Mengukur Sejauh Mana Materi Yang Sudah Dibaca Dipahami

Posted on Updated on

Perjuangan memang belum usai. Dari 5 materi mata kuliah yang saya ikuti pada semester ini, baru 4 yang tuntas dibaca dan diikuti. Sementara sisanya, yaitu statistik sosial, masih belum… atau tepatnya belum berani mengikuti, membaca apalagi mengerjakan tugasnya hehe…. entahlah apa materi statistik ini sebegitu menyeramkannya????? samakah dengan pelajaran Akuntansi yang dulu kuterima semasa duduk di sekolah menengah???

Aneh memang, semasa SD dan SMP mata perlajaran berhitung atau eksakta rasanya saya jadikan kawan seiring sejalan. Bahkan masih segar dalam ingatan, bagaimana kawan-kawan semasa SD dulu begitu menjagokan saya jika sudah berhubungan dengan matematika dan kawan sejenisnya. Tak ada PR yang tak bisa saya tuntaskan, dan tak ada papan tulis yang tak bisa kukerjakan jika Pak Guru menyuruhku ke depan. Pun demikian saat SMP. Tak percuma juga memang jika peringkat kelasku tidak pernah keluar dari 3 besar di kelas.

Tapi masa indah itu segera berlalu. SMA adalah masa terkelam dalam sejarah eksak-ku. Guru yang tidak menarik, bosan dan pelajaran yang makin rumit, juga tidak bermakna itu…. membuatku malas… semalas-malasnya. Maka wajar jika pada saat pembagian raport kelas 2 wali kelas memberi ultimatum, bahwa peringkatku adalah paling buncit. Jika tidak segera berubah maka akan tinggal kelas, atau paling banter masuk kelas IPS. Dan waktupun berlalu, IPS adalah destinasi paling adil. Tema sosial memang menjadi favoritku saat itu, entahlah kurasa terasa aktual saja dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, kecuali yaa… akuntansi itu hehe….

Syahdan kemudian aku menjadi singa panggung, sederet diskusi dan penugasan tuntas terlaksana. Peringkatpun mulai membaik, menembus ke skala 5 lalu 3 di caturwulan 3. Sungguh perjuangan yang tidak sia-sia.

Mengukur

Materi semester ganjil di tahun 2014 ini, banyak bersinggungan dengan pemerintahan… (ya iyalah wong ngambil jurusan itu kan hehe…). Dari keempat materi awal yang sudah kuikuti, sedikitnya ada benang merah yang ingin kutulis disini. Pertama adalah berkaitan dengan teori perubahan sosial. Dinamikanya cukup luas, terbuka dan terkini. Gagasan-gagasannya tidak berhenti pada teori klasik hingga modern, bahkan kini hingga neoklasik dan neomodern. Lalu kemudian juga dikenal ada Teori Evolusi, seperti evolusi intelektualnya Comte, konflik (marx), fungsional dan siklus. Di era modern pun banyak berlahiran teori baru, sebut saja Parsons, Ogburn dan Dahrendorf. Menarik memang membaca kembali ‘perubahan sosial’ yang tak pernah usang dan terus terjadi. Bagaimana perubahan itu terjadi pada pikiran secara perlahan (comte), lalu merubah struktur kelembagaan (soemardjan), didasari oleh semangat perubahan spiritual lalu menjadi masyarakat organis fungsional (weber) atau dilandasi oleh semangat pertentangan ekonomi (marx) semuanya terjadi. Hanya cara pandang saja yang membedakannya.

Di era kini, perubahan sosial juga turut dipacu oleh kehadiran teknologi. Sebagaimana kita tahu bahwa teknologi telah memudahkan manusia melakukan sesuatu. Melalui teknologi kita mampu mencipta sekaligus diciptakan oleh mesin-mesin yang kita ciptakan sendiri. Bagaimana perubahan komunikasi berlangsung begitu cepat, yang memengaruhi cara pandang masyarakat modern. Tentunya perubahan yang dimaksud haruslah bertujuan mempermudah manusia mencapai tujuannya, yang juga memiliki rasa keadilan, empati dan visi yang baik.

Dalam materi kuliah yang lain, lagi-lagi bersingungan dengan pemerintah. Kali ini bagaimana fungsi dan peran organisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Birokrasi atau yang kemudian disebut sebagai organisasi pemerintahan terlahir karena kompleksnya kehidupan bermasyarakat. Dan demi tercapainya tujuan bersama itu, maka lahirnya organisasi pemerintahan. Namun kenyataannya jauh panggang dari api, bagaimana prilaku birokrasi itu yang memakan tujuan luhurnya sendiri. Menghianati perannya sendiri, yaitu sebagai abdi dan pelayan masyarakat.

Adapun dua materi terakhir, kali ini lebih filosofis, lebih dalam dan esensial. Tentang bagaimana hakikat, dan manfaat kegunaan ilmu, khususnya ilmu pemerintahan. Dan tentang bagaimana organisatoris pemerintahan memenuhi suply dan demandnya dalam bingkai manajemen yang modern dan baik. Tentu harus melalui perencanaan yang ditindaklanjuti dengan aksi yang tepat guna dalam kerangka manajemen logistik pemerintahan yang profesional. Sehingga mutu dan pelayanan kepada masyarakat tidak terabaikan, sesuai dengan hakikat dari ilmu pemerintahan itu sendiri yang memiliki nilai guna pada wilayah aksiologisnya.

” lumayan buat ngerefresh materi yang sudah dibaca”

– Karang Tengah, 4 Maret 2014 –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s