MEDIA DAN KETERASINGAN KITA

Posted on

homosapiensManusia adalah Homo Sapiens, makhluk yang selalu ingin tahu. Manusia tidak pernah menerima stimulus secara pasif. Manusia selalu berusaha memberi makna kepada stimulus yang diterima. Manusia selalu terpanggil untuk merumuskan teori yang dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa di sekitarnya. Satu peristiwa dapat dijelaskan dengan teori yang bermacam-macam ; bergantung pada latar belakang sosio-psikologis perumusnya.

Media adalah salah satu cara manusia untuk menyampaikan informasi atau peristiwa yang diketahuinya. Media dapat berbentuk apapun, elektronik maupun non elektronik. Yang jelas secara sederhana media untuk pertama kali diperuntukkan bagi jawaban bahwa manusia memang haus pengetahuan dan selalu berusaha untuk mencari tahu. Oleh karena itulah, media-media tertentu khususnya media massa (koran, tv dll) setiap harinya selalu ditunggu-tunggu oleh manusia yang gemar membaca; melihat dan mendengar.

Tapi tahukah kita bahwa ekses media pun dapat berdampak luas. Yudie Latif dalam bukunya “Masa Lalu Yang Membunuh Masa Depan” mengatakan bahwa media tak ubahnya bagaikan Duryudana bagi Karna; kawan setia tapi diam-diam menyesatkan. Seperti kata Ernest Van Den Haag (1968), orang mungkin berpaling pada media massa bila ia kesepian atau bosan. Tetapi sekali media massa menjadi kebiasaan, ia dapat merusak kemampuan memperoleh pengalaman yang  bermakna.

Alienasi_-_Kumpulan_Sajak_Asa_.pdfSemua media massa pada akhirnya mengasingkan orang dari pengalaman personalnya, dan walaupun tampak mengguncangkan, media massa memperluas isolasi moral sehingga mereka terasing dari yang lain, dan realitas diri mereka sendiri. Dengan demikian, media massa menimbulkan depersonalisasi dan dehumanisasi. Media massa sering menampilkan citra lingkungan sosial yang tak sebenarnya, sehingga menipu manusia dan memberikan citra yang bias tentang dunia. Tambahan, menurut Lee Loevinger dalam teori reflective projective-nya, bahwa media massa adalah cermin masyarakat yang menampilkan suatu citra yang ambigu-menimbulkan tafsiran yang bermacam-macam – sehingga pada media massa setiap orang memproyeksikan atau melihat citranya. Media massa mencerminkan khalayak, dan khalayak memproyeksikan citra pada penyajian media.

1385915846885306004_300x241.28686327078Dari batasan ini, maka kita dapat katakan bahwa manusia memang mampu menafsirkan berbagai peristiwa yang di alaminya. Namun penafsiran itu sendiri ditentukan oleh sosio-psikologis sang perumusnya sendiri. Pendapat para ahli di atas mengenai media juga didasarkan pada pengalaman dan penelitian yang mereka lakukan. Sehingga data yang mereka sajikan juga mungkin tidak terlalu salah. Maka dalam hal ini, untuk mencermati media kita perlu memperhatikan dua ekses yang akan dimunculkannya, yaitu ekses negatif dan positifnya.

Apa yang kita harapkan tentunya, bukanlah ekses negatif media massa untuk kita. Namun sebaliknya yang kita harapkan adalah ekses yang positif dari media massa itu untuk kita[]

Depok, Februari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s