Personality Disorder

Posted on Updated on

The Scream
The Scream

Jujur saja, pagi ini selepas mengantar si sulung ke tempat berenang, muncul keinginan untuk membuka-buka kembali artikel psikologi, khususnya tentang masalah kejiwaan, personality disorder dan istilah lainnya yang berkaitan dengan itu. Dulu bacaan serupa doyan kulahap berjam-jam, di sela-sela belajar di kelas misalnya atau dalam perjalanan dari rumah ke sekolah. Beberapa teorinya masih membekas hingga kini, namun sebagian besar yang lain lenyap menguap. Teori itu kadang ikut membantu mengenal diri, awalnya serampangan saja. Namun makin lama kemampuan itu semakin terasah dengan pola pemikiran yang sudah runut.

Proses tumbuh kembang yang kurang baik dari anak-anak ke remaja, memang menjadi akar masalahnya. Ada letupan-letupan yang tidak memiliki muara, tekanan yang keras hingga sulitnya mencari sosok ideal yang dapat dijadikan imitasi pribadi. Figur yang baik biasanya berfungsi sebagai kiblat imitasi itu. Sebaliknya figur yang salah menjerumuskan pada sikap dan tingkah laku yang salah pula. Namun keduanya tidak banyak dijumpai saat itu. Alih-alih mendapat sandaran penilaian pribadi, yang ada malah kegamangan yang luar biasa. Sulit bersikap, menentukan posisi, bingung dalam mencari aktualisasi diri hingga terkadang menarik diri dari lingkup pergaulan sosial.

Dalam teori disasosiasi, tekanan yang deras, jiwa anak-anak masih belum cukup kuat untuk menahannya. Sebagian melarikan diri kedalam bentuk defense of mechanism nya sendiri; halusinasi, lari dan menciptakan imaji tokoh, diri atau dunia yang ideal dan nyaman. Depresi seolah hilang, namun sesungguhnya ia melekat dalam diri. Jika terbiasa demikian maka tentu berdampak pada proses perkembangan pribadi pada saat remaja lalu dewasa. Ibarat kerat yang melekat, dan darah yang sudah mendaging maka kebiasaan itu akan sulit dilepaskan hingga mengaburnya yang mana realitas dan rekaan pikiran. Ini bahaya bukan??!! Maka buku beserta teori yang menyertainya mampu mengurai benang kusut itu. Menjelaskan secara bertahap, dengan tinjauan yang amat sangat luas disertai sudut pandang yang beragam; mulai dari analisis freudian dan lain sebagainya.

Saat itu bacaan menjadi sandaran penting dalam mengenali masalah, memahami diri dan mencari solusi. Keinginan yang kuat menjadi bara yang mampu menggerakkan diri menjadi action… dan action. Jatuh bangun pada awalnya namun manis di penghujungnya. Hingga kemudian masa manis itu kembali menggayut mendung. Ibarat sejarah peradaban yang berada di puncak-kolaps-lalu klimaks-dan kolaps lagi maka mungkin inilah saat dimana masa manis itu berangsur jatuh ke titik nadir. Kembali bermasalah, kebingungan dan nyaris tak mampu mengenali diri lagi. Solusi tentu mudah ketika masalahnya mampu dikenali dulu. Alih-alih demikian, lupa dan kesal yang kini mendera. Sejurus pertanyaan-pertanyaan yang dulu telah hilang kini mulai kembali menampakan diri. Diawali dengan berbisik, lalu semakin kencang hingga pekak. Tapi aku tak tahu siapa, dan harus menjawab apa???

Advertisements

2 thoughts on “Personality Disorder

    dapurchantik said:
    February 28, 2014 at 4:24 am

    berenang di citos ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s