Month: March 2014

The Last Day On March ; Business Day

Posted on

Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya :-)
Kakak bersama timnya sedang melayani pembeli, yang tidak lain adalah orang tua di kelas lainnya 🙂

Tidak banyak memotret saya kali ini. Walau dekorasi sudah dibuat bagus sedemikian rupa, pun juga demikian dengan anak-anak. Tak terkecuali si Kaka, Fafa paling besar, special rok batiknya dijahit dua hari lalu, pake acara nyelak lagi… jadi lebih mahal gitu ongkos jahitnya daripada biasa. hehehe…

Senang, riang dan riuh begitulah kira-kira gambaran acara di Sekolah Kaka hari ini. Tajuknya adalah Business Day, acara yang rutin dilakukan setahun sekali yang melibatkan seluruh siswa-siswinya, mulai dari memasak, mengolah bahan, membuat kriya tangan sampai menjualnya di puncak hari H; ada yang terlibat sebagai penjaga stand, marketing dan seterusnya.

Namun demikian, pengalaman sebagai penjual (penjaga stand) sebenarnya bukanlah pengalaman pertama bagi Kaka. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dulu ia sering kuajak ke beberapa tempat atau outlet tempat Usaha Minumanku berjalan. Seperti di petukangan dan pondok aren. Dua tempat ini pada awalnya kujaga bergantian dengan sahabat karibku. Maklum saja, hari pertama buka belum ada informasi pegawai yang mau bekerja maka harus kujaga langsung. Nah saat itu usianya belum genap 6 tahun, aktivitas pagi biasanya dihabiskan di PAUD dan atau belajar Iqro. Barulah di sore hari kuajak ia langsung berjualan, mulai dari membuka booth, menyiapkan teh seduh, hingga mendisplay barang rutin kami lakukan, setidaknya di minggu awal usaha itu berjalan. Minggu-minggu berikutnya paling hanya kontrol saja karena sudah ada dua pegawai yang bekerja.

tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya
tidak lebih dari lima photo saja yang sempat kuabadikan. dan ini salah satunya

Berbicara tanggung jawab dan ketelitian, sebagaimana hal itu dimaksudkan juga di acara Business Day kali ini, Kaka mendapatkannya pertama kali di waktu dua tahun lalu itu. Ia sering kali membantuku menyiapkan cup untuk kemudian ku sealer lewat mesin pemanas, atau menjajakan banner sebagai sarana promosi sekaligus menjajakan dengan cara berteriak (nggak jelas) dan menawarkan dengan lembut kepada calon pembeli. Pengalaman ini tentu berkesan untuknya, maka ketika pertama kali kutanyakan padanya apa tugasnya di Business Day kali ini, dengan lantang kemudian ia jawab sebagai penjaga stand minuman (jus kacang ijo) ….. ah sudah barang tentu bisa ia lakukan. Toh dulu pun seperti itu.

Sowan dengan Ortu Yang Lain

Awalnya sedikit canggung juga, bagaimana memulai untuk berkenalan atau sekedar bersilaturahmi untuk yang sudah mengenal lewat pertemuan sebelumnya. Namun lamat laun suasana cair dengan sendirinya, beberapa diantara kami bahkan bertegur sapa terlebih dulu. Ceritapun mengalir, mulai dari aktivitas sehari-hari, pekerjaan, kebiasaan anak dan lain sebaginya. Diantara sekian percakapan itu, terselip bahasan tentang Sekolah. Bagaimana perubahan terjadi setelah sekian bulan anaknya bersekolah disini. Trend nya mengarah ke positif. Dan obrolan pun berlanjut ke masalah kurikulum, gaya mengajar hingga batasan anak untuk terlibat dan tidak dalam setiap pembelajaran.

Memang jauh bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan bagaimana kita dididik dahulu, baik itu di rumah … apalagi di sekolah (sekolah negeri biasanya). Kesempatan siswa untuk berkreasi, menumpahkan ide, bermain amat sangat terbatas. Lebih banyak titah ini dan itu, apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak. Hampir semua top down. Maka sekolah tidak lagi memberi rasa aman saat itu, wajah pendidikan yang ramah seolah berubah menjadi sangar dan tidak lembut untuk kita, peserta didik. Namun dengan kondisi demikian, kita tetap mampu bertahan. Ditengah stressing demikian, toh sebagiannya malah bisa menjadi juara kelas dan mendapat penghargaan.

wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe....
wajahnya sumringah ketika jualannya cukup laku hehe….

Yups…. itu dulu, kini wajah itu berubah 180%. Untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab dan ketelitian bisa dilakukan dengan beragam aktivitas. Tidak melulu teksbook yang membosankan itu. Target pun dipasang tidak dengan cara membebani siswa, namun bagaimana pencapaian itu dilakukan bersama, guru, siswa dan juga orang tua. Artinya terjadi kombinasi yang sinergis antara sekolah dan rumah. Pun demikian dengan penilaian, jika dulu eksakta menjadi raja ditengah singgasana agung, maka kini sejalan dengan penemuan multiple intellegence, penilaian itu lebih fair dengan melihat anak/siswa secara utuh dan manusiawi. Sebab bukankah tujuan paling luhur dari pendidikan itu adalah memang Memanusiakan Manusia ?????

28 Maret 2014

-ditulis sambil ngerjain kuliah online-

 

 

Gara-gara Katsu masa Golput Bung …

Posted on

Sedikit saja kali ini saya ingin bercerita. Mulai dari datangnya SMS terpilihnya coretan yang kubuat menjadi logo kegiatan festival sekolah Anakku tadi pagi, makan Katsu di Sevel yang ternyata listriknya mati (korslet) hikkss membuatku gondok karena ga bisa buka laptop (maklum batrenya sekarat), lalu nongkrong di Indomaret Plus yang super panas ngerjain sisa-sisa kerjaan tertunda (yang juga tidak beres2 itu) hingga kemudian waktu menunjukkan Pukul 13.35 … yang artinya sudah waktunya cabut dan menjemput Fafa si sulung.

Tapi eiitts… ntar dulu nggak afdol klo nggak ngeblog hehe….

Begini kawans, tanggal 9 April nanti Pemilu yang kesekian kalinya pasca reformasi kembali digulirkan. We Knows  lah pemilu manual yang diselenggarakan itu biayanya tidak sedikit. Dari kertas dan cetakan saja sudah bisa terhitung berapa costnya…… untuk kertas suara seukuran itu, dicetak full color dengan media kertas artpaper, dikali sekian juta penduduk Indonesia… wew angka yang fantastis, belum lagi fee panitia lah, anggota KPU lah dan seterusnya. So…. gunakan hak pilih anda, khan sayang tuh hajatan sebesar itu nggak ada hasilnya!!!!

Lalu bagaimana dengan saya, ah tetep Golput seperti yang dulu-dulu hehe… Oya di semester ini saya mengambil mata kuliah birokrasi indonesia, etika pemerintahan, kepemimpinan,statistik dan metodologi ilmu pemerintahan. Makin masuk dalam ke tiap modulnya kok makin Jauh Panggang Dari Api ya… bikin enegkk dan galau gimana gitu antara teori, konsep dan prakteknya di lapangan. Oh sungguh Terlalu kata Bang Haji …..eitts ga jadi ya dia dicalonin partai Ijo Royo-Royo itu ???? syukurlah 🙂

Sebaris Cerita dari Kampung 99 Pepohonan

Posted on Updated on

Hari minggu kemarin adalah hari yang cukup melelahkan, setelah seminggu sebelumnya melakukan banyak pekerjaan tertunda dan tugas kuliah yang kembali menumpuk. Maka Minggu pagi cukup dengan berleha-leha saja di rumah, sembari minum kopi dan kudapan tak bergizi (otak-otak goreng). Namun tak demikian dengan Fafa, duo bocah kecilku di rumah. Ada-ada saja ulahnya, saling usil, saling colek, saling ini dan itu… hingga menangis atau bertengkar. Ibunya cukup pusing dibuatnya. Lalu Fafa tertua berkomentar ‘hah.. di rumah terus bosen nih Ayah ….’

Mungkin itulah penyebab dari keributan itu. Padahal dia baru satu hari saja di rumah, karena dari Senin sd Jumat bersekolah dan pulang hampir selalu malam. Ya sudah kami pun memutuskan pergi, tapi kemana??? Berenang lagi… ahh.. bosen. Ke mall … juga nyaris tak ada yang baru. Mau nonton bioskop pun tak ada film anak-anak yang tayang. Lalu apa??? Satu jam, dua jam pun berlalu. Saya masih saja berleha-leha sambil menonton TV. Hingga kemudian tuts demi tuts gadget sederhana itu menampakkan diri, satu persatu wahana wisata kota Depok bermunculan. Dan kami pun memutuskan untuk pergi/berjalan-jalan ke Kampoeng 99 Pepohonan.

Sulitnya Menuju Lokasi

IMG_20140316_135518 Photo disamping diambil pada saat kami akan memasuki rumah kayu yang terletak di bagian depan lokasi Kampoeng 99 Pepohonan. Ade seperti biasa dengan gayanya yang ‘sok tahu’ menunjuk ke arah bawah, kira-kira … ayo kesana ayah….

Letak lokasi Kampoeng 99 Pepohonan sebenarnya tidak lah terlalu jauh dari Jalan Raya Meruyung Limo Depok. Persisnya ada di seberang Masjid Kubah Mas (Dian Al-Mahri) Depok. Hanya saja minimnya petunjuk dan sempitnya jalan masuk kedalam lokasi membuat banyak orang tersesat. Bahkan kami sempat dibuat ragu apa benar jalan atau gang yang kami susuri ini benar menuju lokasi?? Lebar jalannya tidak lebih dari satu badan mobil lebih sedikit. Makin masuk kedalam makin mengecil, bahkan di ujung jalan ada lobang dan patahan jalan yang membuat siapa saja harus berhati-hati. Belum lagi dua cabang jalan (kiri dan kanan) yang membuat bingung arah mana yang benar menuju Kampoeng 99 Pepohonan. Disamping terhampar pesawahan yang luas, kanan kirinya hanya ada sungai kecil dan pepohonan kayu. Bagi yang tidak nekad, pasti dipenghujung jalan itu memutar arah lalu kembali ke atas menuju jalan raya meruyung dan kembali pulang atau bertanya lagi dan tersesat hehe…

Saya tidak demikian, kepalang tanggung memilih berbelok kekiri dan meneruskan perjalanan. Kira-kira 1 Km dari belokan itu terlihat pepohonan menjulang dan tempat parkir yang cukup rapi. Rupanya ini lokasi yang dimaksud. Walau minim penanda juga nama seperti Baligho atau Spanduk/Papan Nama bertuliskan Kampoeng 99 Pepohonan, kami memutuskan untuk turun dari mobil dan masuk kedalam. Di sebelah kanan pintu masuk, berdiri kokoh dan anggun bangunan besar yang terbuat dari kayu, dua lantai tepatnya. Arsitekturnya cukup menarik. Dan rupanya inilah front office dari Kampoeng 99 Pepohonan itu. Disana kami disambut oleh dua orang wanita berperawakan sedang. Mereka lalu menjelaskan program kegiatan apa saja yang ada di Kampoeng ini, juga hal-hal lainnya yang berkaitan dengan Kampoeng 99 Pepohonan. Termasuk alasan minimnya informasi, penanda jalan atau iklan yang berkaitan dengan Kampoeng 99 Pepohonan ini.

a. Bukan Wahana Wisata Resmi, tapi Rumah Tinggal dengan 20 bangunan Kayu yang ditinggali keluarga

Yups … ini alasan pertama yang dikemukakan. Namun rada aneh juga, jika memang ini bukan wahana wisata kenapa Kota Depok memasukkan ini sebagai salah satu tempat tujuan wisatanya??? entah lah mungkin hanya Ibu itu atau Tuhan yang tahu. Yang jelas menurut penuturan Dua orang wanita ini, tempat ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh masuk, tapi untuk menginap dan mengadakan kegiatan (gathering, arisan, live music dll) dikenakan biaya mulai dari Rp. 750.000,,- … bahkan ada beberapa bangunan yang sengaja dikosongkan untuk dijadikan penginapan. Bahkan tempat yang kami datangi pertama kali ini berfungsi sebagai restoran atau tempat makan.

b. Outbond dan Kegiatan Alam

salah satu rumah yang terletak di bagian peternakan Kampoeng 99
salah satu rumah yang terletak di bagian peternakan Kampoeng 99

Lingkungan yang asri, sejuk dan rindang dari berbagai pohon yang ada membuat kami nyaman. Makin kedalam makin sunyi. Jalan setapak sudah ditembok sehingga nyaman untuk dijajaki. Luasnya 7 hektar (menurut katalog); dibagi mulai dari pertamanan, pepohonan, panggung (stage), rumah-rumah keluarga dan penginapan

Beragam kegiatan disajikan disini, mulai dari Outbond dengan menyediakan aneka permainan seperti flying fox, ATV dan lain sebagainya (khusus ATV dan Fliying fox dalam perbaikan setelah Iedul Adha kemarin tempatnya dipakai untuk menjajakan Kambing dan Sapi)

 

c. Memberi Makan Rusa, Sapi dan Kambing

Ade Fathir sedang memberi makan Rusa
Ade Fathir sedang memberi makan Rusa

Kegiatan yang biasa dilakukan disini salah satu nya adalah memberi makan rusa, kambing dan sapi. Kegiatan ini tarifnya Rp. 25.000/kegiatan per anak. Atau bisa juga mengambil paket Rp. 125.000,- untuk seluruh kegiatan, mulai dari memberi makan, memerah susu dan lain sebagainya (Harga sudah termasuk pendamping atau tour guide).

Photo disamping adalah saat Fafa yang kecil memberi makan Rusa dan Babi Hutan. Letaknya berada di bagian dalam Kampoeng 99, atau pinggir sungai kecil atau kira-kira 5 menit berjalan dari tempat front office. Bagi anak-anak yang jarang melihat binatang secara langsung, apalagi memberi makannya juga, kegiatan ini cukup menyenangkan, memberi pengalaman baru sekaligus melatih keberanian mereka berdekatan dengan binatang.

d. Memerah Susu Sapi dan Kambing, memberi makan sapi/sapi dan meminum Susunya yang Segar

IMG_20140316_141851
Peternakan Sapi Pedaging yang ada diKampoeng 99

Setelah puas berkeliling di lokasi utama Kampoeng 99 pepohonan (mulai dari melihat rumah kayu/panggung yang unik, menyusuri pepohonan yang rindang dan melihat wahana outbondnya). Maka selanjutnya kita dibawa kelokasi yang agak jauh dari lokasi utama, atau seolah keluar dari lokasi utama. Yups kita dibawa berjalan menuju peternakan Kampoeng 99. Kira-kira 10 menit dengan berjalan kaki.

Peternakan pertama yang dilewati adalah peternakan Sapi Pedaging. Kita disuguhkan Sapi-sapi segar yang gemuk tengah memakan rumput, lengkap dengan bau khas dan pups nya yang berwarna ijo lumut hehe…. Kedua, adalah lokasi tambak ikan yang cukup luas dimana didalamnya terdapat Ikan Lele, Mas, Gurame.

Rumah Kayu yang dibawahnya jadi tempat tinggal kambing dan domba
Rumah Kayu yang dibawahnya jadi tempat tinggal kambing dan domba

Ketiga, adalah lokasi peternakan Kambing dan Domba. Uniknya kambing dan domba ini terletak di bagian rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga atau para pegawai peternakan. Saya tidak menghitung ada berapa rumah yang sekaligus tempat beternaknya, namun cukup untuk membuat kaki pegal dengan berjalan kesana kemari. Apalagi Fafa yang kecil begitu aktif dan bawaannya ingin memegang kambing-kambing itu.

Sementara Fafa yang besar sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tiada habisnya diutarakan kepada si Tour Pemandu (guide). Pokoke, Duo Fafa terlihat antusias hari ini, walau rencana berenangnya di gagalkan.

Selanjutnya, perjalanan kali ini dilengkapi dengan kegiatan memerah susu kambing. Anak-anak diajak untuk memegang Ibu Kambing sekaligus merasakan pengalaman memerah puting susu Ibu kambing yang begitu merekah dan merah itu hehe… kira-kira begini penampakannya :

Kaka sedang memerah susu
Kaka sedang memerah susu
ibu kambing yang akan diperah susunya
ibu kambing yang akan diperah susunya
Kakak dan Ade berkenalan dengan anak kambing
Kakak dan Ade berkenalan dengan anak kambing

Aku dan Ade berphoto di depan kandang kambingAku dan Ade berphoto di depan kandang kambing

Setelah puas memerah susu, kegiatan dilanjutkan dengan memberi Susu kepada anak kambing. Kaka dan Ade disediakan botol susu dan lalu berebutan memberi minum anak kambing seperti gambar di bawah ini :

Kakak dan ade memberi minum anak kambing
Kakak dan ade memberi minum anak kambing

Selesai memberi minum kambing, maka kini kami yang mulai kehausan. Lalu Guide pun mengajak kami ke lokasi pembuatan susu segar dan yoghurt. Disinilah kami tuntas menghilangkan dahaga, dengan memborong

10 botol susu sapi dan yoghurt dingin. Kegiatan pun ditutup dengan ade terpeleset di tangga dan kwitansi yang harus kami bayar….

Bukan Yang Terbaik

Dibantu ibu kakak dan ade terlihat tegang saat memberi minum kambing pertama kali
Dibantu ibu kakak dan ade terlihat tegang saat memberi minum kambing pertama kali

Walau tidak bisa dikatakan sebagai tempat wisata yang lengkap dengan segala aspek dan kelebihannya. Namun kegiatan mengunjungi Kampoeng 99 Pepohonan bisa dijadikan alternatif untuk mengisi masa liburan anak-anak. Tentunya dengan mengenalkannya ke alam; pepohonan, binatang dan sebagainya. Mereka juga terkesan excited dan yang peling penting menambah pengalaman baru dan pengetahuan.

Kampoeng 99 memang bukanlah yang terbaik. Kekurang-kekurangan seperti disebut di atas, minimnya informasi, akses masuk jalan yang sempit (melalui pemukiman penduduk). Ditambah dengan bangunan kayu yang di beberapa bagiannya sudah lapuk, kotor dan kurang terawat, namun dari sisi jarak cukup dekat dengan kota menjadi nilai lebih dari kawasan ini. So… tidak ada salahnya lain kali datang berkunjung lagi 🙂

Depok, 16 Maret 2014

Homefront; Aksi Khas Statham

Posted on Updated on

homefront-212x300Kali ini James Franco menjadi penjahat. Cukup keren juga sih, sangar dan cocok dengan bewok dan kumisnya yang kumal. Yups…. sebuah film bergenre drama action/family hadir di penghujung tahun lalu, dengan memasang bintang utama Jason Statham. Beberapa bintang terkenal turut bermain disini, seperti Winona Ryder dan Kate Bosworth (pemeran Lois Lane versi Sperman Returns nya Bryan Singer yang gagal itu) dan satu lagi bintang cilik Izabella Vidovic, yang berperan sebagai anak Statham (Broker).

Phil Broker adalah mantan agen DEA/Polisi Narkoba yang mencoba menjauh dari hiruk pikuk dunia polisi (pekerjaannya yang lama), menuju Kota terpencil bersama anaknya. Sebagai orang baru di kota itu, keluarga Broker tentu harus beradaptasi dengan suasana dan budaya orang-orang ditempat barunya itu. Masalah pertama muncul ketika sang anak diganggu oleh teman-teman di kelasnya. Bukannya ciut dan diam, sang anak malah kemudian melawan dan berhasil membuat salah seorang anak bermasalah di sekolahnya cedera. Hingga kemudian kejadian ini mempertemukan keluarga Broker dan keluarga Klum. Hingga berseteru dan kemudian menguak identitas lama Statham sebagai mantan Agen Polisi Narkoba.

Tensi yang coba dibangun film ini dibuat perlahan menaik. Walau di awal sudah disuguhkan adegan gun shoot antara polisi dengan gang motor, namun setelah itu potret Broker dengan kehidupannya yang baru menjadi titik awal film ini berjalan;  bagaimana si anak bersekolah dan bagaimana Broker dengan pekerjaan dan hidupnya yang baru. Jika dalam kebanyakan film lainnya, Statham selalu dikisahkan sebagai seorang jagoan penyendiri maka kali ini ia adalah seorang Ayah dari putri cantik bernama Maddy Broker. Walau terlihat canggung dan sedikit aneh, namun chemistry keduanya cukup berhasil dibangun sebagai Ayah-Anak yang saling peduli dan menyayangi.

Semula saya menduga bahwa tokoh antagonis yang diperankan James Franco akan bersekutu untuk melawan Penjahat Utamanya yang berada di dalam penjara, Danny T Turrie. Turrie adalah Big Boss gang motor, yang di jebloskan oleh Broker ke penjara setelah sekian tahun ia menyamar dan masuk kedalam gang tersebut. Pada saat penggerebekan berlangsung, Turrie bersama anaknya berhasil lolos untuk sementara. Dalam pengejaran selanjutnya Turrie berhasil ditangkap, namun Jojo, anaknya ditembak dan mati. Mungkin karena alasan ini jua lah, Broker memilih mundur dari DEA dan menyepi, untuk melindungi anaknya dari dendam Turrie.

Beberapa adegan aksi khas Statham cukup diperlihatkan dalam film ini. Gun shoot, aksi bela diri dan sedikit kejar-kejaran menjadi sajian yang menghibur. Ditambah lagi dengan cast yang cukup matang dari beberapa pemainnya menjadikan film ini cukup untuk dimasukkan kedalam list tontonan anda. Jika dibandingkan dengan film Statham terdahulu seperti mechanic, parker dan redemption maka saya lebih menyukai Homefront ini. Ada dramanya, aksi dan sedikit thrillernya, walau minim twist namun cukup lah 🙂

Gema Festival Ananda

Posted on

Ada agenda rutin yang biasanya diselenggarakan oleh Sekolah tempat si Kakak belajar. Kegiatan itu disebut dengan nama GEMAFEST, Gemala Ananda Festival. Tahun ini katanya diselenggarakan tepatnya di bulan Juni nanti. Lokasi persisnya masih dalam pembahasan panitia. Bisa juga seperti tahun lalu di wisma subud, atau tahun sebelumnya di gedung SLB. Dua-duanya tidak terlalu jauh dari Sekolah, mungkin hanya 5 sd 10 menit perjalanan.

FestivKegiatan ini sepertinya adalah ajang unjuk kreasi tiap kelas, dan eksibisi multi produk untuk umum. Tahun lalu si Kakak turut menyaksikan langsung kemeriahan acaranya, walau bukan sebagai siswa tapi undangan sebagai calon siswa baru di tahun ajaran berikutnya. Saat itu saya juga turut hadir sebagai salah satu penyewa stand yang disediakan panitia. Ya biasa lah, kalau ada ajang seperti itu saya suka buka lapak hehe… kadang buka lapak makanan dan minuman, tapi jika memungkinkan juga membuka studio mini photography.

Tahun ini Kakak sudah bersekolah, tepatnya di Kelas 1-B. Tentu dia akan unjuk kabisa nanti, mungkin menari, drama tari, parodi atau bisa juga lainnya. Tema acara tahun ini memang masih belum final, berharap akan lebih menarik dari tahun sebelumnya. Seminggu lalu undangan dari sekolah memang sampai, ajakan untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan. Ini berlaku untuk semua orang tua tentunya, baik yang bekerja penuh atau yang paruh waktu. Bentuk partisipasinya beragam, mulai terlibat langsung atau sekedar memberikan sokongan berupa materi maupun immateri. Dan saya pun memutuskan untuk terlibat, setidaknya bersedia membantu dalam bidang yang memang saya mampu. Tadi pagi hal ini sudah disampaikan kepada panitia, ya mudah-mudahan saja berjalan lancar pada prakteknya nanti; (free) menyediakan liputan dokumentasi video untuk seluruh kegiatan Festival itu nantinya 🙂

Mengukur Sejauh Mana Materi Yang Sudah Dibaca Dipahami

Posted on Updated on

Perjuangan memang belum usai. Dari 5 materi mata kuliah yang saya ikuti pada semester ini, baru 4 yang tuntas dibaca dan diikuti. Sementara sisanya, yaitu statistik sosial, masih belum… atau tepatnya belum berani mengikuti, membaca apalagi mengerjakan tugasnya hehe…. entahlah apa materi statistik ini sebegitu menyeramkannya????? samakah dengan pelajaran Akuntansi yang dulu kuterima semasa duduk di sekolah menengah???

Aneh memang, semasa SD dan SMP mata perlajaran berhitung atau eksakta rasanya saya jadikan kawan seiring sejalan. Bahkan masih segar dalam ingatan, bagaimana kawan-kawan semasa SD dulu begitu menjagokan saya jika sudah berhubungan dengan matematika dan kawan sejenisnya. Tak ada PR yang tak bisa saya tuntaskan, dan tak ada papan tulis yang tak bisa kukerjakan jika Pak Guru menyuruhku ke depan. Pun demikian saat SMP. Tak percuma juga memang jika peringkat kelasku tidak pernah keluar dari 3 besar di kelas.

Tapi masa indah itu segera berlalu. SMA adalah masa terkelam dalam sejarah eksak-ku. Guru yang tidak menarik, bosan dan pelajaran yang makin rumit, juga tidak bermakna itu…. membuatku malas… semalas-malasnya. Maka wajar jika pada saat pembagian raport kelas 2 wali kelas memberi ultimatum, bahwa peringkatku adalah paling buncit. Jika tidak segera berubah maka akan tinggal kelas, atau paling banter masuk kelas IPS. Dan waktupun berlalu, IPS adalah destinasi paling adil. Tema sosial memang menjadi favoritku saat itu, entahlah kurasa terasa aktual saja dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, kecuali yaa… akuntansi itu hehe….

Syahdan kemudian aku menjadi singa panggung, sederet diskusi dan penugasan tuntas terlaksana. Peringkatpun mulai membaik, menembus ke skala 5 lalu 3 di caturwulan 3. Sungguh perjuangan yang tidak sia-sia.

Mengukur

Materi semester ganjil di tahun 2014 ini, banyak bersinggungan dengan pemerintahan… (ya iyalah wong ngambil jurusan itu kan hehe…). Dari keempat materi awal yang sudah kuikuti, sedikitnya ada benang merah yang ingin kutulis disini. Pertama adalah berkaitan dengan teori perubahan sosial. Dinamikanya cukup luas, terbuka dan terkini. Gagasan-gagasannya tidak berhenti pada teori klasik hingga modern, bahkan kini hingga neoklasik dan neomodern. Lalu kemudian juga dikenal ada Teori Evolusi, seperti evolusi intelektualnya Comte, konflik (marx), fungsional dan siklus. Di era modern pun banyak berlahiran teori baru, sebut saja Parsons, Ogburn dan Dahrendorf. Menarik memang membaca kembali ‘perubahan sosial’ yang tak pernah usang dan terus terjadi. Bagaimana perubahan itu terjadi pada pikiran secara perlahan (comte), lalu merubah struktur kelembagaan (soemardjan), didasari oleh semangat perubahan spiritual lalu menjadi masyarakat organis fungsional (weber) atau dilandasi oleh semangat pertentangan ekonomi (marx) semuanya terjadi. Hanya cara pandang saja yang membedakannya.

Di era kini, perubahan sosial juga turut dipacu oleh kehadiran teknologi. Sebagaimana kita tahu bahwa teknologi telah memudahkan manusia melakukan sesuatu. Melalui teknologi kita mampu mencipta sekaligus diciptakan oleh mesin-mesin yang kita ciptakan sendiri. Bagaimana perubahan komunikasi berlangsung begitu cepat, yang memengaruhi cara pandang masyarakat modern. Tentunya perubahan yang dimaksud haruslah bertujuan mempermudah manusia mencapai tujuannya, yang juga memiliki rasa keadilan, empati dan visi yang baik.

Dalam materi kuliah yang lain, lagi-lagi bersingungan dengan pemerintah. Kali ini bagaimana fungsi dan peran organisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Birokrasi atau yang kemudian disebut sebagai organisasi pemerintahan terlahir karena kompleksnya kehidupan bermasyarakat. Dan demi tercapainya tujuan bersama itu, maka lahirnya organisasi pemerintahan. Namun kenyataannya jauh panggang dari api, bagaimana prilaku birokrasi itu yang memakan tujuan luhurnya sendiri. Menghianati perannya sendiri, yaitu sebagai abdi dan pelayan masyarakat.

Adapun dua materi terakhir, kali ini lebih filosofis, lebih dalam dan esensial. Tentang bagaimana hakikat, dan manfaat kegunaan ilmu, khususnya ilmu pemerintahan. Dan tentang bagaimana organisatoris pemerintahan memenuhi suply dan demandnya dalam bingkai manajemen yang modern dan baik. Tentu harus melalui perencanaan yang ditindaklanjuti dengan aksi yang tepat guna dalam kerangka manajemen logistik pemerintahan yang profesional. Sehingga mutu dan pelayanan kepada masyarakat tidak terabaikan, sesuai dengan hakikat dari ilmu pemerintahan itu sendiri yang memiliki nilai guna pada wilayah aksiologisnya.

” lumayan buat ngerefresh materi yang sudah dibaca”

– Karang Tengah, 4 Maret 2014 –

DESTROYER DAN BOOSTER DIRI

Posted on

Mungkinkah penyebab rasa rendah diri itu karena self image yang rusak?

Cara ketika memandang diri sendiri yang tidak semestinya?

 

Ketika bicara mengenai paradigma maka hal itu menentukan bagaimana cara kita memandang dunia, hal eksternal yang terlihat oleh mata dan pikiran. Bentukan cara memandang itu adalah hasil olah pikiran, yang dipadu padankan dengan laiknya koki yang tengah memasak, mencampur bumbu, bahan pokok, rempah dan seterusnya. Hasil olahan makanan itu bergantung kepada sejauh  mana koki itu mampu meramu dan menyatukannya. Pengalaman juga turut memberi andil sejauh mana cita rasa yang ada mampu disajikan dengan baik. Pun demikian cara kita memandang sesuatu, hasil indrawi yang kemudian dipersepsi. Bahannya tentu adalah pengetahuan, rasa/emosi dan insting. Oleh sebab itu hasilnya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Bahan dasar yang berbeda, pikiran berbeda dan koki yang tidak sama tentu membuat masakan bernama paradigma itu berbeda.

Jika paradigma itu berkait erat dengan dunia eksternal lantas bagaimana dengan keadaan internal, yang juga bisa dirasai oleh indra, dilihat dan dipersepsi melalui citra diri. Akankah mampu membuat pribadi menjadi utuh ketika paradigma lahir dari citra diri yang mumpuni dan baik. Atau keduanya sama sekali tiada berhubungan.

Persepsi diri amat sangat diwarnai oleh self image, tentang bagaimana melihat, merasai dan menafsirkan diri sendiri. Baik buruknya ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengenal kedalaman diri. Pengetahuan tentang hal ini tentu menjadi kekayaan dalam proses kelolanya. Pengetahuan didapat dari sederet pengalaman melalui penelaahan intrinsik terhadap diri, dan ekstrinsik berupa feedback lingkungan sosial dan materi ilmiah dari pendidikan formal dan maupun informal. Penelaahan intrinsik dilakukan dengan melakukan pendalaman terhadap diri, kata hati, dan penilaian terhadap aktivitas pribadi. Penilaian berbeda dengan penghakiman, ibarat proses dan hasil. Penghakiman adalah proses yang sudah berhenti dan mewujud kedalam skala akhir, sementara penilaian adalah hasil sementara yang masih bisa diproses, sehingga masih terbuka akan input baru, kritisi dan sekaligus muara yang tidak tunggal.

Pengetahuan ekstrinsik tentu menjadi pengaya yang baik ketika proses penelaahan instrinsik terlalu sempit, baik itu karena depresi, stress, keragu-raguan dan rendah diri sehingga tidak mampu menghasilkan penilaian pribadi yang luas dan objektif. Pengalaman yang didapat orang lain adalah salah satu contohnya. Dimana kita mampu mengkomparasikan sekaligus menarik rentang jarak yang cukup dekat dengan diri sendiri, akan hal seperti baik dan buruknya melakukan A dan B sekaligus wujud konklusinya berupa tindakan yang masih dapat dilakukan kembali atau harus berhenti karena tidak memberikan manfaat terhadap diri. Lingkungan pergaulan sosial menjadi salah satu elemen penting dalam hal ini. Dimana input menjadi lebih berwarna melalui interaksi yang dinamis dan proses komunikasi yang saling bertukar arah; menjadi komunikan atau komunikator bahkan keduanya dilakukan bersamaan.

Self imaga yang utuh hampir bisa dikatakan mustahil terlahir sempurna, namun upaya yang baik setidaknya mampu mendekatinya. Harapannya adalah menjadi booster yang baik untuk proses development image atau pembangunan kepribadian yang baik. Sehingga dalam titik nadir sekalipun, diri mampu mengangkat citranya sendiri dan bangkit untuk menumbuhkan kepercayaan diri kembali. Melakukan ini dan itu secara mandiri, bebas tanpa pelemahan yang dilakukan oleh pikiran-pikiran negatif yang muncul sebelumnya. Booster ini ibarat batrei yang menggerakkan. Tanpanya alat kan berhenti. Pemakaiannya tentu memiliki batas waktu, oleh karenanya kita membutuhkan daya pengisian ulang, adaptor. Pengisian ulang ini berdasarkan sejauh mana pemakaian dilakukanyang , bisa dalam waktu yang cepat atau lambat. Namun pencegahan lebih baik bukan, maka isilah sebelum menjadi habis. Jika dibiarkan berlarut dan berulang dayanya menjadi tidak optimal dan aus/rusak. Pengisian ulang itu adalah kontemplasi (intrinsik), bergaul, komunikasi dan membaca (ekstrinsik).

Semoga diri ini menjadi lebih baik, move on top dan memiliki daya booster yang konsisten. Self image yang baik tentu mampu membangun diri yang baik. Bukan sebaliknya, merusak dan melemahkan diri. Tidak ada diri yang sempurna, salah, keliru lalu belajar memperbaikinya. Itu lebih baik[]

-ruang TV, awal march’14-