The Last Day On March ; Business Day

Posted on

Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya :-)
Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya šŸ™‚

Tidak banyak memotret saya kali ini. Walau dekorasi sudah dibuat bagus sedemikian rupa, pun juga demikian dengan anak-anak. Tak terkecuali si Kaka, Fafa paling besar, special rok batiknya dijahit dua hari lalu, pake acara nyelak lagi… jadi lebih mahal gitu ongkos jahitnya daripada biasa. hehehe…

Senang, riang dan riuh begitulah kira-kira gambaran acara di Sekolah Kaka hari ini. Tajuknya adalah Business Day, acara yang rutin dilakukan setahun sekali yang melibatkan seluruh siswa-siswinya, mulai dari memasak, mengolah bahan, membuat kriya tangan sampai menjualnya di puncak hari H; ada yang terlibat sebagai penjaga stand, marketing dan seterusnya.

Namun demikian, pengalaman sebagai penjual (penjaga stand) sebenarnya bukanlah pengalaman pertama bagi Kaka. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dulu ia sering kuajak ke beberapa tempat atau outlet tempat Usaha Minumanku berjalan. Seperti di petukangan dan pondok aren. Dua tempat ini pada awalnya kujaga bergantian dengan sahabat karibku. Maklum saja, hari pertama buka belum ada informasi pegawai yang mau bekerja maka harus kujaga langsung. Nah saat itu usianya belum genap 6 tahun, aktivitas pagi biasanya dihabiskan di PAUD dan atau belajar Iqro. Barulah di sore hari kuajak ia langsung berjualan, mulai dari membuka booth, menyiapkan teh seduh, hingga mendisplay barang rutin kami lakukan, setidaknya di minggu awal usaha itu berjalan. Minggu-minggu berikutnya paling hanya kontrol saja karena sudah ada dua pegawai yang bekerja.

tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya
tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya

Berbicara tanggung jawab dan ketelitian, sebagaimana hal itu dimaksudkan juga di acara Business Day kali ini, Kaka mendapatkannya pertama kali di waktu dua tahun lalu itu. Ia sering kali membantuku menyiapkan cup untuk kemudian ku sealer lewat mesin pemanas, atau menjajakan banner sebagai sarana promosi sekaligus menjajakan dengan cara berteriak (nggak jelas) dan menawarkan dengan lembut kepada calon pembeli. Pengalaman ini tentu berkesan untuknya, maka ketika pertama kali kutanyakan padanya apa tugasnya di Business Day kali ini, dengan lantang kemudian ia jawab sebagai penjaga stand minuman (jus kacang ijo) ….. ah sudah barang tentu bisa ia lakukan. Toh dulu pun seperti itu.

Sowan dengan Ortu Yang Lain

Awalnya sedikit canggung juga, bagaimana memulai untuk berkenalan atau sekedar bersilaturahmi untuk yang sudah mengenal lewat pertemuan sebelumnya. Namun lamat laun suasana cair dengan sendirinya, beberapa diantara kami bahkan bertegur sapa terlebih dulu. Ceritapun mengalir, mulai dari aktivitas sehari-hari, pekerjaan, kebiasaan anak dan lain sebaginya. Diantara sekian percakapan itu, terselip bahasan tentang Sekolah. Bagaimana perubahan terjadi setelah sekian bulan anaknya bersekolah disini. Trend nya mengarah ke positif. Dan obrolan pun berlanjut ke masalah kurikulum, gaya mengajar hingga batasan anak untuk terlibat dan tidak dalam setiap pembelajaran.

Memang jauh bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan bagaimana kita dididik dahulu, baik itu di rumah … apalagi di sekolah (sekolah negeri biasanya). Kesempatan siswa untuk berkreasi, menumpahkan ide, bermain amat sangat terbatas. Lebih banyak titah ini dan itu, apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak. Hampir semua top down. Maka sekolah tidak lagi memberi rasa aman saat itu, wajah pendidikan yang ramah seolah berubah menjadi sangar dan tidak lembut untuk kita, peserta didik. Namun dengan kondisi demikian, kita tetap mampu bertahan. Ditengah stressing demikian, toh sebagiannya malah bisa menjadi juara kelas dan mendapat penghargaan.

wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe....
wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe….

Yups…. itu dulu, kini wajah itu berubah 180%. Untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab dan ketelitian bisa dilakukan dengan beragam aktivitas. Tidak melulu teksbook yang membosankan itu. Target pun dipasang tidak dengan cara membebani siswa, namun bagaimana pencapaian itu dilakukan bersama, guru, siswa dan juga orang tua. Artinya terjadi kombinasi yang sinergis antara sekolah dan rumah. Pun demikian dengan penilaian, jika dulu eksakta menjadi raja ditengah singgasana agung, maka kini sejalan dengan penemuan multiple intellegence, penilaian itu lebih fair dengan melihat anak/siswa secara utuh dan manusiawi. Sebab bukankah tujuan paling luhur dari pendidikan itu adalah memang Memanusiakan Manusia ?????

28 Maret 2014

-ditulis sambil ngerjain kuliah online-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s