DESTROYER DAN BOOSTER DIRI

Posted on

Mungkinkah penyebab rasa rendah diri itu karena self image yang rusak?

Cara ketika memandang diri sendiri yang tidak semestinya?

 

Ketika bicara mengenai paradigma maka hal itu menentukan bagaimana cara kita memandang dunia, hal eksternal yang terlihat oleh mata dan pikiran. Bentukan cara memandang itu adalah hasil olah pikiran, yang dipadu padankan dengan laiknya koki yang tengah memasak, mencampur bumbu, bahan pokok, rempah dan seterusnya. Hasil olahan makanan itu bergantung kepada sejauh  mana koki itu mampu meramu dan menyatukannya. Pengalaman juga turut memberi andil sejauh mana cita rasa yang ada mampu disajikan dengan baik. Pun demikian cara kita memandang sesuatu, hasil indrawi yang kemudian dipersepsi. Bahannya tentu adalah pengetahuan, rasa/emosi dan insting. Oleh sebab itu hasilnya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Bahan dasar yang berbeda, pikiran berbeda dan koki yang tidak sama tentu membuat masakan bernama paradigma itu berbeda.

Jika paradigma itu berkait erat dengan dunia eksternal lantas bagaimana dengan keadaan internal, yang juga bisa dirasai oleh indra, dilihat dan dipersepsi melalui citra diri. Akankah mampu membuat pribadi menjadi utuh ketika paradigma lahir dari citra diri yang mumpuni dan baik. Atau keduanya sama sekali tiada berhubungan.

Persepsi diri amat sangat diwarnai oleh self image, tentang bagaimana melihat, merasai dan menafsirkan diri sendiri. Baik buruknya ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengenal kedalaman diri. Pengetahuan tentang hal ini tentu menjadi kekayaan dalam proses kelolanya. Pengetahuan didapat dari sederet pengalaman melalui penelaahan intrinsik terhadap diri, dan ekstrinsik berupa feedback lingkungan sosial dan materi ilmiah dari pendidikan formal dan maupun informal. Penelaahan intrinsik dilakukan dengan melakukan pendalaman terhadap diri, kata hati, dan penilaian terhadap aktivitas pribadi. Penilaian berbeda dengan penghakiman, ibarat proses dan hasil. Penghakiman adalah proses yang sudah berhenti dan mewujud kedalam skala akhir, sementara penilaian adalah hasil sementara yang masih bisa diproses, sehingga masih terbuka akan input baru, kritisi dan sekaligus muara yang tidak tunggal.

Pengetahuan ekstrinsik tentu menjadi pengaya yang baik ketika proses penelaahan instrinsik terlalu sempit, baik itu karena depresi, stress, keragu-raguan dan rendah diri sehingga tidak mampu menghasilkan penilaian pribadi yang luas dan objektif. Pengalaman yang didapat orang lain adalah salah satu contohnya. Dimana kita mampu mengkomparasikan sekaligus menarik rentang jarak yang cukup dekat dengan diri sendiri, akan hal seperti baik dan buruknya melakukan A dan B sekaligus wujud konklusinya berupa tindakan yang masih dapat dilakukan kembali atau harus berhenti karena tidak memberikan manfaat terhadap diri. Lingkungan pergaulan sosial menjadi salah satu elemen penting dalam hal ini. Dimana input menjadi lebih berwarna melalui interaksi yang dinamis dan proses komunikasi yang saling bertukar arah; menjadi komunikan atau komunikator bahkan keduanya dilakukan bersamaan.

Self imaga yang utuh hampir bisa dikatakan mustahil terlahir sempurna, namun upaya yang baik setidaknya mampu mendekatinya. Harapannya adalah menjadi booster yang baik untuk proses development image atau pembangunan kepribadian yang baik. Sehingga dalam titik nadir sekalipun, diri mampu mengangkat citranya sendiri dan bangkit untuk menumbuhkan kepercayaan diri kembali. Melakukan ini dan itu secara mandiri, bebas tanpa pelemahan yang dilakukan oleh pikiran-pikiran negatif yang muncul sebelumnya. Booster ini ibarat batrei yang menggerakkan. Tanpanya alat kan berhenti. Pemakaiannya tentu memiliki batas waktu, oleh karenanya kita membutuhkan daya pengisian ulang, adaptor. Pengisian ulang ini berdasarkan sejauh mana pemakaian dilakukanyang , bisa dalam waktu yang cepat atau lambat. Namun pencegahan lebih baik bukan, maka isilah sebelum menjadi habis. Jika dibiarkan berlarut dan berulang dayanya menjadi tidak optimal dan aus/rusak. Pengisian ulang itu adalah kontemplasi (intrinsik), bergaul, komunikasi dan membaca (ekstrinsik).

Semoga diri ini menjadi lebih baik, move on top dan memiliki daya booster yang konsisten. Self image yang baik tentu mampu membangun diri yang baik. Bukan sebaliknya, merusak dan melemahkan diri. Tidak ada diri yang sempurna, salah, keliru lalu belajar memperbaikinya. Itu lebih baik[]

-ruang TV, awal march’14-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s