada yang menemani, tidak ada keluarga yang mengasihinya, dan tidak ada seorang pun yang mencintainya.

Dalam kondisi depresi itulah dia menenggak puluhan butir pil yang menyebabkannya ditemukan dalam kondisi “antara hidup dan mati”. Dalam kehidupan nyata mungkin inilah yang dinamakan mati suri.
Ketika tersadar, dia sudah di rumah sakit. Di situlah adegan unik dan lucu terjadi. Dia bertemu empat hantu yang berbeda karakter. Hantu pertama, seorang lelaki dewasa berperawakan gemuk dan selalu tampil perlente dengan setelan jas dan dasi. Hantu kedua seorang lelaki tua yang suka menggoda perawat perempuan di rumah sakit itu. Hantu ketiga seorang perempuan dewasa yang terpergok sedang menangis di dalam lemari psikiater. Sementara hantu terakhir seorang bocah yang dikesankan nakal dan tengil.

Panik menghadapi kenyataan dia bisa melihat hantu, sang pemuda mendatangi “orang pintar”. Menurut sang dukun, pemuda itu mampu melihat hantu karena dia sempat mati dan hidup lagi. Pada saat kembali ke dunia, dia membawa serta beberapa hantu bersamanya. Itu sebabnya dia bisa melihat hantu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Akhirnya sang pemuda pasrah menerima kehadiran empat hantu yang selalu membuntuti kemanapun dia pergi. Ketika pemuda itu bertanya mengapa keempat hantu itu memperlihatkan diri kepadanya, para hantu mengatakan mereka ingin meminjam raga sang pemuda untuk menyelesaikan persoalan yang belum selesai ketika mereka masih hidup dulu.

Tidak berdaya melawan, pemua itu lalu pasrah “meminjamkan” tubuhnya kepada keempat hantu tersebut. Syaratnya, jika persoalan para hantu itu sudah selesai, mereka harus pergi dan tidak lagi mengganggu kehidupan sang pemuda.

Sejak saat itu, di mata tetangga dan kekasihnya, tingkah laku pemuda tersebut berubah aneh. Bahkan kekasihnya mencurigai sang pemuda memiliki lima kepribadian. Pada saat tertentu dia menjadi seorang pemuda, kali lain berubah menjadi orang dewasa, dan pada waktu lain bertingkah laku seperti orang tua, anak-anak, bahkan perempuan.
Sulit bagi pemuda itu untuk menjelaskan bahwa badannya sedang dipinjam oleh para hantu. Sebab ketika di rumah sakit, dia sudah “divonis” gila ketika mengatakan ada “orang-orang” yang selalu membuntutinya. Maka jalan yang paling aman adalah menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keberadaan para hantu itu.

Adegan berikutnya semakin menarik. Dengan meminjam badan pemuda itu, masing-masing hantu mulai berusaha menyelesaikan persoalan mereka. Hantu pria dewasa mengatakan dia ingin mengambil kembali taksi miliknya yang saat ini disimpan di sebuah tempat penyimpanan mobil-mobil bekas, yang dijaga oleh seorang laki-laki pemarah.
Sementara hantu pria tua, ingin mengambil kembali sebuah kamera di kantor polisi yang “disimpan diam-diam” oleh kepala polisi di laci meja kerjanya. Sementara hantu perempuan yang selalu menangis, mengatakan cuma ingin agar dia bisa makan bersama dengan orang-orang yang dia cintai. Lalu apa keinginan hantu cilik? Dia ingin menonton film animasi tentang robot.

Maka, dengan segala upaya, sang pemuda mulai menjalankan misi guna memenuhi keinginan keempat hantu itu. Bergantian para hantu itu menggunakan raga sang pemuda. Akibatnya, tingkah laku sang pemuda menjadi aneh di mata tetangga dan kekasihnya.

Singkat cerita, semua keinginan keempat hantu itu akhirnya terpenuhi. Maka, sesuai perjanjian, sang pemuda meminta para hantu itu segera pergi dan tidak lagi mengganggu kehidupannya. Setelah itu sang pemuda merasa kembali menjadi dirinya sendiri. Kembali hidup “normal” tanpa diganggu para hantu yang selama ini selalu mengekor kemanapun dia pergi.

Pada satu siang, sang pemuda bertandang ke rumah sakit tempat sang kekasih bekerja untuk makan siang bersama. Dengan ceria dia memperlihatkan bekal yang dibawanya dari rumah. Bekal itu berisi Kimbap buatannya. Tanpa sadar, keterampilan memasak Kimbap diperolehnya saat hantu perempuan meminjam raganya.
“Kimbap buatanmu enak sekali. Tetapi biasanya orang tidak memakai daun peterseli kalau membuat Kimbap,” ujar sang kekasih saat mencicipi makanan buatan sang pemuda.

“Kata ibuku daun peterseli lebih baik ketimbang bayam,” ujar sang pemuda spontan. Usai mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba wajah sang pemuda berubah. Untuk sesaat dia terkesiap. “Peterseli baik untuk kamu ketimbang bayam.” Ucapan ibunya kembali terngiang-ngiang. Tiba-tiba raut muka ibunya muncul begitu jelas. Raut wajah yang selama ini tidak mampu diingatnya. Kini raut wajah, dengan pakaian bergaris-garis itu begitu nyata. Begitu jelas.  Sang pemuda terhenyak. Makanan di mulutnya tak sanggup ditelannya. Wajah itu, wajah itu, wajah hantu perempuan yang selalu membuntutinya!

Dengan mulut masih penuh makanan pemuda itu lalu berdiri dan berlari menuju rumahnya. Teriakan sang kekasih yang memanggil namanya tidak dia hiraukan. Dia terus berlari. Nafasnya kembang kempis. Antara menahan tangis dan mengatur nafas. Sementara air mata mengalir deras dari kedua matanya.

Pada saat berlari itulah satu demi satu kenangan masa kecilnya tersibak. Masa lalu yang selama ini gelap gulita. Itu sebabnya dia tidak mampu menjawab pertanyaan sang kekasih, “Siapa sebenarnya kamu ini?”
Dia juga tidak mampu menjelaskan asal-usul dan sejarah keluarganya. Selama ini dia hanya merasa hidup sebatangkara. Tanpa keluarga dan tanpa kasih sayang orangtua. Juga tanpa sanak saudara. Dia juga tidak tahu siapa dia sebenarnya. Semuanya serba gelap.  “Ingatan bisa hilang karena seseorang mengalami benturan keras,” ujar sang kekasih yang perawat, suatu ketika.

Kata-kata sang kekasih kini mendapat makna. Sembari berlari, kenangan-demi kenangan masa lalu menyeruak dalam ingatannya. Kini dia mulai ingat. Hari itu ayahnya pulang membawa taksi berwarna kuning cerah. Wajahnya ceria. “Ayo, kita piknik ke pantai,” teriak ayahnya.
Seluruh keluarga tampak bahagia. Ibunya, kakak laki-lakinya, dan kakeknya bersuka cita. Bahkan sang kakek meminjam kamera tetangganya dan berjanji akan mengembalikannya. “Aku akan mengembalikannya sebelum kamu mati,” ujarnya sembari tertawa.

Satu per satu kenangan itu semakin jelas. Sembari terus berlari, ingatan sang pemuda kembali ke peristiwa demi peristiwa yang terjadi sekian tahun lalu, ketika dia kanak-kanak. Dalam perjalanan menuju pantai, taksi yang disupiri sang ayah diseruduk sebuah truk dari belakang. Mobil terguling berkali-kali ke jurang yang terjal. Dalam kecelakaan itu semua tewas. Hanya dia yang selamat.

Sejak saat itu dia tidak ingat apa-apa. Benturan keras akibat kecelakaan itu membuat dia kehilangan memori akan kejadian yang merenggut seluruh orang-orang yang dia cintai.

Hantu pria dewasa yang selalu berpakain perlente, sang supir taksi, mulai diingat sebagai ayah yang menyayanginya sewaktu kecil. Hantu pria tua itu kakeknya. Sedangkan hantu anak kecil tidak lain kakak kandungnya. Sementara hantu wanita yang selalu menangis adalah ibu yang begitu mencintainya.

Sejak tragedi itu sang pemuda hidup sebatangkara tanpa mengenal dan mengingat siapa orangtuanya. Tak mengenal siapa keluarganya. Dia tumbuh dalam kesepian dan tanpa kasih sayang keluarga. Semua itu membuatnya depresi. “Setiap Hari Anak, orang-orang yang berbeda datang dan pergi. Tetapi tak seorang pun yang mengingatku, memanggil namaku,” keluhnya, mengenang nasibnya sebagai anak yatim piatu. Perasaan terbuang itulah yang membuatnya berusaha mengakhiri hidupnya dengan menelan puluhan butir pil, yang membuatnya mati suri sebelum bertemu empat hantu.

Semua kenangan tentang ayah, ibu, kakak, dan kakeknya tiba-tiba muncul begitu saja. Semua gara-gara Kimbap yang siang itu dimakannya bersama sang kekasih. Makanan itu seakan menjadi pintu masuk untuk menjawab pertanyaan “Siapa sebenarnya aku ini?”.

Dia baru menyadari, ternyata keinginan hantu-hantu itu untuk menyelesaikan “persoalan” yang masih mengganjal dalam hidup mereka, semua bermuara dan berkaitan dengan dirinya.  Sang kakek waktu itu ingin memotret cucu kecilnya. Sang ayah pernah berjanji akan mengajari sang pemuda berenang di laut. Sang ibu pernah ingin ditemani ke pasar jika dia sudah dewasa. Sementara sang kakak pernah berjanji akan mengajak sang adik menonton film animasi robot. Janji itu dia ucapkan setelah mereka gagal nonton film karena waktu itu uang sang kakak dirampas anak-anak bengal.

“Adikku, ingatkah kamu dulu waktu masih hidup aku pernah berjanji akan mengajakmu nonton film animasi?” Ujar sang hantu kecil, di ujung film. “Aku meninggalkan itu untukmu,” sambung hantu kecil sembari menunjuk boneka robot di atas meja di sudut kamar sang pemuda. Tetapi, apa lacur, dia baru saja mengusir semua hantu itu dan meminta mereka tidak “mengganggunya” lagi.

Sesampai di rumah, sang pemuda berteriak memanggil-manggil para hantu yang selama ini dianggap sudah merusak hidupnya. “Jangan tinggalkan aku lagi,” ujarnya sembari terisak. “Jangan pergi”. Pada adegan ini, air mata saya yang sejak pertengahan film sudah mulai membasahi pipi, tumpah ruah tak terbendung. Dada rasanya sesak. Saya larut dalam perasaan sang pemuda:  hidup kesepian, ketakutan, tanpa kasih sayang orangtua, dan perasaan tidak dicintai.

Saya membayangkan berapa banyak anak-anak yang nasibnya seperti pemuda itu. Anak-anak yang oleh berbagai sebab tumbuh tanpa kasih sayang orangtua dan keluarga. Anak-anak yang merindukan belai kasih dan rasa aman namun tidak mendapatkannya

*ps : nunggu remake versi hollywoodnya kayak gimandra yak ???

 

Manyun

Posted on

ImageManyun biasanya suka kita lakukan saat nggak mood. Manyun diartikan sebagai suatu kondisi tubuh mengkerut, lemas, dengan mimik muka memelas dan bibir condong ke depan. Pikiran yang lahir dari aktivitas manyun ini adalah pikiran negatif. Ibarat kata orang raga yang sehar menumbuhkan jiwa dan pikiran yang sehat pula. So… untuk apa bermuram durja,diam di sudut ruangan dan menyesali nasib. Sesungguhnya gesture, mimik dan cara berjalan menentukan pembawaan. Cobalah tersenyum sedikit, gerakkan muka anda perlahan, bisikkan kata positif kedalam diri…. ‘ayo saya bisa’ … ‘ayo lakukan sekarang’… ‘ayo jangan menunda’ …. ‘ayo selesaikan’…. ‘ayo lebih baik lagi’ ……… niscaya aura positif itu kembali datang menghampiri. 

Mood kadang tidak diundang tapi datang….. tiada cara yang lebih baik selain mengusirnya dengan apa yang bisa dilakukan, mulai dari hal terkecil tadi. Tersenyum, gerakkan muka, tegapkan badan…. ceerrrrsss…. cerialah. Positif…. chayyooo